www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Sabtu, 11 Juli 2015

Kami Kalah Murni karena Teknis

UNTUK
DUET: Mustaqim dan Aji Santoso
kali kesekian, Indonesia gagal memperoleh emas dari cabang olahraga (cabor) sepak bola dalam SEA Games. Bahkan, isu tak sedap mengiringi kepulangan ke tanah air. Kekalahan di dua pertandingan terakhir dicurigai sebagai match fixing (pengaturan pertandingan).

Tapi, hal itu dibantah keras oleh Mustaqim, asisten pelatih Timnas U-23 yang berlaga dalam SEA Games 2015 Singapura. Dia mengakui semua dikarenakan faktor teknis, bukan nonteknis. Berikut petikan saat ditemui di rumahnya di kawasan perumahan di Rungkut, Surabaya, pada Kamis (9/7/2015)

Maaf menganggu waktu puasa Anda
-Tidak apa-apa. Saya juga lagi tidak ada kegiatan, apalagi yang berurusan dengan sepak bola atau Timnas U-23.

Oh ya, soal Timnas U-23 di SEA Games lalu bagaimana?
-Ya, kita kan gagal meraih medali. Tapi, itu sudah sangat baik. Sampai ke babak final memang sudah diperkirakan sejak awal. Bahkan, Direktur Teknik PSSI Pieter Huistra pun sudah memperkirakan Timnas U-23 hanya sampai semifinal. Dia membandingkan tim kami nafasnya sudah sampai leher (Mustaqim mempraktikkan tangan kanan diletakan di leher).

Kok bisa hanya sampai semifinal, kenapa tidak ke final?
-Dia tahun dengan kondisi Timnas U-23. Persiapan kami hanya 21 hari. Bahkan, kalau saya hitung tidak ada sampai 21 hari karena pemain datangnya tak bersamaan. Belum lagi faktor lain tentang jadi atau tidaknya kita berangkat ke SEA Games. Itu mempengaruhi psikologis pemain. Kita persiapannya paling minim kalau dibandingkan dengan tim-tim lain.

Maksudnya?
Malaysia contohnya.Mereka persiapan serius selama enam bulan dan diikutikan dalam kompetisi di Australia. Begitu juga dengan Singapura yang melakukan try out ke luar negeri dengan anggaran yang banyak.
 Sementara Thailand, mereka timnya hampir sama dengan yang dikirim ke Asian Games di Incheonm Korea Selatan. Saat itu, pemain kita kan U-23 yang usianya memang di bawah 22 dan diperkuat pemain senior sekelas Victor Ignonefo dari Arema, kita kalah telak 0-6.
 Di SEA Games, materi kita kan U-19 yang fisiknya masih belum kuat. Kita kalahnya lima gol.

Tapi kekalahan itu diiringi isu adanya pengaturan skor (match fixing)?
-Itu tidak benar-benar. Kami kalah benar-benar karena murni teknis bukan hal yang lain. Saya tahu semua pemain Timnas U-23. Mereka masih lugu. Yang berani menerima suap mereka yang sudah biasa melakukannya. Secara psikologis kalau menerima suap, tentu mereka nggak akan berani tampil. Tapi, saat ini banyak di antara pemain Timnas U-23 bermain di Liga Ramadan di Makassar.
 Kami sangat sedih mendengar adanya isu seperti itu. (*)
--

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com