www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Lapangan Pencetak Bintang Itu Tengah Rusak

Lapangan Klagen yang berada di sisi jalan Sukodono-Krian
Kampung Klagen terkenal banyak melahirkan pesepak bola handal. Bukan hanya level daerah tapi sudah nasional. Sayang, mereka sudah jarang berkumpul bersama di lapangan desanya. Mengapa?
--
SEPASANG muda-muda tengah duduk di pinggir Lapangan  Klagen. Sepeda motor matik warna putih diparkir di sampingnya. Mereka tengah menikmati hijaunya rumput di lapangan yang masuk Desa Wilayut, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo.

Bisa jadi, keduanya tak menyadari bahwa mereka tengah berada di area yang menyimpan banyak sejarah. Ya, Lapangan Klagen tersebut telah melahirkan banyak pesepak bola handal.

Bukan hanya di level kecamatan ataupun kabupaten, tapi sudah nasional. Tercatat nama-nama pemain yang mengenakan lambang garuda di dadanya dilahirkan di lapangan yang berada di jalan penghubung Kecamatan Sukodono-Krian tersebut antara lain Uston Nawawi, Rendy Irwan, maupun Hariono.

Nama terakhir sampai saat ini masih berstatus penggawa timnas senior. Bahkan, Hariono, yang terakhir membela Persib Bandung, rumahnya tepat di depan lapangan.

Sementara Uston merupakan arek Klagen yang lama malang melintas sebagai gelandang Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, di pertengahan 1990-an dan awal 2000-an. Dia juga menjadi bintang klub besar Persebaya Surabaya. Kini, di usianya yang sudah tak muda lagi, 39, Uston masih membela tim Liga Nusantara, kompetisi level III di Indonesia, Deltras Sidoarjo.

Sedangkan Rendy merupakan maskot Persebaya 1927 yang kini membela Persija Jakarta. Dia juga pernah membela Indonesia di ajang internasional.

''Kali pertama kali Uston main ya di Lapangan Klagen. Begitu juga rekan-rekan seangkatan seperti Huda (Nurul Huda, eks PSSI Primavera) maupun Sutaji (eks gelandang Persebaya dan Arema,'' ungkap Suwadi, tokoh sepak bola Klagen yang juga ayah Uston, saat ditemui di rumahnya Jumat (25/6/2015).

Lapangan yang kondisinya terawat membuat talenta muda Klagen pun tak kenal lelah mengolah skill dan kecerdikan. Selain itu, lapangan tersebut juga dipakai berlatih SSB Kelud, yang didominasi anak-anak Wilayut.

''Tapi, sekarang kami sudah jarang berlatih bersama. Lapangannya sudah tidak enak dipakai,'' keluh Rendy.

Ini, terangnya, setelah adanya perbaikan selokan yang dilakukan. Truk pembawa material, ungkap Rendy, pun keluar masuk lapangan seenaknya. Akibatnya, kondisi tanah yang dulunya datar dan rumput yang rapi mulai bergelombang dan rusak.

''Memang benar seperti itu. Saya berharap kondisi seperti itu bisa diperbaiki,'' ujar Suwadi.

Tentu, uluran tangan dari pemerintah dalam hal ini Pemerintah Desa Wilayut akan membuat para bintang yang dilahirkan dari lapangan tersebut bisa berlatih bersama. Begitu juga dengan talenta-talenta muda yang siap tumbuh pun bisa menghabiskan waktunya di tempat yang bisa membuat skillnya keluar sempurna. Sehingga, Uston-Uston baru akan selalu muncul dari Lapangan Klagen. (*)

Read More

Samsul Arif pun Turun Lapangan

TUNGGU BUKA:Suasana Liga Remadan di Lapangan Tropodo
Liga Ramadan bukan hanya bergulir di Makassar, Sulawesi Sidoarjo. Pesepak bola nasional pun ikut turun ke lapangan.
--

KERUMUNAN orang tengah mengelilingi Lapangan Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo, pada Sabtu (27/6/2015). Mereka tengah menyaksikan pertandingan sepak bola yang sudah bergulir beberapa hari.

''Lapangan ini rutin setiap tahun menggelar pertandingan sepak  antarkampung. Namun, kalau pada Ramadhan, ya baru kali ini kami mulai,'' kata lelaki yang hanya mau dipanggil Toin yang juga ketua panitia Liga Ramadan di Desa Tropodo tersebut.

Beda dengan biasanya, dalam Liga Ramadhan, lapangan dibiarkan terbuka. Tidak ada kain ataupun pagar bambu untuk menutupi sekeliling lapangan.

''Di Liga Ramadhan ini, penonton tak dipungut biaya tiket. Namun, mereka harus membayar parkir yang memang lebih mahal, Rp 5.000,'' ujar lelaki yang asli warga Desa Tropodo tersebut.

Meski terlihat sepele, tapi biaya yang dikeluarkan pihak panitia lumayan besar untuk menggelar Liga Ramadhan. Menurut Toin, besarnya bisa lebih dari Rp 10 juta hingga Rp 15 juta.

''Izin keamanannya yang paling besar,'' ungkapnya.

Namun, dia optimistis biaya itu bisa ditutupi. Selain dari parkir yang sehari bisa meraup Rp 500 ribu, uang pendataftaran peserta bisa membantu panitia bernaas.

''Tiap peserta membayar uang pendaftaran Rp 400 ribu. Untuk Liga Ramadhan ini diikuti oleh 16 tim dan berlangsung selama dua pekan,'' terang Toin.

Jumlah pemasukan panitia, ujarnya, bisa lebih kalau yang bertanding adalah tim yang diperkuat para pesepak bola tersohor. Seperti pada Liga Ramadhan 2015, tim Bojonegoro All Star menjadi favorit dan ditonton banyak orang.

''Ada Samsul Arif (pemain nasional asal Arema Cronus) dan Bejahi Calwa (pemain tim ISL Persela Lamongan),'' terang Toin.

Bahkan, beberapa pesepak bola Divisi Utama dan ISL di Sidoarjo dan sekitarnya juga dikabarkan siap turun. Pemain gaek Uston Nawawi pun tak menutup turun ke lapangan. Uston merupakan salah satu gelandang terbaik yang pernah membela Timnas PSSI.

''Liga Ramadhan yang ada di Krian tak kalah dengan yang ada di Makassar. Kami akan selalu membuat yang di sini terus berkembang dan dikenal banyak orang,'' ujarnya.

Usai Lebaran, Lapangan Desa Tropodo pun akan kembali menggelar turnamen tahunan. Karena sudah dikenal, jumlah pesertanya lebih banyak, 32 tim.

''Liga Ramadhan ini menjadi pemanasan panitia Piala Tropodo,'' pungkas Toin. (*)
---

Read More

Bintang Persebaya Ini Tak Menyesal Jadi Driver Bank

PUTRA:Kirom bersama Moch Bahrul Ridoh (foto;sidiq)
Pesepak bola pernah bergelimang harta. Tapi, dengan usia yang sudah tak muda, Abdul Kirom pun akhirnya mau bekerja.
--
ABDUL Kirom harus masuk pada Sabtu (27/6/2015). Ini tak biasanya karena Sabtu merupakan jadwal liburnya selain Minggu.

''Lagi ada pekerjaan tambahan. Tapi, nggak sampai petang. Pukul 15.00 WIB, saya sudah pulang,'' kata Kirom kepada pinggirlapangan.

Ya, sejak 2012, lelaki asal Krian, Sidoarjo, tersebut bekerja di Bank Jatim Cabang Mojokerto. Dia bukan sebagai kepala.

''Saya driver (sopir). Memang agak terlambat karena usia sudah 35 tahun,'' ungkap Kirom.

Dia bekerja setelah kemampuannya sebagai pesepak bola sudah tak laku lagi di kompetisi resmi PSSI. Meski, dia dulunya adalah salah satu bintang yang pernah dibesarkan tim sekelas Persebaya Surabaya.

''Saya beranikan minta ke pekerjaan ke Pak Johny (Fahamsyah, mantan pelatihnya di Persebaya Junior). Dia suruh nunggu tapi gak sampai sebulan, saya sudah diterima sebagai driver,'' ujarnya.

Ya, di tangan Johny pula, nama Kirom sebagai pesepak bola muda mulai dikenal. Dengan skill yang dimiliki, empat kali mampu menembus persaingan Persebaya Junior.

''Itu pula yang membawa saya masuk ke Persebaya Senior di musim 1996/1997. Alhamdulillah, saya menjadi bagian saat menjadi juara Liga Indonesia,'' kenang arek Desa Semawut tersebut.

Di Green Force, julukan Persebaya, Kirom menjadi idola baru. Dengan posturnya yang kecil untuk ukuran pesepak bola senior karena tingginya tak lebih 165 sentimeter, dia pun mendapat julukan Ciblek.

Di rumahnya, foto saat masih bersama Persebaya pun terpampang. Saat dia bermain di home maupun saat menerima medali dari Wakil Presiden RI saat itu Try Soetrisno dipajang.

''Saya harus bersaing dengan pemain-pemain kawakan. Ada Jacksen F. Tiago, Koko (Ronald Pieterz), maupun dengan Carlos de Mello,'' urainya. Jacken dan Carlos merupakan pemain asing asal Brasil. Selain itu, masih ada Justinho yang juga satu negara dengan mereka. Hanya, dia beroperasi di belakang.

''Persaingannya sangat ketat. Bahkan, untuk itu, saya harus dites selama tiga bulan,'' ujar  Kirom.

Namun, kebersamaannya bersama tim asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, tersebut tak bertahan lama. Pada 1997/1998, dia harus rela ke Arseto Solo.

''Saya terkesan dengan Arseto. Bayaran dan bonus tak pernah telat,'' ungkap bapak dari Moch Bahrul Ridoh dan Moch Baktiar Kirom tersebut.

Setelah itu, Kirom pun berkelana dari satu klub ke klub lain. Namun, pada musim 2003, suami Wiwin Irawati tersebut sempat kembali ke Persebaya yang tengah terpuruk ke Divisi I  yang ketika itu ditangani Mohammad Al Hadad alias Mamak dan digantikan Jacksen F. Tiago di tengah jalan.

''Saya mampu membawa Persebaya juara Divisi I dan promosi ke Divisi Utama lagi (yang saat itu masih kasta tertinggi di kompetisi sepak bola Indonesia,'' jelas Kirom.

Tapi, saat Divisi Utama, Kirom kembali tercampakan. Pemain yang memulai karir di PSAD, anggota klub internal Askot PSSI Surabaya, itu harus keluar meninggalkan klub yang sangat dicintainya tersebut. Hingga akhirnya pada 2008, dia pun kali terakhir berlaga membela klub kampung halamannya, Persida Sidoarjo.

''Sempat menganggur hingga akhirnya saya berani minta pekerjaan ke Pak Johny,'' ucap Kirom. (*)


Sekilas tentang
Nama: Abdul Kirom
Usia: 38 tahun
Orang tua: Mochammad Yahya Tamyis-Waki
Istri:Wiwin Irawati
Anak: Mochammad Bahrul Ridoh-Mochammad Baktiar Kirom
Rumah: Desa Semawut, Krian, Sidoarjo

Karir
1992-1996: Persebaya Junior
1996-1997: Persebaya Surabaya
1998: Arseto Solo
199-2000: Persijatim Jakarta Timur
2001-2003: Persikad Depok
2003-2004: Persebaya Surabaya
2004-2006: Persikad Depok
2006-2007: Persekabpas Kab Pasuruan
2007-2008: Pelita KS Cilegon
2008: Persida Sidoarjo

Prestasi:
1996-1997:  Persebaya juara Divisi Utama Liga Indonesia
2000: Jatim meraih emas PON
2003: Persebaya Juara Divisi I
Read More

Butuh Pertimbangan Terima Tawaran Tarkam

Rendy Irwan bersama Revan
Liburnya kompetisi sepak bola di Indonesia membuat para pemain menganggur. Tapi, tak semuanya bisa bermain dalam ajang antarkampung (tarkam).
--
SEBUAH rumah bercat abu-abu berkombinasi hitam terlihat ,masih baru di kawasan Klagen, Wilayut, Sukodono, Jawa Timur. Sang pemilik rumah adalah Rendy Irwan. Saat ini, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.

''Punya waktu yang lebih banyak di rumah sekarang. Tapi, tak banyak uang karena kompeitsi libur dan juga belum bayaran,'' kata Rendy saat ditemui di rumahnya pada Jumat siang (26/6/2015).

Lelaki 29 tahun tersebut mengaku sudah empat bulan tak menerima gaji dari klubnya, Persija Jakarta. Itu, kelasnya, sebelum kompetisi dihentikan setelah Menpora membekukan PSSI.

''Saya dapatnya uang muka 25 persen. Saya punya alasan minta sebanyak itu karena untuk proses persalinan anak saya yang kedua,'' lanjut Rendy.

Ya, saat berada di Macan Kemayoran, julukan Persija, istrinya tengah mengandung anak kedua. Apalagi, sang istri harus siap menjalani operasi cesar karena anak pertamanya, Revan, juga melalui cesar karena lahir prematur.

''Ya, jumlahnya lumayanlah. Tapi, lebih banyak yang belum dibayarkan,'' terang Rendy yang enggan menyebutkan nominal haknya yang belum diterima.

Sebagai tambahan, Rendy kadang menerima order bermain di ajang antarkampung (tarkam). Hanya, dia selektif menerima tawaran yang datang.

''Saya kan masih terikat dengan Persija karena timnya belum dibubarkan. Kalau memakai nama klub resmi PSSI saya nggak berani,'' ucap lelaki yang dibesarkan di klub internal Askot PSSI Surabaya, Mitra, tersebut.

Dia mengaku pernah bermain di sebuah liga tunai, nama lain tarkam, di Nganjuk, Jawa Timur. Tapi, Rendy membela sebuah klub kampung.

''Saya diajak teman-teman Persik,'' ujar lelaki yang musim lalu membela Macan Putih, julukan Persik Kediri, tersebut.

Sebuah tawaran dari Persewangi Banyuwangi pun ditolaknya. Rencananya, Rendy akan berlaga di Sunrise of Java yang dilaksanakan pekan terakhir Juni 2015.

Jika setuju bergabung, dia akan bermain bersama beberapa mantan rekannya di Persebaya 1927 Taufik dan Oktavio Dutra asal Brasil.

''Saya tolak karena turnamen resmi,'' tegas pesepak bola jebolan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut.

Meski tak berkompetisi dan mengikuti banyak ajang tarkam, Rendy tetap menjaga stamina. Dia rutin berlatih bersama pesepak bola Kota Udang, julukan Sidoarjo.

''Selain itu, ada uji coba juga ke beberapa desa di Sidoarjo. Lumayan bisa untuk mengasah felling ball,'' lanjut lelaki yang juga pernah membela Persekam Kabupaten Malang, PSBK Blitar, dan Mitra Kutai Kartanegara (Kukar) tersebut. (*)

Sekilas Rendy Irwan

Klub sekarang: Persija Jakarta
Klub sebelumnya: Mitra Surabaya, Persekam Kabupaten Malang, PON Jatim 2008, PSBK Blitar, Mitra Kukar, Persebaya 1927, Persik Kediri

Prestasi: Emas PON 2008

Rumah: Klagen, Wilayut, Sukodono, Sidoarjo

Anak: Revan, Rega
Read More

Tak Pikir Lisensi, Fokus Cetak Pemain Muda

KELANA: Ridwan Anwar (foto:sidiq)
Lahirnya pemain  bintang bukan secara kebetulan. Faktor pelatih sangat memegang perdanan. Dari tangan Ridwan Anwar, lahir talenta-talenta hebat.
--
SESEORANG lelaki dengan kaos tanpa lengan keluar dari sebuah gang di kawasan Sepanjang, Sidoarjo. Anting-anting di telinga kiri membuat penampilannya terlihat sangat.

Apalagi, posturnya tinggi besar. Kulit yang cokelat semakin membuat orang bakal pikir-pikir kalau mau berurusan dengannya.

Dia adalah Ridwan Anwar. Dia bukanlah preman di Sepanjang.

Ridwan merupakan sosok yang sangat dikenal di wilayah tersebut sebagai lelaki yang tak bisa lepas dari sepak bola. Dia merupakan mantan pesepak bola yang pernah merasakan kerasnya era Liga Sepak Bola Utama (Galatama).

''Saya pernah gabung Warna Agung di Jakarta. Saat itu pelatihnya Gusnul Yakin pada 1992,'' kenang Ridwan.

Sayang, lelaki yang kini berusia 48 tahun tersebut tak bisa bertahan lama di klub yang disokong pabrik cat tersebut. Warna Agung bubar di tahun keduanya bergabung.

''Tapi saya dapat tawaran bergabung PSPS Pekanbaru. Saat itu, hanya ada tiga pemain asal Jawa yang di sana,'' jelas Ridwan.

Di Askar Bertuah, juluka PSPS, Ridwan semat merasakan kompetisi Liga Indonesia, yang merupakan gabungan antara galatama  yang profesional dan perserikatan yang amatir. Namun, di klub asal ibu kota Riau tersebut, dia juga hanya semusim.

''Saya main main di Jawa. Saya pun seleksi di Persegres Gresik yang berada di Divisi Utama Liga Indonesia,'' ujarnya.

Tapi, informasi dari Suwandi HS membuat dia pergi ke Kudus untuk bergabung dengan Persiku. Pada 1995/1996, Macan Muria, julukan Persiku, ditangani pelatih asal Surabaya Riono Asnan.

''Suwandi bilang Riono cari stopper yang sudah jadi. Saya pun langsung ke Kudus,'' ungkapnya.

Sebenarnya, Ridwan sudah langsung diterima. Tapi, dia tidak betah karena mes dan makanannya.

''Tak sesuai dengan gambarana saya,'' ungkap lelaki dengan tinggi 180 sentimeter tersebut.

Dia pun kembali ke rumahnya di Sepanjang. Namun, itu tak membuat Ridwan menyerah.

''Saya mencoba tes di Mitra pada 1996. Mesnya yang dekat dengan rumah, saya pun mengayuh sepeda ke sana,'' lanjutnya.

Ketika mes Mitra ada di dekat Danau Kebraon. Usai berkumpul, mereka berlatih di Lapangan Arhanudse, Gedangan, Sidoarjo, atau Lapangan Brawijaya di kawasan Kodam V Brawijaya.

''Pelatih M. Basri sudah setuju saya masuk. Namun, karena tak ada kontrak, saya pun memilih keluar,'' lanjutnya.

Dia pun tak butuh lama mencari klub. Tawaran dari Persema Malang pun menghampiri.

Hanya, lagi-lagi, dia tak betah dan memilih balik ke Kota Udang, julukan Sidoarjo. Nah, saat itu, pada 1996, Ridwan sudah ingin menjadi pelatih. SSB Dolog menjadi tujuan.

''Saya sempat ditolak Waskito (pendiri SSB Dolog) karena masih layak main. Tapi, akhirnya saya diperbolehkan,'' ujarnya.

Di tangan Ridwan, talenta-talenta muda mulai bermunculan. Nama Rendy Irwan dan Lucky Wahyu merupakan pesepak bola yang pernah dipolesnya.

Kedua arek Sukodono tersebut pernah sama-sama membela Persebaya Surabaya. Kini, Rendy di Persija Jakarta dan Lucky di Barito Putera, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

''Lisensi kepelatihan pun akhirnya didapat pada 1999 dan 2001. D saya peroleh di Surabaya dan C di Gresik,''

Namun, dia sudah tak mau mengupgrade lisensi yang dimiliki. Baginya sekarang, dengan usia yang tak muda lagi, dia hanya ingin mengabdikan bagi sepak bola.

''Kepuasaan tersendiri kalau bisa mencetak pesepak bola yang nantinya terkenal,'' pungkas lelaki yang juga menangani klub internal Askot PSSI Surabaya HBS itu. (*)
Read More

Sering Ikut sang Mentor

Karir Muhammad Fakhrudin di lapangan hijau cukup gemilang. Klub yang dibelanya selalu papan atas. Tapi, ada sosok yang juga selalu dekat dengannya?

--
SEORANG duduk di depan kantor Pajak Pratama Sidoarjo di Jalan Pahlawan pada Selasa siang (23/6/2015). Di tengah bermain telepon genggamnya.

Muhammad Fakhrudin, nama lelaki itu, bukan hanya sekadar duduk. Dia tengah menunggu dagangan kepiting bertelor miliknya. Usaha itu belum setahun ditekuni.

Selama ini, bahkan sampai saat ini, Fakhrudin, sapaannya, tetap bergelut di sepak bola. Pada 2015, dia menjadi bagian dari Persiku Kudus di ajang Liga Nusantara sebelum akhirnya kompetisi paling bawah tersebut dihentikan.

''Saya ikut Persiku karena diajak Pak Rio (sapaan Fakhrudin kepada Riono Asnan, pelatih Persiku). Saya banyak hutang budi kepada Pak Rio,''  jelasnya.


Ya, memulai karirnya di mulai saat membela tim Mars BTPN yang kemudian berganti nama menjadi Star, Fakhrudin banyak berkolaborasi dengan lelaki yang lahir dari keluarga sepak bola tersebut. Di Star, Fakhrudin muda pun ditangani oleh Riono.

''Saya sempat membela Persebaya Junior pada 1999. Setahun kemudian, saya menembus kelompok senior yang saat itu dipegang Rudy (Keltjes),'' kenang Fakhrudin.

Selain dia, lanjutnya, kiper Hendra Prasetya yang promosi dari kelompok junior. Setahun di Green Force, julukan Persebaya, pada 2001, dia menerima ajakan Riono untuk bergabung dengan Persijap Jepara.

''Pada 2002-2003, saya pun balik ke Sidorjo untuk bergabung dengan Deltras yang dilatih Suharno. Saat itu, materi pemainnya bagus, ada Budin Sudarsono dan Anang Makruf (dua pemain yang baru saja kembali dari Persija Jakarta dan berkostum Timnas Senior),'' jelas Fakhrudin.

Namun, lagi-lagi, Riono mengajaknya ke Persela Lamongan. Kerjasama keduanya mampu mengantarkan tim asal Kota Soto tersebut promosi ke Divisi Utama, saat itu masih menjadi kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia.
Setelah di Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, Riono kembali mengajaknya ke Persiba Balikpapan dan Putra Samarinda. Di Pesut Mahakam, julukan Persisam, Fakhrudin mampu mengantarkan klub itu menjadi juara bersama Uston Nawawi, salah satu bintang lini tengah Indonesia jebolan PSSI Baretti.

Pada 2010, tawaran dari Arema membuatnya tak bisa menolak. Singo Edan, julukan Arema, mampu diantarkannya meraih trofi Indonesia Super League (ISL). Di sini, Fakhrudin bertemu dengan dua orang yang jadi panutannya, Rene Albert dari Belanda yang berposisi sebagai pelatih dan Noh Alam Shah atau Along, striker asing asal Singapura.

''Albert punya ilmu sepak bola yang luar biasa. Bukan hanya di lapangan tapi juga di luar lapangan,'' ungkap Fakhrudin.

Dia juga bisa menjadi teman dan bapak usai latihan. Prinsip itu yang akhirnya dipakai oleh Fakhrudin saat mulai terjun menangani tim kambung halamannya, Cakra Buana.  Sementara, Along mencurahkan hidupnya hanya untuk sepak bola. 

Usai dari Arema, Fakhrudin sempat kembali ke Deltras. Hanya, saat bergabung The Lobster, julukan haknya sebagai pemain tersendat-sendat.

''Sriwijaya FC Palembang menjadi klub saya berikut. Barulah tahun lalu saya ke Persik Kediri,'' ungkapnya.

Dari Macan Putih, julukan Persik, sebenarnya masih banyak klub yang menginginkannya bergabung. Mulai dari Divisi Utama hingga ISL.

Namun, tawaran dari Riono tak kuasa ditolaknya. (*)


Sekilas Fakhrudin
1999: Persebaya Surabaya Junior
2000-2001: Persebaya Surabaya Senior
2001-2002: Persijap Jepara
2002-2003: Deltras Sidoarjo
2003-2004: Persela Lamongan
2004-2005: Persijap Jepara
2006-2007: Persiba Balikpapan
2007-2008: Persisam Samarinda
2008-2011: Arema
2011-2012: Deltras
2012-2013: Sriwijaya FC Palembang
2014-2015: Persik Kediri
2015: Persiku Kudus
Read More

Jago di Lapangan Bola, Pintar Masak Kepiting

Muhammad Fakhrudin sering membela klub-klub besar di Indonesia. Gelar juara pun sudah pernah disandangnya. Tapi, mengapa dia banting setir berdagang kepiting?

--
SEBUAH mobil Jazz berhenti di depan SPBU Jati, Sidoarjo, yang sudah tutup pada Selasa siang (23/6/2015). Namun, mobil itu bukan lagi kehabisan bensin ataupun mogok.

Mobil sport keluaran 2007 itu berhenti karena berjualan kepiting. Di dalam bagasi pun terdapat etalase yang berisi kepiting yang sudah di masak.

''Awal jualan, saya memakai sistem online. Mengantarkan ke pembeli memakai mobil jazz ini, Sehingga orang pun mengenalnya dengan kepiting jazz,'' kata Muhammad Fakhrudin, sang penjual.

Bisnis berjualan kepiting ini, terangnya, baru ditekuni pada Oktober 2014 atau belum genap setahun. Ya, Fakhrudin si pedagang kepiting ini merupakan salah satu pesepak bola tersohor di Indonesia. Klub-klub papan atas itu kebanyakan berlaga di ajang kasta tertinggi sepak bola di tanah air, Indonesia Super League (ISL) pernah dibelanya.

Bahkan, Persisam Samarinda (Kalimantan Timur) dan Arema, Malang, pernah dibawanya menjadi juara. Pesut Mahakam, juara Divisi Utama pada 2008/2009 dan Singo Edan, jululan Arema, meraih trofi ISL semusim kemudian.

''Saya melihat sepak bola Indonesia kondisinya parah. Gaji belum dibayar hingga permainan kotor,'' ujar lelaki 33 tahun tersebut.

Dia pun ingin mencari rezeki yang istiqomah. Nah, berdagang kepiting menjadi pilihan.

''Di lingkungan saya kan banyak peternak kepiting. Saya pun tertarik mencoba,'' jelas Fakhrudin yang tinggal di Kedungpeluk, Sidoarjo, daerah yang banyak tambak dan peternak udang.

Dia pun memulainya dengan menyuruh istri belajar memasak kepiting di salah satu saudaranya. Awalnya, kepiting yang dijualnya merupakan hasil masakan sang istri.

''Namun, sekarang, saya yang memasak semua. Alhamdulillah, para pembeli sudah banyak yang jadi pelanggan,'' ujar Fakhrudin.
Kepiting telor menjadi pilihannya karena rasanya beda dengan kepiting biasa.

Saat ini, Kepiting Jazz-nya mempunyai dua outlet. Selain di depan SPBU Jati, satunya di depan Timbangan Truk di kawasan Candi, yang masih masuk wilayah Sidoarjo. Selain dengan mobil jazz, kepiting hasil olahannya dijual dengan memakai sepeda motor yang sudah dimodifikasi.

''Namun, saat ini, saya hanya jualan di Jati. Rekan saya lagi ada acara di kampungnya,'' terang Fakhrudin.

Setiap hari, bapak tiga anak itu bisa menjual hingga 30 kemasan kepiting. Di kemasan itu ada yang berisi satu tapi ada juga yang lebih.

Harganya pun bervariasi mulai Rp 50.000 hingga 100.000.

''Semuanya masakan asam manis karena pembeli lebih suka,'' ungkap Fakhrudin.

Dia berharap kuliner yang ditekuninya bisa berkembang. Meski, dia harus berbagai waktu dengan sepak bola.

Terakhir, Fakhrudin masih tercatat sebagai pesepak bola di Persiku Kudus, Jawa Tengah. Dia bermain di ajang Liga Nusantara, kompetisi level terendah di kompetisi sepak bola Indonesia.

''Selain itu, saya juga menangani tim sepak bola di kampung. Namanya Cakra Buana,'' ujar lelaki yang sudah melanglang nusantara mulai dari Persijap Jepara, Persebaya Surabaya, Persela Lamongan, Persiba Balikpapan, Putra Samarinda, Arema Malang, hingga Sriwijaya FC Palembang itu.

Di tangannya, Cakra Buana musim ini mampu menjadi juara kelas II sekaligus naik level ke Kelas I. Hasil ini,terangnya, cukup diluar dugaan.

''Baru dua musim kami ikut. Musim sebelumnya, Cakra Buana hanya di papan tengah sehingga musim 2004/2015, targetnya papan atas saja,'' ucap Fakhrudin.

Ke depan, dia berharap bisa terus membagi waktu antara sepak bola dan bisnis kepitingnya bisa berjalan beriringan. (*)

Read More

Wasit Sepak Bola, Tinju, dan Drum Band

MULTI: M. Rois di depan sekolah tempatnya mengajar
Berprofesi di tiga cabang olahraga bukan hal yang mudah. Namun, itu mampu dilakoni dengan baik oleh M. Rois. Siapa dia?
--
KERIPUT mulai terlihat di wajah M. Rois. Wajar karena sekarang usianya sudah menginjak 50 tahun.

Dia pun langsung mengajak duduk di teras SMPN 63 Surabaya, Kebonsari, Surabaya, tempatnya mengajar selama hampir 15 tahun. Dengan memakai celana training dan kaos polo, Rois pun.

Di pentas tinju Indonesia, namanya sangat dikenal. Rois merupakan wasit tinju yang bersertifikat WBO dan IBF.

Ini membuatnya sering nongol di televisi. Lelaki yang tinggal di kawasan Suromadu, Surabaya, ini pun juga sudah melanglang buana untuk memimpin pertandingan adu jotos profesional.

''Tapi, sekarang saya lebih banyak jadi komentator dan penata pertandingan,'' kata Rois saat ditemui Selasa sore (16/6/2015)

Hanya, siapa sangka, sebenarnya sepak bola merupakan olahraga yang ditekuni dan diseriusi kali pertama oleh Rois. Dulunya, dia merupakan pesepak bola PSAL dan turun di kompetisi internal Persebaya, sekarang Askot PSSI Surabaya.

''Saya berposisi di bek kanan. Namun, saya tak bisa total bermain sepak bola karena saya kuliah di IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya, Unesa) jurusan kepelatihan,'' ungkap Rois.

Setelah lulus pada 1988, setahun kemudian, dia menjajal pengalaman menjadi wasit  sepak bola. Lisensi C3 pun mampu disandangnya.

''1990, saya sudah punya C3. Saya pernah memimpin pertandingan di level provinsi meski tak banyak. Hanya, kalau kompetisi internal Persebaya sudah sering,'' tambah Rois.

Namun, ternyata, di sepak bola, Rois tak bertahan lama. Sebuah lowongan yang dibaca di sebuah media yang mencari wasit tinju muda membuatnya tertarik.

''Akhirnya, sepak bola berlahan saya tinggalkan dan serius sebagai wasit tinju. Apalagi, Aseng (promotor tinju terkenal dari Surabaya) mendukung karir saya,'' ungkap Rois.

Mulanya, dia hanya memimpin pertarungan di dalam negeri. Hanya, setelah memperoleh lisensi WBO dan IBF di akhir dekade 1990-an, Rois mulai sering ke luar negeri dan namanya dikenal di masyarakat.

''Memimpin tinju lebih muah dan simpel,'' ujarnya.

Dengan mengawasi 2 orang dalam satu ring saja tentu beda dengan mempelototi 22 pemain dalam lapangan sepak sepak bola.

Namun, di luar wasit sepak bola dan tinju, ada kegiatan lain yang mengerek nama Rois. Apa itu?

''Saya juga menjadi pelatih drum band. Baru saja, saya mengantarkan Surabaya meraih tiga emas dalam Porprov (Pekan Olaraga Provinsi) di Banyuwangi,'' ungkap Rois.

Drum band, lanjutnya, sudah lama ditekuni. Bahkan, dalam lima tahun terakhir, posisi pelatih Surabaya selalu dipercayakan kepadanya.

''Awalnya, saya melatih fisik. Tentu, ilmu yang saya pakai adalah ilmu sepak bola,'' ujar Rois.

Di drum band, jelasnya, juga ada lomba kecepatan. Ini membuatnya pun sering melatih kecepatan anak asuhnya. (*)
Read More

Terlalu Berani Memaksakan Strategi

COACH: Ibnu Grahan
INDONESIA gagal total dalam cabang olahraga (cabor) sepak bola dalam SEA Games 2015. Memalukannya lagi, di babak semifinal dan perebutan perunggu, sepuluh gol bersarang ke gawang merah putih.

Permainan Evan Dimas dkk pun tak lepas dari perhatian Ibnu Grahan. Pelatih Persebaya Surabaya di ajang Indonesia Super League (ISL) itu pun memberikan kritikannya. Dia bertemu dengan penulis saat menyaaksikan sebuah pertandingan persahabatan di Gelora 10 Nopember, Surabaya, pada Senin sore (15/6/2015) atau beberapa jam setelah Indonesia kalah oleh Vietnam dalam laga perebutan medali perunggu SEA Games 2015 di Singapura .

Bagaimana dengan hasil Indonesia di SEA Games 2015?
-Tentu belum sesuai harapan. Namun, coach Aji (Santoso) seharusnya tak boleh menyerah sebelum pertandingan.

Kok bisa?
-Dia membandingkan persiapan Indonesia dengan negara lain. Seharusnya tidak boleh begitu. Turun di SEA Games mau nggak mau kita harus siap.

Meski hanya hitungan minggu?
-Pelatih harus mengoptimalkan persiapan dan juga mengoptimalkan kemampuan pemain yang ada dengan meracik strategi yang jitu.

Timnas U-23 selalu memakai strategi 4-3-2-1?
-Itu terlalu berisiko. Banyak strategi yang bisa diterapkan dengan melihat materi yang ada.

Menurut Anda strategi apa yang pas sebenarnya?
-Seharusnya strategi bermain bertahan yang diutaman. Kalau main terbuka, tentu Thailand dan Vietnam punya stamina yang bagus karena persiapan yang katanya sudah lama.

Untuk materi?
-Dua bek yang kita miliki, Syaiful Indra di kanan dan Abdu Lestaluhu memang punya naluri menyerang. Tapi, dari yang saya lihat, umpan silangnya, khususnya Syaiful hampir tak ada, Kan lebih bagus dimainkan pemain dengan bertahan yang bagus. Di posisi itu kan ada  I Putu Gede Juniantara.

Kalau untuk menyerangnya?
 -Coach Aji harus memasang dua sayap yang punya kecepatan tapi juga kuat dalam bertahan. Saya lihat di Timnas U-23 itu ada seperti itu.

Tak lama bercakap-cakap, Ibnu pun meninggalkan Gelora 10 Nopember karena ada keperluan. (*)
Read More

Klub Lokal dengan Materi Pemain ISL

SEGAN: Sahar (depan tengah) bersama pemain Buaya Sakti

PSB Buaya Sakti bukan klub profesional. Namun, tim tersebut selalu diperkuat para pemain dengan label bintang.

--
PARA pemain tengah berganti kostum. Mereka memakai kaos dengan tulisan PSB di dada.

Itu dilakukan sebelum PSB atau PS Buaya Sakti hendak melakukan laga uji coba melawan Deltras, tim Liga Nusantara yang pernah disegani di pentas Indonesia Super League, di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Kamis (11/6/2015). Buaya Sakti dulunya merupakan klub anggota Askab PSSI Sidoarjo.

''Sekarang, klub itu sudah saya jual. Saat saya tangani, Buaya Sakti masih di kompetisi Kelas Utama (level tertinggi di kompetisi Askab PSSI Sidoarjo),'' kata Sahar Maulana di bench Stadion Jenggol

Meski sudah dijual,nama Buaya Sakti tetap melekat kepadanya. Tim tersebut tetap sering mengikuti ajang antarkampung (tarkam).

Bahkan, klub asal Desa Sumberejo, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, tersebut sudah dikenal sebagai rajanya tarkam. Ini disebabkan  Buaya Sakti, tambah Sahar, diperkuat para pemain-pemain bintang yang tak hanya membela klub-klub besar tapi juga Indonesia.

''Dulu, Bejo (Sugiantoro) dan Mursyid (Effendi), dua mantan pemain Persebaya Surabaya dan Timnas PSSI, sudah langganan membela Buaya Sakti. Tentu waktunya pas mereka tak latihan di klubnya,'' kata Sahar.

Para pemain bintang pun jarang menolak jika diundang oleh lelaki 49 tahun tersebut. Itu terbukti saat menghadapi The Lobster, julukan Deltras. Buaya Sakti diperkuat oleh pemain-pemain yang sarat pengalaman mulai dari di bawah mistar hingga depan.

Di posisi penjaga gawang ada Ari Kurniawan (eks Deltras, Persekabpas Kabupaten Pasuruan, dan Persiram Raja Ampat Papua), Putut Wijanarjo (eks Persida Sidoarjo), dan Nasirin (eks Persida dan Persipur Purwodadi).

Di tengah terdapat nama Khoirul Mashuda (eks Deltras dan Madura United), Arif Basuki (eks Deltras dan Perseba Super Bangkalan), dan Arif Ariyanto (eks Persebaya Surabaya, Arema, dan Persela Lamongan). Sementara di depan ada Sugiarto (eks Deltras dan PSBI Blitar).

''Saya hubungi mereka datang semua. Alhamdulillah, para pemain percaya kepada saya,'' ungkap Sahar.

Menurutnya, kompetisi yang tengah vakum juga membuat Ari Kurniawan dkk datang. Membela Buaya Sakti bisa mengisi waktu sekaligus dompet para pemain.

Sayang, Sahar enggan menyebutkan bayaran yang diberikan kepada para pemain tersebut. Pemain pun juga setali tiga uang. (*)
Read More

Ajang Ketemu Teman Lama

KAWAN: Mat Halil akan bereuni 

Penggawa Persebaya 1927 hampir tiga tahun berpisah. Kini, mereka pun punya kesempatan melakukan reuni.
--
MAT Halil tengah melakukan pendinginan. Itu dilakukannya usai berlatih di Gelora 10 Nopember, Surabaya, pada Kamis (11/6/2016).

Namun, di sela-sela melakukan pendinginan, lelaki 37 tahun tersebut bersemangat menceritakan agenda bertitel Battle of The Heroes yang akan dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pada Sabtu (13/6/2015).

''Lama kami tak bermain satu tim lagi setelah Persebaya tak berkompetisi. Semua teman-teman pun sudah menyatakan mau datang,'' kata Halil.

Battle of Heroes sendiri akan menampilkan tim Andik Vermansyah & Friends melawan tim Amigos. Skuad Andik Vermansyah & Friends akan dihuni oleh sejumlah mantan pemain Persebaya 1927 seperti Taufiq, Endra Prasetya, Erol Iba, Lucky Wahyu, Mario Karlovic, Rendi Irwan, Mat Halil, Fernando Soler, juga Andik, yang .

Sedangkan lawannya, yakni tim Amigos, diperkuat para pemain asing yang pernah merumput di Indonesia, antara lain Shin Hyun Joon, Mourad Fariz, Ronald Fagundez, Antonio Teles, Gaston Castanno, Cristian Carrasco, Yoo Jae Hoon, maupun Morris Power.

''Sebenarnya, ada nama Feri Ariawan dan Octavio Dutra. Namun, ada pertimbangan yang membuat kami tak mengundang mereka,'' jelas Halil, sapaan karib Mat Halil.

Dia dan rekan-rekannya tak mau keduanya tersandung masalah jika membela Andik & Friends. Ya, saat ini, Feri dan Dutra masuk dalam Persebaya yang berkompetisi di ajang Indonesia Super League. Selama ini, kedua tim, Persebaya 1927 dan Persebaya ISL, dikenal ada perbedaan.

Sebenarnya, jika tak pecah, loyalitas Halil tak perlu diragukan. Dia tak pernah hengkang ke klub lain meski banyak tawaran yang datang menghampiri di masa jayanya.

Hanya, perpecahan membuatnya akhirnya untuk kali pertama membela klub selain Persebaya yakni Persida Sidoarjo pada musim 2013/2014. Kini, bapak dua anak itu pun masih berada di Kota Udang, julukan Sidoarjo.

Namun, klubnya bukan lagi Persida tapi Deltras. Rencananya, Halil akan berjuang bersama The Lobster, julukan Deltras, di ajang Liga Nusantara musim 2014/2015.

Sayang, pembekuan PSSI oleh Menpora membuat Liga Nusantara pun urung digelar. Hanya, dia tetap berlatih bersama Deltras hingga akhirnya datangnya undangan untuk mengikuti reuni bersama rekan-rekannya di Persebaya 1927. (*)
Read More

Tembakan di Final yang Selalu Dikenang

Yusuf Ekodono saat di Gelora 10 Nopember

Setiap kali SEA Games dilaksanakan, sepak bola selalu diharap meraih emas. Kali terakhir, Indonesia meraihnya pada 1991 dan salah satu pahlawannya Yusuf Ekodono.
---
SEORANG lelaki dengan kaos putih masuk ke Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya, pada Kamis pagi (11/6/2015). Tas berisi sepatu ditentengnya.

Dia kemudian duduk di pinggir lapangan. Sambil menalikan tali sepatunya, Yusuf Ekodono, nama lelaki tersebut, berjabat tangan rekan-rekannya.

Saat di lapangan, skill bermainnya masih sama seperti ketika masih aktif di lapangan hijau. Gocekannya mampu menipu pemain-pemain lawan yang usianya jauh di bawahnya.

Tak bisa dipungkiri, Yusuf merupakan salah satu bintang lapangan hijau yang dimiliki Indonesia. Sumbangsih terbesarnya adalah meraih emas untuk Indonesia pada SEA Games 1991 yang dilaksanakan di Manila, Filipina, pada 4 Desember. Dalam final, merah putih menang adu penalti 4-3 atas Thailand.

Yusuf menjadi salah satu eksekutor. Tembakan chopnya sukses menjebol gawang Negeri Gajah Putih, julukan Thailand.

''Saya memulai karir dari IM (Indonesia Muda) Surabaya. Setelah itu, saya dipanggil masuk Persebaya Junior,'' terang lelaki kelahiran 1967 tersebut.

Kemmapuannya mengolah pun membuat Yusuf pun dapat promosi ke jenjang senior. Namun, bukan hal yang mudah untuk bisa menembus posisi inti.

''Ada Syamsul Arifin yang baru saja kembali dari Niac Mitra. Setelah itu, muncul Mustaqim,'' kenangnya.
Syamsul dan Mustaqim adalah penyerang haus gol yang pernah membela Green Force, julukan Persebaya.

Saat Persebaya menjadi finalis 1986 dan juara 1987, Yusuf ikut merasakan euforia. Namanya masuk dalam tim.

Namun, duduk di bangku cadangan tak membuatnya patah semangat. Hingga akhirnya, pada 1989, Yusuf secara reguler mendapat tempat inti di lini depan.

''Meski cadangan di Persebaya, saya sudah punya tekad siapa yang duluan masuk timnas,'' ungkap bapak dari mantan pemain Timnas U-23 Fandi Eko Utomo tersebut.

Perjalananya bersama Persebaya pun tak selamanya mulus. Pada Liga Indonesia II 1995/1996, dia pun harus berkostum PSM Makassar. Pasukan Ramang, julukan PSM, merupakan klub pertama di luar Persebaya yang dibelanya.

''Ada pengurus yang tak menginginkan saya main. Kebetulan, PSM butuh saya meski hanya dengan status pinjam karena suratnya tak dikeluarkan,'' ungkap Yusuf.

Saat itu, PSM pun mampu dibawanya menjadi runner-up Liga Indonesia. Sementara tim asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, terseok-seok.

Ini membuat manajemen Persebaya pun kembali memanggilnya. Hasilnya, pada Liga Indonesia III, tim pujaan Bonek tersebut menjadi juara.

''Eh pada musim berikutnya, kejadian itu terulang. Saya pun harus ke PSIS Semarang karena mereka mau menjamin saya bermain,'' ujar Yusuf.

Usai dari PSIS, Gelora Dewata dan Persijap Jepara menjadi klub Divisi Utama yang dibelanya. Namun, pada musim 2002, tawaran dari bos Suryanaga, klub internal Persebaya, Michael Sanjaya, tak kuasa ditolak.

''Pak Michael menyuruh saya bermain dan sekalian melatih Suryanaga. Alhamdulillah, Suryanaga bisa menjadi juara internal,'' lanjut Yusuf.

Di Suryanaga pula karirnya sebagai pemain pun berhenti. Dengan usia yang terus bertambah, Yusuf pun mulai konsentrasi sebagai pelatih.

Maestro Surabaya, PSBI Blitar, Persewangi Banyuwangi, hingga Persebaya Senior dan U-21 pernah dipolesnya. Namun, di sela-sela kesibukan melatih, Yusuf masih menyempatkan menularkan ilmunya kepada dua anaknya, Fandi dan Wahyu Subo Seto.

Musim 2014, keduanya mampu menembus Persebaya yang berlaga di kancah Indonesia Super League. Bahkan, Fandi nyaris mengikuti jejak bapaknya menjadi pemain yang menyumbangkan emas di SEA Games.
Sayang, di final SEA Games 2013, Indonesia menyerah kepada Thailand dengan skor tipis 1-0. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com