www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 24 Agustus 2015

Dedikasinya hanya untuk Sepak Bola

Selamat jalan dulur
PEKAN lalu, sepak bola Indonesia berduka. Sosok seorang pelatih senior, Suharno, meninggal dunia.

Lelaki yang menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu 19 Agustus 2015 tersebut sangat dikenal di jagad sepak bola nasional. Sosoknya mudah dikenal karena badannya yang termasuk tambun.

Namun, itu tak mengurangi kelincahannya saat di pinggir lapangan. Dia selalu interaksi dengan para pemainnya.

Selain itu, Suharno dikenal sebagai sosok yang akrab. Bukan hanya kepada pemainnya, tapi juga kepada mantan-mantan anak asuhnya, rekan sejawat pelatih, suporter, bahkan juga dengan insan pers.

Lelaki asal Klaten yang menghembuskan nafas terakhirnya di usia 56 tahun itu benar-benar menggantungkan hidupnya di sepak bola. Mulai remaja, Suharno sudah membela Persis Solo Junior.

Ini yang membawanya terbang ke Jakarta untuk bergabung dengan Diklat Ragunan. Di sana, merupakan tempat para talenta muda digembleng untuk menjadi pesepak bola handal di masa depan.

Dengan posisi di bek, tak susah baginya mencari klub. Lulus dari Diklat Ragunan, dia pun langsung direkrut Perkesa 78 yang bermarkas di Sidoarjo, Jawa Timur.

Di foto yang pernah dilihat penulis di rumahnya, dia bergabung bersama dengan Socheh (pelatih senior di Sidoarjo), Benyamin Leobetty (yang di kemudian hari menjadi perwira polisi), ataupun juga dengan Eko Prayogo (tokoh sepak bola Surabaya yang sudah mendahuluinya meninggal).

Usai dari Perkesa, Suharno pun hijrah ke klub yang lebih moncer prestasinya, Niac Mitra. Sebagai pemain proesional, hanya Perkesa dan Niac Mitra yang pernah dibela.

Karirnya pun lebih banyak dihabiskan sebagai pelatih. Memulai dari klub amatir di Sidoarjo, dia kemudian menjadi asisten pelatih di Niac Mitra.

Tangan dinginnya mulai terasa di Gelora Dewata. Klub yang bermarkas di Denpasar, Bali, tersebut mampu dibawanya menjadi juara Piala Liga.

Setelah itu, hampir setiap tahun, Suharno tak pernah jobless. Arema, Persikab Kabupaten Bandung, Persibat Batang, PSS Sleman, Deltras, PKT Bontang, Persis Solo, Persegres Gresik, hingga akhirnya bersandar lagi di Arema.

Bahkan, ada yang terlupa di karirnya dan banyak orang yang tak mengetahui. Ternyata, Suharno pernah menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia. Bapak satu anak itu melakoninya saat Timnas Indonesia dilatih Nil Maizar atau sebelum dia memoles Persegres.

Hal lain yan selalu dipakai Suharno saat menangani tim adalah memaksimalkan potensi lokal. Di semua tim yang dipoles, asistennya selalu ada yang berasal dari daerah klub setempat.

Di Deltras ada Socheh, di Persis Solo ada Eduard Tjong, di Persegres ada Suwandi HS. dan di Arema ada Kuncoro.

Itu pula yang membuat banyak orang kehilangan. Hingga akhir hayatnya Suharno tetap tak bisa lepas dari sepak bola.

Dia meninggal usai melatih Arema Cronus berlatih. Selamat jalan Suharno. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com