www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Apa Yang Sudah Kau Berikan Paulo

Paolo Sitanggang
PAULO Sitanggang masih muda usia. Tahun ini, dia baru lepas 19 tahun.

Statusnya memang boleh mentereng. Dia menjadi salah satu elemen saat tim sepak bola Indonesia menjadi juara Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) pada 2013 lalu.  Pemain asli Sumatera Utara (Sumut) itu juga menjadi bagian saat Indonesia menembus putaran final Piala Asia 2014.

Tapi, itu semua juga tak membuat dia bisa dicap tak nasionalis. Bisa jadi, baginya menjadi pemain nasional kelompok umur sudah membuatnya sudah menjadi pahlawan bangsa.

Sampai-sampai, Paulo menjadi satu-satunya pemain yang bibirnya tak bergerak saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan sebelum Garuda Muda, julukan Timnas U-22, menghadapi Korea Selatan (Korsel) dalam penyisihan Grup G Babak Kualifikasi Piala Asia U-23 sekaligus langkah awal menembus Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Laga itu dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Selasa petang (31/3).

Padahal, semua rekan-rekannya kompak menyanyikan lagu kebangsaan ciptaan Wage Rudolf Supratman tersebut. Bahkan, di bench, semua ofisial menyakikan Indonesia Raya dengan penuh semangat.

Paulo hanya memegangi dadanya. Itu bukan sebuah bentuk nasionalisme. Ratusan ribu atau malah jutaan pasang mata menyaksikan Paulo yang tak bernyanyi.

Ini kontras dengan  sehari sebelumnya (30/3). Bio Pauline yang baru saja dinaturalisasi menjadi warga negara Indonesia (WNI) dengan semangat menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum laga Timnas Indonesia Senior melawan Myanmar dalam laga uji coba di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo.

Sebenarnya, bukan hanya Bio, dua pemain naturalisasi lainnya, Victor Igbonefo dan Raphael Maithimo juga khidmat menyanyi. Tangannya tetap di dada. Namun, mulutnya tetap terbuka untuk menyanyikan lagu kebanggaan ratuan juta rakyat Indonesia tersebut. (*)
Read More

Bio pun Ikut Menyanyikan Indonesia Raya


Bio (kanan) dan Victor.
KEMENANGAN akhirnya menghampiri Timnas Senior Indonesia. Boaz Salossa dkk mampu mengalahkan Myanmar 2-1 (0-0) dalam pertandingan persahabatan yang dilaksanakan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Senin petang (30/3/2015).

Dua gol berharga Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, disumbangkan Rapahel Maitimo menit ke-60 dan Christian Gonzales tiga belas menit kemudian. Penampilan anak asuh pelatih sementara, Benny Dolo, memang lebih bagus dibandingkan saat dikalahkan Kamerun 0-1 lima hari sebelumnya di tempat yang sama.

Selain kemenangan perdana Timnas Senior dibawah Bendol, sapaan karib Benny Dolo, ada hal lain yang layak dapat perhatian. Untuk kali pertama, Bio Pauline membela Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia.

Padahal, dia baru sepekan resmi menjadi warga negara Indonesia (WNI). Sebelumnya, pemain yang sudah hampir delapan tahun merumput bersama Persipura Jayapura itu merupakan warga negara Kamerun.

Penampilan Bio memang tak terlalu menonjol. Tapi, lelaki 30 tahun itu mampu mengamankan lini belakang Indonesia dari ambisi pemain lawan untuk menjebol gawang I Made Wirawan.

Gol Myanmar yang terjadi di menit akhir pertandingan lahir saat pemain dengan rambut kuning di atas telinga tersebut sudah keluar. Dia digantikan Ahmad Jufriyanto.

Hal lain yang membanggakan dari Bio, sebelum pertandingan, dia ikut menyanyikan lagu kebangsaan negara barunya, Indonesia Raya. Gerakan mulutnya menandakan pemain yang juga pernah membela Mitra Kutai Kartanegara (Kukar) tesebut ingin menyatu dengan Indonesia.

Hal yang sama juga dilakukan pemain naruralisasi lainnya, Victor Igbonefo. Mantan tandemnya di Mutiara Hitam, julukan Persipura, itu juga ikut menyanyikan Indonesia Raya. Saat Boaz keluar karena cedera di menit akhir babak pertama, Victor pun dipercaya mengenakan ban kapten. (*)
Read More

Didikan SAD Uruguay Pilih Jadi Polisi Militer

Reffa Arvindo Mony dengan seragam TNI

Dia pernah diharapkan menjadi salah satu pemain andalan Indonesia di masa depan. Namun, karirnya berakhir lebih cepat dan memutuskan terjun di bidang militer.
--
SAAT ini, teman-temannya masih banyak yang tampil di Indonesia Super League (ISL). Bahkan, beberapa di antaranya berkostum Timnas Indonesia, bukan hanya di level U-23 tapi juga senior.

Nama-nama seperti Abdu Lestalulu yang kini berkostum Persija Jakarta dan Rizky Pellu, pemain Mitra Kutai Kartanegara (Kukar) merupakan temannya berlatih saat di Uruguay. Kini, Abdu menjadi andalan lini belakang Timnas U-22 polesan Aji Santoso. Sedangkan Pelu, sapaan karib Rizky Pellu, berjuangan menembus posisi inti Timnas Senior.

Reffa Arvindo Mony bersama keduanya berada di Uruguay saat ditempa dalam proyek PSSI yang lebih dikenal dengan Timnas SAD (Sociedad Anonima Deportiva). Mereka bergabung di angkatan 2009 yang berkompetisi di kelompok umur di negeri amerika selatan tersebut.

Reffa masuk di tim tersebut setelah lolos seleksi yang digelar di Jawa Timur dan di Jakarta. Hampir selama tiga tahun, putra salah satu mantan pemain Persebaya Surabaya Yusuf Mony itu digembleng di bawah asuhan Cesar Payovic.

Namun, seiring kegagalan menembus Piala Asia U-19, Reffa dkk kembali ke tanar air di musim 2012. Para pemain pun ditampung di beberapa klub. Reffa, Abdu, dan Pellu kebetulan bergabung dalam satu tim yakni Persis Solo.

''Hanya setengah musim mereka di Persis. Setelah itu, Reffa berpisah dengan mereka dan bergabung di Pelita Jaya,'' ungkap Yusuf.

Sayang, petaka menimpa anaknya yang berposisi stopper tersebut. Reffa mengalami cedera yang memerlukan perawatan serius.

''Padahal, Rahmad (Darmawan, pelatih Pelita Jaya saat itu) senang dengan permainan Reffa. Cedera Reffa tak bisa dipaksakan tampil di kompetisi,'' ujar Yusuf.

Upaya penyembuhan sudah dilakukan. Namun, kondisi pemain kelahiran 21 Januari 1992 tersebut tak bisa pulih seperti semua.

''Hingga akhirnya ada tawaran masuk TNI (Tentara Nasional Indonesia) pada Januari 2015. Reffa juga tertarik sehingga mengikuti tes masuk dari awal,'' ucap Yusuf.

Pada pertengahan Maret 2015, Reffa pun resmi menjadi anggota TNI. Dia menjalani wisuda di Cimahi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

''Dia ditempatkan di Polisi Militer. Bisa jadi, Reffa akan bertugas di Surabaya, lebih enak bisa dekat  rumah,'' ujar lelaki yang tinggal di kawasan Jambangan, Surabaya, tersebut.

Di TNI, Reffa bisa kembali meneruskan hobinya di sepak bola. Apalagi, TNI juga punya tim yang tangguh. (*)


Sekilas tentang


Nama: Reffa Arvindo Mony

Lahir: Surabaya,21 Januari 1992

Posisi: Belakang

Karir Pemain

2003: SSB Bulog Surabaya

2004: Timnas U-13

2005: Timnas U-14

2006: Timnas U-15

2007: Timnas U-17

2008-2012: SAD Uruguay

2010: Timnas U-19

2012: Persis Solo

2013: Pelita Jaya
Read More

Absen Liga Nusantara Agar Tak Ganggu Porprov Sidoarjo

Manajer SH Yahdar.

KEPUTUSAN sudah diambil Sinar Harapan. Tim sepak bola asal Tulangan, Sidoarjo, tersebut memutuskan absen dalam kompetisi Liga Nusantara.

''Tahun ini, kami memberi kesempatan kepada Deltras (tim Liga Nusantara yang juga berasal dari Sidoarjo, Deltras, biar berprestasi,'' kelahar Yahdar, manajer Sinar Harapan, saat menyaksian kesebelasan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sidoarjo uji coba dengan Persigo Gorontalo di Lapangan BCF, Sidoarjo, pada Selasa pagi (31/3/2015).

Menurutnya, alasan pastinya Sinar Harapan absen karena tak mau mengganggu tim Porprov Kota Udang, julukan Sidoarjo, yang akan bertarung dalam tingkat di Jawa Timur pada akhir Mei nanti. Apalagi, mereka ditargetkan mampu meraih emas.

''Ada lima pemain Sinar Harapan di tim Porprov Sidoarjo. Kami tak mau menganggu konsentrasi pemain yang fokus ke Banyuwangi,'' ujar anak Ketua Askab PSSI Sidoarjo Ahmad Riyadh tersebut.

Namun, dia memastikan pada 2016, Sinar Harapan akan kembali ambil bagian. Itu diambil agar timnya tak terkena denda dari PSSI karena absen dua kali beruntun.

''Pemain juga sudah kembali dari Porprov. Mereka semakin matang saat kembali ke Sinar Harapan,'' terang Yahdar.

Sebenarnya, Riyadh, yang juga pembina Sinar Harapan, tambahnya, keberatan jika timnya absen di Liga Nusantara. Namun, ucap Yadhar, sang kakak akhirnya mengerti setelah diberi penjelasan mengenai alasan tim yang dikenal dengan pembinaan pemain usia muda itu tak berlaga di kompetisi level bawah tersebut.

Pada musim 2014, Sinar Harapan gagal menembus posisi tiga besar grup sebagai syarat lolos ke babak berikut. Namun, penampilan pemainnya yang tak kenal menyerah di lapangan layak mendapat acungan jempol. (*)
Read More

Pelayan yang Nyaman di Lini Depan


BOMBER: Joko Hariyanto di Stadion Jenggolo,Sidoarjo.

Bomber asing selalu merajai daftar pencetak gol di kompetisi sepak bola Indonesia. Namun, pernah terselip  Joko Hariyanto, yang masuk dalam jajaran penyerang lokal tersubur. Apa kegiatannya kini?
--
GERAKANNYa masih lincah di lapangan. Umpan-umpannya juga terukur.

Itu dibuktikannya dalam latihan bersama kumpulan pemain-pemain senior di Sidoarjo, Ortas. Bahkan, dia dipercaya menjadi pengatur permainan.

Padahal, posisi gelandang bukan spesialisasinya. Dulunya, dia, Joko Hariyanto, merupakan salah satu penyerang yang haus gol.

Bahkan, lelaki kelahiran 1966 tersebut menjelma menjadi pemain yang mendobrak persaingan dengan pemain asing. Semua itu dimulai dari masa kecilnya di Purwodadi, Jawa Tengah.

''Saya masuk tim pelajar Purwodadi di level Jawa Tengah. Dari situ, saya direkrut Diklat Salatiga (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar/PPLP Salatiga) saat masih duduk di bangku SMP,'' kenang Joko.

Di Kota Dingin itu, kemampuannya semakin terasah. Apalagi, setelah dia membela Tim Pelajar Indonesia di ajang internasional.

''Dua kali saya masuk Timnas Pelajar Indonesia. Tapi, saya sudah di Diklat Ragunan bukan lagi Salatiga,'' tambah lelaki yang kini dikaruniai tiga anak tersebut.

Usai lulus Diklat Ragunan, Joko diburu banyak klub. Tapi, dari sekian klub, hanya PKT Bontang dan Barito Putera yang paling serius.

''Pelatih saya di Ragunan, Edi Santoso, menyarankan ke Barito. Alasannya, kesempatan saya main lebih besar,'' ungkap Joko.

Saran pelatih senior asal Solo, Jawa Tengah, itu pun dituruti. Dengan usia yang masih muda, Joko pun terbang ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, markas Barito.

Ternyata, keputusannya itu tepat. Joko mempunyai kesempatan main yang lebih luas.

''Tandem saya dengan Buyung Ismu menjadi tandem yang disegani. Hingga Buyung pun direkrut tim besar saat itu, Pelita Jaya,'' papar lelaki yang kini tinggal di kawasan Sukodono, Sidoarjo, tersebut.

Lepas Buyung, Joko punya tandem baru. Barito Putera mendatangkan penyerang asal Kamerun, Bako Sadissou.

''Bako dan saya mencetak gol yang banyak di Barito Putera. Tipe saya yang ngeyel cocok dengan Buyung dan Bako yang finisher,'' ucapnya.

Selama di Barito Putera, dari 1991-hingga 2001, beberapa pelatih pernah memolesnya. Nama Rudy Keltjes  dan  Alexander ''Saso'' Kostov tetap mempercayainya.

''Saya sempat pindah ke PKT Bontang hampir tiga musim. Setelah itu, saya balik ke Barito Putera lagi,'' lanjut Joko.

Pada, Joko sempat pulang ke kampung halamannya dengan membela Persipur Purwodadi. Setelah itu, dia hengkang ke klub Divisi Utama, Persegi Gianyar.

''Untung kepindahan dari amatir ke profesional berjalan lancar. Habis Persegi, barulah saya ke PSBK Blitar,'' terangnya.

Usia yang terus beranjak uzur tetap tak mengurang klub meminangnya. Persida Sidoarjo dan Persisam menjadi pelabuhan diakhir karirnya.

Di kampung halaman sang istri, Sidoarjo, pula Joko mulai terjun sebagai pelatih. Persida U-13 menjadi tim pertama yang ditangani.

''Persida Junior juga pernah. Setelah itu, saya di Persires, Kuningan, Jawa Barat. Namun, sampai saat ini belum ada kejalasan lagi,'' paparnya.

Kini, di tengah kevakuman, dia membantu persiapan tim Divisi Utama, Mojokerto Putra. Kebetulan, tim tetangga Sidoarjo itu berlatih tak jauh dari rumahnya. (*)




Read More

Menyesal Telat Tekuni Jualan Pakaian Olahraga

BERKEMBANG:Mujiyono di depan stannya berjualan. (foto:sidiq)

Namanya pernah masuk daftar pemain Persebaya Surabaya.  Sentuhan tangan dinginnya pun membawa tim junior disegani di level nasional.
--
DI sekitar Gelora Delta, Sidoarjo, Jawa Timur, banyak pedagang kaki lima memasarkan dagangannya. Mulai dari makanan, mainan, hingga compac disc (CD).

Namun, sebuah stan yang menjual pakaian olahraga tak kalah ramainya. Para pembeli keluar masuk dari tempat yang berukuran 2x2 meter tersebut.

''Kalau Minggu pembelinya lebih ramai dibandingkan hari lainnya. Saya juga baru tiga minggu jualan di Gelora Delta, sebelumnya di Taman Pinang (kawasan di selatan Gelora Delta Sidoarjo),'' kata Mujiyono, sang pemilik stan.

Setiap malam, dia bersama sang istri berjualan di depan loket stadion. Kadang, dua anak perempuannya yang sudah tumbuh remaja ikut menemani jualan.

''Hari ini (29/3/2015), lagi ada kegiatan dan yang satunya capek karena kemarin membantu jualan sampai malam,'' ungkap lelaki 50 tahun tersebut.

Berjualan pakaian olahraga tersebut, terang Mujiyono, baru ditekuninya 2.5 tahun lalu. Ketika itu, sepak bola Indonesia tengah dilanda konflik dualisme.

''Imbasnya, kompetisi internal Persebaya Surabaya juga gairahnya kurang. Saya pun mulai berpikir menekuni bisnis pakaian olahraga,'' ucapnya.

Bagi Mujyono, dunia sepak bola bukan hal yang asing baginya. Di masa mudanya, dia merupakan pemain dari sebuah klub besar, Persebaya Surabaya.

''Saya hampir lima tahun membela Persebaya. Posisi saya sebagai stopper,'' terang lelaki yang dibesarkan klub internal Askot PSS Surabaya, Indonesia Muda (IM), tersebut.

Bahkan, sejak usia 13 tahun, dia sudah berkostum Green Force, julukan Persebaya. Itu dilanjutkan ke jenjang Persebaya Junior.

''Setelah itu, saya dipanggil senior. Itu setelah Harmadi (stopper Persebaya yang kini jadi pelatih Deltras) keluar. Saya kadang inti, kadang juga cadangan,'' papar Mujiyono.

Karirnya bersama tim asal Kota Pahlawan, julukan Persebaya, berakhir sebelum Liga Indonesia berputar perdana pada 1994. Setelah itu, dia lebih banyak tercurah di pekerjaannya di PDAM Kota Surabaya  dan membantu klubnya, IM.

''Namun, setelah itu,saya menangani beberapa tim internal. Mulai dari Fajar, Indomaret, hingga Putra Sanjaya.Alhamdulillah, semuanya promosi ke Kelas Utama (level tertinggi di kompetisi internal Askot PSSI Surabaya),'' lanjut Mujiyono.

Kini, dengan bisnisnya yang mulai lancar, dia mengaku menyesal. Kok bisa? ''Seharusnya dulu-dulu saya jualan pakaian olahraga,'' pungkasnya sambil tertawa. (*)

Read More

Seriusi Tangani Kelompok Umur



Tommy bersama anak asuh di Kabomania.
Dia pernah diharapkan menjadi sosok lini sentral Timnas Indonesia di awal era 2000-an. Sayang, ketidaksiplinan membuat karirnya di lapangan hijau cepat menghilang.
--
SEBUAH tembakan bebas di SEA Games 2001 selalu mengingatkan pada sosok Haryanto ''Tommy'' Prasetyo. Pujiaan setinggi langit pun  disematkan kepada lelaki yang saat itu masih berusia 23 tahun.

''Saya akan selalu kenang gol itu. Ada Agum (Gumelar, Ketua PSSI) juga menonton,'' jelas Tommy.

Sinarnya mampu mengalahkan para senior. Tembakan bebas memang menjadi salah satu spesialis dari pemuda asal sebuah desa di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah yang bernama Bekonang.

''Saya juga mencetak gol yang nyaris sama ke gawang Kamboja dalam Pra Piala Asia dan Pra Piala Dunia,'' paparnya.

Sejak kecil, Tommy memang sudah dikenalkan dengan sepak bola. Keluarganya yang dikenal gila bola pun ikun menunjang karirnya.

''Saya memulai karir dari SSB Fortuna, Sukoharjo. Dari sana, saya kemudian masuk Diklat Arseto melalui klub Monas Putra yang pemainnya memang dari SSB Fortuna,'' ujar adik dari mantan penyerang nasional Indriyanto ''Nunung'' Nugroho itu.

Dia digembleng di Diklat Arseto saat usianya masih kurang dari 15 tahun. Peranannya di lini tengan pun membuat dia dilirik Diklat Salatiga (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar /PPLP Salatiga).

''Kelas 1, saya masuk Diklat Salatiga. Saya juga membela Timnas Pelajar dan juara di Malaysia dan Indonesia,'' ucap Tommy.

Satu tahun di Salatiga, Tommy pun dipromosikan ke Diklat Ragunan. Dia dipercaya masuk Timnas U-16.

''Saya main di Teheran, Iran. Setelah itu, saya masuk masuk Baretti di Italia,'' ungkapnya.
Tommy saat membela Timnas U-16

Di Negeri Pizza, julukan Italia, kemampuannya semakin terasah. Tommy pun juga menembus di level yang level atas, Primaverra.

Ketika proyek ambisius Baretti-Primavera usai, Tommy pun langsung direkrut klub besar dan kaya, Pelita Jaya. Dia awal 2000-an, posisinya nyaris tak tergantikan.

Sayang, ketidakdisiplinan membuat posisinya di lini tengah mulai goyah. Lambat laun, Tommy pun jadi penghangat bangku cadangan.

''Saya tidak bisa menjaga badan sehingga jadi gemuk. Memang turunan dari ibu,'' buka Tommy.

Kondisi itu pula yang membuat karirnya di timnas pun berakhir pada usia 24 atau 2002.  usia yang masih sangat muda yang sebenarnya masih panjang untuk berkostum merah putih.

''Terakhir, ssaya ditangani Nandar (Iskandar). Saat dipegang Bendol (sapaan karib pelatih Benny Dolo), saya sempat masuk tapi terpental. Beda pelatih memang beda keinginan,'' ujar bapak satu anak ini.

 Tapi, ujar Tommy, dia sudah bangga bisa membela Indonesia di luar. Satu hal yang tak bisa diukur dengan materi.

Dari Pelita, Tommy pun berkelana ke berbagai klub. Persijatim Jakarta Timur, Persijap Jepara, PSS Sleman, Persiku Kudus, Persis Solo, dan Manado United pun menjadi singgahan karirnya.

Cedera lutut yang dialami ketika membela Persiku membuat dia semakin redup. Hingga akhirnya pada 2010, Tommy benar-benar gantung sepatu saat usianya 32 tahun.

''Saya kemudian menekuni jadi pelatih. Lisensi C sudah saya punya. Tapi, saya masih mau up grade dengan ikut lisensi C AFC (Federasi Sepak Bola Asia),'' ujarnya.

Saat ini, Tommy dipercaya menjadi pelatih di SSB Kabomania di Cibinong, Kabupaten Bogor. Di sana juga ada sang kakak, Nunung.

''Saya sudah membawa U-14 Kabomania juara di Bandung dan Jakarta. Saya konsentrasi di tim ini dulu,'' kata lelaki yang sering bolak-balik ke Solo karena anak dan istrinya tinggal di Kota Bengawan, julukan Solo, itu. (*)
Read More

Tak Canggung dalam Latihan Perdana

DUET:Bio dan Victor

Muka baru hadir di Timnas Indonesia. Dia adalah Bio Pauline.
--
TAK ada rasa canggung dari BIo Pauline.Padahal,pada Jumat sore (27/3/2015) di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, tersebut merupakan debutnya berlatih bersama Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia.

Lelaki kelahiran kamerun pada 15 April 1984 tersebut tetap bermain tak kenal kompromi. Penjagaan kepada lawannya juga ketat.

Begitu juga dalam hal komunikasi di lapangan. Nyaris Bio tak mengalami masalah.

Ini sebenarnya wajar. Dua pemain belakang Timnas Senior, Anis Tjoe dan Victor Igbonefo merupakan rekannya di timnya sekarang, Persipura Jayapura. Hanya, kini Victor sudah berkostum Arema Cronus.

Sayang, saat uji coba melawan Kamerun yang dilaksanakan Rabu (25/3/2015) di Gelora Delta, Sidoarjo, lalu, dia belum bisa diturunkan. Ini disebabkan proses naturalisasi yang dijalani belum kelar.Jika bisa turun tentu akan menjadi pertandingan yang penuh emosional bagi Bio.

Bio menjadi pemain kesekian yang berganti kewarganegaraan Indonesia. Dia menyusul nama-nama seperti Christian Gonzales dari Uruguay. Kemudian ada Irfan Bachdim (Belanda), Kim Kurniawan (Jerman) atau pun duo Nigeria Victor Igbonefo dan Greg Nwokolo.

Dengan sudah bergabungnya Bio, besar kemungkinan dia akan dipercaya saat laga uji coba (friendly match) melawan Myanmar di Gelora Delta pada Senin (30/3/2015). Dalam game internal pun, pemain yang juga pernah membela Mitra Kutai Kartanegara tersebut memakai rompi hijau sebagai penanda pemain starter.

''Jika diturunkan, saya akan bermain fight. Sebuah kebanggaan bisa menjadi pemain nasional Indonesia,'' ujar Bio. (*)

Read More

Timnas Kalah dengan Ultah SSB

KUASA:Ultah SSB Real Madrid Stadion Gelora Delta Sidoarjo

TIM Nasional Indonesia tak berlatih di Stadion Gelora Delta,Sidoarjo, selama dua hari. Mulai Jumat (27/3/2015) dan Sabtu (28/3/2015), anak asuh Benny Dolo tersebut harus rela menyingkir ke Stadion Jenggolo, stadion lain yang ada di Sidoarjo.

Ada apa?Ternyata venue pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 tersebut dipakai untuk kejuaraan sepak bola anak-anak dalam rangka ulang tahun sekolah sepak bola Real Madrid. Ini tentu sebuah kejadian yang sangat ironis.

Sebenarnya, sejak Senin (23/3/2015), Boaz Solossa dkk sudah berlatih di Gelora Delta. Bahkan, di tempat itu pula, Timnas Indonesia menjamu kesebelasan tangguh Kamerun pada Rabu (25/3/2015).

Saat itu, lapangan Stadion Gelora Delta banyak mengundang decak kagum. Lapangannya dianggap tak kalah dengan stadion-stadion Eropa.

''Perawatannya sangat baik. Drainase juga berjalan sehingga kalau ada hujan langsung teresap,'' kata salah satu petugas Stadion Gelora Delta dan Stadion Jenggolo.

Hanya, dia pesimistis lapangan bagus itu akan kembali terlihat saat Timnas Indonesia menjamu Myanmar dalam friendly match pada Senin (30/3/2015). Lelaki itu berharap hujan juga tak turun pada Jumat malam.

''Lapangan bisa rusak. Tidak cukup satu hari untuk mengembalikannya menjadi lebih bagus,'' ujarnya.

Minggu pagi (29/3/2015), Timnas Senior akan kembali ke Gelora Delta. Mereka akan menjajal lapangan setelah dua hari terusir. (*)
Read More

Merealisasikan Yang Tertunda 13 Tahun


MANTAN gelandang Timnas Senior Indonesia Uston Nawawi sudah resmi membela Deltras di Liga Nusantara 2015. Apa yang membuatnya tertarik bergabung dengan tim yang pernah disegani di kancah sepak bola Indonesia itu?Berikut petikan wawancara dengan Uston yang habis berlatih bersama The Lobster, julukan Deltras, di Stadion Jenggolo pada Jumat (27/3/2015)
---
Bisa dikatakan Uston sebenarnya sudah gabung Deltras sejak lama?
-Iya. Pada musim 2002-2003, saya sudah dihubung-hubungkan dengan Deltras. Bahkan nyaris bergabung. Namun, akhirnya dari Persebaya, saya bukan ke Deltras malah ke PSPS Pekanbaru.

Bisa dikatakan ini sesuatu yang tertunda lama?
-Ya begitulah. Juga sudah saatnya saya membela Deltras juga.

Apa yang membuat Uston bergabung Deltras? Padahal kalau mau, banyak tim Divisi Utama yang mau mengontrak Anda?
-Dengan usia yang sudah tua, saya lebih suka main di klub dekat-dekat rumah saja. (Musim ini, Uston nyaris bergabung dengan tim Divisi Utama Persepam Madura).

Apa itu pula (dekat dengan rumah) yang membuat gagal ke Persepam?
-He he he. Deltras dekat dengan rumah. Setiap hari, saya bisa bertemu keluarga. Selain itu, usai latihan, saya juga bisa mengurusi rumah makan. (Uston juga mengelola sebuah rumah makan di kawasan Cemengkalang, Kecamatan Sidoarjo Kota).

Dengan Uston, Deltras bisa promosi kembali ke Divisi Utama?
-Saya kan tidak sendirian. Pemain-pemain lain juga menentukan.

Bagaimana materi Delras sekarang?
-Masih ada beberapa kekurangan. Utamanya lini depan. Banyak peluang yang terbuang saat menjalan laga uji coba melawan Perssu Sumenep dan Persebo Bondowoso (dua tim Divisi Utama). (*)

Read More

Racikan Baru Sulitkan Juara Afrika

TRIO PERSIPURA: Boaz, Anis Tjoe, dan Zulham Zamrun
KEKALAHAN ditelan Tim Nasional (Timnas) Indonesia 0-1 dari Kamerun. Tentu, hasil ini di luar dugaan.

Singa Afrika ini datang ke Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Rabu (25/3/2015) dengan kekuatan  terbaik. Awalnya, Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, akan dengan mudaj dilumat dengan mudah.

Namun, di lapangan berkata lain. Indonesia hanya menyerah 0-1 dari Kamerun.  Gol semata wayang tim langganan Piala Dunia tersebut disumbangkan oleh Vincent Aboubakar pada menit ke-34.

Bahkan, dalam pertandingan itu, Indonesia sempat beberapa kali mengancam gawang lawan yang dikawal Fabrice Ondoa yang merupakan kiper yang berasal dari Barcelona B, Spanyol.

Perlawanan yang diberikan oleh Hariono dkk memang tak lepas dari faktor pelatih. kehadiran Benny Dolo memberikan warna yang berbeda dengan pelatih sebelumnya, Alfred Riedl.

Bendol, sapaan karib Benny Dolo, pun hanya memanggil para pemain yang mau bertarung di lapangan, bukan hanya yang mengandalkan skill dan teknik. Lelaki asal Sulawesi Utara itu menghargai pemain yang mau bertarung di lapangan.
Muka-muka baru seperti Johan Alfarizi, Made Sukadana, maupun Kim Kurniawan, serta Ferdinand Sinaga  sesuai dengan karakter yang dimau Bendol.

Namun, pujian itu tak boleh membuat terlena. Satu uji coba lagi siap menanti. Racikan Bendol akan kembali diuji saat menjamu tim yang selevel, Myanmar, dalam laga yang dilaksanakan di tempat yang sama, Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Senin (30/3/2015).

Bisa jadi, beberapa pemain yang absen saat melawan Kamerun akan diberi kepercayaan. Saat melawan empat kali juara Piala Afrika itu, tak ada Rizky Pellu dan Kim di tengah. Keduanya layak diberi kesempatan untuk dilihat kemampuannya. (*)

Susunan Pemain
Pemain: I Made Wirawan (pg), Johan Alfarizi, Victor Igbonefo, Yohanis Tjoe/Fachrudin (46’), Hasyim Kipuw/Tony Sucipto (86’), Hariono/Achmad Jufrianto (73’), Zulham Zamrun, I Gede Sukadana/Maitimo (67’), Tantan/Bayu Gatra (67’), Boaz Salossa, Christian Gonzalez/Ferdinan Sinaga (65’)
Pelatih : Benny Dolo

Kamerun    1 (0)
Pemain: Fabrice Ondoa (pg), Oyongo/Jerome Guihota (78’), Ngweni Kadiang, Aurelien Chedjou, Hendri Bedimo, Raoul Loe, Daniel Arnaud/Zock A Ben (74’), Eyong Enoh, Moukandjo/Kombi Mandjang (63’), Leonard Kweuke/Frand Etoundi (24’), Vincent Aboubakar.
Pelatih: Volker Finke
Read More

Bendol Lebih Kurus Sekarang

TEGAS:Bendol memimpin anak asuhnya berdoa. (foto;sidiq)

TIM Nasional (Timnas) Indonesia kembali ditangani Benny Dolo. Namun, ada yang berubah dari lelaki yang akrab disapa Bendol itu.

Dia tetap tegas dan tak kenal kompromi. Teriakannya akan lantang jika dalam latihan anak asuhnya melakukan kesalalahan.

Lalu apa? Badannya sudah tak segemuk dulu. Perutnya yang dulu membuncit, sekarang terlihat rata tertutup kaos yang dikenakannya.

Salah satu rekan Bendol, Gunawan, juga kaget melihat perubahan tersebut. Dia berharap kurusnya duetnta saat menangani Persita Tangerang Junior dan Persitara Jakarta Senior tersebut bukan karena sakit.

''Ada yang bilang sakit, jadi Bendol sekarang kurus.  Sakitnya karena gula,'' ujarnya.

Bendol pun memegangi perut Gunawan yang besar seperti dia dulu. Apalagi, keduanya sudah tak bertemu.

''Perut kamu tambah besar saja,'' canda Bendol usai melatih Timnas Indonesia di Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada Senin lalu (23/3/2015).

Namun, kurusnya Bendok karena sakit dibantah oleh dokter timnas Syarif Alwi Menurutnya, pelatih 65 tahun tersebut menjalani diet.

''Pola makannya dikontrol. Jadi yang dimakan tak sembarangan lagi,'' ungkapnya.(*)
Read More

Kenapa Masih Percaya Pemain Naturalisasi

ASING:Christian Gonzales

NATURALISASI kembali terjadi di Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Bio Pauline akan menyusul rekan-rekannya di Pasukan Garuda yang tengah menjalani pemusatan latihan di Sidoarjo.
--

KABAR Bio Paulin menjadi pemain Timnas Indonesia sudah santer terdengar. Bahkan, pemain belakang Persipura Jayapura tersebut sudah siap memakai kostum garuda di dada dalam laga uji coba melawan Myanmar di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Senin (30/3/2015).

Ini setelah lelaki kelahiran Kamerun pada 15April 1984 tersebut resmi menjadi warga negara Indoenesia (WNI). Syarat-syarat yang memenuhinya menjadi pindah kewarganegaraan sudah terpenuhu.

Lekaki yang mempunya nama lengkap Bio Pauline Pierre tersebut menjadi pemain kesekian yang dinaturalisasi. Sebelumnya sudah berderet nama-nama yang berpindah kewarganegaraan menjadi WNI. Sebut saja Christian Gonzales yang dulunya warga negara Uruguay.Kemudian ada Irfan Bachdim (Belanda), Sergio van Dijk (Belanda), Kim Kurniawan (Jerman), hingga Victor Ignonefo (Nigeria).

Mereka pun masih sering keluar masuk membela Timnas Indonesia. Tujuannya pun sama, agar prestasi sepak bola Indonesia bisa terangkat.

Hasilnya? Indonesia masih jadi bulan-bulanan negara lain. Jangan di kancah dunia atau Asia, di level Asia pun Pasukan Garuda sudah tak lagi menakutkan.

Fakta teranyar, Gonzales dkk langsung tersingkir di babak penyisihan grup dalam Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2014.

Pelatih senior Djoko Susilo pun menganggap naturalisasi bukan sebuah solusi membuat sepak bola Indonesia berjaya. Dia pun menyebut nama-nama pemain naturaliasi yang jika digabungkan sudah menjadi satu tim.

Trio Gonzales, Van Dijk, dan Greg Nwokolo (Nigeria) di depan. Itu ditambah Rafael Maitimo (Belanda), Kim, Bachdim di tengah. Di lini belakang juga ada Igbonefo dan Bio.

Bahkan, dia membandingkannya dengan dua pebulu tangkis Liem Swie King dan Rudy Hartono. Keduanya mampu membuat harum nama Indonesia di kancah dunia dengan gelar juara dunia dan All England-nya.

Jika nasional, ungkap Djoko, tidak dimiliki oleh para pemain hasil naturalisasi. Nasionalismen, terang dia, bukan milik orang lain. Tapi miliki orang yang lahir dan punya darah Indonesia.

Apa yang dilontarkan Djoko, yang kini menukangi tim sepak bola Papua, tersebut tidak salah. Indonesia punya banyak pesepak bola yang kualitasnya di atas para pemain naturalisasi tersebut.

Ada yang salah di persepak bolaan negeri ini. Kompetisi yang bagus dan berkesimbungan menjadi jawaban untuk mengangkat kembali nama Indonesia. Dari sinilah akan lahir talenta-talenta papan atas yang siap mengenakan kostum merah putih.

Bukan dengan naturalisasi. Sudah saatnya, pemain sendiri lebih dipercayai. Darah yang mengalir di tubuh mereka lebih layak dapat kesempatan. (*)
Read More

Masuk Timnas Lagi, namun Bukan sebagai Kiper

Hendro (kanan) bersama tiga anak asuhnya. (foto;sidiq)
Hendro Kartiko menjalani posisi baru. Dia dipercaya menjadi asisten pelatih kiper Timnas Senior Indonesia.
--
HAMPIR lima tahun terakhir, nama Hendro Kartiko tak lagi menghiasi Timnas Senior. Usia yang terus merambat membuat lelaki kelahiran 24 April 1973 itu pun harus menepi dan memberikan kesempatan kepada yang muda.

Meski, tak lagi dipanggil Pasukan Garuda, julukan Timnas Senior, Hendro masih aktif di klub. Bahkan, saat dia naik jabatan sebagai asisten pelatih di Arema dua tahun lalu dan Persebaya Surabaya tahun lalu, namanya tetap terdaftar sebagai kiper.

Secara skill dan kualitas memang tak ada yang meragukan kemampuannya. Hampir satu dekade kaos dengan logo Garuda di dada dikenakannya di bawah mistar. Bahkan, AFC(Federasi Sepak Bola Asia) pernah menganugerahkan kepadanya sebagai bintang Asia pada 2000.

Namun, kini, Hendro pun kembali mendapat kepercayaan masuk Timnas Senior. Eeit, jangan salah dulu. Hendro dipanggil bukan lagi sebagai kiper namun asisten pelatih yang menangani kiper guna membantu pelatih kepala sementara, Benny Dolo.

Awalnya, namanya memang tak masuk dalam jajaran pelatih tim yang dipersiapkan khusus menghadapi Kamerun dan Myanmar dalam laga uji coba di Gelora Delta, Sidoarjo, tersebut. Rencananya, laga melawan Kamerun dilaksanakan pada Rabu (25/3/2015) dan Myanmar (30/3/2015).

Badan Tim Nasional (BTN) mempercayakan Alan Haviludin sebagai asisten pelatih kiper. Namun, lelaki asal Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) tak dilepas klub asalnya, Arema.

Akhirnya, Hendro pun dipanggil. Masuknya Hendro pun cukup mengejutkan. Sebelumnya, posisi asisten pelatih kiper di era Riedl adalah Edi Harto.

Saat menjalankan tugas perdananya di Timnas Senior, tak ada rasa canggung pada diri Hendro. Dia langsung menggenjot tiga kiper yang ada, I Made Wirawan (Persib), Dian Agus Prasetyo (Sriwijaya FC), dan Choirul Huda (Persela).

Reflek ketiga diuji dengan temban dan lemparan bola dari lelaki asal Banyuwangi, Jawa Timur, tersebut. Tampaknya menjalani lakon sebagai aisten pelatih kiper di Arema dan Persebaya sudah membuat Hendro bisa masuk dalam profesi barunya. (*)

Sekilas tentang

Nama: Hendro Kartiko

Lahir: Banyuwangi, 24 April 1973

Posisi main: Kiper

Karir Pemain

1990-1991: Persewangi Banyuwangi

1992-1994: Unmuh Jember

1994-1995: Persid Jember

1995-1998: Mitra Surabaya

1998-2000: Persebaya Surabaya

2000-2002: PSM Makassar

2003: PSPS Pekanbaru

2003-2004: Persebaya Surabaya

2005-2006: Persija Jakarta

2006-2008: Arema Malang

2008-2009: Persija Jakarta

2009-2010: Sriwijaya Palembang

2010-2011: Persija Jakarta

2011-2012: Mitra Kukar

2012-2013: Arema Malang

2013-2014: Persebaya Surabaya


Karir Pelatih
2012-2013: Arema Malang

2013-2014: Persebaya Surabaya
Read More

Emanuel Wanggai Tak Bisa Dipaksakan

SUSULAN:Rizki Pellu (foto:sidiq)
TAK semua pemain memenuhi panggilan Timnas Senior. Buktinya, ada dua pemain yang tak menampakkan batang hidungnya dalam latihan perdana yang dilaksanakan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Senin pagi (23/3/2015).

Mereka yang absen adalah Emanuel Wanggai asal Persipura Jayapura dan Supardi dari Persib Bandung.Keduanya absen dengan alasan yang berbeda.

''Kalau Wanggai sakit di enggel. Saya sudah memeriksanya di Jakarta usai Persipura tampil di AFC Cup,'' kata Syarif Alwi, dokter timnas senior.

Dia mengakui kondisi pemain dengan rambut kuncirnya tersebut tak mungkin dipaksakan untuk tampil dalam dua laga uji coba Pasukan Garuda, julukan Timnas Senior, melawan Kamerun pada Rabu (25/3/2015) dan Myanmar lima hari kemudian. Ini yang membuat Wanggai pun tak hadir di Sidoarjo.

Posisinya pun digantikan Rizky Pellu asal Mitra Kukar. Mantan gelandang Timnas U-23 itu pun sudah bergabung dengan Timnas  Senior yang kini sementara ditangani Benny Dolo. Sebagai gelandang bertahan, Pellu harus bersaing dengan Hariono asal Persib dan I Gede Sukadana dari Arema.

Kalau Supardi? Salah seorang ofisial Timnas Senior menjelaskan jika bek Maung Bandung, julukan Persib, tersebut harus menunggui istrinya yang sakit. Tanpa eks pemain Sriwijaya FC itu, total ada 23 pemain yang digembleng Bendol, sapaan karib Benny Dolo.

Tanpa Supardi, bek kanan bergantian diisi oleh Toni Sucipto (Persib) dan Hasim Kipuw. Hanya, kabar teranyar, Bendol memanggil bek kanan Persija Jakarta Saiful Indra menggantikan Supardi.

Penggawa timnas senior Indonesia:

Kiper: Dian Agus (Sriwijaya FC), I Made Wirawan (Persib), Choirul Huda (Persela)

Bek: Viktor Igbonefo (Arema), Anis Tjoe (Persipura), Fachrudin (Sriwijaya FC), A. Jufriyanto (Persib), Hasim Kipuw (Arema), Syaiful Indra Cahya (Persija), Johan Alfarizi (Arema), Toni Sucipto (Persib)

Gelandang: Rizky Pellu (Mitra Kukar), Raphael Maitimo (Sriwijaya FC), Hariono (Persib), I Gede Sukadana (Arema), , Rizki Ramdani Lestaluhu (Persija), Kim Kurniawan (PBR), Bayu Gatra (Bali United)

Striker: Cristian Gonzales (Arema), Zulham Zamrun (Persipura), Boaz Solossa (Persipura), Ferdinand Sinaga (Sriwijaya FC), Tantan (Persib)

*(asal klub)
Read More

Pernah Jadi Dokter di Tiga Cabor Berbeda

MULTI: Dokter Syarif Alwi (foto: sidiq)
Di setiap latihan dan pertandingan Timnas Senior, sosok Syarif Alwi selalu ada. Lakon itu sudah dijalaninya sejak 1989.
--
POSTURNYA masih gagah. Kumis hitam membuat dokter Timnas Senior Syarif Alwi ini tampak masih berusia sekitar 50-an.

''Eh, jangan salah sangka. Tahun ini, saya sudah 66 tahun,'' kata Syarif saat bercengkerama di pinggir lapangan Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Senin pagi (23/3/2015).

Dia mengakui, semua itu tak lepas dari rutinnya melakukan latihan olahraga. Cabang olahraga yang sering dilakukannya adalah balap sepeda.

''Kalau libur, saya bersepeda di Senayan, Jakarta. Sepeda saya masukkan di mobil sejak dari rumah di kawasan Tanah Abang,'' ujarnya.

Sepeda memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Di masa mudanya, Syarif merupakan pembalap daerah asalnya, Sulawesi Selatan.

''Saya satu angkatan dengan dua pembalap andalan Jatim, Sutarwi dan Sapari. Saya pernah turun di PON (Pekan Olahraga Nasional) 1973 di Jakarta,'' kenang bapak tujuh anak ini.

Akibat serius di balap sepeda pula yang membuat kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar terbengkalai. Syarif baru lulus saat usianya sudah hampir berkepala tiga.

''Lebih banyak jadi atlet sepeda sehingga kuliah terbengkalai,'' ujarnya.

Perkenalannya dengan salah satu legenda sepak bola Indonesia, Ronny Patinasaranny yang juga dari Makassar membuat masuk dalam dunia sepak bola. Mulai 1989, Syarif mulai menjadi dokter di timnas.

Baginya, Ronny merupakan pesepak bola yang menjadi sahabatnya. Saat sakit pula, dialah yang membawa lelaki dengan skill sepak bola tinggi tersebut ke Tiongkok untuk berobat.

''Ronny mengajak saya jadi dokter tim kali pertama di Persiba Balikpapan di era perserikatan juga. Ini yang menjadi awal saya mengenal olahraga ini,'' papar Syarif.

Hanya, dia tak hanya berkecimpung di timnas sepak bola. Lelaki yang mempunyai sebuah klinik di Bekasi, Jawa Barat, tersebut juga pernah menjadi dokter di pencak silat dan balap sepeda. Semua mampu dilakoninya dengan baik.

''Tapi mulai 2011 lalu, saya full di sepak bola, khususnya timnas sepak bola senior. Namun, saya bergabung kalau hanya ada pemusatan latihan, bukan tiap hari di PSSI,'' ungkap lelaki yang mengambil spesialis penyembuhan cedera olahraga di Koeln, Jerman, itu.

Hanya, dia masih menganggap pesepak bola timnas senior kurang peduli dengan kesehatannya. Mereka sering menutupi sakit yang dialami saat bergabung dengan Pasukan Garuda.

''Padahal, itu sangat penting sebelum pelatih menyusun program latihan dan pertandingan. Saya ingin para pemain terbuka mengenai kondisinya sendiri,'' pungkas Syarif. (*)
Read More

Bus Warna Pink, Latihan hanya Sekali

Timnas PSSI Senior kembali menggelar latihan lagi di Sidoarjo. Tapi, ini beda dengan sebelumnya. Apa saja itu?
--

DATANG:Bus Timnas Senior (foto:sidiq)
JAM sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Namun, kondisi Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, masih sepi pada Senin (23/3/2015).

Tidak ada bus warna merah putih dengan gambar garuda. Padahal, saat itu, merupakan jadwal latihan bagi Tim Nasional (Timnas) Senior yang tengah mempersiapkan diri untuk melakoni dua laga uji coba di Kota Udang, julukan Sidoarjo. Ya,rencananya, Victor Ignefo dkk akan menjamu Timnas Kamerun pada Rabu (25/3/2015) dan Myanmar lima hari kemudian (30/3/2015).

Tapi, setengah jam kemudian, sebuah bus pariwisata berwarna merah muda masuk ke halaman stadion yang dibangun khusus untuk pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 tersebut. Saat berhenti, Benny Dolo lah yang kali pertama muncul. Kemudian diikuti oleh dua asistennya, Widodo Cahyono Putro dan Hendro Kartiko.

Ternyata, bus yang biasanya dipakai oleh Timnas Senior tak bisa dipakai. Bus dengan tulisan One Nation Team tersebut dipakai Timnas U-22 yang tengah berjuang di Babak Kualifikasi Pra-Piala Asia di Jakarta.

Pasukan Garuda, julukan Timnas Senior, untuk sementara memang ditangani Bendol, sapaan karib Benny Dolo. Statusnya bukan tetap usai PSSI tak memakai lagi tenaga lelaki asal Austria Afred Riedl yang gagal di Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara) 2014 lalu.

Biasanya, usai ke luar bus, para pemain langsung menuju lapangan guna bersiap melakukan latihan. Tapi, pada Senin pagi itu, mereka duduk-duduk di bench.

TELAT:Pemain Timnas Senior tengah kaos kaki.(foto:sidiq)
Ternyata, saat itu, kaos kaki mereka belum seragam. Sehingga, kaos kaki berwarna hijau baru dipakai saat sampai di Stadion Gelora Delta.

''Latihannya pun sekarang hanya sekali. Biasanya kan pagi dan sore. Untuk sementara pagi saja dan mulai Jumat dan Sabtu nanti sore,'' ungkap salah satu ofisial Timnas Senior.

Beda dengan Riedl, dengan singkatnya waktu persiapan, pemanasan pun tak dilakukan lama. Bendol tampaknya ingin melihat langsung kemampuan anak asuhnya dalam game internal.

Lelaki yang kini  memoles klub Indonesia Super League (ISL) asal Palembang, Sumatera Selatan, Sriwijaya FC, tersebut juga mengotak-atik formasi pemain yang ideal. Tapi, dari gambaran latihan Senin pagi itu, dia memakaikan rompi kepada tim intinya. Di tim rompi tersebut posisi Victor dan Boaz Solossa yang tak tergantikan. (*)
Read More

Hidup dari Kiriman Uang Saudara dan Teman

AFRIKA: Alan Nabie di Stadion Pogar.(foto:sidiq)

Larangan pemain asing di Divisi Utama memberikan dampak positif bagi pemain lokal. Mereka punya kesempatan luas mengembangkan potensi. Lalu bagaimana kebijakan itu untuk pemain asing.


PELUH masih membasahi tubuhnya. Namun, sepatu nike putih yang dipakai sudah dilepas.

Dari sisi lapangan Stadion R. Soedrasono, Pogar, Kabupaten Pasuruan, Sabtu pagi itu (21/3/2015), seorang lelaki asal Afrika serius mengamati rekan-rekannya yang tengah bertanding dengan tim Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) setempatnya.

Alan Nebie juga baru saja membela sebuah tim di Sidoarjo dalam laga uji coba. Hanya dalam pertandingan 2x60 menit itu, dia melawan Persekabpas yang akan turun di Liga Nusantara.

Aksinya pun tak mengecewakan. Lelaki 27 tahun asal negara di Afrika Burkina Faso tersebut mencetak tiga gol (hat-trick).

''Dia pemain bagus. Kalau aturan ada pemain asing di Divisi Utama, saya mau pakai Alan,'' kata Nus Yadera, pelatih senior yang pengalaman memoles Divisi Utama.

Sayang, aturan tanpa pemain asing di kompetisi level kedua sepak bola Indonesia tersebut membuatnya tak bisa merealisasikannya. Meski, dia juga berusaha melakukan kontak dengan dua tim Indonesia Super League (ISL), Persebaya Surabaya dan Persela Lamongan, untuk menjajal Alan yang berposisi sebagai penyerang tersebut.

''Persela sempat mau memakai. Namun, mereka sudah terlanjut mendatangkan Pedro (Javier, eks penyerang Persijap asal Paraguay),'' ungkap Nus.

Alan pun menyadari kondisinya. Hanya, dia mengaku heran dengan kebijakan di Indonesia yang sering berubah.

Karena belum mendapat klub, Alan pun tak mempunyain pemasukan. Hidupnya bersandar kepada kiriman saudara dan uluran tangan rekan.

''Gaji saya di Mojokerto Putra (klubnya musim lalu) juga belum dibayar,'' ungkap lelaki jangkung ini sambil geleng-geleng.

Namun, dia mengaku belum mau menyerah. Dengan latihan keras yang dijalani, Alan optimistis bisa mendapatkan klub.

Dia sendiri baru tahun lalu datang ke Indonesia. Itu, ungkapnya, karena ajakan rekannya dari negara yang sama, Bationo Germain. Bariono merupakan pemain yang sudah lama malang melintang di persepak bolaan Indonesia. Klub seperti Persitara Jakarta Utara, Mitra Kutai Kartanegara, dan Mojokerto Putra pernah memakai tenaga dan kemampuannya di lapangan hijau.

''Saya tertarik dengan ceritanya. Tahun lalu saya sebenarnya hampir masuk klub ISL, Persiba Bantul. Namun, mereka hanya janji dan pilih pemain lain. Padahal, saya banyak cetak gol dalam uji coba saat membela Bantul,'' ungkap Alan.

Tahun pertama yang sempat menyiksanya adalah urusan bahasa. Awalnya, dia hanya diam karena tak mengerti.

''Namun, saya akhirnya belajar. Dari mendengar teman Indonesia bicara saat di Mojokerto juga lewat terjemahan di google,'' papar lelaki dengan tinggi mencapai 180-an tersebut.

Kini, setelah problem bahasa teratasi, permintannya hanya satu, bisa kembali mendapat klub. Ini artinya, dia bisa hidup yang lebih mapan layaknya pemain asing di Indonesia yang berlaga di ISL. (*)
Read More

Penasihat Teknis di Dua Tim


Subangkit sebelum mendampingi anak asuhnya berlatih.
Nama Subangkit termasuk pelatih papan atas di Indonesia. Namun, kini dia pilih pulang kampung. Mengapa?


SEORANG lelaki bertopi datang ke Stadion R. Soedrasono, Pogar, Kabupaten Pasuruan, pada Sabtu pagi itu (21/3/2015). Semua orang datang dan menyalaminya.

Ya, dia adalah salah satu putra daerah yang namanya sudah menasional di persepak bolaan Indonesia, Subangkit. Musim lalu, namanya masih menjadi nakhoda salah satu tim Indonesia Super League (ISL), Sriwijaya FC Palembang, Sumatera Selatan.

''Sekarang Sriwijaya FC enak pelatihnya (Benny Dolo), Dengan uang yang banyak, dia bisa memilih yang dimau,'' kata Subangkit sambil membetulkan kursi yang diduduknya di pinggir lapangan.

Padahal, saat Laskar Wong Kito, julukan Sriwijaya FC, ditanganinya, dia kesulitan memboyong pemain berkualitas; Hanya Asri Akbar, terangnya, yang berlabel bintang bisa direkrutnya.

''Status Asri kan pemain cadangan di Persib Bandung. Dia kalah sama Hariono. Saat saya tawari ke Sriwijaya langsung mau,'' ungkap Subangkit.

Dia pun mengaku tak kecewa saat tak lagi dipercaya memoles tim asal Kota Musi tersebut. Baginya, berpindah-pindah klub sudah bukan hal yang asing baginya.

Ya, memulai karir sebagai pelatih di klub internal Persebaya Surabaya,Suryanaga, lelaki 56 tahun tersebut naik namanya saat memoles Persekabpas Kabupaten Pasuruan. Tim asal selatan Surabaya tersebut menembus level tertinggi di ajang Divisi Utama.

Setelah itu, Persema Malang dan Persela Lamongan pun menjadikan Subangkit sebagai arsitek tim. Subangkit juga pernah menangani Persebaya Surabaya. Tim yang juga pernah dibelanya tersebut sempat menjadi kandidat kuat menembus ISL. Sayang, prestasi itu gagal dipertahankannya hingga akhir musim karena dia memilih mengundurkan diri.

Usia dari Persebaya, dia pun menjadi arsitek tim Persiwa Wamena. Namun, dia gagal bersinar dengan tim asal Papua tersebut.

Di saat sinarnya mulai redup, Subangkit pun dipercaya memoles Sriwijaya FC U-21 di musim 2013. Di tangannya, tim tersebut mampu menjadi juara ISL U-21.

Nah, sentuhan itu mengangkat kembali namanya. Manajemen Sriwijaya FC pun mempromosikannya menjadi pelatih senior menggantikan Kashartadi yang gagal di musim 2013.

''Kini, saya pulang kampung dulu. Namun, hampir setiap hari, saya datang ke Stadion Pogar ini,'' ungkapnya.

Ini, ucapnya, bukan berarti dia menangangi Persekabpas lagi atau menukangi tim Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kabupaten Pasuruan. Kedua tim tersebut, ujarnya, sudah punya pelatih kepala sendiri-sendiri.

''Tapi, saya terlibat di kedua tim tersebut sebagai penasihat teknis. Jabatan saya di Askab PSSI Kabupaten Pasuruan kebetulan komisi pelatih,'' tambah Subangkit.

Jabatan tersebut yang akan terus diembannya sambil menunggu tawaran melatih lagi di level Divisi Utama atau ISL. Kegiatannya  tersebut juga sebagai pengabdian kepada daerah asalnya.(*)
Read More

Hidup dari Menyewakan, Rumput Liar Tumbuh Subur

KOKOH: Stadion kandang Persekabpas (foto:sidiq)

Persekabpas Kabupaten Pasuruan pernah disegani. Posisi papan atas sudah menjadi langganan. Stadion Pogar pun selalu dijubeli suporter. Bagaimana kondisinya kini?



JALAN menuju Stadion R. Soedrasono belum berubah. Dari jalan utama ke Kabupaten Pasuruan, sampai di kawasan Beji sebuan papan menunjukkan stadion yang lebih dikenal dengan nama Stadion Pogar tersebut.

Jalan masuknya pun hanya bisa dilewati dua mobil atau satu bus besar. Bahkan, saat Persekabpas di masa jayanya, butuh petugas kepolisian untuk bisa membawa bus tamu masuk ke depan stadion karena padatnya parkir sepeda motor dan berjubelnya suporter yang hendak masuk ke stadion.

Saat sampai di depan stadion, kondisinya tak banyak berubah saat penulis datang ke tempat tersebut pada Sabtu pagi (21/3/2015). Beberapa sepeda motor sudah dipakir rapi di depan stadion.

Mereka ingin menyaksikan tim pujaannya, Persekabpas, yang akan melakukan uji coba dengan satu tim asal Sidoarjo. Sebuah pintu masuk ukuran 2 meter dengan tinggi juga 2 meter akan membawa masuk.

Di ruangan ada di kanan kiri. Kondisinya masih lumayan terawat. Toiletnya juga bersih.

Dari jauh, papan skor berwarna hijau terlihat kokoh. Sekilas, kondisinya hampir sama saat tempat tersebut penuh sesak oleh suporter yang mendukung Persekabpas Kabupaten Pasuruan di era 2002-2010. Lapangannya pun datar dengan rumput yang rapi habis dipotong.

Namun, kalau lebih jeli, di depan semua tribun, rumput liar tumbuh subur.Tingginya sekitar 1 meter.

''Biaya perawatannya sedikit sekali. Kami hidup dari menyewakan stadion ini buat pertandingan-pertandingan tidak resmi,'' ungkap salah satu lelaki yang biasa berada di Stadion Pogar.

Uang yang besarannya sekitar Rp 150 ribu tersebut habis dibagi bersama dua rekannya yang lain. Namun, dia mengaku tetap tak melupakan merawat lapangan.

Sedangkan dinding-dinding tembok tersebut sudah banyak yang mengelupas. Anggaran yang menurutnya pernah ratusan juta, hanya dipakai untuk mengecat dua blok stadion.

''Tapi, sekarang juga sudah mengelupas. Nggak tahu dananya ke mana saja,'' ujarnya.

Dia pun mengakui hilangnya Persekabpas dari orbit papan atas sepak bola nasional juga memberikan pengaruh kepada kondisi stadion. Dulu saat Laskar Sakera, julukan Persekabpas, berjaya, kondisi stadion sangat terawat. Bukan hanya lapangan, tribun dan pagar pembatas pun indah ditonton. (*)

Read More

Ingin Optimal dalam Latihan dan Pertandingan

SEMANGAT: Mat Halil sudah berlatih dengan Deltras.

SIAPA tak kenal Mat Halil. Dia merupakan salah satu pemain yang masuk kategori legenda tim besar Persebaya Surabaya.

Kecintaannya kepada tim kampung halamannya membuat lelaki 36 tahun tersebut selalu menolak berpindah ke klub. Padahal, ketika itu Halil berada di puncak karir.

Sayang, keinginannya membela Green Force, julukan Persebaya, hingga pensiun urung terlaksana. Perpecahan di klub tersebut membuat dia terpental.

Untuk kali pertama, pada musim 2014, Halil membela klub di luar Persebaya. Tim tetangga, Persida Sidoarjo, menjadi tujuan pelabuan karir. Bersama mantan rekan-rekannya dulu di Persebaya seperti Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi, Nurul Huda, dan Sutaji, dia mampu mempertahankan posisi Laskar Jenggolo, julukan Persida, tetap bertahan di Divisi Utama.

Kini, dia pun datang lagi ke Sidoarjo. Hanya, Halil bukan datang untuk membela Persida lagi.

Bapak dua anak ini akan merumput bersama The Lobster, julukan Deltras. Apa keputusan yang membuatnya bakal membela tim tersebut. Padahal, kini, Deltras harus bertarung di level Liga Nusantara, level terendah di kancah sepak bola Indonesia.Berikut petikan wawancara dengan Halil.

Apa yang membuat Anda bisa ke Deltras?
-Deal sih belum. Jadi, saya belum 100 persen pemain Deltras. Tapi, saya memang tertarik ingin membela Deltras karena tim ini memang serius menghubungi saya.

Siapa yang kali pertama menghubungi Anda?
-Muzaky (asisten pelatih). Dia menghubungi saya untuk datang dalam latihan Deltras. Itu sudah jauh-jauh hari sebelum saya latihan Senin ini (16/3).

Mengapa Halil tak langsung datang? Pikir-pikir dulu?
-Bukan. Saya minta waktu waktu untuk memulihkan kondisi setelah sakit. Saya ingin memberikan kemampuan optimal kepada Deltras dalam latihan maupun pertandingan.

Anda menolak beberapa tim Divisi Utama. Tapi sekarang malah tertarik tawaran main di Liga Nusantara?

-Saya ingin dekat keluarga. Setiap hari bertemu keluarga menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. Jarak rumah di Surabaya dengan latihan Deltras bisa dijangkau setiap hari pulang-pergi. Beda dengan tim-tim yang mau merekrut saya. Bisa-bisa saya bisa bertemu keluarga seminggu sekali atau maksimal dua kali. Sebuah hal yang belum pernah saya rasakan. (*)
Read More

Rekrut Bintang-Bintang Uzur

SENIOR: Jefri Dwi Hadi (foto: sidiq)

DELTRAS tengah menata kekuatan. Ini dilakukan agar tim asal Sidoarjo tersebut bisa kembali merasakan kerasnya persaingan di kancah Divisi Utama.

Ya, pada musim 2015 ini, Deltras harus tampil di ajang Liga Nusantara, liga terbawah di kancah sepak bola nasional. The Lobster, julukan Deltras, pun harus bertanding dari kampung ke kampung.

Butuh perjuangan yang panjang. Tim yang kini ditangani trio pelatihy Harmadi, Muzaky, dan Yono Karpono tersebut akan memulai pertandingan di level wilayah.

Mereka pun tak akan selalu tampil di lapangan dengan level stadion. Lapangan strata kampung pun bisa didatangi.

Dengan label bertarung di Liga Nusantara, Deltras hanya mengandalkan muka-muka lama yang mayoritas penggawa The Lobster U-21. Hasilnya, permainan mereka pun belum terlalu meyakinkan.

Nah, guna mendongkrak permainan dan percaaya diri pemain, sebuah solusi pun diambil. Apa itu, tim yang pernah meenembus semifinal Copa Indonesia itu pun mendatangkan beberapa pemain senior.

Mantan bintang timnas senior Indonesia dan Persebaya Surabaya Uston Nawawi pun direkrut. Begitu juga dengan  mantan skuad Persik Kediri saat tim tersebut berjaya di papan atas Indonesia Super League Jefri Dwi Hadi.

Keduanya pun sudah bergabung dalam latihan maupun pertandingan. Sayang, saat menghadapi tim Divisi Utama Persebo Bondowoso, Deltras kalah 3-4. Meski saat itu, Uston dan Jefri ikut turun ke lapangan.

Kini, satu pemain senior lagi pun hadir. Dia juga pernah menjadi andalan Green Force, julukan Persebaya, selama lebih dari satu dekade.

Ya, dia adalah Mat Halil. Lelaki yang bisa beroperasi di bek kanan, kiri, serta gelandang serang ini mulai bergabung dalam latihan bersama The Lobster sejak Senin (16/3).

Memang, dari segi usia, ketiganya bisa dikatakan sudah uzur. Mayoritas sudah berkepala tiga.(*)
Read More

Terkenang Era Kejayaan Deltras

DATANGI: Muhammad Khusen bersama dua putrinya.

PANDANGAN Muhammad Khusen menerawang jauh. Dia seperti masih membayangkan menjadi salah satu pemain Deltras Sidoarjo.

Pandangannya ke setiap sudut Stadion Gelora Delta Sidoarjo yang sepi saat Deltras meggelar uji coba dengan Tim PON Jatim pada Sabtu sore (14/3). Dia seperti mengingat kembali masa kejayaan The Lobster, julukan Deltras, seperti saat dibelanya selama enam musim, 2004-2010.

''Dulu, stadion ini penuh sesak oleh penonton. Tribun ini warnanya berubah menjadi merah karena padatnya Deltamania yang menyaksikan pertandingan Deltras,'' kenang lelaki yang bisa beroperasi sebagai bek dan stopper tersebut.

Ya, berada di Indonesia Super League (ISL) memang menjadi daya tarik penonton hadir ke stadion yang jadi saksi bisu pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 tersebut. Apalagi, saat Deltras menjamu tim papan atas.

''Bangga masuk ke lapangan dengan ditonton banyak suporter,'' ungkapnya.

Apalagi, saat para bintang-bintang nasional menyerbu Deltras di musim 2008. Nama-nama seperti Mukti Ali Raja (kiper), Firmansyah, Bayu Sutha (keduanya pemain belakang) dan juga Danilo Fernando (pemain asing asal Brasil yang bisa bermain di tengah dan depan).

Sayang, era tersebut telah berganti. Seiring perjalanan prestasi yang mulai redup,hanya hitungan ribuan kecil yang hadir ke stadion.

''Saya tak membayangkan tim sebesar Deltras musim depan bermain di Liga Nusantara. Penonton yang datang pasti sedikit dan tak akan penuh seperti masa kejayaannya,'' tutur Khusen.

Ya, mulai musim 2015 ini, tim asal Kota Udang, julukan Sidoarjo, akan berlaga di level Liga Nusantara. Itu setelah musim lalu Deltras terdegradasi dari Divisi Utama. (*)
Read More

Reuni Primavera-Baretti di Bukittingi

BINTANG MASA LALU:Pemain eks Primavera dan Baretti.

INDONESIA pernah punya proyek ambisius Primavera dan Baretti. Kedua tim masa depan merah putih tersebut digembleng di negeri sepak bola Italia pada pertengahan dekade 1990-an.

Tujuannya, agar nantinya pemain didikan Primavera dan Baretti mampu mengangkat nama Indonesia di kancah internasional. Memang, banyak pesepak bola yang mampu menembus tim nasional dan menjadi pilar di banyak klub.

Namun, harapan mengibarkan merah putih lebih tinggi urung tercapai. Indonesia tetap kalah dalam persaingan di level Asia Tenggara.

Kini, setelah hampir 18 tahun berlalu, banyak dari mereka memutuskan pensiun. Yang tercatat aktif tinggal Bima Sakti yang di musim 2015 berkostum Persegres Gresik dalam Indonesia Super League (ISL).

Meski berpisah jarak yang berjauhan, tapi beberapa kali anggota Primavera dan Baretti berkumpul untuk melepas kangen. Kali terakhir pada Sabtu (14/3), Bejo Sugiantoro dkk melakukan reuni di Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar).

''Kami main di Stadion Bukittinggi melawan Tim U-21 Bukittinggi. Hasilnya imbang 0-0,'' kata Bejo.

Kehadiran mereka di Bumi Minang atas undangan sesama alumnus Primavera, Gusnedi Adang. Dalam rombongan tersebut paduan pemain di antara dua proyeksi ambisius di masa orde baru tersebut.

Sayang, di antara mereka  tak ada Kurniawan Dwi Julianto. Mantan bintang lini depan Indonesia tersebut tengah mengikuti kegiatan yang dibiayai oleh sebuah perusahaan shampo. (*)

Reuni PSSI Primavera dan Baretti

Kiper: Kurnia Sandi, Ari Supriarso

Belakang: Bejo Sugiantoro, Yeyen Tumena, Gusnedi Adang, Nurul Huda, Andrian Mardiansyah

Tengah: Tri Murvedayanto, Haryanto ''Tommy'' Prasetyo, Supriyono, Ismayana, Dwi Prio Utomo, Irwan, Imran Nahumaruri, Uston Nawawi,

Depan: Asep Dayat,  Indriyanto Setyo Nugroho, Ilham Romadhona
Read More

Kini Pangkat Sudah Perwira

BAHU: Muhammad Khusen (foto: sidiq)

POTONGAN rambutnya cepak. Badannya pun kekar.
 Hanya ada sedikit timbunan lemah di tubuhnya. Ini wajar karena lelaki tersebut memang anggota aktif Tentara Nasional Indonesia (TNI).

 ''Sudah tiga minggu tidak aktif di lapangan karena mengikuri pelatihan. Jadi badan agak sedikit melar,'' kata Muhammad Khusen, lelaki yang berambut cepak itu, saat bertemu penulis di Gelora Delta Sidoarjo pada Sabtu sore (14/3).

Hingga dua tahun lalu, dia memang masih berlaga di pentas Kompetisi Divisi Utama dengan membela Persebo Bondowoso. Usia yang sudah tak muda lagi ketika itu, 37, membuat Khusen akhirnya memutuskan gantung sepatu.

''Saya juga harus sekolah perwira. Alhamdulillah, sekarang pangkat saya sudah letnan dua,'' ungkap bapak dua putri tersebut.

Karena kecintaannya kepada sepak bola memang sempat membuat kepangkatannya tersendat. Beberapa rekannya yang dulu pernah akti di olahraga sepak sudah masuk dalam jajaran perwira.

Ya, karir militer dan sepak bola memang tak lepas dari perjalanan Khusen. Memulai karir sepak bola dari PSK Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 1994, Khusen pun mulai masuk militer.

Pada 1997, Khusen pindah ke Surabaya, Jawa Timur. Ini membuat dia pun mulai lebih serius menekuni sepak bola. Apalagi, Angkatan Darat (AD) mempunyai tim sepak bola yang ikut dalam Kompetisi Persebaya Surabaya.

Dari sini, dia mulai dikenal di Kota Pahlawan, julukan Surabaya. Sayang, saat ada panggilan seleksi Green Force, julukan Persebaya, dia harus menjalani tugas ke luar daerah.

''Namun, hanya setahun dan saya kembali ke Sidoarjo yang menjadi tempat saya dinas. Saya pun kembali mengikuti kompetisi dengan membela PSAD,'' ungkap Khusen.

Penampilannya yang lugas pun memikat klub Gelora Putra Delta, nama baru Gelora Dewata yang mulai 200 pindah ke Sidoarjo. Bahkan, menurutnya, bos GPD M. Mislan memintanya bergabung.

''Namun,  kalah cepat dengan Persebaya yang memberi kesempatan saya untuk ikut seleksi dan bergabung Persebaya Selection,'' lanjut dia.

Namun, pada 2004, akhirnya Khusen pun membela Deltras, nama baru GPD. Di klub berjuluk The Lobster tersebut, dia merasakan manis pahit.

''Seharusnya degradasi pun saya ikut. Hingga akhirnya benar-benar degradasi dan promosi lagi,'' ucap Khusen.

Hingga akhirnya pada 2010, Khusen pun meninggalkan klub pujaan Deltamania itu dan bergabung dengan  Persegres Gresik.  Tapi, kecintaannya membuat dia kembali lagi ke Deltras.

''Pada 2012, saya kembali ke Persegres. Setelah itu, saya ke Persebo dan akhirnya tak main lagi hingga sekarang,'' lanjut Khusen.

Dengan status perwira tak membuatnya meninggalkan sepak bola. Oleh kesatuannya, dia dipercaya mengurus sepak bola.

''Jadi tetap berhubungan dengan sepak bola. Tapi, saya sendiri masih ingih turun ke lapangan,'' pungkasnya. (*)
Read More

Pensiun Muda, Pernah Terjerat Narkoba

ASISTEN: Agus Winarno
KEPALANYA sudah membotak. Badannya pun sudah mulai gemuk.

 Orang tak akan percaya kalau melihat dia dulunya merupakan salah satu penyerang menakutkan di pentas sepak bola nasional. Lelaki yang memakai kaos merah dengan tulisan Persebo Rheza di dada itu juga pernah menjadi andalan lini depan klub besar Persebaya Surabaya.

Tapi, kalau menyebut namanya, Agus Winarno, orang baru percaya. Ya, nama Agus Winarno menjadi bagian sejarah dari sebuah nama besar yang pernah berkostum hijau-hijau Green Force, julukan Persebaya.

''Saya membela Persebaya Surabaya mulai dari junior pada 1990. Saya diambil dari klub Assyabaab,'' kata Agus.

Karir lelaki kelahiran Gresik 8 April 1974 ini memang melesat bak meteor. Usai dari senior,  Agus langsung direkrut senior.

Di level senior, penampilannya makin moncer. Agus mencatatkan prestasi yang membanggakan.

''Saya dua kali menjadi top scorer (pencetak gol terbanyak) dua kali yakni musim 1991-1992 dengan sembilan  gol dan musim `993-1994 dengan enam gol,'' kenang Agus.

Selain di Persebaya, Agus pun juga mendapat panggilan membela Jawa Timur dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) 1993. Sayang, Agus  gagal memberikan konstribusi berarti. Jatim gagal meraih emas.

Namun, itu tak membuat sinarnya redup. Di usia 20 tahun, sebuah usia yang masih muda, PSSI pun kepincut. Agus pun masuk Timnas B pada 1994.

Di tahun yang sama, Agus pun hengkang ke klub sekota Persebaya, Mitra. Namun, dia pun hanya bertahan semusim.

''Pada 1995, saya membela Persegresik Gresik dan setahun kemudian ke Petrokimia Gresik,'' ungkapnya.

Cedera yang mendera membuat penampilannya menurun jauh. Hanya, pada 1996, Agus masih bisa menyumbangkan emas bagi Jawa Timur di PON 1996 di Jakarta.

''Cedera lutut pula yang membuat saya pensiun di usia yang masih muda. Usia saya masih 24 tahun,'' ujarnya.

Dia pun sempat menjajal seleksi di beberapa klub. Penulis sempat menemui Agus seleksi di Persibo Bojonegoro yang masih berkutat di Divisi II pada 2002.

'Saya sempat melatih karyawan di sebuah pemukiman elite,'' lanjutnya.

Karir yang redup di saat usia muda pun membuat Agus salah arah. Dia pun terjerumus dengan barang-barang haram narkoba.

''Saya masuk penjara selama dua tahun, 2005-2007. Saya mendekam di Lapas Banjarsari, Gresik,'' ungkap Agus.

Setelah keluar, dia bertemu dengan rekan lamanya di Persebaya, Hengki Kurniawan. Kiper kecil tapi lincah itu mengajaknya menjadi pelatih di SSB Lokomotif.

''Setelah itu, perlahan saya menata hidup. Jadi istilahnya hijrah he he he,'' tambah Agus.

Keseriusan dan nama besar yang disandang membuat dia dipercaya menangani klub internal Persebaya, Putra Indonesia, pada 2008.  Setelah itu, dia pun mulai laku menjadi pelatih.

Bahkan, dalam tiga musim terakhir, statusnya cukup menterang. Menjadi asisten pelatih di klub-klub Indonesia Super League (ISL) dan Divisi Utama. Di ISL, Agus membantu tugas Djoko Susilo dan di Persebo menjadi tangan kenan Hengki dan Bambang Sumantri. (*)

Sekilas Tentang

Nama: Agus Winarno

Lahir: Gresik, 8 April 1974


Karir
Pemain

1989-1990: Assyabaab Amatir

1990: Persebaya Junior

1991-1994: Persebaya Senior

1993: PON Jatim

1994; PSSI B Piala Kemerdekaan

1994: Surabaya Selection

1994: Mitra Surabaya

1995: Persegres Gresik

1996: PON Jatim

1996: Petrokimia Putra Gresik


Pelatih
2008: Putra Indonesia

2009: Gresik United U-15 Dispora Jatim

2010: Kresno Indonesia

2011-2012: Asisten Persegres ISL

2012-..: Asisten Persebo Bondowoso Divisi Utama

Read More

Ingin Kembangkan Usaha Rawon Suwir

KECIL:Agung menggendong M. Habibi Prasetyo

MASIH ingat kiper penjual rawon dan pecel Agung Prasetyo? Kini, usaha kuliner yang dijalankan olehnya semakin maju.

Agung pun ingin mengembangkan usahanya yang berurusan dengan lidah tersebut. Beberapa kawasan sudah disurveinya.

''Saya nyari yang tidak tetap saja. Rencananya, saya mau bawa mobil. Jadi kalau sudah habis atau malam, tinggal dimasukkan di mobil semua,'' kata Agung saat ditemui di rumahnya.

Menurutnya, jika nanti usahanya semakin berkembang, dia akan mengontrak ruko. Mantan kiper Arema ini berharap bisnisnya bisa seperti sup ayam khas Klaten.

Hanya, dia perlu informasi kawasan yang bebas dari razia satpol PP Kabupaten Sidoarjo. Dia tak ingin razia tersebut membuat bisnisnya macet.

Ya, saat ini, lelaki 36 tahun tersebut serius berjualan rawon dan pecel. Rawon Agung mempunyai kekhasan dibandingkan rawon lainnya.

''Dagingnya saya suwir-suwir. Ini yang membedakan dengan yang lain,'' ungkap kiper yang sukses mengantarkan Jawa Timur meraih emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 di Surabaya tersebut.

Hanya, dia mengaku kekhasannya itu rawan ditiru orang. Buktinya, salah satu pelanggan sempat mengira Agung buka cabang karena ada yang jual rawon dengan daging disuwir.

Tapi, sibuk di bisnis kuliner belum membuat Agung ingin pensiun dia sepak bola. Bapak yang baru saja dikaruniai anak lelaki, Muhammad Habibie Prasetyo pada 4 Januari lalu itu masih ingin membela klub asalnya tinggal, Persida Sidoarjo.

''Jangankan di Divisi Utama. Di Indonesia Super League (ISL) pun saya masih berani bersaing dengan yang muda'' pungkas kiper yang juga pernah membela PKT Bontang, Persisam Samarinda, dan Persegres Gresik itu. (*)
Read More

Latih Kiper dengan Bayaran Sukarela

RANGKAP: Ari Kurniawan mulai terjun sebagai pelatih.
DI antara kiper-kiper yang pernah berlaga di Indonesia, Ari Kurniawan disebut-sebut sebagai salah satu kiper terbaik. Dia pernah menjadi bagian Deltras Sidoarjo, Persekabpas Kabupaten Pasuruan, dan Persiram Raja Ampat saat berlaga di level tertinggi.

Menjelang pensiun, Ari pun masih menjadi kiper utama di Deltras yang tengah berjuang di Divisi Utama 2013, Sayang, masalah internal, membuat bapak tiga anak ini harus rela menyingkir dari The Lobster,julukan Deltras.

Musim 2014, Ari menolak tawaran beberapa klub. Alasannya, dia ingin membantu istrinya, Ineke Dwi Setyawati, yang tengah mengandung anak ketiga.

Lama tak terdengar kabarnya, ternyata Ari tengah merintis karir baru. Dia mendirikan sekolah spesial bagi kiper.

'' Bukan sekolah tapi camp. Nama lengkapnya Arwan Goalkeeper Camp,'' ungkapnya.

Nama Arwan, jelas dia, merupakan kependekan dari namanya, Ari Kurniawan. Camp itu, tambah dia, didirikan November 2014.

''Memang tak banyak anggotanya. Awalnya, latihan tiga kali seminggu tapi kini dua kali saja, Senin dan Jumat sore di Lapangan Jati, Sidoarjo,'' beber ayah Alfarrel Mahendra Lazzuardi, Arshavin Diandra Syathirbaihaqi, dan Aisha Cassandra Jasmine tersebut.

Beda dengan sekolah sepak bola pada umumnya, Arwan Goalkeeper Camp, jelasnya, tak menarik iuran. Menurut Ari, sementara belum ada tarikan uang.

''Yang latihan ngasihkan uang secara suka rela. Tapi, saya salut dengan mereka yang ikut di camp, semuanya semangat,'' puji Ari.

Selain berdasarkan pengalaman yang dimiliki selama hampir 20 tahun berkecimpung di berbagai klub, Ari juga telah mengantongi lisensi kepelatihan kiper. (*)
Read More

Sebenarnya Sudah Malu Jadi Pemain

Bejo Sugiantoro
PS Mojokerto Putra (PSMP) musim 2014 sempat diperkirakan bakal menjadi pelabuhan karir terakhir Bejo Sugiantoro sebagai pemain. Apalagi, setelah itu, libero terbaik Indonesia sepanjang masa tersebut memutuskan menekuni menjadi pelatih di Surabaya Football Club (SFC).

Ini dipertegas dengan posisi Bejo sebagai asisten pelatih di tim Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Surabaya. Dia diperbantukan meringankan kinerja Roffi Sinaryo yang didapuk sebagai pelatih kepala.

Dengan usia yang sudah menginjak 38 membuat Bejo sudah paham akan posisinya. Bapak tiga anak ini pun memantapkan jalur karirnya di pelatih.

Tapi, siapa sangka, ternyata Bejo masih berkarir sebagai pemain di lapangan hijau. Permintaan Gede Widiade membantu Persebo Bondowoso mengarungi Kompetisi Divisi Utama musim 2015 tak kuasa ditolak.

''Yang minta big boss. Saya tak bisa menolak,'' ungkap Bejo.

Ya, masuknya Gede dalam manajemen Persebo membuat nama klub tersebut menjadi Reza Persebo. Seperti halnya musim lalu saat Gede membantu PSMP dengan berganti nama Reza Mojokerto Putra.

''Sebenarnya, saya sudah malu main. Sudah tua,'' ucap Bejo.

Persebo pun menjadi klub kesekian bagi Bejo usai tak berkostum Persebaya. Ya, di Green Force, julukan Persebaya, Bejo menjadi legenda hidup. Karirnya hampir selama 1994-2008 dihabiskan di klub asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, tersebut. Memang, pada 2002-2003, Bejo sempat berkostum PSPS Pekanbaru sebelum akhirnya kembali ke Persebaya.

Namun, pada 2008, lelaki didikan klub Indonesia Muda (IM) tersebut benar-benar meninggalkan klub berlogo suro (hiu) dan boyo (buaya) tersebut. Mitra Kutai Kartanegara (Kukar/Kaltim, Persidafon Dafonsoro (Papua), dan PSMP merupakan klub yang pernah menggunakan tenaga Bejo.

''Di Persebo, saya juga merangkap sebagai asisten pelatih,'' pungkasnya. (*)
Read More

The Next Eri yang Terjuni Bisnis Sepatu

BISNIS: Agus Supriyanto saat ditemui di toko.
DIA seangkatan dengan Bambang Pamungkas. Bersama salah satu penyerang papan atas Indonesia itu, lelaki yang bernama Agus Supriyanto ini sama-sama menimba ilmu di Diklat Ragunan, hingga Timnas Pelajar Indonesia.

Selain bersama Bambang, ada juga nama Elie Aiboy yang menjadi rekannya. Mereka bermain bersama sejak Timnas U-16, U-17, U-18, dan U-19.

''Hanya beda nasib. Bambang dan Elie jadi pemain top, saya hanya penjual sepatu dan peralatan olahraga,'' kata Agus saat ditemui di tokonya di kawasan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sebenarnya, di awal karir di kompetisi senior, dia tak kalah jauh dengan Bambang dan Elie. Lelaki asli Solo, Jawa Tengah, tersebut dipercaya menjadi kapten Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 Kalimantan  Selatan.

Dia membela Kalimantan Selatan, yang bukan daerah asalnya, karena usai lulus dari Ragunan tawaran dari Barito Putera menghampirinya. Bahkan, Agus juga dipercaya menjadi kapten PON.

Spesialisnya dengan umpan jauh dan tembakan canon ball membuat klub papan atas Petrokimia Putera Gresik kepincut. Gara-garanya, Agus mampu menjebol gawang PON Jateng dalam laga uji coba melalui tembakan jarak jauh.

Gundul, sapaan karib Agus, diharapkan mampu menggantikan posisi (alm) Eri Irianto yang ditransfer ke Persebaya Surabaya.Sayang, harapan itu menguap begitu saja.

Dengan usia yang masih muda dan bergelimang uang, jiwa dan emosi Agus labil. Kehidupannya di luar lapangan berpengaruh dalam performanya di lapangan hijau.

Posisi inti di barisan tengah yang pernah digenggaman, lambat laun sirna. Kebo Giras, julukan Petrokimia Putra Gresik, pun gagal menciptakan The Next Eri Irianto.

BEPE: Agus (tiga kiri di belakang) berkostum timnas
Usai dari  Petrokimia Gresik, Agus pun berpetualang dari satu klub ke klub yang lain.PSS Sleman, Persegi Gianyar, Persibo Bojonegoro, PSMP Mojokerto Putera, Persikad Depok, hingga PSKT Tarakan pernah memakai tenaganya.

''Pada 2007, saya pensiun. Namun, saya tetap bermain bola meski hanya di ajang tarkam,'' ungkap Agus.

Di Solo, dia pun juga mulai belajar melatih. Klub kecilnya, Mars, ditanganinya.

Berkelana di berbagai klub pun ternyata juga sangat membantu. Saat dia menekuni bisnis sepatu dan pakaian olahraga, banyak koleganya yang dulunya merupakan rekannya bermain bola.

''Dari Tarakan, Bali, hingga Jawa Timur banyak yang membeli barang dagangan saya. Alhamdulillah, sekarang rezeki mengalir terus,'' pungkas Agus. (*)


Sekilas tentang Agus Supriyanto

Nama: Agus Supriyanto

Sapaan karib: Gundul

Karir pemain
1996: Diklat Ragunan

1999: Barito Putera

2000-2001: Petrokimia Putra Gresik

2002: PSS Sleman

2003: Persegi Gianyar

2004: PS Mojokerto Putera

2005: PSTK Tarakan

2006: Persikad Depok
Read More

Pensiun, Dirikan SSB di Kampung Halaman

GARUDA JAYA: Dwi Joko di tengah anak asuhnya.
MUSIM lalu, Dwi Joko Prihatin masih menjadi pilar Persis Solo. Setiap kali dipercaya tampil, dia selalu fight di atas lapangan.

Padahal, usianya sudah 36 tahun. Bahkan, sebenarnya, Dwi pun masih layak kembali mengenakan kaos merah-merah yang menjadi kebanggan Persis.

Sebuah tawaran dari klub Divisi Utama pun sempat menghampirinya. Itu pun kalau Dwi tak mau kembali ke Laskar Sambernyawa, julukan Persis.

''Saya pilih pensiun saja. Usia sudah 37 tahun dan sudah tak lazim bermain di level Divisi Utama apalagi ISL (Indonesia Super League),'' kata Dwi.

Namun, dia mengaku tak bisa lepas dari sepak bola. Untuk itu, bapak dua anak, Ardra Vova Valdendra (9) dan Gavriell Juan Valdendra, mendirikan sekolah sepak bola (SSB) di kampung halamannya, Kemasan, Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.

''Mulai 1 Januari, saya mendirikan SSB dengan nama Garuda Jaya. Ya, sekarang anggotanya sudah lumayan, 100-an orang lebih,'' ungkap Dwi.

Meski, awalnya, dia mengakui mendapat tentangan. Alasannya, daerahnya yang belum ramai itu belum layak mempunyai SSB.

Dwi Joko
''Dulu pernah ada, tapi terus mati. Ini yang membuat banyak orang pesimistis,'' ujar suami dari Ani Kristiyaningsih tersebut.

Namun, dengan bantuan dua rekannya, Dwi pun optimistis, SSB Garuda Jaya bakal bertahan. Apalagi, nama besarnya sebagai pesepak bola yang lama bermain di level elite menjadi pemikat pemain muda untuk menimba ilmu di sekolah sepak bolanya.

Ya, karir sepak bola Dwi memang cukup panjang. Bakatnya sebagai bek sayap di Persis pada musim 2000-2001 tercium Petrokimia Putra Gresik. Ini membuat lelaki yang bergelar sarjana olahraga dari Universitas Negeri Sebelas Maret Surakara (UNS) itu bergabung dari 2001-2003.

Dia ikut menjadi pilar saat mengantarkan Kebo Giras, julukan Petrokimia Putra Gresik, menjadi juara Divisi Utama musim 2001-2002. Pada musim 2003-2004, Dwi hengkang ke Deltras Sidoarjo.

Kini, selain menangani SSB Garuda Jaya, Dwi juga menjadi asisten pelatih di tim Liga Nusantara, Persiharjo Sukoharjo. (*)


Sekilas Dwi Joko
Nama Lengkap: Dwi Joko Prihatin

Lahir: Sukoharjo, Jawa Tengah, 25 Februari 1978

Posisi: Bek/gelandang bertahan

Karir:
Pemain
2000-2001: Persis Solo

2001-2003: Petrokimia Putra Gresik

2004-2006: Deltras Sidoarjo

2006-2007: Persita Tangerang

2007-2009: Deltras Sidoarjo

2009-2012: Persiba Balikpapan

2012-2014: Persis Solo

Pelatih
2014-..: Persiharjo Sukoharjo
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com