www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Sabtu, 21 Maret 2015

Hidup dari Kiriman Uang Saudara dan Teman

AFRIKA: Alan Nabie di Stadion Pogar.(foto:sidiq)

Larangan pemain asing di Divisi Utama memberikan dampak positif bagi pemain lokal. Mereka punya kesempatan luas mengembangkan potensi. Lalu bagaimana kebijakan itu untuk pemain asing.


PELUH masih membasahi tubuhnya. Namun, sepatu nike putih yang dipakai sudah dilepas.

Dari sisi lapangan Stadion R. Soedrasono, Pogar, Kabupaten Pasuruan, Sabtu pagi itu (21/3/2015), seorang lelaki asal Afrika serius mengamati rekan-rekannya yang tengah bertanding dengan tim Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) setempatnya.

Alan Nebie juga baru saja membela sebuah tim di Sidoarjo dalam laga uji coba. Hanya dalam pertandingan 2x60 menit itu, dia melawan Persekabpas yang akan turun di Liga Nusantara.

Aksinya pun tak mengecewakan. Lelaki 27 tahun asal negara di Afrika Burkina Faso tersebut mencetak tiga gol (hat-trick).

''Dia pemain bagus. Kalau aturan ada pemain asing di Divisi Utama, saya mau pakai Alan,'' kata Nus Yadera, pelatih senior yang pengalaman memoles Divisi Utama.

Sayang, aturan tanpa pemain asing di kompetisi level kedua sepak bola Indonesia tersebut membuatnya tak bisa merealisasikannya. Meski, dia juga berusaha melakukan kontak dengan dua tim Indonesia Super League (ISL), Persebaya Surabaya dan Persela Lamongan, untuk menjajal Alan yang berposisi sebagai penyerang tersebut.

''Persela sempat mau memakai. Namun, mereka sudah terlanjut mendatangkan Pedro (Javier, eks penyerang Persijap asal Paraguay),'' ungkap Nus.

Alan pun menyadari kondisinya. Hanya, dia mengaku heran dengan kebijakan di Indonesia yang sering berubah.

Karena belum mendapat klub, Alan pun tak mempunyain pemasukan. Hidupnya bersandar kepada kiriman saudara dan uluran tangan rekan.

''Gaji saya di Mojokerto Putra (klubnya musim lalu) juga belum dibayar,'' ungkap lelaki jangkung ini sambil geleng-geleng.

Namun, dia mengaku belum mau menyerah. Dengan latihan keras yang dijalani, Alan optimistis bisa mendapatkan klub.

Dia sendiri baru tahun lalu datang ke Indonesia. Itu, ungkapnya, karena ajakan rekannya dari negara yang sama, Bationo Germain. Bariono merupakan pemain yang sudah lama malang melintang di persepak bolaan Indonesia. Klub seperti Persitara Jakarta Utara, Mitra Kutai Kartanegara, dan Mojokerto Putra pernah memakai tenaga dan kemampuannya di lapangan hijau.

''Saya tertarik dengan ceritanya. Tahun lalu saya sebenarnya hampir masuk klub ISL, Persiba Bantul. Namun, mereka hanya janji dan pilih pemain lain. Padahal, saya banyak cetak gol dalam uji coba saat membela Bantul,'' ungkap Alan.

Tahun pertama yang sempat menyiksanya adalah urusan bahasa. Awalnya, dia hanya diam karena tak mengerti.

''Namun, saya akhirnya belajar. Dari mendengar teman Indonesia bicara saat di Mojokerto juga lewat terjemahan di google,'' papar lelaki dengan tinggi mencapai 180-an tersebut.

Kini, setelah problem bahasa teratasi, permintannya hanya satu, bisa kembali mendapat klub. Ini artinya, dia bisa hidup yang lebih mapan layaknya pemain asing di Indonesia yang berlaga di ISL. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com