www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Bukan Petugas Keamanan Biasa

Ali Zaini (foto;sidiq)

POTONGAN rambutnya cepak. Jika tak memakai seragam petugas keamanan, dia pasi dikira polisi atau pun anggota tentara nasional Indonesia (TNI).

Apalagi, posturnya tak gemuk atau banyak timbunan. Lelaki itu bertugas menjaga gerai anjungan tunai mandiri (ATM) sebuah bank milik pemerintah.

Petugas keamanan itu adalah Ali Zaini. Dulunya,dia adalah bek andalan klub besar,Persebaya Surabaya.

''Saya membela Persebaya pada 1989-1992. Masa itu masih masa perserikatan,'' terang Ali.

Posisinya sebagai bek di era itu sempat mengundang decak kagum. Bahkan, pemain kelahiran 1969 tersebut juga produktif menjebol gawang lawan.

Salah satunya golnya yang tercatat di sebuah website data adalah ke gawang PSDS Deli Serdang dalam pertandingan enam Grup A Perserikatan 1991/1992. Donasinya membawa Green Force, julukan Persebaya, menembus semifinal. Sayang, Ali dkk tertahan di semifinal usai dijungkalkan PSMS Medan dengan 4-2 pada 27 Februari 1992.

Pada 1992, Ali hijrah ke klub tetangga, Persegres Gresik. Di Kota Pudak itu, dia bertaan selama dua musim.

''Di sanalah, saya juga merasakan kompetisi Liga Indonesia,'' kenang Ali.

Setelah itu, dia berkelana dari satu klub ke klub yang lain di Jawa Timut mulai Madiun hingga Persem Mojokerto. Meski, sebenarnya, dia masih ingin merasakan kerasnya persaingan di Divisi Utama Liga Indonesia.

''Pernah ada tawaran ke Persiba Balikpapan, tapi keluaga kurang berkenan. Saya mengikuti saja,'' ungkapnya.

Bahkan, Ali pun juga pernah berlaga di kompetisi antarklub anggota Persebaya Surabaya. Itu dilakukannya di akhir karirnya.

''Setelah bekerja, tetap main bola. Hanya, bukan untuk prestasi tapi olahraga,'' paparnya.

Kecintaannya dengan olahraga bola sepak juga tak bisa ditinggalkannya. Dunia kepelatihan pun mulai ditekuni.

Di level senior, Ali memoles Perseka Kalanganyar, Sedati, Sidoarjo. Sementara, di junior, dia menjadi arsitek SSB Jenggolo.

Sebagai pelatih, tangan dinginnya cukup terbukti. Pada 2015, Perseka menjadi juara di Kompetisi Kelas Utama Pengkab PSSI Sidoarjo.

Imbasnya, Ali pun masuk deretan pelatih tim sepak bola Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kabupaten Sidoarjo. Dia menjadi asisten Istiqoh Hadi Susanto serta berpartner dengan pelatih kiper Dedy Siswanto. (*)
Read More

Aji Akan Lakukan Evaluasi Total

;
BENAHI:Aji Santoso tengah memberikan arahan (foto: sidiq)

TIM Nasional (Timnas) U-23 baru saja menggelar pemusatan latihan (training center). Evan Dimaz dkk digenjot mulai 1-17 Februari di Kota Udang, julukan Sidoarjo.

Bahkan, Garuda Muda,julukan Timnas U-23, menggelar tiga kali uji coba. Dua kali melawan Syria pada 10 Februari dan 14 Februari. Hasilnya sempat imbang 1-1pada pertemuan perdana, Indonesia menyerah telak 0-3 di laga kedua yang sama-sama dilaksanakan di Gelora Delta, Sidoarjo.

Tapi, pada 17 Februari, anak asuh Aji Santoso tersebut mampu mengalahkan Malaysia dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang merah putih disumbangkan gelandang dengan tenaga ekstra Paulo Sitanggang.

Puaskan Aji? ''Masih banyak yang harus dibenahi untuk menuju yang lebih baik,'' kata Aji kepada pinggirlapangan.

Dia akan melakukan evaluasi menyeluruh baik sentuhan bola pertahanan maupun penyerangan. Selain itu, komunikasi antarlini bakal lebih mendapat perhatian serius.

Apalagi, tambah dia, dalam waktu dekat, anak asuhnya bakal dituntut menembus Piala Asia U-23. Perjuangan itu akan dimulai dalam Pra Kualifikasi Asia yang dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 27-31 Maret mendatang. Indonesia bergabung dalam Grup H bersama dengan Korea Selatan, Timor Leste, dan Brunei Darussalam. Di atas kertas, Indonesia bisa lolos karena juara dan runner-up yang bakal lolos.

Rencananya, pada 1 Maret mendatang, Aji akan kembali mengumpulkan anak asuhnya. Hanya, pemusatan latihan besar peluang tak dilaksanakan di Sidoarjo lagi. (*)
Read More

Masuk Kantor dan Sore Tetap Isi Absen

ABDI NEGARA: Ibnu Grahan (foto:sidiq)

BERTEMU Ibnu Grahan dengan celana pendak atau training panjang dan kaos sepak bola sudah biasa. Itu dilakukan saat dia berada di lapangan hijau, baik saat aktif sebagai pemain sepak bola atau sesudah memutuskan menjadi pelatih sepak bola.

Tapi, saat bertemu Ibnu dengan celana panjang coklat dan baju kerah coklat menjadi hal langka.Apalagi, ada logo Pemkot Surabaya di lengannya.

''Status saya kan masih pegawai Pemkot Surabaya. Ini pakaian yang harus saya kenakan saat Senin,'' kata Ibnu.

Ya, selain dikenal sebagai arsitek tim, bapak tiga anak-Yohansyah Primaditya, Erliga Danelo Ramadan, Arliga Kanza Al-Ayubi- itu juga menjadi PNS. Dia bertugas Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Pahlawan, julukan Surabaya.

''Saya baru diangkat pada 2010. Sebelumnya, saya lama menjadi pegawai honorer,'' ungkap Ibnu.

Bahkan, dia pun sempat menolak tawaran menjadi abdi negara di sebuah instansi juga milik pemkot Surabaya. Padahal, ketika itu, rekan-rekannya di Green Force, julukan Persebaya, memilih menerima tawaran tersebut.

''Pada 1990-an, saya masih pingin bermain sepak bola. Konsentrasi saya betlatih dan bermain tanpa dibebani pekerjaan,'' ungkap lelaki kelahiran 23 Juli 1967 tersebut.

Namun, saat karir sepak bolanya mulai redup, Ibnu pun kembali ingin bekerja. Hanya, pekerjaan tersebut tetap tak menganggunya untuk berkarir di sepak bola.

''Menjadi honorer menjadi pilihan utama. Tapi, akhirnya status pegawai tetap bisa saya raih,'' ujar suami Wahyu Rina Damayanti.

Sebagai PNS, lelaki yang dikenal sebagai jenderal lapangan tengah itu tetap aktif masuk kantor. Bahkan, saat menjelang pukul 16.00 WIB, dia masuk ke kantor untuk absen.

''Tentunya itu kalau saya nggak pas melatih,'' ujar Ibnu.

Dengan menjadi PNS di kota sendiri, Ibnu pun lebih banyak memoles Persebaya Surabaya. Meski, dia sempat tercatat pernah memoles tim luar seperti PS Kabupaten Sumbawa Barat dan Persela Lamongan U-21.

Kini, dalam Indonesia Super League (ISL) 2015, mantan kapten Persebaya ini kembali dipercaya menjadi nakhoda tim yang pernah dibelanya. Hanya, asa juga tak ringan dibebankan kepada lelaki yang juga pernah berkostum Mitra Surabaya dan Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS).

Publik Surabaya sudah lama rindu juara. Kali terakhir, tim pujaan Bonekmania tersebut menjadi juara di ajang Divisi Utama, yang saat itu masih menjadi kompetisi paling elite pada 2004. (*)
Read More

Ancang-Ancang Terjun sebagai Pelatih

Uston Nawawi (foto:sidiq)

SEORANG lelaki tengah serius joging di sentel ban luar Gelora Delta,Sidoarjo, Jawa Timur, pada Sabtu pagi. Dengan pakaian oranya yang dikenakan, dia kadang melakukan sprint-sprint.

Bagi insan sepak bola, lelaki itu sudah sangat terkenal. Dia adalah Uston Nawawi.

Badannya pun masih proporsional. Tidak ada timbunan lemak di tubuhnya.

Ya, Uston masih seperti ketika dia menjadi jenderal lapangan tengah Timnas Indonesia di akhir 1990-an dan awal 2000-an. Dia rajin menjaga tubuhnya karena lelaki asal Sukodono, Sidoarjo, tersebut masih aktif sebagai pesepak bola.

Meski, usia Uston sudah tak muda lagi untuk menjadi pemain profesional di lapangan hijau.Tahun ini, usianya sudah menginjak 38 tahun.

Rekan-rekan satu angkatannya pun sudah banyak yang pensiun dan meniti karir sebagai pelatih. Namun, Uston ,musin ini masih bakal berlaga di kompetisi Divisi Utama.

''Saya sudah bergabung dengan Persepam Pamekasan, Madura. Tinggal teken kontrak karena sudah deal harga,'' kata Uston.

 Hanya, dia sudah menyadari posisinya. Uston tak memaksakan diri untuk menjadi starter.

''Dalam beberapa kali uji coba, saya hanya menjadi pelapis. Sudah banyak pemain muda di lini tengah Persepam,'' ungkapnya.

Ya, sebelum-sebelumnya, ban kapten yang otomatis menjadi starter selalu menjadi langganan baginya. Bukan hanya di Persebaya Surabaya, tapi juga Persisam Samarinda (Kalimantan Timur), Persidafon Dafonsoro (Papua), Persegres Gresik (Jawa Timur), hingga Persida Sidorjo (Jawa Timur) selalu mempercainya menjadi penyambung lidah pelatih di lapangan.

''Saya juga sudah mulai belajar menjadi pelatih. Di Persepam menjadi tempat yang tepat untuk itu,'' ujar Uston.

Sosok coach Widodo Cahyono Putra diakuinya merupakan pelatih yang banyak ilmu. Dia menyerap sepak bola modern dari lelaki yang menjadi pencetak gol terindah di Piala Asia 1996 itu.

''Beda dengan pelatih-pelatih lain. Ini bisa menjadi penambah ilmu sepak bola saya,'' ungkap Uston.

Apalagi, dia sudah mengakui bakal pensiun sebagai pemain. Kelanjutkannya, dia akan terjun sebagai pelatih.

''Mungkin memulainya dari asisten dulu. Usia sudah tua ,'' ujarnya sambil tertawa.

Rencananya, dalam waktu dekat, Uston akan mengikuti kursus lisensi C AFC. Dengan bekal itu, dia mengakui akan semakin mantap menjadi arsitek tim. (*)
Read More

Dari Ambon Menembus Garuda

Yusuf Mony


MASIH ingat PSSI Garuda 1? Tim tersebut merupakan awal dari beberapa proyek prestisius yang pernah dibuat PSSI.

Setelah PSSI Garuda 1 ada Garuda II, Primavera, Baretti, dan SAD (Sociedad Anonima Deportiva). Semua dengan tujuan ingin mengangkat nama Indonesia di ajang internasional. Hasilnya, semua gagal. Nah, di antara deretan PSSI Garuda 1 ada nama Yusuf Mony.

 ‘’Saya masuk dari Assyabaab Surabaya,’’ kenang Yusuf.

  Meski, tambah dia, sebenarnya dia datang dari Maluku. Kedatangannya ke Kota Pahlawan, julukan Surabaya,atas ajakan Assyabaab yang tengah menggelar pertandingan di Ambon.

 ‘’Saya datang saat usia masih muda, 16 tahun.Saya pun lulus SMA (sekolah menengah atas) di Surabaya,’’ ujar Yusuf.

 Kemampuan yang dimiliki pun memikat pelatih PSSI Garuda 1 yang terdiri dari Barbatana asal Brasil, Edi Sofyan dan Solekan (keduanya dari Indonesia). Dia dimainkan di posisi stopper.Hanya, dia kalah tenar dari Marzuki Nyamkad dan Azhari Rangkuti yang bermain di posisi yang sama.

  ‘’Kami bermain bersama di Garuda 1 hingga 1985. Usai Piala Asia, tim dibubarkan,’’ tambah Yusuf.

Usai dari Garuda 1, dia dipanggil Persebaya Surabaya. Namun, di Green Force, julukan Persebaya, Yusuf tak bertahan lama.

 Munculnya Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS) membuat dia memperkuat klub asalnya. Nah, di ASGS inilah, Yusuf berkenalan dengan Hartono Purnomosidi, tokoh bola yang juga pengusaha pakan burung tersebut.

 Di ASGS, Yusuf mempunya kesempatan bermain lebih banyak. Saat Hartono tak di ASGS, dia pun mengikuti.

 ‘’Mulai 1997,saya ikut Putra Surabaya. Mulai dari jadi pemain hingga menjadi pelatih,’’ terangnya.
 Karir kepelatihan Yusuf juga tak boleh diremehkan. Persatu Tuban dan Perseba Bangkalan dibawanya promosi ke Divisi II dari Divisi III.  Dia juga pernah memoles Persebaya Surabaya U-21 bersama pelatih asal Brasil Gomes de Olivera.

 Musim 2014, tangan dingin Yusuf kembali membuahkan hasil. Bersama Yongki Kastanya dan Hanafing mengantarkan Laga FC Surabaya menembus Divisi Utama musim 2015. Saat ini, mereka bertiga juga dipercaya menangani tim PON Jatim yang dipersiapkan menghaapi PON 2016 di Jawa Barat. (*)


Read More

Masih Otak Atik Lini Depan

Sutanto Tan (foto;sidiq)

LINI depan Timnas U-23 belum bertaji. Gol yang lahir bukan dari pemain depan.
 Ini terlihat saat Evan Dimas dkk menjalani laga uji coba dengan Syria di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Selasa (10/2).  Dalam pertandingan yang berakhir 1-1 itu, Aji melakukan banyak eksperimen.
 Gol Syria dicetak pada menit ke-12 oleh  sontekan Mahmod Albaher. Skor 1-0 untuk tim tamu.
Tertinggal satu gol, Garuda Muda, julukan Timnas U-23, semakin meningkatkan intensitas serangan. Hingga akhirnya, wasit memberikan hadiah penalti setelah Jihad Busmar melakukan hand-ball di kotak penalti pada menit ke-15.
 Pemain Barito Putera Manahati Lestusen yang menjadi algojo sukses menjalankan tugasnya dengan baik. Skor berubah 1-1. Lini depan yang dipercayakan kepada Sutanto Tan bisa mengancam gawang lawan.
 Pada babak kedua, Aji mengganti pemain Bali United tersebut dengan Paulo Sitanggang. Imbasnya, Evan Dimas digeser sedikit ke depan.Striker dipercayakan kepada Antoni Putra.
Sepuluh menit menjelang laga usai, Antoni digantikan Christopher Sibi. Namun, usaha ini tak bisa membuahkan hasil. Hingga laga usai, skor tetap bertahan 1-1.
 Ini merupakan uji coba kedua Timnas U-23 selama menjalani pemusatan latihan di Sidoarjo. Pada Sabtu (7/2), mereka menang 3-1 atas tim PON Jatim.
 Rangkaian pemusatan latihan di Kota Udang, julukan Sidoarjo, ini sebagai persiapan menghadapi babak kualifikasi Piala Asia U-23 edisi 2016. Merah putih tergabung dalam Grup H bersama Korea Selatan, Timor Leste, dan Brunei Darussalam.
 Kualifikasi Piala Asia U-23 terdiri dari sepuluh grup. Juara setiap grup dan lima runner up terbaik akan lolos ke putaran final Piala Asia U-23 yang akan digelar di Qatar pada Januari tahun depan. Tiga tim teratas dalam putaran final Piala Asia 2016 U-23 akan mewakili Asia ke Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. (*)

Jadwal Kualifikasi Pra Piala Asia U-23
27 Maret 2015: Korsel vs Brunei Darussalam, Indonesia vs Timor Leste

29 Maret 2015: Indonesia vs Brunei Darussalam, Timor Leste vs Brunei Darussalam

31 Maret 2015: Brunei Darussalam vs Timor Leste, Indonesia vs Korsel

Read More

Timnas U-23 Kunjungi Dua Sekolahan

DEKAT:Timnas U-23 di hadapan siswa SMANOR (foto;sidiq)

SUASANA beda terlihat di Sekolah Menengah Atas Negeri Olahraga (SMANOR) pada Senin pagi (9/2). Para siswa sekolahan yang ada di kawasan Pagerwojo, Buduran, Sidoarjo, tersebut  berada di luar kelas.
 Mereka diizinkan tak mengikuti proses belajar. Ada apa? Ternyata, para siswa tersebut tengah menunggu kedatangan rombongan Timnas U-23 yang baru selesai berlatih di Stadion Jenggolo.
 Kehebohan langsung terjadi ketika bus masuk ke halaman SMANOR. Para siswa langsung berteriak memanggil  beberapa nama penggawa Timnas U-23.
 Evan Dimas dkk pun langsung digiring ke Aula SMANOR. Mereka pun dipersilahkan memperkenalkan diri tentang nama, posisi, dan asal klub.
 Di antara 29 pemain, nama Evan yang paling dieluk-elukan. Tepuk tangan membahana di sekolah yang didirikan menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000.
 ‘’Ini sebagai bentuk kedekatan Timnas U-23 dengan masyarakat, khususnya para pelajar,’’ kata Aji Santoso,pelatih Timnas  U-23.
 Asisten pelatih Timnas U-23 Mustaqim  mengakui sambutan di SMANOR cukup meriah. Hanya, dibandingkan dengan SMAN 1 Sidoarjo masih kalah.
 ‘’Di sana ada yang sampai histeris,’’ ungkap lelaki asli Surabaya tersebut.
  Ya, sebelumnya,  sudah mengunjungi SMAN 1 Sidoarjo yang lokasinya berhimpitan dengan Stadion Jenggolo. Itu dilakukan sebelum latihan.
 Sejak 1 Februari lalu, Timnas U-23 menjalani pemusatan latihan di Kota Udang, julukan Sidoarjo. Evan dkk sudah sekali menggelar uji coba pada Sabtu (7/2) melawan Tim PON Jatim dengan hasil menang 3-1. (*)

Read More

Rekan Mitra dan Perkesa Melepas Kali Terakhir

JENAZAH Eko Prayogo sudah dikebumikan Senin (9/2) pagi di Kebraon, Surabaya. Namun, masih banyak orang yang tak percaya sosok 54 tahun terebut berpulang.
 ‘’Saya kira ada yang bercanda. Selama ini, saya lihat Eko sehat dan tak ada pernah mendengar dia sakit,’’ kata Hanafing, salah satu sahabat Eko.
 Baginya, lelaki tinggi besar tersebut merupakan sosok yang mencurahkan hidupnya total untuk sepak bola. Semasa muda, Eko, jelasnya, merupakan pemain yang berkostum Perkesa 78 dan berubah nama menjadi Perkesa Mataram saat pindah ke Jogjakarta.
 Hanafing bersama Eko satu tim di Mitra Surabaya pada 1989. Dia pun sempat mendapat tawaran yang sama dengan Eko untuk bekerja di media.
 ‘’Hanya, saya masih ingin terus di sepak bola. Menjadi pelatih tetap menjadi pilihan utama,’’ ungkap lelaki yang menjadi bagian timnas Indonesia saat menjadi juara SEA Games 1991.
 Namun, dia tetap berhubungan baik dengan Eko. Kolaborasi keduanya membuat klub Mitra Surabaya.
 ‘’Tujuannya untuk pembibitan dan melahirkan pesepak bola muda yang potensi,’’ terang Hanafing.
 Namun, lambat laun, kesibukan menangani berbagai klub membuat dia pun tak bisa menemani Eko. Tanggung jawab penuh pun diberikan kepada bapak tiga anak tersebut.
 ‘’Terakhir-terakhir malah sudah sangat jarang ketemu. Terus pada Minggu siang ada kabar dia meninggal,’’ ujarnya.
 Selain Hanafing, rekan-rekan pun menyempatkan mendatangi rumah Eko. Dari rekan-rekannya di Perkesa terlihat Nus Yadera dan Freddy Muli. Ada juga pasangan terakhirnya di sepak bola, Mursyid Effendi.
 Mereka ingin melepas Eko untuk kali terakhir. Sosok yang susah dicari di era sekarang. (*) 
Read More

Selamat Jalan Pak Eko

BIKIN KAGET: Eko Prayogo (kanan belakang)
SEBUAH profile (PP) milik seorang kawan membuat penasaran. DI PP itu terpasang sosok Eko Prayono bersama anak asuhnya usai menjalani rafting.
 Tak biasanya dia memasang foto lelaki yang berprofesi sebagai pelatih. Tak lama berselang, sebuah kiriman masuk ke smartphone.
 Sebuah kabar mengejutkan membuat detak jantung serasa berhenti. Isinya, Eko Prayogo baru saja berpulang pada Minggu (8/2) pukul 12.30.
  Tak terasa air mata menetes. Penulis seakan tak percaya sosok Eko telah berpulang memenuni panggilan-Nya.
 Segunung penyesalan ada di dada. Seharusnya, pekan lalu, penulis menjenguk Eko. Namun, itu urung dilaksanakan setelah ada kabar mantan palang pintu Perkesa 78 dan Perkesa Mataram tersebut sudah pulang ke rumah dengan kondisi sehat.
  Harapannya, lelaki yang tahun ini berumur 54 tahun tersebut bisa bertemu dalam sebuah latihan sepak bola yang rutin disambanginya setiap Selasa pagi di sebuah lapangan yang masuk wilayah Bungurasi, Sidoarjo.
  Nasi telah menjadi bubur. Ternyata, Jumat malam (6/2), Eko kembali masuk rumah sakit karena kondisinya memburuk. Sabtu malam, dia mulai tak sadarkan diri. Hingga akhirnya pada Minggu siang, maut telah menjemput.
  Air mata menetes saat mengenang bersama lelaki yang hidupnya hanya untuk sepak bola tersebut. Sejak kenal pada 2001, Eko sudah mengajak penulis untuk berlatih sepak bola.
  Ini akhirnya menjadi rutinitas yang dilakukan hingga sekarang. Eko pun juga rajin mengajak pergi melihat sepak bola di beberapa kota.
  Yang membuat kesedihan semakin mendalam, Eko dulu sering ke rumah. Hanya untuk bercerita tentang sepak bola dan Mitra-nya. Mitra merupakan klub yang sampai meninggal dikelola dan menjadi kebanggaannya.
  Hanya, sejak  menangani tim sepak bola PON Remaja Jatim 2014, rutinitas bersua dengan bapak tiga anak tersebut jauh berkurang. Tiap Selasa, Eko juga sudah izin absen lama.
  Alasannya, dia ingin 100 persen konsentrasi memoles PON Remaja bersama legenda Persebaya Mursyid Effendi. Hasilnya memang membanggakan, Jatim meraih emas di pesta olahraga buat remaja di bawah 17 tahun tersebut. Sejak babak penyisihan hingga final, tim polesan Eko-Mursyid tersebut tak pernah kalah.
  Tiga pekan lalu, penulis bertemu dengan Eko. Itu terjadi ketika Eko menggelar acara perpisahannya sebagai karyawan Jawa Pos.
  Sempat terjadi percakapan sebentar. Hingga akhirnya, sebuah pesan pada Minggu lalu membuat air mata tumpah. (*) 
Read More

Paulo Sitanggang Kurang Pintar

TENAGA:Paulo Sitanggang

PAULO Sitanggang menjadi bintang TimnasU-19. Kolaborasinya dengan Evan Dimas mengantarkan Indonesia menjadi juara Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) untuk kali pertama.Dalam final yang dilaksanakan di Gelora Delta, Sidoarjo, 22 September 2013, Garuda Muda, julukan Timnas U-19, menang adu penalti dengan skor 7-6 atas Vietnam.

 Indonesia pun juga berhak berlaga di Piala Asia U-19 2014. Sayang, dalam ajang yang  dilaksanakan di Myanmar, 9-23 Oktober 2014, merah putih tak pernah menang dalam tiga kali penampilan di Grup B.

 Saat kalah lawan Uzbekistan 1-3 pada 10 Oktober, Paulo masuk menit ke-55 menggantikan Zulfiandi. Tiga menit di lapangan, dia sudah menjebol gawang lawan. Dua hari kemudian, lelaki yang punya nama lengkap Paulo Oktavianus Sitanggang itu masuk sebagai starter. Namun, kekalahan kembali ditelan dari Australia dengan skor 0-1.

 Ini membuat Indonesia pun tersingkir dari persaingan lolos ke babak kedua.Derita Garuda Muda semakin lengkak menyusul kekalahan telak 1-4 dari Uni Emirat Arab. Posisi Paulo sebagai gelandang jangkar pun tak tergantikan.

Namun, kegagalan itu tak membuat pamor penggawa anak asuh Indra Sjafri itu pudar. Para pemainnya pun menjadi bidikan klub-klub papan atas Indonesia.
 Paulo pun dipinang klub asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia bergabung bersama palang pintu Garuda Muda,Hansamu Yama Pranata.

 Dengan kelebihan itu, Paulo pun masuk namanya dalam daftar Timnas U-23 yang dipoles Aji Santoso. Sayang, saat dijajal di lapangan dalam laga uji coba melawan PON Jatim di Gelora Delta, Sidoarjo, Sabtu (7/2), penampilannya kurang bersinar. Pemain yang musim lalu berkaos tim Divisi I Jember United tersebut sering melakukan kesalahan dasar.

 ‘’Paulo banyak berlarinya. Passing nya banyak yang salah,’’ keluh Mustaqim, asisten pelatih Timnas U-23, usai pertandingan.

 Bahkan, mantan bintang Persebaya Surabaya itu menganggap lelaki asal Medan, Sumatera Utara, itu bukan pemain cerdas. Visi bermainnya, lanjut Mustaqim, masih sangat kurang.

 Dengan kekurangan ini, masihkan Paulo bakal bertahan ke Piala AFC U-23 dan SEA Games. Kita tunggu. (*)

Read More

Pelatih pun Refreshing ke Batu

KOMPAK:Mamak, Mustaqim, Benny, dan Ajax (foto:sidiq)

JAJARAN pelatih Timnas U-23 tak mau selalu berkutat di lapangan. Mereka pun punya cari agar selalu fresh.

Usai menenemani anak asuhnya turun ke lapangan dalam laga uji coba melawan Tim PON Jatim di Gelora Delta, Sidoarjo, Aji Santoso dkk langsung pergi ke Batu.Tujuannya untuk menyegarkan pikiran.Selain itu, para pelatih juga tetap bisa menjaga kekompakan.

 ''Kami ke Batu. Bareng-bareng kok,'' kata Muhammad Zein ''Mamak'' Alhadad.

 Apalagi, Aji sudah mengintruksikan kepada anak asuhnya melakoni liburan. Hanya, pada Senin pagi (9/2), Manahati Lestusen dkk kembali digenjot latihan.

 Dibandingkan komposisi pelatih di timnas lainnya, Timnas U-23 punya ikatan yang lebih kuat. Para staf pelatih pernah bermain dalam satu era.

Ya, selain Aji dan Mamak, ada juga nama Mustaqim dan Benny Van Brekuelen. Keempatnya adalah mantan-mantan bintang lapangan hijau di era 1980-an hingga 1990-an. Hanya, dari keempatnya, Aji paling muda.

Kedekatan lainnya, hanya Benny yang bukan berasal dari Jawa Timur. Tapi, lelaki yang punya hubungan keluarga dengan kiper legendaris Belanda Hans Van Brekuelen itu pernah membela tim Surabaya, Niac Mitra. (*)

Staf pelatih Timnas U-23
1. Aji Santoso
Posisi: Pelatih Kepala
Usia: 44 tahun
Klub yang pernah dibela:Arema, Persebaya, PSM, Persema, Arema
Timnas: 1990-2000
Klub yang pernah ditangani:Arema, Persebaya, PON Jatim, Putra Samarinda


2. Mustaqim
Posisi: Asisten pelatih
Usia: 50
Klub yang pernah dibela: Persebaya, Petrokimia Gresik, Mitra Surabaya, Assyabaab Galatama,
Timnas: 1988-1993
Klub yang pernah ditangani: PON Jatim, Gresik United, Mitra Kukar, PKT Bontang,Deltras, Kabupaten Sumbawa Barat, Madura United


3. Muhammad Zein ''Mamak' Alhadad
Posisi:Asisten pelatih
Usia: 54 tahun
Klub yang pernah dibela: Niac Mitra
Timnas: 1986-1989
Klub yang pernah ditangani: Assyabaab Salim Group Galatama (ASGS), Persijatim, Persebaya,Deltras, Manado United

4. Benny Van Breukelen
Posisi: Asisten pelatih kiper
Usia:52
Klub yang pernah dibela:Tunas Inti, Niac Mitra, Arseto, Persija Jakarta,Persijatim Jakarta Timur
Timnas: 1985-1992
Klub yang pernah ditangani: PSPS Pekanbaru,PS Dumai, Persiba Bantul, Persiku Kudus,Arema
Read More

Harus Banyak Berbenah

SUSAH:Sayap Timnas U-23 Ahmad Noviandani (dua dari kanan)

TUGAS berat di pundak Aji Santoso. Penampilan anak asuhnya saat melawan PON Jatim dianggap belum mencerminkan sebagai kumpulan pemain-pemain terbaik Indonesia di bawah usia 23 tahun.
 ''Masih payah. Kalau tidak ada pembenahan berat untuk lolos ke Piala Asia U-23,'' kata Hanafing, pelatih kepala PON Jatim.
 Dia menganggap belum ada koordinasi yang rapi antarlini. Buktinya, anak asuhnya mampu memberikan perlawanan meski harus kalah 1-3.
 ''Wajar kalau kami kalah. Bagaimana mau main bagus kalau hanya dipersiapkan selama dua hari,'' ujarnya.
 Ini tentu beda dengan Timnas U-23. Sejak 1 Februari, Manahati Lestusen dkk sudah digembleng dengan program terpadu oleh pelatih Aji Santoso. Dengan persiapan yang matang, mereka diharapkan mampu lolos dari kualifikasi Piala Asia 2015 yang dilaksanakan di Jakarta pada Maret mendatang.
 Yang tak kalah pentingnya,  target emas SEA Games 2015 di Singapura harus terealisasi. Penantian selama 24 tahun diharapkan bisa terealisasi.
 Menariknya, Hanafing termasuk salah satu pilar Indonesia meraih emas saat pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut dilaksanakan di Manila, Filipina. Dalam babak pemungkas, Indonesia mengalahkan Thailand melalui drama adu tendangan penalti. Ketika itu, Hanafing dkk dipoles pelatih asal Rusia Anatoly Polosin. (*)



Penggawa Proyeksi Timnas U-23 :

1. Teguh Amiruddin - Barito Putera - Kiper
2. Yogi Triana - Sriwijaya FC - Kiper
3. Muhammad Natshir Fadhil - Persib Bandung - Kiper
4. Ravi Murdianto - Mitra Kukar FC - Kiper
5. Muhammad Abduh Lestaluhu - Persija Jakarta - Bek
6. Moch. Zaenuri - Persebaya Surabaya - Bek
7. Hansamu Yama Pranata - Barito Putera - Bek
8. Paulo Oktavianus Sitanggang - Barito Putera - Gelandang
9. Evan Dimas Darmono - Persebaya Surabaya - Gelandang
10. Manahati Lestusen - Barito Putera - Bek
11. Hendra Adi Bayauw - Semen Padang FC - Gelandang
12. Ilham Udin Armaiyn - Persebaya Surabaya - Gelandang
13. Safri Al Irfandi - Semen Padang FC - Gelandang
14. Wawan Pebriyanto - PBR Bandung Raya - Gelandang
15. Jajang Maulana - Sriwijaya FC - Bek
16. Zulfiandi - Persebaya Surabaya - Gelandang
17.Ahmad Ihwan - Personal - Penyerang
18. Ahmad Novfiandani - Arema Cronus - Gelandang
19. Mahdi Fahri Albaar - Mitra Kukar FC - Bek
20. Andik Rendika Rama - Persela Lamongan - Bek
21. Oktavianus Fernando - Persita Tangerang - Gelandang
22. Nazarul Fahmi - Persita Tangerang - Gelandang
23. Yogi Rahadian - Mitra Kukar FC - Penyerang
24. Aldi Al Achya - Persita Tangerang - Penyerang
25. Sutanto Tan - Pusam Bali United - Penyerang
26. Joko Prayitno Persijap Jepara - Penyerang
27. Adam Alis Setyano - Persija Jakarta - Gelandang
Read More

Keteteran Lawan Tim Bentukan Dua Hari

HARAPAN: Timnas U-23 belum meyakinkan (foto:sidiq)

DARI hasil hasil, Timnas U-23 boleh menepuk dada. Anak asuh Aji Santoso tersebut unggul 3-1 atas Tim PON Jawa Timur (Jatim) dalam pertandingan uji coba yang dilaksanakan di Gelora Delta, Sidoarjo, pada Sabtu pagi (7/2).
 Pertandingan tersebut memakai sistem tiga babak. Tiap babak dilaksanakan selama 30 menit.
 Menariknya, tiga gol terjadi dalam setiap babak. Gol pertama dicetak melalui tandukan mantan pemain belakang Timnas U-19 Hansamu Yama. Gol kedua disumbangkan rekan Hansamu di Barito Putera Anthony Putro Nugroho melalui tandukan. Sedangkan gol ketiga hasil kecerdikan Wawan Febrianto di babak ketiga. Gawang Timnas U-23 jebol pada 30 menit ketiga melalui passing yang akurat Ridho Nur Cahyo.
 Pelatih Aji Santoso nyaris mengubah komposisi pemain di babak pertama dan kedua. Sementara, babak ketiga merupakan kumpulan pemain pilihan dari babak pertama dan kedua.
 Meski menang, tapi penampilan Manahati Lestusen dkk belum terlihat menjanjiikan. Alur serangan banyak patah di tengah di tengah jalan. Selain itu, janji menampilkan permainan pendek kurang terlihat di babak pertama dan kedua.
 Padahal, PON Jatim juga bukan tim yang istimewa. Apalagi, mereka baru dikumpulkan lagi selama dua hari setelah sebulan libur.
 ‘’Saya hanya ingin melihat cara anak-anak bermain. Tim kami juga banyak yang baru bergabung,’’ jelas Aji.
 Dalam pertandingan yang dimulai pukul 07.00 WIB itu, Timnas U-23 tak bisa diperkuat pilarnya yang berasal dari Persebaya Surabaya.Evan Dimas dkk absen karena sehari sebelumnya harus ke Bali untuk memperkuat Green Force, julukan Persebaya, dalam laga uji coba melawan sesame tim Indonesia Super League (ISL) Bali United. Laga itu dimenangkan Bali United dengan 1-0.
 Usai menjalani pertandingan melawan PON Jatim, pemain Timnas U-23 diliburkan. Mereka kembali berlatih pada Senin pagi (9/2). Timnas U-23 sedang menjalani pemusatan latihan untuk bertanding di Kualifikasi Piala Asia U-23 yang digelar Maret  di Stadion utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Indonesia satu grup dengan Korea Selatan, Timor Leste, dan Brunei Darussalam. (*)

Read More

Termuda saat Persebaya Juara

BINTANG:S. Bahtiar

POSTURNYA tinggi besar. Seolah belum ada yang berubah dari sosok Slamet Bahtiar.
 Semasa jayanya, dia termasuk salah satu stopper tangguh di kancah sepak bola Indonesia. Hanya, satu kekurangan lelaki yang akrab disapa Bahtiar tersebut.
 ‘’Saya belum pernah merasakan masuk tim nasional,’’ katanya kepada pinggir lapangan saat ditemui di sebuah lapangan bola di pinggir utara Surabaya.
 Di eranya, di decade 1990-an, posisi bek tengah seolah menjadi tempat bagi Bonggo Pribadi, Toyo Haryono, ataupun juga Iwan Setiawan. Karir lelaki yang kini berusia 47 tahun tersebut banyak berkutat di klub.
 Perjalanan karirnya dimulai dari klub kebanggaan di kotanya, Persebaya Surabaya. Dia dipanggil dari klub internal Persebaya, kini Pengcab PSSI Surabaya, Putra Gelora.
 ‘’Saya masuk di era perserikatan musim 1987-1988. Saat itu, saya jadi pemain termuda,’’ ungkap Bahtiar.
Sebagai pemain termuda, susah baginya untuk menggeser senior sekelas Nuriono Hariadi ataupun Subangkit. Namun, dia tak merasa kecewa.
 ‘’Saya tetap bangga karena sebagai pemain termuda di tim yang akhirnya menjadi juara,’’ ucapnya.
 Kesabarannya pun membuahkan hasil. Dia pun mulai mendapatkan posisi inti dua tahun kemudian.
 ‘’Tapi, setelah itu, saya hengkang ke Mitra Surabaya pada 1991 hingga 1993,’’ ujar lelaki yang juga diakrab Gajah tersebut.
 Usi dari Mitra, Bahtiar menyeberang ke Tangerang untuk membela Persikota. Dia diajak salah rekannya dari Surabaya berkostum Bayi Ajaib, julukan Persebaya.
 ‘’Di sana saya mulai kenal Sutan Harhara,’’ urainya.
 Kelak, Sutan pula yang memboyongnya ke Persegi Gianyar setelah dia tak berkostum Persikota. Bersamaan dengan Bahtiar, kakak bek nasional Aun Harhara juga membawa beberapa anak asuhnya di Persikota ke tim asal Pulau Dewata, julukan Bali, tersebut.
 Kini, aktivitas Bahtiar pun tak lepas dari urusan sepak bola. Dia tercatat sebagai salah satu staf pelatih di Sekolah Sepak Bola Surabaya Football Club (SFC). (*)

Sekilas Tentang
Nama: Slamet Bahtiar
Posisi saat  Pemain; Stopper
Karir :
Putra Gelora, Persebaya,Mitra Surabaya, Persikota, Persegi Gianyar

Read More

Cari Klub yang Bisa Ketemu Keluarga

Mat Halil bersama anak dan istri

USIANYA sudah tak muda lagi, 36 tahun. Namun , kecepatan dan teknik yang dimiliki masih belum berkurang.
Dia rajin berlatih agar kelebihan yang dimiliki tidak hilang. Wajar  kalau lelaki bernama Mat Halil ini masih belum mau gantung sepatu.
 Bahkan, Halil, begitu dia disapa, masih ingin berlaga di kompetisi sepak bola Indonesia. Sesuatu yang pernah mengharumkan namanya selama 14 tahun saat dia berkostum Persebaya Surabaya.
 ‘’Ada tawaran dari sebuah klub ISL (Indonesia Super League, kasta tertinggi dalam sepak bola Indonesia). Hanya, masih sebatas lisan.’’ Katanya kepada pinggirlapangan.
 Bahkan, salah satu klub Divisi Utama, Persatu Tuban, sangat serius meminang. Dia pun sudah berada di kota yang sekarang menjadi basis Semen Indonesia tersebut untuk berlatih.
 ‘’Saya tinggal oke dengan tawaran mereka, sudah jadi ke Persatu. Hanya, ada hal yang masih mengganjal,’’ ujar lelaki yang spesialisasi sebagai wing back kiri tersebut.
 Apa itu? Kecintaannya kepada keluarga membuat dia enggan berada jauh. Halil ingin setiap hari bisa bertemu dengan istri, Chusnul Chotimah, dan kedua anaknya,Ikfina Lusiana Bilfauzah-Haikal Akbar, yang tinggal di kawasan Jambangan, Surabaya.
 ‘’Habis latihan kalau ketemu keluarga seperti hilang capeknya. Si kecil juga mash ingin ditungguin,’’ ungkap pemain didikan Sakti, klub internal Persebaya Surabaya, kini Pengcab PSSI Surabaya, tersebut.
 Untuk itu, dia masih ingin kembali ke Persida Sidoarjo, klub yang musim 2014 dibelanya. Laskar Jenggolo, julukan Persida, juga merupakan klub pertama yang dibelanya selain Persebaya.
 ‘’Enaknya kalau main di Persida, bisa pulang-pergi kalau latihan,’’ tambah Halil.
 Sebenarnya, kesetiaan pemilik klub Pengcab PSSI Surabaya El Faza itu kepada Green Force, julukan Persebaya, layak dapat acungan jempol. Sejak junior 1997, dia tak pernah meninggalkan Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Juara Divisi I pada 2003, 2006, dan  juara Divisi Utama 2004 (saat itu strata tertinggi Diisi Utama) mampu disumbangkannya kepada Surabaya.
 Bahkan, saat ontran-ontran 2010 yang membuat terpecah, Halil tetap di Persebaya 1927 yang tampil di ajang Indonesian Premier League (IPL). Satu lainya Persebaya di Divisi Utama sehingga dikenal dengan Persebaya DU.
 Sayang, kini pintunya kembali ke Persebaya tampaknya telah tertutup. Meski, kualitas yang dimilikinya tak kalah atau malah masih unggul dibandingkan bek kiri yag dimiliki Green Force sekarang. (*)

Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com