www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kamis, 25 Juni 2015

Tak Pikir Lisensi, Fokus Cetak Pemain Muda

KELANA: Ridwan Anwar (foto:sidiq)
Lahirnya pemain  bintang bukan secara kebetulan. Faktor pelatih sangat memegang perdanan. Dari tangan Ridwan Anwar, lahir talenta-talenta hebat.
--
SESEORANG lelaki dengan kaos tanpa lengan keluar dari sebuah gang di kawasan Sepanjang, Sidoarjo. Anting-anting di telinga kiri membuat penampilannya terlihat sangat.

Apalagi, posturnya tinggi besar. Kulit yang cokelat semakin membuat orang bakal pikir-pikir kalau mau berurusan dengannya.

Dia adalah Ridwan Anwar. Dia bukanlah preman di Sepanjang.

Ridwan merupakan sosok yang sangat dikenal di wilayah tersebut sebagai lelaki yang tak bisa lepas dari sepak bola. Dia merupakan mantan pesepak bola yang pernah merasakan kerasnya era Liga Sepak Bola Utama (Galatama).

''Saya pernah gabung Warna Agung di Jakarta. Saat itu pelatihnya Gusnul Yakin pada 1992,'' kenang Ridwan.

Sayang, lelaki yang kini berusia 48 tahun tersebut tak bisa bertahan lama di klub yang disokong pabrik cat tersebut. Warna Agung bubar di tahun keduanya bergabung.

''Tapi saya dapat tawaran bergabung PSPS Pekanbaru. Saat itu, hanya ada tiga pemain asal Jawa yang di sana,'' jelas Ridwan.

Di Askar Bertuah, juluka PSPS, Ridwan semat merasakan kompetisi Liga Indonesia, yang merupakan gabungan antara galatama  yang profesional dan perserikatan yang amatir. Namun, di klub asal ibu kota Riau tersebut, dia juga hanya semusim.

''Saya main main di Jawa. Saya pun seleksi di Persegres Gresik yang berada di Divisi Utama Liga Indonesia,'' ujarnya.

Tapi, informasi dari Suwandi HS membuat dia pergi ke Kudus untuk bergabung dengan Persiku. Pada 1995/1996, Macan Muria, julukan Persiku, ditangani pelatih asal Surabaya Riono Asnan.

''Suwandi bilang Riono cari stopper yang sudah jadi. Saya pun langsung ke Kudus,'' ungkapnya.

Sebenarnya, Ridwan sudah langsung diterima. Tapi, dia tidak betah karena mes dan makanannya.

''Tak sesuai dengan gambarana saya,'' ungkap lelaki dengan tinggi 180 sentimeter tersebut.

Dia pun kembali ke rumahnya di Sepanjang. Namun, itu tak membuat Ridwan menyerah.

''Saya mencoba tes di Mitra pada 1996. Mesnya yang dekat dengan rumah, saya pun mengayuh sepeda ke sana,'' lanjutnya.

Ketika mes Mitra ada di dekat Danau Kebraon. Usai berkumpul, mereka berlatih di Lapangan Arhanudse, Gedangan, Sidoarjo, atau Lapangan Brawijaya di kawasan Kodam V Brawijaya.

''Pelatih M. Basri sudah setuju saya masuk. Namun, karena tak ada kontrak, saya pun memilih keluar,'' lanjutnya.

Dia pun tak butuh lama mencari klub. Tawaran dari Persema Malang pun menghampiri.

Hanya, lagi-lagi, dia tak betah dan memilih balik ke Kota Udang, julukan Sidoarjo. Nah, saat itu, pada 1996, Ridwan sudah ingin menjadi pelatih. SSB Dolog menjadi tujuan.

''Saya sempat ditolak Waskito (pendiri SSB Dolog) karena masih layak main. Tapi, akhirnya saya diperbolehkan,'' ujarnya.

Di tangan Ridwan, talenta-talenta muda mulai bermunculan. Nama Rendy Irwan dan Lucky Wahyu merupakan pesepak bola yang pernah dipolesnya.

Kedua arek Sukodono tersebut pernah sama-sama membela Persebaya Surabaya. Kini, Rendy di Persija Jakarta dan Lucky di Barito Putera, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

''Lisensi kepelatihan pun akhirnya didapat pada 1999 dan 2001. D saya peroleh di Surabaya dan C di Gresik,''

Namun, dia sudah tak mau mengupgrade lisensi yang dimiliki. Baginya sekarang, dengan usia yang tak muda lagi, dia hanya ingin mengabdikan bagi sepak bola.

''Kepuasaan tersendiri kalau bisa mencetak pesepak bola yang nantinya terkenal,'' pungkas lelaki yang juga menangani klub internal Askot PSSI Surabaya HBS itu. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com