www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 30 Maret 2015

Pelayan yang Nyaman di Lini Depan


BOMBER: Joko Hariyanto di Stadion Jenggolo,Sidoarjo.

Bomber asing selalu merajai daftar pencetak gol di kompetisi sepak bola Indonesia. Namun, pernah terselip  Joko Hariyanto, yang masuk dalam jajaran penyerang lokal tersubur. Apa kegiatannya kini?
--
GERAKANNYa masih lincah di lapangan. Umpan-umpannya juga terukur.

Itu dibuktikannya dalam latihan bersama kumpulan pemain-pemain senior di Sidoarjo, Ortas. Bahkan, dia dipercaya menjadi pengatur permainan.

Padahal, posisi gelandang bukan spesialisasinya. Dulunya, dia, Joko Hariyanto, merupakan salah satu penyerang yang haus gol.

Bahkan, lelaki kelahiran 1966 tersebut menjelma menjadi pemain yang mendobrak persaingan dengan pemain asing. Semua itu dimulai dari masa kecilnya di Purwodadi, Jawa Tengah.

''Saya masuk tim pelajar Purwodadi di level Jawa Tengah. Dari situ, saya direkrut Diklat Salatiga (Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pelajar/PPLP Salatiga) saat masih duduk di bangku SMP,'' kenang Joko.

Di Kota Dingin itu, kemampuannya semakin terasah. Apalagi, setelah dia membela Tim Pelajar Indonesia di ajang internasional.

''Dua kali saya masuk Timnas Pelajar Indonesia. Tapi, saya sudah di Diklat Ragunan bukan lagi Salatiga,'' tambah lelaki yang kini dikaruniai tiga anak tersebut.

Usai lulus Diklat Ragunan, Joko diburu banyak klub. Tapi, dari sekian klub, hanya PKT Bontang dan Barito Putera yang paling serius.

''Pelatih saya di Ragunan, Edi Santoso, menyarankan ke Barito. Alasannya, kesempatan saya main lebih besar,'' ungkap Joko.

Saran pelatih senior asal Solo, Jawa Tengah, itu pun dituruti. Dengan usia yang masih muda, Joko pun terbang ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, markas Barito.

Ternyata, keputusannya itu tepat. Joko mempunyai kesempatan main yang lebih luas.

''Tandem saya dengan Buyung Ismu menjadi tandem yang disegani. Hingga Buyung pun direkrut tim besar saat itu, Pelita Jaya,'' papar lelaki yang kini tinggal di kawasan Sukodono, Sidoarjo, tersebut.

Lepas Buyung, Joko punya tandem baru. Barito Putera mendatangkan penyerang asal Kamerun, Bako Sadissou.

''Bako dan saya mencetak gol yang banyak di Barito Putera. Tipe saya yang ngeyel cocok dengan Buyung dan Bako yang finisher,'' ucapnya.

Selama di Barito Putera, dari 1991-hingga 2001, beberapa pelatih pernah memolesnya. Nama Rudy Keltjes  dan  Alexander ''Saso'' Kostov tetap mempercayainya.

''Saya sempat pindah ke PKT Bontang hampir tiga musim. Setelah itu, saya balik ke Barito Putera lagi,'' lanjut Joko.

Pada, Joko sempat pulang ke kampung halamannya dengan membela Persipur Purwodadi. Setelah itu, dia hengkang ke klub Divisi Utama, Persegi Gianyar.

''Untung kepindahan dari amatir ke profesional berjalan lancar. Habis Persegi, barulah saya ke PSBK Blitar,'' terangnya.

Usia yang terus beranjak uzur tetap tak mengurang klub meminangnya. Persida Sidoarjo dan Persisam menjadi pelabuhan diakhir karirnya.

Di kampung halaman sang istri, Sidoarjo, pula Joko mulai terjun sebagai pelatih. Persida U-13 menjadi tim pertama yang ditangani.

''Persida Junior juga pernah. Setelah itu, saya di Persires, Kuningan, Jawa Barat. Namun, sampai saat ini belum ada kejalasan lagi,'' paparnya.

Kini, di tengah kevakuman, dia membantu persiapan tim Divisi Utama, Mojokerto Putra. Kebetulan, tim tetangga Sidoarjo itu berlatih tak jauh dari rumahnya. (*)




0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com