www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Dua Kali Rasakan Turun dari ISL

BETAH:Yono Karpono di Mes Deltras (foto:sidiq)

PELATIH kepala boleh datang dan pergi dari Deltras Sidoarjo. Namun, posisi Yono Karpono sebagai asisten pelatih kiper nyaris tak tergoyahkan.
"Sejak 2003, saya sudah menjadi asisten pelatih di era Rudy Keltjes," kata Yono saat ditemui di Mes Deltras.
  Dia mendapat kepercayaan menjadi asisten pelatih kiper karena karirnya memang lebih banyak dihabiskan di bawah mistar. Diajak palang pintu tangguh Hamid Asnan, dia bergabung dengan Assyabaab, Surabaya, pada 1981 saat usianya masih 18 tahun.
Namun, Assyabaab juga tak sembarangan menerima. Klub binaan M. Barmen itu sudah pun tak sembarangan menerima pemain.
"Mereka sudah tahu main saya saat bertemu dalam ajang tarkam di Krian, Sidoarjo. Saya dan Hamid mampu merepotkan Assyabaab yang banyak diisi pemain-pemain Persebaya," jelas Yono.
Dia pun langsung masuk tim Persebaya Surabaya Junior dan tampil di ajang Piala Soeratin. Sayang, selama di klub asal Ampel itu, dia tak pernah mencicipi Persebaya Senior atau pun Assyabaab Salim Group yang berlaga di Galatama.
Setelah 13 tahun di Assyabaab, pada 1996, dia pun pindah ke Putra Surabaya milik Hartono Purnomosidi. Di klub itu pula, Yono memulai karirnya sebagai pelatih.
"Pada 2001 dan 2003, saya menjadi pelatih Persekabpas Kabupaten Pasuruan. Setelah itu, baru saya ke Deltras karena ajakan Keltjes," ungkap lelaki yang bekerja di Puskesmas Porong karena keahliannya bermain bola itu.
Tawaran Deltras pun tak kuasa ditolak. Mulailah Yono menghabiskan waktu-waktunya di The Lobster, julukan Deltras. Hanya di era Deltras dipegang Vigit Waluyo, periode 2008-2010, Yono tak bergabung.
"Pada 2011 hingga sekarang, baru saya kembali ke Deltras," ungkap Yono.
  Di tim pujaan Deltamania itu, Yono dua kali merasakan pahitnya degradasi yakni pada 2008 dan 2012. Namun, itu tak membuat dia jera memoles para kiper Deltras. (*)
Read More

Berkunjung ke Tempat Latihan QPR

HIJAU: Tempat latihan QPR di London (foto:sidiq)


DAPAT tawaran menyaksikan latihan klub English Premier? Hmm, siapa   bisa  menolak.
Memang, yang akan disaksikan bukan klub raksasa seperti duo Manchester, United dan City. Atau pun duo London, Arsenal dan Chelsea. Klub yang akan  saya tonton latihannya adalah Queens Park Rangers (QPR).
Namun, tawaran itu datang langsung dari pemilik klub yang musim ini baru kembali ke EPL itu, Tony Fernandes, saat bersua usai acara penghargaan kepada AirAsia dari Sky Trax di London pada 16 Juli  2014. AirAsia mendapat penghargaan sebagai Maskapai Paling Hemat di Dunia.
Hanya, saya tak bisa langsung datang ke tempat latihan (training ground) QPR yang berada di dekat Bandara Heathrow. Saya yang datang ke London bersama Manager Communication Audrey P dan teman wartawan media online  Nala akhirnya mendapat jadwal berkunjung pada Jumat (19/7). Ternyata tak susah mencari tempat latihan QPR.
Taksi yang membawa kami langsung sampai ke tempat yang masuk kawasan Harlington itu. Saat masuk kami langsung dibawa ke media centre karena sebentar lagi pelatih Harry Redknapp akan memberi waktu tanya jawab kepada media yang kebetulan juga mengadakan kegiatan serupa dengan kami.
Dari ruangan media, saya bisa melihat hamparan empat lapangan yang hijau terawat. Bangunan tempat ruang media itu juga terdapat ruang makan.
Nah, di ruang makan itu ada sosok yang cukup terkenal yakni Rio Ferdinand. Kebetulan, pagi itu merupakan hari pertama dia berlatih bersama klub yang mempunyai seragam kebesaran putih bergaris biru. Sehari sebelumnya, Ferdinand menandatangani kontrak bergabung QPR setelah sebelumnya 12 tahun membela Manchester United.
Usai sesi tanya jawab dengan Redknapp, para jurnalis pun dibawa ke lapangan dan diberi waktu hanya 15 menit untuk mengambil gambar. Redknapp tak turun ke lapangan karena jadwal melatihnya sore.
Namun, 15 menit menjadi sebuah moment yang akan diingat. Dalam latihan itu juga terlihat mantan pemain nasional Inggris Robert Green (kiper) dan sayap lincah Shawn-Wright Philip.
Meski tak bisa foto bersama mereka, namun menyaksikan latihan QPR  langsung menambah pengalaman setelah pada 2008 saya juga hadir ke tempat latihan (training ground) raksasa Bundesliga Jerman Bayern Munchen. (*)

Read More

Momong Cucu dan Urus Masjid

Imam Supardi (foto: sidiq)

ANDA tahu Imam Supardi? Bagi penggila bola di Gresik, Jawa Timur, nama tersebut sangat familiar.
Di era 1990-an hingga 2000-an, Imam selalu melekat dengan klub sepak bola Petrokimia Putra Gresik. Jabatan sebagai manajer pun lama disandang lelali yang kini berusia 57 tahun tersebut.
Sempat merasakan pahitnya pada Liga Indonesia I pada 1994, Imam mencapai kejayaan paa 2002. Kebo Giras dibawanya menjadi juara.
Pada 1994, Petro, begitu Petrokimia Putra Gresik disebut, sebagai juara tanpa mahkota. Gol penyerang asingnya asal Brasil Jacksen F.Tiago dianulir. Maung Bandung,julukan Persib, pun akhirnya menjadi juara lewat gol Sutiono Lamso pada menit ke-76.
Namun, delapan tahun kemudian, Petro akhirnya merasakan manisnya menjadi pemenang Liga Indonesia. Pada pertandingan yang dilaksanakan 8 Juli 2002 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada  tim yang saat itu dipoles Sergei Dubrovin asal Moldova itu menang 2-1 atas Persita Tangerang.
 Petro sempat tertinggal lebih dulu melalui Ilham Jayakesuma pada menit pertama. Tapi, di babak kedua, Petro mampu menyamakan kedudukan melalui pemain asingnya asal Liberia Samuel Chebli di menit ke-76.  Pemain Kamerun Yao Eloi menjadi penentu Petro menjadi juara lewat golnya di masa injury time.
 Nama Imam pun ikut melesat. Namun, setahun kemudian, perjalanan tim dengan warna khas kuning  itu merosot drastis.
 Petro harus rela turun ke Divisi 1. Namun, Imam juga pula yang mengangkat Petro yang sudah berganti nama menjadi Persegres ke ISL (Indonesia Super League) pada musim 2011. Saat ini, ISL menjadi level tertinggi di pentas sepak bola Indonesia.
"Saya dimintai tolong Bupati Sambari untuk membantu Persegres," kata Imam saat ditemui di rumahnya pada 9  Agustus 2014.
 Saat menjadi manajer Persegres, dia sudah pensiun sebagai karyawan Petrokimia Gresik yang menjadi induk Petrokimia Putra. Selain itu, Persegres merupakan reinkarnasi dari Petrokimia Putra.
 Petro sempat mundur dari sepak bola profesional pada 2006. Namun, warga Kota Pudak, julukan Gresik, tak terima. Hingga akhirnya, Petro Putra berubah menjadi Gresik United sebelum berganti lagi menjadi Persegres.
"Habis itu saya sudah tak aktif lagi. Tiap bertemu Sambari, dia selalu bilang tolong Pak Imam dibantu," tambah Imam yang juga pernah menjadi manajer klub internal Persebaya, Suryanaga, itu.
Namun, ucapan orang nomor satu di jajaran Pemkab Gresik itu tak pernah direalisasikan dengan surat resmi. Kini, aktivitasnya hanya momong cucu dan mengurus masjid yang tak jauh dari rumahnya yang berada di kawasan Jalan Kartini Gresik. (*)

Read More

Ketemu Pemilik Klub Premier League

KAYA: Tony Fernades (foto: sidiq)

PERGI ke London, Inggris, tak pernah terbayangkan. Meski ke Eropa, sudah dua kali saya lakukan. Yakni saat meliput Piala Eropa 2008 yang hampir 40 hari serta tugas ke Assen, Belanda, pada 2011.
 Sebenarnya, saya datang ke negeri yang terkenal dengan jam raksasa, Big Ben, tersebut untuk menghadiri acara maskapai penerbangan AirAsia yang memperoleh penghargaan sebagai Maskapai dengan Biaya Terhemat dari Skytrax. Namun, di sela-sela acara tersebut, saya punya bisa bertemu dengan pemilik AirAsia Tony Fernandes di Farnborough, London, pada 16 Juli 2014.
 Saya pun punya kesempatan melakukan wawancara dengan lelaki asal Malaysia yang memperoleh gelar kebangsaan dari negaranya tersebut.
Dalam hati, saya memuji bagaimana dia membangun kerajaan bisnisnya. Salah satunya, Tony mempunyai saham mayoritas di klub yang sekarang berlaga di English Premier League, Queens Park Rangers. Tony pun juga punya strategi yang membuat QPR tak perlu menghambur-hamburkan uang kepada klub dengan kostum kebesaran garis-garis tersebut.
''Musim ini, bertahan sudah bagus. Persaingan EPL sangat ketat,'' terang Tony.
 Dia pun optimistis target tersebut bakal terealisasi. Apalagi, QPR ditangani ditangani sosok manajer senior di kancah EPL Harry Redknapp.
 ''Saya percaya betul sama Harry. Dia sosok yang pengalaman,'' ungkap Tony.
 Selain itu, materi tim yang pernah datang ke Surabaya dalam tur Asianya dua tahun lalu tersebut juga disokong materi pemain yang bukan kelas ayam sayur. Di bawah mistar ada kiper timmas Brasil Julio Cesar dan mantan penjaga gawang timnas Inggris Robert Green. Di lini belakang, kehadiran pemain senior yang lama malang melintang di klub raksasa Manchester United, Rio Ferdinand, sangat membantu QPR musim ini dari serangan bergelombang lawan.
 Di tengah, kecepatan Shaun Wright-Phillips bakal membuat lawan tak boleh lengah. Belum lagi di lini depan, QPR punya dua penyerang maut, Bobby Zamora dan Charlie Austin.
Meski tak begitu lama, namun bertemu dan berbincang dengan Tony sungguh sangat berkesan. Selain itu, penulis pun mendapat undangan mengikuti sesi latihan QPR pada Jumat (18/7/2014). Ini setelah penulis ingin datang ke training camp klub tersebut.
 Tony pun dengan antusias mengizinkan datang. Lelaki yang juga tinggal di London tersebut pun meminta stafnya untuk mengurus keperluan kami datang ke tempat latihan klubnya yang lokasinya tak jauh dari Bandara Heathrow, London.   (*)

Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com