www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 30 September 2014

Si Codet yang Tak Kenal Kompromi

ANAK ASUH: Untung Sudrajat (kiri) bersama tim SD Bratan 1

SEBUAH luka di pipi membuat dia dipanggil Codet. Goresan itu didapat gara-gara sikap bengalnya saat masih muda.
Bahkan, di alis, juga ada bekas sayatan. "Kalau ini karena kena sikut Mono," kata lelaki bernama Untung Sudrajat saat bertemu penulis usai mendampingi anak asuhnya di SD Bratan 1, Solo, di sebuah lapangan kampung di Kota Bengawan, julukan Solo, pada Sabtu siang (27/9).
Mono yang dimaksud adalah Firman Sukmono, pemain PSIS Semarang. Semua luka itu didapat Untung saat membela Arseto Solo, klub dengan basic profesional milik keluarga anak mantan Presiden Soeharto, Sigit Harjojudanto yang bubar pada 1998.
Ya, Arseto merupakan klub yang membesarkan nama Untung di era Liga Indonesia. Di klub berjuluk Elang Biru itu pula, dia mempunyai bekal menjadi pesepak bola yang disegani di Solo dan Jawa Tengah.
"Saya membela Arseto sejak Liga Indonesia di mulai. Saya diambil dari Diklat Arseto," kenang lelaki kelahiran 1974 itu.
Untung bisa menembus Diklat Arseto setelah terpantai dari turnamen usia dini antarklub Solo. Dia direkrut dari klub PPP (tapi klub ini tak ada hubungan dengan partai politik yang berlogo Ka'bah).
"Cita-cita saya memang ingin bisa bermain di Arseto. Sebagai warga Solo, siapa yang tidak bangga bisa menjadi pemain Arseto," ujar Untung.
Luka yang dialami di pipi dan alis juga menjadi bukti kebengelan lelaki yang kini dikaruniai dua putri itu. Ini tak jauh beda ketika di lapangan.
Sebagai gelandang bertahan, Untung dikenal sebagai pekerja di lapangan yang tak segan mematikan playmaker-playmaker di lapangan.
Dia juga mempunyai tugas mematikan aliran serangan lawan sebelum berusaha masuk zona penalti Arseto. Sayang, di saat prestasi dan namanya terangkat, Arseto bubar pada 1998 saat situasi politik Indonesia tengah genting.
"Sangat sedih ketika Arseto dinyatakan bubar," terang Untung sambil pandangannya menerawang jauh seperti mengingat kejadian yang tak diinginkannya itu terjadi.
Namun, dengan label Arseto, tak susah baginya mendapat klub baru. Banyak klub yang memintanya bergabung.
Namun, Untung akhirnya menjatuhkan pilihannya ke PSIS Semarang. Bersama klub Mahesa Jenar itu, Codet merasakan jatuh bangun.
"Menang, kalah, degradasi, dan uang banyak pernah saya rasakan di PSIS. Di klub itu, saya lima tahun di sana hingga 2003," papar Untung.
Tawaran di Persela Lamongan pada 2003 membuat Untung pun meninggalkan. PSIS. Sayang, masalah internal membuat dia batal bergabung dengan tim pesisir utara Pulau Jawa yang masuk provinsi Jawa Timur itu.
"Saya datang atas rekomendasi Hamdani Lubis sebagai pelatih. Saat dia gagal di Piala Gubernur dan diganti Riono Asnan, saya ikut mundur," ungkap dia.
Meski, tambah Untung, dia tak punya masalah dengan Riono. Hanya, lelaki yang besar di kawasan Banyuanyar itu tak cocok dengan pola latihan Riono.
"Saya membela Persekaba Badung. Semusim di sana," ujarnya.
Panggilan membela klub kampung halamannya yang mulai menanjak, Persis Solo, tak kuasa ditolak. Musim 2004-2005, menjadi tahun manisnya.
"Dua tahun, saya mengangkat Persis promosi ke Divisi 1 dan Divisi Utama. Pelatihnya  Hartono (Ruslan) dan Hanafi," lanjut Untung.
Namun, saat Suharno, yang kini menukangi Arema Cronus, datang, Untung dipinggirkan. Dia pun membela Pesik Kendal. Setelah itu, tawaran Persekaba Blora di musim 2008 pun sempat menghampiri.
"Hanya, cedera membuat saya memilih mengundurkan diri," jelas Untung.
Di sisa karirnya, Persebi Boyolali sempat memakai tenaganya. Di klub yang berbatasan dengan Solo itu pula, Untung akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu.
Dia pun mulai menekuni bidang di luar sepak bola. Terjun sebagai pemborong bangunan pun dirambah.
"Sejakj 2009-2011, saya mengerjakan banyak proyek di Solo dan sekitarnya. Bahkan, sampai juga di Bantul, Jogjakarta," tambah Untung.
Namun, di bidang itu pula, Untung kehilangan banyak uang. Ini membuat dia pun memilih kembali ke sepak bola.
"Hanya, saya bukan lagi sebagai pemain tapi sebagai pelatih. Yang saya tangani pun bukan pemain senior tapi anak-anak," kata Untung.
Bersama rekannya di Arseto, Ansar Ahmad, Untung menangani Solo United. Dengan tangan dinginnya, klub yang berlatih di Lapangan Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, itu pun menjadi klub yang disegani di Jawa Tengah.
"Saya ingin melahirkan pesepak bola bagus dari Solo United," pungkas Untung. (*)

Sekilas tentang si Codet
Nama Lengkap; Untung Sudrajat
Usia; 40 tahun
Posisi semasa pemain; Gelandang bertahan
Klub yang dibela
1991; PPP Solo
1993; Diklat Arseto
1994-1998: Arseto Solo
1998-2003; PSIS Semarang
2004; Persekaba Badung
2005-2006; Persis Solo
2007-2008: Pesik Kendal
2009:Persebi Boyolali

Tim yang ditangani
2011-..: Solo United

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com