www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Pahlawan SEA Games Jadi Perawat Lapangan

SEMANGAT: Yusuf Ekodono (kiri) bersama rekannya, Fatah
STADION Gelora 10 Nopember, Surabaya, terlihat lebih rapi dibandingkan sebelumnya. Itu disebabkan selama hampir dua pekan pada bulan Februari 2016.

Banyak orang berpikir tentu sosok yang membuat lapangan legendaris tersebut pakar di bidang rumput dan tanah. Tapi, siapa sangka, ternyata sosok tersebut merupakan mantan bintang sepak bola Indonesia.

Siapa? Dia adalah Yusuf Ekodono.

Ya, mulai akhir 2015, dia menjadi pegawai honor di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Surabaya, Jawa Timur. Tugasnya, mengurusi lapangan di Surabaya Utara, termasuk Gelora 10 Nopember.

''Tidak ada kata terlambat daripada tidak sama sekali. Jadi, usia bukan halangan,'' kata Yusuf.

Apalagi, urusannya memang masih tak jauh dari sepak bola. Gelora 10 Nopember pun sudah seperti rumah baginya.

Usia Yusuf memang sudah tak muda lagi. Pada 2016, dia sudah menginjak usia 49 tahun.

Selama itu pula, sepak bola selalu lekat dengannya. Yusuf belum pernah merasakan bekerja di kantor atau perusahaan.

Sebenarnya, ini wajar. Dengan skill yang dimiliki tak susah baginya mengais rupiah dari sepak bola. Apalagi, di masa jayanya di era 1980-an hingga 1990-an, hampir semua klub merindukan tanda tangan Yusuf.

Klub besar seperti Persebaya Surabaya dan PSM Makassar pernah dibela. Belum lagi Mitra Surabaya maupun Gelora Dewata ataupun juga Persijap Jepara.

Kostum nasional pun jadi langganan bagi Yusuf. Salah satu sumbangsihnya bagi Indonesia yang akan selalu dikenang adalah emas SEA Games 1991.

Hebatnya, emas itu diraih melalui adu tendangan penalti melawan Thailand di Manila, Filipina. Salah satu penendangnya adalah Yusuf.

Seiring dengan usia yang terus bertambah, dia pun pensiun dan mulai menekuni dunia kepelatihan.

Setiap kali SEA Games dilaksanakan, sepak bola selalu diharap meraih emas. Kali terakhir, Indonesia meraihnya pada 1991 dan salah satu pahlawannya Yusuf Ekodono.

Di Dispora, sebenarnya bukan hanya Yusuf yang pernah berkostum Persebaya. Ada nama Mat Halil,Anang Ma'ruf, ataupun Bejo Sugiantoro.

Tugasnya pun sama. Merawat dan mengawasi lapangan yang ada di Kota Pahlawan. (*)
Read More

Ibnu Ajak Mantan Teman di Lini Tengah

ASISTEN:Putut Wijanarko dampingi Surabaya United
ADA wajah baru di jajaran pelatih Surabaya United. Bukan Tony Ho yang sudah berlabuh ke Pusamania Borneo FC Samarinda.

Dia adalah Putut Wijanarjo. Selama ini,dia lebih banyak menangani tim di luar Kota Pahlawan, julukan Surabaya.

Persid Jember, Persinga Ngawi, dan Persibas Banyumas, Jawa Tengah, merupakan kesebelasan yang pernah ditangani.

Meski sebenarnya, Putut sudah tak asing dengan sepak bola di Surabaya. Dia merupakan mantan gelandang Persebaya di akhir era 1980-an dan awal 1990-an.

''Ya Putut memang jadi asisten saya. Dia menggantikan Tony Ho,'' ungkap Ibnu Grahan, pelatih Surabaya United.

Baginya, Putut juga bukan orang asing. Semasa aktif, Ibnu dan Putut sudah berkolaborasi di lini tengah Green Force, julukan Persebaya. Setelah itu, duet ini kembali bersatu membela klub Surabaya lainnya, Assayabaab Salim Grup.

Di jajaran pelatih, selain Putut juga kembali muncul nama Machrus Afif. Dia mengisi posisi yang ditinggalkan Erick Ibrahim yang diajak Tony Ho ke Pesut Etam, julukan Pusamania Borneo FC.

Hanya, ini seperti kembalinya si anak hilang. Machrus dulu sempat membantu Ibnu di Persebaya.(*)
Read More

Biasakan dengan Sistem Kualifikasi PON

Hanafing dan asisten Yongki Kastanya memberikan pengarahan
TIM sepak bola Jatim terus menggembleng pasukan. Berbagai rangkaian uji coba telah dilakukan dan siap dilaksanakan.

Tujuannya untuk mematangkan persiapan menghadapi Pra Kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) yang rencananya dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat, dalam waktu dekat. Lawan yang dihadapi pun bukan tim sembarangan.

Beberapa tim Indonesia Super League (ISL) pernah dijajal. Bahkan, terakhir,Surabaya United dipermalukan dengan skor 2-0 (1-0) dalam pertandingan uji coba yang dilaksanakan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, pada Jumat (19/2/2016).

''Kami buat sistemnya seperti di kualifikasi PON. Satu hari bertanding dan satu hari istirahat,'' kata Wardi Siagian, salah satu ofisial tim sepak bola PON Jatim.

Ini, tambahnya, dilakukan agar para pemainnya sudah terbiasa dengan sistem yang bisa menguras tenaga dan konsentrasi tersebut. Apalagi, dalam kualifikasi nanti, Jatim berada di grup maut bersama sesama tim Pulau Jawa seperti Banten, DKI Jakarta, Jateng, dan DI Jogjakarta.

Pelatih Hanafing menambahkan, kekompakan anak asuhnya masih perlu banyak pembenahan. Hanya, dia mengakui peningkatan sudah ditunjukan Dendi dkk. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com