www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Minggu, 16 Agustus 2015

Pernah Jadi Orang Kepercayaan Pengusaha Bus

Iwan Suprijanto bersama kiper PON Jatim 2016
Iwan (kiri atas), Rocky Putiray (kanan) atas dan Nil Maizar
Proyek prestisius PSSI Garuda II pernah menjadi tumpuan harapan memajukan sepak bola Indonesia. Sayang, asa tersebut gagal terealisasi. Namun, beberapa pemainnya masih berkecimpung di lapangan hijau.
--
TUBUHNYA mulai gemuk. Tapi, kegesitannya di bawah mistar tetap belum luntur.

Bahkan, dalam beberapa kali aksinya, lelaki bernama Iwan Suprijanto tersebut melakukan beberapa kali penyelamatan gemilang. Meski, itu hanya dalam sebuah latihan yang dilaksanakan di Lapangan Pandansari, Bungurasih, Sidoarjo.

Posisi kiper memang menjadi tempat asli lelaki kelahiran 1971 tersebut. Bahkan dari berdiri di bawah mistar itu, dia pernah bergabung dalam proyek prestisius, PSSI Garuda II.

''Saya masuk seleksi Garuda II pada 1987. Saya menjadi satu dari dua wakil Jawa Timur yang lolos seleksi,'' kata Iwan.

Dia masuk seleksi berangkat dari perwakilan Surabaya. Di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, Iwan ditempa di Putra Gelora.

Dengan masuk PSSI Garuda II membuat Iwan harus tinggal di Jakarta. Dia mendapat ilmu dari pelatih asal Cekoslowakia Joseph Maspust.

Lelaki yang baru saja meninggal 29 Juni lalu itu merupakan pesepak bola terbaik Eropa pada 1962. Kehadiran Masopust membuat kemampuan Iwan pun meningkat.

Sayang, pada 1990, dia harus meninggalkan Indonesia. Itu, tambah Iwan, berdampak pada keberadaannya.

''Saya dicoret dari PSSI Garuda II saat kepelatihan berpindah ke tangan Iswadi Idris. Selain itu, lutut saya juga mengalami cedera,'' ungkap lelaki dengan postur hampir 180 sentimeter tersebut.

Usai terpental dari proyek ambisius PSSI itu, dia kembali ke Surabaya. Iwan bergabung dengan PS Bank Jatim.

''Saya mampu membawa Bank Jatim menduduki psisi III dalam ajang Galakarya (kompetisi PSSI yang khusus bagi para karyawan perusahaan perusahaan). Setelah itu, saya ke PS Bentoel,'' ujar Iwan.

Di klub asal Jember itu, dia dipoles Rudy Keljtes. Di tim tersebut, dia bergabung bersama Misnadi, yang kelak menjadi penyerang lokal yang disegani di pentas sepak bola nasional.

Arema Malang, ungkapnya, menjadi pelabuhan karir berikutnya Iwan.  Bersama dengan Dwi ''Kirun'' Sasmianto dan Ahmad Yono, ketiganya mengawal gawang tim berjuluk Singo Edan, julukan Arema, itu pada Liga Indonesia I 1994/1995.

''Setelah itu, saya ke Persesa Sampang, Madura. Ada teman yang mengajak ke sana dengan tawaran menjadi PNS di PDAM,'' tambah Iwan.

Hanya, suasana Sampang yang sepi dan jauh dibandingkan Surabaya dan Malang membuatnya tak betah. Iwan pun kembali merantau dan Probolinggo menjadi sasaran.

Saat itu, bos perusahaan bus Akas,Roy, mendirikan klub sepak bola. Tawaran yang menggiurkan membuat Iwan pun bergabung.

Namun, hubungan Iwan dan Roy berlanjut tak hanya di sepak bola. Setelah itu, hubungan keduanya menjadi hubungan bos dan orang kepercayaan. Itu bertahan hingga 2010. Hanya, dia enggan membeberkan alasan meninggalkan Akas.

''Setelah itu, saya jadi pelatih tim Divisi Utama Persbul Buol, Sulawesi Tengah, hingga sekarang. Hanya,panggilan menjadi pelatih kiper PON Jatim membuat saya untuk sementara meninggalkannya,'' pungkas Iwan. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com