www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Berharap Tuah dari Sidoarjo

MEMORI INDAH: Stadion Gelora Delta Sidoarjo (foto:sidiq)

SIDOARJO bukan kota besar. Daerah berjuluk Kota Udang tersebut juga bukan kiblat sepak bola nasional seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, ataupun Jayapura.
 Klub milik pemerintah, Persida Sidoarjo, pun hanya berlaga di Divisi Utama atau level II kompetisi di Indonesia. Bahkan, klub yang pernah memiliki fans puluhan ribu, Deltras, kini sudah terdampar di Liga Nusantara, ajang kompetisi terendah di tanah air.
 Namun, Sidoarjo selalu menjadi pilihan utama Tim Nasional (Timnas) Indonesia dalam beberapa waktu terakhir untuk menggelar pemusatan latihan (training center). Mulai dari Timnas U-19 dengan pelatih Indra Sjafri.
 Hasilnya, Evan Dimas dkk mampu menjadi juara Piala AFF U-19. Dalam final yang dilaksanakan di Gelora Delta, Sidoarjo, pada 22 September 2013, Garuda Muda, julukan Timnas U-23, mengalahkan Vietnam lewat drama adu penalti 7-6.
 Kemudian,kota yang berbatasan dengan Surabaya tersebut dipilih timnas senior sebagai persiapan menyongsong Piala AFF 2014. Hariono dkk pada 7-15 September 2014.
 Selama di daerah yang dipimpin Bupati Saiful Ilah tersebut, anak asuh Alfred Riedl tersebut menjalani laga persahabatan melawan musuh beratnya, Malaysia. Hasilnya, Zulkifli Syukur dkk menang 2-0.
 Sayang, menjelang Piala AFF 2014 yang dilaksanakan di Singapura dan Vietnam, TC di pindahkan ke Jakarta. Riedl kurang berkenan dengan kondisi Sidoarjo. Hasilnya, Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, tersingkir di babak penyisihan.
 Kini, Sidoarjo pun diharapkan memberikan tuah  kepada Timnas U-23 yang dipersiapkan menghadapi SEA Games 2015. Pelatih Aji Santoso akan memboyong anak asuhnya ke kota yang kini juga mendapat julukan Kota Lumpur tersebut.
 ‘’Mulai 1 Februari, TC akan dilaksanakan di Sidoarjo.’’ Ungkap Aji. (*)

Read More

Tantangan Perdana Bejo di Tim Porprov Surabaya

AMANAT: Bejo Sugianto tengah menjalani umroh

BEJO Sugiantoro meniti karir baru. Untuk kali pertama, salah satu libero terbaik Indonesia sepanjang masa tersebut dipercaya memoles tim.
 ‘’Saya melatih tim Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) Surabaya. Ini menjadi debut saya sebagai pelatih,’’ kata Bejo kepada pinggirlapangan.
 Hanya, statusnya bukan sebagai pelatih kepala. Dengan masih minimnya pengalaman di dunia kepelatihan, Bejo berstatus asisten pelatih.
 ‘’Saya menjadi asisten Roffi (Sinaryo, mantan pemain kompetisi internal Persebaya yang musim lalu menjadi asisten tim Divisi Utama Persebo Bondowoso),’’  kata Bejo.
 Namun, dia tak terlalu mempersoalkan. Dia mengaku masih perlu banyak belajar untuk bisa menjadi arsitek tim.
 Ya, mulai 2014 atau setelah memperkuat PS Mojokerto Putra di ajang Kompetisi Divisi Utama, Bejo mulai mempraktikkan ilmu lisensi B AFC (Federasi Sepak Bola Asia) miliknya.
 Atas ajakan seniornya di Persebaya Surabaya, Ibnu Grahan, dia mulai menjadi pelatih di klub anggota internal Persebaya, Surabaya Football Club (SFC).  Tak butuh lama baginya untuk kemudian memoles Porprov Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Apalagi, dengan ilmu sepak bola yang didapatnya dari para pelatih top Indonesia, Bejo diyakini akan menjadi salah satu pelatih potensial.
 Hanya, Bejo tak bisa menunggui anak asuhnya sejak awal. Alasannya, saat ini, bapak tiga anak tersebut tengah menjalani ibadah umroh.
 ‘’Habis pulang umroh akhir Januari, saya langsung ikut melatih Porprov,’’ ujar Bejo. (*)

Read More

Dari Boyolal, Italia, hingga Kepri

PELATIH: Sapto Nugroho (kiri)

INDONESIA pernah punya PSSI Baretti. Kumpulan pemain muda ini digembleng di Italia pada di era pertenganan 1990-an.
 Di produk tersebut terdapat nama-nama yang kemudian menjadi penghuni Timnas PSSI Senior seperti Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi, Haryanto ‘’Tommy’’ Prasetyo, dan juga Elie Aiboy. Mereka datang ke Negeri Pizza, julukan Italia, menyusul seniornya yang sudah digembleng dalam PSSI Primavera. Nama Primavera diambil dari kompetisi pemain muda yang ada di Italia.
 ‘’Saya masuk lewat PSSI Pelajar. Waktu itu, PSSI Pelajar mampu menjadi juara di Asia. Ada enam pemain dari PSSI Pelajar yang masuk PSSI Baretti dan berangkat ke Italia termasuk saya dan Bejo,’’ ungkap Sapto Nugroho, alumnus PSSI Baretti.
 Pulang dari program PSSI Baretti, lelaki asal Boyolali, Jawa Tengah, tersebut langsung direkrut Petrokimia Putra Gresik. Dia dipercaya mengisi pos belakang.
 ‘’Saat itu, Petrokimia ditangani almarhum Andi Teguh dan lolos ke babak final. Namun, kalah oleh Persib Bandung di final Liga Indonesia I,’’ ucap lelaki yang kini berusia 37 tahun tersebut.
 Usai dari Kebo Giras,julukan Petrokimia Putra Gresik, Sapto pun mulai mencari pengalaman di banyak klub. Bahkan, klub sebesar Persija Jakarta pun pernah disinggahinya.
 Namun, karirnya akhirnya berhenti di Persiter Ternate. Saat itu, klub asal Maluku Utara tersebut ditangani Gusnul Yakin.
 Setelah pensiun sebagai pemain, Sapto pun tak bisa jauh dari sepak bola. Dia memilih menjadi pelatih.
 ‘’Namun, saya malah belum pernah menjadi pelatih di kampong halaman sendiri, Persebi Boyolali,’’ terangnya.
 Ya, karir pelatihnya dilalui di luar Jawa. Salah satunya PS Kapuas.
 Tim asal Kalimantan Tengah tersebut diangkatnya dari Divisi II  dan lolos ke Divisi I dengan status runner-up. Torehan prestasi ini membuatnya dipertahankan.
 ‘’PS Kapus main di Divisi I bukan Liga Nusantara.  Pada 2014, saya melatih PS Karimun di Provinsi Kepulauan Riau,’’ ungkap Sapto.
 Bahkan, pada 2015 ini, dia kembali memoles tim asal Sumatera Barat, PS Sijunjung. Dia berharap di usianya yang masih muda bisa mengambil banyak pelajaran untuk menuju jenjang karir di masa depan. (*)

Sekilas Tentang
Nama; Sapto Nugroho
Lahir: Boyolali, Jawa Tengah,5 September 1976
Tinggi: 178 cm
Istri: Asmawati
Anak: Teuku Amimar Mahardika, Kaka Sutan Muda, Cut Fakhira Syakila
Karir Pemain:Petrokimia Putra,Barito Putera,  Putra Samarinda, Persija Jakarta, Gelora Dewata, PSBL Bandar Lampung, Persiter Ternate
Karir Pelatih: PS Kapuas (Kalimantan Tengah), PS Karimun (Kepulauan Riau)
Lisensi: C AFC

Read More

Masuk Polisi dari Bermain Bola

BALI: I Made Wirahadi bersama keluarga

ADA gunanya sepak bola dalam mencari kerja. Bukan hanya mengais rezeki dari pekerjaan di kantor ataupun perusahaan.
 Dari sepak bola pula, I Made Wirahadi bisa menembus sekolah polisi. Sehingga, sejak 2003, dia pun bisa menjadi abdi negara.
 ‘’Ya begitulah. Ada hubungannya sepak bola dengan sepak bola,’’ kata I Made Wirahadi kepada pinggirlapangan.
 Lelaki kelahiran 24 April 1983 itu memang jago mengolah si kulit bundar di daerah asalnya, Bali. Perseden Denpasar pun menjadi klub pertamanya merasakan kerasnya persaingan di kompetisi sepak bola bayaran di Indonesia pada usianya masih 19 tahun.
 Pendidikan di sekolah bintara polisi sempat membuatnya absen. Namun, pada 2005, dia kembali ke Perseden. Setahun kemudian, suami dari Ni Nyoman Sukerti SE itu hijrah ke tim Bali lainnya, Persekaba Kabupaten Badung.
 Aksinya di lapangan hijau memikat pelatih papan atas Indonesia Benny Dolo. Saat itu, dia tengah membawa anak asuhnya, Persita Tangerang, menjalani training center (TC) di Pulau Dewata, julukan Bali.
 Nah, mulai 2007, Wirahadi pun memulai petualangan. Pendekar Cisadane, julukan Persita, menjadi pelabuhan karir pertamanya di luar Bali.
 Bapak dua anak,I Putu Davin Abimanyu (5) dan Ni Kadek Zanita Saraswati (3), membela Persita hingga 2009. Skillnya pun membuat Wirahadi berkostum klub kaya, Pelita Jaya.
 Saat usia emas, 28, tahun, raksasa sepak bola Indonesia,Persebaya Surabaya, pun  meminangnya. Dia menjadi andalan klub berjuluk Green Force itu di lini depan.
 Sinarnya sempat redup ketika berkostum Persijap Jepara pada 2012 dan Persiba Bantul setahun kemudian.  MUsim lalu, namanya sempat terdengar lagi ketika berkostum Perseru Serui di ajang ISL.
 ‘’Kini, saya di Balikpapan membela Persiba,’’ ujar lelaki berpangkat brigadir yang bertugas di Markas Besar (Mabes) Polri di Jakarta itu. (*)

Sekilas tentang
Nama: I Made Wirahadi
Lahir: Denpasar, Bali, 24 April 1983
Posisi: Striker
Istri: Ni Nyoman Sukerti SE
Anak: I Putu Davin Abimanyu (5), Ni Kadek Zanita Saraswati

 Karir:
2003, 2005: Perseden Denpasar  (Bali)
2006: Persekaba Kab Badung (Bali)
2007-2009: Persita Tangerang (Banten)
2010: Pelita Jaya Purwakarta (Jawa Barat)
2011: Persebaya Surabaya (Jawa Timur)
2012: Persijap Jeparan(Jawa Tengah)
2013: Persiba Bantul (DI Jogjakarta)
2014: Perseru Serui (Papua)
2015: Persiba Balikpapan (Kalimantan Timur)

Read More

Pelatih Spesialis Angkat Level

ORTAS: Nus Yadera usai berlatih di Stadion Jenggolo

MUSIM 2015, Borneo FC akan berlaga di ajang Indonesia Super League (ISL). Ini setelah tim asal Samarinda,  Kalimantan Timur, tersebut juara Divisi Utama musim 2014.
 Oke, Iwan Setiawan memang pelatih kepalanya. Namun, sebenarnya, sosok yang paling berperan membawa Borneo ke kasta elite adalah Nus Yadera.
 Dialah yang membentuk tim dari awal. Lelaki 48 tahun tersebut sudah mempersiapkan tim jauh-jauh di Sidoarjo.
 Selain itu, Nus juga dikenal sebagai pelatih yang paling banyak membawa tim yang ditangani promosi ke level lebih atas. Tercatat Persida Sidoarjo, PSIR Rembang, Persewangi Banyuwangi, PS Mojokerto Putra, Deltras, hingga Borneo.
 ‘’Belum lagi tim-tim yang lolos delapan besar seperti PSBI dan Mitra Kukar di ajang Divisi Utama. Mitra juga pernah lolos ke final Piala Gubernur Jatim,’’ kata Nus saat ditemui di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat (16/1/2015).
 Baginya, menaikkan derajat tim menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi, itu dilakukannya di berbagai tim.
 ‘’Yang saya naikkan dari Divisi II hingga ke ISL,’’ ungkap bapak dua anak tersebut.
  Padahal, karir Nus sebagai pelatih belum termasuk lama.Dia memulai karirnya menjadi arsitek tim usai pensiun sebagai pemain pada 2004.
 Lelaki yang berposisi sebagai gelandang bertahan ini tercatat pernah membela Persikasi Bekasi, Perkesa Mataram Jogjakarta , Gelora Dewata Bali yang kemudian menjadi Gelora Putra Delta (GPD) saat pindah ke Sidoarjo, Jawa Timur.
 ‘’Klub terakhir saya Persegi Gianyar pada 2003. Saat itu pelatihnya Freddy Muli. Setelah itu, saya sebentar ikut Maestro, klub Divisi III dari Surabaya,’’ ucap Nus.
 Karir kepelatihannya pun dimulai dari klub di kota yang ditinggalinya, Sidoarjo. Persida yang lama berkutat di Divisi III, dipromosikan ke Divisi II.
 Keberhasilan itu pun membuat Nus terus dipercaya memoles banyak tim. Bahkan, setelah Borneo promosi, dia juga mendapat tawaran kembali.
Statusnya pun tetap, asisten pelatih. Hanya, head coach bukan lagi Iwan tapi berpindah ke Arcan Iurie asal Moldova.
 ‘’Tapi, saya pilih balik saja ke Sidoarjo. Semoga bisa dapat tim lagi dan bisa membawanya promosi,’’ harap ayah Victor Jadera, mantan kapten Persida Junior, itu. (*)

Sekilas Tentang
Nama: Nus Yadera atau Nus Jadera
Usia: 48 tahun
Karir Pemain:
-Persikasi
 -Perkesa Mataram
- Gelora Dewata
-Gelora Putra Delta
- Persegi

 Karir Pelatih
-Persida Sidoarjo
 -PSIR Rembang
-Persewangi
-PS Mojokerto Putra
-Mitra Kukar
-Deltras
-PSBI Blitar
-Perseba Bangkalan
-Borneo FC
Read More

Dari Pencak Silat Tembus Persebaya

KARIR: Nugroho bersama putrinya (foto:sidiq)

BERTAHAN lima musim di satu klub bukan hal yang mudah. Apalagi, persaingan di kompetisi elite sangat ketat.
 Namun, itu pernah dilakukan Nugroho Mardiyanto. Dari 2005-2010, lelaki asal Sepanjang, Sidoarjo, tersebut berkostum Persebaya Surabaya, klub besar di pentas sepak bola Indonesia.
 ‘’Saya masuk saat Persebaya dilatih Jacksen F. Tiago dan merekrut banyak pemain muda,’’ kata Nugroho saat ditemui di kawasan Ngelom, Sepanjang.
 Saat kali pertama masuk Green Force, julukan Persebaya, dia langsung mendapat pengalaman internasional. Nugroho masuk dalam skuad Persebaya yang berlaga dalam kancah Liga Champions Asia.
 Di Persebaya pula, Nugroho memperoleh nama besar. Dia sempat disebut-sebut sebagai stopper muda terbaik Indonesia pada era 2005-2010.
 Padahal, sebenarnya, dia telat saat terjun di olahraga sepak bola. Lelaki 180 sentimeter tersebut memulai karir sepak bolanya saat usianya sudah 13 tahun atau saat menginjak bangku sekolah menengah pertama (SMP).
 ‘’Kecil, saya bermain bola voli. Saya juga ikut pencak silat,’’ kenang lelaki yang kini menjadi bapak dua anak tersebut.
 Kedua olahraga itu pun dilakoni dengan serius. Bahkan di pencak silat, sabuk yang dimiliki sudah tinggi untuk anak seusianya.
 ‘’Karena di SMP olahraganya hanya sepak bola, mau tidak mau saya ya main sepak bola. Lama-lama, jadi suka dengan sepak bola,’’ terang Nugroho.
 Nah, dia pun diajak oleh rekan-rekannya sekolah bergabung dengan sekolah sepak bola yang tak jauh dari rumahnya. Hanya, latihannya tak rutin.
 Saat usianya 14 tahun, Nugroho bergabung dengan dua SSB yakni di Ketegan (Sidoarjo) dan Menanggal (Surabaya). Dia berlatih di Menanggal karena tertarik dengan lapangannya yang bagus.
 ‘’Pas lihat ada lapangan bola kok bagus sekali, saya ingin gabung dengan SSB di Menanggal yakni Nanggala. Jadi, saya latihan di dua SSB,’’ papar pemain yang pernah mendapat tawaran bergabung dengan PSM Makassar itu.
 Setahun kemudian, dia diajak oleh tetangganya yang juga mantan bek Persebaya Muharom Rusdiana untuk berlatih di klub senior, Suryanaga. Saat kali pertama masuk, Nugroho hanya jadi pelengkap di klub binaan Michael tersebut.
 Saat itu pada 1999-2000, Suryanaga diisi oleh pemain-pemain yang bakal bermain di Liga Indonesia seperti Suroso (pernah bermain di Persebaya Surabaya,Deltras Sidoarjo, Persela Lamongan, Persik Kediri, dan kini di Arema), Widi Susanto (Persedikab Kabupaten Kediri, Petrokimia Gresik, Persmin Minahasa, dan Mitra Kukar), Hendri  Puji (Persebaya, Petrokimia, Persibo Bojonegoro, dan Persis Solo), serta Jainal Ichwan (Petrokimia, Deltras, Persija Jakarta, Persita Tangerang,dan juga pernah berkostum Timnas Indonesia).
 ‘’Saya hanya ikut pemanasan dan setelah itu jadi penonton. Susah masuk tim karena materi pemain memang bagus-bagus,’’ lanjut Nugroho.
 Namun, ada hikmah di balik itu. Dia banyak menyerap ilmu dari para seniornya itu.
 Nah, itu sangat berguna ketika Nugroho mengikuti seleksi di Persebaya Junior yang bakal berlaga di Liga Remaja. Dengan usianya masih 17 tahun, alumnus SMA YPM Sepanjang tersebut masuk tim.
 ‘’Dua musim saya bermain di Liga Remaja. Pada 2002, saya juara dan setahun kemudian menempati posisi III. Saat juara, saya masih cadangan,’’ ungkap Nugroho.
 Usai melepas masa remaja, Nugroho mendapat kesempatan membela Surabaya Muda. Aksinya saat bertanding mendapat pantauan pelatih Persebaya ketika itu, Jacksen F. Tiago. Gerbang masuk senior pun terbuka baginya.
 ‘’Saya masuk dalam tim ketika menjuarai Divisi I pada 2006. Pelatihnya Freddy Muli,’’ tambahnya.
 Namun, pada 2010,kebersamaan Nugroho dengan Persebaya berakhir. Pelatih Aji Santoso tak cocok dengannya.
 Setelah itu, petualangannya bersama beberapa klub dimulai. PSBI Blitar, PS Mojokerto, dan Persebo Bondowoso pernah dibelanya.
 ‘’Namun, yang paling berkesan ya bersama Persebaya. Banyak yang saya dapat, mulai dari nama yang dikenal hingga materi,’’ pungkas Nugroho. (*)

Sekilas Tentang
Nama: Nugroho Mardiyanto
 Lahir: Sidoarjo, 15 Maret 1984
Tinggi: 180 sentimeter
Posisi: Stopper
Karir:
2002-2003: Persebaya Junior
2004-2005: Surabaya Muda
2005-2010: Persebaya
2010-2011: PSBI Blitar
2011-2012: PS Mojokerto Putra
2012-2013: Persebaya
2013-2014: PS Mojokerto Putra
Read More

Jacksen Serasa di Kampung Halaman

WARNA BRASIL: Jacksen (kiri) bersama Hilton, Beto, dan Lobo.
PETUALANGAN baru tengah dilakoni Jacksen F. Tiago. Musim ini, dia dipercaya menangani Penang FC, klub Premier League (Divisi Utama, level kedua) Liga Malaysia.
 Meski berada di negara yang baru kali pertama didatangi, baik sebagai pemain maupun pelatih, namun Jacksen tak merasa asing. Bahkan, dia seperti sedang berada di kampung halamannya.
 Alasannya, dari pemain dan pelatih berasal dari Brasil, negara asalnya. Di jajaran pelatih, lelaki 46 tahun tersebut dibantu oleh Amilton da Silva Oliviera serta asisten kiper Jose Alberto Silvestre Quitete. Musim lalu, keduanya juga membantu Jacksen di Persipura Jayapura.
 Di barisan pemain, ada tiga legiun yang berasal dari Negeri Samba, julukan Brasil. Mereka adalah Reinaldo Lobo (belakang), Hilton Moreira (tengah), dan Beto Goncalvez. Menariknya, ketiga pernah merumput di Indonesia. Bahkan, musim lalu Lono masih berkostum Mitra Kutai Kartanegara (Kukar) dan Beto di Arema Indonesia. Sedangkan Hilton dua musim sudah meninggakan Persib Bandung dua tahun lalu.
 ‘’Ketiganya sudah kompak di Penang. Ini menjadi senjata kami untuk mengarungi Premier League,’’ kata Jacksen.
 Konstribusi ketiganya, tambahnya, sudah terliat menjelang kompetisi.Selama  enam kali uji coba, Penang belum pernah menelan kekalahan.
 ‘’Melawan tiga tim super league (level kompetisi tertinggi di Malaysia), kami dua kali draw dan sekali imbang. Sedang melawan tim Premier League, kami dua kali menang dan sekali imbang,’’ ungkap Jacksen.
 Sayang, ujarnya, agenda melakukan uji coba di Indonesia urung dilaksanakan. Semula, ungkapnya,  dia akan membawa anak asuhnya uji kemampuan pada 7 dan 11 Januari.
 ‘’Tapi batal karena bersamaan dengan agenda launching tim.Sehingga, kami hanya bermain di sekitar KL (Kuala Lumpur, red),’’ paparnya.
 Dia optimistis Penang mampu dibawanya menembus Super League. Hanya, dia tetap menekankan Hilton dkk tetap semangat dan tidak cepat puas.
 Jacksen merupakan sosok yang sukses di pentas sepak bola Indonesia.Sebagai pemain, dia mampu mengantarkan Persebaya Surabaya sebagai juara Divisi Utama (saat itu masih menjadi kasta tertinggi sepak bola Indonesia) pada 1996-1997. Itu dilengkapi dengan gelar individu sebagai pencetak gol terbanyak (top scorer).
 Di Green Force, julukan Persebaya, pada 2003, Jacksen mampu mengangkat Persebaya ke Divisi Utama. Setahun kemudian, lelaki kelahiran 28 Mei tersebut mengantarkan tim pujaan Bonek itu meraih titel juara Divisi Utama.
 Polesan tangan dinginnya kembali dirasakan Persipura Jayapura. Selama berada di Bumi Papua (2008-2014), lima gelar sudah disumbangkannya.
 Juara Indonesia Super  League (ISL, kasta tertinggi) dipetik pada 2008-2009, 2010-2011, 2012-2013. Setelah itu, Indonesia Community Shield pada 2009, dan Inter Island Cup 2011.
 Sebelum meninggalkan Persipura, sisa polesannya pun masih manjur. Boaz Solossa mampu menembus final ISL 2013-104 sebelum ditundukkan Persib Bandung.
 Di sela-sela menangani Mutiara Hitam, julukan Persipura, Jacksen juga memoles timnas Indonesia pada 2013. Salah satunya, dia mampu mengalahkan Filipina 2-0 di Solo, Jawa Tengah.
Setahun kemudian di Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara), gantian Filipina mempermalukan Indonesia 4-0. Hanya, timnas Indonesia sudah berganti dipoles Alfred Riedl asal Austria. (*) 
Read More

Belum Mau Jadi WNI

Evando Antonio (foto:sidiq)

POSTURNYA tidak terlalu tinggi untuk pesepak bola profesional. Dia hanya 165 sentimeter.  Kulitnya pun putih. Wajar kalau awalnya banyak yang menyangka pesepak bola tersebut berasal dari Eropa.
 ‘’Saya lahir dan besar di San Paolo, Brasil. Jadi, saya asli Amerika Selatan,’’ kata lelaki yang bernama Evandro Antonio Devilaqua tersebut.
 Meski tergolong kecil, tapi skill dan teknik sepak bola yang dimiliki termasuk jempolan. Akurasi umpannya sangat akurat dan juga mempunyai long pass yang jitu.
 ‘’Saya datang ke Indonesia pada 2006. Saya diajak teman asal Brasil untuk mengikuti seleksi di Mitra Kukar (Kutai Kartanegara),’’ kenang Evandro yang bertemu dengan pinggirlapangan di Lapangan Jenggolo, Sidoarjo.
 Saat itu, terangnya, Naga Mekes, julukan Mitra Kukar, dipoles Ivan Kolev asal Bulgaria. Di antara rekan-rekannya satu tim asal Nova Zaenal.
 Usai dari Mitra Kukar, Evandro pun berpindah-pindah klub. Ada PSPS Pekanbaru, Persih Tembilahan, Deltras Sidoarjo, PS Mojokerto Putra, Persepam Pamekasan, dan PSBI pernah dibelanya.
 Namun, dari semua klub itu, Persih menjadi klub yang paling jauh dibelanya. ‘’Perjalanannya sangat jauh. Dari Pekanbaru (ibu kota provinsi Riau) melakukan perjalanan darat bisa sampai 5-6 jam,’’ ungkap Evando yang berposisi sebagai gelandang tersebut.
 Hanya, di Sidoarjo yang mampu membuatnya betah. Seorang wanita Kota Udang, julukan Sidoarjo, membuatnya terpikat. ‘’Saya sudah punya anak satu. Kami tinggal di sebuah perumahan di Kecamatan Buduran,’’ tambah Evandro.
 Meski sudah mempersunting gadis Indonesia, tapi Evandro belum berniat menjadi warga negara Indonesia (WNI).Resikonya,dia harus sering ke Singapura untuk menurus surat keimigrasiannya. (*)

Read More

Jadi wasit, Bisa Datangi Ujung Indonesia

TENTARA:Solikin (foto:sidiq)

KINI, Solikin berstatus wasit nasional. Kompetisi yang dipimpinnya bukan sudah level elite, Indonesia Super League (ISL).
 ‘’Tapi, saya juga memulainya dari bawah, dari kompetisi internal Persebaya Surabaya. Saya jadi wasit sejak 2002,’’ terang Solikin kepada pinggirlapangan.
 Dia memutuskan menjadi wasit setelah merasa karirnya sebagai pesepak bola sudah merasa mentok. Saat itu, usianya sudah mendekati 30 tahun.
 ‘’Saya dulu pemain PSAD Korem Bhaskara Jaya, Surabaya. Dengan usia  yang semakin tua dan belum juga menjadi pemain terkenal, ya saya memutuskan menjadi wasit saja,’’ kata Solikin.
 Ya, Solikin sendiri merupakan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dia masuk menjadi pengawal negara sejak dari tamtama.
 ‘’Dari Bandunglah, saya masuk menjadi TNI. Kali pertama bertugas, juga di sana. Saya hapal tentang kota itu,’’ ujar Solikin.
 Nah, karir sepak bolanya pun tersalurkan dengan seringnya mengikuti kejuaraan sepak bola antarbatalion. Itu tetap dilakukannya ketika pindah ke Surabaya pada 1998.
 ‘’Tapi, lama-lama kan tambah tua  juga. Saya hanya ingin jadi wasit, bukan pelatih kalau sudah nggak main bola,’’ papar Solikin.
 Keinginan lelaki yang kini tinggal di sebuah perumahan di Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, itu pun mendapat dukungan dari atasannya. Dia pun diharapkan mampu membawa nama baik kantor  di luar.
 ‘’Setelah  C3, C2, kemudian pada 2006 saya mendapat kesempatan mengikuti C1 di Bali. Saat itu, Persebaya memberangkatkan banyak wasit,’’ ujar Solikin.
 Hanya, saat itu, dia sudah merasa jenjang karirnya sebagai pengadil lapangan bakal berkutat di tingkat nasional. Alasannya, usianya sudah lewat untuk bisa bisa mengantongi lisensi AFC (Federasi Sepak Bola Asia) ataupun juga FIFA (Federasi Sepak Bola Dunia).
 ‘’Saat di Bali, saya satu angkatan dengan Oki (Dwi Putra asal Bandung). Dia memang oleh instruktur wasit saat kursus sudah diincar jadi wasit internasional,’’ kenang Solikin.
 Setelah mengantongi lisensi nasional, Solikin tak hanya memimpin di wilayah Jawa Timur. Dia merambah ke berbagai provinsi.
 ‘’Bahkan, saat sudah menjadi wasit ISL, dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia sudah saya datangi. Kalau enggak jadi wasit, ya belum tentu bisa,’’ ungkap bapak tiga anak tersebut.
 Agar dia bisa eksis menjadi wasit di kompetisi papan atas, Solikin pun harus pintar menjaga kondisi tubuhnya. Selain tentunya dia terus belajar soal perwasitan. (*)

Read More

Banyak Ilmu dari Italia

Mustaqim dan Aji mengapit Zdenek Zeman

KEMAMPUAN Mustaqim sebagai pelatih sudah tak diragukan. Dia dikenal sebagai pelatih yang pandai meracik strategi.
 Salah satu hasil dari tangan dinginnya memoles tim adalah mengantarkan Jawa Timur dua kali menjadi juara PON yakni pada 2000 dan 2004. Saat pesta olahraga empat tahunan itu dilaksanakan di JawaTimur, Mustaqim masih berstatus sebagai asisten pelatih dari (alm) Rusdy Bahalwan.
 Empat tahun kemudian di Sumatera Selatan, bapak tiga anak tersebut naik pangkat menjadi pelatih kepala. Jefri Dwi Hadi dkk diangkatnya menjadi juara.
 Setelah itu, pinangan klub pun bertubi-tubi datang kepadanya. Persela Lamongan kembali meminangnya. Setelah itu,  ada nama Gresik United (sekarang Persegres), Mitra Kukar, PKT Bontang, kembali ke Mitra Kukar, Deltras Sidoarjo, dan Kabupaten Sumbawa Barat pun menambah daftar tim yang ditangani.
 Kini, mulai 2014 lalu, Mustaqim mendapat mandat memoles Timnas U-23. Dia menjadi asisten Aji Santoso.
 Nah, kesempatan menangani Timnas U-23 juga membuat lelaki yang kini tinggal di kawasan Rungkut, Surabaya, itu pun terbang ke beberapa negara.
 Salah satunya ke Italia. Mustaqim pun terkesan selama berada di Negeri Pizza,julukan Italia.
 Apalagi, di sana, dia memperoleh kesempatan mengunjungi beberapa tempat latihan di klub-klub bergengsi seperti AS Roma, Lazio, dan Cagliari.
 ’’Semua yang dibutuhkan untuk membentuk pemain terjun di kompetisi sudah siap. Tempat latihannya sudah komplet,’’ puji Mustaqim.
 Selain itu, para pemain Italia sangat profesional. Mereka tak pernah menganggap enteng lawan. Meski tim yang dihadapi ‘’hanya’’ U-23 dari negeri antah berantah di kancah sepak bola dunia, Indonesia.
 Saat melawan Indonesia, I Lupi (Srigala), julukan AS Roma, pada babak pertama, tampil dengan kekuatan penuh. Sang legenda yang juga kapten AS Roma, Francesco Totti ikut turun ke lapangan. Begitu juga dengan bintang baru klub ibu kota yang berdarah Indonesia, Radja Nainggolan. Merah Putih  pun kalah 1-3 dalam laga uji coba yang dilaksanakan di Stadio Centro I’Italia, Rieti, pada 18 Juli 2014. Tiga hari kemudian (20/7),giliran Lazio yang mengalahkan Timnas U-23 dengan 2-0. Dan kekalahan Indonesia ditutup oleh Cagliari juga dengan 0-2 (23/7).Ketika itu, Cagliari masih dipoles pelatih senior Zdenek Zeman.
 ‘’Banyak sekali yang diperoleh selama di sana,’’ kenang Mustaqim. (*)

Read More

Dua Kali Bawa Lolos ke Kasta Elite


PRESTASI: Fachrudin
APRESIASI layak diberikan kepada Fachrudin. Dia dua kali mampu membawa tim yang dibelanya menembus kompetisi elite di pentas sepak bola Indonesia. Dia melakukannya saat berkostum PSIS Semarang pada musim 2000-2001 dan Deltras Sidoarjo pada 2009.
 Bedanya, di Mahesa Jenar, julukan PSIS, dia mengangkat ke Divisi Utama. Sedang bersama Deltras, The Lobster, julukan Deltras, dibawanya ke Indonesia Super League (ISL)
 ‘’Hanya dua kali. Tapi, itu sudah menjadi kebanggan tersendiri,’’ kata Fachrudin.
 Apalagi, dia melakukannya di awal dan akhir karirnya di lapangan hijau. Lelaki asal Surabaya, Jawa Timur, tersebut saat ini sudah gantung sepatu dan lebih memilih menekuni karir sebagai pelatih.
 ‘’Sebenarnya, usai promosi ke ISL, saya dapat tawaran dari Bos Vigit (Waluyo) untuk kembali bermain di Deltras,’’ ucap Fachrudin.
 Hanya, dia menolaknya. Alasannya, konsentrasinya sudah bukan lagi sepak pesepak bola.
 ‘’Saya sudah mulai belajar jadi pelatih. Usia juga sudah tak muda lagi,’’ ungkap lelaki kelahiran 1976 tersebut.
 Selama karirnya, Fachrudin sudah berpetualang dari satu klub ke klub yang lain. Setelah dari PSIS Semarang, bapak dua anak tersebut memperkuat Mitra Kutai Kartanegara (Kukar), Persid Jember, Persegi Gianyar.
 ‘’Setelah itu, saya sempat kembali ke PSIS. Nah, dari PSIS pada 2008, saya membela Persebaya Surabaya,’’ ucap Fachrudin.
 Selama di Green Force, julukan Persebaya, dia ditangani oleh pelatih yang ikut membentuk karakternya, Freddy Mulli. Dia pernah bersama Freddy di Persid dan Persegi.
 Meski masih termasuk pelatih muda, Fachrudin sudah kenyang menangani tim. Bahkan, dia bisa menjadi asisten pelatih klub Divisi Utama, Mojokerto Putra.
 Pilihannya untuk menjadi arsitek tim membuat Fachrudin pun bertekad untuk selalu menambah ilmunya. Lisensi internasional, AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia), menjadi idamannya yang selalu ingin dicapai. (*)
 
Read More

Sang Penerus di Posisi yang Sama

TINGGI: Rachman Irianto (tiga kiri dari di belakang)
BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa tersebut tepat untuk menggambarkan perjalanan Bejo Sugiantoro.
 Sang putra, Rachmat Irianto, 16, mengikuti jejaknya di lapangan hijau. Bukan hanya itu, anaknya tersebut juga berposisi sama dengannya sebagai pemain belakang.
 ‘’Sekarang, Rachmat ikut Frenz. Saat ini, dia tampil dalam sebuah kejuaraan di Palembang, Sumatera Selatan, Frenz United U-18’’ kata Bejo.
 Rachmat pun selalu tampil dalam setiap pertandingan. Itu terlihat saat timnya, Frenz United Indonesia menang 3-0 atas Guangzhou, Tiongkok, di Gelora Jakabaring, Palembang, pada Rabu (7/1). Dalam laga itu, Rachmat tampil di dua posisi, bek tengah dan gelandang bertahan.
 ‘’Awalnya, Rachmat bermain di bek tengah. Tapi, di tengah pertandingan, dia digeser menjadi gelandang bertahan,’’ucap Bejo.
 Pergantian posisi itu, tambah dia, karena saingan sang putra hanya bisa bermain   di satu posisi. Lain halnya dengan Rachmat.
 Demi mendukung karir anaknya, Bejo, pun rela berpisah dengan sang buah hati. Saat ini, Rachmat digembleng di Janda Baik, Pahang, Malaysia.
 Nah, saat menjalani pertandingan di Indonesia, kadang Bejo bisa bersua dengan Rachmat, yang dulunya juga sempat bermain sebagai penyerang. Secara positif,  lelaki yang disebut-sebut sebagai salah satu libero terbaik Indonesia sepanjang masa tersebut mendukung kemajuan sang anak. Posturnya dinilai sangat pas sebagai bek tengah.
 ‘’Tingginya sudah 180 sentimeter. Tinggi dan proposional untuk menjadi bek tengah,’’ ungkap Bejo.
 Bejo merupakan salah satu talenta terbaik yang lahir di Indonesia. berposisi libero, dia menjadi benteng yang tangguh.
 Karirnya lama dihabiskan di Surabaya yang juga menjadi klub pertamanya di pentas sepak bola bayaran.
 Lelaki kelahiran 2 April 1977 tersebut pada usia 17 sudah masuk Green Force, julukan Persebaya. Bahkan, setahun kemudian, Bejo dipercaya masuk program bergengsi PSSI Baretti di Italia.
 Sayang, dia tak betah dan memutuskan kembali ke Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Hingga 2002, dia selalu menjadi pilihan utama di bek tengah bersama Mursyid Effendi.  Selama rentang itu, Bejo menjadi bagian Persebaya ketika menjadi juara Liga Indonesia pada 1996/1997.
 Pil pahit dirasakannya saat degradasi pada 2002 yang membuatnya pindah ke PSPS Pekanbaru. Namun, setahun kemudian, dia balik ke Persebaya.
 Empat tahun dia berkostum hijau-hijau hingga 2008. Setelah itu, Bejo pun berpindah-pindah klub dari Mitra Kukar Kutai Kartanegara, Persidafon Dafonsoro, dan PS Mojokerto Putra. Kini, Bejo juga aktif melatih di Surabaya Football Club (SFC) binaan seniornya di Persebaya, Ibnu Grahan. (*)
.

Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com