www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 28 April 2015

Punya Insting Cetak Pemain Bintang

TANGAN DINGIN: Pramono

Banyak pemain top lahir dari binaan pelatih yang tak punya nama besar.  Hanya, kejelian dan ketekunan mereka yang mampu membuat anak asuhnya kelak di kemudian hari menjadi terkenal.
---
WAJAHNYA sudah banyak yang berkeriput. Rambut yang memutih tetap banyak di kepala meski sudah sering disemir hitam.

Kepulan asap pun keluar dari mulutnya saat ditemui di rumahnya pada Rabu dini hari (29/4/2015). Ya, dia adalah Pramono, salah satu mantan pemain Persema Malang di era 1970-an.

Melihat fisiknya sekarang, banyak yang tak percaya dia dulunya pesepak bola. Padahal, Pramono merupakan pesepak bola yang cukup disegani di kawasan Malang dan Surabaya.

''Saya pernah membela Persema Malang di Piala Surya di Surabaya sekitar 1975.  Asal klub saya Indonesia Muda (IM) Malang,'' kenang Pramono di rumahnya di kawasan Surabaya Barat.

Setelah dari Persema, Pramono merantau bersama rekan-rekan satu angkatannya ke Kediri.  Namun, itu tak bertahan lama. Salah satu rekannya adalah Bambang Nurdiansyah. Kelak, Bambang menjadi pemain depan andalan Indonesia di era 1980-an.

''Karena gagal ke Kediri, saya ke PSAD Surabaya. Itu tahun 1976 dan jadi pengalaman pertama ke Surabaya,'' ungkap Pramono.

Di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, kemampuan lelaki kelahiran 1957 itu dalam mengolah si kulit bundar semakin terasah.  Tak heran jika dia pun sempat mendapat kesempatan membela Arseto di era Galatama.

''Saya sudah ditawari Arseto magang selama enam bulan. Kalau lolos, saya jadi pemain tetap,'' ujar Pramono.

Namun, persaingan yang ketat di Arseto membuat Pramono realistis. Dia tak memberikan suratnya kepada salah satu petinggi klub milik keluarga Cendana itu.

''Ismet Taher meminta surat saya dan minta tanda tangan. Namun, saya kasih alasan,'' paparnya.

Karena masih berada di Jakarta (saat itu Arseto masih di Cempaka Putih, Jakarta, sebelum pindah ke Solo), dia mengadu nasib ke UMS. Pelatih Endang Witarsa pun kesengem kepadanya.

Namun, kecintaannya kepada Surabaya, lagi-lagi membuatnya gagal merasakan atmosfer Galatama. Pramono pun kembali ke PSAD.

''Setelah itu, pada 1985, saya bekerja di Dolog. Saya juga sudah tak serius lagi bermain bola,'' terang bapak dua anak itu.

Namun, panggilan dari petinggi Dolog membuat Pramono kembali bergelut dengan bola. Bersama beberapa mantan pemain Persebaya seperti Waskito, Riono Asnan, dan Joni Fahamsyah, mereka mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Dolog.

Nah, di SSB inilah, tangan dingin dan instingnya sebagai  pelatih terasah. Salah satu pemain yang kemudian menjadi bintang lapangan hijau di Indonesia adalah Uston Nawawi.

''Sejak kecil, semangat Uston untuk maju sangat besar. Dia naik sepeda dari Klagen, Sukodono, ke Dolog. Jaraknya ya lumayan jauh, bisa 15 kilometer lebih,'' lanjut Pramono.

Di Klagen pula, Pramono juga mencetak sosok yang kini menghuni lini tengah Timnas Indonesia Hariono. Bedanya dengan Uston, lelaki yang kini membela Persib Bandung tersebut dipolesnya di sebuah klub internal Askot PSSI Surabaya, HBS.

''Di HBS juga ada Munhar (yang kelak menjadi pemain Arema dan Persebaya). Dia juga bersepeda dari rumahnya di Taman Pinang Sidoarjo ke Karangpilang,Surabaya,'' terang Pramono.

Selain itu ada juga nama Rendi Irwan (mantan pemain nasional yang membela Persebaya, Mitra Kukar, dan sekarang di Persija Jakarta) serta Lucky Wahyu (mantan pemain nasional U-19, Persebaya, Persija, dan kini di Barito Putera). Meski sudah menjadi pemain top, mereka tetap tak pernah lupa dengan Pramono.

Namun, seiring usianya yang uzur, dia sudah tak aktif menjadi pelatih. Hanya sesekali dia meluangkan waktunya untuk bermain sepak bola.

''Biar tetap sehat saja,'' pungkas Pramono. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com