www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Mantan Penggawa MU pun Batal Tampil

Erick Djemba-Djemba saat berlatih bersama Persebaya
peregangan otot hingga jogging (berlari-lari kacil) pun dilakukannya.

Ya, semua menu itu diberikan agar cedera yang dialaminya segera sembuh. Apalagi, sejak dikontrak mahal oleh tim asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, dia Djemba-Djemba belum pernah tampil penuh.

Pemain asal Kamerun ini hanya turun sebagai pengganti di Piala Bupati Ciamis, Jawa Barat. Padahal, kehadirannya diharapkan menjadi ikon anak asuh Ibnu Grahan tersebut.

Sayang, asa itu pun dipastikan urung terealisasi. Tertundanya kompetisi Indonesia Super League (ISL) yang berlanjut dengan penghentian kompetisi membuat Djemba-Djemba pun hengkang.

''Iya, Djemba-Djemba sudah nggak balik ke Surabaya,'' jelas Ibnu dalam pesan singkatnya.

Lelaki 34 tahun tersebut memang punya nama paling besar di antara pemain asing yang siap berlaga dalam kompetisi elite di negeri berpenduduk 200-an juta ini. Memulai karir seniornya di Liga Prancis dengan membela Nantes di saat usianya masih 20 tahun.

Aksinya di lapangan hijau pun memikat banyak klub besar. Beruntung raksasa Premier League, Inggris, Manchester United (MU), mendapatkan tanda tangan pemain bertinggi 180 sentimeter.

Djemba-Djemba didatangkan pada pada musim 2003. Tujuannya untuk menggantikan sosok Roy Keane yang kemampuannya mulai turun seiring digerus usia.  Namun, beban itu tak mampu disandangnya.

''Saya masih muda dan lini tengah MU banyak diisi pemain senior. Ada Paul Scholes, Keane, maupun Ryan Giggs, '' terang Djemba-Djemba.

Usia dari MU, petualangannya ke berbagai klub pun dimulai. Di awali dari sesama anggota Premier League, Aston Villa, pesepakbola asal Kamerun itu terbang ke berbagai negara.

Ajakan mantan pemain nasional negaranya, Pierre Njanka, membuat Djemba-Djemba pun datang ke Indonesia. Njanka pernah membela Persija Jakarta, Arema Malang, dan Persisam Samarinda.

''Dia cerita banyak tentang sepak bola Indonesia. Saya pun jadi tertarik untuk merasakannya,'' ungkap pesepak bola yang pernah tampil di Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang itu.

Namun, semua itu tak bisa diwujudkan. Carut marut sepak bola Indonesia akhirnya memaksa Djemba-Djemba meninggalkan Negeri Jamrud Khatulistiwa, julukan Indonesia, sebelum kompetisi digulirkan. (*)

Pemain pengalaman Piala Dunia di kompetisi Indonesia

1. Maboang Kessack
-Membela Kamerun di Piala Dunia 1990 dan 1994
-Klub Indonesia yang dibela Pelita Jaya 1997-1998

2. Roger Milla
-Membela Kamerun di Piala Dunia 1982, 1990, 1994
-Klub Indonesia yang dibela Pelita Jaya 1994-1995, Putra Samarinda 1995-1996

3. Pierre Njanka
-Membela Kamerun di Piala Dunia 1998, 2002
-Klub Indonesia yang dibela Persija Jakarta 2008-2009, Arema Indonesia 2009-2010, Atjeh United 2010-2011, Mitra Kukar 2011-2012, Persisam Putra Samarinda 2012-2013

4. Mario Kempes
-Membela Argentina di Piala Dunia 1974, 1978, 1982
-Klub Indonesia yang dibela Pelita Jaya 1999
Read More

Kumpulkan Bintang tanpa Dapat Bayaran

Para pemain 81 FC sebelum menghadapi PON Jatim

Banyak bintang lapangan hijau berasal dari Sidoarjo. Mereka pun menyempatkan diri berlatih bersama.
--
USTON Nawawi meneriaki rekan-rekannya masuk ke lapangan. Hanya, para pemain tersebut bukan penggawa Deltras, klub Liga Nusantara yang kini dibela Uston.

Mereka pun patuh dengan mantan pemain nasional di era 1990-an dan awal 2000-an tersebut. Padahal, mayoritas dari mereka berstatus bintang.

Para pemain itu pun akhirnya berdiri di belakang Uston untuk menjalani pemanasan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, agar tak mengalami cedera saat berhadapan dengan tim sepak bola proyeksi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jawa Timur (Jatim). Ya, mereka bergabung dengan tim yang menamakan dirinya 81.

''Tahun kelahirannya 81 kapan, saya sudah lupa. Sudah lama,'' kata Uston.

Nama 81 sendiri, paparnya, diambil dari pasal di hukum tentang penipuan dan penggelapan. Sambil bercanda lelaki yang pernah ditempa di Italia dalam proyek Baretti tersebut rekan-rekannya memang sering menipu dalam arti ingkar janji kalau disuruh datang latihan tepar waktu.

Oleh rekan-rekannya, arek Klagen, Sukodono, Sidoarjo, tersebut dituakan. Selain faktor usia, pengalaman Uston dianggap paling mumpuni dibandingkan dengan lain-lawannya.

''Kami sering kumpul bersama. Biasanya, kami komplet pas jeda kompetisi seperti sekarang ini,'' ujar lelaki 39 tahun tersebut.

Biasanya, tambah Uston, lintasan atletik luar Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, menjadi tempat berkumpul. Di sana, mereka mengasah kemampuan dengan permainan kucing-kucingan.

''Namun, juga main di lapangan besar. Lapangan Sepande menjadi tempat kami bermain,'' ujar lelaki yang mencuat namanya ketika membela Persebaya Surabaya tersebut.

Saat ini, terangnya, seminggu sekal, 81 mengadakan uji coba. Salah satu contohnya dengan Tim PON Jatim 2016.

''Kami sudah sering ke berbagai daerah. Ada undangan, ya kami terima,'' lanjut Uston.

Materi pemain 81 sendiri tak bisa dipandang sebelah mata. Mulai dari kiper hingga striker, pemainnya sudah malang melintas di kancah sepak bola nasional.

Di bawah mistar misalnya. Ada Ari Kurniawan yang lama beken di Deltras Sidoarjo, Persekabpas Kab Pasuruan, dan Persiram Raja Ampat. Ada juga mantan pemain nasional Dian Fakhrudin dan Nurul Huda di belakang.

Di tengah, selain Uston, dua juniornya yang juga asal Klagen, Rendy Irwan dan Arif Ariyanto, juga masuk skuad 81. Rendy dan Arif pernah berkostum Persebaya dan kini tampil di ajang Indonesia Super League. Rendy di Persija Jakarta dan Arif di Persela Lamongan. Untuk barisan depan, ada Sugiarto yang pernah membela Deltras.

Berapa bayarannya? ''Kami tak membayar mereka. Bisa main bareng dan dapat keringkat sudah senang. Sekalian jaga kondisi untuk persiapan kompetisi,'' ungkap Uston.(*)





Banyak bintang lapangan hijau berasal dari Sidoarjo. Mereka pun menyempatkan diri berlatih bersama.
--
USTON Nawawi meneriaki rekan-rekannya masuk ke lapangan. Hanya, para pemain tersebut bukan penggawa Deltras, klub Liga Nusantara yang kini dibela Uston.

Mereka pun patuh dengan mantan pemain nasional di era 1990-an dan awal 2000-an tersebut. Padahal, mayoritas dari mereka berstatus bintang.

Para pemain itu pun akhirnya berdiri di belakang Uston untuk menjalani pemanasan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, agar tak mengalami cedera saat berhadapan dengan tim sepak bola proyeksi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 Jawa Timur (Jatim). Ya, mereka bergabung dengan tim yang menamakan dirinya 81.

''Tahun kelahirannya 81 kapan, saya sudah lupa. Sudah lama,'' kata Uston.

Nama 81 sendiri, paparnya, diambil dari pasal di hukum tentang penipuan dan penggelapan. Sambil bercanda lelaki yang pernah ditempa di Italia dalam proyek Baretti tersebut rekan-rekannya memang sering menipu dalam arti ingkar janji kalau disuruh datang latihan tepar waktu.

Oleh rekan-rekannya, arek Klagen, Sukodono, Sidoarjo, tersebut dituakan. Selain faktor usia, pengalaman Uston dianggap paling mumpuni dibandingkan dengan lain-lawannya.

''Kami sering kumpul bersama. Biasanya, kami komplet pas jeda kompetisi seperti sekarang ini,'' ujar lelaki 39 tahun tersebut.

Biasanya, tambah Uston, lintasan atletik luar Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, menjadi tempat berkumpul. Di sana, mereka mengasah kemampuan dengan permainan kucing-kucingan.

''Namun, juga main di lapangan besar. Lapangan Sepande menjadi tempat kami bermain,'' ujar lelaki yang mencuat namanya ketika membela Persebaya Surabaya tersebut.

Saat ini, terangnya, seminggu sekal, 81 mengadakan uji coba. Salah satu contohnya dengan Tim PON Jatim 2016.

''Kami sudah sering ke berbagai daerah. Ada undangan, ya kami terima,'' lanjut Uston.

Materi pemain 81 sendiri tak bisa dipandang sebelah mata. Mulai dari kiper hingga striker, pemainnya sudah malang melintas di kancah sepak bola nasional.

Di bawah mistar misalnya. Ada Ari Kurniawan yang lama beken di Deltras Sidoarjo, Persekabpas Kab Pasuruan, dan Persiram Raja Ampat. Ada juga mantan pemain nasional Dian Fakhrudin dan Nurul Huda di belakang.

Di tengah, selain Uston, dua juniornya yang juga asal Klagen, Rendy Irwan dan Arif Ariyanto, juga masuk skuad 81. Rendy dan Arif pernah berkostum Persebaya dan kini tampil di ajang Indonesia Super League. Rendy di Persija Jakarta dan Arif di Persela Lamongan. Untuk barisan depan, ada Sugiarto yang pernah membela Deltras.

Berapa bayarannya? ''Kami tak membayar mereka. Bisa main bareng dan dapat keringkat sudah senang. Sekalian jaga kondisi untuk persiapan kompetisi,'' ungkap Uston.(*)






Read More

Uston Dkk Gagal Beri Tekanan

ENTENG: PON Jatim (putih) saat berhadapan dengan 81 


KESEBELASAN Pekan Olahraga Nasional (PON) Jatim proyeksi 2016 tak menemui hambatan berarti. Anak asuh Hanafing tersebut menang telak 3-0 (1-0) atas  81 dalam pertandingan uji coba di Gelora Delta, Sidoarjo, pada Jumat sore (22/5).

Tiga gol PON Jatim disumbangkan Imam Bagus (2 gol) dan Dendi. Meski menang, tapi Hanafing mengaku belum puas.

''Seharusnya bisa menang lebih. Banyak peluang matang yang gagal dituntaskan menjadi gol,'' kata Hanafing.

Uji coba itu, terangnya, untuk melihat kekompakan anak asuhnya di lapangan. Setelah sebelumnya, hampir sepekan dia menggeber Muhammad Rizky dkk dengan latihan fisik dan strategi.

81 dipilih juga karena semakin susahnya mencari lawan tanding. Hampir semua tim, baik Indonesia Super league (ISL), Divisi Utama, maupun Liga Nusantara banyak yang sudah meliburkan pemainnya. Bahkan, ada yang sudah membubarkan timnya.

''Tapi 81 juga bukan tim yang jelek. Ada pemain-pemain senior seperti Uston Nawawi, Arif Ariyanto, dan juga Rendi Irwan,'' jelas Hanafing.

Hanya, dalam sisi tekanan permainan, 81 belum bisa mengimbangi PON Jatim. Ini disebabkan mereka tak pernah menjalani program latihan fiisk layaknya tim yang dipersiapkan ke kompetisi.

''Dalam segi tekanan, kami tak mendapat apa-apa dari 81. Beda dengan saat menghadapi Porprov Sidoarjo lalu,'' tambah asisten pelatih PON Jatim 2016 Yusuf Mony .

Ya, dalam dua kali uji coba melawan Porprov Sidoarjo, PON Jatim 2016 selalu keteteran. Sempat menang 3-1 dalam pertemuan perdana, pada laga uji coba kedua mereka ditahan imang 2-2.

''Kami butuh lawan yang bisa memberikan pressing di lapangan. Karena itu nantinya yang akan kami hadapai di Pra Kualifikasi PON 2016 di Sidoarjo pada November mendatang,'' lanjut Yusuf.

Rencananya, masih ada beberapa laga uji coba yang diagendakan. Hanya, sampai sekarang, pihak PON Jaim masih mencari lawan yang tepat. (*)
Read More

Pemain Terbaik Divisi Utama Jualan Kerajinan dan Tas Kulit

SAHABAT: Victor (kanan) dan Denimar (foto: sidiq)

Namanya pernah menjadi buah bibir di kancah sepak bola nasional. Itu saat Victor  da Silva dinobatkan menjadi pemain terbaik Divisi Utama 2010. Bagaimana keadaannya kini?
--
VICTOR da Silva duduk sendirian di tribun tertutup Stadion Gelora Delta, Sidoarjo. Pandangannya tengah tertuju pada pertandingan uji coba antara kesebelasan Pekan Olahraga Nasional (PON) Jatim 2016 melawan Uston Nawawi dkk yang tergabung dalam PS 81.

Tak lama kemudian, asisten PON Jatim 2016, Denimar Carlos Jasino datang mendampinginya. Keduanya pun berbincang akrab dengan bahasa asal mereka, Brasil.

''Denimar teman saya dari Brasil. Kami sama-sama dari Rio de Janeiro tapi saya kota, dia desa,'' canda Victor dengan bahasa Indonesia yang lancar.

Bahasa Indonesia lancar yang mengalir dari mulutnya bisa dimaklumi. Victor sudah hampir 10 tahun berada di Negeri Jamrud Khatulistiwa.

''Saya diajak Carlos de Melo (mantan bintang Petrokimia Putra Gresik dan Persebaya Surabaya) ke Indonesia. Dia cerita banyak tentang sepak bola di sini dan saya tertarik datang,'' kata Victor.

PKT Bontang, ungkapnya, menjadi klub profesional pertama yang dibelanya. Dia mengaku enjoy bergabung bersama klub asal Pulau Borneo, julukan Kalimantan, itu.

''Pelatih pertama saya Suharno. Manajemen PKT bagus sekali dan saya tak pernah ada masalah apa pun di sana,'' ujar lelaki dengan tinggi 1,92 meter tersebut.

Selama tiga musim, Victor berkostum hijau-hijau PKT. Hingga akhirnya pada musim 2008/2009, dia hijrah ke Persebo Bojonegoro.

Di tim asal Kota Ledre, julukan Bojonegoro, itu, namanya mencuat dan mulai dikenal. Konstribusinya sebagai gelandang mampu mengangkat Persibo menjadi juara Divisi Utama dan menembus level Indonesia Super League (ISL), kasta tertinggi kompetisi sepak bola di Indonesia.

Bahkan, Victor pun dinobatkan menjadi pemain terbaik Divisi Utama musim 2009/2010. Namun, perubahan yang terjadi di Laskar Angling Dharma, julukan Persibo, membuatnya berkostum PSIR Rembang.

''Di PSIR, saya dua musim dan terakhir di Perseba Bangkalan Super, Madura,pada musim 2013'' kenangnya.

Seiring usia yang terus bertambah, Victor pun akhirnya mengurangi aktivitasnya di lapangan hijau. Tak seperti Denimar, dia memilih menekuni bisnis ekspor.

''Saya jualan barang kerajinan dan tas kulit bekerja sama dengan orang Jerman. Ini sudah sangat menguras waktu,'' ungkap Victor.

Usaha barang kerajinan, dia berpartner dengan orang asal Margumulyo, Surabaya. Sedangkan tas kulit, bapak satu anak itu bermitra deengan rekannya di Tanggulangin, Sidoarjo.

Selain itu, usaha salon kecantikan istrinya membuat dapurnya terus mengepul. Soal kehidupan rumah tangannya, Victor mengaku sudah dua kali menikah dengan wanita Indonesia.

''Istri yang usaha salon kecantikan merupakan istri kedua dan dari Surabaya. Saya pernah menikah dengan wanita Blitar dan punya satu anak. Sekarang, dia ikut ibunya,'' paparnya.

Meski sekarang tenggelam dalam aktivitas di luar sepak bola, Victor tetap memendam kerinduan untuk menjenguk keluarganya di Brasil. Dia sudah dua tahun ini belum pulang ke Negeri Samba, julukan Brasil. (*)


Sekilas tentang
Nama: Victor da Silva
Usia: 39 tahun
Posisi saat aktif bermain: Gelandang bertahan/Stopper
Tinggi: 1,92 meter

Klub yang pernah dibela: PKT Bontang, Persibo Bojonegoro, PSIR Rembang, Perseba Bangkalan
Read More

Masuk Kantor Bisa Dihitung dengan Jari

MILITER: Dedi Siswanto (foto;sidiq)

TUBUHNYA tinggi besar. Layak kalau Dedi Siswanto berposisi sebagai kiper di masa mudanya.
--
SEORANG lelaki tengah membetulkan tali sepatu di tribun Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat pagi (22/5/2015). Setelah itu, dia mengeluarkan kaos tangan yang dimiliki dari tas.

Dari penampilannya, tentu lelaki bernama lengkap Dedi Siswanto tersebut merupakan kiper. Ya, itu memang tak salah.

''Dari dulu saya memang kiper. Bahkan, masuk TNI-Angkatan Laut pun juga dari posisi kiper,'' ungkap Dedi.

Karir lelaki yang kini berusia 44 tahun tersebut memang tak bisa lepas dari kiper dan Angkatan Laut. Lulus sekolah menengah atas, Dedi mencoba masuk menjadi abdi negara.

''Pada 1991, saya menjalani tes AL di Jakarta. Saat itu, saya mau menjadi bintara AL,'' kenang Dedi.

Awalnya, lelaki dengan tinggi sekitar 180 sentimeter tersebut mampu melewati berbagai tahapan. Dari sekitar 4.000 pesaing, Dedi masih masuk ketika tinggal menyisakan 900.

Namun, saat masih dalam tes, konsentrasinya sempat terganggu. Bibi yang diikutinya di ibu kota mengalami musibah di Lampung saat naikk bus.

''Psikotes saya gak terlalu bagus. Bagaimana bisa menjalani kalau konsentrasi terganggu,'' ujar Dedi.

Untung, penguji memberikan tawaran kepadanya. Dedi bisa langsung menembus TNI-AL namun dengan pangkat tamtama.

''Tanpa pikir panjang, saya terima. Takutnya ditolak dan yang bintara juga gagal, kan nggak bisa jadi TNI-AL,'' lanjutnya.

Selain itu, saran dari seniornya di AL, Rahmad Darmawan, yang kini menjadi pelatih Persija Jakarta, membuatnya mantap berkarir di militer. RD,sapaan karibnya, mengingatkan Dedi bahwa kalau dia cedera di sepak bola, dia tetap akan dibayar TNI-AL. Beda dengan pemain yang nonmilieter.

''Akhirnya, saya ditugaskan di Jawa Timur. Meski,sempat ada tawaran dari Persija Jakarta juga,'' papar Dedi.

Namun, di Jawa Timur, karir sepak bolanya malah bersinar. Membela PSAL dalam kompetisi internal Persebaya (sekarang Askot PSS Surabaya), dia pun dilirik oleh Persebaya.

''Namun, yang pertama saya gagal pada 1991 atau pada Liga Indonesia I. Saya kalah oleh kiper yang dipaksakana masuk meski cedera,''ungkap lelaki yang kini berpangkat prajurit kepala (praka) tersebut.

Dedi pun mengaku sempat emosi dengan kegagalan tersebut. Untung, rekan -rekan dan keluarga memberikan dorongan semangat.

Motivasinya pun kembali bamgkit. Dedi pun kembali memperoleh panggilan mengikuti seleksi di Green Force, julukan Persebaya, pada Liga Indonesia III.

''Saya dipanggil oleh Rudy Bahalwan (alm). Pertama datang, Rudy memanggil Aji Santoso untuk mengetes saya,'' terangnya.

Saat itu, Aji, yang kini jadi pelatih Timnas U-23, menjajalnya dengan tembakan-tembakan keras. Setelah itu, paparnya, arek Malang itu lapor ke Rusdy bahwa penampilan Dedi bagus.

''Saya jadi semangat untuk ikut seleksi dan akhirnya masuk. Saya di Perseaya selama tiga musim,'' ujarnya.

Di tim asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, itu, Dedi masuk bagian tim ketika Persebaya juara. Ini menjadi capaian tertingginya selama menjadi pemain.

''Setelah dari Persebaya, saya ke Mitra Surabaya dan Persegi Gianyar,'' lanjutnya.

Namun, dengan label pernah membela Persebaya sangat membantu perjalanan karirnya hingga pensiun dan memutuskan menjadi pelatih. Persibo Bojonegoro, Deltras Sidoarjo, PS Mojokerto Putra, dan Bontang FC menjadi pelabuhan karirnya memoles kiper.

Lama bergelut di lapangan hijau membuat Dedi pun jarang berkantor di kesatuannya di Komando Armada Timur (Koarmatim) di Ujung, Surabaya. Menurutnya, selama hampir 24 tahun berkecimpung di militer, bisa dihitung jari dia masuk kantor.

''Namun, bukan menjadi masalah karena saya mengantongi surat dispensasi. Saya dari sepak bola juga ingin mengharumkan korps,'' pungkasnya. (*)

Seklas tentang
Nama: Dedi Siswanto
Usia: 44  tahun
Posisi masih aktif: kiper
Karir
Pemain: PSAL, Persebaya Surabaya, Mitra Surabaya, Persegi Gianyar
Pelatih: Persebaya U-21, Persibo Bojonegoro, PS Mojokerto Putra, Deltras Sidoarjo, Bontang FC, Porprov Sidoarjo
Read More

Jenggolo Sudah Bisa Dipakai Main Malam

ORTAS: Lampu Stadion Jenggolo sudah menyala

Di Sidoarjo, ada dua stadion. Memang, Stadion Gelora Delta lebih dikenal karena sering dipakai ajang nasional dan internasional. Namun, kini, stadioan lainnya, Jenggolo, pun mulai bersolek.
---
TAK seperti biasanya, lapangan din Stadion Jenggolo, Sidoarjo, masih ramai. Padahal, adzan Maghrib sudah berkumandang dari segala penjuru.

Kondisi lapangan yang terang pun membuat para pemain anggota klub Ortas (Orang Tua Sidoarjo) masih bisa melihat bola yang lagi bergulir. Mereka seakan enggan berhenti.

''Kami menjajal lampu yang sekarang terpasang di Stadion Jenggolo. Jadi, pemain Ortas belum saya suruh bubar dulu,'' kata Muhammad Burhan, kepala pengelola Stadion Jenggolo dan GOR Delta.

Ya, saat ini, terpasang empat lampu di empat tiang yang berdiri di sudut lapangan. Tiap tiang terdiri satu lampu besar.

''Tiap lampu berkekuatan 2.000 watt. Jadi, tenaga yang dipakai setiap kami menyala 8.000 watt,'' ungkap Burhan, sapaan karib Muhammad Burhan.

Hanya, dia masih mengaku lampu tersebut belum terlalu terang.  Idealnya, tambah Burhan, harus tambah dua dua lampu lagi sehingga menjadi 12.000 watt.

''Namun, listrik di Stadion Jenggolo tidak kuat kalau 12.000 watt karena harus dipakai untuk yang lain. Meski, lampu untuk tambahan itu sudah ada,'' ujarnya.

Lampu itu tersedia banyak di gudang Stadion Gelora Delta. Ini disebabkan lampu itu dulunya memang menjadi penerangan setiap laga di stadion yang dibangun untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000.

''Memang tak baru. Tapi, kondisi lampu memang masih bagus,'' lanjut Burhan.

Dia berharap penerangan yang ada bisa membuat Stadion Jenggolo bisa dipergunakan pada malam hari. Bukan hanya untuk latihan tapi juga pertandingan.

Apalagi, Gelora Delta menjadi kandidat utama sebagai tuan rumah Piala Asia U-19. Tentunya, tim peserta pun bisa menggunakan Stadion Jenggolo sebagai lapangan alternatif.

Stadion Jenggolo sendiri sebenarnya lebih dulu ada dibandingkan Gelora Delta. Dulunya, stadion ini menjadi home Persida Sidoarjo sejak dari Divisi II Regional.

Kondisinya sempat memprihatinkan. Namun, kini, Stadion Jenggolo menjadi buah bibir karena keelokan tanah dan rumputnya.Timnas Indonesia Senior dan U-23 pun pernah menjadikan sebagai tempat latihan.(*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com