www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Ke Surabaya, Selalu Sempatkan Makan Rawon

NGULING: Jacksen saat makan rawon
SURABAYA tak akan pernah lepas dari kehidupan seorang Jacksen F. Tiago. Di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, dia memperoleh segalanya dari sepak bola. Gelar juara, pencetak gol terbanyak, dan juga masyarakat yang akan selalu menghormatinya.
 Bersama Green Force, julukan Persebaya, saat menjadi pemain, dia mengangkat trofi juara di musim 1996-1997. Satu hal yang belum dirasakannya saat membela dua klub sebelumnya, Petrokimia Putra Gresik di musim 1994-1995 dan PSM Makassar setahun kemudian. Bahkan, di musim itu juga, Jacksen menjadi pencetak gol terbanyak.
 Setelah itu, dia sempat berkelana ke beberapa klub di luar Indonesia seperti Guangzhou Matsunichi (Tiongkok) dan Geylang United serta Home United (keduanya klub Singapura). Jacksen pun mengakhiri karirnya sebagai pemain di Petrokimia Putra pada 2001.
 Namun, di Surabaya juga, bapak tiga anak itu memulai karir sebagai pelatih. Kedekatannya dengan M. Barmen membuat Jacksen dipercaya menangani Assyabaab, klub internal Persebaya, sekarang Askot PSSI Surabaya, selama 2002-2003. Di tangannya, klub pujaan masyarakat Ampel itu menjadi juara Kelas Utama Persebaya.
 Dari sinilah kegemilangan dan tangan dingin lelaki kelahiran Rio de Janeiro, Brasil, 28 Mei tersebut dimulai. Pada 2003-2004, Jacksen mendapat kepercayaan besar menangani Persebaya. Klub pujaan Bonekmania tersebut dibawanya kembali ke Divisi Utama pada 2003 dan menjadi juara Divisi Utama setahun kemudian.
 Lama dan bergulat dengan masyarakat Surabaya membuat dia pun tahu dengan boso Suroboyo. Yang menariknya, sampai sekang, Jacksen kesengsem dengan rawon. Dalam wikipedia, rawon disebutkan merupakan makanan sup daging dengan bumbu khas kluwek yang membuat kuahnya menjadi hitam.
 Saat  dia menangani tim luar Surabaya seperti Persita Tangerang, Persiter Ternate, dan Persipura, Jacksen selalu menyempatkan makan rawon. Itu tidak dilakukan sendiri.
 ‘’Saya suka sekali dengan rawon. Kalau kumpul dengan teman-teman, makannya tambah enak karena bisa tertawa-tawa,’’ ujar Jacksen.
 Rumah makan rawon Nguling di kawasan Sepanjang, Sidoarjo, sering menjadi tujuan utamanya. Rawon daging yang dipadukan dengan telor asin, habis disantapnya.
 Hanya sayang, minuan bersoda kesukaannya tidak ada di warung tersebut. Sebagai gantinya, dia pun memesan minuman berasa buah.
 ‘’Lega sekali bisa makan rawon daging. Saya juga membungkus untuk di makan nanti di rumah,’’ ujar Jacksen.
 Sebelum pulang, dia pun menyempatkan waktu berfoto bersama rekan-rekannnya yang berasal dari berbagai profesi mulai penjahit sepatu hingga mahasiswa. (*)
 
Read More

Bekas Mes Arseto Itu Sudah Semakin Tertutup

LEBAT:Pintu samping masuk Mes Kadipolo
GEDUNG tua itu mulai tertutup warung-warung di depannya. Bahkan, ada pagar seng yang membuat orang tak bisa masuk.
Semua itu merusak keindahan bangunan yang lebih dikenal sebagai Rumah Sakit Kadipolo. Bangunan yang berada di Jalan Dr Radjiman, Solo, tersebut kali terakhir menjadi mes dari klub legendaris, Arseto Solo.
Bukan hanya tidur, penggawa klub milik keluarga rezim Orde Baru itu juga berlatih di tempat itu. Sebuah lapangan berukuran sekitar 80x90 meter menjadi tempat para pemain bayaran Arseto memeras keringat dan menjalankan instruksi pelatih.
Sekarang, lapangan itu pun masih ada. Hanya, sudah tak terawat seperti saat masih dipakai Arseto.
Jika dulu hamparan rumput hijau bak permadani, kini warnanya sudah berubah menjadi cokelat dan banyak kerikil-kerikil.
Sementara, saat penulis mencoba lewat pintu masuk samping bangunan, banyak tanaman-tanaman liar. Apalagi, saat itu, penulis menyambanginya pada malam hari.
Rumah Sakit Kadipolo atau Mes Arseto ini terlihat seram dan menakutkan. Ini semakin menambah cerita mistis tempat yang dulunya milik pihak Keraton Surakarta itu.
"Dulu, sering terdengar suara anak-anak bermain. Atau juga ada suara kereta dorong yang membawa pasien," kenang Harto Ruslan, mantan pemain yang juga pernah menjadi asisten pelatih Arseto.
Itu, lanjut dia, selalu terjadi pada para penghuni mes. Bahkan, salah satu pemain muda menjelang Arseto bubar pada 1998, Dwi Adi Nugrahanta, punya kisah yang tak kalah menyeramkan. Saat dia mengenang kejadian itu, bulu kuduknya pun berdiri.
"Saya sudah sering dengar cerita-cerita itu, jadi saya pun takut kalau keluar malam," ungkap lelaki berposisi kiper yang akrab disapa Badut itu.
Nah, pada suatu malam, dia pun ingin mandi. Namun, untuk menutup ketakutannya, pintu kamar mandi dibiarkan terbuka.
" Tapi, saat gosok gigi, ada tangan yang memegangi pinggang saya. Saya pun tak berani menoleh dan langsung lari," terang lelaki yang hanya membela Arseto selama dua musim 1997-1998 itu.
Mes Arseto pun pernah menjadi tempat pengambilan gambar acara televisi yang berisikan tempat-tempat yang dianggap dihuni makhluk halus. Ini seolah mempertegas bahwa bangunan itu memang angker. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com