www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Legenda Persebaya Berduet di Lapangan Lagi

TANGGUH: Mursyid (kiri) dan Bejo
Persebaya Surabaya menjadi tim yang disegani di era 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Gelar bergengsi pun mampu disabet. Salah satu kuncinya adalah tangguhnya lini belakang.
--
MURSYID Effendi dan Bejo Sugiantoro memakai kaos hijau. Mereka pun tengah melakukan pemanasan sebelum turun ke pertandingan.

Nomornnya pun tetap nomor andalan keduanya. Mursyid dengan nomor 6 dan Bejo di punggungnya tertulis nomor 5.

Tapi, kejadian itu bukan terjadi pada pertengahan 1990-an hingga 2000-an. Saat itu, Mursyid dan Bejo menjadi dua mata keping yang tak terpisahkan dalam kesebalasan Persebaya Surabaya.

Namun, keduanya tengah berada di Lapangan Karangan, Wiyung, Surabaya, pada Rabu (26/8/2015). Stopper dan libero legendaris Green Force, julukan Persebaya, tersebut akan membela PS Keres, sebuah tim amatir, untuk berlaga dalam sebuah turnamen galdes.

Pada Rabu lalu, badan keduanya sudah tak sekekar dulu. Khususnya Mursyid.

Lama pensiun, membuat lemak sudah banyak menimbun tubuhnya. Tapi, dia mampu menutupi dengan aktivitasnya yang terus bergerak di lapangan.

Mursyid dan Bejo pun masih tetap akrab. Meski, keduanya sudah lama tak berjumpa. Apalagi, keduanya sekarang menangani tim yang berbeda.

Mursyid bergelut dengan menjadi pembina di klub internal Askot PSSI Surabaya Mitra. Sedangkan Bejo mulai serius menjadi pelatih di Surabaya Football Club (SFC).

Hanya, itu tak mengurangi kekompakan di lapangan. Keduanya tetap susah ditembus pemain lawannya, Pusaka, Karangan, yang diisi para pemain dengan usia belasan. Bahkan, keduanya beberapa kali menunjukkan skill tinggi. Seperti ketika masih menjadi pilar Persebaya.

Ya, konstribusi Mursyid dan Bejo mampu membuat tim asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, menjadi tim yang disegani para lawan. Para penyerang pun harus kerja ekstrakeras untuk bisa membongkar kokohnya duet Mursyid dan Bejo.

Hasilnya, juara Divisi Utama pada Liga Indonesia 1996/1997 mampu disabet. Kemudian, menjadi juara lagi pada 2004. Ini membuat Persebaya menjadi wakil Indonesia di ajang Liga Champions Asia.

Tangguhnya Muryid dan Bejo pun membuat keduanya juga kembali berkolaborasi di Timnas Indonesia. Sayang, seuah insiden memuat Murysid harus disanksi larangan seumur hidup bertanding di ajang internasional bersama Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia.

Jadi, sungguh beruntung parra penonton yang hadir di Lapangan Karangan pada Rabu lalu. Mereka bisa menyaksikan dua legenda hidup Persebaya beraksi dengan skill tinggi. Meski usia sudah tak muda lagi. (*)

Sekilas tentang dua legenda
Mursyid Effendi
Lahir: Surabaya,23 April 1972
Posisi; Stopper
Karir bermain
1994-2007: Persebaya  Surabaya
2007: Persiku Kudus
1998: Timnas

Bejo Sugiantoro
Lahir: 2 April 1977
Posisi: Libero
Karir bermain
1994-2002: Persebaya Surabaya
2003-2004: PSPS Pekanbaru
2004-2008: Persebaya Surabaya
2008-2009: Mitra Kukar
2009-2011: Persidafon Dafonsoro
2011-2013: PS Mojokerto Putera
1997-2004: Timnas
Read More

Masih Lincah di Usia Uzur

Erik Ibrahim di Karangan
Bertahan di kompetisi sepak bola Indonesia lebih dari 20 tahun bukan hal yang mudah. Tapi, itu mampu dilakoni oleh Erik Ibrahim.
-
SEBUAH asap rokok mengepul dari bibirnya. Topi warna hitam pun membuat orang banyak yang tak mengetahui sosok lelaki bernama Erik Ibrahim.

Tapi, tak lama kemudian, dia sudah berganti dengan kostum kiper. Kaos hijau dan celana hitam membuatnya masih seperti 20 tahunan lalu.

Ya,Erik merupakan salah satu kiper yang sudah tak diragukan kualitasnya. Bahkan, dia melakoni karirnya itu tanpa pernah berhenti alias menganggur.

''Saya memulai karir dari Bandung. Mulai dari Persib Bandung Junior hingga Senior,'' kata Erik saat ditemui di Lapangan Karangan, Surabaya.

Di Karangan, dia bukan tengah berlatih. Tapi, Erik dipercaya rekan akrabnya, Lulut Kistono, untukn mengawal gawang PS Keres dalam sebuah turnamen galadesa.

Bersama Maung Bandung, julukan Persib, dia bertahan cukup lama. Erik baru hengkang pada 1989.

''Saya ke Petrokimia Putra Gresik. Saat itu, banyak pemain asal Bandung di sana. Ada yang membela Petrokimia tapi ada juga yang membela Persegres,'' kenang Erik.

Di tim Kota Pudak, julukan Gresik, Erik menjadi pilihan utama pelatih Bertje Matulapelwa. Hanya, lelaki kelahiran 1967 itu  bertahan setahun di sana.

Setelah itu, lelaki dengan tinggi 180 sentimeter mulai berpindah ke berbagai klub. Mitra Surabaya, Gelora Dewata Bali, dan BPD Jateng menjadi pelabuhan karirnya.

''Paling lama di Gelora Dewata. Saya balik lagi dan bertahan lumayan lama di sana,'' ungkap Erik.

Bahkan, menjelang akhir karirnya, dia masih bisa menjalani peran ganda. Sebagai pelatih kiper sekaligus didaftarkan sebagai penjaga gawang.

''Di Persela Lamongan, Mitra Kukar, dan Persisam Samarinda saya melakoni tugas itu. Tapi bukan sebagai kiper nomor satu,'' ujar Erik.

Kini, di Persebaya Surabaya, bapak tiga anak tersebut fokus sebagai pelatih. Hanya, sebuah ajakan dari Lulut membuatnya tak kuasa menolak.

''Kan hanya iseng untuk cari keringat bukan kompetisi resmi,'' tambah Erik.

Meski sudah uzur, tapi aksinya di Lapangan Karangan tak pudar. Dia beberapa kali menggagalkan peluang lawan mencetak gol. Berhadapan satu lawan satu pun mampu diatasinya. Padahal, penyerang lawan usianya ajauh di bawahnya.

Dalam turnamen tersebut, Erik sudah dua kali tampil yakni melawan Wiyung All Star dan Pusaka Karangan. (*)

Sekilas tentang
Nama: Erik Ibrahim
Usia: 48
Tinggal: Bali

Karir
Junior:
Persib Bandung

Senior:
Persib Bandung, Petrokimia Putra Gresik, Mitra Surabaya, Gelora Dewata Bali, Mitra Surabaya, BPD Jateng, Persela Lamongan, PKT Bontang, Mitra Kukar, Persisam Samarinda

Pelatih
Persela Lamongan, PKT Bontang, Mitra Kukar, Persisam Samarinda, Timnas Senior
Read More

Rindu Lihat Deltras Hadapi Tim Tangguh

Deltamania saat menyaksikan Deltras versus Persela
Deltras Sidoarjo pernah menjadi tim yang disegani. Penonton pun selalu datang menjubeli stadion saat menjamu lawan-lawannya.
--
PARKIRAN Gelora Delta, Sidoarjol, pada Sabtu (22//2015) penuh dengan sepeda motor. Padahal,  sore itu tidak ada kompetisi Indonesia Super Leaguem (ISL) ataupun ada pertandingan final Copa Indonesia.

Ya, Stadion Gelora Delta memang menjadi langganan pertandingan kedua ajang tersebut. Hanya, itu terjadi beberapa tahun lalu.

Bahkan, parkiran tersebut sering tak mampu menamping moda roda dua itu. Semuanya berlangsung saat The Lobster, julukan Deltras, berada di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, baik masih Divisi Utama ataupun sudah menjadi ISL.

Memang, Sabtu itu Deltras memang yang bertanding. Hanya, levelnya sebuah uji coba. Lawannya adalah Persela Lamongan, musuh bebutan Deltras saat masih di level tertinggi.

Spanduk pun terpasang di tribun sebelah barat. Suara letasan pun sekali terdengar.

Tribunsebelah barat pun berubah menjadi merah. Pendukung Deltras pun seolah menyaksikan sebuah laga di kompetisi ISL.

'Teman-teman sudah kangen melihat pertandingan Deltras,'' kata Ketua Deltamania, suporter Deltras, Saiful Bakirok.

Hanya, pada musim ini, sebelum dihentikan oleh Menpora, Deltras harus berlaga di kasta terendah di kompetisi sepak bola Indonesia, Liga Nusantara. The Lobster harus melakoni itu karena degradasi dari Divisi Utama pada tahun lalu.

Di tangan Riono Asnan, Deltras benar-benar terpuruk. Dalam 10 kali pertandingan, mereka pernah tak memetik kemenangan.

Di awal musim ini, sebenarnya, tim yang reinkarnasi dari Gelora Dewata itu cukup serius menatap Liga Nusantara. Pemain dengan label bintang meski sudah gaek direkrut. Ada nama Mat Halil, Uston Nawawi, dan Jefri Dwi Hadi.

Ketiganya sudah kenyang pengalaman dan pernah membawa tim yang dibelanya menjadi juara di level tertinggi. Halil dan Uston bersama Persebaya Surabaya sedangkan Jefri Dwi Hadi dengan Persik Kediri.

Ketiganya juga pernah mengenakan kostum timn nasional Indonesia. Namun, Uston memang yang paling lama.

Tujuannya hanya satu, mengembalikan Deltras kembali ke habitat aslinya, yakni Divisi Utama dan berlanjut ke ISL. Dukungan suporter pun bisa menjadi suntikan semangat tersendiri.

Minimal, dorongan tersebut sudah terlihat saat Deltras menjamu Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, dalam uji coba. Semua rindu melihat The Lobster. (*)
Read More

Dedikasinya hanya untuk Sepak Bola

Selamat jalan dulur
PEKAN lalu, sepak bola Indonesia berduka. Sosok seorang pelatih senior, Suharno, meninggal dunia.

Lelaki yang menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu 19 Agustus 2015 tersebut sangat dikenal di jagad sepak bola nasional. Sosoknya mudah dikenal karena badannya yang termasuk tambun.

Namun, itu tak mengurangi kelincahannya saat di pinggir lapangan. Dia selalu interaksi dengan para pemainnya.

Selain itu, Suharno dikenal sebagai sosok yang akrab. Bukan hanya kepada pemainnya, tapi juga kepada mantan-mantan anak asuhnya, rekan sejawat pelatih, suporter, bahkan juga dengan insan pers.

Lelaki asal Klaten yang menghembuskan nafas terakhirnya di usia 56 tahun itu benar-benar menggantungkan hidupnya di sepak bola. Mulai remaja, Suharno sudah membela Persis Solo Junior.

Ini yang membawanya terbang ke Jakarta untuk bergabung dengan Diklat Ragunan. Di sana, merupakan tempat para talenta muda digembleng untuk menjadi pesepak bola handal di masa depan.

Dengan posisi di bek, tak susah baginya mencari klub. Lulus dari Diklat Ragunan, dia pun langsung direkrut Perkesa 78 yang bermarkas di Sidoarjo, Jawa Timur.

Di foto yang pernah dilihat penulis di rumahnya, dia bergabung bersama dengan Socheh (pelatih senior di Sidoarjo), Benyamin Leobetty (yang di kemudian hari menjadi perwira polisi), ataupun juga dengan Eko Prayogo (tokoh sepak bola Surabaya yang sudah mendahuluinya meninggal).

Usai dari Perkesa, Suharno pun hijrah ke klub yang lebih moncer prestasinya, Niac Mitra. Sebagai pemain proesional, hanya Perkesa dan Niac Mitra yang pernah dibela.

Karirnya pun lebih banyak dihabiskan sebagai pelatih. Memulai dari klub amatir di Sidoarjo, dia kemudian menjadi asisten pelatih di Niac Mitra.

Tangan dinginnya mulai terasa di Gelora Dewata. Klub yang bermarkas di Denpasar, Bali, tersebut mampu dibawanya menjadi juara Piala Liga.

Setelah itu, hampir setiap tahun, Suharno tak pernah jobless. Arema, Persikab Kabupaten Bandung, Persibat Batang, PSS Sleman, Deltras, PKT Bontang, Persis Solo, Persegres Gresik, hingga akhirnya bersandar lagi di Arema.

Bahkan, ada yang terlupa di karirnya dan banyak orang yang tak mengetahui. Ternyata, Suharno pernah menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia. Bapak satu anak itu melakoninya saat Timnas Indonesia dilatih Nil Maizar atau sebelum dia memoles Persegres.

Hal lain yan selalu dipakai Suharno saat menangani tim adalah memaksimalkan potensi lokal. Di semua tim yang dipoles, asistennya selalu ada yang berasal dari daerah klub setempat.

Di Deltras ada Socheh, di Persis Solo ada Eduard Tjong, di Persegres ada Suwandi HS. dan di Arema ada Kuncoro.

Itu pula yang membuat banyak orang kehilangan. Hingga akhir hayatnya Suharno tetap tak bisa lepas dari sepak bola.

Dia meninggal usai melatih Arema Cronus berlatih. Selamat jalan Suharno. (*)
Read More

Pernah Jadi Orang Kepercayaan Pengusaha Bus

Iwan Suprijanto bersama kiper PON Jatim 2016
Iwan (kiri atas), Rocky Putiray (kanan) atas dan Nil Maizar
Proyek prestisius PSSI Garuda II pernah menjadi tumpuan harapan memajukan sepak bola Indonesia. Sayang, asa tersebut gagal terealisasi. Namun, beberapa pemainnya masih berkecimpung di lapangan hijau.
--
TUBUHNYA mulai gemuk. Tapi, kegesitannya di bawah mistar tetap belum luntur.

Bahkan, dalam beberapa kali aksinya, lelaki bernama Iwan Suprijanto tersebut melakukan beberapa kali penyelamatan gemilang. Meski, itu hanya dalam sebuah latihan yang dilaksanakan di Lapangan Pandansari, Bungurasih, Sidoarjo.

Posisi kiper memang menjadi tempat asli lelaki kelahiran 1971 tersebut. Bahkan dari berdiri di bawah mistar itu, dia pernah bergabung dalam proyek prestisius, PSSI Garuda II.

''Saya masuk seleksi Garuda II pada 1987. Saya menjadi satu dari dua wakil Jawa Timur yang lolos seleksi,'' kata Iwan.

Dia masuk seleksi berangkat dari perwakilan Surabaya. Di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, Iwan ditempa di Putra Gelora.

Dengan masuk PSSI Garuda II membuat Iwan harus tinggal di Jakarta. Dia mendapat ilmu dari pelatih asal Cekoslowakia Joseph Maspust.

Lelaki yang baru saja meninggal 29 Juni lalu itu merupakan pesepak bola terbaik Eropa pada 1962. Kehadiran Masopust membuat kemampuan Iwan pun meningkat.

Sayang, pada 1990, dia harus meninggalkan Indonesia. Itu, tambah Iwan, berdampak pada keberadaannya.

''Saya dicoret dari PSSI Garuda II saat kepelatihan berpindah ke tangan Iswadi Idris. Selain itu, lutut saya juga mengalami cedera,'' ungkap lelaki dengan postur hampir 180 sentimeter tersebut.

Usai terpental dari proyek ambisius PSSI itu, dia kembali ke Surabaya. Iwan bergabung dengan PS Bank Jatim.

''Saya mampu membawa Bank Jatim menduduki psisi III dalam ajang Galakarya (kompetisi PSSI yang khusus bagi para karyawan perusahaan perusahaan). Setelah itu, saya ke PS Bentoel,'' ujar Iwan.

Di klub asal Jember itu, dia dipoles Rudy Keljtes. Di tim tersebut, dia bergabung bersama Misnadi, yang kelak menjadi penyerang lokal yang disegani di pentas sepak bola nasional.

Arema Malang, ungkapnya, menjadi pelabuhan karir berikutnya Iwan.  Bersama dengan Dwi ''Kirun'' Sasmianto dan Ahmad Yono, ketiganya mengawal gawang tim berjuluk Singo Edan, julukan Arema, itu pada Liga Indonesia I 1994/1995.

''Setelah itu, saya ke Persesa Sampang, Madura. Ada teman yang mengajak ke sana dengan tawaran menjadi PNS di PDAM,'' tambah Iwan.

Hanya, suasana Sampang yang sepi dan jauh dibandingkan Surabaya dan Malang membuatnya tak betah. Iwan pun kembali merantau dan Probolinggo menjadi sasaran.

Saat itu, bos perusahaan bus Akas,Roy, mendirikan klub sepak bola. Tawaran yang menggiurkan membuat Iwan pun bergabung.

Namun, hubungan Iwan dan Roy berlanjut tak hanya di sepak bola. Setelah itu, hubungan keduanya menjadi hubungan bos dan orang kepercayaan. Itu bertahan hingga 2010. Hanya, dia enggan membeberkan alasan meninggalkan Akas.

''Setelah itu, saya jadi pelatih tim Divisi Utama Persbul Buol, Sulawesi Tengah, hingga sekarang. Hanya,panggilan menjadi pelatih kiper PON Jatim membuat saya untuk sementara meninggalkannya,'' pungkas Iwan. (*)

Read More

Selalu Terkenang Perjuangan Uston

Suwadi di depan rumah yang dulu tempat mendidik Uston
Uston Nawawi menjadi salah satu gelandang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Tapi, usaha untuk meraih ke situ butuh perjuangan ekstraberat dengan dukungan orang tua.
--
SEBUAH gapura dengan tulisan Klagen tertera di depan. Tak ada yang beda dengan kampung-kampung lainnya yang ada di Desa Wilayut, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut.

Namun, di gang itu lahir para seniman-seniman lapangan hijau. Salah satunya yang sangat populer adalah Uston Nawawi.

Rumah Uston tak mengalami perubahan. Hanya, sekarang, di depan rumahnya ada peralatan sound system besar yang biasa dipakai untuk hajatan. Di sampingnya juga ada peralatan makan.

''Sekarang, kami ada usaha persewaan alat untuk hajatan. Kalau ada yang sekalian makannya, kami memakai tempat Uston,'' kata Suwadi, ayah Uston.

Di ruang tamu rumahnya juga terdapat beberapa foto Uston saat masih berkostum Persebaya Surabaya dan juga Timnas Indonesia. Di dua tim itu, karir lelaki kelahiran 6 September 1977 itu layak dibanggakan.

Tapi, siapa sangka, saat memulai karirnya di lapangan hijau, Uston rela mengorbankan masa kecilnya. Begitu juga dengan Suwadi yang menghabiskan banyak waktu guna mendukung perjalanan anak ketiganya tersebut.

''Kali pertama, Uston latihan di SSB Kelud yang lapangannya di pinggir jalan sebelum masuk gang ini tadi. Saat itu, dia masih SD,'' jelas Suwadi.

 Setelah SMP, Uston, terangnya, bergabung dengan SSB Dolog, Surabaya. Hampir setiap hari, usai menuntut ilmu, rela naik angkutan umum dari kawasan Ksatrian ke Dolog yang ada di Jalan Ahmad Yani.

''Setelah SMA, saya nyari sekolah swasta yang izinnya mudah. Namun, habis sekolah, saya harus mengantar ke Surabaya juga karena Uston sudah mulai masuk Persebaya Junior,'' ungkapnya.

Ketika panggilan ke Jakarta mengikuti seleksi PSSI Baretti, Uston, tambah dia, berangkat bersama rekan-rekannya. Dari situlah, karir anaknya tersebut mulai menanjak.

Uston digembleng ke Italia,kemudian masuk Persebaya senior, hingga langganan Timnas Indonesia. Hanya, Suwadi, selalu mengingat bahwa perjuangan menuju puncak tersebut dilakoni anaknya dengan kerja keras dan rela membuang masa remaja. (*)

Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com