www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Minggu, 05 Juli 2015

Pernah Kirim Pemain ke Piala Dunia, Bertahan dari Iuran

SEJARAH: Pemain HBS berlatih di Lapangan Kebraon
Di Surabaya, HBS bukan klub besar seperti Assyabaab ataupun Suryanaga. Namun, klub ini pernah mengirim pemainnya ke Piala Dunia.
--
LAPANGAN Kebraon, Surabaya, gundul di sana-sini. Tapi, itu tak mengurangi semangat para pemain HBS berlatih pada Jumat sore lalu (3/7/2015).

Mereka menjalani instruksi yang diberikan oleh para pelatihnya. Tak lama kemudian, lapangan yang semula dibuat 3/4 dilebarkan utuh.

Para pemain  menjalani game internal. Pemain inti ada di sebelah selatan dan reserve di sebaliknya.

''Hasil latihan ini membuat HBS menjadi pemimpin klasemen sementara Kompetisi Askot PSSI Surabaya. Semua itu hasil latihan,'' terang Ridwan Anwar, salah satu pelatih HBS.

Hanya, saat  ini kompetisi tak bergulir. Selama Ramadan, pertandingan antarklub di bawah naungan Askot Cholid Ghoromah tersebut libur. Askot PSSI di kota terbesar kedua di Indonesia itu tengah terpecah. Salah satunya adalah versi Gede Widiade.

Orang hanya mengenal HBS merupakan klub anggota internal yang digembleng di kawasan Surabaya Barat. Tapi, sebenarnya, klub tersebut mempunyai sejarah panjang. Dulu HBS kepanjangannya Houdt Braaf Stand atau terjemahannya Mencintai Taat Berdri.

''Dulu kan punya orang Belanda. Kalau nggak salah berdirinya 1913,'' terang Pramono, salah satu pelatih HBS. Hanya, ungkapnya, setelah Indonesia merdeka, nama kepanjangannya menjadi Harapan Budi Setiawan.

HBS sendiri pernah mengirim pemainnya untuk mewakili Hindia Belanda (nama yang dipakai Belanda kepada Indonesia) dalam Piala Dunia 1938.
Ada Dorst, J. Harting Houdt (belakang), Achmad Nawir (tengah), Tan See Han, Soedarmadji , dan Soedarmadji  di barisan depan.

''Kalau nggak salah Nawir yang dari HBS. Tapi, dia sudah lama meninggal,'' ucap Ketua Umum HBS Ferril Raymond Hattu.

Namun, dia tak ingat tahun meninggalnya. Yang diketahui Ferril, dulu rumah Nawir di kawasan Jalan Darmo.

''Tapi sekarang sudah jadi bangunan bank. Saya juga kehilangan kontak dengan keluarganya,'' jelas lelaki yang menjadi kapten Indonesia saat meraih emas di SEA Games 1991 atau emas terakhir Indonesia di cabang olahraga sepak bola di ajang pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut.

HBS sendiri tetap eksis karena adanya dana dari Ferril. Sayang, Pramono enggan membuka nominal guyuran rupiah tersebut. Dulu mereka sempat menyambung nyawa dari dana yang diberikan Persebaya sebelum berganti menjadi Askot PSSI Surabaya. Jumlahnya pernah Rp 30 juta setahun.

''Tapi, sekarang sudah tak dapat lagi. Apalagi, adanya dualisme juga mempengaruhi,''terang Pramono.

Pelatih HBS lainnya, Ridwan Anwar, menambahkan, uang iurang pemain bisa menjadi lotomotif klubnya untuk terus hidup. Dengan jumlah pesepak bola lebh dari 150, uang itu mampu membuat HBS eksis.

''Tiap kali latihan, mereka membayar Rp 5 ribu. Uang itu dipakai bayar lapangan dan keperluan lainnya,'' pungkas lelaki yang pernah membela Warna Agung itu. (*)



Pemain Hindia Belanda di Piala Dunia 1938

    Kiper: Tan "Bing" Mo Heng (HCTNH Malang), Jack Samuels (Hercules Batavia)

    Belakang: Dorst, J. Harting Houdt Braaf Stand (HBS Soerabaja), Frans G. Hu Kon (Sparta Bandung), Teilherber (Djocoja Djogjakarta)

    Tengah: G.H.V.L. Faulhaber (Djocoja Djogjakarta), Frans Alfred Meeng (SVBB Batavia), Achmad Nawir (HBS Soerabaja), Anwar Sutan (VIOS Batavia), G. van den Burgh (SVV Semarang)

    Depan: Tan Hong Djien (Tiong Hoa Soerabaja), Tan See Han (HBS Soerabaja), Isaac "Tjaak" Pattiwael (VV Jong Ambon Tjimahi), Suvarte Soedarmadji (HBS Soerabaja), M.J. Hans Taihuttu Voetbal Vereniging (VV Jong Ambon Tjimahi), R. Telwe (HBS Soerabaja), Herman Zomers (Hercules Batavia)

    Pelatih: Johannes Mastenbroek (Belanda)

Sumber data: BBC

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com