www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kamis, 08 Januari 2015

Sang Penerus di Posisi yang Sama

TINGGI: Rachman Irianto (tiga kiri dari di belakang)
BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Peribahasa tersebut tepat untuk menggambarkan perjalanan Bejo Sugiantoro.
 Sang putra, Rachmat Irianto, 16, mengikuti jejaknya di lapangan hijau. Bukan hanya itu, anaknya tersebut juga berposisi sama dengannya sebagai pemain belakang.
 ‘’Sekarang, Rachmat ikut Frenz. Saat ini, dia tampil dalam sebuah kejuaraan di Palembang, Sumatera Selatan, Frenz United U-18’’ kata Bejo.
 Rachmat pun selalu tampil dalam setiap pertandingan. Itu terlihat saat timnya, Frenz United Indonesia menang 3-0 atas Guangzhou, Tiongkok, di Gelora Jakabaring, Palembang, pada Rabu (7/1). Dalam laga itu, Rachmat tampil di dua posisi, bek tengah dan gelandang bertahan.
 ‘’Awalnya, Rachmat bermain di bek tengah. Tapi, di tengah pertandingan, dia digeser menjadi gelandang bertahan,’’ucap Bejo.
 Pergantian posisi itu, tambah dia, karena saingan sang putra hanya bisa bermain   di satu posisi. Lain halnya dengan Rachmat.
 Demi mendukung karir anaknya, Bejo, pun rela berpisah dengan sang buah hati. Saat ini, Rachmat digembleng di Janda Baik, Pahang, Malaysia.
 Nah, saat menjalani pertandingan di Indonesia, kadang Bejo bisa bersua dengan Rachmat, yang dulunya juga sempat bermain sebagai penyerang. Secara positif,  lelaki yang disebut-sebut sebagai salah satu libero terbaik Indonesia sepanjang masa tersebut mendukung kemajuan sang anak. Posturnya dinilai sangat pas sebagai bek tengah.
 ‘’Tingginya sudah 180 sentimeter. Tinggi dan proposional untuk menjadi bek tengah,’’ ungkap Bejo.
 Bejo merupakan salah satu talenta terbaik yang lahir di Indonesia. berposisi libero, dia menjadi benteng yang tangguh.
 Karirnya lama dihabiskan di Surabaya yang juga menjadi klub pertamanya di pentas sepak bola bayaran.
 Lelaki kelahiran 2 April 1977 tersebut pada usia 17 sudah masuk Green Force, julukan Persebaya. Bahkan, setahun kemudian, Bejo dipercaya masuk program bergengsi PSSI Baretti di Italia.
 Sayang, dia tak betah dan memutuskan kembali ke Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Hingga 2002, dia selalu menjadi pilihan utama di bek tengah bersama Mursyid Effendi.  Selama rentang itu, Bejo menjadi bagian Persebaya ketika menjadi juara Liga Indonesia pada 1996/1997.
 Pil pahit dirasakannya saat degradasi pada 2002 yang membuatnya pindah ke PSPS Pekanbaru. Namun, setahun kemudian, dia balik ke Persebaya.
 Empat tahun dia berkostum hijau-hijau hingga 2008. Setelah itu, Bejo pun berpindah-pindah klub dari Mitra Kukar Kutai Kartanegara, Persidafon Dafonsoro, dan PS Mojokerto Putra. Kini, Bejo juga aktif melatih di Surabaya Football Club (SFC) binaan seniornya di Persebaya, Ibnu Grahan. (*)
.

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com