www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Minggu, 19 Juli 2015

Buat Onde-Onde untuk Topang Hidup

Lulut Kistono dengan onde-onde buatannya
Di masa jayanya, Lulut Kistono,dikenal sebagai tukang jagal di lapangan hijau. Tapi, kondisi sepak bola Indonesia yang tengah carut marut membuatnya menekuni usaha yang jauh dari urusan yang pernah membesarkan namanya itu.
--
WAJAH Lulut Kistono tampak lelah. Matanya juga masih memerah saat ditemui di rumahnya di kawasan Bogangin , Surabaya, pada 14 Juli 2015.

Tapi, itu bukan karena dia selalu bermain si kulit bundar. Juga bukan karena tenggelam dalam kesibukan melatih tim.

''Sekarang, setiap pagi habis Subuh, saya membantu istri membuat onde-onde. Mulai dari mengangkat tepung hingga memasarkannya,'' ungkap Lulut.

Aktiitasnya itu, lanjut dia, mulai dilakoni pada Ramadan tahun ini. Ini setelah istrinya menekuni usaha kuliner dengan membuat onde-onde kecil.

''Setiap hari bisa sampai 10 kilogram tepung dijadikan onde-onde. Alhamdulillah ada pemasukan,'' jelas lelaki kelahiran Surabaya 26 Maret 1968 tersebut.

Menekuni usaha onde-onde ini sebenarnya, tambah Lulut, berawal dari kebetulan. Saat acara 40 hari meninggalnya sang ibu, kakaknya membuat makanan sendiri untuk dibagikan kepada tetangga dan saudara. Ternyata, buatan sang kakak yang tinggal di Ponorogo tersebut mendapat pujian.

''Kakak pun kemudian mengajari istri membuat onde-onde. Eh, hasilnya juga tak jauh beda dan bisa diterima oleh tetangga-tetangga,'' lanjut bapak tiga anak tersebut.

Selain tetangga, teman istri juga mulai dibidik untuk membeli produk onde-onde yang memakai nama Lud's tersebut. Setali tiga uang, rekan -rekan istrinya juga berkenan.

''Tetangga di rumah lama di Bogangin (yang jaraknya 20-an kilometer dari rumah Lulut sekarang) juga banyak yang beli. Saya ingin menjualnya ke toko-toko juga,'' ujar Lulut.

Dia mengakui usaha Lud's sangat membantu menopang kehidupannya. Apalagi, hampir setengah tahun dia tak menangani tim sepak bola.

Kali terakhir, lelaki yang kali pertama mencuat namanya saat membela Arseto Solo tersebut menangani PS Bangka, Bangka-Belitung, bersama Sanusi Rahman. Hanya, di klub yang nyaris dibawanya menembus babak delapan besar tersebut gajinya tersendat.

''Saya nyaris tak dibayar di PS Bangka. Saya sudah menagih ke pihak manajemen di sana dan juga sudah menghubungi Joko Driyono (CEO PT Liga Indonesia, operator sepak bola profesional di Indonesia),'' ucap Lulut,

Hasilnya, keduanya tak memberikan respon. Sebenarnya, tak dibayar saat menangani tim sudah menjadi langganan baginya.

Di kancah sepak bola Indonesia, semasa menjadi pemain, nama Lulut cukup disegani. Dia selalu membela klub-klub besar. Selain Arseto, Arema Malang, Barito Putera Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Mitra Surabaya, dan Persisam Samarinda (Kalimantan Timur).

Dia sempat menyedot perhatian nasional saat divonis dua tahun larangan bermain sepak bola. Gara-garanya, saat membela Mitra Surabaya, dia memukul striker Arema Singgih Pitono, yang sebenarnya rekan karibnya juga.

Hanya, seiring perjalanan waktu,sang tukang jagal ini harus banting setir. Membuat onde-onde menjadi bagian untuk membuat dapurnya terus mengepul. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com