www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rindu Balik ke Persipura

DUET: Claudio dan Lessa
Bergabung dengan tim sebesar Persipura Jayapura menjadi idaman semua pelatih. Itu sudah dialami Claudio de Jesus. Hanya, ia tak bisa bertahan lama.
--
KAOS pelatih Persipura Jayapura dipakai Claudio de Jesus. Dengan kaos biru, Claudio de Jesus berada di samping arsitek kepala Mutiara Hitam, julukan Persipura, yang sama-sama berasal dari Brasil Osvaldo Lessa.

Sayang, sekarang, semua itu jadi kenangan. Dia sudah tak bersama para penggawa Persipura. Masa kerjanya bersama tim asal Papua tersebut telah berakhir pada 5 Juni 2015.

Ini seiring ontran-ontran antara Menpora dan PSSI yang berbuntut dibekukannya PSSI dan berhentinya kompetisi. Persipura pun gagal melanjutkan langkahnya di AFC Cup (kompetisi antarklub Asia) karena imbas pembekuan tersebut.

''Saya sangat kecewa. Tapi mau bagaimana lagi,kondisinya seperti ini,'' kata Claudio.

Padahal, tambahnya, dia sudah cocok dengan Persipura. Di antara tim yang pernah ditangani, tim tersebut paling mapan.

Ya, sebelumnya, Claudio hanya memoles tim sekolah sepak bola (SSB) di Malang dan sebuah tim perusahaan di Pasuruan, Jawa Timur.

Memang, dia pernah dipercaya menangani mantan tim yang dibelanya, Arema. Hanya, itu bukan senior.

''Saya menangani Arema U-21,'' lanjut Claudio.

Dia pun tak pernah membayangkan bisa bergabung Persipura. Tak heran jika Claudio tak perlu banyak pertimbangan saat ditawari Osvaldo Lassa untuk membantunya menangani Boaz Solossa dkk.

''Saya menjadi asisten bersama Metu Duaramurri dan Chris Yarangga. Karena belum ada asisten pelatih kiper, saya kadang bantu-bantu jadi pelatih kiper,'' terang lelaki yang semasa aktif sebagai pemain berposisi sebagai stopper tersebut.

Dia ingin kembali bersama Persipura. Tentunya, konflik yang ada antara Menpora dan PSSI pun bisa tuntas.

''Baru saja enak eh sudah berhenti. Saya juga ingin menularkan ilmun saya kepada pemain Papua,'' pungkas bapak suami Maya dan bapak tiga anak tersebut. (*)

Read More

Main Tarkam Lebih Menjanjikan untuk Hidup

KONDISI: Evandro
PEMBATASAN pemain asing membuat pesepak bola ekspatriat pun kelimpungan. Apalagi, mereka yang sudah menikah dengan warga negara Indonesia. Tarkam pun menjadi solusi agar bisa menghidupi keluarga?
--
EVANDRO tengah melakukan pemanasan. Ini dilakukan sebelum dia bergabung dalam latihan Ortas, kumpulan pesepak bola senir Sidoarjo, yang hendak berlatih di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat (24/7/2015).

Berlatih bersama Ortas menjadi salah satu aktivitas lelaki Brasil yang bernama lengkap Evandro Antonio Bevilaqua tersebut. Itu setelah musim ini dia belum memperoleh klub. Apalagi, kondisi sepak bola Indonesia tengah kacau balau setelah PSSI dibekukan Menpora.

Kehadirannya di Ortas juga dijadikannya untuk bisa menjaga kondisi. Tapi, itu bukan untuk mendapatkan klub.

''Biar kalau ada undangan tarkam, kondisin saya tetap terjaga. Sekarang lagi musimnya,'' kata Evandro kepada pinggirlapangan.

Tarkam sendiri merupakan kependekan dari antarkampung. Yakni pertandingan sepak bola antarkampung yang dilaksanakan untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. Penonton pun ditarik uang masuk layaknya menyaksikan pertandingan resmi.

''Sebelum puasa, saya habis membawa tim di Nganjuk (Jawa Timur) juara. Lumayan bayarannya bisa sampai Rp 1 juta,'' ungkap lelaki 33 tahun tersebut.

Hasil itu, jelas dia, membuat Evandro bersama rekan-rekannya seperti I Putu Gede (mantan pemain nasional yang pernah membela Persebaya Surabaya dan Arema Malang), Sutikno (mantan pemain Persebaya, Deltras,dan Borneo FC), maupun Nugroho Mardiyanto (mantan Persebaya dan PS Mojokerto Putra) kembali diajak membela tim asal Nganjuk tersebut.

Bahkan, sebulan, dia pernah bermain tarkam hingga 15 kali. Ini, jelasnya, membuat kantongnya tetap terisi.

''Bayarannya bisa lebih banyak kalau main kompetisi seperti sekarang. Gaji hanya Rp 4-5 juta sebulan dan bonusnya pun juga tidak banyak,'' lanjut Evandro.

Dia pun tak segan menerima order dari luar Jawa Timur. Dia pernah bermain tarkam hingga ke Jakarta dan Bandung.

''Di sana bisa Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Kalau lolos dan menang terus, uang kita semakin banyak karena peserta di Jakarta dan Bandung sangat banyak bisa 100 tim lebih,'' lanjut pesepak bola yang pernah membela Mitra Kukar (Kaltim), Persih Tembilahan (Riau), Deltras Sidoarjo (Jawa Timur), PS Mojokerto Putra (Jawa Timur), dan Madura United (Jawa Timur) tersebut.

Dia mengaku senang jika memperoleh bos tarkam yang banyak duit. Selain bayarannya besar, kebutuhannya makan juga terpenuhi.

''Yang Malang dan Nganjuk, uangnya banyak sekali. Dia ingin selalu mengajak saya main kalau timnya tampil di tarkam,'' ujar Evandro.

Hanya, dia mengaku tetap bisa kesehatan serta bermain ekstrahati-hati. Tujuannya agar dia tak mengalami cedera dan sakit. (*)

Read More

Merasa Tak Laku, Jual Rumah dan Tanah

LEBARAN: Yudi Suryata di rumahnya pada 18 Juli 2015
Yudi Suryata pernah membela klub-klub besar. Dia pun sukses mengantarkannya menjadi juara. Di saat usianya sudah kepala enam, namanya pun ikut tenggelam.
--
SEORANG lelaki tengah menyapu daun-daun yang jatuh di pinggir jalan Solo-Ngawi. Tepatnya di kawasan Masaran, Sragen, Jawa Tengah, pada 18 Juli 2015.

Dia pun seolah tak memedulikan apapun yang melintas. Para pejalan kaki, sepeda angin, sepeda motor, mobil, bahkan bus berlalu lalang di sampingnya. Dia tetap serius menyapu daun-daun kering yang dikumpulkannya yang kemudian dimasukkan ke keranjang sampah.

Namun, gerakannya masih gesit. Meski, sekilas, sosok tersebut sudah tak muda lagi. Rambut dan cambangnya pun sudah putih semua.

''Tahun ini, saya sudah 60 tahun lebih.Tepatnya 61,''  kata Yudi di ruang tamu rumahnya.

Dengan usia itu, dia juga mengaku sudah tak laku lagi menjadi pelatih. Buktinya, pada 2015, belum ada satu pun tawaran menjadi arsitek tim yang datang kepadanya.

Bahkan, keinginan untuk menangani Persis Solo yang mempersiapkan diri ke Divisi Utama pun gagal. Manajemen tim asal Kota Bengawan, julukan Solo, tersebut lebih memilih Aris Budi Sulistyo.

''Saya ingin sekali menangani Persis karena saya juga pernah menjadi pemain Persis juga. Posisi saya sebagai striker,'' jelas Yudi.

Ya, Laskar Samber Nyawa, julukan Persis, merupakan pijakan awal karir sepak bolanya. Lelaki kelahiran 25 November 1954 tersebut membela Persis pada 1974-1976.

''Saat itu, saya juga sambil kuliah di Solo. Saat itu, saya menumpang di rumah saudara,'' kenang Yudi.

Ajakan dari seorang rekan membuat bapak dari Titan Suryata itu pun meninggalkan Solo dan Sragen. Dia memilih Surabaya sebagai pelabuhan karirnya.

''Saya ikut Mitra yang dimiliki Wenas. Dari Mitra pula, saya dipanggil mengikuti seleksi Persebaya Surabaya,'' lanjut Yudi.

Awalnya, di Green Force, julukan Persebaya, dia hanya sebagai penghangat bangku cadangan. Namun, saat kesempatan diberikan kepadanya di posisi bek kiri, bukan posisi aslinya sebagai tukang gedor.

''Lawannya Samarinda dan saya main bagus. Sejak itulah, saya selalu menjadi pemain inti di Persebaya dan mampu membawan menjadi juara perserikatan pada 1977,'' lanjut Yudi.

Di Persebaya, perokok berat ini satu tim dengan Rudy Keltjes, Subodro, maupun (alm) Rusdy Bahalwan. Namun, dia tak bertahan lama.

Dia kembali ke Mitra setelah pemiliknya, Wenas, memintanya balik. Apalagi, Mitra memutuskan menjadi klub Galatama saat kompetisi profesional tersebut mulai digulirkan pada 1978.

''Di Niac Mitra, saya juga dua kali menjadi juara yakni musim 1982 dan 1983. Komplet rasanya bisa menjadi pemain yang juga di era perserikatan dan galatama,'' kenang Yudi.

Tapi, pada 1984, suami dari Safari Rustiningsih tersebut hengkang dari Niac Mitra. Klub Yanita Utama Bogor dibelanya bersama beberapa rekan-rekannya di Persebaya dan Niac. 

''Saat itu, bayaran di Yanita Utama sangat besar. Saya dibayar Rp 15 juta,'' tambahnya. Di klub Kota Hujan, julukan Bogor, tersebut Yudi ikut mengangkat trofi juara Galatama di musim 1983/1984 dan 1984.

Setelah Yanita Utama bubar pada 1985, skuadnya boyongan ke Palembang, Sumatera Selatan. Mereka bergabung dengan Kramayudha Tiga Berlian.

''Saya nggak ikut. Saya mulai menekuni menjadi pelatih di Gajah Mungkur, Wonogiri,'' terang Yudi.

Di tangannya lahir para pesepak bola sekelas Sutamto dan Ali Sunan yang kelak menjadi penghuni Timnas Indonesia. Usai dari Kota Gaplek, julukan Wonogiri, Yudi pun kembali ke Surabaya.

''Saya menjadi asisten Basri pada musim 1987/1988. Saat Basri dipanggil menjadi pelatih nasional, saya yang menangani tim dengan arahan tetap dari Wenas,'' papar lelaki asal Desa Krikilan tersebut.

Setelah dari Niac Mitra, perjalanan panjangnya sebagai pelatih pun dimulai. Mulai dari Persijap Jepara, Gelora Putra Delta (GPD, sekarang jadi Deltras), Persijap Jepara, PSS Sleman, Persipura Jayapura, PSBI Blitar hingga Persewangi Banyuwangi.

Di Laskar Kalinyamat, julukan Persijap, Yudi memoles cukup lama. Mulai dari 1992 hingga 2002. Bahkan, kali terakhir, dia juga menjadi pelatih di tim pesisir utara Pulau Jawa itu pada musim 2014.

''Namun, kondisinya sudah jauh berbeda. Yang terakhir sudah parah sekali,'' ujarnya.

Dari melatih pula, Yudi bisa memperluas dan merenovasi rumahnhya menjadi megah. Sebagai bukti rezeki yang diperlehnya dari sepak bola,di depan rumahnya dipasang bola dari semen.

''Rumah saya ini saya bangun saat menjadi pelatih Persipura,'' urainya.

Namun, seiring kondisi sepak bola Indonesia yang bergejolak, Yudi pun harus mencari uang dari usaha yang lain. Dia terpaksa menjual tanah maupun rumah lain  yang dibelinya saat menjadi pemain atau pelatih.

''Saya putar lagi uangnya untuk membeli tanah dan rumah lagi. Kalau dibilang bisnis properti juga nggak apa, tapi kecil-kecilan,'' katanya sambil menghisap rokok kedua yang sudah dinyalakan. (*)


Sekilas tentang
Nama: Yudi Suryata
Usia: 61 tahun
Lahir: Sragen, 25 November 1954
Istri: Safari Nurtiningsih
Anak: Titan Suryata

Karir:
Pelatih
1973: PSISra Sragen Junior
1974-1976: Persis Solo
1976-1977: Mitra Surabaya
1977: Persebaya Surabaya
1978-1983: Niac Mitra
1983-1985: Yanita Utama

Pelatih
1985-1987: Gajah Mungkur Wonogiri
1987-1989: Niac Mitra Surabaya
1989-1992: Mitra Surabaya
1992-2002: Persijap Jepara
2002-2003: GPD Sidoarjo
2003-2005: PSS Sleman
2005: Persipura Jayapura
2006-2008: PSS Sleman
2008:Persigo Gorontalo
2010-2011: PSBI Blitar
2012: Persewangi Banyuwangi
2014: Persijap Jepara
Read More

Buat Onde-Onde untuk Topang Hidup

Lulut Kistono dengan onde-onde buatannya
Di masa jayanya, Lulut Kistono,dikenal sebagai tukang jagal di lapangan hijau. Tapi, kondisi sepak bola Indonesia yang tengah carut marut membuatnya menekuni usaha yang jauh dari urusan yang pernah membesarkan namanya itu.
--
WAJAH Lulut Kistono tampak lelah. Matanya juga masih memerah saat ditemui di rumahnya di kawasan Bogangin , Surabaya, pada 14 Juli 2015.

Tapi, itu bukan karena dia selalu bermain si kulit bundar. Juga bukan karena tenggelam dalam kesibukan melatih tim.

''Sekarang, setiap pagi habis Subuh, saya membantu istri membuat onde-onde. Mulai dari mengangkat tepung hingga memasarkannya,'' ungkap Lulut.

Aktiitasnya itu, lanjut dia, mulai dilakoni pada Ramadan tahun ini. Ini setelah istrinya menekuni usaha kuliner dengan membuat onde-onde kecil.

''Setiap hari bisa sampai 10 kilogram tepung dijadikan onde-onde. Alhamdulillah ada pemasukan,'' jelas lelaki kelahiran Surabaya 26 Maret 1968 tersebut.

Menekuni usaha onde-onde ini sebenarnya, tambah Lulut, berawal dari kebetulan. Saat acara 40 hari meninggalnya sang ibu, kakaknya membuat makanan sendiri untuk dibagikan kepada tetangga dan saudara. Ternyata, buatan sang kakak yang tinggal di Ponorogo tersebut mendapat pujian.

''Kakak pun kemudian mengajari istri membuat onde-onde. Eh, hasilnya juga tak jauh beda dan bisa diterima oleh tetangga-tetangga,'' lanjut bapak tiga anak tersebut.

Selain tetangga, teman istri juga mulai dibidik untuk membeli produk onde-onde yang memakai nama Lud's tersebut. Setali tiga uang, rekan -rekan istrinya juga berkenan.

''Tetangga di rumah lama di Bogangin (yang jaraknya 20-an kilometer dari rumah Lulut sekarang) juga banyak yang beli. Saya ingin menjualnya ke toko-toko juga,'' ujar Lulut.

Dia mengakui usaha Lud's sangat membantu menopang kehidupannya. Apalagi, hampir setengah tahun dia tak menangani tim sepak bola.

Kali terakhir, lelaki yang kali pertama mencuat namanya saat membela Arseto Solo tersebut menangani PS Bangka, Bangka-Belitung, bersama Sanusi Rahman. Hanya, di klub yang nyaris dibawanya menembus babak delapan besar tersebut gajinya tersendat.

''Saya nyaris tak dibayar di PS Bangka. Saya sudah menagih ke pihak manajemen di sana dan juga sudah menghubungi Joko Driyono (CEO PT Liga Indonesia, operator sepak bola profesional di Indonesia),'' ucap Lulut,

Hasilnya, keduanya tak memberikan respon. Sebenarnya, tak dibayar saat menangani tim sudah menjadi langganan baginya.

Di kancah sepak bola Indonesia, semasa menjadi pemain, nama Lulut cukup disegani. Dia selalu membela klub-klub besar. Selain Arseto, Arema Malang, Barito Putera Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Mitra Surabaya, dan Persisam Samarinda (Kalimantan Timur).

Dia sempat menyedot perhatian nasional saat divonis dua tahun larangan bermain sepak bola. Gara-garanya, saat membela Mitra Surabaya, dia memukul striker Arema Singgih Pitono, yang sebenarnya rekan karibnya juga.

Hanya, seiring perjalanan waktu,sang tukang jagal ini harus banting setir. Membuat onde-onde menjadi bagian untuk membuat dapurnya terus mengepul. (*)

Read More

Mantan Gelandang Deltras Tekuni Bisnis Kerupuk

Choirul Anam memasarkan dagangan (foto;facebook)
Pensiun sepak bola tak membuat Choirul Anam tertarik bergelut kembali dengan si kulit bundar. Dia memilih terjun di bisnis yang belum pernah ditekuni rekan-rekannya terdahulu.

--
KETUKAN beberapa kali dilakukan ke sebuah rumah di Pondok Jati, Sidoarjo.Tapi, tak lama kemudian, seorang perempuan naik sepeda motor juga berhenti di rumah tersebut.

''Cari siapa?,'' katanya yang ternyata adalah ibu mertua Choirul Anam, sang pemilik rumah.

Tak lama kemudian, seorang lelaki dengan wajah yang masih sayu seperti baru bangun tidur pun keluar. Ya, dia adalah Anam, sapaan karib Choirul Anam.

Saat masuk rumah, terlihat puluhan galon di dekat pintu masuk rumah. Ada yang masih isi air tapi banyak yang sudah kosong.

Di dalam rumahnya hanya ada satu foto yang menunjukkan si empu rumah merupakan pesepak bola. Beda dengan rumah-rumah pesepak bola lain yang di ruang tamunya banyak berjejer foto saat masih aktif di lapangan hijau.

Padahal, karir Anam tak kalah mentereng. Dia malang melintang di level tertinggi sepak bola Indonesia, Indonesia Super League.

''Kecil saya ikut Putra Gelora di Surabaya. Resikonya, saya harus latihan dari Mojosari (Kabupaten Mojokerto) ke Surabaya yang lumayan jauh,'' kenang Anam.

Karirnya mulai mencuat saat membela Jatim di Liga Bogasari. Di tangan Darmaji, kemampuannnya sebagai tukang gedor gawang lawan mulai terasah.

''Saya pun mendapat kesempatan mengikuti seleksi buat Timnas U-15 yang dilaksanakan di Medan. Setelah itu, seleksi diTimnas U-17 dan 19, saya juga dipanggil,'' terang lelaki kelahiran 1986 tersebut.

Dengan usia yang masih muda pula, 2004, Anam sudah menembus klub Persema Malang. Di Kota Pelajar, julukan Malang, dia juga mendapat bapak asuh, Bambang D.H, yang menjabat sebagai Sekda.

''Di Persema, saya bermain selama tujuh musim. Setelah itu, pada 2010, baulah saya keluar dan membela Deltras,'' lanjutnya.

Usai dari Deltras, bapak dua anak itu kembali ke Malang dengan bergabung Arema yang berlaga di ajang Indonesia Premier League, ketika kompetisi sepak bola Indonesia terpecah menjadi dua.

''Setelah itu ke PSIS Semarang yang ditangani Bonggo Pribadi dan ke Persik yang dilatih Agus Yuwono,'' ujarnya.

Nah, Deltras pun menjadi akhir pelabuhan karirnya. Hanya, dia menutupnya dengan kesan yang tak mengenakkan.

''Saya hanya bermain setengah musim. Putaran II, saya sudah diputus manajemen,'' ungkap Anam.

Di Sidoarjo, Anam juga menemukan tambahan hati dan meniti karir di luar sepak bola. Mulai 2013, dia terjun ke bisnis sembako.

''Saya jualan beras, kerupuk udang, dan air galonan. Alhamdulillah, sekarang sudah lancar,''  jelas Anam.

Di antara barang dagangannya, kerupuk udang paling diserbu pembeli. Saat penulis datang, tak ada satu kerupuk jelas ikan Kalimantan tersebut yang tersisa. (*)
Read More

Pilih Jaga Malam Hari agar Tetap Bisa Melatih

SETIA: Hari Saptono dengan seragam satpam.
Membela klub sebesar Persebaya Surabaya dan Mitra Surabaya bukan bakal bergelimang harta usai pensiun. Pesepak bola satu ini menjadi satuan pengaman (satpam) selama belasan tahun.
--
JAM sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB. Tapi, Hari Saptono baru datang di kawasan ruko di Pepe Legi, Waru, Sidoarjo, dari rumahnya di Citra Fajar Golf,Sekardangan, yang jaraknya sekitar 10 kilometer.

Orang pasti tak menyangka jika sosok tersebut pernah menjadi pujaan publik sepak bola Surabaya. Itu terjadi ketika Hari dipercaya masuk Persebaya Senior di era Liga Indonesia I (1993/1994) dan Liga Indonesia II (1994/1995).

''Saya memang memilih malam hari. Agar saya tetap bisa beraktivitas di sepak bola,'' kata Hari saat ditemui pada Kamis malam (9/7/2015).

Ya, sepak bola merupakan nadi bagi kehidupan lelaki kelahiran 1973 tersebut. Apalagi, statusnya kini merupakan pelatih Assyabaab, klub besar asal Ampel, Surabaya.

''Dulu sempat jaga pagi. Tapi, untung teman-teman mau mengerti dengan saya ajak gantian malam,'' lanjut Hari.

Pekerjaan sebagai penjaga malam atau satpam sudah dia jalani sejak 2000 atau 15 tahun. Hari tercatat sebagai penjaga malam di sebuah kantor BNI 46.

''Saya di sini sejak 2010. Hanya, saya sempat keluar sebentar. Untung, masih bisa diterima lagi,'' ujar Hari.

Lelaki yang berposisi sebagai stopper saat masih aktif sebagai pesepak bola itu bisa bekerja sebagai satpam atas ajakan rekan kuliahnya. Ya, Hari merupakan alumus D3 Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP Unair), Surabaya.

''Sebenarnya, saya sudah mau jadi staf. Tapi, saat itu, usia saya sudah 26 tahun atau lewat satu tahun,'' ujarnya.

Mengetahui itu, rekannya mengajak menjadi satpam karena saat itu yang lagi di cari di posisi itu. Hari pun tak kuasa menolak.

''Namun, saya masih bisa berlatih di Assyabaab. Bahkan, saya bisa ikut seleksi dan hampir masuk di Barito Putera, meski sudah kerja jadi satpam,'' urai Hari yang juga pernah membela Mitra Surabaya di Liga Indonesia IV atau musim 1997/1998.

Hanya, masalah nonteknis yang membuatnya urung bergabung dengan Barito Putera. Akhirnya, Hari pun balik ke Assyabaab.

''Saat itu, saya digaji oleh Assyabaab yang lumayan besar. Assyabaab memang banyak membantu dalam karir dan kehidupan saya,'' lanjut lelaki yang kini sudah dikaruniai tiga buah hati tersebut.

Di Assyabaab pula, sejak 2010, Hari pun mulai menekuni dipercaya menjadi staff pelatih. Dimulai dari asisten, kini dia sudah menjadi pelatih kepala. (*)


Sekilas tentang
Nama: Hari Saptono
Usia: 42 tahun
Anak:3
Pekerjaan: Satpam BNI 46

Karir
Pemain:
1988-2010: Asyabaab
1988-1990: Persebaya Surabaya Junior
1992: Persebaya U-21
1993-1995: Persebaya Senior
1997-1998: Mitra Surabaya
2000-2001: PS Pusri Palembang, Sumatera Selatan
---


Read More

Kami Kalah Murni karena Teknis

UNTUK
DUET: Mustaqim dan Aji Santoso
kali kesekian, Indonesia gagal memperoleh emas dari cabang olahraga (cabor) sepak bola dalam SEA Games. Bahkan, isu tak sedap mengiringi kepulangan ke tanah air. Kekalahan di dua pertandingan terakhir dicurigai sebagai match fixing (pengaturan pertandingan).

Tapi, hal itu dibantah keras oleh Mustaqim, asisten pelatih Timnas U-23 yang berlaga dalam SEA Games 2015 Singapura. Dia mengakui semua dikarenakan faktor teknis, bukan nonteknis. Berikut petikan saat ditemui di rumahnya di kawasan perumahan di Rungkut, Surabaya, pada Kamis (9/7/2015)

Maaf menganggu waktu puasa Anda
-Tidak apa-apa. Saya juga lagi tidak ada kegiatan, apalagi yang berurusan dengan sepak bola atau Timnas U-23.

Oh ya, soal Timnas U-23 di SEA Games lalu bagaimana?
-Ya, kita kan gagal meraih medali. Tapi, itu sudah sangat baik. Sampai ke babak final memang sudah diperkirakan sejak awal. Bahkan, Direktur Teknik PSSI Pieter Huistra pun sudah memperkirakan Timnas U-23 hanya sampai semifinal. Dia membandingkan tim kami nafasnya sudah sampai leher (Mustaqim mempraktikkan tangan kanan diletakan di leher).

Kok bisa hanya sampai semifinal, kenapa tidak ke final?
-Dia tahun dengan kondisi Timnas U-23. Persiapan kami hanya 21 hari. Bahkan, kalau saya hitung tidak ada sampai 21 hari karena pemain datangnya tak bersamaan. Belum lagi faktor lain tentang jadi atau tidaknya kita berangkat ke SEA Games. Itu mempengaruhi psikologis pemain. Kita persiapannya paling minim kalau dibandingkan dengan tim-tim lain.

Maksudnya?
Malaysia contohnya.Mereka persiapan serius selama enam bulan dan diikutikan dalam kompetisi di Australia. Begitu juga dengan Singapura yang melakukan try out ke luar negeri dengan anggaran yang banyak.
 Sementara Thailand, mereka timnya hampir sama dengan yang dikirim ke Asian Games di Incheonm Korea Selatan. Saat itu, pemain kita kan U-23 yang usianya memang di bawah 22 dan diperkuat pemain senior sekelas Victor Ignonefo dari Arema, kita kalah telak 0-6.
 Di SEA Games, materi kita kan U-19 yang fisiknya masih belum kuat. Kita kalahnya lima gol.

Tapi kekalahan itu diiringi isu adanya pengaturan skor (match fixing)?
-Itu tidak benar-benar. Kami kalah benar-benar karena murni teknis bukan hal yang lain. Saya tahu semua pemain Timnas U-23. Mereka masih lugu. Yang berani menerima suap mereka yang sudah biasa melakukannya. Secara psikologis kalau menerima suap, tentu mereka nggak akan berani tampil. Tapi, saat ini banyak di antara pemain Timnas U-23 bermain di Liga Ramadan di Makassar.
 Kami sangat sedih mendengar adanya isu seperti itu. (*)
--
Read More

Manfaatkan Gadget untuk Cari Ilmu Sepak Bola

TEKNOLOGI: Mustaqim dengan smartphone miliknya.
Mustaqim baru saja menjalani tugas sebagai asisten pelatih Timnas U-23. Lalu apa kegiatannya usai melakoni keperrcayaan yang diberikan negara kepadanya?
-
SONGKOK di kepala Mustaqim. Baju koko juga dikenakannya saat ditemui di kediamannya di kawasan Rungkut, Surabaya, pada Kamis (9/7/2015).

''Maaf, saya tadi masih tadarus. Jadi, saya agak terlambat menemui,'' katanya.

Dengan suasana Ramadan, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk keagamaan. Salat dan tadarus menjadi menu sehari-harinya.

''Kalau pas ibadah ya konsentrasi ibadah,'' jelas Mustaqim.

Selain salat dan tadarus, aktivitasnya hanya mengantar istrinya, Hesti Nurfarida, yang juga dokter gigit ke tempat bekerja di Rumah Sakit Islam Surabaya yang berada di kawasan Wonokromo, Surabaya. Apalagi, saat ini, Mustaqim tak berhubungan lagi dengan sepak bola.

''Terakhir ya mendampingi Timnas U-23 di SEA Games Singapura pada Juni lalu. Memang, pekan lalu sempat ke Banyuwangi bersama beberapa pemain Timnas U-23 untuk tampil dalam turnamen di sana, tapi batal,'' tambah lelaki kelahiran 6 September 1964.

Selain itu, cedera pergelangan kaki ikut membuat berlama-lama di rumah. Biasanya, Mustaqim bermain tenis di lapangan kalau ada waktu longgar.

''Ini baru saja sembuh. Saya ingin pulih dulu telapak kaki ini,'' ungkap lelaki yang juga pernah membela Timnas Senior sewaktu masih aktif sebagai pesepak bola tersebut.

Di rumah, ada kesibukan lain yang dilakukan bapak tiga anak, Mizan Zano Ramadhan -Sifana Zana Masyitha -Fauzan Syaikhul Islam, tersebut. Apa itu? Otak-atik telepon genggam yang dimiliki.

''Semua yang saya perlukan ada di sini. Mulai dari pembayaran, program melatih, hingga data diri saya,'' terang Mustaqim sambil menunjukkan telepon pintar miliknya yang merupakan produk Amerika Serikat tersebut.

Lelaki yang dikenal sebagai salaha satu mesin gol Persebaya Surabaya tersebut paham betul dengan teknologi yang ada HP miliknya. Ini pula yang membuat Mustaqim sangat membantu kinerja pelatih kepala Aji Santoso saat menangani Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, ke Asian Games 2014 Incheon dan SEA Games 2015 Singapura.

''Kondisi pemain kita dan lawan juga saya pantau dari HP,'' pungkasnya. (*)
Read More

Ingin Ajak Keluarga Bisa ke Brasil

SEKARANGClaudio pada 7 Juli 2015
DULU: Claudio saat di Arema
Claudio de Jesus pernah mengalami masa jaya sebagai pesepak bola di Arema. Cedera membuatnya tak bertahan lama. Bagaimana kondisinya sekarang.
--
DULU, badan Claudio de Jesus kekar. Posturnya yang tinggi, sekitar 180 sentimeter, membuat dia layak diandalkan menjadi pilar lini belakang Arema.

Kini, tak banyak yang berubah darinya. Tonjolan otot di tangan tetap terlihat meski usianya sudah 39 tahun.

Hanya, sudah ada sedikit lemah di sekitar perut. Selain itu, rambut ikal yang menjadi ikonnya sudah berganti plontos.

''Saya sudah jarang berlatih sepak bola setiap hari. Kini, hanya seminggu sekali di Lapangan Agro Batu,'' kata Claudio ketika bertemu di sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya selatan pada Selasa (7/7/2017).

Claudio merupakan salah satu pesepak bola asing yang pernah mereeguk sukses dan mencuat namanya di Indonesia. Dia pernah membawa Singo Edan, julukan Arema, pesta gelar.

''Saya membawa Arema  juara Divisi I pada 2003/2004 dan dua kali juara Copa Indonesia 2003/2004 dan 2004/2005,'' kenang pesepak bola asal Brasil tersebut.

Baginya, Arema menjadi klub yang paling dikenangnya. Claudio mengenal klub tersebut karena diajak rekannya asal Negeri Samba, julukan Brasil, Junior Lima.

''Saat itu, pada 2003, Junior Lima pulang ke Brasil. Dia dimintai tolong pelatih Arema saat itu Benny Dolo untuk mencari pemain belakang yang karakternya keras,'' ungkap Claudio.

Cerita yang dikisahkan lelaki yang berposisi penyerang tersebut membuat Claudio terpihat. Dia pun meninggalkan St Catarina di negara bagian Sau Paulo.

''Saya sempat mengalami kesulitan bahasa di Indonesia. Untung ada Junior Lima yang sangat membantu,'' ujar bapak tiga anak Fima(9), Felicio (7), dan Fatimah (1) tersebut.

Namun, saat di lapangan, dia mengakui hanya melihat gerakan tangan Bendol, sapaan karib Benny Dolo. Hingga akhirnya, mantan pelatih nasional tersebut merekomendasikannya bergabung klub pujaan Aremania tersebut.

''Saya seleksi lama, hampir 1 bulan. Piala Gubernur menjadi ajang pembuktiaan saya,'' kenangnya.

Di Arema pula, Claudio mendapat tambahan hati. Seorang perempuan asal kota kedua terbesar di Jawa Timur tersebut, Maya, akhirnya diperistri.

''Dia dulunya juga kerja di Arema. Saya menikahinya pada 2005,'' terang Claudio.

Claudio pun masuk Islam dan sudah jarang memakai nama de Jesus di belakang. Seebagai gantinya ada tambahan nama Bacelos.

Sebenarnya, dia ingin bertahan lama di Arema. Tapi, Claudio tak bisa menolak ajakan rekannya satu negara yang juga menjadi sahabatnya, Carlos de Mello, ke PSM Makassar pada musim 2006/2007.

''Di PSM pula, saya mengalami cedera sehingga tak bisa tampil optimal. Apalagi, Carlos juga tak sampai selesai menangani PSM,'' lanjutnya.

Usai dari Pasukan Ramang, julukan PSM, Claudio pun bermain di kasta kedua Persibat Batang (Jawa Tengah) dan Persipasi Bekasi (Jawa Barat).

''Setelah pensiun, saya mulai melatih. Saya mendirikan SSB Brazil Style Football di Malang,'' ucap Claudio.

Di sela-sela itu, dia juga menangani klub CJI Pasuran pada 2010. Saya baru berhenti di klub itu setelah menjadi pelatih Persipura Jayapura pada 2015,'' ungkapnya.

Posisinya di CJI, terang Claudio, digantikan I Putu Gede. Dia merupakan rekannya saat di Arema.

Claudio bisa ke Mutiara Hitam, julukan Persipura, atas ajakan Osvaldo Lessa yang juga berasal dari Brasil. Selain Claudio, Lessa juga dibantu Metu Duaramuri dan Chris Yarangga sebagai asisten.

Di bawah Lesa, sapaan karib Osvaldo Lesa, Persipura mampu menembus perdelapan final AFC Cup. Langkahnya terhenti karena Indonesia mendapat sanksi dari FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) karena adanya carut marut antara PSSI dan Menpora.

''Belum rezeki saya mungkin. Tapi, saya berharap bisa kembali ke Persipura,'' lanjut Claudio.

Harapan lainnya selain kembali Papua adalah mengajak keluarganya ke Brasil. Sejak menikah dan mempunyai tiga orang anak, sang istri belum pernah bertatap langsung dengan mertua.

''Semoga bisa terlaksana meski uang yang dikeluarkan tak sedikit,'' pungkas Claudio. (*)

Sekilas tentang Claudio
Nama : Claudio de Jesus
Lahir: Brasil, 26 Juni 1976
Kebangsaan: Brasil
Istri: Maya
Anak:Fimo, Felicio, Fatimah
Domisili: Malang

Klub yang dibela
2003-2007: Arema
2007/2008: PSM Makassar
2008/2009: Persipasi Bekasi
2009/2010: Persibat Batang

Klub yang dilatih
2009-sekarang: SSB Brasil Style Football
2010-2014: JCI Pasuruan
2013: Arema U-21
2015-..: Persipura (asisten pelatih)

Prestasi
2003/2004: Arema juara Divisi I
2004/2005: Arema juara Copa Indonesia
2005/2006: Arema juara Copa Indonesia


Read More

Isi Waktu Ramadan, Deltamania Berbagi Takjil

Deltamania bersiap membagi takjil di kawasan Buduran.
Suporter tak selalu identik dengan kekerasan. Deltamania pun berbagi saat Ramadan 2015 ini.
--
PULUHAN orang berkaos merah berkumpul di Jalan A. Yani, Buduran, Sidoarjo.  Semakin lama, jumlahnya bertambah meski waktunya semakin petang di hari Minggu (5/7/2015) tersebut.

Mereka merupakan Deltamania yang merupakan suporter klub Deltras. Tim yang berjuluk The Lobster tersebut pernah menjadi tim yang disegani di kancah sepak bola Indonesia. Posisi di Indonesia Super League (ISL) pernah ditempati. Sayang, sekarang, Deltras terpuruk di Liga Nusantara, kompetisi terendah di level kompetisi nasional.

Para Deltamania itu bukan hendak ke Stadion Gelora Delta, yang menjadi kandang Deltras, untuk menyaksikan tim kesayangannya berlaga. Ini dikarenakan kompetisi tengah vakum karena ontran-ontra Menpora dan PSSI.

''Kami mengadakan acara berbagi takjil. Tempat ini kami pilih karena banyak pengendara yang lewat,'' kata Satriyo Adji Utomo, Sekretaris Deltamania yang ikut dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, rekan-rekannya datang dari berbagai wilayah. Itu masih ditambah dengan Deltacyber, kelompok Deltamania yang aktif di dunia maya.

''Kemajuan teknologi membuat kami nggak datang ke setiap wilayah,'' ujar lelaki yang akrab disapa Yoyok tersebut.

Dia juga memuji rekan-rekannya yang punya inisiatif mengadakan acara takjil bersama. Apalagi makanan dan minuman yang dibagikan tersebut dari kantong mereka sendiri.

Kegiatan bagi takjil itu pun mendapat sambutan dari para pengguna jalan. Menjelang berbuka, pembagian takjil tak hanya dilakukan di barat jalan tapi juga timur.  Banyak pengguna jalan mengurangi kecepatannya untuk bisa menerima takjil yang dibagikan.

''Mungkin pekan depan, kegiatan bagi takjil akan kami lakukan lagi,'' tambah Humas Deltacyber Agustina Kris Purwanto. (*)

Read More

Pernah Kirim Pemain ke Piala Dunia, Bertahan dari Iuran

SEJARAH: Pemain HBS berlatih di Lapangan Kebraon
Di Surabaya, HBS bukan klub besar seperti Assyabaab ataupun Suryanaga. Namun, klub ini pernah mengirim pemainnya ke Piala Dunia.
--
LAPANGAN Kebraon, Surabaya, gundul di sana-sini. Tapi, itu tak mengurangi semangat para pemain HBS berlatih pada Jumat sore lalu (3/7/2015).

Mereka menjalani instruksi yang diberikan oleh para pelatihnya. Tak lama kemudian, lapangan yang semula dibuat 3/4 dilebarkan utuh.

Para pemain  menjalani game internal. Pemain inti ada di sebelah selatan dan reserve di sebaliknya.

''Hasil latihan ini membuat HBS menjadi pemimpin klasemen sementara Kompetisi Askot PSSI Surabaya. Semua itu hasil latihan,'' terang Ridwan Anwar, salah satu pelatih HBS.

Hanya, saat  ini kompetisi tak bergulir. Selama Ramadan, pertandingan antarklub di bawah naungan Askot Cholid Ghoromah tersebut libur. Askot PSSI di kota terbesar kedua di Indonesia itu tengah terpecah. Salah satunya adalah versi Gede Widiade.

Orang hanya mengenal HBS merupakan klub anggota internal yang digembleng di kawasan Surabaya Barat. Tapi, sebenarnya, klub tersebut mempunyai sejarah panjang. Dulu HBS kepanjangannya Houdt Braaf Stand atau terjemahannya Mencintai Taat Berdri.

''Dulu kan punya orang Belanda. Kalau nggak salah berdirinya 1913,'' terang Pramono, salah satu pelatih HBS. Hanya, ungkapnya, setelah Indonesia merdeka, nama kepanjangannya menjadi Harapan Budi Setiawan.

HBS sendiri pernah mengirim pemainnya untuk mewakili Hindia Belanda (nama yang dipakai Belanda kepada Indonesia) dalam Piala Dunia 1938.
Ada Dorst, J. Harting Houdt (belakang), Achmad Nawir (tengah), Tan See Han, Soedarmadji , dan Soedarmadji  di barisan depan.

''Kalau nggak salah Nawir yang dari HBS. Tapi, dia sudah lama meninggal,'' ucap Ketua Umum HBS Ferril Raymond Hattu.

Namun, dia tak ingat tahun meninggalnya. Yang diketahui Ferril, dulu rumah Nawir di kawasan Jalan Darmo.

''Tapi sekarang sudah jadi bangunan bank. Saya juga kehilangan kontak dengan keluarganya,'' jelas lelaki yang menjadi kapten Indonesia saat meraih emas di SEA Games 1991 atau emas terakhir Indonesia di cabang olahraga sepak bola di ajang pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut.

HBS sendiri tetap eksis karena adanya dana dari Ferril. Sayang, Pramono enggan membuka nominal guyuran rupiah tersebut. Dulu mereka sempat menyambung nyawa dari dana yang diberikan Persebaya sebelum berganti menjadi Askot PSSI Surabaya. Jumlahnya pernah Rp 30 juta setahun.

''Tapi, sekarang sudah tak dapat lagi. Apalagi, adanya dualisme juga mempengaruhi,''terang Pramono.

Pelatih HBS lainnya, Ridwan Anwar, menambahkan, uang iurang pemain bisa menjadi lotomotif klubnya untuk terus hidup. Dengan jumlah pesepak bola lebh dari 150, uang itu mampu membuat HBS eksis.

''Tiap kali latihan, mereka membayar Rp 5 ribu. Uang itu dipakai bayar lapangan dan keperluan lainnya,'' pungkas lelaki yang pernah membela Warna Agung itu. (*)



Pemain Hindia Belanda di Piala Dunia 1938

    Kiper: Tan "Bing" Mo Heng (HCTNH Malang), Jack Samuels (Hercules Batavia)

    Belakang: Dorst, J. Harting Houdt Braaf Stand (HBS Soerabaja), Frans G. Hu Kon (Sparta Bandung), Teilherber (Djocoja Djogjakarta)

    Tengah: G.H.V.L. Faulhaber (Djocoja Djogjakarta), Frans Alfred Meeng (SVBB Batavia), Achmad Nawir (HBS Soerabaja), Anwar Sutan (VIOS Batavia), G. van den Burgh (SVV Semarang)

    Depan: Tan Hong Djien (Tiong Hoa Soerabaja), Tan See Han (HBS Soerabaja), Isaac "Tjaak" Pattiwael (VV Jong Ambon Tjimahi), Suvarte Soedarmadji (HBS Soerabaja), M.J. Hans Taihuttu Voetbal Vereniging (VV Jong Ambon Tjimahi), R. Telwe (HBS Soerabaja), Herman Zomers (Hercules Batavia)

    Pelatih: Johannes Mastenbroek (Belanda)

Sumber data: BBC
Read More

Mantan Pemain PSSI Garuda II Jualan Nasi Sambal

Iis Falatehan di depan warung sambalnya
PSSI Garuda I dan II pernah menjadi proyek prestisius. Namun, banyak juga dari mereka yang akhirnya gagal menjadi pesepak bola nasional. Bahkan, kini, ada yang menghabiskan waktunya berjualan nasi sambal.
--
TANGANNYA begitu mahir memainkan alat penggorengan. Lelaki yang bernama lengkap Iis Falatahen tersebut pun tengah menggoreng ayam maupun tempe.

Tak lama berselang, dia juga mengaduk gula di gelas untuk melayani melayani pembeli di warung penyet Soccer miliknya. Warung yang menjual nasi sambal sebagai menu utama tersebut berada di kawasan Bebekan, Sepanjang, Taman, Kabupaten Sidoarjo.

Pembeli pun banyak yang tak tahu, bahwa lelaki yang meladeni mereka tersebut dulunya sempat digadang-gadang menjadi pesepak bola yang akan membuat Indonesia bisa banyak berbicara di ajang internasional. Ini disebabkan Iis merupakan pemain yang masuk dalam PSSI Garuda II, sebuah proyek masa depan yang dibiayai keluarga Cendana yang merupakan penguasa Orde Baru.

''Saya masuk PSSI Garuda melalui seleksi dari wilayah Jawa Timur, mur yang dilakukan di Lapangan Arhanudse, Seruni, Gedangan, Sidoarjo. Dari Jawa Timur yang lolos saya dan Iwan (Suprijanto,kiper yang kini jadi salah satu pelatih PON Jatim 2016),'' terang Iis saat ditemui di warungnya pada Jumat malam (3/7/2015).

Usai lolos seleksi yang dilaksanakan 1988, saat usianya masih 17 tahun, dia pun harus pergi meninggalkan orang tuanya ke Jakarta. Di ibu kota, dia digembleng di bawah penangananan pelatih asal Cekoslowakia (sekarang Rep Ceko) Joseph Masopust.

''Pelatih lokalnya ada Solekan dan Halilintar. Banyak pemain juga dari luar pulau,'' ujar Iis, yang masuk seleksi dari klub Suryanaga, Surabaya.

Di antara rekan-rekannya tersebut ada nama Nil Maizar dan Rocky Poetiray. Nil dari Padang sedangkan rekan satunya dari Maluku. Beberapa tahun kemudian, Rocky menjadi penyerang andalan Indonesia di era 1990 dan pernah bermain di Liga Hongkong.  Sementara, Nil saat sudah pensiun sebagai pemain menjadi pelatih nasional Indonesia di era 2010-an.

Iis pun masih ingat komposisi pemain Garuda II saat dirinya masuk skuad. Di bawah mistar ada Misrianto, dua pilar belakang Nil dan Augustinus. Di tengah selain dirinya ada Heriansyah dan Agus Yuwono dan di depan Rock berpasangan dengan Zulkarnain Jamil.

Sayang, kebersamaan itu tak berlangsung lama. Dalam sebuah uji coba dengan klub amatir Bina Taruna di Senayan, Jakarta, Iis mengalami cedera lutut parah.

''Saya berhadapan dengan kiper Bina Taruna, Ponirin Meka (yang juga kiper Timnas Senior). Saya mengalami cedera lutut parah,'' kenang lelaki yang kini berusia 45 tahun tersebut.

Dia pun dipulangkan ke rumahnya. Kepedihan mendalam dirasakannya.

''Dia menangis ketika bertemu saya. Saya bilang, jangan pernah patah semangat,'' tambah Pramono, lelaki dianggapnya pengalaman di pentas sepak bola.

Hampir dua tahun Iis bergelut dengan cedera. Hingga akhirnya dia memutuskan merantau ke Bandung, Jawa Barat. Di sana, karirnya kembali terangkat.

''Saya sempat membela Persikab Kabupaten Bandung di Divisi Utama seangkatan dengan Encang Ibrahim (pemain Persikab yang terkenal di dekade 1990-an),'' tambah Iis.

Di Bandung pula, dia menemukan jodohnya. Hingga akhirnya pada 2010, Iis dan keluarganya memutuskan kembali ke Sepanjang.

''Dapur saya harus tetap mengepul. Karena orang tua dan istri pintar memasak, akhirnya saya putuskan berjualan nasi sambelan,'' ungkap bapak tiga anak tersebut.

Pilihannya ternyata tak salah. Setiap malam, warung sambelan yang diberi nama Soccer tersebut ramai diserbu pembeli. Meski, Iis baru bisa membuka warungnya mulai pukul 22.00 WIB.

''Saya menunggu toko yang ada di sini tutup,'' ujarnya sambil menunjuk warnet yang buka hingga pukul 22.00 WIB itu.

Meski sibuk bergelut dengan usaha warungnya, tapi Iis tak seratus persen meninggalkan sepak bola. Selain masih bermain bola di Lapangan Karangpilang,Surabaya, dengan rekan sebaya, dia juga mengisi kesibukan dengan melatih.

''Saya melatih HBS (klub internal Askot PSSI Surabaya). Ada yang di Sidoarjo dan juga ada yang di Bangkalan,'' lanjutnya.

Kini, dia juga baru saja mengantongi lisensi C AFC. Namun, Iis tak bermimpi terlalu jauh menjadi pelatih, apalagi bisa seperti rekannya, Nil Maizar. (*)

Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com