www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Minggu, 05 Juli 2015

Mantan Pemain PSSI Garuda II Jualan Nasi Sambal

Iis Falatehan di depan warung sambalnya
PSSI Garuda I dan II pernah menjadi proyek prestisius. Namun, banyak juga dari mereka yang akhirnya gagal menjadi pesepak bola nasional. Bahkan, kini, ada yang menghabiskan waktunya berjualan nasi sambal.
--
TANGANNYA begitu mahir memainkan alat penggorengan. Lelaki yang bernama lengkap Iis Falatahen tersebut pun tengah menggoreng ayam maupun tempe.

Tak lama berselang, dia juga mengaduk gula di gelas untuk melayani melayani pembeli di warung penyet Soccer miliknya. Warung yang menjual nasi sambal sebagai menu utama tersebut berada di kawasan Bebekan, Sepanjang, Taman, Kabupaten Sidoarjo.

Pembeli pun banyak yang tak tahu, bahwa lelaki yang meladeni mereka tersebut dulunya sempat digadang-gadang menjadi pesepak bola yang akan membuat Indonesia bisa banyak berbicara di ajang internasional. Ini disebabkan Iis merupakan pemain yang masuk dalam PSSI Garuda II, sebuah proyek masa depan yang dibiayai keluarga Cendana yang merupakan penguasa Orde Baru.

''Saya masuk PSSI Garuda melalui seleksi dari wilayah Jawa Timur, mur yang dilakukan di Lapangan Arhanudse, Seruni, Gedangan, Sidoarjo. Dari Jawa Timur yang lolos saya dan Iwan (Suprijanto,kiper yang kini jadi salah satu pelatih PON Jatim 2016),'' terang Iis saat ditemui di warungnya pada Jumat malam (3/7/2015).

Usai lolos seleksi yang dilaksanakan 1988, saat usianya masih 17 tahun, dia pun harus pergi meninggalkan orang tuanya ke Jakarta. Di ibu kota, dia digembleng di bawah penangananan pelatih asal Cekoslowakia (sekarang Rep Ceko) Joseph Masopust.

''Pelatih lokalnya ada Solekan dan Halilintar. Banyak pemain juga dari luar pulau,'' ujar Iis, yang masuk seleksi dari klub Suryanaga, Surabaya.

Di antara rekan-rekannya tersebut ada nama Nil Maizar dan Rocky Poetiray. Nil dari Padang sedangkan rekan satunya dari Maluku. Beberapa tahun kemudian, Rocky menjadi penyerang andalan Indonesia di era 1990 dan pernah bermain di Liga Hongkong.  Sementara, Nil saat sudah pensiun sebagai pemain menjadi pelatih nasional Indonesia di era 2010-an.

Iis pun masih ingat komposisi pemain Garuda II saat dirinya masuk skuad. Di bawah mistar ada Misrianto, dua pilar belakang Nil dan Augustinus. Di tengah selain dirinya ada Heriansyah dan Agus Yuwono dan di depan Rock berpasangan dengan Zulkarnain Jamil.

Sayang, kebersamaan itu tak berlangsung lama. Dalam sebuah uji coba dengan klub amatir Bina Taruna di Senayan, Jakarta, Iis mengalami cedera lutut parah.

''Saya berhadapan dengan kiper Bina Taruna, Ponirin Meka (yang juga kiper Timnas Senior). Saya mengalami cedera lutut parah,'' kenang lelaki yang kini berusia 45 tahun tersebut.

Dia pun dipulangkan ke rumahnya. Kepedihan mendalam dirasakannya.

''Dia menangis ketika bertemu saya. Saya bilang, jangan pernah patah semangat,'' tambah Pramono, lelaki dianggapnya pengalaman di pentas sepak bola.

Hampir dua tahun Iis bergelut dengan cedera. Hingga akhirnya dia memutuskan merantau ke Bandung, Jawa Barat. Di sana, karirnya kembali terangkat.

''Saya sempat membela Persikab Kabupaten Bandung di Divisi Utama seangkatan dengan Encang Ibrahim (pemain Persikab yang terkenal di dekade 1990-an),'' tambah Iis.

Di Bandung pula, dia menemukan jodohnya. Hingga akhirnya pada 2010, Iis dan keluarganya memutuskan kembali ke Sepanjang.

''Dapur saya harus tetap mengepul. Karena orang tua dan istri pintar memasak, akhirnya saya putuskan berjualan nasi sambelan,'' ungkap bapak tiga anak tersebut.

Pilihannya ternyata tak salah. Setiap malam, warung sambelan yang diberi nama Soccer tersebut ramai diserbu pembeli. Meski, Iis baru bisa membuka warungnya mulai pukul 22.00 WIB.

''Saya menunggu toko yang ada di sini tutup,'' ujarnya sambil menunjuk warnet yang buka hingga pukul 22.00 WIB itu.

Meski sibuk bergelut dengan usaha warungnya, tapi Iis tak seratus persen meninggalkan sepak bola. Selain masih bermain bola di Lapangan Karangpilang,Surabaya, dengan rekan sebaya, dia juga mengisi kesibukan dengan melatih.

''Saya melatih HBS (klub internal Askot PSSI Surabaya). Ada yang di Sidoarjo dan juga ada yang di Bangkalan,'' lanjutnya.

Kini, dia juga baru saja mengantongi lisensi C AFC. Namun, Iis tak bermimpi terlalu jauh menjadi pelatih, apalagi bisa seperti rekannya, Nil Maizar. (*)

2 comments:

Talita Cancan mengatakan...

Kagum. Tetap happy mas dam tawakal

30 Juli 2016 04.13
Talita Cancan mengatakan...

Kagum. Tetap happy mas dam tawakal

30 Juli 2016 04.14

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com