www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 23 Juni 2015

Sering Ikut sang Mentor

Karir Muhammad Fakhrudin di lapangan hijau cukup gemilang. Klub yang dibelanya selalu papan atas. Tapi, ada sosok yang juga selalu dekat dengannya?

--
SEORANG duduk di depan kantor Pajak Pratama Sidoarjo di Jalan Pahlawan pada Selasa siang (23/6/2015). Di tengah bermain telepon genggamnya.

Muhammad Fakhrudin, nama lelaki itu, bukan hanya sekadar duduk. Dia tengah menunggu dagangan kepiting bertelor miliknya. Usaha itu belum setahun ditekuni.

Selama ini, bahkan sampai saat ini, Fakhrudin, sapaannya, tetap bergelut di sepak bola. Pada 2015, dia menjadi bagian dari Persiku Kudus di ajang Liga Nusantara sebelum akhirnya kompetisi paling bawah tersebut dihentikan.

''Saya ikut Persiku karena diajak Pak Rio (sapaan Fakhrudin kepada Riono Asnan, pelatih Persiku). Saya banyak hutang budi kepada Pak Rio,''  jelasnya.


Ya, memulai karirnya di mulai saat membela tim Mars BTPN yang kemudian berganti nama menjadi Star, Fakhrudin banyak berkolaborasi dengan lelaki yang lahir dari keluarga sepak bola tersebut. Di Star, Fakhrudin muda pun ditangani oleh Riono.

''Saya sempat membela Persebaya Junior pada 1999. Setahun kemudian, saya menembus kelompok senior yang saat itu dipegang Rudy (Keltjes),'' kenang Fakhrudin.

Selain dia, lanjutnya, kiper Hendra Prasetya yang promosi dari kelompok junior. Setahun di Green Force, julukan Persebaya, pada 2001, dia menerima ajakan Riono untuk bergabung dengan Persijap Jepara.

''Pada 2002-2003, saya pun balik ke Sidorjo untuk bergabung dengan Deltras yang dilatih Suharno. Saat itu, materi pemainnya bagus, ada Budin Sudarsono dan Anang Makruf (dua pemain yang baru saja kembali dari Persija Jakarta dan berkostum Timnas Senior),'' jelas Fakhrudin.

Namun, lagi-lagi, Riono mengajaknya ke Persela Lamongan. Kerjasama keduanya mampu mengantarkan tim asal Kota Soto tersebut promosi ke Divisi Utama, saat itu masih menjadi kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia.
Setelah di Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, Riono kembali mengajaknya ke Persiba Balikpapan dan Putra Samarinda. Di Pesut Mahakam, julukan Persisam, Fakhrudin mampu mengantarkan klub itu menjadi juara bersama Uston Nawawi, salah satu bintang lini tengah Indonesia jebolan PSSI Baretti.

Pada 2010, tawaran dari Arema membuatnya tak bisa menolak. Singo Edan, julukan Arema, mampu diantarkannya meraih trofi Indonesia Super League (ISL). Di sini, Fakhrudin bertemu dengan dua orang yang jadi panutannya, Rene Albert dari Belanda yang berposisi sebagai pelatih dan Noh Alam Shah atau Along, striker asing asal Singapura.

''Albert punya ilmu sepak bola yang luar biasa. Bukan hanya di lapangan tapi juga di luar lapangan,'' ungkap Fakhrudin.

Dia juga bisa menjadi teman dan bapak usai latihan. Prinsip itu yang akhirnya dipakai oleh Fakhrudin saat mulai terjun menangani tim kambung halamannya, Cakra Buana.  Sementara, Along mencurahkan hidupnya hanya untuk sepak bola. 

Usai dari Arema, Fakhrudin sempat kembali ke Deltras. Hanya, saat bergabung The Lobster, julukan haknya sebagai pemain tersendat-sendat.

''Sriwijaya FC Palembang menjadi klub saya berikut. Barulah tahun lalu saya ke Persik Kediri,'' ungkapnya.

Dari Macan Putih, julukan Persik, sebenarnya masih banyak klub yang menginginkannya bergabung. Mulai dari Divisi Utama hingga ISL.

Namun, tawaran dari Riono tak kuasa ditolaknya. (*)


Sekilas Fakhrudin
1999: Persebaya Surabaya Junior
2000-2001: Persebaya Surabaya Senior
2001-2002: Persijap Jepara
2002-2003: Deltras Sidoarjo
2003-2004: Persela Lamongan
2004-2005: Persijap Jepara
2006-2007: Persiba Balikpapan
2007-2008: Persisam Samarinda
2008-2011: Arema
2011-2012: Deltras
2012-2013: Sriwijaya FC Palembang
2014-2015: Persik Kediri
2015: Persiku Kudus

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com