www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Dedikasi Tinggi buat Suporter Persebaya

KENANGAN: Tulisan Soepangat yang pernah muncul di blog ini
PERKENALAN dengan Soepangat belum lama. Saya tahu sosok master of ceremony (MC) atau pembawa acara tersebut pada 2001 atau baru 14 tahun.

Rentang waktu ini masih kalah dengan lainnya yang sudah menembus 20 tahun lebih perkenalan mereka dengan Soepangat. Namun, selama rentang waktu itu intensitas berjumpa dengan Soepangat sangat sering.

Saya bisa seminggu tiga hingga lima kali berjumpa dengan Soepangat. Dari dia pula, saya banyak memperoleh informasi seputar sepak bola di Surabaya.

Bukan hanya soal Persebaya, tapi juga klub yang pernah menjadikan Kota Pahlawan, julukan Surabaya, sebagai home-nya.  Ya, selain Green Force, julukan Persebaya,  sempat ada Niac Mitra yang kemudian menjadi Mitra maupun Assayabaab Salim Group.

Soepangat mampu menceritakan kepada saya begitu detail soal ketiganya. Bukan hanya sejarak klub, nama pemain-pemainnya pun masih diingat.

Dia juga paham tentang klub-klub internal Persebaya,kini Askot PSSI Surabaya. Wajar kalau Soepangat disebut sebagai kamus hidup tentang sepak bola Surabaya.

Ada pengalaman lain yang selalu saya kenang tentang Soepangat. Pada 2005, saya mendapat tugas mengikuti Persebaya yang bertanding di ajang Liga Champions Asia di Thailand.

Ketika itu, juara Indonesia tersebut menghadapi Krung Thai Bank, Bangkok. Soepangat datang bersama dengan beberapa pengurus Persebaya termasuk Saleh Ismail Mukadar yang menjadi manajer.

Saya duduk tak jauh dari Soepangat. Dengan jiwanya sebagai penyiar yang selalu menyiarkan laga Persebaya, dia pun mengambil inisiatif meminjam HP handphone pengurus (pinggirlapangan, 21 Agustus 2011).

Dia pun menyiarkan laporan langsung tim yang saat itu ditangani Jacksen F. Tiago tersebut dari Negeri Gajah Putih, julukan Thailand. Dia menyiarkan lima menit sekali pandangan matanya Itu, terang Soepangat, menjadi laporan perdananya ke luar negeri. Ternyata, pertandingan Mursyid Effendi dkk ketika itu dipantau oleh ribuan pasang mata di Surabaya dan sekitar.

Sebenarnya, saya masih punya kesempatan berjumpa dengan Soepangat.Di akhir Oktober 2015, saya sudah ingin menemui lelaki 65 tahun tersebut.

Seorang teman pun menyarankan agar saya segera ke sana kalau mau silaturahmi dengan Soepangat. Alasannya, Soepangat mulai sakit.

Tapi, keinginan itu saya pendam dulu karena ada tugas kantor ke luar mulai 25 Oktober meninggalkan Surabaya . Setelah balik, pada 2 November 2015, saya ingin bersilaturahmi setelah lama tak berjumpa.

Dua hari kemudian, saya mengirim layanan pesan singkat (SMS) ke nomor di HP saya yang tertulis nama Supangat. Seharian tak ada jawaban.

Tapi, pada Kamis pagi (5/11/2015), SMS saya baru dijawab. Tapi, betapa kagetnya.

Isinya menyebutkan bahwa Soepangat telah meninggal dunia pada Rabu malam dan akan dimakamkan pada Kamis pukul 10.00. Penyesalan terukir di dada karena menunda pertemuan dengan sosok yang disegani di lingkungan Persebaya tersebut.
Saya pun berangkat ke rumah duka di Karanggayam. Saya ingin melepas kepergian Soepangat kali terakhir. (*)
Read More

Datang tanpa Melihat Perbedaan

MEMORI: Alm Soepangat selalu dikenang
Soepangat dihormati banyak orang. Tak heran, banyak yang melepas kepergiannya. Sekat berseturuan antara dua Persebaya pun seolah hilang.
--
SUDAH banyak mobil parkir di sekitar Gelora 10 Nopember, Surabaya, pada Kamis pagi (5/11/2015). Para pemilik mobi bukan ingin menyaksikan pertandingan sepak bola yang berlangsung di stadion yang dibangun untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 1969 tersebut.

Mereka datang ke sebuah rumah yang berada sebelah selatan Gelora 10 Nopember atau tepatnya di Jalan Karanggayam. Tujuannya hanya satu, kali terakhir melepas kepergian Soepangat.

Ya, master of ceremony (MC) atau pembawa acara tersebut menutup usia pada umur 65 tahun. Penyakit kanker paru-paru membuat Soepangat menyerah.

Sejak pagi hingga siang, banyak yang datang. Mereka terdiri  sahabat Soepangat yang terdiri dari pengurus, pelatih, hingga pemain dan mantan pemain Persebaya.

Dari barisan pengurus tampak CEO Persebaya Indonesia Cholid Goromah maupun mantan manajer Persebaya Indah Kurnia . Ada juga mantan pelatih Green Force, julukan Persebaya Soebodro.

Dari deretan mantan pemain tampak mesin gol di era 1990-an yang terakhir menjadi asisten pelatih Timnas U-23 Mustaqim, Yusuf Ekodono (bintang di era 1990-an), Seger Sutrisno (gelandang era 1980-an), Maura Hally (gelandang era 1980-an) Roland Pieterz (penyerang era 1990-an) serta kiper Hendra Prasetya (era 2000-an).

Bahkan, mantan kapten dan kini pelatih Bonek FC, dulu Persebaya ISL, pun terlihat. Mereka tak melihat adanya perbedaan saat datang ke pemakaman. Soepangat sendiri dikebumikan di Karanggayam Selatan atau Karanggayam Teratai.

Kehilangan Soepangat pun juga ramai di media sosial. Beberapa pemain dan mantan pemain Persebaya pun memasang foto lelaki yang bekerja di Radio Gelora Surabaya (RGS) tersebut.

''Selamat jalan Pak Pangat. Semoga Khusnul Khotimah.'' Doa dengan dipasang foto Soepangat itu ada di media sosial milik kapten Persebaya 1927 Mat Halil. Begitu juga dengan mantan bek Aulia Tri Hartanto.

Mantan bintang dan juga pernah menjadi pelatih Persebaya Jacksen F. Tiago pun ikut berduka. Meski tengah berada di Malaysia karena menangani tim negeri jiran, Penang FC, sehingga tak bisa hadir langsung, dia mengirimkan sebuah karangan bunga.

Semua benar-benar merasakan kehilangan sosok Soepangat. Hidup dan semangatnya banyak tercurah untuk Persebaya. (*)
Read More

MC Legendaris Itu Berpulang

Suara khasnya bakal tak bisa didengar langsung saat Persebaya Surabaya turun bertanding. Sang empunya, Soepangat, telah menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (5/11)
--
AYO rek, ojo tukaran (Ayo rek jangan berkelahi), Ayo rek ojo dolinan kembang api (Ayo rek jangan berkembang api) atau himbauan lainnya sering terdengar saat Persebaya Surabaya bertanding. Itu terjadi hampir setiap Green Force, julukan Persebaya, turun ke lapangan dalam kompetisi saat menjamu lawan-lawannya.

Dengan suara yang khas, ternyata itu dipatuhi oleh suporter Persebaya yang jumlahnya ribuan atau bahkan puluhan ribu yang datang ke Gelora 10 Nopember, Surabaya. Pemilik suara tersebut Soepangat.

Kharismanya saat menjadi pembaca acara atau master of ceremony menjadi ciri khas saat Persebaya tampil di Gelora 10 Nopember. Namun, mulai Kamis (5/11), suara langsungnya tak akan bisa terdengar lagi.

Pada usia 65 tahun, Soepangat harus menghadap Sang Khaliq. Penyakit kanker paru-paru membuat Supangat menyerah.

''Sudah sebulan dia sakit. Pak Pangat (sapaan karib Supangat) dalam dua minggu harus bolak-balik ke rumah sakit,'' terang Amin Istigfarin, rekan sekerja Supangat yang juga pimpinan Radio Gelora Surabaya (RGS).

Sebelumnya, tak pernah terdengar kabar bapak tiga anak tersebut sakit. Kesibukannya sebagai master ceremony  (MC) dalam pertandingan di Gelora 10 Nopember selalu membuat Soepangat terlihat enerjik.

Bahkan, dalam setiap pertandingan, suaranya yang khas menggelegar membuat siapapun yang mendengarnya akan tercuri perhatian. Namun, butuh waktu yang tak singkat untuk menjadi seperti itu.

''Sejak PON (Pekan Olahraga Nasional) 1969 di Surabaya,Pak Pangat sudah di RGS dan menjadi MC. Dia paham betul menguasai medan Tambaksari (daerah lokasi Gelora Sepuluh Nopember),'' lanjut Amin.

Gelora 10 Nopember sendiri bukan tempat yang asing bagi Soepangat. Rumahnya persis di selatan stadion legendaris tersebut

''Pak Pangat pernah cerita, Gelora 10 Nopember tersebut halaman baginya. Sebelum di bangun jadi stadion,tempat bermainnya ya di situ,'' tambah M Jamil, mantan sekretaris tim Persebaya yang juga sahabat dekat Soepangat.

Suara Soepangat pun tak bisa ditiru oleh MC yang lain. Caranya menghimbau suporter, memanggil nama pemain, serta moment saat Persebaya mencetak gol pun tak ada duanya.

Sayang, semua itu sudah tak ada. Saat meninggalnya Soepangat, rumahnya penuh dan sahabat-sahabatnya. Bukan hanya pemain, pengurus, para wartawan dan suporter pun melepas kepergian MC legendaris itu Selamat jalan Pak Pangat. Semoga khusnul khotimah. (*)
Read More

Mantan Kiper Timnas Pilih Jualan Sinom

SISA KEJAYAAN: Subakja saat di Stadion Jenggolo
Statusnya pernah menjadi penjaga gawang nasional. Sisa-sisa itu masih ada. Tapi, kini waktunya tercurah menekuni usaha.
--
RAMBUTNYA sudah memutih. Badannya pun sudah tak sekekar dulu saat masih aktif di lapangan hijau.

Hanya, dari seorang Subakja masih terlihat sisa-sisa kejayaannya sebagai salah satu kiper handal. Ya, pada awal 1980-an, dia pernah dipanggil menjadi penjaga gawang nasional Indonesia.

''Saya menjadi kiper bersama Sudarno di ajang Piala Presiden di Korea Selatan pada 1982. Memang, saya pelapisnya Sudarno,'' kata Subakja.

Namun, dia mengakui itu menjadi sebuah kebanggaan baginya. Apalagi, saat itu, persaingan menembus Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, sangat ketat.

Lelaki yang akrab disapa Barja ini memulai karirnya dari Bina Taruna, Jakarta. Hanya, saat itu, klub tersebut, tambahnya, belum dikelola oleh Bea dan Cukai.

''Dari Bina Taruna, saya bisa masuk ke Persija Jakarta Junior pada 1976. Setelah itu, saya masuk ke senior,'' kenang lelaki 57 tahun tersebut.

Setelah lama di Macan Kemayoran, julukan Persija, dia pun hengkang ke klub Galatama Perkesa 78 Sidoarjo. Ajakan dari Iswadi Idris tak kuasa ditolak.

''Hanya, saat pindah ke Jogja, saya nggak ikut. Saya tetap di Sidoarjo,'' lanjut Barja.

Mulai saat itu, hidupnya pun dihabiskan di Kota Udang, julukan Sidoarjo. Setelah menikah, dia pun semakin tak punya keinginan meninggalkan kota yang menjadi penyangga Surabaya tersebut.

''Dari Perkesa, saya sempat membela klub Surabaya di kompetisi internal.Lumayan lama hingga saya benar-benar pensiun sebagai kiper,'' tambah dia.

Meski punya label mantan kiper timnas, Barja ternyata belum pernah dan tak tertarik menjadi pelatih kiper. Bahkan, kini kesibukannya jauh dari sepak bola.

''Sejak setahun terakhir ini, saya berjualan sinom (minuman dengan bahan asam). Dulunya, istri yang membuat. Karena sibuk mengajar, sekarang saya yang membuat sinomnya,'' tambah Barja.

Meski belum puluhan hingga ratusan botol, tapi dia mengakui pemasukannya cukup lumayan. Soal rasa, Barja pun menjamin kelezatannya dan kandungan gizinya.

''Semua asli dari alam,'' pungkasnya. (*)
Read More

Anang Kini Pegawai Dispora Surabaya

HIDUP : Anang Ma'ruf rapi dengan baju batik
Anang Ma'ruf termasuk salah satu legenda sepak bola Indonesia. Sayang, kini kehidupannya tengah dapat cobaan. Namun, Pemerintah Kota Surabaya mulai memberikan perhatian kepadanya. Bentuknya apa?
--
DIA tak memakai celana pendek dan kaos olahraga. Padahal, dulunya dia merupakan bintang lapangan hijau yang membela Indonesia di berbagai ajang internasional.

Bukan juga dengan memakai jaket hijau kombinasi hitam yang membuat sosok seorang Anang Ma'ruf mendapat banyak simpati. Ini karena dia memilih menjadi tukang ojek online seolah investasinya di Bali gagal total dan membuat tabungannya ludes.

Tapi, pada Kamis pagi itu (8/10/2015), Anang memakai baju batik, celana panjang hitam, dan sepatu kulit hitam. Dia pun berada di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya, tempat yang membuat namanya melambung bersama klub yang dibela, Persebaya Surabaya.

''Sekarang saya kerja menjadi staf pengelola Stadion Gelora 10 Nopember. Pekerjaan ini mulai saya jalani per 1 Oktober lalu,'' kata Anang yang didampingi seniornya yang juga mantan kapten Persebaya Ibnu Grahan.

Menurutnya, dia dipanggil oleh salah satu petinggi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Surabaya. Itu setelah kisah kehidupannya mencuat di media massa karena terjun sebagai pengemudi ojek online.

''Saya terima tawaran itu. Alhamdulillah, akhirnya saya dapat perhatian dari pemerintah kota,'' ungkap lelaki 39 tahun tersebut.

Ya, konstribusi Anang bagi Surabaya sangat besar. Dia dua kali mampu membawa Green Force, julukan Persebaya, menjadi juara Divisi Utama, saat itu masih merupakan kasta tertinggi di kompetisi sepak bola Indonesia. Itu pada musim 1996/1997 dan 2004.

Bahkan, dia juga membela Timnas Indonesia pada 1995-1999. Dengan konstribusi medali perak SEA Games 1997 dan perunggu dua tahun kemudian.

Nah, saat masih berada di puncak itu, Anang tak terlalu memikirkan pekerjaan. Padahal, beberapa rekannya sempat bekerja menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Surabaya. Kini, statusnya pun sudah menjadi pegawai tetap.

''Ya nggak apa-apa saya belum tetap. Butuh proses ,'' tambah Anang.

Dengan status pegawai Dispora, Anang pun tak lagi terjun sebagai tukang ojek online. Sejak pagi hingga sore, dia berada di Stadion Gelora 10 Nopember.

''Namun, saya masih punya waktu untuk melatih anak-anak di SSB Simo United,'' lanjut pemain yang juga pernah membawa Persija Jakarta juara Divisi Utama di musim 2001 tersebut.

Sebenarnya, Anang pun mulai menekuni sebagai pelatih. Musim ini, dia merangkap sebagai asisten pelatih di tim Liga Nusantara, Persekama Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Sayang, dibekukannya PSSI oleh Menpora membuat kompetisi Liga Nusantara pun ikut tak bergulir. Anang pun sempat limbung dengan kondisi ini.Sehingga, lelaki yang dikenal mempunyai akurasi umpan yang akurat tersebut melamar menjadi tukang ojek online. (*)
Read More

Kemudikan Bis karena Punya SIM B1

Djoko bukan hanya piawai memberikan intruksi di lapangan
Djoko Susilo masuk dalam deretan pelatih papan atas Indonesia. Di tangannya, tim biasa mampu menjadi tim yang disegani.
--
ADA sebuah bis berwarna kuning di halaman sebuah penginapan utara Stadion Gelora Delta, Sidoarjo. Moda transportasi roda empat tersebut menjadi pengantar tim sepak bola Pra PON Papua 2016 selama berada di Jawa untuk menjalani pemusatan latihan.

Bus yang disewa dari Malang itu sudah dipakai membelah Pulau Jawa. Itu dipakai saat tim Pra PON menjalani laga uji coba ke Kulonprogo, Jogjakarta.

Mereka menghadapi tim Porprov Kulonprogo. Sebuah perjalanan terjauh yang dilakoni tim Pra PON Papua selama di Jawa.

Namun, saat perjalanan   ke Malang, karena harus menghadapi tim senior Indonesia Super League (ISL) Arema Cronus, ada hal yang menarik. Pelatih Pra PON Papua Djoko Susilo menjadi pengemudinya.

"Sopirnya kelihatan  capek. Padahal perjalanan masih jauh karena masih di wilayah saradan,kabupaten madiun," ujar Djoko saat ditemui pada 17 September di Sidoarjo.

Bahkan, asisten Pra PON  Papua Ahmad Nurosadi memuji kelihaian head coachnya mengemudi. Bahkan, mantan kiper Petrokimia Putra Gresik tersebut mengangggap Djoko lebih lihai dibandingkan sopir aslinya.

"Berani cepat dan ditikungan juga ambilnya pas," puji Ahmad.

Memang banyak yang tak tahu bahwa selain berkecimpung menjadi pelatih,Djoko juga sempat berprofesi sebagai sopir.

Bukan sembarang sopir. Ini dikarenakan Djoko mengemudikan truk.

"Sampai sekarang, saya tetap punya SIM B1. Yang terakhir ini dikeluarkan Satlantas Manokwari, Papua Barat," ungkapnya sambil menunjukkan SIM B1 miliknya.

Itu dimiliki saat Djoko menjadi pelatih tim di Perseman Manokwari. Sehingga tak lama lagi, lisence to drive itu tak lama lagi akan habis.

"Mungkin saya akan mdmbuat sim b1 di Jayapura." (*)
Read More

Sudah Paham Karakter Pemain Papua

Djoko Susilo malang melintang di Indonesia Timur.
Bumi papua sudah tak asing baginya. Meski sebenarnya dia berasal dari Malang,Jawa Timur.
--
TAK gampang menangani pesepak bola Papua. Faktor kedisiplinan menjadi masalah utama.

Ini yang membuat tak banyak pelatih yang sukses atau bertahan lama di Bumi Cenderawasih,julukan Papua. Nama Rudy Keltjes, Rahmad Darmawan, dan Jacksen F. Tiago menjadi perkecualian.

Keltjes mampu memoles talenta pesepak bola Papua menjadi sebuah mutiara yang bersinar di luar daerah. Sementara Rahmad dengan latar belakang militer mampu mengantarkan Persipura Jayapura mengakhiri dahaga gelar dengan menjadi juara liga Indonesia pada 2005  Sukses lebih besar dilanjutkan oleh Jacksen.

Selama enam tahun menangani Mutiara Hitam,julukan Persipura, enam gelar mampu dipersembahkan
Mulai dari juara Liga Indonesia. Tiga kali juara yakni pada 2009, 2011, 2013 dan tiga kali runner up pada 2010, 2012,2014.

Selain ketiganya, ada sosok lain yang juga sudah membumi di papua. Siapa? Dia adalah Djoko susilo.

"Saya sejak 2004 menangani tim Papua. Dimulai dari Persiwa wamena," kata djoko saat ditemui usai melatih pemain Pra PON Papua di Sidoarjo pada 17 September 20015.

Hubungan lelaki asal Dampit,Malang, tersebut dengan Badai Pegunungan Tengah,julukan Persiwa, berlangsung lama. Hampir lima tahun.

Setelah itu, Djoko mengembara ke Pulau Jawa. Persela Lamongan dan Gresik United ditangani pada 2011 dan 2012.

"Saya kembali ke Papua dengan menangani Perseman Manokwari. Tapi setelah itu, saya ke Jawa lagi dengan menjadi pelatih Deltras Sidoarjo," lanjut pelatih berusia 55 tahun tersebut.

Eh, dari the Lobster,julukan Deltras,  Djoko balik ke provinsi paling timur Indonesia tersebut. Djoko memoles Persifak fakfak.

Di tangannya, tim tersebut lepas dari jeratan degradasi. Sederet capaiannya bersama tim-tim Papua itu pun membuat Pengprov PSSI setempat kepincut.

"Ada pengurus yang mengontak saya dan menawari untuk menjadi pelatih tim Pra PON Papua. Setelah ada titik temu, saya pun resmi menjadi pelatihnya," tambahnya.

Hanya, tak mudah baginya saat memulai kerja. Dia sudah disodori 40 pesepak bola hasil seleksi.

"Tapi banyak yang tak memenuhi standar. Tak lebih dari separo yang layak," ungkap Djoko.

Untuk itu, dia pun menambahnya dengan tiga pemain dari persipura U21. Nah, materi itu pun terus dioptimalkan Djoko.

"Saya kan sudah hafal karakter anak Papua. Jadi tak terlalu lama memolesnya," ujar lelaki yang pernah membela Persema Malang Junior tersebut.

Di bawah arahannya, Pra PON Papua merajai uji coba. Bahkan, Persipura senior dibuat kerepotan.

"Dua kali main, kami kalah tipis dan imbang," terang Djoko.

Hanya, dia tetap butuh lawan yang seimbang dalam setiap uji coba.  Pilihannya hanya satu, uji coba ke Jawa.

"Semua demi tujuan meloloskan Papua ke PON 2016 di jawa barat. Jangan bicara emas dulu." (*)
Read More

Reuni Seteru yang Lama Tak Bertemu

ITALIA: Bejo Sugiantoro, Anang Ma'ruf, dan Nurul Huda
Proyek Primavera menjadi salah satu agenda ambisius PSSI. Tujuannya untuk mengangkat prestasi sepak bola Indonesia. Sayang, asa itu gagal.
--
ADA Anang Ma;ruf dan Nurul Huda di sebuah lapangan di Surabaya Barat. Itu terjadi pada September 2015.

Bukan pada 1994 atau 1995. Tempatnya juga bukan Italia.

Jika merunut mundur 20 tahun lalu, keduanya tentu masih sangat muda. Saat itu, keduanya sama-sama tengah digembleng di PSSI Primavera.

Primavera merupakan sebuah ajang kompetisi kelompok umur yang ada di Italia. Semua klub, khususnya Serie A, kasta tertinggi, mempunyai tim yang terjun di sana. Anang dan Nurul pun masuk dalam tim tersebut.

Menariknya, keduanya beroperasi di tempat yang sama, bek kanan. Hanya, posisi inti lebih banyak jatuh ke tangan Anang.

Dua tahun lamanya keduanya digembleng di Negeri Pizza, julukan Italia. Hingga akhirnya pada 1995, keduanya pun kembali ke Indonesia dan sama-sama ke Persebaya Surabaya. Namun, setelah itu, keduanya pun berpisah jalan.

Anang masih setia di Green Force, julukan Persebaya, dan Nurul ke Pelita Jaya. Setelah itu, keduanya pun tak pernah bersama lagi.

Jadi, pertemuan di Lapangan Karangan, Wiyung, awal September tersebut menjadi sebuah reuni. Keduanya pun turun ke lapangan bersama-sama membela PS Keres, Surabaya.

Hanya, Nurul yang mengalah. Dia bergeser menjadi gelandang. Sedang Anang tetap di posisi aslinya, bek kanan.

''Mereka produk Primavera yang jarang bisa main bareng,'' kata Bejo Sugiantoro, mantan libero tim nasional Indonesia yang juga digembleng di Italia. Hanya, dia di bawah proyek Baretti atau setelah Primavera.

Meski sudah tak muda lagi, Anang dan Nurul sama-sama berusia 39 tahun, tapi sisa kejayaan keduanya tak hilang. Anang dengan ketenangannya dan Nurul dengan gerakannya yang eksplosif membuat PS Keres mampu tampil bagus.

Sayang, kehidupan keduanya di luar lapangan hijau tak segemilang beberapa rekannya seperti Kurniawan Dwi Yulianto atau Yeyen Tumena. Bahkan, Anang menjadi pembicaraan setelah memutuskan menjadi tukang ojek online.  Tabungan yang dirintisnya sejak muda ludes karena investasinya yang gagal.

Sementara, Nurul menekuni sebagai pelatih di sebuah akademi sepak bola di Sidoarjo. Pendapatannya tak sebesar semasa dia menjadi pesepak bola profesional. (*)

Sekilas duet Primavera
1.Anang Ma;ruf
Usia: 39 tahun
Posisi; bek kanan
Klub yang dibela: Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, Gresik United, PS Mojokerto Putra, Surabaya Muda
Pelatih: Surabaya Football Club, Simo United

2. Nurul Huda
Usia: 39 tahun
Posisi; Bek kanan
Klub yang dibela: Persebaya Surabaya, Pelita Jaya, Pelita Solo, Deltras, PSIS Semarang, Persema Malang, Persijap Jepara, Persida Sidoarjo
Pelatih: Akademi Sepak Bola Real Madrid  
Read More

Punya Teman yang Mengerti Dirinya (2-Habis)

Anang Ma'ruf tak mau mengingat masa lalu
Anang Ma'ruf tak malu untuk terjun sebagai tukang ojek. Hanya, dia tak total di sana. Mengapa?
--
SEBAGAI pesepak bola, Anang Ma'ruf terkenal tak pernah macam-macam. Bahkan, kehidupannnya di luar lapangan pun ikut tak tersorot.

Jadi, ketika dia memutuskan menjadi tukang ojek, pembicaraan pun ramai. Ke mana uang hasil jerih payahnya di lapangan.

''Uang saya pakai untuk investasi. Tapi, sekarang bsudah habis tak tersisa dan tabungan juga ludes,'' ungkap Anang.

Hanya, lelaki 39 tahun tersebut enggan membicarakan masalah itu. Anang tak ingin luka hatinya itu terbuka kembali.

Di saat kondisi ekonominya mulai goyah, untuk ada rekannya, Fachrudin, yang memberikan uluran. Memang bukan dalam bentuk uang secara langsung.

Mantan gelandang Persebaya Surabaya dan Deltras tersebut mengajaknya sibuk di sepak bola lagi. Anang diajaknya menjadi pelatih di sekolah sepak bola.

''Beberapa hari terakhir, saya terjun di SSB Simo United. Hampir setiap hari saya punya kesibukan di lapangan,'' ujar pemain denganbdaya jelajah tinggi tersebut.

Ini, ungkap Anang, bisa mengalihkan pikiran dengan perjalanan hidupnya sekarang. Dia pun juga bisa membagi ilmunya yang segudang saat masih bermain.

''Ilmu yang dari Italia saat saat dilatih di Primavera pun juga saya bagikan,'' ujar Anang.

Dia mengaku memulai dari nol. Hanya, kini, diawalinya sebagai pelatih.

Dia pun berharap kondisi sepak bola Indonesia ikut membaik. Anang berharap, jika itu terjadi akan ikut mempengaruhi pendapatannya sebagai pelatih.(*)
Read More

Memulai Hidup dari Nol Lagi (1)

Anang Ma'ruf melatih Simo United di Lapangan Simo, Surabaya
Anang Ma'ruf jadi perbincangan insan sepak bola nasional. Bukan karena skillnya yang memang terkenal tinggi. Tapi, ini dipicu keputusannya menjadi sopir ojek.
--
NADA suaranya sempat melemah. Matanya pun juga berair.

Tampaknya ada sebuah beban hidup yang disimpan oleh seorang Anang Ma'ruf saat ditemui di Lapangan Simo, Surabaya, pada Rabu (1/9/2015).  Ini sebuah hal yang belum pernah ditemui oleh salah satu bek kanan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia tersebut.

''Saya memulai hidup dari nol lagi. Saya pun tak akan menoleh ke belakang,'' kata Anang.

Ya, dia mengaku bahwa kehidupannya tengah berada di bawah. Uang tabungannya hasil bermain bola selama 21 tahun ludes.

Investasi yang dilakukan di Bali gagal total. Salah seorang kerabat yang dipercayainya tak mampu menjalankan dengan baik.

''Tidak usah disebutkan investasinya apa. Saya tak mau mengenang dan bercerita soal itu,'' terang lelaki 39 tahun tersebut.

Bahkan, untuk bisa memenuhi kebutuhan agar asap dapurnya mengepul, Anang rela melamar menjadi sopir gojek, ojek via online. Nah, saat melamar itu, ada seseorang yang berpose dengannya dan membuat gempar jagad sepak bola nasional.

Anang yang sangat melegenda di sepak bola Indonesia dan juga di Persebaya Surabaya menjadi sopir ojek. Sebuah profesi yang tentu tak pernah terbayangkan.

''Memang, saya sudah diterima jadi sopir ojek. Mengapa saya harus malu?,'' ujar pemain yang pernah digembleng di Italia dalam proyek PSSI Primavera tersebut.  

Dia tak mau nama besarnya membelenggu kehidupannya. Sebab, itu akan membuat anak dan istrinya bakal tak bisa makan.

Apalagi, sejak 2003, Anang menjadi satu-satunya pencari nafkah bagi keluarga.Sang istri, Neni Mardiana, disuruhnya keluar dari pekerjaannya di PJKA.

''Hidup saya saat kecil juga susah. Kondisi seperti ini pernah saya alami saat kecil jadi nggak kaget,'' lanjut pesepak bola yang membawa Persebaya Surabaya juara Liga Indonesia 1996/1997 dan 2004/2005 serta Persija Jakarta 2000/2001 itu. (bersambung)
Read More

Legenda Persebaya Berduet di Lapangan Lagi

TANGGUH: Mursyid (kiri) dan Bejo
Persebaya Surabaya menjadi tim yang disegani di era 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Gelar bergengsi pun mampu disabet. Salah satu kuncinya adalah tangguhnya lini belakang.
--
MURSYID Effendi dan Bejo Sugiantoro memakai kaos hijau. Mereka pun tengah melakukan pemanasan sebelum turun ke pertandingan.

Nomornnya pun tetap nomor andalan keduanya. Mursyid dengan nomor 6 dan Bejo di punggungnya tertulis nomor 5.

Tapi, kejadian itu bukan terjadi pada pertengahan 1990-an hingga 2000-an. Saat itu, Mursyid dan Bejo menjadi dua mata keping yang tak terpisahkan dalam kesebalasan Persebaya Surabaya.

Namun, keduanya tengah berada di Lapangan Karangan, Wiyung, Surabaya, pada Rabu (26/8/2015). Stopper dan libero legendaris Green Force, julukan Persebaya, tersebut akan membela PS Keres, sebuah tim amatir, untuk berlaga dalam sebuah turnamen galdes.

Pada Rabu lalu, badan keduanya sudah tak sekekar dulu. Khususnya Mursyid.

Lama pensiun, membuat lemak sudah banyak menimbun tubuhnya. Tapi, dia mampu menutupi dengan aktivitasnya yang terus bergerak di lapangan.

Mursyid dan Bejo pun masih tetap akrab. Meski, keduanya sudah lama tak berjumpa. Apalagi, keduanya sekarang menangani tim yang berbeda.

Mursyid bergelut dengan menjadi pembina di klub internal Askot PSSI Surabaya Mitra. Sedangkan Bejo mulai serius menjadi pelatih di Surabaya Football Club (SFC).

Hanya, itu tak mengurangi kekompakan di lapangan. Keduanya tetap susah ditembus pemain lawannya, Pusaka, Karangan, yang diisi para pemain dengan usia belasan. Bahkan, keduanya beberapa kali menunjukkan skill tinggi. Seperti ketika masih menjadi pilar Persebaya.

Ya, konstribusi Mursyid dan Bejo mampu membuat tim asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, menjadi tim yang disegani para lawan. Para penyerang pun harus kerja ekstrakeras untuk bisa membongkar kokohnya duet Mursyid dan Bejo.

Hasilnya, juara Divisi Utama pada Liga Indonesia 1996/1997 mampu disabet. Kemudian, menjadi juara lagi pada 2004. Ini membuat Persebaya menjadi wakil Indonesia di ajang Liga Champions Asia.

Tangguhnya Muryid dan Bejo pun membuat keduanya juga kembali berkolaborasi di Timnas Indonesia. Sayang, seuah insiden memuat Murysid harus disanksi larangan seumur hidup bertanding di ajang internasional bersama Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia.

Jadi, sungguh beruntung parra penonton yang hadir di Lapangan Karangan pada Rabu lalu. Mereka bisa menyaksikan dua legenda hidup Persebaya beraksi dengan skill tinggi. Meski usia sudah tak muda lagi. (*)

Sekilas tentang dua legenda
Mursyid Effendi
Lahir: Surabaya,23 April 1972
Posisi; Stopper
Karir bermain
1994-2007: Persebaya  Surabaya
2007: Persiku Kudus
1998: Timnas

Bejo Sugiantoro
Lahir: 2 April 1977
Posisi: Libero
Karir bermain
1994-2002: Persebaya Surabaya
2003-2004: PSPS Pekanbaru
2004-2008: Persebaya Surabaya
2008-2009: Mitra Kukar
2009-2011: Persidafon Dafonsoro
2011-2013: PS Mojokerto Putera
1997-2004: Timnas
Read More

Masih Lincah di Usia Uzur

Erik Ibrahim di Karangan
Bertahan di kompetisi sepak bola Indonesia lebih dari 20 tahun bukan hal yang mudah. Tapi, itu mampu dilakoni oleh Erik Ibrahim.
-
SEBUAH asap rokok mengepul dari bibirnya. Topi warna hitam pun membuat orang banyak yang tak mengetahui sosok lelaki bernama Erik Ibrahim.

Tapi, tak lama kemudian, dia sudah berganti dengan kostum kiper. Kaos hijau dan celana hitam membuatnya masih seperti 20 tahunan lalu.

Ya,Erik merupakan salah satu kiper yang sudah tak diragukan kualitasnya. Bahkan, dia melakoni karirnya itu tanpa pernah berhenti alias menganggur.

''Saya memulai karir dari Bandung. Mulai dari Persib Bandung Junior hingga Senior,'' kata Erik saat ditemui di Lapangan Karangan, Surabaya.

Di Karangan, dia bukan tengah berlatih. Tapi, Erik dipercaya rekan akrabnya, Lulut Kistono, untukn mengawal gawang PS Keres dalam sebuah turnamen galadesa.

Bersama Maung Bandung, julukan Persib, dia bertahan cukup lama. Erik baru hengkang pada 1989.

''Saya ke Petrokimia Putra Gresik. Saat itu, banyak pemain asal Bandung di sana. Ada yang membela Petrokimia tapi ada juga yang membela Persegres,'' kenang Erik.

Di tim Kota Pudak, julukan Gresik, Erik menjadi pilihan utama pelatih Bertje Matulapelwa. Hanya, lelaki kelahiran 1967 itu  bertahan setahun di sana.

Setelah itu, lelaki dengan tinggi 180 sentimeter mulai berpindah ke berbagai klub. Mitra Surabaya, Gelora Dewata Bali, dan BPD Jateng menjadi pelabuhan karirnya.

''Paling lama di Gelora Dewata. Saya balik lagi dan bertahan lumayan lama di sana,'' ungkap Erik.

Bahkan, menjelang akhir karirnya, dia masih bisa menjalani peran ganda. Sebagai pelatih kiper sekaligus didaftarkan sebagai penjaga gawang.

''Di Persela Lamongan, Mitra Kukar, dan Persisam Samarinda saya melakoni tugas itu. Tapi bukan sebagai kiper nomor satu,'' ujar Erik.

Kini, di Persebaya Surabaya, bapak tiga anak tersebut fokus sebagai pelatih. Hanya, sebuah ajakan dari Lulut membuatnya tak kuasa menolak.

''Kan hanya iseng untuk cari keringat bukan kompetisi resmi,'' tambah Erik.

Meski sudah uzur, tapi aksinya di Lapangan Karangan tak pudar. Dia beberapa kali menggagalkan peluang lawan mencetak gol. Berhadapan satu lawan satu pun mampu diatasinya. Padahal, penyerang lawan usianya ajauh di bawahnya.

Dalam turnamen tersebut, Erik sudah dua kali tampil yakni melawan Wiyung All Star dan Pusaka Karangan. (*)

Sekilas tentang
Nama: Erik Ibrahim
Usia: 48
Tinggal: Bali

Karir
Junior:
Persib Bandung

Senior:
Persib Bandung, Petrokimia Putra Gresik, Mitra Surabaya, Gelora Dewata Bali, Mitra Surabaya, BPD Jateng, Persela Lamongan, PKT Bontang, Mitra Kukar, Persisam Samarinda

Pelatih
Persela Lamongan, PKT Bontang, Mitra Kukar, Persisam Samarinda, Timnas Senior
Read More

Rindu Lihat Deltras Hadapi Tim Tangguh

Deltamania saat menyaksikan Deltras versus Persela
Deltras Sidoarjo pernah menjadi tim yang disegani. Penonton pun selalu datang menjubeli stadion saat menjamu lawan-lawannya.
--
PARKIRAN Gelora Delta, Sidoarjol, pada Sabtu (22//2015) penuh dengan sepeda motor. Padahal,  sore itu tidak ada kompetisi Indonesia Super Leaguem (ISL) ataupun ada pertandingan final Copa Indonesia.

Ya, Stadion Gelora Delta memang menjadi langganan pertandingan kedua ajang tersebut. Hanya, itu terjadi beberapa tahun lalu.

Bahkan, parkiran tersebut sering tak mampu menamping moda roda dua itu. Semuanya berlangsung saat The Lobster, julukan Deltras, berada di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, baik masih Divisi Utama ataupun sudah menjadi ISL.

Memang, Sabtu itu Deltras memang yang bertanding. Hanya, levelnya sebuah uji coba. Lawannya adalah Persela Lamongan, musuh bebutan Deltras saat masih di level tertinggi.

Spanduk pun terpasang di tribun sebelah barat. Suara letasan pun sekali terdengar.

Tribunsebelah barat pun berubah menjadi merah. Pendukung Deltras pun seolah menyaksikan sebuah laga di kompetisi ISL.

'Teman-teman sudah kangen melihat pertandingan Deltras,'' kata Ketua Deltamania, suporter Deltras, Saiful Bakirok.

Hanya, pada musim ini, sebelum dihentikan oleh Menpora, Deltras harus berlaga di kasta terendah di kompetisi sepak bola Indonesia, Liga Nusantara. The Lobster harus melakoni itu karena degradasi dari Divisi Utama pada tahun lalu.

Di tangan Riono Asnan, Deltras benar-benar terpuruk. Dalam 10 kali pertandingan, mereka pernah tak memetik kemenangan.

Di awal musim ini, sebenarnya, tim yang reinkarnasi dari Gelora Dewata itu cukup serius menatap Liga Nusantara. Pemain dengan label bintang meski sudah gaek direkrut. Ada nama Mat Halil, Uston Nawawi, dan Jefri Dwi Hadi.

Ketiganya sudah kenyang pengalaman dan pernah membawa tim yang dibelanya menjadi juara di level tertinggi. Halil dan Uston bersama Persebaya Surabaya sedangkan Jefri Dwi Hadi dengan Persik Kediri.

Ketiganya juga pernah mengenakan kostum timn nasional Indonesia. Namun, Uston memang yang paling lama.

Tujuannya hanya satu, mengembalikan Deltras kembali ke habitat aslinya, yakni Divisi Utama dan berlanjut ke ISL. Dukungan suporter pun bisa menjadi suntikan semangat tersendiri.

Minimal, dorongan tersebut sudah terlihat saat Deltras menjamu Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, dalam uji coba. Semua rindu melihat The Lobster. (*)
Read More

Dedikasinya hanya untuk Sepak Bola

Selamat jalan dulur
PEKAN lalu, sepak bola Indonesia berduka. Sosok seorang pelatih senior, Suharno, meninggal dunia.

Lelaki yang menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu 19 Agustus 2015 tersebut sangat dikenal di jagad sepak bola nasional. Sosoknya mudah dikenal karena badannya yang termasuk tambun.

Namun, itu tak mengurangi kelincahannya saat di pinggir lapangan. Dia selalu interaksi dengan para pemainnya.

Selain itu, Suharno dikenal sebagai sosok yang akrab. Bukan hanya kepada pemainnya, tapi juga kepada mantan-mantan anak asuhnya, rekan sejawat pelatih, suporter, bahkan juga dengan insan pers.

Lelaki asal Klaten yang menghembuskan nafas terakhirnya di usia 56 tahun itu benar-benar menggantungkan hidupnya di sepak bola. Mulai remaja, Suharno sudah membela Persis Solo Junior.

Ini yang membawanya terbang ke Jakarta untuk bergabung dengan Diklat Ragunan. Di sana, merupakan tempat para talenta muda digembleng untuk menjadi pesepak bola handal di masa depan.

Dengan posisi di bek, tak susah baginya mencari klub. Lulus dari Diklat Ragunan, dia pun langsung direkrut Perkesa 78 yang bermarkas di Sidoarjo, Jawa Timur.

Di foto yang pernah dilihat penulis di rumahnya, dia bergabung bersama dengan Socheh (pelatih senior di Sidoarjo), Benyamin Leobetty (yang di kemudian hari menjadi perwira polisi), ataupun juga dengan Eko Prayogo (tokoh sepak bola Surabaya yang sudah mendahuluinya meninggal).

Usai dari Perkesa, Suharno pun hijrah ke klub yang lebih moncer prestasinya, Niac Mitra. Sebagai pemain proesional, hanya Perkesa dan Niac Mitra yang pernah dibela.

Karirnya pun lebih banyak dihabiskan sebagai pelatih. Memulai dari klub amatir di Sidoarjo, dia kemudian menjadi asisten pelatih di Niac Mitra.

Tangan dinginnya mulai terasa di Gelora Dewata. Klub yang bermarkas di Denpasar, Bali, tersebut mampu dibawanya menjadi juara Piala Liga.

Setelah itu, hampir setiap tahun, Suharno tak pernah jobless. Arema, Persikab Kabupaten Bandung, Persibat Batang, PSS Sleman, Deltras, PKT Bontang, Persis Solo, Persegres Gresik, hingga akhirnya bersandar lagi di Arema.

Bahkan, ada yang terlupa di karirnya dan banyak orang yang tak mengetahui. Ternyata, Suharno pernah menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia. Bapak satu anak itu melakoninya saat Timnas Indonesia dilatih Nil Maizar atau sebelum dia memoles Persegres.

Hal lain yan selalu dipakai Suharno saat menangani tim adalah memaksimalkan potensi lokal. Di semua tim yang dipoles, asistennya selalu ada yang berasal dari daerah klub setempat.

Di Deltras ada Socheh, di Persis Solo ada Eduard Tjong, di Persegres ada Suwandi HS. dan di Arema ada Kuncoro.

Itu pula yang membuat banyak orang kehilangan. Hingga akhir hayatnya Suharno tetap tak bisa lepas dari sepak bola.

Dia meninggal usai melatih Arema Cronus berlatih. Selamat jalan Suharno. (*)
Read More

Pernah Jadi Orang Kepercayaan Pengusaha Bus

Iwan Suprijanto bersama kiper PON Jatim 2016
Iwan (kiri atas), Rocky Putiray (kanan) atas dan Nil Maizar
Proyek prestisius PSSI Garuda II pernah menjadi tumpuan harapan memajukan sepak bola Indonesia. Sayang, asa tersebut gagal terealisasi. Namun, beberapa pemainnya masih berkecimpung di lapangan hijau.
--
TUBUHNYA mulai gemuk. Tapi, kegesitannya di bawah mistar tetap belum luntur.

Bahkan, dalam beberapa kali aksinya, lelaki bernama Iwan Suprijanto tersebut melakukan beberapa kali penyelamatan gemilang. Meski, itu hanya dalam sebuah latihan yang dilaksanakan di Lapangan Pandansari, Bungurasih, Sidoarjo.

Posisi kiper memang menjadi tempat asli lelaki kelahiran 1971 tersebut. Bahkan dari berdiri di bawah mistar itu, dia pernah bergabung dalam proyek prestisius, PSSI Garuda II.

''Saya masuk seleksi Garuda II pada 1987. Saya menjadi satu dari dua wakil Jawa Timur yang lolos seleksi,'' kata Iwan.

Dia masuk seleksi berangkat dari perwakilan Surabaya. Di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, Iwan ditempa di Putra Gelora.

Dengan masuk PSSI Garuda II membuat Iwan harus tinggal di Jakarta. Dia mendapat ilmu dari pelatih asal Cekoslowakia Joseph Maspust.

Lelaki yang baru saja meninggal 29 Juni lalu itu merupakan pesepak bola terbaik Eropa pada 1962. Kehadiran Masopust membuat kemampuan Iwan pun meningkat.

Sayang, pada 1990, dia harus meninggalkan Indonesia. Itu, tambah Iwan, berdampak pada keberadaannya.

''Saya dicoret dari PSSI Garuda II saat kepelatihan berpindah ke tangan Iswadi Idris. Selain itu, lutut saya juga mengalami cedera,'' ungkap lelaki dengan postur hampir 180 sentimeter tersebut.

Usai terpental dari proyek ambisius PSSI itu, dia kembali ke Surabaya. Iwan bergabung dengan PS Bank Jatim.

''Saya mampu membawa Bank Jatim menduduki psisi III dalam ajang Galakarya (kompetisi PSSI yang khusus bagi para karyawan perusahaan perusahaan). Setelah itu, saya ke PS Bentoel,'' ujar Iwan.

Di klub asal Jember itu, dia dipoles Rudy Keljtes. Di tim tersebut, dia bergabung bersama Misnadi, yang kelak menjadi penyerang lokal yang disegani di pentas sepak bola nasional.

Arema Malang, ungkapnya, menjadi pelabuhan karir berikutnya Iwan.  Bersama dengan Dwi ''Kirun'' Sasmianto dan Ahmad Yono, ketiganya mengawal gawang tim berjuluk Singo Edan, julukan Arema, itu pada Liga Indonesia I 1994/1995.

''Setelah itu, saya ke Persesa Sampang, Madura. Ada teman yang mengajak ke sana dengan tawaran menjadi PNS di PDAM,'' tambah Iwan.

Hanya, suasana Sampang yang sepi dan jauh dibandingkan Surabaya dan Malang membuatnya tak betah. Iwan pun kembali merantau dan Probolinggo menjadi sasaran.

Saat itu, bos perusahaan bus Akas,Roy, mendirikan klub sepak bola. Tawaran yang menggiurkan membuat Iwan pun bergabung.

Namun, hubungan Iwan dan Roy berlanjut tak hanya di sepak bola. Setelah itu, hubungan keduanya menjadi hubungan bos dan orang kepercayaan. Itu bertahan hingga 2010. Hanya, dia enggan membeberkan alasan meninggalkan Akas.

''Setelah itu, saya jadi pelatih tim Divisi Utama Persbul Buol, Sulawesi Tengah, hingga sekarang. Hanya,panggilan menjadi pelatih kiper PON Jatim membuat saya untuk sementara meninggalkannya,'' pungkas Iwan. (*)

Read More

Selalu Terkenang Perjuangan Uston

Suwadi di depan rumah yang dulu tempat mendidik Uston
Uston Nawawi menjadi salah satu gelandang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Tapi, usaha untuk meraih ke situ butuh perjuangan ekstraberat dengan dukungan orang tua.
--
SEBUAH gapura dengan tulisan Klagen tertera di depan. Tak ada yang beda dengan kampung-kampung lainnya yang ada di Desa Wilayut, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut.

Namun, di gang itu lahir para seniman-seniman lapangan hijau. Salah satunya yang sangat populer adalah Uston Nawawi.

Rumah Uston tak mengalami perubahan. Hanya, sekarang, di depan rumahnya ada peralatan sound system besar yang biasa dipakai untuk hajatan. Di sampingnya juga ada peralatan makan.

''Sekarang, kami ada usaha persewaan alat untuk hajatan. Kalau ada yang sekalian makannya, kami memakai tempat Uston,'' kata Suwadi, ayah Uston.

Di ruang tamu rumahnya juga terdapat beberapa foto Uston saat masih berkostum Persebaya Surabaya dan juga Timnas Indonesia. Di dua tim itu, karir lelaki kelahiran 6 September 1977 itu layak dibanggakan.

Tapi, siapa sangka, saat memulai karirnya di lapangan hijau, Uston rela mengorbankan masa kecilnya. Begitu juga dengan Suwadi yang menghabiskan banyak waktu guna mendukung perjalanan anak ketiganya tersebut.

''Kali pertama, Uston latihan di SSB Kelud yang lapangannya di pinggir jalan sebelum masuk gang ini tadi. Saat itu, dia masih SD,'' jelas Suwadi.

 Setelah SMP, Uston, terangnya, bergabung dengan SSB Dolog, Surabaya. Hampir setiap hari, usai menuntut ilmu, rela naik angkutan umum dari kawasan Ksatrian ke Dolog yang ada di Jalan Ahmad Yani.

''Setelah SMA, saya nyari sekolah swasta yang izinnya mudah. Namun, habis sekolah, saya harus mengantar ke Surabaya juga karena Uston sudah mulai masuk Persebaya Junior,'' ungkapnya.

Ketika panggilan ke Jakarta mengikuti seleksi PSSI Baretti, Uston, tambah dia, berangkat bersama rekan-rekannya. Dari situlah, karir anaknya tersebut mulai menanjak.

Uston digembleng ke Italia,kemudian masuk Persebaya senior, hingga langganan Timnas Indonesia. Hanya, Suwadi, selalu mengingat bahwa perjuangan menuju puncak tersebut dilakoni anaknya dengan kerja keras dan rela membuang masa remaja. (*)

Read More

Rindu Balik ke Persipura

DUET: Claudio dan Lessa
Bergabung dengan tim sebesar Persipura Jayapura menjadi idaman semua pelatih. Itu sudah dialami Claudio de Jesus. Hanya, ia tak bisa bertahan lama.
--
KAOS pelatih Persipura Jayapura dipakai Claudio de Jesus. Dengan kaos biru, Claudio de Jesus berada di samping arsitek kepala Mutiara Hitam, julukan Persipura, yang sama-sama berasal dari Brasil Osvaldo Lessa.

Sayang, sekarang, semua itu jadi kenangan. Dia sudah tak bersama para penggawa Persipura. Masa kerjanya bersama tim asal Papua tersebut telah berakhir pada 5 Juni 2015.

Ini seiring ontran-ontran antara Menpora dan PSSI yang berbuntut dibekukannya PSSI dan berhentinya kompetisi. Persipura pun gagal melanjutkan langkahnya di AFC Cup (kompetisi antarklub Asia) karena imbas pembekuan tersebut.

''Saya sangat kecewa. Tapi mau bagaimana lagi,kondisinya seperti ini,'' kata Claudio.

Padahal, tambahnya, dia sudah cocok dengan Persipura. Di antara tim yang pernah ditangani, tim tersebut paling mapan.

Ya, sebelumnya, Claudio hanya memoles tim sekolah sepak bola (SSB) di Malang dan sebuah tim perusahaan di Pasuruan, Jawa Timur.

Memang, dia pernah dipercaya menangani mantan tim yang dibelanya, Arema. Hanya, itu bukan senior.

''Saya menangani Arema U-21,'' lanjut Claudio.

Dia pun tak pernah membayangkan bisa bergabung Persipura. Tak heran jika Claudio tak perlu banyak pertimbangan saat ditawari Osvaldo Lassa untuk membantunya menangani Boaz Solossa dkk.

''Saya menjadi asisten bersama Metu Duaramurri dan Chris Yarangga. Karena belum ada asisten pelatih kiper, saya kadang bantu-bantu jadi pelatih kiper,'' terang lelaki yang semasa aktif sebagai pemain berposisi sebagai stopper tersebut.

Dia ingin kembali bersama Persipura. Tentunya, konflik yang ada antara Menpora dan PSSI pun bisa tuntas.

''Baru saja enak eh sudah berhenti. Saya juga ingin menularkan ilmun saya kepada pemain Papua,'' pungkas bapak suami Maya dan bapak tiga anak tersebut. (*)

Read More

Main Tarkam Lebih Menjanjikan untuk Hidup

KONDISI: Evandro
PEMBATASAN pemain asing membuat pesepak bola ekspatriat pun kelimpungan. Apalagi, mereka yang sudah menikah dengan warga negara Indonesia. Tarkam pun menjadi solusi agar bisa menghidupi keluarga?
--
EVANDRO tengah melakukan pemanasan. Ini dilakukan sebelum dia bergabung dalam latihan Ortas, kumpulan pesepak bola senir Sidoarjo, yang hendak berlatih di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat (24/7/2015).

Berlatih bersama Ortas menjadi salah satu aktivitas lelaki Brasil yang bernama lengkap Evandro Antonio Bevilaqua tersebut. Itu setelah musim ini dia belum memperoleh klub. Apalagi, kondisi sepak bola Indonesia tengah kacau balau setelah PSSI dibekukan Menpora.

Kehadirannya di Ortas juga dijadikannya untuk bisa menjaga kondisi. Tapi, itu bukan untuk mendapatkan klub.

''Biar kalau ada undangan tarkam, kondisin saya tetap terjaga. Sekarang lagi musimnya,'' kata Evandro kepada pinggirlapangan.

Tarkam sendiri merupakan kependekan dari antarkampung. Yakni pertandingan sepak bola antarkampung yang dilaksanakan untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. Penonton pun ditarik uang masuk layaknya menyaksikan pertandingan resmi.

''Sebelum puasa, saya habis membawa tim di Nganjuk (Jawa Timur) juara. Lumayan bayarannya bisa sampai Rp 1 juta,'' ungkap lelaki 33 tahun tersebut.

Hasil itu, jelas dia, membuat Evandro bersama rekan-rekannya seperti I Putu Gede (mantan pemain nasional yang pernah membela Persebaya Surabaya dan Arema Malang), Sutikno (mantan pemain Persebaya, Deltras,dan Borneo FC), maupun Nugroho Mardiyanto (mantan Persebaya dan PS Mojokerto Putra) kembali diajak membela tim asal Nganjuk tersebut.

Bahkan, sebulan, dia pernah bermain tarkam hingga 15 kali. Ini, jelasnya, membuat kantongnya tetap terisi.

''Bayarannya bisa lebih banyak kalau main kompetisi seperti sekarang. Gaji hanya Rp 4-5 juta sebulan dan bonusnya pun juga tidak banyak,'' lanjut Evandro.

Dia pun tak segan menerima order dari luar Jawa Timur. Dia pernah bermain tarkam hingga ke Jakarta dan Bandung.

''Di sana bisa Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Kalau lolos dan menang terus, uang kita semakin banyak karena peserta di Jakarta dan Bandung sangat banyak bisa 100 tim lebih,'' lanjut pesepak bola yang pernah membela Mitra Kukar (Kaltim), Persih Tembilahan (Riau), Deltras Sidoarjo (Jawa Timur), PS Mojokerto Putra (Jawa Timur), dan Madura United (Jawa Timur) tersebut.

Dia mengaku senang jika memperoleh bos tarkam yang banyak duit. Selain bayarannya besar, kebutuhannya makan juga terpenuhi.

''Yang Malang dan Nganjuk, uangnya banyak sekali. Dia ingin selalu mengajak saya main kalau timnya tampil di tarkam,'' ujar Evandro.

Hanya, dia mengaku tetap bisa kesehatan serta bermain ekstrahati-hati. Tujuannya agar dia tak mengalami cedera dan sakit. (*)

Read More

Merasa Tak Laku, Jual Rumah dan Tanah

LEBARAN: Yudi Suryata di rumahnya pada 18 Juli 2015
Yudi Suryata pernah membela klub-klub besar. Dia pun sukses mengantarkannya menjadi juara. Di saat usianya sudah kepala enam, namanya pun ikut tenggelam.
--
SEORANG lelaki tengah menyapu daun-daun yang jatuh di pinggir jalan Solo-Ngawi. Tepatnya di kawasan Masaran, Sragen, Jawa Tengah, pada 18 Juli 2015.

Dia pun seolah tak memedulikan apapun yang melintas. Para pejalan kaki, sepeda angin, sepeda motor, mobil, bahkan bus berlalu lalang di sampingnya. Dia tetap serius menyapu daun-daun kering yang dikumpulkannya yang kemudian dimasukkan ke keranjang sampah.

Namun, gerakannya masih gesit. Meski, sekilas, sosok tersebut sudah tak muda lagi. Rambut dan cambangnya pun sudah putih semua.

''Tahun ini, saya sudah 60 tahun lebih.Tepatnya 61,''  kata Yudi di ruang tamu rumahnya.

Dengan usia itu, dia juga mengaku sudah tak laku lagi menjadi pelatih. Buktinya, pada 2015, belum ada satu pun tawaran menjadi arsitek tim yang datang kepadanya.

Bahkan, keinginan untuk menangani Persis Solo yang mempersiapkan diri ke Divisi Utama pun gagal. Manajemen tim asal Kota Bengawan, julukan Solo, tersebut lebih memilih Aris Budi Sulistyo.

''Saya ingin sekali menangani Persis karena saya juga pernah menjadi pemain Persis juga. Posisi saya sebagai striker,'' jelas Yudi.

Ya, Laskar Samber Nyawa, julukan Persis, merupakan pijakan awal karir sepak bolanya. Lelaki kelahiran 25 November 1954 tersebut membela Persis pada 1974-1976.

''Saat itu, saya juga sambil kuliah di Solo. Saat itu, saya menumpang di rumah saudara,'' kenang Yudi.

Ajakan dari seorang rekan membuat bapak dari Titan Suryata itu pun meninggalkan Solo dan Sragen. Dia memilih Surabaya sebagai pelabuhan karirnya.

''Saya ikut Mitra yang dimiliki Wenas. Dari Mitra pula, saya dipanggil mengikuti seleksi Persebaya Surabaya,'' lanjut Yudi.

Awalnya, di Green Force, julukan Persebaya, dia hanya sebagai penghangat bangku cadangan. Namun, saat kesempatan diberikan kepadanya di posisi bek kiri, bukan posisi aslinya sebagai tukang gedor.

''Lawannya Samarinda dan saya main bagus. Sejak itulah, saya selalu menjadi pemain inti di Persebaya dan mampu membawan menjadi juara perserikatan pada 1977,'' lanjut Yudi.

Di Persebaya, perokok berat ini satu tim dengan Rudy Keltjes, Subodro, maupun (alm) Rusdy Bahalwan. Namun, dia tak bertahan lama.

Dia kembali ke Mitra setelah pemiliknya, Wenas, memintanya balik. Apalagi, Mitra memutuskan menjadi klub Galatama saat kompetisi profesional tersebut mulai digulirkan pada 1978.

''Di Niac Mitra, saya juga dua kali menjadi juara yakni musim 1982 dan 1983. Komplet rasanya bisa menjadi pemain yang juga di era perserikatan dan galatama,'' kenang Yudi.

Tapi, pada 1984, suami dari Safari Rustiningsih tersebut hengkang dari Niac Mitra. Klub Yanita Utama Bogor dibelanya bersama beberapa rekan-rekannya di Persebaya dan Niac. 

''Saat itu, bayaran di Yanita Utama sangat besar. Saya dibayar Rp 15 juta,'' tambahnya. Di klub Kota Hujan, julukan Bogor, tersebut Yudi ikut mengangkat trofi juara Galatama di musim 1983/1984 dan 1984.

Setelah Yanita Utama bubar pada 1985, skuadnya boyongan ke Palembang, Sumatera Selatan. Mereka bergabung dengan Kramayudha Tiga Berlian.

''Saya nggak ikut. Saya mulai menekuni menjadi pelatih di Gajah Mungkur, Wonogiri,'' terang Yudi.

Di tangannya lahir para pesepak bola sekelas Sutamto dan Ali Sunan yang kelak menjadi penghuni Timnas Indonesia. Usai dari Kota Gaplek, julukan Wonogiri, Yudi pun kembali ke Surabaya.

''Saya menjadi asisten Basri pada musim 1987/1988. Saat Basri dipanggil menjadi pelatih nasional, saya yang menangani tim dengan arahan tetap dari Wenas,'' papar lelaki asal Desa Krikilan tersebut.

Setelah dari Niac Mitra, perjalanan panjangnya sebagai pelatih pun dimulai. Mulai dari Persijap Jepara, Gelora Putra Delta (GPD, sekarang jadi Deltras), Persijap Jepara, PSS Sleman, Persipura Jayapura, PSBI Blitar hingga Persewangi Banyuwangi.

Di Laskar Kalinyamat, julukan Persijap, Yudi memoles cukup lama. Mulai dari 1992 hingga 2002. Bahkan, kali terakhir, dia juga menjadi pelatih di tim pesisir utara Pulau Jawa itu pada musim 2014.

''Namun, kondisinya sudah jauh berbeda. Yang terakhir sudah parah sekali,'' ujarnya.

Dari melatih pula, Yudi bisa memperluas dan merenovasi rumahnhya menjadi megah. Sebagai bukti rezeki yang diperlehnya dari sepak bola,di depan rumahnya dipasang bola dari semen.

''Rumah saya ini saya bangun saat menjadi pelatih Persipura,'' urainya.

Namun, seiring kondisi sepak bola Indonesia yang bergejolak, Yudi pun harus mencari uang dari usaha yang lain. Dia terpaksa menjual tanah maupun rumah lain  yang dibelinya saat menjadi pemain atau pelatih.

''Saya putar lagi uangnya untuk membeli tanah dan rumah lagi. Kalau dibilang bisnis properti juga nggak apa, tapi kecil-kecilan,'' katanya sambil menghisap rokok kedua yang sudah dinyalakan. (*)


Sekilas tentang
Nama: Yudi Suryata
Usia: 61 tahun
Lahir: Sragen, 25 November 1954
Istri: Safari Nurtiningsih
Anak: Titan Suryata

Karir:
Pelatih
1973: PSISra Sragen Junior
1974-1976: Persis Solo
1976-1977: Mitra Surabaya
1977: Persebaya Surabaya
1978-1983: Niac Mitra
1983-1985: Yanita Utama

Pelatih
1985-1987: Gajah Mungkur Wonogiri
1987-1989: Niac Mitra Surabaya
1989-1992: Mitra Surabaya
1992-2002: Persijap Jepara
2002-2003: GPD Sidoarjo
2003-2005: PSS Sleman
2005: Persipura Jayapura
2006-2008: PSS Sleman
2008:Persigo Gorontalo
2010-2011: PSBI Blitar
2012: Persewangi Banyuwangi
2014: Persijap Jepara
Read More

Buat Onde-Onde untuk Topang Hidup

Lulut Kistono dengan onde-onde buatannya
Di masa jayanya, Lulut Kistono,dikenal sebagai tukang jagal di lapangan hijau. Tapi, kondisi sepak bola Indonesia yang tengah carut marut membuatnya menekuni usaha yang jauh dari urusan yang pernah membesarkan namanya itu.
--
WAJAH Lulut Kistono tampak lelah. Matanya juga masih memerah saat ditemui di rumahnya di kawasan Bogangin , Surabaya, pada 14 Juli 2015.

Tapi, itu bukan karena dia selalu bermain si kulit bundar. Juga bukan karena tenggelam dalam kesibukan melatih tim.

''Sekarang, setiap pagi habis Subuh, saya membantu istri membuat onde-onde. Mulai dari mengangkat tepung hingga memasarkannya,'' ungkap Lulut.

Aktiitasnya itu, lanjut dia, mulai dilakoni pada Ramadan tahun ini. Ini setelah istrinya menekuni usaha kuliner dengan membuat onde-onde kecil.

''Setiap hari bisa sampai 10 kilogram tepung dijadikan onde-onde. Alhamdulillah ada pemasukan,'' jelas lelaki kelahiran Surabaya 26 Maret 1968 tersebut.

Menekuni usaha onde-onde ini sebenarnya, tambah Lulut, berawal dari kebetulan. Saat acara 40 hari meninggalnya sang ibu, kakaknya membuat makanan sendiri untuk dibagikan kepada tetangga dan saudara. Ternyata, buatan sang kakak yang tinggal di Ponorogo tersebut mendapat pujian.

''Kakak pun kemudian mengajari istri membuat onde-onde. Eh, hasilnya juga tak jauh beda dan bisa diterima oleh tetangga-tetangga,'' lanjut bapak tiga anak tersebut.

Selain tetangga, teman istri juga mulai dibidik untuk membeli produk onde-onde yang memakai nama Lud's tersebut. Setali tiga uang, rekan -rekan istrinya juga berkenan.

''Tetangga di rumah lama di Bogangin (yang jaraknya 20-an kilometer dari rumah Lulut sekarang) juga banyak yang beli. Saya ingin menjualnya ke toko-toko juga,'' ujar Lulut.

Dia mengakui usaha Lud's sangat membantu menopang kehidupannya. Apalagi, hampir setengah tahun dia tak menangani tim sepak bola.

Kali terakhir, lelaki yang kali pertama mencuat namanya saat membela Arseto Solo tersebut menangani PS Bangka, Bangka-Belitung, bersama Sanusi Rahman. Hanya, di klub yang nyaris dibawanya menembus babak delapan besar tersebut gajinya tersendat.

''Saya nyaris tak dibayar di PS Bangka. Saya sudah menagih ke pihak manajemen di sana dan juga sudah menghubungi Joko Driyono (CEO PT Liga Indonesia, operator sepak bola profesional di Indonesia),'' ucap Lulut,

Hasilnya, keduanya tak memberikan respon. Sebenarnya, tak dibayar saat menangani tim sudah menjadi langganan baginya.

Di kancah sepak bola Indonesia, semasa menjadi pemain, nama Lulut cukup disegani. Dia selalu membela klub-klub besar. Selain Arseto, Arema Malang, Barito Putera Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Mitra Surabaya, dan Persisam Samarinda (Kalimantan Timur).

Dia sempat menyedot perhatian nasional saat divonis dua tahun larangan bermain sepak bola. Gara-garanya, saat membela Mitra Surabaya, dia memukul striker Arema Singgih Pitono, yang sebenarnya rekan karibnya juga.

Hanya, seiring perjalanan waktu,sang tukang jagal ini harus banting setir. Membuat onde-onde menjadi bagian untuk membuat dapurnya terus mengepul. (*)

Read More

Mantan Gelandang Deltras Tekuni Bisnis Kerupuk

Choirul Anam memasarkan dagangan (foto;facebook)
Pensiun sepak bola tak membuat Choirul Anam tertarik bergelut kembali dengan si kulit bundar. Dia memilih terjun di bisnis yang belum pernah ditekuni rekan-rekannya terdahulu.

--
KETUKAN beberapa kali dilakukan ke sebuah rumah di Pondok Jati, Sidoarjo.Tapi, tak lama kemudian, seorang perempuan naik sepeda motor juga berhenti di rumah tersebut.

''Cari siapa?,'' katanya yang ternyata adalah ibu mertua Choirul Anam, sang pemilik rumah.

Tak lama kemudian, seorang lelaki dengan wajah yang masih sayu seperti baru bangun tidur pun keluar. Ya, dia adalah Anam, sapaan karib Choirul Anam.

Saat masuk rumah, terlihat puluhan galon di dekat pintu masuk rumah. Ada yang masih isi air tapi banyak yang sudah kosong.

Di dalam rumahnya hanya ada satu foto yang menunjukkan si empu rumah merupakan pesepak bola. Beda dengan rumah-rumah pesepak bola lain yang di ruang tamunya banyak berjejer foto saat masih aktif di lapangan hijau.

Padahal, karir Anam tak kalah mentereng. Dia malang melintang di level tertinggi sepak bola Indonesia, Indonesia Super League.

''Kecil saya ikut Putra Gelora di Surabaya. Resikonya, saya harus latihan dari Mojosari (Kabupaten Mojokerto) ke Surabaya yang lumayan jauh,'' kenang Anam.

Karirnya mulai mencuat saat membela Jatim di Liga Bogasari. Di tangan Darmaji, kemampuannnya sebagai tukang gedor gawang lawan mulai terasah.

''Saya pun mendapat kesempatan mengikuti seleksi buat Timnas U-15 yang dilaksanakan di Medan. Setelah itu, seleksi diTimnas U-17 dan 19, saya juga dipanggil,'' terang lelaki kelahiran 1986 tersebut.

Dengan usia yang masih muda pula, 2004, Anam sudah menembus klub Persema Malang. Di Kota Pelajar, julukan Malang, dia juga mendapat bapak asuh, Bambang D.H, yang menjabat sebagai Sekda.

''Di Persema, saya bermain selama tujuh musim. Setelah itu, pada 2010, baulah saya keluar dan membela Deltras,'' lanjutnya.

Usai dari Deltras, bapak dua anak itu kembali ke Malang dengan bergabung Arema yang berlaga di ajang Indonesia Premier League, ketika kompetisi sepak bola Indonesia terpecah menjadi dua.

''Setelah itu ke PSIS Semarang yang ditangani Bonggo Pribadi dan ke Persik yang dilatih Agus Yuwono,'' ujarnya.

Nah, Deltras pun menjadi akhir pelabuhan karirnya. Hanya, dia menutupnya dengan kesan yang tak mengenakkan.

''Saya hanya bermain setengah musim. Putaran II, saya sudah diputus manajemen,'' ungkap Anam.

Di Sidoarjo, Anam juga menemukan tambahan hati dan meniti karir di luar sepak bola. Mulai 2013, dia terjun ke bisnis sembako.

''Saya jualan beras, kerupuk udang, dan air galonan. Alhamdulillah, sekarang sudah lancar,''  jelas Anam.

Di antara barang dagangannya, kerupuk udang paling diserbu pembeli. Saat penulis datang, tak ada satu kerupuk jelas ikan Kalimantan tersebut yang tersisa. (*)
Read More

Pilih Jaga Malam Hari agar Tetap Bisa Melatih

SETIA: Hari Saptono dengan seragam satpam.
Membela klub sebesar Persebaya Surabaya dan Mitra Surabaya bukan bakal bergelimang harta usai pensiun. Pesepak bola satu ini menjadi satuan pengaman (satpam) selama belasan tahun.
--
JAM sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB. Tapi, Hari Saptono baru datang di kawasan ruko di Pepe Legi, Waru, Sidoarjo, dari rumahnya di Citra Fajar Golf,Sekardangan, yang jaraknya sekitar 10 kilometer.

Orang pasti tak menyangka jika sosok tersebut pernah menjadi pujaan publik sepak bola Surabaya. Itu terjadi ketika Hari dipercaya masuk Persebaya Senior di era Liga Indonesia I (1993/1994) dan Liga Indonesia II (1994/1995).

''Saya memang memilih malam hari. Agar saya tetap bisa beraktivitas di sepak bola,'' kata Hari saat ditemui pada Kamis malam (9/7/2015).

Ya, sepak bola merupakan nadi bagi kehidupan lelaki kelahiran 1973 tersebut. Apalagi, statusnya kini merupakan pelatih Assyabaab, klub besar asal Ampel, Surabaya.

''Dulu sempat jaga pagi. Tapi, untung teman-teman mau mengerti dengan saya ajak gantian malam,'' lanjut Hari.

Pekerjaan sebagai penjaga malam atau satpam sudah dia jalani sejak 2000 atau 15 tahun. Hari tercatat sebagai penjaga malam di sebuah kantor BNI 46.

''Saya di sini sejak 2010. Hanya, saya sempat keluar sebentar. Untung, masih bisa diterima lagi,'' ujar Hari.

Lelaki yang berposisi sebagai stopper saat masih aktif sebagai pesepak bola itu bisa bekerja sebagai satpam atas ajakan rekan kuliahnya. Ya, Hari merupakan alumus D3 Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP Unair), Surabaya.

''Sebenarnya, saya sudah mau jadi staf. Tapi, saat itu, usia saya sudah 26 tahun atau lewat satu tahun,'' ujarnya.

Mengetahui itu, rekannya mengajak menjadi satpam karena saat itu yang lagi di cari di posisi itu. Hari pun tak kuasa menolak.

''Namun, saya masih bisa berlatih di Assyabaab. Bahkan, saya bisa ikut seleksi dan hampir masuk di Barito Putera, meski sudah kerja jadi satpam,'' urai Hari yang juga pernah membela Mitra Surabaya di Liga Indonesia IV atau musim 1997/1998.

Hanya, masalah nonteknis yang membuatnya urung bergabung dengan Barito Putera. Akhirnya, Hari pun balik ke Assyabaab.

''Saat itu, saya digaji oleh Assyabaab yang lumayan besar. Assyabaab memang banyak membantu dalam karir dan kehidupan saya,'' lanjut lelaki yang kini sudah dikaruniai tiga buah hati tersebut.

Di Assyabaab pula, sejak 2010, Hari pun mulai menekuni dipercaya menjadi staff pelatih. Dimulai dari asisten, kini dia sudah menjadi pelatih kepala. (*)


Sekilas tentang
Nama: Hari Saptono
Usia: 42 tahun
Anak:3
Pekerjaan: Satpam BNI 46

Karir
Pemain:
1988-2010: Asyabaab
1988-1990: Persebaya Surabaya Junior
1992: Persebaya U-21
1993-1995: Persebaya Senior
1997-1998: Mitra Surabaya
2000-2001: PS Pusri Palembang, Sumatera Selatan
---


Read More

Kami Kalah Murni karena Teknis

UNTUK
DUET: Mustaqim dan Aji Santoso
kali kesekian, Indonesia gagal memperoleh emas dari cabang olahraga (cabor) sepak bola dalam SEA Games. Bahkan, isu tak sedap mengiringi kepulangan ke tanah air. Kekalahan di dua pertandingan terakhir dicurigai sebagai match fixing (pengaturan pertandingan).

Tapi, hal itu dibantah keras oleh Mustaqim, asisten pelatih Timnas U-23 yang berlaga dalam SEA Games 2015 Singapura. Dia mengakui semua dikarenakan faktor teknis, bukan nonteknis. Berikut petikan saat ditemui di rumahnya di kawasan perumahan di Rungkut, Surabaya, pada Kamis (9/7/2015)

Maaf menganggu waktu puasa Anda
-Tidak apa-apa. Saya juga lagi tidak ada kegiatan, apalagi yang berurusan dengan sepak bola atau Timnas U-23.

Oh ya, soal Timnas U-23 di SEA Games lalu bagaimana?
-Ya, kita kan gagal meraih medali. Tapi, itu sudah sangat baik. Sampai ke babak final memang sudah diperkirakan sejak awal. Bahkan, Direktur Teknik PSSI Pieter Huistra pun sudah memperkirakan Timnas U-23 hanya sampai semifinal. Dia membandingkan tim kami nafasnya sudah sampai leher (Mustaqim mempraktikkan tangan kanan diletakan di leher).

Kok bisa hanya sampai semifinal, kenapa tidak ke final?
-Dia tahun dengan kondisi Timnas U-23. Persiapan kami hanya 21 hari. Bahkan, kalau saya hitung tidak ada sampai 21 hari karena pemain datangnya tak bersamaan. Belum lagi faktor lain tentang jadi atau tidaknya kita berangkat ke SEA Games. Itu mempengaruhi psikologis pemain. Kita persiapannya paling minim kalau dibandingkan dengan tim-tim lain.

Maksudnya?
Malaysia contohnya.Mereka persiapan serius selama enam bulan dan diikutikan dalam kompetisi di Australia. Begitu juga dengan Singapura yang melakukan try out ke luar negeri dengan anggaran yang banyak.
 Sementara Thailand, mereka timnya hampir sama dengan yang dikirim ke Asian Games di Incheonm Korea Selatan. Saat itu, pemain kita kan U-23 yang usianya memang di bawah 22 dan diperkuat pemain senior sekelas Victor Ignonefo dari Arema, kita kalah telak 0-6.
 Di SEA Games, materi kita kan U-19 yang fisiknya masih belum kuat. Kita kalahnya lima gol.

Tapi kekalahan itu diiringi isu adanya pengaturan skor (match fixing)?
-Itu tidak benar-benar. Kami kalah benar-benar karena murni teknis bukan hal yang lain. Saya tahu semua pemain Timnas U-23. Mereka masih lugu. Yang berani menerima suap mereka yang sudah biasa melakukannya. Secara psikologis kalau menerima suap, tentu mereka nggak akan berani tampil. Tapi, saat ini banyak di antara pemain Timnas U-23 bermain di Liga Ramadan di Makassar.
 Kami sangat sedih mendengar adanya isu seperti itu. (*)
--
Read More

Manfaatkan Gadget untuk Cari Ilmu Sepak Bola

TEKNOLOGI: Mustaqim dengan smartphone miliknya.
Mustaqim baru saja menjalani tugas sebagai asisten pelatih Timnas U-23. Lalu apa kegiatannya usai melakoni keperrcayaan yang diberikan negara kepadanya?
-
SONGKOK di kepala Mustaqim. Baju koko juga dikenakannya saat ditemui di kediamannya di kawasan Rungkut, Surabaya, pada Kamis (9/7/2015).

''Maaf, saya tadi masih tadarus. Jadi, saya agak terlambat menemui,'' katanya.

Dengan suasana Ramadan, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk keagamaan. Salat dan tadarus menjadi menu sehari-harinya.

''Kalau pas ibadah ya konsentrasi ibadah,'' jelas Mustaqim.

Selain salat dan tadarus, aktivitasnya hanya mengantar istrinya, Hesti Nurfarida, yang juga dokter gigit ke tempat bekerja di Rumah Sakit Islam Surabaya yang berada di kawasan Wonokromo, Surabaya. Apalagi, saat ini, Mustaqim tak berhubungan lagi dengan sepak bola.

''Terakhir ya mendampingi Timnas U-23 di SEA Games Singapura pada Juni lalu. Memang, pekan lalu sempat ke Banyuwangi bersama beberapa pemain Timnas U-23 untuk tampil dalam turnamen di sana, tapi batal,'' tambah lelaki kelahiran 6 September 1964.

Selain itu, cedera pergelangan kaki ikut membuat berlama-lama di rumah. Biasanya, Mustaqim bermain tenis di lapangan kalau ada waktu longgar.

''Ini baru saja sembuh. Saya ingin pulih dulu telapak kaki ini,'' ungkap lelaki yang juga pernah membela Timnas Senior sewaktu masih aktif sebagai pesepak bola tersebut.

Di rumah, ada kesibukan lain yang dilakukan bapak tiga anak, Mizan Zano Ramadhan -Sifana Zana Masyitha -Fauzan Syaikhul Islam, tersebut. Apa itu? Otak-atik telepon genggam yang dimiliki.

''Semua yang saya perlukan ada di sini. Mulai dari pembayaran, program melatih, hingga data diri saya,'' terang Mustaqim sambil menunjukkan telepon pintar miliknya yang merupakan produk Amerika Serikat tersebut.

Lelaki yang dikenal sebagai salaha satu mesin gol Persebaya Surabaya tersebut paham betul dengan teknologi yang ada HP miliknya. Ini pula yang membuat Mustaqim sangat membantu kinerja pelatih kepala Aji Santoso saat menangani Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, ke Asian Games 2014 Incheon dan SEA Games 2015 Singapura.

''Kondisi pemain kita dan lawan juga saya pantau dari HP,'' pungkasnya. (*)
Read More

Ingin Ajak Keluarga Bisa ke Brasil

SEKARANGClaudio pada 7 Juli 2015
DULU: Claudio saat di Arema
Claudio de Jesus pernah mengalami masa jaya sebagai pesepak bola di Arema. Cedera membuatnya tak bertahan lama. Bagaimana kondisinya sekarang.
--
DULU, badan Claudio de Jesus kekar. Posturnya yang tinggi, sekitar 180 sentimeter, membuat dia layak diandalkan menjadi pilar lini belakang Arema.

Kini, tak banyak yang berubah darinya. Tonjolan otot di tangan tetap terlihat meski usianya sudah 39 tahun.

Hanya, sudah ada sedikit lemah di sekitar perut. Selain itu, rambut ikal yang menjadi ikonnya sudah berganti plontos.

''Saya sudah jarang berlatih sepak bola setiap hari. Kini, hanya seminggu sekali di Lapangan Agro Batu,'' kata Claudio ketika bertemu di sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya selatan pada Selasa (7/7/2017).

Claudio merupakan salah satu pesepak bola asing yang pernah mereeguk sukses dan mencuat namanya di Indonesia. Dia pernah membawa Singo Edan, julukan Arema, pesta gelar.

''Saya membawa Arema  juara Divisi I pada 2003/2004 dan dua kali juara Copa Indonesia 2003/2004 dan 2004/2005,'' kenang pesepak bola asal Brasil tersebut.

Baginya, Arema menjadi klub yang paling dikenangnya. Claudio mengenal klub tersebut karena diajak rekannya asal Negeri Samba, julukan Brasil, Junior Lima.

''Saat itu, pada 2003, Junior Lima pulang ke Brasil. Dia dimintai tolong pelatih Arema saat itu Benny Dolo untuk mencari pemain belakang yang karakternya keras,'' ungkap Claudio.

Cerita yang dikisahkan lelaki yang berposisi penyerang tersebut membuat Claudio terpihat. Dia pun meninggalkan St Catarina di negara bagian Sau Paulo.

''Saya sempat mengalami kesulitan bahasa di Indonesia. Untung ada Junior Lima yang sangat membantu,'' ujar bapak tiga anak Fima(9), Felicio (7), dan Fatimah (1) tersebut.

Namun, saat di lapangan, dia mengakui hanya melihat gerakan tangan Bendol, sapaan karib Benny Dolo. Hingga akhirnya, mantan pelatih nasional tersebut merekomendasikannya bergabung klub pujaan Aremania tersebut.

''Saya seleksi lama, hampir 1 bulan. Piala Gubernur menjadi ajang pembuktiaan saya,'' kenangnya.

Di Arema pula, Claudio mendapat tambahan hati. Seorang perempuan asal kota kedua terbesar di Jawa Timur tersebut, Maya, akhirnya diperistri.

''Dia dulunya juga kerja di Arema. Saya menikahinya pada 2005,'' terang Claudio.

Claudio pun masuk Islam dan sudah jarang memakai nama de Jesus di belakang. Seebagai gantinya ada tambahan nama Bacelos.

Sebenarnya, dia ingin bertahan lama di Arema. Tapi, Claudio tak bisa menolak ajakan rekannya satu negara yang juga menjadi sahabatnya, Carlos de Mello, ke PSM Makassar pada musim 2006/2007.

''Di PSM pula, saya mengalami cedera sehingga tak bisa tampil optimal. Apalagi, Carlos juga tak sampai selesai menangani PSM,'' lanjutnya.

Usai dari Pasukan Ramang, julukan PSM, Claudio pun bermain di kasta kedua Persibat Batang (Jawa Tengah) dan Persipasi Bekasi (Jawa Barat).

''Setelah pensiun, saya mulai melatih. Saya mendirikan SSB Brazil Style Football di Malang,'' ucap Claudio.

Di sela-sela itu, dia juga menangani klub CJI Pasuran pada 2010. Saya baru berhenti di klub itu setelah menjadi pelatih Persipura Jayapura pada 2015,'' ungkapnya.

Posisinya di CJI, terang Claudio, digantikan I Putu Gede. Dia merupakan rekannya saat di Arema.

Claudio bisa ke Mutiara Hitam, julukan Persipura, atas ajakan Osvaldo Lessa yang juga berasal dari Brasil. Selain Claudio, Lessa juga dibantu Metu Duaramuri dan Chris Yarangga sebagai asisten.

Di bawah Lesa, sapaan karib Osvaldo Lesa, Persipura mampu menembus perdelapan final AFC Cup. Langkahnya terhenti karena Indonesia mendapat sanksi dari FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) karena adanya carut marut antara PSSI dan Menpora.

''Belum rezeki saya mungkin. Tapi, saya berharap bisa kembali ke Persipura,'' lanjut Claudio.

Harapan lainnya selain kembali Papua adalah mengajak keluarganya ke Brasil. Sejak menikah dan mempunyai tiga orang anak, sang istri belum pernah bertatap langsung dengan mertua.

''Semoga bisa terlaksana meski uang yang dikeluarkan tak sedikit,'' pungkas Claudio. (*)

Sekilas tentang Claudio
Nama : Claudio de Jesus
Lahir: Brasil, 26 Juni 1976
Kebangsaan: Brasil
Istri: Maya
Anak:Fimo, Felicio, Fatimah
Domisili: Malang

Klub yang dibela
2003-2007: Arema
2007/2008: PSM Makassar
2008/2009: Persipasi Bekasi
2009/2010: Persibat Batang

Klub yang dilatih
2009-sekarang: SSB Brasil Style Football
2010-2014: JCI Pasuruan
2013: Arema U-21
2015-..: Persipura (asisten pelatih)

Prestasi
2003/2004: Arema juara Divisi I
2004/2005: Arema juara Copa Indonesia
2005/2006: Arema juara Copa Indonesia


Read More

Isi Waktu Ramadan, Deltamania Berbagi Takjil

Deltamania bersiap membagi takjil di kawasan Buduran.
Suporter tak selalu identik dengan kekerasan. Deltamania pun berbagi saat Ramadan 2015 ini.
--
PULUHAN orang berkaos merah berkumpul di Jalan A. Yani, Buduran, Sidoarjo.  Semakin lama, jumlahnya bertambah meski waktunya semakin petang di hari Minggu (5/7/2015) tersebut.

Mereka merupakan Deltamania yang merupakan suporter klub Deltras. Tim yang berjuluk The Lobster tersebut pernah menjadi tim yang disegani di kancah sepak bola Indonesia. Posisi di Indonesia Super League (ISL) pernah ditempati. Sayang, sekarang, Deltras terpuruk di Liga Nusantara, kompetisi terendah di level kompetisi nasional.

Para Deltamania itu bukan hendak ke Stadion Gelora Delta, yang menjadi kandang Deltras, untuk menyaksikan tim kesayangannya berlaga. Ini dikarenakan kompetisi tengah vakum karena ontran-ontra Menpora dan PSSI.

''Kami mengadakan acara berbagi takjil. Tempat ini kami pilih karena banyak pengendara yang lewat,'' kata Satriyo Adji Utomo, Sekretaris Deltamania yang ikut dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, rekan-rekannya datang dari berbagai wilayah. Itu masih ditambah dengan Deltacyber, kelompok Deltamania yang aktif di dunia maya.

''Kemajuan teknologi membuat kami nggak datang ke setiap wilayah,'' ujar lelaki yang akrab disapa Yoyok tersebut.

Dia juga memuji rekan-rekannya yang punya inisiatif mengadakan acara takjil bersama. Apalagi makanan dan minuman yang dibagikan tersebut dari kantong mereka sendiri.

Kegiatan bagi takjil itu pun mendapat sambutan dari para pengguna jalan. Menjelang berbuka, pembagian takjil tak hanya dilakukan di barat jalan tapi juga timur.  Banyak pengguna jalan mengurangi kecepatannya untuk bisa menerima takjil yang dibagikan.

''Mungkin pekan depan, kegiatan bagi takjil akan kami lakukan lagi,'' tambah Humas Deltacyber Agustina Kris Purwanto. (*)

Read More

Pernah Kirim Pemain ke Piala Dunia, Bertahan dari Iuran

SEJARAH: Pemain HBS berlatih di Lapangan Kebraon
Di Surabaya, HBS bukan klub besar seperti Assyabaab ataupun Suryanaga. Namun, klub ini pernah mengirim pemainnya ke Piala Dunia.
--
LAPANGAN Kebraon, Surabaya, gundul di sana-sini. Tapi, itu tak mengurangi semangat para pemain HBS berlatih pada Jumat sore lalu (3/7/2015).

Mereka menjalani instruksi yang diberikan oleh para pelatihnya. Tak lama kemudian, lapangan yang semula dibuat 3/4 dilebarkan utuh.

Para pemain  menjalani game internal. Pemain inti ada di sebelah selatan dan reserve di sebaliknya.

''Hasil latihan ini membuat HBS menjadi pemimpin klasemen sementara Kompetisi Askot PSSI Surabaya. Semua itu hasil latihan,'' terang Ridwan Anwar, salah satu pelatih HBS.

Hanya, saat  ini kompetisi tak bergulir. Selama Ramadan, pertandingan antarklub di bawah naungan Askot Cholid Ghoromah tersebut libur. Askot PSSI di kota terbesar kedua di Indonesia itu tengah terpecah. Salah satunya adalah versi Gede Widiade.

Orang hanya mengenal HBS merupakan klub anggota internal yang digembleng di kawasan Surabaya Barat. Tapi, sebenarnya, klub tersebut mempunyai sejarah panjang. Dulu HBS kepanjangannya Houdt Braaf Stand atau terjemahannya Mencintai Taat Berdri.

''Dulu kan punya orang Belanda. Kalau nggak salah berdirinya 1913,'' terang Pramono, salah satu pelatih HBS. Hanya, ungkapnya, setelah Indonesia merdeka, nama kepanjangannya menjadi Harapan Budi Setiawan.

HBS sendiri pernah mengirim pemainnya untuk mewakili Hindia Belanda (nama yang dipakai Belanda kepada Indonesia) dalam Piala Dunia 1938.
Ada Dorst, J. Harting Houdt (belakang), Achmad Nawir (tengah), Tan See Han, Soedarmadji , dan Soedarmadji  di barisan depan.

''Kalau nggak salah Nawir yang dari HBS. Tapi, dia sudah lama meninggal,'' ucap Ketua Umum HBS Ferril Raymond Hattu.

Namun, dia tak ingat tahun meninggalnya. Yang diketahui Ferril, dulu rumah Nawir di kawasan Jalan Darmo.

''Tapi sekarang sudah jadi bangunan bank. Saya juga kehilangan kontak dengan keluarganya,'' jelas lelaki yang menjadi kapten Indonesia saat meraih emas di SEA Games 1991 atau emas terakhir Indonesia di cabang olahraga sepak bola di ajang pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut.

HBS sendiri tetap eksis karena adanya dana dari Ferril. Sayang, Pramono enggan membuka nominal guyuran rupiah tersebut. Dulu mereka sempat menyambung nyawa dari dana yang diberikan Persebaya sebelum berganti menjadi Askot PSSI Surabaya. Jumlahnya pernah Rp 30 juta setahun.

''Tapi, sekarang sudah tak dapat lagi. Apalagi, adanya dualisme juga mempengaruhi,''terang Pramono.

Pelatih HBS lainnya, Ridwan Anwar, menambahkan, uang iurang pemain bisa menjadi lotomotif klubnya untuk terus hidup. Dengan jumlah pesepak bola lebh dari 150, uang itu mampu membuat HBS eksis.

''Tiap kali latihan, mereka membayar Rp 5 ribu. Uang itu dipakai bayar lapangan dan keperluan lainnya,'' pungkas lelaki yang pernah membela Warna Agung itu. (*)



Pemain Hindia Belanda di Piala Dunia 1938

    Kiper: Tan "Bing" Mo Heng (HCTNH Malang), Jack Samuels (Hercules Batavia)

    Belakang: Dorst, J. Harting Houdt Braaf Stand (HBS Soerabaja), Frans G. Hu Kon (Sparta Bandung), Teilherber (Djocoja Djogjakarta)

    Tengah: G.H.V.L. Faulhaber (Djocoja Djogjakarta), Frans Alfred Meeng (SVBB Batavia), Achmad Nawir (HBS Soerabaja), Anwar Sutan (VIOS Batavia), G. van den Burgh (SVV Semarang)

    Depan: Tan Hong Djien (Tiong Hoa Soerabaja), Tan See Han (HBS Soerabaja), Isaac "Tjaak" Pattiwael (VV Jong Ambon Tjimahi), Suvarte Soedarmadji (HBS Soerabaja), M.J. Hans Taihuttu Voetbal Vereniging (VV Jong Ambon Tjimahi), R. Telwe (HBS Soerabaja), Herman Zomers (Hercules Batavia)

    Pelatih: Johannes Mastenbroek (Belanda)

Sumber data: BBC
Read More

Mantan Pemain PSSI Garuda II Jualan Nasi Sambal

Iis Falatehan di depan warung sambalnya
PSSI Garuda I dan II pernah menjadi proyek prestisius. Namun, banyak juga dari mereka yang akhirnya gagal menjadi pesepak bola nasional. Bahkan, kini, ada yang menghabiskan waktunya berjualan nasi sambal.
--
TANGANNYA begitu mahir memainkan alat penggorengan. Lelaki yang bernama lengkap Iis Falatahen tersebut pun tengah menggoreng ayam maupun tempe.

Tak lama berselang, dia juga mengaduk gula di gelas untuk melayani melayani pembeli di warung penyet Soccer miliknya. Warung yang menjual nasi sambal sebagai menu utama tersebut berada di kawasan Bebekan, Sepanjang, Taman, Kabupaten Sidoarjo.

Pembeli pun banyak yang tak tahu, bahwa lelaki yang meladeni mereka tersebut dulunya sempat digadang-gadang menjadi pesepak bola yang akan membuat Indonesia bisa banyak berbicara di ajang internasional. Ini disebabkan Iis merupakan pemain yang masuk dalam PSSI Garuda II, sebuah proyek masa depan yang dibiayai keluarga Cendana yang merupakan penguasa Orde Baru.

''Saya masuk PSSI Garuda melalui seleksi dari wilayah Jawa Timur, mur yang dilakukan di Lapangan Arhanudse, Seruni, Gedangan, Sidoarjo. Dari Jawa Timur yang lolos saya dan Iwan (Suprijanto,kiper yang kini jadi salah satu pelatih PON Jatim 2016),'' terang Iis saat ditemui di warungnya pada Jumat malam (3/7/2015).

Usai lolos seleksi yang dilaksanakan 1988, saat usianya masih 17 tahun, dia pun harus pergi meninggalkan orang tuanya ke Jakarta. Di ibu kota, dia digembleng di bawah penangananan pelatih asal Cekoslowakia (sekarang Rep Ceko) Joseph Masopust.

''Pelatih lokalnya ada Solekan dan Halilintar. Banyak pemain juga dari luar pulau,'' ujar Iis, yang masuk seleksi dari klub Suryanaga, Surabaya.

Di antara rekan-rekannya tersebut ada nama Nil Maizar dan Rocky Poetiray. Nil dari Padang sedangkan rekan satunya dari Maluku. Beberapa tahun kemudian, Rocky menjadi penyerang andalan Indonesia di era 1990 dan pernah bermain di Liga Hongkong.  Sementara, Nil saat sudah pensiun sebagai pemain menjadi pelatih nasional Indonesia di era 2010-an.

Iis pun masih ingat komposisi pemain Garuda II saat dirinya masuk skuad. Di bawah mistar ada Misrianto, dua pilar belakang Nil dan Augustinus. Di tengah selain dirinya ada Heriansyah dan Agus Yuwono dan di depan Rock berpasangan dengan Zulkarnain Jamil.

Sayang, kebersamaan itu tak berlangsung lama. Dalam sebuah uji coba dengan klub amatir Bina Taruna di Senayan, Jakarta, Iis mengalami cedera lutut parah.

''Saya berhadapan dengan kiper Bina Taruna, Ponirin Meka (yang juga kiper Timnas Senior). Saya mengalami cedera lutut parah,'' kenang lelaki yang kini berusia 45 tahun tersebut.

Dia pun dipulangkan ke rumahnya. Kepedihan mendalam dirasakannya.

''Dia menangis ketika bertemu saya. Saya bilang, jangan pernah patah semangat,'' tambah Pramono, lelaki dianggapnya pengalaman di pentas sepak bola.

Hampir dua tahun Iis bergelut dengan cedera. Hingga akhirnya dia memutuskan merantau ke Bandung, Jawa Barat. Di sana, karirnya kembali terangkat.

''Saya sempat membela Persikab Kabupaten Bandung di Divisi Utama seangkatan dengan Encang Ibrahim (pemain Persikab yang terkenal di dekade 1990-an),'' tambah Iis.

Di Bandung pula, dia menemukan jodohnya. Hingga akhirnya pada 2010, Iis dan keluarganya memutuskan kembali ke Sepanjang.

''Dapur saya harus tetap mengepul. Karena orang tua dan istri pintar memasak, akhirnya saya putuskan berjualan nasi sambelan,'' ungkap bapak tiga anak tersebut.

Pilihannya ternyata tak salah. Setiap malam, warung sambelan yang diberi nama Soccer tersebut ramai diserbu pembeli. Meski, Iis baru bisa membuka warungnya mulai pukul 22.00 WIB.

''Saya menunggu toko yang ada di sini tutup,'' ujarnya sambil menunjuk warnet yang buka hingga pukul 22.00 WIB itu.

Meski sibuk bergelut dengan usaha warungnya, tapi Iis tak seratus persen meninggalkan sepak bola. Selain masih bermain bola di Lapangan Karangpilang,Surabaya, dengan rekan sebaya, dia juga mengisi kesibukan dengan melatih.

''Saya melatih HBS (klub internal Askot PSSI Surabaya). Ada yang di Sidoarjo dan juga ada yang di Bangkalan,'' lanjutnya.

Kini, dia juga baru saja mengantongi lisensi C AFC. Namun, Iis tak bermimpi terlalu jauh menjadi pelatih, apalagi bisa seperti rekannya, Nil Maizar. (*)

Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com