www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Mantan Kiper Timnas Pilih Jualan Sinom

SISA KEJAYAAN: Subakja saat di Stadion Jenggolo
Statusnya pernah menjadi penjaga gawang nasional. Sisa-sisa itu masih ada. Tapi, kini waktunya tercurah menekuni usaha.
--
RAMBUTNYA sudah memutih. Badannya pun sudah tak sekekar dulu saat masih aktif di lapangan hijau.

Hanya, dari seorang Subakja masih terlihat sisa-sisa kejayaannya sebagai salah satu kiper handal. Ya, pada awal 1980-an, dia pernah dipanggil menjadi penjaga gawang nasional Indonesia.

''Saya menjadi kiper bersama Sudarno di ajang Piala Presiden di Korea Selatan pada 1982. Memang, saya pelapisnya Sudarno,'' kata Subakja.

Namun, dia mengakui itu menjadi sebuah kebanggaan baginya. Apalagi, saat itu, persaingan menembus Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, sangat ketat.

Lelaki yang akrab disapa Barja ini memulai karirnya dari Bina Taruna, Jakarta. Hanya, saat itu, klub tersebut, tambahnya, belum dikelola oleh Bea dan Cukai.

''Dari Bina Taruna, saya bisa masuk ke Persija Jakarta Junior pada 1976. Setelah itu, saya masuk ke senior,'' kenang lelaki 57 tahun tersebut.

Setelah lama di Macan Kemayoran, julukan Persija, dia pun hengkang ke klub Galatama Perkesa 78 Sidoarjo. Ajakan dari Iswadi Idris tak kuasa ditolak.

''Hanya, saat pindah ke Jogja, saya nggak ikut. Saya tetap di Sidoarjo,'' lanjut Barja.

Mulai saat itu, hidupnya pun dihabiskan di Kota Udang, julukan Sidoarjo. Setelah menikah, dia pun semakin tak punya keinginan meninggalkan kota yang menjadi penyangga Surabaya tersebut.

''Dari Perkesa, saya sempat membela klub Surabaya di kompetisi internal.Lumayan lama hingga saya benar-benar pensiun sebagai kiper,'' tambah dia.

Meski punya label mantan kiper timnas, Barja ternyata belum pernah dan tak tertarik menjadi pelatih kiper. Bahkan, kini kesibukannya jauh dari sepak bola.

''Sejak setahun terakhir ini, saya berjualan sinom (minuman dengan bahan asam). Dulunya, istri yang membuat. Karena sibuk mengajar, sekarang saya yang membuat sinomnya,'' tambah Barja.

Meski belum puluhan hingga ratusan botol, tapi dia mengakui pemasukannya cukup lumayan. Soal rasa, Barja pun menjamin kelezatannya dan kandungan gizinya.

''Semua asli dari alam,'' pungkasnya. (*)
Read More

Anang Kini Pegawai Dispora Surabaya

HIDUP : Anang Ma'ruf rapi dengan baju batik
Anang Ma'ruf termasuk salah satu legenda sepak bola Indonesia. Sayang, kini kehidupannya tengah dapat cobaan. Namun, Pemerintah Kota Surabaya mulai memberikan perhatian kepadanya. Bentuknya apa?
--
DIA tak memakai celana pendek dan kaos olahraga. Padahal, dulunya dia merupakan bintang lapangan hijau yang membela Indonesia di berbagai ajang internasional.

Bukan juga dengan memakai jaket hijau kombinasi hitam yang membuat sosok seorang Anang Ma'ruf mendapat banyak simpati. Ini karena dia memilih menjadi tukang ojek online seolah investasinya di Bali gagal total dan membuat tabungannya ludes.

Tapi, pada Kamis pagi itu (8/10/2015), Anang memakai baju batik, celana panjang hitam, dan sepatu kulit hitam. Dia pun berada di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya, tempat yang membuat namanya melambung bersama klub yang dibela, Persebaya Surabaya.

''Sekarang saya kerja menjadi staf pengelola Stadion Gelora 10 Nopember. Pekerjaan ini mulai saya jalani per 1 Oktober lalu,'' kata Anang yang didampingi seniornya yang juga mantan kapten Persebaya Ibnu Grahan.

Menurutnya, dia dipanggil oleh salah satu petinggi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Surabaya. Itu setelah kisah kehidupannya mencuat di media massa karena terjun sebagai pengemudi ojek online.

''Saya terima tawaran itu. Alhamdulillah, akhirnya saya dapat perhatian dari pemerintah kota,'' ungkap lelaki 39 tahun tersebut.

Ya, konstribusi Anang bagi Surabaya sangat besar. Dia dua kali mampu membawa Green Force, julukan Persebaya, menjadi juara Divisi Utama, saat itu masih merupakan kasta tertinggi di kompetisi sepak bola Indonesia. Itu pada musim 1996/1997 dan 2004.

Bahkan, dia juga membela Timnas Indonesia pada 1995-1999. Dengan konstribusi medali perak SEA Games 1997 dan perunggu dua tahun kemudian.

Nah, saat masih berada di puncak itu, Anang tak terlalu memikirkan pekerjaan. Padahal, beberapa rekannya sempat bekerja menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Surabaya. Kini, statusnya pun sudah menjadi pegawai tetap.

''Ya nggak apa-apa saya belum tetap. Butuh proses ,'' tambah Anang.

Dengan status pegawai Dispora, Anang pun tak lagi terjun sebagai tukang ojek online. Sejak pagi hingga sore, dia berada di Stadion Gelora 10 Nopember.

''Namun, saya masih punya waktu untuk melatih anak-anak di SSB Simo United,'' lanjut pemain yang juga pernah membawa Persija Jakarta juara Divisi Utama di musim 2001 tersebut.

Sebenarnya, Anang pun mulai menekuni sebagai pelatih. Musim ini, dia merangkap sebagai asisten pelatih di tim Liga Nusantara, Persekama Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Sayang, dibekukannya PSSI oleh Menpora membuat kompetisi Liga Nusantara pun ikut tak bergulir. Anang pun sempat limbung dengan kondisi ini.Sehingga, lelaki yang dikenal mempunyai akurasi umpan yang akurat tersebut melamar menjadi tukang ojek online. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com