www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Dedikasi Tinggi buat Suporter Persebaya

KENANGAN: Tulisan Soepangat yang pernah muncul di blog ini
PERKENALAN dengan Soepangat belum lama. Saya tahu sosok master of ceremony (MC) atau pembawa acara tersebut pada 2001 atau baru 14 tahun.

Rentang waktu ini masih kalah dengan lainnya yang sudah menembus 20 tahun lebih perkenalan mereka dengan Soepangat. Namun, selama rentang waktu itu intensitas berjumpa dengan Soepangat sangat sering.

Saya bisa seminggu tiga hingga lima kali berjumpa dengan Soepangat. Dari dia pula, saya banyak memperoleh informasi seputar sepak bola di Surabaya.

Bukan hanya soal Persebaya, tapi juga klub yang pernah menjadikan Kota Pahlawan, julukan Surabaya, sebagai home-nya.  Ya, selain Green Force, julukan Persebaya,  sempat ada Niac Mitra yang kemudian menjadi Mitra maupun Assayabaab Salim Group.

Soepangat mampu menceritakan kepada saya begitu detail soal ketiganya. Bukan hanya sejarak klub, nama pemain-pemainnya pun masih diingat.

Dia juga paham tentang klub-klub internal Persebaya,kini Askot PSSI Surabaya. Wajar kalau Soepangat disebut sebagai kamus hidup tentang sepak bola Surabaya.

Ada pengalaman lain yang selalu saya kenang tentang Soepangat. Pada 2005, saya mendapat tugas mengikuti Persebaya yang bertanding di ajang Liga Champions Asia di Thailand.

Ketika itu, juara Indonesia tersebut menghadapi Krung Thai Bank, Bangkok. Soepangat datang bersama dengan beberapa pengurus Persebaya termasuk Saleh Ismail Mukadar yang menjadi manajer.

Saya duduk tak jauh dari Soepangat. Dengan jiwanya sebagai penyiar yang selalu menyiarkan laga Persebaya, dia pun mengambil inisiatif meminjam HP handphone pengurus (pinggirlapangan, 21 Agustus 2011).

Dia pun menyiarkan laporan langsung tim yang saat itu ditangani Jacksen F. Tiago tersebut dari Negeri Gajah Putih, julukan Thailand. Dia menyiarkan lima menit sekali pandangan matanya Itu, terang Soepangat, menjadi laporan perdananya ke luar negeri. Ternyata, pertandingan Mursyid Effendi dkk ketika itu dipantau oleh ribuan pasang mata di Surabaya dan sekitar.

Sebenarnya, saya masih punya kesempatan berjumpa dengan Soepangat.Di akhir Oktober 2015, saya sudah ingin menemui lelaki 65 tahun tersebut.

Seorang teman pun menyarankan agar saya segera ke sana kalau mau silaturahmi dengan Soepangat. Alasannya, Soepangat mulai sakit.

Tapi, keinginan itu saya pendam dulu karena ada tugas kantor ke luar mulai 25 Oktober meninggalkan Surabaya . Setelah balik, pada 2 November 2015, saya ingin bersilaturahmi setelah lama tak berjumpa.

Dua hari kemudian, saya mengirim layanan pesan singkat (SMS) ke nomor di HP saya yang tertulis nama Supangat. Seharian tak ada jawaban.

Tapi, pada Kamis pagi (5/11/2015), SMS saya baru dijawab. Tapi, betapa kagetnya.

Isinya menyebutkan bahwa Soepangat telah meninggal dunia pada Rabu malam dan akan dimakamkan pada Kamis pukul 10.00. Penyesalan terukir di dada karena menunda pertemuan dengan sosok yang disegani di lingkungan Persebaya tersebut.
Saya pun berangkat ke rumah duka di Karanggayam. Saya ingin melepas kepergian Soepangat kali terakhir. (*)
Read More

Datang tanpa Melihat Perbedaan

MEMORI: Alm Soepangat selalu dikenang
Soepangat dihormati banyak orang. Tak heran, banyak yang melepas kepergiannya. Sekat berseturuan antara dua Persebaya pun seolah hilang.
--
SUDAH banyak mobil parkir di sekitar Gelora 10 Nopember, Surabaya, pada Kamis pagi (5/11/2015). Para pemilik mobi bukan ingin menyaksikan pertandingan sepak bola yang berlangsung di stadion yang dibangun untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 1969 tersebut.

Mereka datang ke sebuah rumah yang berada sebelah selatan Gelora 10 Nopember atau tepatnya di Jalan Karanggayam. Tujuannya hanya satu, kali terakhir melepas kepergian Soepangat.

Ya, master of ceremony (MC) atau pembawa acara tersebut menutup usia pada umur 65 tahun. Penyakit kanker paru-paru membuat Soepangat menyerah.

Sejak pagi hingga siang, banyak yang datang. Mereka terdiri  sahabat Soepangat yang terdiri dari pengurus, pelatih, hingga pemain dan mantan pemain Persebaya.

Dari barisan pengurus tampak CEO Persebaya Indonesia Cholid Goromah maupun mantan manajer Persebaya Indah Kurnia . Ada juga mantan pelatih Green Force, julukan Persebaya Soebodro.

Dari deretan mantan pemain tampak mesin gol di era 1990-an yang terakhir menjadi asisten pelatih Timnas U-23 Mustaqim, Yusuf Ekodono (bintang di era 1990-an), Seger Sutrisno (gelandang era 1980-an), Maura Hally (gelandang era 1980-an) Roland Pieterz (penyerang era 1990-an) serta kiper Hendra Prasetya (era 2000-an).

Bahkan, mantan kapten dan kini pelatih Bonek FC, dulu Persebaya ISL, pun terlihat. Mereka tak melihat adanya perbedaan saat datang ke pemakaman. Soepangat sendiri dikebumikan di Karanggayam Selatan atau Karanggayam Teratai.

Kehilangan Soepangat pun juga ramai di media sosial. Beberapa pemain dan mantan pemain Persebaya pun memasang foto lelaki yang bekerja di Radio Gelora Surabaya (RGS) tersebut.

''Selamat jalan Pak Pangat. Semoga Khusnul Khotimah.'' Doa dengan dipasang foto Soepangat itu ada di media sosial milik kapten Persebaya 1927 Mat Halil. Begitu juga dengan mantan bek Aulia Tri Hartanto.

Mantan bintang dan juga pernah menjadi pelatih Persebaya Jacksen F. Tiago pun ikut berduka. Meski tengah berada di Malaysia karena menangani tim negeri jiran, Penang FC, sehingga tak bisa hadir langsung, dia mengirimkan sebuah karangan bunga.

Semua benar-benar merasakan kehilangan sosok Soepangat. Hidup dan semangatnya banyak tercurah untuk Persebaya. (*)
Read More

MC Legendaris Itu Berpulang

Suara khasnya bakal tak bisa didengar langsung saat Persebaya Surabaya turun bertanding. Sang empunya, Soepangat, telah menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (5/11)
--
AYO rek, ojo tukaran (Ayo rek jangan berkelahi), Ayo rek ojo dolinan kembang api (Ayo rek jangan berkembang api) atau himbauan lainnya sering terdengar saat Persebaya Surabaya bertanding. Itu terjadi hampir setiap Green Force, julukan Persebaya, turun ke lapangan dalam kompetisi saat menjamu lawan-lawannya.

Dengan suara yang khas, ternyata itu dipatuhi oleh suporter Persebaya yang jumlahnya ribuan atau bahkan puluhan ribu yang datang ke Gelora 10 Nopember, Surabaya. Pemilik suara tersebut Soepangat.

Kharismanya saat menjadi pembaca acara atau master of ceremony menjadi ciri khas saat Persebaya tampil di Gelora 10 Nopember. Namun, mulai Kamis (5/11), suara langsungnya tak akan bisa terdengar lagi.

Pada usia 65 tahun, Soepangat harus menghadap Sang Khaliq. Penyakit kanker paru-paru membuat Supangat menyerah.

''Sudah sebulan dia sakit. Pak Pangat (sapaan karib Supangat) dalam dua minggu harus bolak-balik ke rumah sakit,'' terang Amin Istigfarin, rekan sekerja Supangat yang juga pimpinan Radio Gelora Surabaya (RGS).

Sebelumnya, tak pernah terdengar kabar bapak tiga anak tersebut sakit. Kesibukannya sebagai master ceremony  (MC) dalam pertandingan di Gelora 10 Nopember selalu membuat Soepangat terlihat enerjik.

Bahkan, dalam setiap pertandingan, suaranya yang khas menggelegar membuat siapapun yang mendengarnya akan tercuri perhatian. Namun, butuh waktu yang tak singkat untuk menjadi seperti itu.

''Sejak PON (Pekan Olahraga Nasional) 1969 di Surabaya,Pak Pangat sudah di RGS dan menjadi MC. Dia paham betul menguasai medan Tambaksari (daerah lokasi Gelora Sepuluh Nopember),'' lanjut Amin.

Gelora 10 Nopember sendiri bukan tempat yang asing bagi Soepangat. Rumahnya persis di selatan stadion legendaris tersebut

''Pak Pangat pernah cerita, Gelora 10 Nopember tersebut halaman baginya. Sebelum di bangun jadi stadion,tempat bermainnya ya di situ,'' tambah M Jamil, mantan sekretaris tim Persebaya yang juga sahabat dekat Soepangat.

Suara Soepangat pun tak bisa ditiru oleh MC yang lain. Caranya menghimbau suporter, memanggil nama pemain, serta moment saat Persebaya mencetak gol pun tak ada duanya.

Sayang, semua itu sudah tak ada. Saat meninggalnya Soepangat, rumahnya penuh dan sahabat-sahabatnya. Bukan hanya pemain, pengurus, para wartawan dan suporter pun melepas kepergian MC legendaris itu Selamat jalan Pak Pangat. Semoga khusnul khotimah. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com