www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Kemudikan Bis karena Punya SIM B1

Djoko bukan hanya piawai memberikan intruksi di lapangan
Djoko Susilo masuk dalam deretan pelatih papan atas Indonesia. Di tangannya, tim biasa mampu menjadi tim yang disegani.
--
ADA sebuah bis berwarna kuning di halaman sebuah penginapan utara Stadion Gelora Delta, Sidoarjo. Moda transportasi roda empat tersebut menjadi pengantar tim sepak bola Pra PON Papua 2016 selama berada di Jawa untuk menjalani pemusatan latihan.

Bus yang disewa dari Malang itu sudah dipakai membelah Pulau Jawa. Itu dipakai saat tim Pra PON menjalani laga uji coba ke Kulonprogo, Jogjakarta.

Mereka menghadapi tim Porprov Kulonprogo. Sebuah perjalanan terjauh yang dilakoni tim Pra PON Papua selama di Jawa.

Namun, saat perjalanan   ke Malang, karena harus menghadapi tim senior Indonesia Super League (ISL) Arema Cronus, ada hal yang menarik. Pelatih Pra PON Papua Djoko Susilo menjadi pengemudinya.

"Sopirnya kelihatan  capek. Padahal perjalanan masih jauh karena masih di wilayah saradan,kabupaten madiun," ujar Djoko saat ditemui pada 17 September di Sidoarjo.

Bahkan, asisten Pra PON  Papua Ahmad Nurosadi memuji kelihaian head coachnya mengemudi. Bahkan, mantan kiper Petrokimia Putra Gresik tersebut mengangggap Djoko lebih lihai dibandingkan sopir aslinya.

"Berani cepat dan ditikungan juga ambilnya pas," puji Ahmad.

Memang banyak yang tak tahu bahwa selain berkecimpung menjadi pelatih,Djoko juga sempat berprofesi sebagai sopir.

Bukan sembarang sopir. Ini dikarenakan Djoko mengemudikan truk.

"Sampai sekarang, saya tetap punya SIM B1. Yang terakhir ini dikeluarkan Satlantas Manokwari, Papua Barat," ungkapnya sambil menunjukkan SIM B1 miliknya.

Itu dimiliki saat Djoko menjadi pelatih tim di Perseman Manokwari. Sehingga tak lama lagi, lisence to drive itu tak lama lagi akan habis.

"Mungkin saya akan mdmbuat sim b1 di Jayapura." (*)
Read More

Sudah Paham Karakter Pemain Papua

Djoko Susilo malang melintang di Indonesia Timur.
Bumi papua sudah tak asing baginya. Meski sebenarnya dia berasal dari Malang,Jawa Timur.
--
TAK gampang menangani pesepak bola Papua. Faktor kedisiplinan menjadi masalah utama.

Ini yang membuat tak banyak pelatih yang sukses atau bertahan lama di Bumi Cenderawasih,julukan Papua. Nama Rudy Keltjes, Rahmad Darmawan, dan Jacksen F. Tiago menjadi perkecualian.

Keltjes mampu memoles talenta pesepak bola Papua menjadi sebuah mutiara yang bersinar di luar daerah. Sementara Rahmad dengan latar belakang militer mampu mengantarkan Persipura Jayapura mengakhiri dahaga gelar dengan menjadi juara liga Indonesia pada 2005  Sukses lebih besar dilanjutkan oleh Jacksen.

Selama enam tahun menangani Mutiara Hitam,julukan Persipura, enam gelar mampu dipersembahkan
Mulai dari juara Liga Indonesia. Tiga kali juara yakni pada 2009, 2011, 2013 dan tiga kali runner up pada 2010, 2012,2014.

Selain ketiganya, ada sosok lain yang juga sudah membumi di papua. Siapa? Dia adalah Djoko susilo.

"Saya sejak 2004 menangani tim Papua. Dimulai dari Persiwa wamena," kata djoko saat ditemui usai melatih pemain Pra PON Papua di Sidoarjo pada 17 September 20015.

Hubungan lelaki asal Dampit,Malang, tersebut dengan Badai Pegunungan Tengah,julukan Persiwa, berlangsung lama. Hampir lima tahun.

Setelah itu, Djoko mengembara ke Pulau Jawa. Persela Lamongan dan Gresik United ditangani pada 2011 dan 2012.

"Saya kembali ke Papua dengan menangani Perseman Manokwari. Tapi setelah itu, saya ke Jawa lagi dengan menjadi pelatih Deltras Sidoarjo," lanjut pelatih berusia 55 tahun tersebut.

Eh, dari the Lobster,julukan Deltras,  Djoko balik ke provinsi paling timur Indonesia tersebut. Djoko memoles Persifak fakfak.

Di tangannya, tim tersebut lepas dari jeratan degradasi. Sederet capaiannya bersama tim-tim Papua itu pun membuat Pengprov PSSI setempat kepincut.

"Ada pengurus yang mengontak saya dan menawari untuk menjadi pelatih tim Pra PON Papua. Setelah ada titik temu, saya pun resmi menjadi pelatihnya," tambahnya.

Hanya, tak mudah baginya saat memulai kerja. Dia sudah disodori 40 pesepak bola hasil seleksi.

"Tapi banyak yang tak memenuhi standar. Tak lebih dari separo yang layak," ungkap Djoko.

Untuk itu, dia pun menambahnya dengan tiga pemain dari persipura U21. Nah, materi itu pun terus dioptimalkan Djoko.

"Saya kan sudah hafal karakter anak Papua. Jadi tak terlalu lama memolesnya," ujar lelaki yang pernah membela Persema Malang Junior tersebut.

Di bawah arahannya, Pra PON Papua merajai uji coba. Bahkan, Persipura senior dibuat kerepotan.

"Dua kali main, kami kalah tipis dan imbang," terang Djoko.

Hanya, dia tetap butuh lawan yang seimbang dalam setiap uji coba.  Pilihannya hanya satu, uji coba ke Jawa.

"Semua demi tujuan meloloskan Papua ke PON 2016 di jawa barat. Jangan bicara emas dulu." (*)
Read More

Reuni Seteru yang Lama Tak Bertemu

ITALIA: Bejo Sugiantoro, Anang Ma'ruf, dan Nurul Huda
Proyek Primavera menjadi salah satu agenda ambisius PSSI. Tujuannya untuk mengangkat prestasi sepak bola Indonesia. Sayang, asa itu gagal.
--
ADA Anang Ma;ruf dan Nurul Huda di sebuah lapangan di Surabaya Barat. Itu terjadi pada September 2015.

Bukan pada 1994 atau 1995. Tempatnya juga bukan Italia.

Jika merunut mundur 20 tahun lalu, keduanya tentu masih sangat muda. Saat itu, keduanya sama-sama tengah digembleng di PSSI Primavera.

Primavera merupakan sebuah ajang kompetisi kelompok umur yang ada di Italia. Semua klub, khususnya Serie A, kasta tertinggi, mempunyai tim yang terjun di sana. Anang dan Nurul pun masuk dalam tim tersebut.

Menariknya, keduanya beroperasi di tempat yang sama, bek kanan. Hanya, posisi inti lebih banyak jatuh ke tangan Anang.

Dua tahun lamanya keduanya digembleng di Negeri Pizza, julukan Italia. Hingga akhirnya pada 1995, keduanya pun kembali ke Indonesia dan sama-sama ke Persebaya Surabaya. Namun, setelah itu, keduanya pun berpisah jalan.

Anang masih setia di Green Force, julukan Persebaya, dan Nurul ke Pelita Jaya. Setelah itu, keduanya pun tak pernah bersama lagi.

Jadi, pertemuan di Lapangan Karangan, Wiyung, awal September tersebut menjadi sebuah reuni. Keduanya pun turun ke lapangan bersama-sama membela PS Keres, Surabaya.

Hanya, Nurul yang mengalah. Dia bergeser menjadi gelandang. Sedang Anang tetap di posisi aslinya, bek kanan.

''Mereka produk Primavera yang jarang bisa main bareng,'' kata Bejo Sugiantoro, mantan libero tim nasional Indonesia yang juga digembleng di Italia. Hanya, dia di bawah proyek Baretti atau setelah Primavera.

Meski sudah tak muda lagi, Anang dan Nurul sama-sama berusia 39 tahun, tapi sisa kejayaan keduanya tak hilang. Anang dengan ketenangannya dan Nurul dengan gerakannya yang eksplosif membuat PS Keres mampu tampil bagus.

Sayang, kehidupan keduanya di luar lapangan hijau tak segemilang beberapa rekannya seperti Kurniawan Dwi Yulianto atau Yeyen Tumena. Bahkan, Anang menjadi pembicaraan setelah memutuskan menjadi tukang ojek online.  Tabungan yang dirintisnya sejak muda ludes karena investasinya yang gagal.

Sementara, Nurul menekuni sebagai pelatih di sebuah akademi sepak bola di Sidoarjo. Pendapatannya tak sebesar semasa dia menjadi pesepak bola profesional. (*)

Sekilas duet Primavera
1.Anang Ma;ruf
Usia: 39 tahun
Posisi; bek kanan
Klub yang dibela: Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, Gresik United, PS Mojokerto Putra, Surabaya Muda
Pelatih: Surabaya Football Club, Simo United

2. Nurul Huda
Usia: 39 tahun
Posisi; Bek kanan
Klub yang dibela: Persebaya Surabaya, Pelita Jaya, Pelita Solo, Deltras, PSIS Semarang, Persema Malang, Persijap Jepara, Persida Sidoarjo
Pelatih: Akademi Sepak Bola Real Madrid  
Read More

Punya Teman yang Mengerti Dirinya (2-Habis)

Anang Ma'ruf tak mau mengingat masa lalu
Anang Ma'ruf tak malu untuk terjun sebagai tukang ojek. Hanya, dia tak total di sana. Mengapa?
--
SEBAGAI pesepak bola, Anang Ma'ruf terkenal tak pernah macam-macam. Bahkan, kehidupannnya di luar lapangan pun ikut tak tersorot.

Jadi, ketika dia memutuskan menjadi tukang ojek, pembicaraan pun ramai. Ke mana uang hasil jerih payahnya di lapangan.

''Uang saya pakai untuk investasi. Tapi, sekarang bsudah habis tak tersisa dan tabungan juga ludes,'' ungkap Anang.

Hanya, lelaki 39 tahun tersebut enggan membicarakan masalah itu. Anang tak ingin luka hatinya itu terbuka kembali.

Di saat kondisi ekonominya mulai goyah, untuk ada rekannya, Fachrudin, yang memberikan uluran. Memang bukan dalam bentuk uang secara langsung.

Mantan gelandang Persebaya Surabaya dan Deltras tersebut mengajaknya sibuk di sepak bola lagi. Anang diajaknya menjadi pelatih di sekolah sepak bola.

''Beberapa hari terakhir, saya terjun di SSB Simo United. Hampir setiap hari saya punya kesibukan di lapangan,'' ujar pemain denganbdaya jelajah tinggi tersebut.

Ini, ungkap Anang, bisa mengalihkan pikiran dengan perjalanan hidupnya sekarang. Dia pun juga bisa membagi ilmunya yang segudang saat masih bermain.

''Ilmu yang dari Italia saat saat dilatih di Primavera pun juga saya bagikan,'' ujar Anang.

Dia mengaku memulai dari nol. Hanya, kini, diawalinya sebagai pelatih.

Dia pun berharap kondisi sepak bola Indonesia ikut membaik. Anang berharap, jika itu terjadi akan ikut mempengaruhi pendapatannya sebagai pelatih.(*)
Read More

Memulai Hidup dari Nol Lagi (1)

Anang Ma'ruf melatih Simo United di Lapangan Simo, Surabaya
Anang Ma'ruf jadi perbincangan insan sepak bola nasional. Bukan karena skillnya yang memang terkenal tinggi. Tapi, ini dipicu keputusannya menjadi sopir ojek.
--
NADA suaranya sempat melemah. Matanya pun juga berair.

Tampaknya ada sebuah beban hidup yang disimpan oleh seorang Anang Ma'ruf saat ditemui di Lapangan Simo, Surabaya, pada Rabu (1/9/2015).  Ini sebuah hal yang belum pernah ditemui oleh salah satu bek kanan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia tersebut.

''Saya memulai hidup dari nol lagi. Saya pun tak akan menoleh ke belakang,'' kata Anang.

Ya, dia mengaku bahwa kehidupannya tengah berada di bawah. Uang tabungannya hasil bermain bola selama 21 tahun ludes.

Investasi yang dilakukan di Bali gagal total. Salah seorang kerabat yang dipercayainya tak mampu menjalankan dengan baik.

''Tidak usah disebutkan investasinya apa. Saya tak mau mengenang dan bercerita soal itu,'' terang lelaki 39 tahun tersebut.

Bahkan, untuk bisa memenuhi kebutuhan agar asap dapurnya mengepul, Anang rela melamar menjadi sopir gojek, ojek via online. Nah, saat melamar itu, ada seseorang yang berpose dengannya dan membuat gempar jagad sepak bola nasional.

Anang yang sangat melegenda di sepak bola Indonesia dan juga di Persebaya Surabaya menjadi sopir ojek. Sebuah profesi yang tentu tak pernah terbayangkan.

''Memang, saya sudah diterima jadi sopir ojek. Mengapa saya harus malu?,'' ujar pemain yang pernah digembleng di Italia dalam proyek PSSI Primavera tersebut.  

Dia tak mau nama besarnya membelenggu kehidupannya. Sebab, itu akan membuat anak dan istrinya bakal tak bisa makan.

Apalagi, sejak 2003, Anang menjadi satu-satunya pencari nafkah bagi keluarga.Sang istri, Neni Mardiana, disuruhnya keluar dari pekerjaannya di PJKA.

''Hidup saya saat kecil juga susah. Kondisi seperti ini pernah saya alami saat kecil jadi nggak kaget,'' lanjut pesepak bola yang membawa Persebaya Surabaya juara Liga Indonesia 1996/1997 dan 2004/2005 serta Persija Jakarta 2000/2001 itu. (bersambung)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com