www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Jumat, 12 Juni 2015

Tembakan di Final yang Selalu Dikenang

Yusuf Ekodono saat di Gelora 10 Nopember

Setiap kali SEA Games dilaksanakan, sepak bola selalu diharap meraih emas. Kali terakhir, Indonesia meraihnya pada 1991 dan salah satu pahlawannya Yusuf Ekodono.
---
SEORANG lelaki dengan kaos putih masuk ke Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya, pada Kamis pagi (11/6/2015). Tas berisi sepatu ditentengnya.

Dia kemudian duduk di pinggir lapangan. Sambil menalikan tali sepatunya, Yusuf Ekodono, nama lelaki tersebut, berjabat tangan rekan-rekannya.

Saat di lapangan, skill bermainnya masih sama seperti ketika masih aktif di lapangan hijau. Gocekannya mampu menipu pemain-pemain lawan yang usianya jauh di bawahnya.

Tak bisa dipungkiri, Yusuf merupakan salah satu bintang lapangan hijau yang dimiliki Indonesia. Sumbangsih terbesarnya adalah meraih emas untuk Indonesia pada SEA Games 1991 yang dilaksanakan di Manila, Filipina, pada 4 Desember. Dalam final, merah putih menang adu penalti 4-3 atas Thailand.

Yusuf menjadi salah satu eksekutor. Tembakan chopnya sukses menjebol gawang Negeri Gajah Putih, julukan Thailand.

''Saya memulai karir dari IM (Indonesia Muda) Surabaya. Setelah itu, saya dipanggil masuk Persebaya Junior,'' terang lelaki kelahiran 1967 tersebut.

Kemmapuannya mengolah pun membuat Yusuf pun dapat promosi ke jenjang senior. Namun, bukan hal yang mudah untuk bisa menembus posisi inti.

''Ada Syamsul Arifin yang baru saja kembali dari Niac Mitra. Setelah itu, muncul Mustaqim,'' kenangnya.
Syamsul dan Mustaqim adalah penyerang haus gol yang pernah membela Green Force, julukan Persebaya.

Saat Persebaya menjadi finalis 1986 dan juara 1987, Yusuf ikut merasakan euforia. Namanya masuk dalam tim.

Namun, duduk di bangku cadangan tak membuatnya patah semangat. Hingga akhirnya, pada 1989, Yusuf secara reguler mendapat tempat inti di lini depan.

''Meski cadangan di Persebaya, saya sudah punya tekad siapa yang duluan masuk timnas,'' ungkap bapak dari mantan pemain Timnas U-23 Fandi Eko Utomo tersebut.

Perjalananya bersama Persebaya pun tak selamanya mulus. Pada Liga Indonesia II 1995/1996, dia pun harus berkostum PSM Makassar. Pasukan Ramang, julukan PSM, merupakan klub pertama di luar Persebaya yang dibelanya.

''Ada pengurus yang tak menginginkan saya main. Kebetulan, PSM butuh saya meski hanya dengan status pinjam karena suratnya tak dikeluarkan,'' ungkap Yusuf.

Saat itu, PSM pun mampu dibawanya menjadi runner-up Liga Indonesia. Sementara tim asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, terseok-seok.

Ini membuat manajemen Persebaya pun kembali memanggilnya. Hasilnya, pada Liga Indonesia III, tim pujaan Bonek tersebut menjadi juara.

''Eh pada musim berikutnya, kejadian itu terulang. Saya pun harus ke PSIS Semarang karena mereka mau menjamin saya bermain,'' ujar Yusuf.

Usai dari PSIS, Gelora Dewata dan Persijap Jepara menjadi klub Divisi Utama yang dibelanya. Namun, pada musim 2002, tawaran dari bos Suryanaga, klub internal Persebaya, Michael Sanjaya, tak kuasa ditolak.

''Pak Michael menyuruh saya bermain dan sekalian melatih Suryanaga. Alhamdulillah, Suryanaga bisa menjadi juara internal,'' lanjut Yusuf.

Di Suryanaga pula karirnya sebagai pemain pun berhenti. Dengan usia yang terus bertambah, Yusuf pun mulai konsentrasi sebagai pelatih.

Maestro Surabaya, PSBI Blitar, Persewangi Banyuwangi, hingga Persebaya Senior dan U-21 pernah dipolesnya. Namun, di sela-sela kesibukan melatih, Yusuf masih menyempatkan menularkan ilmunya kepada dua anaknya, Fandi dan Wahyu Subo Seto.

Musim 2014, keduanya mampu menembus Persebaya yang berlaga di kancah Indonesia Super League. Bahkan, Fandi nyaris mengikuti jejak bapaknya menjadi pemain yang menyumbangkan emas di SEA Games.
Sayang, di final SEA Games 2013, Indonesia menyerah kepada Thailand dengan skor tipis 1-0. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com