www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Menangis Lihat Kondisi Kadipolo


Dia ada di Solo hanya lima musim. Tapi, rentang waktu tersebut membuat Heri Waskito selalu terhari bila datang ke kota tersebut.
--
SEAKAN tak ada habisnya jika berbicara tentang Arseto. Dengan semangat Heri Waskito menceritakan setiap jenggal tentang klub yang didirikan di Jakarta pada 1979 itu.

Klub yang dimiliki Sigit Hardjojodanto, putra presiden II Republik Indonesia Soeharto, merupakan klub profesional pertama Heri. Sebelumnya, dia digembleng di Persebaya Junior dan PSSI Garuda II.

''Saya memilih Arseto karena pemain PSSI Garuda II diarahkan ke sana. Jadi, saya ikut,'' kenangnya.

Dengan banyaknya alumnus PSSI Garuda II itu memuat dia tak mengalami masalah dalam hal adaptasi. Suasana Solo yang tenang dan keramahan warga membuat Heri seolah melupakan Surabaya dan Sidoarjo.

Mess pemain di Kadipolo yang dihuni selama lima musim membuatnya tak bisa dilupakan. Seluk beluk bangunan bekas rumah sakit tersebut masih diingat.

''Kamarnya di sebelah mana saya ingat,'' tambah Heri.

Sehingga, dia menangis saat mengetahui kondisi Mess Kadipolo sekarang. Ya, sekarang tersebut sudah tak terawat.

Bangunan itu dikelilingi tanaman-tanaman liar. Padahal, dulu saat ditempati sangat asri.

''Saya menangis pas lewat sana. Kok bisa jadi seperti ini,'' lanjut Heri.

Selain mess, di Arseto pula dia memperoleh saudara-saudara baru. Hinggi kini, dia masih sering menjalin hubungan dengan para jajaran di Arseto mulai pelatih hingga pemain dan ofisial.

''Sering kontak-kontak juga,'' pungkas Heri. (*)

Read More

Alumnus PSSI Garuda II Pilih Latih Pemain Muda (2)

PENGALAMAN:Heri Waskito punya skill tinggi
Gemblengan di Garuda II membuat skill Heri Waskito terasah. Wajar jika banyak klub yang meminang

--
KEGAGALAN menembus Olimpiade Barcelona II berimbas pada kelangsungan Garuda II. Proyek ambisius yang membutuhkan biaya tak sedikit pun akhirnya dibubarkan pada 1991.

Namun, para pemainnya tak perlu resah. Arseto Solo siap meminang.

Antara PSSI Garuda II dan Arseto memang punya ikatan kuat. Penyokong Garuda II adalah Sigit Hardjojodanto yang juga merupakan pemilik Elang Biru, julukan Arseto.

''Saya masuk di akhir kompetisi musim 1991/1992. Saat itu, Arseto mampu menjadi juara,'' ujar Heri.

Para pemain Garuda II yang ikut gorbong ke Solo antara lain Misrianto (kiper), Abdulnurul Lestalulu, Agung Setyabudi (belakang), Heriansyah, Syaifudin, Heriansyah (gelandang), Zulkarnain Jamil dan Rocky Poetiray (depan). Hanya ada beberapa pemain yang memilih klub lain.

''Salah satunya Neil Maizar yang balik ke Semen Padang. Dia mungkin menganggap persaingan di stopper Arseto berat karena ada pemain-pemain senior,'' ungkap Heri.

Di Arseto, pemain yang beroperasi sebagai gelandang serang tersebut mendapat kepercayaan sebagai pilar inti. Sayang, cedera lutut yang lama diderita membuat dia beberapa harus minggir.

Namun, di Arseto, dia merasa mempunyai keluar baru. Suasan kota Solo membuat lelaki 47 tahun tersebut betah.

Di Kota Bengawan, julukan Solo, Heri menemukan jodoh. Dia mempersunting gadis asal Cemani, Sukoharjo.

Tapi, di Solo, dia hanya bertahan selama lima musim. Keinginan kembali ke kampung halaman membuat Heri berlabuh ke Mitra Surabaya.

''Saya sempat mengantarkan Mitra ke babak semifinal musim 1997. Prestasi yang cukup membanggakan,'' ujar Heri.

Kekacauan politik membuat sepak bola Indonesia vakum. Hal serupa juga menimpa Heri.

''Saya lama valum juga. Dari 1998 hingga 2000 saya tak bergabung ke klub mana-mana. Saya sekalian menyembuhkan sakit lutut,'' ungkap Heri

Tapi, sebuah tawaran dari Persela Lamongan tak kuasa ditolak. Padahal, klub tersebut masih berkutat di Divisi II.

Dia tak merasa turun gengsi meski baru saja berlaga di level Divisi Utama Liga Indonesia. Pada 2000, Divisi Utama merupakan kompetisi tertinggi di Indonesia sebelum adanya Indonesia Super League (ISL).

''Usia juga jadi pertimbangan. Saya sudah kepala tiga dan lutut pun masih sakit,'' tambah Heri.

Bersama Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, dia memberikan konstribusi besar. Persela didongkraknya ke Divisi I.

''Saat di Divisi Utama, manajemen melalui Bupati Masfuk sempat melarang saya keluar. Namun, saya sudah merasa tua untuk jadi pemain,'' tambah Heri.

Kesibukan pekerjaan sebagai penjaga malam di Gedangan, Sidoarjo, menambah aktivitas. Dia harus sering begadang untuk menambah tambahan agar asap dapur mengepul.

''Saya juga mulai melatih. Tapi, saya lebih senang melatih anak-anak,'' lanjut Heri.

Di tangannya beberapa klub mampu melahirkan pesepak bola handa. Prestasi pun mulai datang.

''Ternyata bukan hal yang mudah melatih anak-anak. Tapi, itu menjadi sebuah tantangan,'' ujar lelaki yang dikenal mempunyai skill tinggi tersebut.

Sayang, Heri hanya tertawa saat ditanya sertifikat yang dimiliki. Dia mendapat ilmu kepelatihan dari para jajaran pelatihnya terdahulu saat di PSSI Garuda, Arseto,maupun Persela.

Kali terakhir, Heri dipercaya menjadi pelatih Sidoarjo di ajang Danone Cup 2016. Tapi, ketidakharmonisan tim membuat dia memilih mengundurkan diri.

''Saya tak mau diintervensi. Mereka kan memilih saya dan harusnya kepercayaan penuh ada di tangan saya,'' ujarnya.

Hanya, kejadian tersebut tak membuatnya patah semangat menangani pemain muda. Bahkan, dia tertantang melahirkan pesepak bola yang bisa melebihi kemampuan dan capaian yang pernah diukirnya.. (*)
Read More

Alumnus Garuda II Pilih Latih Pemain Muda-1

PELATIH: Heri Waskito yang sumbangkan ilmu dan pengalaman
PSSI pernah punya banyak program ambisius. Tujuannya untuk memajukan sepak bola Indonesia. Bibit pemain yang digembleng pun bukan sembarang. Mereka pemain-pemain pilihan.
--
TAK mudah melacak jejak para alumnus PSSI Garuda. Kini, mereka tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Di Surabaya dan sekitarnya, tercatat hanya beberapa gelintir. Ada Iwan Suprijanto yang kini menjadi pelatih kiper Tim PON Jatim 2016 dan Iis Falatehan yang memilih berjualan penyetan guna menyambung hidup di kawasan Sepanjang, Sidoarjo.

Tapi, keduanya tak digembleng hingga tuntas. Ada nama pemain yang mampu mengikuti PSSI Garuda II hingga tim tersebut dibubarkan. Ada Priyanto dan Heri Waskito.

Tapi, Adi susah ditemui karena memilih tinggal di Jepang. Dia mengikuti hidup sang istri yang merupakan warga Negeri Sakura, julukan Jepang.

Nah, tentu yang tersisa hanya Heri. Namun, bukan hal yang mudah untuk bertemu dengannya.

Kesibukannya sebagai penjaga malam dan pelatih di berbagai klub membuat harus butuh waktu ekstra untuk menjumpai. Namun, akhirnya kesempatan tersebut datang juga.

''Ketemu di warung kopi saja. Biar kita bisa ngopi bareng,'' tulisan Heri dalam pesan singkatnya.

Dia enggan bertemu di rumahnya yang ada di Wage, Taman, Sidoarjo. Hanya, Heri enggan menjelaskan.

Akhirnya pertemuan pun terlaksana di sebuah warung kopi yang sederhana di depan pintu perumahan Delta Sari, Waru, Sidoarjo. Lelaki 170 sentimeter tersebut tak menunjukkan dirinya sebagai salah satu pemain yang pernah berkostum nasional.

Celana jins dan kaos polo tanpa atribut merek olahraga dikenakan. Hanya sandal sport yang masih membuat Heri kelhatan sebagai seorang mantan atlet.

''Banyak yang berkesan selama di Garuda II. Tim tersebut tak akan pernah saya lupakan dalam hidup,'' jelas Heri sambil menyeruput kopi coklat hangat pesanannya.

Dia tak menyangka bisa masuk dalam proyeksi ambisius yang didanai oleh keluarga Cendana, keluarga penguasa Orde Baru. Apalagi, dia tak masuk dalam seleksi yang dilakukan di Lapangan Arhanudse, Gedangan.

''Saat itu, saya ikut Persebaya Junior dan waktunya bersamaan dengan seleksi PSSI Garuda. Saat itu yang masuk Iwan, Iis, dan Rudy,'' kenang Heri.

Tapi, kesempatan tersebut datang. Dari ajang Piala Soeratin, yang kini jadi Liga Remaja, kemampuan Heri terpantau. Saat itu, Persebaya Junior tengah bertanding di Jawa Tengah.

''Saya mampu menjalani setiap tahap di PSSI Garuda. Hingga akhirnya bisa masuk dalam daftar 30 pemain,'' lanjut Heri.

Bersama PSSI Garuda II pula, dia merasakan digembleng di Eropa tepatnya di Rep Ceko. Meski, sebenarnya, rekan-rekannya memilih di Inggris atau di Prancis.

''Karena pelatih Garuda II kan dari sana (Josef Masopust). Dia bilang bisa mencarikan tim yang bisa dijadikan uji coba,'' ungkap Heri.

Di negeri yang kini terpecah menjadi dua, Rep Ceko dan Rep Ceska tersebut, Heri dkk digembleng selama hampir tiga bulan. Di sana, dia melakoni beberapa kali uji coba.

''Saya mencatatnya. Tapi, buku itu ada di rumah,'' terang lelaki yang memperistri gadis Solo, Jawa Tengah, tersebut.

Dari Garuda II pula, Heri mempunyai kesempatan mengenakan kaos timnas Indonesia. Lambang Garuda di dada itu dikenakan karena dia masuk Tim Pra Olimpiade Indonesia yang bersiap menembus Olimpiade Barcelona 1992.

''Tidak semua pemain Garuda II masuk Pra Olimpiade. Ada tambahan pemain dari luar yang akhirnya masuk Tim Pra Olimpiade,'' papar Heri.

Sayang, hasil yang dicapai tak sesuai harapan. Dalam babak kualifikasi yang dilaksanakan di Surabaya, Indonesia terpuruk (*/bersambung) 
Read More

Pernah Ditangani Ronald Koeman

DEPAN: Emile Bertrand Mbamba
Tak semua pemain asing di Indonesia kelas kacangan. Ada yang pernah merakan kerasnya kompetisi dan antarklubnya.
--
''Sebentar ya, saya mandi dulu.'' kata Emile Bertrand Mbamba yang baru saja berlatih bersama Surabaya United.

Kaos dan celana yang kotor serta buliran keringat membuat lelaki 34 tahun tersebur harus membersihkannya. Dengan lapangan Brigif yang sedikit jeblok, membuat Mbamba, begitu dia akrab disapa, sering jatuh bangun.

Apalagi, karakter permainannya yang ngeyel, membuat pemain asal Kamerun yang berposisi sebagai penyerang tersebut dijatuhkan lawannya dalam internalgame. Tak lama kemudian, usai berganti kaos dan celana, Mbamba pun duduk di tribun mini lapangan yang masuk dalam wilayah Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut.

''Saya sudah betah di Indonesia. Sejak 2007 sudah ada di sini  sehingga sudah tak ada masalah,'' terang Mbamba.

Bertahan lama di kompetisi Indonesia bukan sebuah hal yang mudah. Hanya pesepak bola dengan skill tinggi dan tahan banting yang bisa melakukannya.

Skill dan kemampuan Mbamba memang tak perlu diragukan. Semua karena dia pernah digembleng dalam kompetisi Eropa.

''Saya memulai karir sepak bola profesional dari Belanda. Dari junior dan senior, saya membela Vitesse Arnhem. Di sana, saya sempat dilatih Ronald Koeman,'' kenang pemain kelahiran 28 Oktober 1982 di Youndee itu.

Koeman merupakan salah satu legenda hidup Belanda. Kini, dia menjadi pelatih di Premier League Inggris, Southampton.

Di Vitesse, Mbamba bertahan selama empat musim. Pada 2005, dia hijrah ke Israel dengan membela Maccabi Tel Aviv.

''Saya kembali merasakan kompetisi Eropa. Sebuah pengalaman yang sangat luar biasa,'' ujar Mbamba.

Garis nasib akhirnya membawa ke Indonesia. Seorang teman mengajaknya untuk mengadu nasib di negeri yang belum pernah dikenaknya itu.

Usai tak diperpanjang klub Portugal Victoria Setubal, pemain dengan tinggi 177 sentimeter tersebut mendarat di Arema Malang.

''Habis setahun di Indonesia. Saya pergi ke Sorea Selatan dengan membela Daegu dan dilanjutkan ke Bulgaria,'' ungkap Mbamba.

Namun, kenangan dengan sepak bola Indonesia tak pernah dilupakan. Begitu ada tawaran kembali, Mbamba tak bisa menolak.

''Bontang FC menjadi tujuan. Setelah itu, saya pindah ke berbagai klub seperti Persema Malang, Persepar Palangkaraya, hingga Persiba Bantul,'' tambah Mbamba.

Surabaya menjadi kota yang membuatnya bisa bertahan lama. Apalagi, dia cocok dengan manajemen yang dinakhodai Gede Widiade.

Tapi, beda dengan pemain asing lain, Mbamba ternyata tak memperistri orang Indonesia. Belahan jiwanya tinggal jauh di Paris, Prancis.

''Saya sudah punya satu anak,'' terangnya tanpa menyebut nama istri dan anaknya. (*)



Sekilas Emile Mbamba
Nama lengkap: Emile Bertrand Mbamba

Bahasa Indonesianya lancar karena sudah 9 tahun tinggal

Selalu berpindah klub setiap tahun

Mengaku punya banyak teman di Indonesia
Read More

Kiper Kecil dengan Skill Tinggi

SELEKSI: Wahyu usai latihan bersama Surabaya United
Surabaya United kedatangan mantan kiper Timnas Indonesia Wahyu Tri Nugroho. Kansnya bergabung pun sangat besar.
--
KAOS hijau dan celana panjang hitam dikenakannya. Dia memakainya karena berposisi sebagai kiper.

Sejak Sabtu (19/3/2016), kiper bernama Wahyu Tri Nugroho tersebut menalani seleksi di Surabaya United.

''Masih coba-coba di sini. Semoga aja bisa masuk,'' kata Wahyu.

Dia pun langsung dijajal dalam internal game. Aksinya beberpa kali membuat gawang tim utama aman dari serangan lawan.

Hanya, dari sisi kompetisi, Wahyu sudah lama tak merasakan atmosfer pertandingan sesungguhnya Hampir dua tahun, kiper binaan SSB Putra Sukoharjo, Sukoharjo, Jawa Tengah, tersebut hilang dari orbit

''Ya setelah kompetisi vakum, saya nggak main. Di rumah saja  meski latihan tetap rutin,'' jelas kiper yang kali terakhir mengawal gawang Persiba Bantul, DI Jogjakarta tersebut

Namun, iry tak mengurangi Kualitas dan kemampuan lelaki 30 tahun tersebut. Alasannya, sejak junior, Wahyu selalu menjadi pilihan utama tim nasional.

Meski secara postur, kiper kelahiran 27 Juli 1986 tersebut kurang ideal. Tingginya ''hanya'' 170 centimeter.

Di Surabaya United, postur Wahyu kalah jauh dengan Ryan Thomas, kiper lainnya. Tinggi penjaga gawang nomor satu saat Piala Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) tersebut ,mencapai 185 centimeter.

Dia menutupi dengan skill. Binaan dari SSB Sukoharjp dan dilanjutkan dengan Timnas U-15 di Medan, Sumatera Utara, membuat insan sepak tak pernah sangsi dengan nama Wahyu, yang kadang suka disebut dengan WTN itu.

Usai dari Timnas U-15, karir Wahyu berlanjut ke Timnas U-17 dan U-19. Setelah itu, dia mengembangkan karir bersama Persiba Bantul yang menjadi gemblengan para penggawa U-19.

'Kemampuannya yang terus menanjak membuat Wahyu membela Persis Solo di musim 2006-2009. Laskar Samber Nyawa, julukan Persis Solo, dibuatnya disegani di kancah sepak bola nasional.

Usai dari Persis, Wahyu kembali ke Persiba Bantul hingga kompetisi valum pada 2014. ''Sebenarnya, saya pingin balik ke Persis. Tapi, saya SMS (layanan pesan singkat) ke Agung Setyabudi (pelatih Persis) tidak ada reaksi,'' ucap dia.

Namun, Wahyu pun tak perlu meratapi hal tersebut. Jalan karirnya di sepak bola bisa kembali terdongkrak bersama Surabaya United.

''Wahyu kiper yang bagus. Kalau ada kecocokan, dia segera kami ikat,'' terang pelatih Surabaya United Ibnu Grahan (*)

Sekilas Wahyu Tri Nugroho

-Dibesarkan di SSB Putra Sukoharjo seangkatan dengan mantan penyerang Deltras dan Arema Putut Waringin Jati

-Sejak kecil Wahyu sudah meninggalkan kampung halamannya di sebuah desa di Sukoharjo

-Selalu setia membela tim. Dalam karir seniornya hanya ada dua klub yang diperkuat yakni Persiba Bantul dan Persis Solo

-Punya hobi yang jauh dari urusan sepak bola yakni surfing

-Selama tes di Surabaya United, membawa mobil sendiri dengan plat nomor AB (Jogjakarta)
Read More

Arek Sidoarjo Bawa Nama Indonesia

Pemain SSB GPD yang akan go international
Talenta sepak bola di Sidoarjo tak pernah habis. Kini, mereka punya tim yang akan membawa nama Indonesia di ajang internasional
--
''AYO yang serius. Jangan becanda.'' Teriakan keras meluncur dari bibir Soiril.

Lelaki tersebut adalah pengelola Sekolah Sepak Bola Gelora Putra Delta (GPD), Sidoarjo, Jawa Timur. Dia harus bersikap tegas karena anak asuhnya kelahiran 2003 merupakan kumpulan pesepak bola yang menjadi kebanggaannya.

Mereka baru saja menjadi juara sebuah ajang di Jakarta. Hasil tersebut membuat arek-arek di bawah usia 13 tahun tersebut akan membawa nama Indonesia dalam ajang internasional di Singapura.

''Antara Oktober atau November. Jadi, kami harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin'' lanjut Soiril.

Dari segi postur, para pemain GPD U-14 memang cukup mumpuni. Mayoritas tingginya di atas 160 sentimeter. Tinggi yang di atas rata-rata anak seusia mereka.

Sayang, saat menghadapi SSI Real Madrid di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat (11/3/2016), penampilan mereka belum sesuai harapan.

Awalnya, mereka menguasai permainan. Tapi, tak ada 15 menit, gantian Real Madrid yang lebih mendominasi permainan.

Bahkan, emosi mulai menguasai penggawa GPD. Benturan badan hingga nyaris bentrok pun nyaris terjadi.

Pelaku utamanya pemain belakang GPD. Akibatnya, Soiril pun menarik para pemain yang sudah dikendalikan emosi tersebut.

Apalagi, pelanggaran itu akhirnya berujung gol dan membuat GPD tertinggal 1-2. ''Lihat apa akibat dari yang kamu lakukan? Sudah mau jagoan atau mau sepak bola," maki Soiril kepada anak asuhnya.

Hasil tersebut membuat dia mengakui banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Selain mengajari kontrol emosi, kolektivitas permainan juga menjadi catatan utama.

Soiril optimistis penampilan anak asuhnya bakal semakin membaik. Hasilnya, tentu nama Indonesia akan dibawanya berkibar di Negeri Singa, julukan Singapura. (*)
Read More

Sekarang Terbiasa Membuat Kopi dan Teh

COBRA:Agustiar Batubara di warung kopi miliknya
Gelanggang sepak bola Indonesia yang masih carut marut membuat para pelakunya pun mulai melirik bidang lain. Ada yang memilih menjadi pelatih anak-anak hingga ada yang memilih menekuni bisnis kecil-kecilan.
--
DI sepanjang jalan di Wonosari Kidul, Surabaya, hingga Karangan, Surabaya, banyak berjejer warung kopi (warkop). Semuanya menawarkan kelebihan masing-masing.

Ada yang memberikan fasilitas wifi, meja biliar, hingga arena bermain. Tapi, ada sebuah warkop yang penjualnya beda dengan yang lain. Itu yang bisa menjadi kelebihan dari sebuah warkop yang bernama Cobra. 

Kok bisa? Ya, sang penjualnya adalah satu satu bintang sepak bola di kompetisi Indonesia, Agustiar ''Ucok'' Batuara. Para pembelinya pun orang-orang yang tak jauh dari lapangan hijau.

''Saya baru buka belum satu minggu, tepatnya Sabtu 12 Maret lalu. Ini menjadi tempat teman-teman di Cobra untuk bisa berkumpul,'' terang Ucok.

Cobra sendiri bukan merupakan penggemar ular yang berbahaya tersebut. Cobra merupakan kepanjangan dari Komunitas Brawijaya. Brawijaya sendiri merupakan nama sebuah lapangan sepak bola di kompleks Kodam V Brawijaya, Surabaya, yang tak jauh dari tempat Ucok membuka warkop.

''Dulunya Cobra kumpul di sebuah warung angsle. Tapi setelah tutup, akhirnya ada ide untuk membuka warkop buat kami bisa kumpul bareng,'' tambah lelaki yang sukses mengantarkan Jawa Timur meraih emas Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 tersebut.

Saat ini, pembeli yang singgah di Warkop Cobra memang belum terlalu ramai. Wajar karena belum ada seminggu dibuka.

''Tapi, setiap hari pembeli terus bertambah. Semoga aja bisa tambah dan lancar,'' harap bapak dua anak tersebut.

Sebenarnya, usaha yang dirintis Ucok bukan kali ini saja. Tak jauh di Warkop Cobra atau tepatnya di rumah kediamannya, dia telah membuka usaha cucian (laundry) Sakinah.

Memulai dari nol, usaha tersebut sudah mulai membuahkan hasil. Puluhan kilo pakaian setiap hari sudah masuk ke laundrynya.

''Namun, beda pengelola. Kalau laundry istri, sedangkan warkop ini saya sendiri yang mengurusi,'' ungkap suami dari Kurnia Meidiana tersebut.

Beda pengelolaan ini membuat pasangan suami ini rela jarang berrtemu. Hanya pada tengah malam hingga pagi hari, Ucok dan Kurnia bisa bertemu.

''Pagi saya membuka warkop mulai pukul 08.00. Begitu juga dengan kesibukan istri menguru laundry,'' lanjut lelaki yang berjasa membawa Barito Putera menembus Indonesia Super League (ISL) 2012 tersebut.

Menariknya, meski membuka warkop tapi selama ini Ucok belum pernah membuat kopi atau pun teh. Selama ini, itu dilakukan istri atau bagian umum di setiap klub yang dibela.

''Tapi, kini harus siap membuatkan orang lain. Tak perlu banyak belajar karena lama-lama akan biasa dan bisa,'' jelas bapak Nadya Sukma Batubara dan Naufal Afzal Batubara tersebut.

Meski mulai mengelola warkop, Ucok berjanji tak akan meninggalkan sepak bola. Apalagi, dia sudah dipercaya menangani SSB Cobra.

Sebelum di Cobra, lelaki yang terakhir menjadi pemain Persipur Purwodadi tersebut mulai melatih di SSI Arsenal. Lisensi C nasional yang dimiliki serta pengalamannya segudang membuat Ucok tak mengalami kesulitan menjadi pelatih.

Persipur merupakan klub pemungkas dari karir panjang Ucok.  Berawal dari Putra Gelora, klub anggota internal Persebaya Surabaya, Ucok direkrut Gelora Dewata pada 1998.

Kedua klub tersebut sama-sama menjadi milik H Mislan. Hanya, sebelum itu, meski sebentar, Ucok pernah menghiasi skuad Persebaya Surabaya pada 1997-1998.

Saat Gelora Dewata pindah ke Sidoarjo pada 2000 dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD) dan Delta Putra Sidoarjo (Deltras), Ucok tetap menjadi pilar utama di belakang hingga musim 2004.

Namun, ajakan Jaya Hartono ke Persiba Balikpapan, membuat Ucok pun meninggalkan Deltras pada 2005. Selama semusim di Kota Minyak, julukan Balikpapan, dia kembali ke The Lobster, julukan Deltras.

Saat itu, dia juga diajak Jaya kembali. Namun, setelah itu, Ucok berpindah-pindah ke satu klub ke klub lain. Pelita Jaya, Persela Lamongan, dan Gresik United, dan Barito Putera menjadi pelabuhan karirnya.Di antara semua itu, dia mengukir sukses dengan mengantarkan Gresik United dan Barito Putera promosi ke ISL. (*)
Read More

Bagikan Ilmu dari Italia

DUET: Nurul Huda (kiri) dan Uston Nawawi
Nurul Huda menjadi salah satu produk PSSI Primavera. Di saat kompetisi sepak bola tengah kacau balau, dia pun memilih menjadi pelatih.
--
JALAN Nurul Huda akan dipercepat saat memasuki Stadion Jenggolo, Sidoarjo. Dia kemudian masuk ke dalam ruang ganti stadion milik Pemerintah Daerah tersebut.

Tak lama berselang, penampilannya berbeda dengan saat datang. Sebuah topi dikenakan plus kostum warna biru laut yang padu antara celana dan kaos.

Di topi dan kaos yang dikenakan tertulis Real Madrid. Ya, dalam beberapa bulan terakhir ini, Huda, begitu Nurul Huda disapa, menjadi salah satu staff pelatih di Real Madrid Academy.

''Ilmu sepak bola saya bisa tersalurkanh. Kebetulan, ada yang menawari saya menjadi pelatih,'' jelas Huda saat ditemui di Stadion Jenggolo pada 11 Maret lalu.

Ya, karirnya di Real Madrid sekaligus menjadi sentuhan pertamanya menjadi pelatih. Sebelumnya, lelaki asal Desa Klagen, Sidoarjo, tersebut selalu memilih menjadi pemain.

Bahkan saat kompetisi terakhir di putar atau musim 2014, Huda masih tercatat sebagai pilar Persida Sidoarjo. Bahkan, dia selalu menjadi pilihan inti di ajang Divisi Utama.

Namun, saat usianya terus beranjak, lelaki kelahiran 1976 itu pun mulai berpikir masa depan. Dia mencari lisensi kepelatihan berstandar AFC (Federasi Sepak Bola Asia).

''Saya diajak Yeyen Tumena (rekannya di PSSI Primavera yang menjadi pengurus PSSI). Saya masuk dalam angkatan II,'' terang lelaki yang pernah membela Persebaya Surabaya tersebut.

Dengan lisensi yang dimikiki, sebenarnya tak susah baginya mencari klub. Hingga akhirnya tawaran yang diajukan Real Madrid yang datang kepadanya tak kuasa ditolak.

Di akademi yang berlatih Rabu dan Jumat itu, Huda mendapat kepercayaan menangani pesepak bola usia 17 tahun. Pengalaman yang dimilki diharapkan menular kepada anak asuhnya.

Ya, Huda merupakan salah satu pesepak bola produk PSSI Primavera. Tim yang dulunya diambil dari seleksi pesepak bola terbaik dari seluruh nusantara tersebut digembleng di Italia setahun lebih.

Mereka diharapkan mampu mengangkat prestasi sepak bola Indonesia yang tengah terpuruk. Sayang, proyek jalan pintas tersebut gagal memenuhi asa tersebut.

Usai kembali dari Italia,para pemainnya pun tersebar ke berbagai klub. Huda sempat berkostum Persikabo Kabupaten Bogor, Pelita Jaya, Deltras Sidoarjo, PSIS Semarang, hingga Persijap Jepara.

Saat usianya mulai mendekati kepala empat, Huda membela Laskar Jenggolo, julukan Persida. Di Real Madrid Academy, dia masuk jajaran pelatih bersama mantan pemain nasional yang juga juniornya di kampung halaman Uston Nawawi. Selain itu, ada juga mantan kiper Deltras Sidoarjo dan Persekabpas Kabupaten Pasuruan Ari Kurniawan.(*)
Read More

Bintang Persebaya Itu Sudah Longgar

SKILL: Johny Fahamsyah
Dia menjadi salah satu bintang lapangan hijau yang dilahirkan dari Persebaya Surabaya. Johny Fahamsyah pun selalu disebut sebagai pesepak bola dengan nama besar.
--
KERINGAT masih mengucur dari tubuh Johny Fahamsyah. Dia pun mengambil tas dan naik ke tempat duduk teratas di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat (11/3/2015).

Dia baru saja berlatih bersama para pesepak bola Ortas. Aktivitas tersebut sudah dua bulan terakhir dilakukan oleh lelaki yang kini berusia 58 tahun tersebut.

‘’Saya ingin cari keringat di lapangan sepak bola. Badan jadi enak kalau keluar keringat banyak seperti ini,’’ kata Johny.

Meski sudah tergolong uzur, skill yang dimilikinya tak luntur. Umpan-umpannya masih terukur dan gerakan tanpa bolanya mampu mengecoh para lawan.

Ini wajar karena di masa mudanya, Johny merupakan bintang lapangan hijau. Prestasi juara sudah disumbangkannya kepada Persebaya.

‘’Saya menjadi juara junior pada 1976. Di final, kami mengalahkan Padang,’’ kenangnya.

Prestasi itu membuat Johny dipromosikan ke level senior. Bersama beberapa rekan seperti Joko Malis dan Riono Asnan, mereka bergabung di senior yang bertabur pemain bintang.

‘’Saya bermain gelandang. Di posisi tersebut persaingan ketat. Ada Rudy Keltjes dan Abdul Kadir yang sudah terkenal,’’ tambah Johny.

 Tapi, itu tak membuatnya minder. Dia malah mengaku tertantang untuk menampilkan kemampuan terbaik.

Para senior pun mampu digesernya. Bahkan, sumbangsihnya mampu mengantarkan Green Force, julukan Persebaya, mampu menjadi juara nasional musim 1977/1978.

‘’Saya pun dipanggil timnas junior juga. Tak terbayangkan betapa bangganya bisa membela bangsa dan negara,’’ ujarnya.

Semakin bersinarnya Johny membuat dia pun harus meninggalkan Surabaya. Tawaran dari klub Galatama, Indonesia Muda, tak bisa ditolak.

Apalagi, dia merupakan pesepak bola binaan Indonesia Muda juga. Di ibu kota, nama Johny semakin melambung.

‘’Di Jakarta, saya juga kuliah. Ada manfaatknya juga ke sana,’’ tambah Johny.

Meski bermain sepak bola, tapi dia juga menerima tawaran bekerja di Pertamina. Hanya, pekerjaan tersebut ikut ditinggalkan ketika ke Jakarta.

Setelah di Indonesia Muda, lelaki jangkung ini sempat berkostum Tunas Inti. Kemampuannya pun semakun terasah.

‘’Saya ikut membela Indonesia di berbagai turnamen. Salah satunya SEA Games 1981’’ kenang Johny.

Pada 1985, dia kembali ke Surabaya. Panggilan kerja di Bank Jatim tak kuasa ditolak.

‘’Tak rugi saya kuliah S1 di Jakarta. Ijazah tersebut ada gunanya,’’ tambah bapak empat anak tersebut.

Di bank milik pemerintah provinsi Jawa Timur tersebut dia tetap tak bisa lepas dari sepak bola. Hanya, kesibukan dan rutinasnya di kantor sudah tak membuatnya punya waktu.

Apalagi, ketika itu, Persebaya sudah mempunyai bintang-bintang muda. Johny pun mulai memikirkan serius kepada karirnya di Bank Jatim.

Setelah pensiun sebagai pesepak bola, Johny berkarir sebagai pelatih. Posisi itu masih memungkinannya untuk bisa berbagi dengan pekerjaan.


‘’Saya sempat mengantarkan Persebaya Junior menembus final  Liga Remaja musim 1995. Materinya memang sangat di semua lini,’’ terang Johny. 

Dia menyebut ada nama Agung Prasetyo di posisi kiper, Bejo Sugiantoro dan Anang Ma’ruf di belakang. Kelak para  anak muda tersebut menjadi bintang kala menginjak senior.

Kesuksesan tersebut membuat Johny pun dapat amanah menjadi pelatih di senior. Dia bertugas bersama Rusdy Bahalwan dan Soebodro.

‘’Saat itu Liga Indonesia III. Ada Jacksen (Tiago) dan Carlos de Mello dari Brasil. Sayang , saya tak bisa melanjutkan tugas sebagai pelatih hingga akhir musim,’’ terang Johny sambil menceritakan alasan memilih mundur sebagai pelatih Green Force.

Keputusannya lebih fokus ke pekerjaan pun membuahkan hasil. Menjelang akhir karirnya, dia sempat dipercaya menjadi kepala cabang Bank Jatim Mojokerto.

‘’Baru setahun sebelum pensiun, saya ingin di cabang Sidoarjo. Biar bisa dekat rumah’’ ujar Johny yang tinggal di Perumahan Pondok Jati tersebut.

Namun, meski mempunyai empat anak, tak ada satu pun yang meneruskan karirnya sebagai pesepak bola. Satu-satunya anak lelaki yang dimiliki memilih menekuni musik dan arsitektur.

‘’Saya lebih banyak sendiri di rumah setelah pensiun. Jadi masih bisa main sepak bola lagi’’ (*)
Read More

Bantu Melatih usai Jaga Malam

BARU:Khodari Amir saat bertugas malam
Khodari Amir pernah melangkang di berbagai klub. Sentuhannya sebagai asisten pelatih pun membuat Borneo FC Pusamania menembus Indonesia Super League (ISL). Tapi, pekerjaannya yang dia tekuni malah jauh dari urusan sepak bola.
--
SEORANG petugas keamanan memakai baju seragam putih dan celana biru. Dia tengah berbincang dengan dua rekannya di depan sebuah kantor bank di kawasan Kutisari, Surabaya, pada Minggu (6/3/2016).

Tak terlihat matanya memerah ataupun suara uapan. Padahal, jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB.

‘’Saya kira tadi nggak jadi ke sini. Waktu kan tambah malam, tapi Mas belum ke sini juga,’’ kata petugas keamanan dengan nama K. Amir di dadanya.

Ya, dia adalah Khodari Amir. Bagi insan sepak bola, khususnya di Surabaya dan Sidoarjo ataupun Jawa Timur, lelaki 40 tahun tersebut bukan nama yang asing.

Namanya mulai mencuat saat bergabung dengan Mitra ABG. Dinamakan ABG karena dihunin oleh para pemain yang masih muda usia dari klub Assyabaab, Surabaya.

‘’Saya baru satu tahun di Assyabaab. Sempat seleksi di Persebaya dicoret, saya malah bisa bermain di Liga Indonesia dengan membela Mitra,’’ terang Amir.

Padahal, hal tersebut tak pernah terbayangkan olehnya. Awalnya, dia hanya ingin menimba ilmu bola di Surabaya.

‘’Saya kan dari Desa Tulangan yang berada di selatan Sidoarjo. Kalau mau maju ya harus ke Surabaya,’’ ungkap Amir, sapaan karibnya.

Dia diajak oleh dua seniornya di Tulangan yakni M. Socheh dan Muzaky. Keduanya merupakan bintang lapangan hijau di kecamatan tersebut dan pernah berkostum Persebaya Surabaya.

‘’Saya disarankan ke Assyabaab. Klub tersebut klub besar yang pas buat saya kata keduanya,’’ ucap Khodari.

Sayang, Mitra ABG hanya berusia semusim yakni 1997-1998. Tapi, label dari klub tersebut membuat dia tak susah mencari sandaran.

‘’Setelah dari Mitra, saya berpindah ke banyak klub. Mulai dari Perseden Denpasar, Persegi Gianyar, Deltras Sidoarjo, Persida Sidoarjo, PSIR Rembang, Mojokerto Putra hingga Mitra Kutai Kartanegara,’’ tambah Amir.

Dari semua klub tersebut, jelas bapak tiga anak tersebut, hanya di Persegi bisa bertahan lebih dari semusim. Selebihnya, dia akan berganti kostum.

Namun, Amir selalu meninggalkan prestasi bagi klub yang diikuti. Mayoritas mereka promosi ke level yang lebih tinggi.

Namun, seiring usia yang terus bertambah, Amir pun mulai dua tahun lalu sudah menempatkan diri menjadi asisten pelatih.

‘’Saya membantu Bang Nus (Nus Yadera). Borneo pun mampu lolos ke ISL,’’ ujar bapak tiga anak tersebut.

Sayang, saat dia merintis karir sebagai pelatih, dunia sepak bola Indonesia dilanda kekacaun. Pembekuan PSSI oleh pemerintah membuat kompetisi pun terhenti.

‘’Saya pun mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lain di sepak bola. Padahal, selama ini, saya belum pernah melakukannya,’’ lanjut Amir.

Untung, sahabatnya di Assayabaab, Hari Saptono, memberikan tawaran kepadanya. Bukan sebagai pegawai kantor memang.

‘’Sama seperti Hari, saya menjadi petugas keamanan di bank. Ini sudah saya jalani lima bulan lalu,’’ ujar Amir yang bisa beroperasi di posisi bek kanan dan kiri tersebut.

Awalnya, dia masih canggung karena harus bertugas malam. Sebuah hal yang selama ini juga hampir tak pernah dilakukan.

‘’Tapi lama-lama sudah biasa. Sekarang malah biasa tak bisa tidur malam,’’ ujar Amir.

Hanya, dia mengku tetap tak bisa meninggalkan sepak bola. Usai bekerja, Amir masih menyempatkan ke lapangan guna membantu Nus melatih.

‘’Persiapan Gresik United ke Piala Gubernur Kaltim, saya ikut membantu. Tapi, saya tak bisa ikut ke Kalimantan karena terbentur pekerjaan,’’ jelasnya. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com