www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 06 April 2015

Absen Main karena Ingin Selesaikan Kuliah S2

RILEKS:Wahyu Tri Nugroho

POSTURNYA kurang meyakinkan untuk menjadi penjawa gawang. Tapi, status menjadi kiper nasional pernah disandangnya.
---
KIPER identik dengan postur tinggi yang menjulang. Rata-rata tingginya di atas 180 hingga 190 sentimeter.

Itu sudah terbukti. Bukan hanya di ajang internasional, di level klub lokal Indonesia pun seakan mengharuskan kiper harus punya postur tinggi.

Namun, anggapan itu mental jika diberikan kepada Wahyu Tri Nugroho. Posturnya tak lebih dari 170 sentimeter.

Kekurangan itu tak membuat lelaki asal Sukoharjo, Jawa Tengah, itu kalah bersaing. Bahkan, posisi kiper inti selalu ada di tangannya di setiap klub yang dimiliki.

Posisi kiper timnas pun mampu disandangnya. Itu dilakukan mulai dari kelompok umur hingga senior.

Karir gemilangnya dimulai dari sebuah sekolah sepak bola (SSB) di sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah, Sukoharjo. ''Saya mulai masuk Putra Sukoharjo pada tahun 1989. Di sana, saya mulai mengenap sepak bola yang benar,'' kata Wahyu.

Di tangan  pelatih Baroto yang dikenal banyak menciptakan banyak pesepak bola berbakat, kemampuan lelaki kelahiran 27 Juli 1986 tersebut semakin teratas. Bersama salah satu rekan dekatnya, Putut Waringan Jati, Wahyu pun mampu menembus seleksi Timnas U-14.

''Mulai 2001, saya sudah di Medan. Saya di sana hingga 2004. Saat itu, saya mendapat panggilan masuk pelatnas Timnas U-19 yang ditangani Peter Withe (pelatih nasional asal Inggris yang juga pernah menangani Thailand). Setelah itu ke Timnas U-20 bersama dengan Boaz (Solossa) dan Tony Sucipto,'' ungkap Wahyu. Dua rekannya itu saat ini berstatus sebagai pemain timnas senior yang dipoles pelatih karteker Benny Dolo.

Bersama Timnas U-19 juga, Wahyu melakukan bendho desa ke Persiba Bantul. Ranah kompetisi senior pun mulai dirambah.

Namun, hanya semusim dia bergabung dengan klub asal provinsi DI Jogjakarta. Mulai 2006, Wahyu pun hijrah ke Persis Solo.

Di Laskar Samber Nyawa, julukan Persis Solo, namanya semakin terangkat. Pada musim pertamanya saat ditangani Hanafi, tim pujaan Pasoepati itu naik kasta ke Divisi Utama.

''Pada 2007, saya ditangani Suharno dan setahun kemudian oleh Eduard Tjong,'' ujar lelaki yang sering dipanggil Zheng Cheng karena dianggap mirip dengan mantan kiper Persebaya Surabaya yang kini membela Timnas Tiongkok tersebut.

Setelah itu, Wahyu pun kembali ke Laskar Sultan Agung, julukan Persiba Bantu.Hingga musim lalu, 2014, dia masih berseragam Persiba.

Di 2010-2012, kostum garuda di dada pun kembali dikenakannya. Saat itu, kompetisi di Indonesia terpecah menjadi dua, Indonesia Premier League dan Indonesia Super League.

Pil pahit pun ditelannya musim 2014. Dia menjadi saksi degradasinya Persiba ke Divisi Utama.

Dia menyebut ada masalah nonteknis yang menghambat laju dia dan rekan-rekannya. Sayang, Wahyu enggan membeberkannya.

Itu pula yang membuat dirinya lebih hati-hati dalam memilih klub. Musim 2015, Wahyu pun memilih menganggur.

Meski, tawaran dari berbagai klub menghampiri. Mulai dari klub Divisi Utama hingga Indonesia Super League.

''Saya juga ingin menyelesaikan studi S2 saya di Unsa (Universitas Surakarta). Kalau pingin, ya putaran II nanti main lagi,'' pungkas Wahyu. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com