www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Gaji Tersendat, Pilih Jualan Ikan

DAGANG: Dwi Adi ''Badut" Nugrahanta


POSTURNYA tak banyak berubah. Hanya ada sedikit lemak dan kulitnya agak menghitam.
Memang, sosok ini belum pernah mendapat kepercayaan masuk tim nasional Indonesia. Namun,selama hampir 16 tahun, dia tercatat sebagai salah satu kiper yang berlaga di kancah sepak bola Indonesia.
Dia adalah Dwi Adi Nugrahanta. Lelaki kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, pada  1978  ini hampir selalu berlaga di level atas kompetisi sepak bola di tanah air.
"Saya masuk Arseto pada 1997. Jadi hanya dua musim membela klub itu," jelas kiper yang akrab disapa Badut itu.
Dia, jelasnya, direkrut dari klub internal Persis Solo, ASMI. Nama klub itu juga merupakan tempat Dwi menuntut ilmu.
Setelah Arseto bubar pada 1998, petualangan kakak kiper PSIS Semarang Catur itu dimulai. Persijap Jepara dibelanya sejak 1998.
"Hampir lima musim saya bergabung di Persijap. Setelah itu, 2005-2007, saya ke PSS Sleman," papar Dwi.
Persibo Bojonegoro menjadi klub di luar Jawa Timur pertama yang diperkuatnya. Pada 2009, Dwi punya pengalaman memperkuat tim luar Jawa, Persih Tembilahan.
"Pada 2010-2011, saya kembali ke Solo dengan menjadi kiper Persis di ajang IPL (Indonesian Premier League)."
Menjelang akhir karir,Dwi Adi kembali ke Laskar Angling Dharma,julukan Persibo. Karena gaji yang terbayar, dia pun akhirnya memutuskan pensiun.
"Saya lebih baik bisnis jual ikan segar aja. Pendapatannya pasti buat anak dan istri," ungkap lelaki yang kini mempunyai tiga anak perempuan itu. (*)

Read More

Lepas Kangen dengan Pasar Klewer dan Tengkleng

KENANGAN: Lulut Kistono di depan mall di Solo (foto:sidiq)

SOLO menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Lulut Kistono.  Lelaki kelahiran 1968 itu memulai karir profesionalnya bersama klub legendaris dari Kota Bengawan,julukan Solo, Arseto, pada 1987.
 Di kota itu pula, Lulut juga mendapat ijazah SMA. Di Arseto pula, lelaki yang juga biasa disapa Doyok itu merasakan manisnya menjadi juara Galatama.
Kini, Lulut pun datang ke Solo. Dia pun tak membuang kesempatan selama berada di kota yang juga dikenal dengan kerajinan batiknya itu.
Bersama sang anak, Fio, bapak tiga anak itu melepaskan rindu dengan suasana kota yang pusatnya dibelah rel kereta api itu.
"Banyak kenangan di Solo. Sehari mungkin nggak akan selesai untuk menelusuri.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    tempat tempat kenangan," jelas dia.
Pasar Klewer menjadi tujuan pertama Lulut. Dia juga datang bersama dua anak asuhnya di PS Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, Dedi Sutanto (kiper) dan pemain depan Rico Simanjuntak. Setelah itu, mereka  menuju ke Tengkleng Pak Manto.
Makanan olahan kambing khas Solo itu menjadi lampiasan Lulut yang lama tak memakannya. Setelah perut kenyang, lelaki yang dikenal bermain keras saat aktif sebagai pemain tersebut mengunjungi toko sepatu dan apparel olahraga di depan sebuah mall baru.
"Mall itu dulunya kan rumah sakit. Sudah banyak yang berubah dengan Solo," papar Lulut.
Dia masih berharap bisa datang lebih lama ke Solo. Baginya, Solo sudah mengubahnya dari pemain muda yang masih polos dari Surabaya menjadi pemain yang disegani di pentas sepak bola nasional. (*)

Read More

Si Codet yang Tak Kenal Kompromi

ANAK ASUH: Untung Sudrajat (kiri) bersama tim SD Bratan 1

SEBUAH luka di pipi membuat dia dipanggil Codet. Goresan itu didapat gara-gara sikap bengalnya saat masih muda.
Bahkan, di alis, juga ada bekas sayatan. "Kalau ini karena kena sikut Mono," kata lelaki bernama Untung Sudrajat saat bertemu penulis usai mendampingi anak asuhnya di SD Bratan 1, Solo, di sebuah lapangan kampung di Kota Bengawan, julukan Solo, pada Sabtu siang (27/9).
Mono yang dimaksud adalah Firman Sukmono, pemain PSIS Semarang. Semua luka itu didapat Untung saat membela Arseto Solo, klub dengan basic profesional milik keluarga anak mantan Presiden Soeharto, Sigit Harjojudanto yang bubar pada 1998.
Ya, Arseto merupakan klub yang membesarkan nama Untung di era Liga Indonesia. Di klub berjuluk Elang Biru itu pula, dia mempunyai bekal menjadi pesepak bola yang disegani di Solo dan Jawa Tengah.
"Saya membela Arseto sejak Liga Indonesia di mulai. Saya diambil dari Diklat Arseto," kenang lelaki kelahiran 1974 itu.
Untung bisa menembus Diklat Arseto setelah terpantai dari turnamen usia dini antarklub Solo. Dia direkrut dari klub PPP (tapi klub ini tak ada hubungan dengan partai politik yang berlogo Ka'bah).
"Cita-cita saya memang ingin bisa bermain di Arseto. Sebagai warga Solo, siapa yang tidak bangga bisa menjadi pemain Arseto," ujar Untung.
Luka yang dialami di pipi dan alis juga menjadi bukti kebengelan lelaki yang kini dikaruniai dua putri itu. Ini tak jauh beda ketika di lapangan.
Sebagai gelandang bertahan, Untung dikenal sebagai pekerja di lapangan yang tak segan mematikan playmaker-playmaker di lapangan.
Dia juga mempunyai tugas mematikan aliran serangan lawan sebelum berusaha masuk zona penalti Arseto. Sayang, di saat prestasi dan namanya terangkat, Arseto bubar pada 1998 saat situasi politik Indonesia tengah genting.
"Sangat sedih ketika Arseto dinyatakan bubar," terang Untung sambil pandangannya menerawang jauh seperti mengingat kejadian yang tak diinginkannya itu terjadi.
Namun, dengan label Arseto, tak susah baginya mendapat klub baru. Banyak klub yang memintanya bergabung.
Namun, Untung akhirnya menjatuhkan pilihannya ke PSIS Semarang. Bersama klub Mahesa Jenar itu, Codet merasakan jatuh bangun.
"Menang, kalah, degradasi, dan uang banyak pernah saya rasakan di PSIS. Di klub itu, saya lima tahun di sana hingga 2003," papar Untung.
Tawaran di Persela Lamongan pada 2003 membuat Untung pun meninggalkan. PSIS. Sayang, masalah internal membuat dia batal bergabung dengan tim pesisir utara Pulau Jawa yang masuk provinsi Jawa Timur itu.
"Saya datang atas rekomendasi Hamdani Lubis sebagai pelatih. Saat dia gagal di Piala Gubernur dan diganti Riono Asnan, saya ikut mundur," ungkap dia.
Meski, tambah Untung, dia tak punya masalah dengan Riono. Hanya, lelaki yang besar di kawasan Banyuanyar itu tak cocok dengan pola latihan Riono.
"Saya membela Persekaba Badung. Semusim di sana," ujarnya.
Panggilan membela klub kampung halamannya yang mulai menanjak, Persis Solo, tak kuasa ditolak. Musim 2004-2005, menjadi tahun manisnya.
"Dua tahun, saya mengangkat Persis promosi ke Divisi 1 dan Divisi Utama. Pelatihnya  Hartono (Ruslan) dan Hanafi," lanjut Untung.
Namun, saat Suharno, yang kini menukangi Arema Cronus, datang, Untung dipinggirkan. Dia pun membela Pesik Kendal. Setelah itu, tawaran Persekaba Blora di musim 2008 pun sempat menghampiri.
"Hanya, cedera membuat saya memilih mengundurkan diri," jelas Untung.
Di sisa karirnya, Persebi Boyolali sempat memakai tenaganya. Di klub yang berbatasan dengan Solo itu pula, Untung akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu.
Dia pun mulai menekuni bidang di luar sepak bola. Terjun sebagai pemborong bangunan pun dirambah.
"Sejakj 2009-2011, saya mengerjakan banyak proyek di Solo dan sekitarnya. Bahkan, sampai juga di Bantul, Jogjakarta," tambah Untung.
Namun, di bidang itu pula, Untung kehilangan banyak uang. Ini membuat dia pun memilih kembali ke sepak bola.
"Hanya, saya bukan lagi sebagai pemain tapi sebagai pelatih. Yang saya tangani pun bukan pemain senior tapi anak-anak," kata Untung.
Bersama rekannya di Arseto, Ansar Ahmad, Untung menangani Solo United. Dengan tangan dinginnya, klub yang berlatih di Lapangan Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, itu pun menjadi klub yang disegani di Jawa Tengah.
"Saya ingin melahirkan pesepak bola bagus dari Solo United," pungkas Untung. (*)

Sekilas tentang si Codet
Nama Lengkap; Untung Sudrajat
Usia; 40 tahun
Posisi semasa pemain; Gelandang bertahan
Klub yang dibela
1991; PPP Solo
1993; Diklat Arseto
1994-1998: Arseto Solo
1998-2003; PSIS Semarang
2004; Persekaba Badung
2005-2006; Persis Solo
2007-2008: Pesik Kendal
2009:Persebi Boyolali

Tim yang ditangani
2011-..: Solo United
Read More

Bukan Dibayar untuk Dipinjam Lisensinya

MONCER: Hartono Ruslan (foto:sidiq)

SRIWIJAYA FC menjadi juara Indonesia Super League (ISL) musim 2011-2012. Orang pun lebih mengenal Kashartadi sebagai pelatihnya.
 Namun, sebenarnya bukan dia yang duduk sebagai arsitek kepala tim. Ya, Hartono Ruslan-lah yang tercatat sebagai pelatih kepala tim asal Palembang, Sumatera Selatan.
 ‘’Memang, sayalah pelatih kepalanya dan Kashartadi sebagai asisten kepala. Namun, itu bukan masalah bagi saya,’’ jelas Hartono saat ditemui di rumahnya di kawasan Banyuanyar, Banjarsari, Solo, pada Sabtu malam (19/9).
 Dia pun merasa tak dilangkahi oleh Kashartadi, Dia selalu konsultasi dengana saya dalam setiap membuat program latihan,’’ terang lelaki yang kini berusia 54 tahun tersebut.
 Selain itu, si Kijang, julukan Kashartadi saat masih aktif sebagai pemain juga bukan orang asing baginya. Lelaki yang menjadi bagian dari timnas Indonesia saat meraih emas cabang olahraga sepak bola SEA Games 1991 itu pernah ditangani Hartono saat membela Arseto Solo 1992-1994 dan 1997-1998.
 Status sebagai pelatih kepala namun lebih banyak berada di belakang layar bukan kali pertama dilakoni Hartono. Sebelumnya, dia melalukannya di Persela Lamongan dan Perseman Manokwari.
 Di dua klub itu, Hartono berpartner dengan Djoko Susilo. Pertama di Persela Lamongan pada 2009 serta Perseman setahun berikutnya.
 Di Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, tim pesisir utara Pulau Jawa itu mampu diselamatkann dari degradasi. Sayang, capaian itu belum mampu memikat manajemen Persela mengikat kembali Djoko.
 Di bumi Papua bersama Perseman, Hartono dan Djoko membuat Perseman bisa berada di papan atas. Namun,  itu belum membuat manajemen puas.
 Menjelang akhir kompetisi, Djoko diberhentikan. Hartono pun sempat mendapat tawaran untuk menjadi pelatih kepala menggantikan sahabatnya itu.
 ‘’Namun, saya pilih ikut mundur. Saya yang mengajak Djoko, jadi saat Djoko diputus kontrak, saya memilih mundur sebagai solidaritas,’’ ucap Hartono.
 Di saat menganggur, Kashartadi mendatangi rumahnya pada 2011. Hartono diajak berduet dengannya di Sriwijaya FC. Duet ini mampu meracik strategi yang membuat klub itu mengangkat trofi terhormat.
 Sayang, setahun kemudian, Kashartadi diberhentikan di tengah jalan. Lagi-lagi, Hartono menunjukan kesetiaannya. Dia menolak menangani sendiri Sriwijaya.
 Pada musim 2014, kejadian serupa terulang. Kali ini, Aris Budi Sulistyo yang datang kepadanya.
 Hartono diminta Aris menemaninya menangani Persik Kediri, Jawa Timur. Lisensi yang dimiliki lelaki asal Malang, Jawa Timur,  itu mendapat landasan utama.
 Lisensi Aris belum bisa untuk menempatkan dirinya menjadi pelatih kepala. Hanya, dibandingkan di Persela, Perseman, dan Sriwijaya, kondisinya berbeda.
 ‘’Saya nggak pernah diajak diskusi bareng membuat program. Aris jalan sendiri dan saya di lapangan ya melihat saja,’’ ungkap Hartono.
 Di tangan Aris, Macan Putih, julukan Persik, babak belur. Mereka tak pernah menang dalam beberapa pertandingan. Imbasnya, mantan bek Mataram Indocement, Arseto Solo, dan Arema Malang serta Persik itu pun dipecat.
 ‘’Namun, yang dipecat hanya Aris dan pelatih kiper Sukrian. Saya tak ikut Aris karena saya memang tak pernah diajak membuat program. Kalau saya dilibatkan, saya pasti juga ikut mundur,’’ ujar Hartono.
 Apalagi, salah satu pengurus Persik mendatangi Hartono. Dia meminta agar lelaki yang juga beberapa kali membela Liga Selection itu menularkan ilmu.
 ‘’Pengurus itu bilang, saya dibayar bukan untuk dipinjam lisensinya. Tapi, saya dibayar untuk melatih,’’ papar dia.
 Statemen itu pun membuat Hartono tertantang. Akhirnya, dia bersama dua asisten, Musikan dan Dwi Prio Utomo, duduk satu meja untuk membahas program menyelamatkan Persik dari degradasi.
‘’Saya tetap di belakang.Namun, program saya yang membuatkan,’’ terang Hartono.
 Hasilnya, luar biasa. Persik mampu memetik kemenangan, bukan hanya di kandang tapi juga tandang. Imbasnya, hingga akhir musim, Macan Putih tetap berada di ISL. (*)

Read More

Kembali Moncer di Klub Pinjaman

TAJAM: Safee  Sali bersama fans di Sidoarjo (foto:sidiq)

SAFEE Sali baru saja menjalani latihan bersama Timnas Malaysia di Gelora Delta Sidoarjo pada Sabtu petang WIB (13/9). Dia pun tampak berjalam tergesa-gesa untuk keluar lapangan.
 Namun, langkahnya terhenti saat penulis memanggil namanya dan menyebut kata Arema. Safee pun langsung berhenti dan membalas uluran tangan.
 ‘’Saya tidak bisa ke Malang karena baru saja datang. Tapi, tadi sempat ketemu teman-teman setelah latihan timnas Indonesia,’’ ujar Safee.
 Ini merupakan kali pertama lelaki 30 tahun tersebut datang ke Indonesia. Padahal, pada 2011,  Negeri Jamrud Khatulistiwa, julukan Indonesia, bukan negeri yang asing baginya.
 Pada musim 2011-2012, Safee tercatat sebagai penggawa klub Pelita Jaya Karawang. Dia menjadi pemain Malaysia pertama yang merumput di kompetisi sepak bola Indonesia.
 Pelita Jaya tertarik memakai Safee setelah setahun sebelumnya dia bermain gemilang bersama Timnas Malaysia di ajang Piala AFF. Selain sukses mengantarkan negaranya menjadi juara event sepak bola bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut untuk kali pertama, lelaki dengan tinggi 173 sentimeter tersebut juga menjadi pencetak gol terbanyak (top scorer) dengan koleksi lima biji.
 Sayang, Arema, yang menjadi klubnya, tak pernah memakai tenaganya. Sejak 2012-2013, Safee dipinjamkan ke klub Malaysia Daruk Takzim. Bergabungnya dia dengan klub asal Johor tersebut juga mengundang kontroversi. Alasannya, sebelumnya, dia sudah menyatakan bergabung dengan Selangor.
 Kontribusi Safee di Daruk Takzim sangat besar.Klub yang berdiri 1972 itu diantarkannya menjadi juara Malaysia Super Leagua (kasta tertinggi kompetisi sepak bola Malaysia). Ini pula yang membawa Safee kembali dipercaya masuk timnas negerinya. (*)

Sekilas tentang Safee Sali
Nama lengkap: Mohd Safee bin Mohd Sali
Usia: 30 tahun
Lahir: Selangor,28 Januari 1984
Posisi: striker

Klub yang dibela
2003-2005:Kuala Lumpur FA
2003: Melaka TMFC (pinjam)
2005-2006:Sarawak FA
2006-2011: Selangor FA
2011-2012: Pelita Jaya
2012: Pelita Jaya
2013-..: Darul Takzim FC (pinjam)
Read More

Dollah Salleh Kembali Tebar Ancaman


RAMAH: Dollah Saleh(foto:sidiq)

SOSOK Dollah Salleh sangat ramah. Dia tak langsung bersedia diajak berbicara penulis meski baru kali bertemu.
 Itu terjadi saat tim yang kini ditanganinya, Tim Nasional Malaysia, tengah menjajal lapangan Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur. Harimau Malaya, julukan Timnas Malaysia, berada di Kota Udang untuk menghadapi Timnas Indonesan dalam laga persahabatan internasional pada Minggu (14/9).
 ‘’Saya baru menangani tim ini. Belum ada hitungan bulan,’’ kata Dollah.
 Namun, dia tak mempersoalkan. Baginya, menangani timnas negaranya merupakan sebuah amanah.
 ‘’Sasarannya memang Piala AFF. Saya hanya melatih, hasilnya tergantung para pemain di lapangan,’’ jelas Dollah.
Dollah sendiri pernah jadi momok bagi sepak bola Indonesia. Bermain sebagai striker, dia sering membuat kalang-kabut pertahanan Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, di era 1980-1990-an.
 Duetnya bersama Zainal Abidin Hasan sangat menakutkan. Mereka pun mampu mengantarkan Malaysia meraih emas dalam SEA Games 1989. Selama sembilan tahun membela negerinya di pentas internasional, lelaki kelahiran 23 Oktober 1963 itu sudah mengemas 48 gol dari 97 pertandingan.
 Di level lokal, gelar juara sudah bukan hal yang asing bagi Dollah. Klub-klub yang pernah dibelanya selalu meraih posisi terhormat.Johor pernah dibawanya menjadi Piala Malaysia pada 1985 dan Charity Shield setahun kemudian.
 Saat hijrah ke Selangor, klub itu mampu diantarkan menjadi pemenang Liga Malaysia dua tahun beruntun 1989 dan 1990. Begitu juga dengan Pahang yang naik ke posisi terhormat dalam Malaysia Premier League I 1992 dan Liga Malaysia 1995.
 Saat memutuskan menjadi pelatih, sukses tetap mengiringi Dollah. Tangan dinginnya membawa MPPJ untuk kali pertama menjadi juara Piala Malaysia untuk kali pertama pada 2003.Setahun kemudian, dua gelar dia sumbangkan bagi klubnya itu di ajang Charity Shield dan Liga Malaysia.
 Ini membuat klub-klub besar Malaysia pun tergiur mengontraknya. Namun, Selangor yang beruntung mendapatkan tanda tangan Dollah pada 2005. Dia dikontrak selama dua tahun.
 Pada tahun pertamanya, Dollah langsung membawa klub barunya memenangi tiga trofi yakni Liga Malaysia, Piala FA, dan Piala Malaysia.
Dia juga mengatasi dahaga gelar Pahang yang selama 21 tahun belum pernah lagi memenangi gelar Piala Malaysia pada 2013 setelah setahun sebelumnya memenangi Malaysia Premier League.  Pada 2014, Dollah mengangkat PDRM menjadi juara Premier League dan promosi ke Super League.
 Capaian-capaian itulah yang membuat Asosiasi Sepak Bola Malaysia mengontraknya selama dua tahun mulai 2014 ini. (*)

Read More

Lebih Pilih Kelola Lapangan Futsal

PENGELOLA: Dwi Santo saat di lapangan futsal (foto:sidiq)
DARI belakang, penulis sempat pangling. Setelah menoleh ke belakang, wajah itu sudah tak asing lagi.
Dia adalah Dwi Santo Putra. Lelaki 36 tahun ini juga akrab disapa Sinyo.
Kini, dia sudah meninggalkan hiruk pikuk lapangan besar. Padahal, sejak kecil, rumput hijau sudah digeluti.
"Sekarang, saya juga sibuk di lapangan hijau. Tapi ini lapangan futsal," jelas bapak satu anak ini.
Dunia futsal, tambah Sinyo, mulai digelutinya sejak 2011. Itu setelah dia dipercaya mengurusi lapangan futsal yang satu lokasi dengan SPBU Buduran, Sidoarjo.
Kali terakhir, dia tercatat membela Persikubar Kutai Barat, Kalimantan Timur. Hasilnya, Persikubar mampu lolos ke Divisi Utama.
Perjalanan Sinyo sebagai pesepak bola dimulai dari klub Indonesia Muda, Surabaya. Dari klub itu juga, dia bisa masuk Persebaya Junior pada 1997.
"Setelah itu, saya diambil Gelora Dewata yang bermarkas di Denpasar, Bali. Saya direkomendasikan Rusdy Bahalwan (pelatih Persebaya) ke Pak Mislan (pemilik Gelora Dewata)," ungkap Sinyo.
Dari Gelora Dewata pula, dia bisa menembus persaingan masuk tim PON Jawa Timur. Sinyo menjadi salah satu penggawa yang sukses membawa tim provinsi paling timur Pulau Jawa itu meraih emas PON 2000 yang dilaksanakan di kandang sendiri.
Bersama Gelora Dewata juga yang membuat dia kenal dengan dedengkot sepak bola Vigit Waluyo. Sepanjang karirnya, dia selalu bergabung denganm klub yang ditangani lelaki putra Mislan tersebut.
Dari Gelora Dewata dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta hingga menjadi Deltraa, Sinyo selalu menjadi bagian. Kiprahnya di klub berjuluk The Lobster itu pun terhenti pada 2005.
"Setelah itu, saya berpindah-pindah klub. Mulai dari Persegi Gianyar, Persewangi, PSIR Rembang, Mojokerto Putra, Barito Putera, hingga Persikubar," ungkap Sinyo.
Meski klub yang dibelanya bukan klub-klub besar namun dia boleh berbangga. Hampir semuanya mampu menjadi juara.
"Setiap tim yang saya bela kalau nggak juara ya promosi ke level di atasnya. Bahkan, ada yang mulai dari Divisi 3," papar dia.
Sebenarnya, setelah memutuskan pensiun pada 2011, dia masih diajak Vigit. Hanya, dia menyadari usianya sudah tak muda lagi.
"Bahkan, tahun ini Bos (Sinyo kalau memanggil Vigit) kembali menawari main," ujar Sinyo.
Namun, kesibukannya mengelola lapangan futsal yang membuat tetap bersikukuh pensiun dari sepak bola. Apalagi, kini lapangan futsal yang dikelolanya bertambah.
"Ada satu lagi di dekat ITS (Institut Teknologi Surabaya). Awalnya sepi tapi sekarang saya sudah kewalahan karena ramai," pungkas Sinyo. (*)

Sekilas tentang Sinyo
Nama Lengkap; Dwi Santo Putro
Usia; 36 tahun
Posisi saat main: Gelandang bertahan/stopper
Klub Asal; Indonesia Muda Surabaya

Klub yang pernah dibela; Indonesia Muda, Persebaya Surabaya, Gelora Dewata, Gelora Putra Delta, Persegi Gianyar, Persewangi Banyuwangi, PSIR Rembang, Barito Putera, Persikubar Kutai Barat
Read More

Bejo-Anang Duet Lagi

Owner SFC Ibnu Grahan (tiga dari kanan) bersama jajaran pelatih
BEJO Sugiantoro dan Anang Maruf ada di Lapangan Mulyorejo, Surabaya. Mereka pun melakukan passing-passing yang akurat.
Namun, kedunya bukan tengah bermain bola. Seperti di era 1990-an dan 2000-an di era kejayaannya saat mengantarkan Persebaya menjadi tim yang disegani di kancah sepak bola nasional.
Bejo dan Anang tengah melatih anak-anak usia belasan tahun yang tergabung dalam Surabaya Football Club (SFC). Diharapkan, sepak bola teknik tinggi yang dimiliki keduanya bisa ditransferkan ke anak asuhnya.
"Anang yang minta duet dengan Bejo. Alasannya, mereka sudah kompak dan pernah bawa Persebaya juara," kata Ibnu Grahan, pemilik SFC.
Hanya, dibandingkan Bejo, Anang belum punya lisensi kepelatihan. Sementara Bejo, yang disebut-sebut sebagai libero terbaik sepanjang masa Indonesia, sudah mengantongi lisensi B.
Selain Bejo dan Anang, di kursi pelatih SFC juga ada mantan gelandang Persebaya, PSIS Semarang, dan Persibo Bojonegoro, Fachrudin. Dia dipercaya sebagai koordinator pelatih.
Ada juga nama stopper Persebaya Jefri Prasetyo. Sama halnya dengan Anang,lelaki yang juga pernah menjadi palang pintu Persis Solo itu belum memiliki lisensi. Masih ada juga Margono. Mantan bek Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS) itu memoles klub Divisi Utama Kabupaten Sumbawa Barat.
Lapangan Mulyorejo sendiri, tambah Ibnu masih dalam proses perbaikan. Namun, dia bangga ternyata itu tak mengurangi animo pemain-pemain muda untuk menyerap ilmu dari pelatih yang dulu pernah merajai di masanya sebagai pemain itu. (*)

Staff Pelatih SFC
Fachrudin (mantan pemain Persebaya)

Bejo Sugiantoro (mantan pemain nasional)

Anang Maruf (mantan pemain nasional)

Jefri Prasetyo (mantan pemain Persebaya)

Margono (mantan pemain ASGSY

Budi (mantan kiper Persekap)

Toha (staff Persebaya)

//
Read More

Bantu Pemkab Sidoarjo saat Tak Dapat Klub

ANAK: Ari Kurniawan bersama tiga buah hati (foto:sidiq)

FAREL, Arshavin, dan Aisha. Ketiganya merupakan buah hati kiper senior Ari Kurniawan.
Menariknya, ketiganya lahir saat dengan status yang berbeda dalam perjalanan karir kiper kelahiran Mojokerto, Jawa Tmur, 37 tahun silam itu.
"Farel lahir saat saya membela Persekabpas Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur) dan  Arshavin di Deltras, Sidoarjo (Jawa Timur)," kata Ari.
Aisha? Anak satu-satunya perempuan hasil pernikahan Ari dengan  Ineke Dwi  itu lahir saat dia tak punya klub alias menganggur.Aisha lahir pada 18 Juli 2014.  Meski, sebenarnya, pada musim  2014, Ari sempat digadang gadang mengawal gawang Persida Sidoarjo, Jawa Timur.  Namun, di detik-detik akhir, posisi Ari digantikan kiper lain.
Pindah dari satu klub ke klub lain memang bukan hal yang asing bagi Ari. Dalam perjalanan karirnya, dia pernah membela Gelora Dewata yang berevolusi namanya menjadi Gelora Putra Delta (GPD) hingga Deltras.
Persekaba Kabupaten Badung, Bali, pun pernah memakai tenaganya. Begitu juga dengan Persekabpas. Bahkan, dia nyaris bergabung dengan Mitra Kukar (Kutai Kartanegara), Kalimantan Timur. Sebelumnya akhirnya Ari lebih memilih bergabung dengan Laskar Sakera, julukan Persekabpas.
"Tetapi, sekarang saya sudah nggak laku. Kalah sama kiper-kiper muda," ucap Ari sambil tertawa.
Untung, saat tak punya klub yang memakai tenaganya sebagai kiper, dia punya aktivitas lain. Dia dipercaya mengerjakan pameran-pameran yang diikuti Pemkab Sidoarjo. Sudah beberapa kali Ari dipercaya oleh pemerintahan Kota Udang,julukan Sidoarjo.
Bahkan, dalam waktu dekat, Ari mengerjakan kegiatan Pemkab Sidoarjo yang akan melakukan pameran di Jogjakarta. (*)

 
Sekilas Tentang Ari Kurniawan
Nama Lengkap; Ari Kurniawan Sarwoto
Usia: 37 tahun
Posisi:  Kiper
Nama istri:  Ineke Dwi Setyawati

Anak:
Alfarrel Mahendra Lazzuardi
Arshavin Diandra Syathirbaihaqi
Aisha Cassandra Jasmine

Klub yang pernah dibela:
1997-2000:  Gelora Dewata Bali
2000-2002: Persekaba Badung Bali
 2003-2006: Deltras Sidoarjo
2007-2009: Persekabpas Kab Pasuruan
2009-2010: Deltras Sidoarjo
2010-2012: Persiram Raja Ampat
2013: Deltras

Read More

Ludruk, Sepak Bola Putri, dan Srimulat

KOMPLET: Marem Trisnani (foto:sidiq)

APA hubungannya ludruk dan sepak bola. Jawabannya tentu tidak ada.
Kalau ludruk di bawa ke lapangan hijau, sepak bola bakal sudah bisa ditebak ceritanya sebelum pertandingan. Sebaliknya, kalau sepak bola di bawa ke atas panggung, tak ada tawa di sela-sela cerita.
Tapi, semua itu mampu dipadukan dengan baik oleh Marem Trisnani. Perempuan yang usianya sudah 44 tahun tersebut sejak 1990 sudah sukses menekuni ludruk dan sepak bola.
Semua itu tak lepas dari darah yang mengalir dari bapaknya. Lelaki asal Balongbendo, Sidoarjo, tersebut merupakan pesepak bola tersohor di kampung halamannya.
"Hanya saat itu belum ada Persida. Jadi bapak jadi pesepak bola kampung," terang Marem, perempuan yang kini menjadi asisten pelatih Persida Putri itu.
  Seringnya melihat ayahnya bermain sepak bola pun membuat Marem muda kepincut. Dia pun rela meninggalkan olahraga awalnya, atletik, untuk menekuni bola sepak.
"Saya harus ke Tambaksari, Surabaya, untuk bergabung dengan Putri  Gelora. Di klub itu, kemampuan saya terasah," ungkap Marem.
Semula, posisi yang ditempatinya adalah penyerang. Namun, seiring usia yang terus bertambah, Marem berubah-ubah posisi.
"Dari penyerang ke gelandang, akhirnya menjadi libero. Sampai sekarang kalau main, saya jadi libero," tambah Marem.
Marem pun hengkang ke kota kelahirannya ketika dibentuk Delta Putri Sidoarjo (Deltris). Bersama klub itu, dia merasakan mewakili Jatim pada 2003.
"Bahkan, seleksi tim nasional sempat saya ikuti pada 2005. Saya tak dimasukan karena usia saya sudah tak muda lagi,35," tambah Marem.
Dari sepak bola putri pula, dia menjadi pegawai di Pemkab Sidoarjoa. Sayang, meski sudah bekerja sejak 2004, statusnya tak pernah beranjak  dari honorer.
Namun, itu tak membuat ibu dua putri, wastyratu Indra Nili Wijaya dan Hanggareksa Indra Nili Wijaya, itu patah semangat. Dia selalu rajin ke tempatnya bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga.
Setelah bertugas di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, kini Marem berkantor di GOR Bulu Tangkis Sulaksana. Hanya, kesibukannya di sepak bola tetap tak bisa ditinggalkan.
Bedanya, kini, statusnya sebagai asisten pelatih mendampingi Muhammad Ikhsan di Persida Putri.
Hanya, sesekali dia meninggalkan kedua statusnya sebagai karyawan Pemkab Sidoarjo dan asisten pelatih Persida Putri. Ke mana? "Ngelawak bersama rombongan Srimulat Surabaya. Bayarannya jauh lebih besar dibandingkan jadi asisten pelatih atau pegawai ," tambahnya sambil tertawa.
Aktivitas melawak itu pun telah membawanya berkeliling ke berbagai kota di Pulau Jawa. Bahkan, Sulawesi dan Kalimantan telah disinggahi.
"Semua itu tetap dari sepak bola," pungkasnya. (*)

Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com