www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 20 Juli 2015

Merasa Tak Laku, Jual Rumah dan Tanah

LEBARAN: Yudi Suryata di rumahnya pada 18 Juli 2015
Yudi Suryata pernah membela klub-klub besar. Dia pun sukses mengantarkannya menjadi juara. Di saat usianya sudah kepala enam, namanya pun ikut tenggelam.
--
SEORANG lelaki tengah menyapu daun-daun yang jatuh di pinggir jalan Solo-Ngawi. Tepatnya di kawasan Masaran, Sragen, Jawa Tengah, pada 18 Juli 2015.

Dia pun seolah tak memedulikan apapun yang melintas. Para pejalan kaki, sepeda angin, sepeda motor, mobil, bahkan bus berlalu lalang di sampingnya. Dia tetap serius menyapu daun-daun kering yang dikumpulkannya yang kemudian dimasukkan ke keranjang sampah.

Namun, gerakannya masih gesit. Meski, sekilas, sosok tersebut sudah tak muda lagi. Rambut dan cambangnya pun sudah putih semua.

''Tahun ini, saya sudah 60 tahun lebih.Tepatnya 61,''  kata Yudi di ruang tamu rumahnya.

Dengan usia itu, dia juga mengaku sudah tak laku lagi menjadi pelatih. Buktinya, pada 2015, belum ada satu pun tawaran menjadi arsitek tim yang datang kepadanya.

Bahkan, keinginan untuk menangani Persis Solo yang mempersiapkan diri ke Divisi Utama pun gagal. Manajemen tim asal Kota Bengawan, julukan Solo, tersebut lebih memilih Aris Budi Sulistyo.

''Saya ingin sekali menangani Persis karena saya juga pernah menjadi pemain Persis juga. Posisi saya sebagai striker,'' jelas Yudi.

Ya, Laskar Samber Nyawa, julukan Persis, merupakan pijakan awal karir sepak bolanya. Lelaki kelahiran 25 November 1954 tersebut membela Persis pada 1974-1976.

''Saat itu, saya juga sambil kuliah di Solo. Saat itu, saya menumpang di rumah saudara,'' kenang Yudi.

Ajakan dari seorang rekan membuat bapak dari Titan Suryata itu pun meninggalkan Solo dan Sragen. Dia memilih Surabaya sebagai pelabuhan karirnya.

''Saya ikut Mitra yang dimiliki Wenas. Dari Mitra pula, saya dipanggil mengikuti seleksi Persebaya Surabaya,'' lanjut Yudi.

Awalnya, di Green Force, julukan Persebaya, dia hanya sebagai penghangat bangku cadangan. Namun, saat kesempatan diberikan kepadanya di posisi bek kiri, bukan posisi aslinya sebagai tukang gedor.

''Lawannya Samarinda dan saya main bagus. Sejak itulah, saya selalu menjadi pemain inti di Persebaya dan mampu membawan menjadi juara perserikatan pada 1977,'' lanjut Yudi.

Di Persebaya, perokok berat ini satu tim dengan Rudy Keltjes, Subodro, maupun (alm) Rusdy Bahalwan. Namun, dia tak bertahan lama.

Dia kembali ke Mitra setelah pemiliknya, Wenas, memintanya balik. Apalagi, Mitra memutuskan menjadi klub Galatama saat kompetisi profesional tersebut mulai digulirkan pada 1978.

''Di Niac Mitra, saya juga dua kali menjadi juara yakni musim 1982 dan 1983. Komplet rasanya bisa menjadi pemain yang juga di era perserikatan dan galatama,'' kenang Yudi.

Tapi, pada 1984, suami dari Safari Rustiningsih tersebut hengkang dari Niac Mitra. Klub Yanita Utama Bogor dibelanya bersama beberapa rekan-rekannya di Persebaya dan Niac. 

''Saat itu, bayaran di Yanita Utama sangat besar. Saya dibayar Rp 15 juta,'' tambahnya. Di klub Kota Hujan, julukan Bogor, tersebut Yudi ikut mengangkat trofi juara Galatama di musim 1983/1984 dan 1984.

Setelah Yanita Utama bubar pada 1985, skuadnya boyongan ke Palembang, Sumatera Selatan. Mereka bergabung dengan Kramayudha Tiga Berlian.

''Saya nggak ikut. Saya mulai menekuni menjadi pelatih di Gajah Mungkur, Wonogiri,'' terang Yudi.

Di tangannya lahir para pesepak bola sekelas Sutamto dan Ali Sunan yang kelak menjadi penghuni Timnas Indonesia. Usai dari Kota Gaplek, julukan Wonogiri, Yudi pun kembali ke Surabaya.

''Saya menjadi asisten Basri pada musim 1987/1988. Saat Basri dipanggil menjadi pelatih nasional, saya yang menangani tim dengan arahan tetap dari Wenas,'' papar lelaki asal Desa Krikilan tersebut.

Setelah dari Niac Mitra, perjalanan panjangnya sebagai pelatih pun dimulai. Mulai dari Persijap Jepara, Gelora Putra Delta (GPD, sekarang jadi Deltras), Persijap Jepara, PSS Sleman, Persipura Jayapura, PSBI Blitar hingga Persewangi Banyuwangi.

Di Laskar Kalinyamat, julukan Persijap, Yudi memoles cukup lama. Mulai dari 1992 hingga 2002. Bahkan, kali terakhir, dia juga menjadi pelatih di tim pesisir utara Pulau Jawa itu pada musim 2014.

''Namun, kondisinya sudah jauh berbeda. Yang terakhir sudah parah sekali,'' ujarnya.

Dari melatih pula, Yudi bisa memperluas dan merenovasi rumahnhya menjadi megah. Sebagai bukti rezeki yang diperlehnya dari sepak bola,di depan rumahnya dipasang bola dari semen.

''Rumah saya ini saya bangun saat menjadi pelatih Persipura,'' urainya.

Namun, seiring kondisi sepak bola Indonesia yang bergejolak, Yudi pun harus mencari uang dari usaha yang lain. Dia terpaksa menjual tanah maupun rumah lain  yang dibelinya saat menjadi pemain atau pelatih.

''Saya putar lagi uangnya untuk membeli tanah dan rumah lagi. Kalau dibilang bisnis properti juga nggak apa, tapi kecil-kecilan,'' katanya sambil menghisap rokok kedua yang sudah dinyalakan. (*)


Sekilas tentang
Nama: Yudi Suryata
Usia: 61 tahun
Lahir: Sragen, 25 November 1954
Istri: Safari Nurtiningsih
Anak: Titan Suryata

Karir:
Pelatih
1973: PSISra Sragen Junior
1974-1976: Persis Solo
1976-1977: Mitra Surabaya
1977: Persebaya Surabaya
1978-1983: Niac Mitra
1983-1985: Yanita Utama

Pelatih
1985-1987: Gajah Mungkur Wonogiri
1987-1989: Niac Mitra Surabaya
1989-1992: Mitra Surabaya
1992-2002: Persijap Jepara
2002-2003: GPD Sidoarjo
2003-2005: PSS Sleman
2005: Persipura Jayapura
2006-2008: PSS Sleman
2008:Persigo Gorontalo
2010-2011: PSBI Blitar
2012: Persewangi Banyuwangi
2014: Persijap Jepara

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com