www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Punya Insting Cetak Pemain Bintang

TANGAN DINGIN: Pramono

Banyak pemain top lahir dari binaan pelatih yang tak punya nama besar.  Hanya, kejelian dan ketekunan mereka yang mampu membuat anak asuhnya kelak di kemudian hari menjadi terkenal.
---
WAJAHNYA sudah banyak yang berkeriput. Rambut yang memutih tetap banyak di kepala meski sudah sering disemir hitam.

Kepulan asap pun keluar dari mulutnya saat ditemui di rumahnya pada Rabu dini hari (29/4/2015). Ya, dia adalah Pramono, salah satu mantan pemain Persema Malang di era 1970-an.

Melihat fisiknya sekarang, banyak yang tak percaya dia dulunya pesepak bola. Padahal, Pramono merupakan pesepak bola yang cukup disegani di kawasan Malang dan Surabaya.

''Saya pernah membela Persema Malang di Piala Surya di Surabaya sekitar 1975.  Asal klub saya Indonesia Muda (IM) Malang,'' kenang Pramono di rumahnya di kawasan Surabaya Barat.

Setelah dari Persema, Pramono merantau bersama rekan-rekan satu angkatannya ke Kediri.  Namun, itu tak bertahan lama. Salah satu rekannya adalah Bambang Nurdiansyah. Kelak, Bambang menjadi pemain depan andalan Indonesia di era 1980-an.

''Karena gagal ke Kediri, saya ke PSAD Surabaya. Itu tahun 1976 dan jadi pengalaman pertama ke Surabaya,'' ungkap Pramono.

Di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, kemampuan lelaki kelahiran 1957 itu dalam mengolah si kulit bundar semakin terasah.  Tak heran jika dia pun sempat mendapat kesempatan membela Arseto di era Galatama.

''Saya sudah ditawari Arseto magang selama enam bulan. Kalau lolos, saya jadi pemain tetap,'' ujar Pramono.

Namun, persaingan yang ketat di Arseto membuat Pramono realistis. Dia tak memberikan suratnya kepada salah satu petinggi klub milik keluarga Cendana itu.

''Ismet Taher meminta surat saya dan minta tanda tangan. Namun, saya kasih alasan,'' paparnya.

Karena masih berada di Jakarta (saat itu Arseto masih di Cempaka Putih, Jakarta, sebelum pindah ke Solo), dia mengadu nasib ke UMS. Pelatih Endang Witarsa pun kesengem kepadanya.

Namun, kecintaannya kepada Surabaya, lagi-lagi membuatnya gagal merasakan atmosfer Galatama. Pramono pun kembali ke PSAD.

''Setelah itu, pada 1985, saya bekerja di Dolog. Saya juga sudah tak serius lagi bermain bola,'' terang bapak dua anak itu.

Namun, panggilan dari petinggi Dolog membuat Pramono kembali bergelut dengan bola. Bersama beberapa mantan pemain Persebaya seperti Waskito, Riono Asnan, dan Joni Fahamsyah, mereka mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Dolog.

Nah, di SSB inilah, tangan dingin dan instingnya sebagai  pelatih terasah. Salah satu pemain yang kemudian menjadi bintang lapangan hijau di Indonesia adalah Uston Nawawi.

''Sejak kecil, semangat Uston untuk maju sangat besar. Dia naik sepeda dari Klagen, Sukodono, ke Dolog. Jaraknya ya lumayan jauh, bisa 15 kilometer lebih,'' lanjut Pramono.

Di Klagen pula, Pramono juga mencetak sosok yang kini menghuni lini tengah Timnas Indonesia Hariono. Bedanya dengan Uston, lelaki yang kini membela Persib Bandung tersebut dipolesnya di sebuah klub internal Askot PSSI Surabaya, HBS.

''Di HBS juga ada Munhar (yang kelak menjadi pemain Arema dan Persebaya). Dia juga bersepeda dari rumahnya di Taman Pinang Sidoarjo ke Karangpilang,Surabaya,'' terang Pramono.

Selain itu ada juga nama Rendi Irwan (mantan pemain nasional yang membela Persebaya, Mitra Kukar, dan sekarang di Persija Jakarta) serta Lucky Wahyu (mantan pemain nasional U-19, Persebaya, Persija, dan kini di Barito Putera). Meski sudah menjadi pemain top, mereka tetap tak pernah lupa dengan Pramono.

Namun, seiring usianya yang uzur, dia sudah tak aktif menjadi pelatih. Hanya sesekali dia meluangkan waktunya untuk bermain sepak bola.

''Biar tetap sehat saja,'' pungkas Pramono. (*)
Read More

Pantau Mantan Penyerang Persebaya

MELENCENG: Penalti Wimba yang gagal.

PERBURUAN pemain Deltras belum berakhir. Meski, tim yang pernah disegani di kancah sepak bola Indonesia tersebut sudah mengikat tiga pemain senior yang kenyang pengalaman, Uston Nawawi, Mat Halil, dan Jefri Dwi Hadi.

Uston dan Jefri berposisi sebagai gelandang. Sedangkan Halik beroperasi sebagai bek kanan.Dari segi pengalaman, ketiganya sudah pernah merasakan mengenakan kostum Timnas Indonesia.

''Kami masih mencari pemain lagi di posisi depan. Tinggal satu tempat,'' ungkap Yono Karpono, asisten pelatih Deltras.

Nah, saat menghadapi sesama tim Liga Nusantara, PSID Jombang, pada Sabtu (25/4/2015), ada dua muka baru yang dijajal yakni Ale dan Wimba Sutan Fenosa. Keduanya pernah membela dua tim Indonesia Super League (ISL), Persela Lamongan dan Persebaya Surabaya. Hanya, usai uji coba melawan PSID tersebut, hanya Wimba yang masih bertahan.

''Ale sudah kami pulangkan,'' terang Yono tanpa merinci alasan memulangkan pemain jangkung tersebut.

Namuan, kalau melihat penampilannya selama sekitar 20 menit, Ale hanya mengandalkan kelebihan fisiknya. Selain itu, Wimba punya nilai plus saat berhadapan dengan PSID.

Dia mampu mencetak dua gol. Hanya, satu eksekusinya saat adu tendangan penalti gagal menjebol gawang lawan.

''Kamis (30/4/2015), kami akan mengadakan uji coba di Probolinggio. Di situ kami akan menentukan nasib Wimba,'' ujar mantan kiper Assyabaab Surabaya tersebut. (*)
Read More

PSID Masih Jebol Dua Gol

PERLAWANAN: Deltras saat uji coba dengan PSID Sabtu (25/4).

KEMENANGAN kembali dipetik Deltras Sidoarjo. Kali ini giliran sesama tim Liga Nusantara, PSID Jombang, yang disikat dengan skor 5-2 (2-2) dalam pertandingan uji coba yang dilaksanakan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Sabtu sore WIB (25/4/2015).

Lima gol The Lobster disumbangkan oleh Wimba Sutan Fenosa (dua gol), Achmad Setiawan, Khoirol, dan Rizal. PSID sempat mengejutkan saat mampu menyamakan kedudukan 2-2 hingga babak pertama usai.

Rentetan kemenangan ini bisa menjadi penambah semangat untuk menghadapi Liga Nusantara Zona Jawa Timur yang rencananya digulirkan pada 9 Mei mendatang. Pekan lalu, anak asuh Harmadi itu juga menekuk tim Liga Nusantara lainnya, Jember United, dengan skor 2-1.

Dari semua lawan yang sudah dihadapi, Deltras hanya kalah dari kesebelasan PON Jatim. Namun, saat itu, mereka tak diperkuat sang kapten Uston Nawawi yang saat itu tengah melakukan pertandingan ekshibisi bersama rekan-rekannya di eks PSSI Primavera dan Baretti di Bukittingi, Kalimantan Barat.

''Tapi, masih banyak kelemahan yang harus dibenahi di Deltras. PSID bukan lawan yang bagus, tapi kok bisa kebobolan di babak pertama,'' kritik Gatot M., salah satu pelatih asal Sidoarjo.

Hanya, keunggulan fisik dan kekompakan karena sudah berlatih lama membuat The Lobster menguasai di babak kedua. Imbasnya, tiga gol bersarang ke gawang PSID di paro babak kedua.

''Kami masih ada rencana uji coba lagi. Mungkin, Kamis (30/4/2015) akan menghadapi Probolinggo United guna memantai kesiapan tim,'' jelas Yono Karpono, asisten pelatih Deltras. (*)
Read More

Batal, Langsung Balik Sidoarjo

POSE:Pemain dan pelatih PON Jatim 2016.

KESEBELASAN Pekan Olahraga Nasional (PON) Jatim 2016 balik kucing. Mereka memilih pulang ke mesnya di kawasan Pondok Jati, Sidoarjo, pada Kamis siang dari Lumajang.

‘’Tidak adanya izin membuat kami gagal bertanding menghadapi Persewangi Banyuwangi,’’ kata Iwan, Suprijanto, asisten pelatih khusus kiper.

Rencananya, pada Minggu (26/4/2015), kesebelasan PON yang berubah nama menjadi Laga FC di ajang Divisi Utama akan menantang Persewangi. Sebelumnya, Rama dkk melakukan uji tanding di Lumajang melawan PSIL pada Kamis (23/4/2015).

Hasilnya, PON Jatim atau Laga FC unggul 2-1 atas tuan rumah. Ini membuat rentetan kemenangan tim yang dikepalai Hanafing tersebut semakin panjang.  Hanya dari tim Divisi Utama PSBI Blitar mereka menelan kekalahan.

‘’Tahu batal, kami langsung dari Lumajang ke Sidoarjo.  Setelah ini, kami konsentrasi kembali latihan menghadapi Kualifikasi PON Zona Jawa pada November mendatang,’’ ungkap Iwan.

Ya, polemik pembekuan PSSI  oleh Menpora Imam Nahrawi membuat kompetisi sepak bola Indonesia dibekukan.  Imbasnya, Indonesia Super League dan Divisi Utama tak bisa bergulir. (*)
Read More

Cari Lawan untuk Mendekati Area Kompetisi

SOLID: Skuad kesebelasan PON Jatim. (foto:sidiq)

TIM sepak bola PON Jatim konsentrasinya terbagi. Di satu sisi, mereka harus bersiap menghadapi babak kualifikasi. Namun, di sisi lain, anak asuh Hanafing tersebut juga harus tampil di Kompetisi Divisi Utama.

Ya, di kompetisi level kedua di Indonesia itu, tim sepak bola PON Jatim tampil dengan nama Laga FC. Nah, mulai pekan ini, kondisi tersebut sudah harus dihadapi Cakra dkk.

''Kami akan menggelar uji coba di Lumajang untuk menghadapi tim Porprov sana pada Kamis (23/4/2015). Setelah itu, kami ke Banyuwangi untuk menghadapi Persewangi di ajang Kompetisi Divisi Utama tiga hari kemudian,'' kata Hanafing.

Untuk itu, dia pun sudah menentukan komposisi pemain yang akan turun di ajang Divisi Utama. Komposisi itu sudah dicobanya dalam latihan terakhir di Gelora Delta, Sidoarjo, pada Selasa WIB (21/4/2015).

Hanafing membagi timnya menjadi dua dan melakukan game internal selama 2x45 menit. Permainan berlangsung dengan ketat.

Tim inti yang memakai rompi kuning dengan mengandalkan Cakra tak diberi kesempatan mengembangkan permainan. Hanya, kelengahan Lessy membuat Cakra mampu menjebol gawang tim pelapis yang dikawal Ahmad Rizky.

''Kami memang sengaja uji coba ke arah timur karena mendekati lawan-lawan yang dihadapi di Divisi Utama,'' tambah Wardi Siagian, wakil ketua Asprov PSSI Jatim yang selalu mendampingi Tim Sepak Bola PON Jatim. (*)

Jadwal Laga FC di Divisi Utama 2015:

PUTARAN I
26 April 2015: Persewangi Banyuwangi vs Laga
30 April 2015 : Persebo Bondowoso vs Laga
6 Mei 2015 : Laga vs Perssu Sumenep
10 Mei 2015 : Laga vs Persida Sidoarjo
17 Mei 2015 : Persekam Metro vs Laga
21 Mei 2015 : PSBK Kota Blitar vs Laga
27 Mei 2015 : Persekap Kota Pasuruan vs Laga
6 Juni 2015 : Laga vs PS Sumbawa Barat
10 Juni 2015 : Laga vs PS Badung

PUTARAN II
26 Juli 2015 : PS Badung vs Laga
30 Juli 2015 : PS Sumbawa Barat vs Laga
5 Agustus 2015 : Laga vs Persekap Kota Pasuruan
15 Agustus 2015 : Laga vs PSBK Kota Blitar
19 Agustus 2015 : Laga vs Persekam Metro
26 Agustus 2015 : Persida Sidoarjo vs Laga
30 Agustus 2015 : Perssu Sumenep vs Laga
6 September 2015 : Laga vs Persebo
10 September 2015 : Laga vs Persewangi Banyuwangi.
Read More

Pelajaran Bahasa Inggris Tiga Jam Sehari

BARU: Mes tim sepak bola PON Jatim di Pondok Jatim.

Perpindahan mes PON Jatim dari Surabaya ke Sidoarjo membawa banyak perubahan. Bukan hanya di lapangan, di luar juga.
---
SEORANG petugas keamanan baru saja menaiki sepeda anginnya. Saat hendak menggenjot pedalnya, penulis menanyakan di mana rumah yang dijadikan mes tim sepak bola Pekan Olahraga Nasional (PON) Jatim 2016.

''Langsung ke utara.Rumahnya pas di pojokan,'' terangnya.

Lokasinya yang tak jauh dari pos keamanan membuat rumah yang dimaksud mudah ditemukan. Sebuah rumah bercat putih terlihat megah di Perumahan Pondok Jati, Jati, Sidoarjo.

''Saya mencarinya bersama teman-teman Asprov Jatim. Rumah ini ketemunya berkat informasi di internet,'' kata Wardi Siagian, Wakil Ketua Asprov PSSI Jatim.

Sebenarnya, banyak tawaran rumah untuk dipakai. Bahkan, sebuah rumah yang lebih luas di Perumahan Pondok Mutiara, Sidoarjo, sempat menarik perhatian.  Pondok Mutiara merupakan perumahan elite di Kota Udang, julukan Sidoarjo, yang lokasinya di selatan Pondok Jati namun terpisah jalan raya.

''Kalau latihan anak-anak harus menyeberang. Jadi, saya putuskan di Pondok Jati saja,'' ungkap Wardi.

Di mes yang baru itu, tambah lelaki yang juga dokter tersebut banyak juga hal baru jauh berbeda dengan saat masih di MesKONI di kawasan Kertajaya, Surabaya. Para pemain mulai dikenalkan dengan bahasa Inggris.

''Kami datangkan guru bahasa Inggris yang kebetulan kenal. Ini sangat penting untuk membekali masa depan mereka,'' terang Wardi.

Lelaki yang pernah jadi ketua panpel Persebaya Surabaya tersebut menambahkan, pelajaran bahasa Inggrisitu dilakukan 3 jam dalam sehari. Meski, Wardi mengakui taki semuanya suka.

''Saat diberi pelajaran, ada yang mengantuk. Tapi, saya tetap mengingatkan bahasa Inggris itu sangat penting,'' ujarnya.

Selain itu, para pemain juga akan dikenalkan dengan melek teknologi dalam hal ini internet. Sama halnya dengan bahasa Inggris, papar Wardi, itu juga untuk masa depan pemain PON Jatim.

''Kami juga sudah mengundang para pemain untuk menjadi motivator. Aji Santoso (pelatih timnas U-23) sudah datang. Dia menceritakan masa lalunya hingga bisa sukses seperti  ini,'' lanjut bapak tiga anak tersebut.

Nama lain yang dibidik untuk didatangkan adalah legenda Persebaya Surabaya Samsul Arifin. (*)
Read More

Gagal Penalti, Uston Sudah Biasa

Eksekusi Uston Nawawi yang gagal ke gawang Jember United

DELTRAS Sidoarjo memang menang 2-1 atas Jember United dalam laga uji coba di Gelora Delta, Sidoarjo, pada Sabtu (18/4/2015). Seharusnya, tim pujaan Deltamania tersebut seharusnya bisa menjebol gawang lebih dari dua kali.

Banyak peluang yang terbuang percuma. Salah satunya adalah eksekusi penalti yang dilakukan kapten Deltras Uston Nawawi.

Tentu sangat mengejutkan, pemain sekelas dia gagal mencetak gol dari tembakan 11 meter itu. Hanya, kalau merunut ke belakamg, Uston sudah sering gagal mengeksekusi penalti.

Bahkan, itu terjadi di laga-laga krusial. Di antaranya saat membela Persidafon Dafonsoro, Papua.

Tembakannya ke gawang Persibo Bojonegoro di semifinal Kompetisi Divisi Utama musim 2009-2010 gagal dimentahkan kiper Herry Prasetyo. Imbasnya, Persidafon pun gagal lolos ke final dan menembus level Indonesia Super League (ISL).

Tapi, ada lagi yang lebih ironis. Pil pahit tersebut terjadi pada final SEA Games 1997.

Ketika itu, Indonesia  bertindak sebagai tuan rumah. Bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 18 Oktober 1997, Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, sempat unggul lebih dulu melalui gol Kurniawan Dwi Yulianto.

Hanya,k Thailand sukses menyamakan kedudukan lewat Chaichan Kiewsen. Setelah 120 menit pertandingan, kedudukan 1-1 tetap bertahan. Drama adu penalti pun digelar.

Dua penendang penalti pertama Indonesia, Aji Santoso dan Fachry Husaini, menjalankan tugasnya dengan baik. Petaka pun terjadi saat dua eksekutornya, Ronny Wabia dan Uston Nawawi, gagal membobol gawang Thailand.

Indonesia akhirnya kalah 2-4 dalam drama adu penalti. Uston pun mengakui peristiwa tersebut selalu ada di dalam memorinya. (*)
Read More

Lolos, Tiket ke Thailand Menanti

TARGET: Tim PON Jatim tengah berdoa

TIM sepak bola Jawa Timur(Jatim) tengah berjuang menembus Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016. Salah satu jalannya adalah melewati babak kualifikasi yang dilaksanakan di Gelora Delta, Sidoarjo, pada November mendatang.

Memang bukan pekerjaan mudah. DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, maupun Banten bisa menjadi pengganjal. Namun, persiapan serius juga telah dilakukan.

Di bawah polesan Hanafing, mereka menjalani program teknik dan fisik. Tujuannya, Cakra dkk mampu berlaga dalam pesta olahraga empat tahunan yang rencananya dilaksanakan di Jawa Barat tersebut.

Manajemen tim pun telah menyiapkan apresiasi. Apa itu? ''Para pemain akan dibawa ke Thailand. Tapi, semua itu kan masih dilihat di kualifikasi nanti,'' kata Wardi Siagian, wakil ketua Pengprov PSSI Jawa Timur.

Sebenarnya, try out ke luar negeri bukan hal yang baru di tim sepak bola PON Jatim. Pada 2008, Andik Vermansyah dkk dibawa ke Negeri Gajah Putih, julukan Thailand. Kemudian pada 2012, saat ditangani Danur Dara, mereka digenjot dengan uji coba di Vietnam.

Emas menjadi tradisi bagi Jawa Timur. Sejak 2000, posisi terhormat selalu menjadi milik provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut.

Namun, tradisi itu pada 2012. Datang sebagai unggulan, mereka sudah tersungkur di babak kualifikasi. Tuan rumah Kalimantan Timur (Kaltim) pun akhirnya menjadi juara. (*)
Read More

Tambahan Nama Biar seperti Orang Kota

JU: Misnadi

Misnadi Amrizal Pribadi pernah jadi momok menakutkan bagi para pemain belakang di pentas sepak bola Indonesia. Di setiap musim, namanya selalu masuk dalam daftar pencetak gol terbanyak.
---
OTOT kakinya masih terlihat kekar. Badannya pun hyaris tak ada lemak.
Padahal, kini, usia Misnadi Amrizal Pribadi sudah masuk 47 tahun.

''Saya sudah tua he he he. Namun, masih menjaga tubuh dengan bermain sepak bola,'' kata Misnadi.

Bahkan, dia masih sering diundang tampil di berbagai kota untuk turun ke lapangan hijau. Tapi, itu bukan di kompetisi amatir atau profesional.

''Mainnya di turnamen batasan usia. Biasanya usia 40 ke atas,'' lanjut Misnadi.

Nama besarnya pun memang masih disegani. Ya, Misnadi merupakan salah satu penyerang lokal terbaik yang pernah ada di kompetisi sepak bola Indonesia.

Namanya terangkat saat dia membela Gelora Dewata Bali. Namun, sebelumnya, bakatnya sudah tercium ketika lelaki asal Lumajang tersebut berkostum klub Galatama, Bentoel, Jember.

''Saya bisa main di Galatama karena dipanggil melalui surat. Saat itu, saya main di Divisi II PSBI Blitar dan sempat masuk namanya di tim PON Jatim 1989,'' ungkap Misnadi.

Hanya, saat mendapat panggilan masuk PON Jatim, dia tak datang. Alasannya pun cukup unik.

''Saya kan pemain desa, dipanggil seleksi ke Surabaya yang kota saya nggak mau,'' kenang Misnadi.

Di Bentoel, lelaki dengan tinggi ''hanya'' 160 sentimeter tersebut bertahan hingga tiga tahun. Di klub yang disponsori perusahaan rokok itu pula, dia mendapat tambahan nama Amrizal Pribadi.

''Yang memberikan Rudy Keltjes yang saat itu menangani Bentoel. Katanya, biar kelihatan orang kota dari namanya,'' terang Misnadi.

Penampilannya di Bentoel pula yang membuat Gelora Dewata kepincut dengannya. Bersama klub milik HM Mislan ternyata menjadi klub yang paling lama dibelanya. Mulai 1992 hingga delapan musim ke depan, Misnadi menjadi andalan.

Saat Gelora Dewata pindah ke Sidoarjo dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta, dia tetap menjadi pilar. Dua musim dia berada di Kota Udang, julukan Sidoarjo. Setelah itu, dia mulai melanglang ke berbagai klub. Persegi Gianyar, Persid Jember, PS Mojokerto Putra, dan Persipro Probolinggo.

"Saya pensiun pada 2010. Usia sudah semakin tua untuk tampil di kompetisi yang ketat,'' ungkap Misnadi.

Usai pensiun sebagai pemain, karir Misnadi pun masih di olahraga bola sepak. Dia menekuni sebagai pelatih dan kini menangani Jember United. (*)

Sekilas tentang Misnadi

Nama: Misnadi

Nama Beken; Misnadi Amrizal Pribadi

Usia sekarang: 47 tahun

Posisi saat bermain: Penyerang

Karir

1989-1992: PS Bentoel Galatama Jember

1992-2000: Gelora Dewata Bali

2000-2002: Gelora Putra Delta (GPD) Sidoarjo

2002-2003: Persegi Gianyar Bali

2003-2005; Persid Jember

2006: PS Mojokerto Putra (PSMP)

2007:Persid Jember

2008-2010: Persipro Probolinggo.
Read More

Penasaran dengan Tim PON Jatim

Deltras (belakang) saat berhadapan dengan Jember United.

DELTRAS terus menata kekuatan. Berbagai uji coba sudah dilakukan oleh anak asuh Harmadi itu sebagai persiapan menghadapi Liga Nusantara 2015 yang rencananya dilaksanakan Mei mendatang.

Kali ini, The Lobster,julukan Deltras, ditantang sesama tim Liga Nusantara Jember United. Hasilnya, tim yang dikapteni Uston Nawawi tersebut unggul 2-1 (0-1) dalam pertandingan yang dilaksanakan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Sabtu (18/4/2015).

Tuan rumah sempat tertinggal saat penggawa Jember United Samsul Pellu melepaskan tembakan keras yang gagal dijangkau kiper Susanto. Skor 0-1 bagi tamu ini bertahan hingga babak pertama.

Di babak kedua, Deltras terus menekan pertahanan Jember United. Hasilnya, dua gol mampu bersarang ke gawang lawan melalui Achmad Setiawan dan Sutrisno.

Sebenarnya, tim yang baru saja degradasi dari Divisi Utama tersebut bisa unggul lebih dari range satu gol. Banyak peluang yang terbuang percuma.

Bahkan, satu tembakan penalti gagal disarangkan Uston. Tembakan mantan pilar Timnas Senior Indonesia itu terlalu mudah dipatahkan kiper Jember United.

''Masih banyak evaluasi yang harus kami lakukan,'' terang Harmadi.

Sayang, kemenangan atas Jember United itu ternoda dengan dua kartu merah yang diterima Achmad Setiawan dan Maulidin. Pertandingan melawan Jember United merupakan laga uji coba ketiga selama pekan ketiga April.

Sebelumnya, pada Selasa (14/4/2015), Deltras menang 2-0 atas klub internal Askot PSSI  Surabaya El Faza dan dua hari kemudian giliran sesama tim Liga Nusantara asal Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Parabola FC, disikat 3-2.

''Kami masih ingin menantang Laga FC atau PON Jatim. Main di Malang pun, kami siap,'' terang Muzaky,asisten pelatih Deltras.

Ya, PON Jatim merupakan satu-satunya tim yang mengalahkan Deltras. Hanya saat tumbang 1-2, tim titisan Gelora Dewata Bali itu tak diperkuat Uston. Ketika itu, sang kapten tengah berada di Bukittinggi, Sumatera Barat, untuk menjalani ekshibisi bersama rekan-rekannya di eks PSSI Primavera dan Baretti yang pernah digembleng di Italia. (*)
Read More

Klub Pencetak Evan Dimas Hidup dari Iuran Rp 100 Ribu

KOMPAK:Pemain Mitra mendengarkan arahan dari pelatih Arifin.


Evan Dimas Sudarmono disebut-sebut sebagai calon bintang masa depan Indonesia. Dia mampu menjadi kapten yang membuat Timnas U-19 juara Piala AFF U-19 dan membawa Indonesia menembus Piala Asia 2014. Tapi, dari mana dia memulai karir gemilangnya?
--
MENCARI Lapangan Poral bukan perkara mudah. Perlu berhati-hati untuk bisa menemukan lapangan yang masuk wilayah Lidah Wetan, Surabaya, Jawa Timur, itu.

Ini dikarenakan lokasinya yang cukup menjorok. Harus masuk sekitar 50 meter dari jalan penghubung kawasan Wiyung, Surabaya, dengan Menganti Gresik.

Saat masuk, sebuah pintu baja sedikit terbuka. Ketika melihat di dalam ada puluhan sepeda motor yang diparkir pemiliknya yang tengah bermain bola di tengah lapangan. Ya, mereka adalah pemain Mitra Surabaya, klub anggota internal Askot PSSI Surabaya yang juga tim peserta Liga Nusantara dua tahun terakhir, 2014 dan 2015.

''Sekarang, anggota kami hampir 200 anak. Jumlahnya kadang naik,'' kata Dodi Rahman Saleh, salah satu pengurus Mitra Surabaya.

Para pemain tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok umur. Namun, jika masih di bawah 10, latihan mereka digabung.

''Di atasnya, mereka sudah dibagi menjadi U-11, U-13, dan U-15,'' tambah Arif, pelatih kiper Mitra Surabaya.

Dia menambahkan, dengan sistem kelompok umur yang berjenjang dan terpadu, Mitra pun telah melahirkan para pemain bintang. Bahkan, salah satunya adalah kapten Timnas U-19 yang digadang-gadang akan menjadi bintang masa depan sepak bola Indonesia Evan Dimas Sudarmono.

''Evan pindah ke Mitra Surabaya saat usianya 12 tahun. Dia memang dari keluarga yang nggak punya,'' kenang Arif.

Evan, tambah dia, pernah beberapa kali absen.Alasannya, dia tak ada motor atau sepeda untuk ke lapangan Poral yang jaraknyancukup jauh dari rumahnya.

''Alhamdulillah, dia sudah enak sekarang dengan menjadi pemain nasional dah Persebaya,'' tambah Arif.

Meski telah melahirkan bintang sekaliber Evan, bukan berarti Mitra bergelimang materi. Klub yang baru saja ditinggal pelatih kepalanya, Eko Prayogo, yang meninggal tersebut tetap mengandalkan iuran dari para siswa.

''Sebulan anggarannya Rp 100 ribu. Namun,yang senior atau di atas 18 tahun agak susah ditarik bayaran,'' ungkap Arif yang juga baru saja mengantarkan Jatim meraih emas di PON Remaja tersebut.

Saat ini, Mitra Surabaya dikomandoi oleh mantan pemain nasional Mursyid Effendi. Dia dibantu oleh 19 pelatih lain.

Klub yang sempat bernama Mitra Sanana di awal kompetisi Persebaya itu juga dikenal rajin mengikuti kompetisi kelompok umur. Bahkan, kini, dalam dua tahun terakhir, mereka mengikuti Liga Nusantara, kompetisi resmi PSSI paling bawah. (*)
Read More

Mitra Surabaya Muatan 100 Persen Lokal

MUDA:Pemain Mitra Surabaya proyeksi Liga Nusantara 2015

LIGA Nusantara wilayah Jawa Timur (Jatim) 2015 semakin dekat. Rencananya, kompetisi sepak bola level terbawah di Indonesia tersebut akan digulirkan pada 9 Mei mendatang.

Bagi Mitra Surabaya ajang tersebut bukan tujuan utama untuk mengejar prestasi yakni promosi ke Divisi Utama. Bagi mereka Liga Nusantara merupakan kesempatan menambah pengalaman bertanding pemain.

''Kami ingin memberi pengalaman anak-anak merasakan suasana kompetisi di level PSSI. Pemain kami mayoritas kelahiran 1998 atau masih 17 tahun,'' kata Arifin, pelatih Mitra Surabaya, saat ditemui di Lapangan Poral, Surabaya.

Selain itu, Mitra juga mengutamakan pemain  binaan sendiri. Artinya, 100 persen penggawa klub tersebut berstatus milik Mitra tanpa ada status pinjam atau rekrutmen dari klub lain.

''Kami memakai pemain apa adanya. Kami memoles mereka agar bisa bersaing dengan klub lain di Liga Nusantara nanti,'' ungkap Arifin.

Untuk itu, penggawa Mitra di Liga Nusantara digembleng delapan kali dalam sepekan. Hanya, kemampuan mereka belum pernah diuji dalam laga uji coba.

''Pekan depan mungkin kami akan melakukan pertandingan dengan klub internal Surabaya, Indonesia Muda,'' ujar lelaki yang musim lalu memoles tim Divisi Utama PSBI Blitar tersebut.

Selain itu, Arifin juga mengakui dia masih buta dengan kekuatan lawan-lawannya. Bahkan, Deltras dan Suryanaga pun dia belum pernah mengintip kekuatannya. (*)

Pembagian grup Liga Nusantara Zona Jawa Timur 2015

Pembagian Grup Liga Nusantara 2015:

Grup I: Persid Jember, Samudra Indonesia Jember, Jember Pindo Junior, Jember United, PSIL Lumajang, Probolinggo United, Persekapas Pasuruan, Parabola Pasuruan, Asyifa Malang.

Grup II: Persibo 49, Bumi Wali FC Tuban, Lamongan FC, Pamekasan FC, Perseba Bangkalan, Persema 53, Suryanaga Conection, Deltras Sidoarjo, Mitra Surabaya.

Grup III: Persedikab Kediri, PSID Jombang, Persengan Nganjuk, Persepon Ponorogo, Persekama Madiun, Blitar United, Perseta Tulungagung, Persekoba Batu, Gen B Kota Mojokerto.
Read More

Urusi Akademi saat Pulang ke Malang




Tugas menangani Timnas U-23 tetap diberikan kepada Aji Santoso. Namun di sela-sela waktu luang saat pulang ke kampong halaman di Malang, Jawa Timur, dia tetap punya kesibukan. Tentunya yang masih berhubungan dengan bola. Apa itu?
--
PSSI tetap memberikan amanah kepada Aji Santoso.  Meski, pelatih 44 tahun tersebut gagal di Asian Games Inchen , Korea Selatan, 2014 dan menembus putaran final Piala Asia U-23 yang juga menjadi perebutan tiket ke Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro.

Namun, itu tak mengurangi kepercayaan PSSI kepadanya. Aji pun kembali dipilih memoles talenta-talenta muda untuk merebut emas di SEA Games 2015 di Singapura. Tentu, ini bukan hal yang mudah. Apalagi, sejak 1991, lagu Indonesia Raya tak pernah lagi berkumandang dari cabang olahraga sepak bola di pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa di Asia Tenggara tersebut. Kebetulan, pada 1991, Aji termasuk salah satu pahlawannya.

Kesibukannya itu membuat mantan bek kiri Timnas Indonesia itu pun jarang kembali ke kota asalnya, Malang. Namun, kini, usai kualifikasi Piala Asia U-23 yang berakhir akhir Maret lalu, Aji punya waktu luang.

Ini dimanfaatkannya untuk pulang. Namun, di kota kedua di Jawa Timur setelah Surabaya itu, Aji tetap tak bisa lepas dari sepak bola.

‘’Saya mengurusi akademi sepak bola yang saya miliki, Asifa (Aji Santoso International Football Academy),’’ ungkap Aji.

Ya, Asifa sendiri sudah berdiri sejak tujuh tahun lalu. Tujuan didirikan adalah melahirkan pesepak bola pesepak bola handal.

‘’Saat ini, muridnya sudah lebih dari 200 anak. Pelatihnya ada 20 orang,’’ ungkap Aji.

Jajaran pelatihnya pun termasuk top. Ada nama mantan pemain nasional I Putu Gede dan juga mantan pelatih Persema Malang dan PON Jatim Danur Dara.

‘’Semuanya menangani kelompok umur yang berbeda-beda. Ke depannya, kami juga ingin melahirkan pemain bagus dan juga menjadi klub yang profesional,’’  ucap Aji.

Salah satunya, kini Asifa pun mengikuti kompetisi senior di ajang Liga Nusantara. Hanya, untuk tahun ini, pemainnya belum 100 persen dari Asifa.

‘’Yang senior di Asiafa kan usianya 17. Jadi ada pemain senior dari luar,’’ lanjut Aji.

Namun, tujuan utamanya, papar mantan lelaki yang pernah memoles Persebaya Surabaya dan Persisam Samarinda itu agar Asifa bisa bermain di kompetisi Liga Remaja. Ini dilakukan karena tim yang bermain di Liga Remaja juga punya tim yang berlaga di ajang senior.

‘’Pelan-pelan dulu. Liga Nusantara menjadi pembuka untuk membuat Asifa jadi klub profesional,’’ urai Aji. (*)


Read More

Skuad Deltras Kembali Komplet

GABUNG LAGI: Uston Nawawi
SKUAD Deltras sudah komplet lagi. Itu setelah sang kapten, Uston Nawawi, ikut bergabung bersama rekan-rekan barunya di tim berjuluk The Lobster itu.

Sebelumnya, dia selama dua pekan harus ke Jakarta. Di ibu kota, Uston mengiikuti kursus pelatih lisensi C AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia).

‘’Sekarang sudah di Deltras dan sudah siap membela Deltras di kompetisi,’’ ungkap lelaki 38 tahun tersebut.

Sebenarnya, bukan kali ini, Uston tak ikut berlatih bersama Deltras. Dia penah absen karena harus melakoni laga ekshibisi bersama rekan-rekannya mantan binaan PSS Primavera-Baretti di Bukitinggi, Sumatera Barat.

 Selama di tinggal Uston, Deltras sudah menjalani beberapa pertandingan. Hasilnya memang kurang memuaskan.  Mereka dipermalukan tim PON Jatim 1-2 dan bermain imbang 1-1 dengan tim Divisi Utama Mojokerto Putra.

‘’Meski saya punya linsensi pelatih, tapi saya tetap mau main. Mungkin tahun depan atau tahun berikutnya lagi baru mikir jadi pelatih,’’ ungkap Uston.

Ya, Uston merupakan satu di antara tiga pemain senior yang dimiliki tim yang pernah disegani di kancah sepak bola nasional tersebut. Dua rekannya yang lain adalah Mat Halil dan Jefri Dwi Hadi. 

Pengalaman ketiganya diharapkan mampu mengangkat kembali  Deltras ke Divisi Utama. Tahun lalu, The Lobster terdegradasi ke Liga Nusantara setelah jeblok di Divisi Utama.

Uston bersama Halil pernah menjadi bintang di Persebaya Surabaya. Kolaborasi keduanya mampu mengangkat Green Force, julukan Persebaya, menjadi juara Liga Indonesia pada 2004. Sedangkan Jefri merupakan pilar lini tengah Persik Kediri saat menjadi juara Liga Indonesia 2006.  (*)
Read More

Boyongan ke Sidoarjo, Datangkan Pelatih Fisik

GEMBLENG:Pemain PON Jatim di Stadion Jenggolo (foto:sidiq)
Sepak bola menjadi olahraga bergengsi dalam Pekan Olahraga Nasional (PON). Wajar jika Jatim pun memasang lolos dari jeratan kualifikas sebelum  membidik target lebih tinggi lagi.
--
PELUH masih membasahi kaos hijau yang dikenakan. Namun, itu tak membuat latihan fisik yang dilakukan di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Rabu pagi (15/4/2015) berakhir.

Masih ada beberapa tahapan lagi yang harus dilalui. Ya, pada minggu kedua April, para pesepak bola PON Jatim memang menjalani gemblengan fisik.

Bahkan, untuk itu, mereka pun mendatangkan Widodo. Dia merupakan dosen dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang ahli di bidang fisik.

‘’Minggu-minggu ini, anak-anak saya genjot fisik. Kami ingin fisik mereka mantap dan tak mengalami masalah dalam pertandingan,’’kata Pelatih Kepala Tim Sepak Bola PON Jatim Hanafing di pinggir lapangan.

Latihan fisik tersebut dilakukannya pada pagi hari. Dia menyerahkan semua programnya kepada Widodo.

‘’Hanya, saya habis latihan selalu minta keterangan kepada Widodo tentang program latihannya dan tujuannya apa. Saya selalu mencatatnya buat laporan nantinya,’’ ungkap Hanafing.

Stadion Jenggolo dipilih untuk menggembleng anak asuhnya karena berbagai alasan. Selain karena punya lintasan atletik, di pinggirnya juga terdapat rumput yang kualitasnya bagus.

‘’Ini tak ada di Gelora Delta, Sidoarjo. Pinggir lapangannya ada lintasan atletik yang lebih bagus tapi gak punya lahan luas yang ada rumputnya di pinggir lapangan,’’ terang lelaki asal Makassar, Sulawesi Selatan, tersebut.

Ya, mulai April ini, Sidoarjo bakal identik dengan PON Jatim. Tempat latihan yang biasanya di Surabaya, kini sudah berpindah.

Begitu juga dengan mes pemain. Jika dari awal pembentukan para pemain tidur di Kantor KONI Jatim di Jalan Kertajaya, Surabaya, kini pun sudah hengkang ke Kota Udang, julukan Sidoarjo.

Mereka mengontrak sebuah rumah di sebelah utara  Rumah Sakit Delta Surya. Meski, keinginan tersebut sempat tersendat.

‘’Saat mau masuk pada Kamis (9/4/2015), rumah masih direnovasi. Terpaksa, kami tinggal dulu di penginapan dekat Stadion Gelora Delta,’’ tambah Iwan, asisten pelatih kiper. 

Namun, kini, rumah tersebut pun sudah bisa ditempati. Hanya, untuk berangkat bersama, belum bisa.

‘’Bisnya kadang dipakai untuk cabor (cabang olahraga) lain.  Pemain berangkat berboncengan naik sepeda motor kalau latihan,’’ ungkap mantan penggawa PSSI Garuda II tersebut. (*)
Read More

PON Jatim Bisa Kehilangan Semua Pemain

REBUT: Dendi (dua dari kiri) striker PON Jatim asal Persela.
KEBINGUNGAN tengah melanda tim sepak bola Pekan Olahraga Nasional (PON) Jatim. Mereka bisa kehilangan para pemain pilarnya karena diambil kembali ke klub lamanya.

‘’Persedikab Kabupaten Kediri sudah menarik tiga pemainnya. Padahal, mereka itu pemain  inti kami,’’ kata Pelatih Kepala Tim Sepak Bola Jatim Hanafing.

Kemudian, satu pemainnya harus ke PSMS Medan karena menjalani perintah dari atasannya. Sedangkan satu lagi mengundurkan diri karena ada masalah keluarga.

‘’Jumlah itu masih bisa bertambah. Persela Lamongan juga ingin menarik kembali pemainnya, Dendi,’’ ungkap Hanafing.

Hanya, dia tak mengabulkannya. Mantan pemain timnas itu pun sudah meminta kepada manajemen PON Jatim untuk menggandoli pemain jangkung tersebut.

Dia mengakui dari awal memang tak ada perjanjian yang melarang pemain kembali ke klubnya sebelum PON. Dalam perjanjian, terang Hanafing, hanya disebutkan bahwa mereka hanya dibutuhkan untuk membela Jatim dalam pesta olahraga empat tahunan tersebut.

‘’Ini menjadi pelajaran bagi kami. Memang, kalau pas pertandingan pra kualifikasi PON dan kalau lolos ke PON mereka bisa dipakai lagi. Tapi, kami kan butuh kekompakan sehingga tetap harus satu tim,’’ ucap Hanafing.

Apalagi, pertandingan Pra Kualifikasi PON semakin dekat. Rencananya, ajang tersebut akan dilaksanakan di Gelora Delta, Sidoarjo.

Jatim akan bersaing dengan tim-tim tangguh dari Jawa seperti DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Jogjakarta, dan Banten. (*)
Read More

Jadi Manajer untuk Hiburan

Mujtadin di bench Sidoarjo

Usianya masih muda. Namun, Mujtadin sudah dipercaya menjadi manajer tim sepak bola Porprov Sidoarjo.
--

TOPI selalu ada di kepala. Tas kecil juga melingkar di pundak lelaki bernama Mujtadin.

Mujtadin pun tak banyak bicara. Dia hanya bertepuk tangan saat para pemain Porprov Sidoarjo mampu melakukan aksi yang memikat saat berhadapan dengan kesebelasan PON Jatim dalam pertandingan uji coba yang dilaksanakan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Jumat (10/4/2015).

Padahal, statusnya adalah manajer. Kalau dia ingin berteriak pun orang akan mahfum.

Saat jeda, Mujtadin pun tak banyak memberikan wejangan. Hanya, dia akan mengapresi pemain binaannya dengan guyuran rupiah jika mampu menahan imbang PON Jatim atau malah membalikkan keadaan.

Ternyata, apa yang dilontarkan Mujtadin sangat manjur. Sempat tertinggal 0-2, anak asuh Istiko pun tampil kesetanan di babak kedua.

Mereka sempat memperkecil ketinggalan menjadi 1-2 dan beberapa kali mengancam gawang PON Jatim. Namun lengah sedikit, membuat lawan kembali menjaga jarak dan menjebol gawang tim Porprov Sidoarjo yang membuat pertandingan berakhir 1-3 bagi lawan.

''Separo dari keuangan kesebelasan Porprov Sidoarjo dari kantong saya sendiri,'' ungkap Mujtadin.

Sayang, dia enggan membeberkan berapa gontoran rupiah yang sudah keluar dari kantong pribadi. Namun, dia tak mempersoalkan hal tersebut. Menjadi manajer para pemain muda tersebut dianggapnya sebagai hiburan.

''Untung menghilangkan stres,''ucapnya.

Apalagi, sepak bola sudah menjadi bagian hidupnya. Di masa mudanya, lelaki kelahiran 19 April 1979 tesebut juga merupakan atlet olahraga bola sepak tersebut.

''Saya dulu ikut kompetisi internal dengan membela PSAD. Saya satu angkatan dengan Supaham (pemain senior yang pernah membela banyak klub Liga Indonesia seperti Persebaya dan Persija),'' ungkap Mujtadin.

Hanya, kegiatannya yang padat membuat dia tak mengejar pestasi. Sebagai salurannya, dia pun menjadi manajer Perseka Kepuhkiriman, Waru.

''Alhamdulillah, musim ini menjadi juara,'' lanjut lelaki yang menekuni bisnis sandal-sepatu serta properti tersebut.

Tangan dinginnya menjadi manajer klub pun membuat Ketua Askab PSSI Sidoarjo, Ahmad Riyadh, kepincut. Dia pun mendaulat Mujtadin menjadi nakhoda tim sepak bola Porprov Sidoarjo. (*)

Read More

Cari Lapangan pun Harus Sendiri

SEMANGAT:Istiko (kanan) membriefing anak asuhnya.

DUA tahun lalu, Sidoarjo mampu menembus final cabang olahraga sepak bola Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim. Sayang, di laga terakhir yang dilaksanakan di Madiun, mereka kalah adu penalti dari Kota Malang.

Kini, ajang buat atlet muda tersebut kembali digelar. Banyuwangi pun dipercaya menjadi tuan rumah.

Tim sepak bola Kota Udang, julukan Sidoarjo, pun kembali lolos. Tentu, harapan lebih baik pun disandangkan.

Latihan intensif pun sudah dilakukan. Mantan pemain Persik Kediri Istiko Hadi Susanto pun dipercaya menjadi pelatih kepala. Dia dibantu oleh dua mantan Persebaya Surabaya, Ali Zaini dan Dedy.

Namun, Istiko tak berani pasang target juara. Kok bisa? ''Dukungan saja nggak ada kok mau ditarget juara. Lolos ke putaran final saja sudah alhamdulillah ,'' katanya.

Salah satunya, tambah dia, soal lapangan. Dia bersama manajemen Porprov yang mencari lapangan sendiri.

Secara skill dan teknis, Sidoarjo layak menjadi unggulan di Porprov nanti. Meski, rintangan berat sudah menanti di babak penyisihan.

Dalam babak awal, mereka satu grup dengan tim tetangga, Surabaya, dan Kabupaten Jombang. Tim Kota Pahlawan, julukan Surabaya, pernah dihadapi dalam pertaandingan uji coba di Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya. Hasilnya, kedua tim bermain imbang 3-3.

Selain melawan Surabaya, mereka juga kalah tipis 0-1 dari tim asuhan Nus Yadera yang diisi mantan pemain juara Kompetisi Divisi Utama Borneo FC. Terakhir, tim Pekan Olahraga Nasional (PON) Jatim dibuat kerepotan dalam pertandingan uji coba di Gelora Delta, Sidoarjo,pada Jumat  (10/5/2015).

Memang, hasil akhirnya Sidoarjo menyerah 1-3. Tapi, mereka hampir menyamakan keudukan saat skor masih 1-2. (*)
Read More

Diajak Mantan Pemain PSIS, Ingin Jadi WNI

Denimar saat mendampingi tim PON Jatim

Ada sosok lelaki asing di tim sepak bola Pekan Olahraga Nasional (PON) Jatim 2016. Dia memang warga negara Brasil. Siapa dia?
----
POSTURNYA cukup jangkung, sekitar 185 sentimeter.Kulitnya pun lebih legam dibandingkan orang-orang di sekitarnya yang merupakan pemain dan ofisial tim sepak bola Jawa Timur yang dipersiapkan ke kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016.

Dia adalah Denimar Carlos Jasino. Di tim PON Jatim, statusnya adalah asisten pelatih yang membantu kinerja pelatih kepala Hanafing.

''Saya dari Brasil. Kota saya tak jauh dari ibu kota Rio de Janeiro,'' kata Denimar.

Lelaki yang mengaku pernah bermain di klub divisi utama di negaranya tersebut datang ke Indonesia karena ajakan rekannya, Arliston de Olivera, yang lama membela PSIS Semarang.

''Saat itu kompetisi liburan. Arliston mengajak saya main di Indonesia. Ceritanya menarik sehingga saya pun mau datang ke Indonesia,'' kenang lelaki kelahiran 1975 tersebut.

Barito Putera Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menjadi klub pertama yang didatanginya pada 2004. Dia tim Seribu Sungai, julukan Barito Putera, dia hanya semusim.

''Setelah itu, saya ke Persipur Purwodadi. Saya selalu main sebagai stopper,'' ungkapnya.

Di Persipur, dia bertahan selama dua musim. Sayang, dia gagal mengangkat tim asal Jawa Tengah tersebut promosi ke Divisi Utama, yang saat itu masih menjadi kasta tertinggi kompetisi sepak bola di Indonesia.

''Saya senang di Purwodadi. Banyak teman di sana,'' ujar Denimar.

Setelah itu, Persiba Balikpapan dan Persisam Putra Samarinda pun menjadi pelabuhan karirnya. Di Samarinda, dia digembleng pelatih yang juga berasal sama dengannya, Carlos de Mello.

''Kami tak pernah latihan fisik, teknis terus. Tapi, hasilnya sangat bagus, kami tak permah kalah dalam lima pertandingan,'' papar Denimar.

Sayang, pergantian pelatih membuat Persisam pun limbung. Mereka pun gagal menjadi juara.

Saat usianya terus bertambah, Denimar pun menggeluti profesi sebagai pelatih. Dia menangani sekolah sepak bola di Surabaya.

Nah, karirnya sebagai pelatih pun mulai terang saat berkenalan dengan Ketua Harian KONI Jatim Dhimam Abror. Mereka bertemu saat berlatih sepak bola bersama.

''Pak Abror mengajak saya membantu menangani sekolah sepak bola internasional Arsenal yang berlatih di Stadion Brawijaya, Surabaya. Dia bilang ke aku untuk membantu coach Hanafing,'' lanjutn Denimar.

Ternyata, hubungan tersebut berlanjut. Denimar pun diberi mandat ikut membantu tim sepak bola PON Remaja 2014.

Denimar pun diharapkan meringankan kinerja pelatih Mursyid Effendi, mantan pemain Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia. Selain Denimar, asisten pelatih PON Remaja Jatim juga diisi oleh Eko Prayogo, yang kini sudah meninggal, dan Arif sebagai pelatih kiper.

Persiapan yang dilakukan jauh-jauh hari mulai 2012 membuat Jatim pun mampu meraih emas usai menaklukkan Jawa Tengah di babak final. Peranan Denimar pun tak bisa dipandang sebelah mata.

''Usai juara PON Remaja, saya pun dilibatkan ke PON Senior. Semoga saja bisa menjadi juara lagi,'' harapnya.

Namun, ada harapan lain yang tengah dikejarnya. Apa itu? Dia ingin menjadi waraga negara Indonesia.

Apalagi, istrinya merupakan warga Surabaya, Jawa Timur. Mereka pun sudah dikaruniai anak.

''Sudah 11 tahun saya di Indonesia. Semoga saja, saya bisa menjadi warga Indonesia,'' ujar Denimar. (*)






Read More

Dokter yang Pilih Geluti Sepak Bola

Wardi Siagian

Orang memanggilnya dokter kepadanya. Namun, dia lebih getol di sepak bola daripada praktik menangani pasien.
--
SIAPA yang tak bangga dengan status dokter. Orang beranggapan akan lebih mudah mendapatkan uang dari profesi yang ditekuninya itu.

Namun, ternyata itu tak berlaku bagi Wardi Siagian. Dokter baginya hanya untuk sebuah panggilan.

''Sejak saya jadi dokter pada 1994, saya tak pernah praktik. Meski, saya lulusan dari Universitas Airlangga,'' terang Wardi saat menunggu para pemain tim sepak bola Jatim berlatih di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Kamis (9/4/2015).

Dia sudah mempunyai bisnis yang dilakoni sejak kuliah. Hanya, dia tak menyebutkan bisnis yang ditekuninya tersebut.

Wardi mulai masuk ke dunia sepak bola pada 2007 saat diajak oleh mantan wali kota Surabaya Arif Afandi. Lelaki yang juga mantan pimpinan redaksi sebuah media di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, tersebut saat itu menjabat sebagai ketua Persebaya sekaligus manajer.

''Arif kan teman. Dia tahu saya suka sepak bola, makanya dia mengajak saya mengurus Persebaya,'' ungkap Wardi.

Namun, dia tak bertahan lama. Saat Arif digoyang posisinya sebagai ketua Persebaya dan akhirnya mundur, Wardi pun mengikuti jejak koleganya.

''Karena yang mengajak saya mundur, saya pun tentu mengikutinya. Saya sempat lama vakum dari sepak bola,'' ungkapnya.

Namun, saat rekannya yang lain, La Nyalla Mattaliti, mengajaknya kembali mengurusi Persebaya, dia pun tak kuasa menolak. Itu terjadi saat Green Fore, julukan Persebaya, berlaga di ajang Divisi Utama, pada 2011.

''Saya pun menjadi ketua panpel (panitia pelaksana pertandingan. Eh, sampai sekarang, malah jadi ngurusin sepak bola terus,'' tambah Wardi.

Bahkan, kini jabatannya pun bertambah.Di kepengurusan Asprov PSSI Jawa Timur, dia dipercaya menjadi wakil ketua. Posisi ketua umum sendiri diduduki Bambang Pramukanto.

Namun, di lapangan, Wardi-lah yang lebih aktif. Kesibukannya pun kini menumpuk.

''Saya disuruh Nyalla membantu tim sepak bola PON Jawa Timur. Saya menganggap sebuah tanggung jawab,'' tambah Wardi.

Dia berharap anak asuh Hanafing tersebut bisa kembali merebut emas. Seperti yang pernah dilakukan Jawa Timur pada PON 2000, 2004, dan 2008.

Emas itu lepas ketika PON 2012 di Riau. Ketika itu, sepak bola nasional tengah terbelah dengan dualisme.

''Semoga emas itu bisa kembali diraih. Kami sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri,'' pungkas Wardi. (*)
Read More

Hari Pertama Langsung Jalani Tes

Pelatih Hanafing memberikan pengarahan sebelum tes fisik

PARA pemain sepak bola  Pekan Olahraga Nasional (PON) Jatim kembali menjadi latihan. Mulai Kamis (9/4/2015), mereka kembali berkumpul.

Bedanya, kini mereka tak lagi dijadikan satu di Surabaya. Tapi, tim polesan Hanafing tersebut digembleng di Sidoarjo.

Bahkan, kali pertama bertemu usai liburan, para pemain sudah harus menjalani latihan fisik. Manajemen tim sepak bola PON Jatim pun menggandeng Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk mengetes kemampuan pemain.

''Biar kami tahun daya tahan dan kedisiplinan pemain usai liburan. Saya mau tahu mereka bisa menjaga fisik apa tidak,'' ungkap pelatih kepala tim sepak bola PON Jatim Hanafing.

Para pemain pun sempat kaget. Saat memasuki Stadion Gelora Delta, yang menjadi tempat latihan perdana tim sepak bola PON Jatim, mereka tak menyangka bakal diuji.

Untung, sebelum menjalani tes, para pemain diberi kesempatan melakukan pemanasan. Tujuannya agar otot mereka tak ada masalah saat digenjot fisik.

Ya, mulai Kamis itu, para pemain PON Jatim juga akan tinggal di Kota Udang,julukan Sidoarjo. Bukan lagi di Mes KONI yang berada di kawasan Kertajaya, Surabaya.

Sayang, saat hendak memasuki rumah yang disewa buat mes ternyata belum siap. Sehingga, para pemain pun untuk sementara tidur di hotel kelas melati yang ada di utara Stadion Gelora Delta.

''Memang harusnya Kamis sudah masuk. Tapi kalau mes baru belum siap, kami pindahkan dulu,'' tambah Wardi Siagian, Penanggungjawab tim sepak bola Jatim.

Hanya,mulai Minggu (12/5/2015), semuanya akan boyongan ke rumah kontrakan yang ada di belakang Rumah Sakit Delta Surya. Bahkan, sebelumnya akan didahului dengan acara syukuran. (*)
Read More

Datang Atas Ajakan Piere Njanka

Erik Djemba Djemba

TAK banyak bintang dunia yang mau bermain di kompetisi Indonesia. Salah satunya Eric Djemba-Djemba. Mengapa dia bersedia membela Persebaya?
--
SEPANJANG masa latihan, Eric Djemba-Djemba hanya ada di pinggir lapangan. Dia serius melahap semua menu yang diberikan Fathcur, messaeur Persebaya Surabaya, di Lapangan Brigif, Gedangan, Sidoarjo, pada Selasa pagi (7/4/2015).

Itu dilakukannya agar bisa segera merumput di Indonesia Super League (ISL) 2015. Apalagi, pemain asal Kamerun tersebut absen ketika Green Force, julukan Persebaya, menjamu Mitra Kutai Kartanegara (Kukar) di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, pada Minggu (5/4/2015).

Djemba-Djemba pun terancam tak bisa lagi membela tim polesan Ibnu Grahan tersebut dalam laga kedua melawan tim Kalimantan Timur (Kaltim) lainnya, Borneo FC. Cedera yang dialami belum 100 persen pulih.

''Saya mau tampil saat melawan Persija Jakarta pada Minggu (12/4/2015). Saya ingin tampil membela Persebaya di kompetisi,'' kata Djemba-Djemba.

Dia pun ingin menunjukkan kemampuan yang dimilliki. Kemampuan yang pernah membuat dirinya menjadi bidikan klub-klub besar dunia.

Hingga akhirnya, Djemba-Djemba pun mendarat di klub raksasa asal Inggris, Manchester United, pada musim 2003/2004. Lelaki kelahiran Douala, Kamerun, 4 Mei 1981 tersebut didatangkan dari klub Prancis Nantes.

Di Nantes, Djemba-Djemba muda tampil dalam 42 pertandingan dengan mengemas 1 gol. Manajer Manchester United (MU) Alex Ferguson membelinya dengan banderol 3,5juta pounsterling atau hampir Rp 40 miliar. Tujuannya hanya satu, Djemba-Djemba diharapkan mampu menggantikan sang kapten Roy Keane yang sudah beranjak tua, 31 tahun.

''Saya datang masih sangat muda. Susah untuk menjadi pemain inti,'' kenangnya.

Keane dan Paul Scholes menjadi dua nama yang disebutnya susah untuk digeser. Dia pun menolak dia tak berkembang di Setan Merah, julukan Manchester United, karena cedera.

''Bukan. Saya memang tak punya kesempatan bermain yang banyak,'' ungkap Djemba--Djemba yang masih berpeluh keringat.

Selama musim 2003-2005, dia hanya 20 kali tampil. Debutnya dimulai dari saat Manchester United  melawan Arsenal dalam pertandingan FA Community Shield  yang mempertemukan juara Premier League dengan juara FA.  Teklingnya kepada pemain Arsenal Sol Champbell dinilai manajer lawan, Arsene Wenger, sebagai tekling brutal.

Kiprahnya bersama MU berakhir di musim 2005. Djemba-Djemba pun hengang ke sesama tim Inggris asal London Aston Villa. Djemba pun nihil gol dan musim berikutnya dipinjamkan ke Burnley.

Mulai 2008, dia pun meninggalkan Inggris. Oleh pers Negeri Elizabeth, julukan Inggris, Djemba-Djemba dimasukan dalam transfer mahal yang gagal di ajang Premier League.

Menariknya, karirnya kembali hidup. Dia bermain cemerlang di Qatar SC dan klub Denmark Odense. Di Denmark, disukai para fans dan sempat masuk menjadi pemain terbaik di liga internal.

Setelah itu, Djemba-Djemba merantau ke Tel Aviv (Israel), Partizan (Serbia), St Mirren (Skotlandia), hingga terakhir di klub India Chennaiyin.

Karirnya di Timnas Kamerun juga tak bisa dipandang sebelah mata. Lelaki yang suka memakai anting ini  menjadi pilar saat Singa Afrika, julukan Kamerun, menjadi juara Piala Afrika 2002 dan runner-up Piala Konfederasi 2003.

Piala Dunia juga pernah dirasakannya pada 2002. Namanya sempat masuk di skuad Piala Dunia 2014. Sayang, di detik-detik akhir dicoret pelatih Folker Finke.  Total, dia sudah 24 kali membela Timnas Kamerun. Ini juga membuktikan Djemba-Djemba bukan pemain abal-abal.

Kok bisa ke Indonesia? ''Saya dikasih tahu Piere Njanka. Dia bilang, sepak bola Indonesia bagus. Saya layak datang ke Indonesia dan bermain di sini,'' ungkapnya.

Njanka merupakan mantan pemain nasional Kamerun yang pernah berlaga di kompetisi sepak bola Indonesia dengan membela Persija Jakarta, Arema, Atjeh United, dan terakhir di Persisam Putra Samarinda.

''Dia cerita banyak hal. Ternyata, memang apa yang dikatakan Njanka tidak salah,'' tambah Djemba-Djemba.

Untuk itu, dia pun ingin segera pulih untuk bisa segera membela Persebaya di ajang Indonesia Super League. Green Force, julukan Persebaya, menjadi tujuan kedatangannya ke Indonesia juga atas rekomendasi Njanka. Pemain yang pernah berlaga di Piala Dunia 1998 dan 2002 itu menerangkan Persebaya klub besar di Indonesia. (*)

Siapa Eric Djemba-Djemba

Nama Lengkap: Eric Daniel Djemba-Djemba

Lahir: Doulala, Kamerun, 4 Mei 1981

Tinggi: 180 sentimeter

Posisi: Tengah

Karir Klub

2001-2003: Nantes (Prancis)

2003-2005: Manchester United (Inggris)

2005-2007: Aston Villa (Inggris)

2007: Burnley (Inggris) --pinjam

2007-2008: Qatar SC (Qatar)

2008-2012: Odense (Denmark)

2013: Hapoel Tel Aviv (Israel)

2013: Partizan (Serbia)

2014: St. Mirren (Skotlandia)

2014: Chennaiyin (India)

2015-: Persebaya (Indonesia)


Karir Timnas
2002-2011

*Tambahan data dirangkum dari berbagai sumber
Read More

Di Pojok Lapangan Jalani Terapi



TERAPI: Dari kiri, Wage Aryo, Djemba-Djemba, dan Dutra.
TIDAK semua pemain Persebaya Surabaya dalam kondisi fit. Ada tiga pemain yang berlatih terpisah dari rekan-rekannya saat tim asal Kota Pahlawan, julukan Persebaya, tersebut berlatih di Lapangan Marinir, Gedangan, Sidoarjo, pada Selasa pagi (7/4/2015.

Mereka adalah Octavio Dutra, Eric Djemba-Djemba, dan Wage Aryo. Namun, Dutra tak lama bersama kedua rekannya tersebut.Pemain belakang asal Brasil tersebut pun ikut bergabung dengan pelatih Ibnu Grahan untuk berlatih small game serta mengasah tembakan penalti.

Sementara, Djemba-Djemba dan Aryo terus melakukan latihan serta terapi. Mulai dari peregangan otot di kaki hingga keduanya disuruh jogging sepanjang sisi lapangan sebelah timur.

''Keduanya masih cedera. Kebetulan, cedera yang dialami sama.'' kata Fatchur, messaeur Persebaya.

Cederanya, ungkap lelaki yang juga dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut adalah di paha bagian atas. Itu, ujar Fatchur, tak bisa dipaksakan untuk turun ke lapangan saat Green Force, julukan Persebaya, ditantang tim juara Divisi Utama yang tahun ini promosi ke Indonesia Super League (ISL) musim ini, Borneo FC, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).

''Saya belum bisa main. Mungkin nanti saat lawan Persija Jakarta pada Minggu,'' terang Djemba-Djemba.

Dalam pertandingan melawan Borneo FC, Persebaya berharap bisa kembali memetik kemenangan. Seperti yang dilakukan kepada tim Kalimantan Timur lainnya, Mitra Kutai Kartanegara (Kukar).

Barisan Kuat dan Kekar, julukan Mitra Kukar, dipermalukan dengan skor 1-0 dalam pertadingan  perdana Persebaya di Gelora Bung Tomo (GBT) pada Minggu (5/3/2015). Gol tunggal dicetak mantan pemain nasional dan Persiba Bantul Slamet Nurcahyo. (*)
Read More

Asah Penalti untuk Jinakkan Borneo FC

FOKUS: Pemain Persebaya usai berlatih di Lapangan Brigif

HUJAN mengguyur Lapangan Brigif Gedangan, Sidoarjo, pada Selasa pagi (7/4/2015). Namun, itu tak membuat para pemain Persebaya Surabaya mengendurkan latihannya.

Sebaliknya, mereka tetap serius menjalankan setiap intruksi yang diberikan pelatih Ibnu Grahan. Ini dilakukan sebagai persiapan menhadapi Borneo FC di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, pada Rabu (8/4/2015).

''Semoga saja kami bisa kembali memetik kemenangan,'' kata Ibnu usai latihan.

Ya, pada Minggu (5/4/2015), Green Force, julukan Persebaya, mampu melibas tim bertabur bintang Mitra Kutai Kartanegara (Kukar) dengan skor tipis 1-0. Gol semata wayang diceploskan mantan pemain nasional Slamet Nurcahyo.

Hanya, Ibnu tetap tak mau menganggap enteng lawannya. Meski anak asuh Arcan Iurie tersebut baru saja dipermalukan Persegres Gresik dengan skor 1-2  di Stadion Petrokimia pada Minggu.

Saat melawan Naga Mekes, julukan Mitra Kukar, Ibnu memainkan strategi 4-2-3-1. Yang layak mendapat apresiasi adalah empat pemain bertahan Persebaya sangat disiplin dalam menjaga daerah. Mereka nyaris tak pernah meninggalkan daerahnya.

Selain itu, Ibnu juga menyiapkan para algojo yang bakal menjadi eksekutor jika Persebaya memperoleh tendangan penalti. Oktavio Dutra, pemain belakang asal Brasil, dan Evan Dimas, mantan kapten Timnas U-19, mendapat kepercayaan untuk beberapa kali menjadi penendang.

Latihan Selasa pagi tersebut juga sebagai pengganti latihan menjajal rumput Stadion Gelora Bung Tomo. Sang lawan, Borneo FC, pada saat yang bersamaan sudah berlatih di stadion yang dekat dengan tempat pembuangan sampah di kawasan Benowo itu.

''Kan sudah main di sana pada Minggu lalu. Jadi, kami tak perlu jauh-jauh ke sana lagi. Ke Bung Tomo-nya pas pertandingan saja,'' ujar Ibnu. (*)

Read More

Absen Main karena Ingin Selesaikan Kuliah S2

RILEKS:Wahyu Tri Nugroho

POSTURNYA kurang meyakinkan untuk menjadi penjawa gawang. Tapi, status menjadi kiper nasional pernah disandangnya.
---
KIPER identik dengan postur tinggi yang menjulang. Rata-rata tingginya di atas 180 hingga 190 sentimeter.

Itu sudah terbukti. Bukan hanya di ajang internasional, di level klub lokal Indonesia pun seakan mengharuskan kiper harus punya postur tinggi.

Namun, anggapan itu mental jika diberikan kepada Wahyu Tri Nugroho. Posturnya tak lebih dari 170 sentimeter.

Kekurangan itu tak membuat lelaki asal Sukoharjo, Jawa Tengah, itu kalah bersaing. Bahkan, posisi kiper inti selalu ada di tangannya di setiap klub yang dimiliki.

Posisi kiper timnas pun mampu disandangnya. Itu dilakukan mulai dari kelompok umur hingga senior.

Karir gemilangnya dimulai dari sebuah sekolah sepak bola (SSB) di sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah, Sukoharjo. ''Saya mulai masuk Putra Sukoharjo pada tahun 1989. Di sana, saya mulai mengenap sepak bola yang benar,'' kata Wahyu.

Di tangan  pelatih Baroto yang dikenal banyak menciptakan banyak pesepak bola berbakat, kemampuan lelaki kelahiran 27 Juli 1986 tersebut semakin teratas. Bersama salah satu rekan dekatnya, Putut Waringan Jati, Wahyu pun mampu menembus seleksi Timnas U-14.

''Mulai 2001, saya sudah di Medan. Saya di sana hingga 2004. Saat itu, saya mendapat panggilan masuk pelatnas Timnas U-19 yang ditangani Peter Withe (pelatih nasional asal Inggris yang juga pernah menangani Thailand). Setelah itu ke Timnas U-20 bersama dengan Boaz (Solossa) dan Tony Sucipto,'' ungkap Wahyu. Dua rekannya itu saat ini berstatus sebagai pemain timnas senior yang dipoles pelatih karteker Benny Dolo.

Bersama Timnas U-19 juga, Wahyu melakukan bendho desa ke Persiba Bantul. Ranah kompetisi senior pun mulai dirambah.

Namun, hanya semusim dia bergabung dengan klub asal provinsi DI Jogjakarta. Mulai 2006, Wahyu pun hijrah ke Persis Solo.

Di Laskar Samber Nyawa, julukan Persis Solo, namanya semakin terangkat. Pada musim pertamanya saat ditangani Hanafi, tim pujaan Pasoepati itu naik kasta ke Divisi Utama.

''Pada 2007, saya ditangani Suharno dan setahun kemudian oleh Eduard Tjong,'' ujar lelaki yang sering dipanggil Zheng Cheng karena dianggap mirip dengan mantan kiper Persebaya Surabaya yang kini membela Timnas Tiongkok tersebut.

Setelah itu, Wahyu pun kembali ke Laskar Sultan Agung, julukan Persiba Bantu.Hingga musim lalu, 2014, dia masih berseragam Persiba.

Di 2010-2012, kostum garuda di dada pun kembali dikenakannya. Saat itu, kompetisi di Indonesia terpecah menjadi dua, Indonesia Premier League dan Indonesia Super League.

Pil pahit pun ditelannya musim 2014. Dia menjadi saksi degradasinya Persiba ke Divisi Utama.

Dia menyebut ada masalah nonteknis yang menghambat laju dia dan rekan-rekannya. Sayang, Wahyu enggan membeberkannya.

Itu pula yang membuat dirinya lebih hati-hati dalam memilih klub. Musim 2015, Wahyu pun memilih menganggur.

Meski, tawaran dari berbagai klub menghampiri. Mulai dari klub Divisi Utama hingga Indonesia Super League.

''Saya juga ingin menyelesaikan studi S2 saya di Unsa (Universitas Surakarta). Kalau pingin, ya putaran II nanti main lagi,'' pungkas Wahyu. (*)
Read More

Pilih Kandang di Stadion AAL

Pelatih Hendri Puji memberikan pengarahan kepada pemain

SURYANAGA tak mau main-main di Liga Nusantara 2015. Persiapan serius terus dilakukan oleh tim polesan Hendri Puji Lesmono tersebut.

Latihan tiga kali seminggu pun dilakukan. Lapangan Kobangdikal menjadi tempat meracik strategi dan membenahi fisik Erik dkk.

Selain itu, beberapa laga uji coba pun sudah dilakukan. Kali terakhir, Suryanaga mampu mempermalukan sebuah klub anggota internal Askab PSSI Surabaya dengan skor telak 4-0.

''Kami yakin bersaing di Liga Nusantara. Secara teknik, anak-anak nggak kalah dengan tim lain,'' kata manajer Suryanaga Michael Sanjaya saat ditemui di Lapangan Kodikal, Surabaya, pada Minggu sore (5/4/2015).

Hanya, dia enggan memberikan komentar hal yang nantinya bisa mengganjal pemain binaannya bisa melangkah lebih jauh. Michael memilih memberikan penilaian soal teknis.

''Pemain Suryanaga banyak yang masih muda-muda. Posturnya juga bagus-bagus,'' ujar lelaki yang juga pengusaha kayu tersebut.

Untuk home base, Michael akan memilih Stadion AAL (Akademi Angkatan Laut) atau juga dikenal dengan Stadion Bumimoro. Lapangan ini tak jauh dari tempat para pemain Suryanaga berlatih.

Stadion Bumimoro pernah mencuat saat dipakai sebagai tempat menggelar laga Persebaya. Selain laga usiran, stadion tersebut juga menjadi venue final Piala Gubernur Jatim 2013 antara Green Force, julukan Persebaya, dengan Arema Cronus. (*)
Read More

Buang Stres dengan Tunggu Pemain Usia Dini

BOS:Michael Sanjaya

Di awal 2000-an, nama Michael Sanjaya menjadi buah bibir di pentas sepak bola nasional. Banyak pemain dari klub binaannya, Suryanaga, jadi buruan klub-klub. Dia pun nyaris menjadi manajer  tim besar, Persebaya Surabaya. Apa kegiatannya kini.
---
JARUM jam sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Tapi, para pesepak bola masih melakukan kegiatan di Lapangan Kodikal, Surabaya, Jawa Timur.

Di pinggir lapangan, para pemain Suryanaga yang akan turun di ajang Liga Nusantara 2015 tengah bermain kucing-kucingan. Sementara, lapangan utama tengah dipakai para pesepak bola muda yang tengah melakukan game.

''Yang main ini para pemain Suryanaga yang usianya di bawah usia 15 tahun. Saya ingin melihat mereka melakukan game,'' kata Michael Sanjaya, pembina PS Suryanaga, yang memilih berdiri di belakang gawang.

Dia mengaku setiap Minggu pagi menyempatkan waktu menunggui pemain U-15 tersebut berlatih. Alasannya, tim tersebut hasil dari racikannya dalam membentuk tim sepak bola masa depan.

''Mainnya hampir sama dengan Barcelona (klub rasasa dunia asal Spanyol). Mereka main bola-bola pendek dan pemain aktif bergerak di lapangan,'' ujar Michael.

Ya, sudah hampir tiga tahun ini, lelaki yang juga pengusaha kayu tersebut nyaris menghilang dari hingar bingar sepak bola nasional. Padahal, dulunya, Michael menjadi buruan para manajer klub Indonesia.

Itu dikarenakan para pemain binaannya dikenal punya talenta tinggi. Dia pun tak pernah susah dalam melepasknya.

Nama-nama seperti Suroso (sekarang di Arema), Ronnty Firmansyah (pernah di Arema dan terakhir di Kalteng Putra), dan M, Jainal Ikhwan (mantan pemain nasional yang pernah membawa Petrokimia Putra Gresik juara) hanya segelintir dari puluhan anak didiknyanya yang meramaikan ketatnya persaingan di tim sepak bola Indonesia. Selain itu, nama Michael juga pernah menjadi kandidat manajer Persebaya Surabaya.

Namun, dengan alasan tertentu, dia memilih menolak dan konsentrasi membina Suryanaga.Kali terakhir, empat tahun lalu, dia ditunjuk menjadi ketua bidang pembinaan Persebaya (sekarang Askot PSSI Surabaya). Hanya, Michael kemudian juga memilih mundur.

Setelah itu, dia hilang bak ditelan bumi. Kesibukannya kembali ke pabrik kayu milik keluarga di kawasan Gresik membuatnya juga sempat lupa memoles Naga Kuning, nama lama Suryanaga.

Tapi, satu tahun terakhir, Michael kembali ke Suryanaga. Dia pun sering datang ke lapangan meski hanya seminggu sekali pada Minggu pagi.

''Anak-anak ini menjadi hiburan saya. Saya ingin membentuknya menjadi pemain-pemain sepak bola berkelas dan mengembalikan nama besar Suryanaga,'' papar Michael. (*)
Read More

Dua Kali Beruntun Rasakan Degradasi


Loyalitas Hendri Puji kepada Suryanaga layak dapat apresiasi. Meski, kondisi timnya tengah compang-camping.
LOYAL:Hendri Puji (foto:sidiq)
--
LELAKi dengan jaket dan celana selutut tengah memberikan pengarahan kepada pemain Suryanaga. Para pemain pun mendengarkannya dengan serius.

Sekilas, posturnya bukan seperti pemain bola. Badannya kurus dan kurang kekar jika kalau dia dulunya bekas bintang lapangan hijau.

Padahal, lelaki yang bernama Hendri Puji Lesmono tersebut pernah membela klub-klub dengan nama besar. Persebaya Surabaya, Petrokimia Putra Gresik, Deltras Sidoarjo, Persibo Bojonegoro, Persiku Kudus, hingga Persis Solo merupakan klub-klub yang menggunakan kemampuan lelaki asli Jember tersebut dalam mengolah si kulit bundar.

''Saya kecilnya di Tanggul Jember. Kebetulan ayah merupakan pelatih di Indonesia Muda (IM) Jember,'' terang Hendri saat ditemui pada Rabu sore (1/4/2015)  di Lapangan Karangan, Surabaya.

Skill yang dimiliki membuat salah satu pemandu bakat dari Surabaya membawanya ke Suryanaga pada 1999. Saat itu, klub asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, tengah berada di puncak dalam hal materi dan prestasi.

''Dari Suryanaga pula, saya bisa masuk Persebaya Surabaya pada 2002. Sayang, saat itu, saya merasakan degradasi,'' ungkap lelaki kelahiran 1978 tersebut.

Bekalnya sebagai penggawa Green Force, julukan Persebaya, membuatnya tak kesulitan mencari klub. Petrokimia Putra Gresik yang baru saja menjadi juara Liga Indonesia meminangnya.

Posisi inti pun bisa berada di tangannya. Namun, kejadian pahit seperti di Persebaya kembali terulang.

''Petrokimia degradasi. Sungguh tidak mengenakkan dua kali beruntun membela klub yang terdegradasi,'' kenang Hendri.

Setelah itu, bapak tiga putra berpindah-pindah ke berbagai klub. Mulai Deltras hingga terakhir di Persis Solo.

''Pada 2008, saya akhirnya memutuskan pensiun. Cedera lutut sudah tak bisa diajak kompromi,'' ungkap Hendri.

Saat itu, dia pun memutuskan untuk menjadi pelatih di Suryanaga. Dia merasa waktunya untuk membagikan ilmu kepada klub yang telah ikut membesarkan namanya di pentas nasional tersebut.

''Harus sabar dan tekun dalam melatih. Pemain sekarang bisa jadi dengan pemain dulu yang mau digembleng keras,'' ujar Hendri.

Untung, bos Suryanaga, Michael Sanjaya, memberikan dukungan penuh kepadanya. Dia sering memberikan ilmu sepak bola yang dimiliki kepada Hendri.

''Bos juga yang membuat saya akan terus di Suryanaga. Banyak ilmu sepak bola yang saya dapat meski bos bukan pemain sepak bola yang ngetop,''ungkap lelaki yang kini tinggal di Surabaya Barat tersebut.

Selama hampir tujuh tahun menangani Suryanaga, sudah banyak pemain bertalenta yang lahir dari polesannya. Hanya, dia menyayangkan beberapa di antaranya sudah lupa dengan klub asalnya. (*)
Read More

Berangkat Sewa Angkot, Tanding Pakai Rompi


Banyak bintang lapangan hijau lahir dari Suryanaga. Bonus kemenangan ratusan ribu hingga jutaan rupiah pernah diguyurkan kepada pemainnya. Tapi, bagaimana kondisinya kini.?

DI Surabaya, klub Suryanaga punya nama besar. Hampir selama tiga dekade, banyak pemain bintang yang lahir dan membela klub tersebut.

MUDA:Pemain Suryanaga di Liga Nusantara. (foto :sidiq)
Sebut saja Rudy Keltjes, Subangkit, hingga yang terakhir Jainal Ikhawan. Ketiganya merupakan alumbus Naga Kuning, nama lama Suryanaga, yang pernah berkostum Tim Nasional Indonesia.

Belum lagi puluhan hingga ratusan pemain binaannya yang tersebar di berbagai klub amatir maupun profesional di Indonesia. Bahkan, meski tak lama, idola baru sepak bola Indonesia yang bermain di Malaysia, Andik Vermansyah, pun pernah berlatih dan membela Suryanaga.
Sampai saat ini, masih banyak pemain yang datang ke Suryanaga. Dengan satu tujuan, mewujudkan mimpi menjadi pesepak bola handa.

Hanya, kondisinya sekarang sudah jauh berbeda. Saat penulis datang menyaksikan pertandingan uji coba Suryanaga di Lapangan Karangan, Surabaya, sebagai buktinya.

''Kami tak punya kaos tim. Dalam pertandingan uji coba nanti, Suryanaga memakai rompi. Tim ini saya persiapkan untuk tampil di Liga Nusantara 2015,'' terang Pelatih Suryanaga Hendri Puji.

Ironisnya, rompi yang dipakai pun terbatas. Sehingga, saat pergantian pemain, ada beberapa dari mereka harus bergantian memakai rompi berwarna hijau yang sudah basah oleh keringat.

Selain itu, saat datang ke Lapangan Karangan untuk menjajal klub internal Askot PSSI Surabaya Rheza Mahasiswa itu, para pemain naik angkot. untuk itu, mereka pun rela berdesakan.

''Kalau latihan ataupun pertandingan uji coba, memang angkot menjadi alat transport utama. Kami bayarnya sebulan sekali,'' ujar Hendri.

Kemudahan itu, ujar lelaki yang pernah membela Persebaya Surabaya,  karena kebaikan dari salah satu orang tua murid di SSB Suryanaga. Ini, ungkap Hendri, juga sangat membantu.

''Jangan bandingkan dengan tim Liga Nusantara lainnya yang dapat uang saku dan gaji. Pemain Suryanaga ini tak dapat seperti itu. Kami hanya bermodal semangat,'' ujar Hendri.

Kondisi itu, lanjut mantan pemain Deltras tersebut membuat dia kesulitan mencari pemain. Skuadnya sekarang merupakan kumpulan pemain yang tak mencari materi.

''Namun, mereka mengejar prestasi ke depannya. Bagaimanapun, nama Suryanaga masih diperhitungkan,'' ungkapnya.

Mantan asisten pelatih Persebaya Junior itu berharap saat tampil di Liga Nusantara 2015, masalah tersebut teratasi. Namun, mantan pemain Persebaya Surabaya tersebut tetap mengingatkan anak asuhnya agar selalu semangat di lapangan.

Musim 2015 ini merupakan tahun pertama Suryanaga tampil di Liga Nusantara. Tahun lalu, mereka absen karena konsolidasi internal.

''Dua tahun lalu saat Divisi III, kami  lolos sampai ke babak nasional. Sayang, ada hal yang membuat kami gagal melangkah lebih jauh,'' ujar Hendri yang berpesan off the record mengenai hal yang mengganjal timnya tersebut. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com