www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 23 Maret 2015

Pernah Jadi Dokter di Tiga Cabor Berbeda

MULTI: Dokter Syarif Alwi (foto: sidiq)
Di setiap latihan dan pertandingan Timnas Senior, sosok Syarif Alwi selalu ada. Lakon itu sudah dijalaninya sejak 1989.
--
POSTURNYA masih gagah. Kumis hitam membuat dokter Timnas Senior Syarif Alwi ini tampak masih berusia sekitar 50-an.

''Eh, jangan salah sangka. Tahun ini, saya sudah 66 tahun,'' kata Syarif saat bercengkerama di pinggir lapangan Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Senin pagi (23/3/2015).

Dia mengakui, semua itu tak lepas dari rutinnya melakukan latihan olahraga. Cabang olahraga yang sering dilakukannya adalah balap sepeda.

''Kalau libur, saya bersepeda di Senayan, Jakarta. Sepeda saya masukkan di mobil sejak dari rumah di kawasan Tanah Abang,'' ujarnya.

Sepeda memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Di masa mudanya, Syarif merupakan pembalap daerah asalnya, Sulawesi Selatan.

''Saya satu angkatan dengan dua pembalap andalan Jatim, Sutarwi dan Sapari. Saya pernah turun di PON (Pekan Olahraga Nasional) 1973 di Jakarta,'' kenang bapak tujuh anak ini.

Akibat serius di balap sepeda pula yang membuat kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar terbengkalai. Syarif baru lulus saat usianya sudah hampir berkepala tiga.

''Lebih banyak jadi atlet sepeda sehingga kuliah terbengkalai,'' ujarnya.

Perkenalannya dengan salah satu legenda sepak bola Indonesia, Ronny Patinasaranny yang juga dari Makassar membuat masuk dalam dunia sepak bola. Mulai 1989, Syarif mulai menjadi dokter di timnas.

Baginya, Ronny merupakan pesepak bola yang menjadi sahabatnya. Saat sakit pula, dialah yang membawa lelaki dengan skill sepak bola tinggi tersebut ke Tiongkok untuk berobat.

''Ronny mengajak saya jadi dokter tim kali pertama di Persiba Balikpapan di era perserikatan juga. Ini yang menjadi awal saya mengenal olahraga ini,'' papar Syarif.

Hanya, dia tak hanya berkecimpung di timnas sepak bola. Lelaki yang mempunyai sebuah klinik di Bekasi, Jawa Barat, tersebut juga pernah menjadi dokter di pencak silat dan balap sepeda. Semua mampu dilakoninya dengan baik.

''Tapi mulai 2011 lalu, saya full di sepak bola, khususnya timnas sepak bola senior. Namun, saya bergabung kalau hanya ada pemusatan latihan, bukan tiap hari di PSSI,'' ungkap lelaki yang mengambil spesialis penyembuhan cedera olahraga di Koeln, Jerman, itu.

Hanya, dia masih menganggap pesepak bola timnas senior kurang peduli dengan kesehatannya. Mereka sering menutupi sakit yang dialami saat bergabung dengan Pasukan Garuda.

''Padahal, itu sangat penting sebelum pelatih menyusun program latihan dan pertandingan. Saya ingin para pemain terbuka mengenai kondisinya sendiri,'' pungkas Syarif. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com