www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Jumat, 27 Maret 2015

Seriusi Tangani Kelompok Umur



Tommy bersama anak asuh di Kabomania.
Dia pernah diharapkan menjadi sosok lini sentral Timnas Indonesia di awal era 2000-an. Sayang, ketidaksiplinan membuat karirnya di lapangan hijau cepat menghilang.
--
SEBUAH tembakan bebas di SEA Games 2001 selalu mengingatkan pada sosok Haryanto ''Tommy'' Prasetyo. Pujiaan setinggi langit pun  disematkan kepada lelaki yang saat itu masih berusia 23 tahun.

''Saya akan selalu kenang gol itu. Ada Agum (Gumelar, Ketua PSSI) juga menonton,'' jelas Tommy.

Sinarnya mampu mengalahkan para senior. Tembakan bebas memang menjadi salah satu spesialis dari pemuda asal sebuah desa di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah yang bernama Bekonang.

''Saya juga mencetak gol yang nyaris sama ke gawang Kamboja dalam Pra Piala Asia dan Pra Piala Dunia,'' paparnya.

Sejak kecil, Tommy memang sudah dikenalkan dengan sepak bola. Keluarganya yang dikenal gila bola pun ikun menunjang karirnya.

''Saya memulai karir dari SSB Fortuna, Sukoharjo. Dari sana, saya kemudian masuk Diklat Arseto melalui klub Monas Putra yang pemainnya memang dari SSB Fortuna,'' ujar adik dari mantan penyerang nasional Indriyanto ''Nunung'' Nugroho itu.

Dia digembleng di Diklat Arseto saat usianya masih kurang dari 15 tahun. Peranannya di lini tengan pun membuat dia dilirik Diklat Salatiga (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar /PPLP Salatiga).

''Kelas 1, saya masuk Diklat Salatiga. Saya juga membela Timnas Pelajar dan juara di Malaysia dan Indonesia,'' ucap Tommy.

Satu tahun di Salatiga, Tommy pun dipromosikan ke Diklat Ragunan. Dia dipercaya masuk Timnas U-16.

''Saya main di Teheran, Iran. Setelah itu, saya masuk masuk Baretti di Italia,'' ungkapnya.
Tommy saat membela Timnas U-16

Di Negeri Pizza, julukan Italia, kemampuannya semakin terasah. Tommy pun juga menembus di level yang level atas, Primaverra.

Ketika proyek ambisius Baretti-Primavera usai, Tommy pun langsung direkrut klub besar dan kaya, Pelita Jaya. Dia awal 2000-an, posisinya nyaris tak tergantikan.

Sayang, ketidakdisiplinan membuat posisinya di lini tengah mulai goyah. Lambat laun, Tommy pun jadi penghangat bangku cadangan.

''Saya tidak bisa menjaga badan sehingga jadi gemuk. Memang turunan dari ibu,'' buka Tommy.

Kondisi itu pula yang membuat karirnya di timnas pun berakhir pada usia 24 atau 2002.  usia yang masih sangat muda yang sebenarnya masih panjang untuk berkostum merah putih.

''Terakhir, ssaya ditangani Nandar (Iskandar). Saat dipegang Bendol (sapaan karib pelatih Benny Dolo), saya sempat masuk tapi terpental. Beda pelatih memang beda keinginan,'' ujar bapak satu anak ini.

 Tapi, ujar Tommy, dia sudah bangga bisa membela Indonesia di luar. Satu hal yang tak bisa diukur dengan materi.

Dari Pelita, Tommy pun berkelana ke berbagai klub. Persijatim Jakarta Timur, Persijap Jepara, PSS Sleman, Persiku Kudus, Persis Solo, dan Manado United pun menjadi singgahan karirnya.

Cedera lutut yang dialami ketika membela Persiku membuat dia semakin redup. Hingga akhirnya pada 2010, Tommy benar-benar gantung sepatu saat usianya 32 tahun.

''Saya kemudian menekuni jadi pelatih. Lisensi C sudah saya punya. Tapi, saya masih mau up grade dengan ikut lisensi C AFC (Federasi Sepak Bola Asia),'' ujarnya.

Saat ini, Tommy dipercaya menjadi pelatih di SSB Kabomania di Cibinong, Kabupaten Bogor. Di sana juga ada sang kakak, Nunung.

''Saya sudah membawa U-14 Kabomania juara di Bandung dan Jakarta. Saya konsentrasi di tim ini dulu,'' kata lelaki yang sering bolak-balik ke Solo karena anak dan istrinya tinggal di Kota Bengawan, julukan Solo, itu. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com