www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Jumat, 25 Maret 2016

Alumnus PSSI Garuda II Pilih Latih Pemain Muda (2)

PENGALAMAN:Heri Waskito punya skill tinggi
Gemblengan di Garuda II membuat skill Heri Waskito terasah. Wajar jika banyak klub yang meminang

--
KEGAGALAN menembus Olimpiade Barcelona II berimbas pada kelangsungan Garuda II. Proyek ambisius yang membutuhkan biaya tak sedikit pun akhirnya dibubarkan pada 1991.

Namun, para pemainnya tak perlu resah. Arseto Solo siap meminang.

Antara PSSI Garuda II dan Arseto memang punya ikatan kuat. Penyokong Garuda II adalah Sigit Hardjojodanto yang juga merupakan pemilik Elang Biru, julukan Arseto.

''Saya masuk di akhir kompetisi musim 1991/1992. Saat itu, Arseto mampu menjadi juara,'' ujar Heri.

Para pemain Garuda II yang ikut gorbong ke Solo antara lain Misrianto (kiper), Abdulnurul Lestalulu, Agung Setyabudi (belakang), Heriansyah, Syaifudin, Heriansyah (gelandang), Zulkarnain Jamil dan Rocky Poetiray (depan). Hanya ada beberapa pemain yang memilih klub lain.

''Salah satunya Neil Maizar yang balik ke Semen Padang. Dia mungkin menganggap persaingan di stopper Arseto berat karena ada pemain-pemain senior,'' ungkap Heri.

Di Arseto, pemain yang beroperasi sebagai gelandang serang tersebut mendapat kepercayaan sebagai pilar inti. Sayang, cedera lutut yang lama diderita membuat dia beberapa harus minggir.

Namun, di Arseto, dia merasa mempunyai keluar baru. Suasan kota Solo membuat lelaki 47 tahun tersebut betah.

Di Kota Bengawan, julukan Solo, Heri menemukan jodoh. Dia mempersunting gadis asal Cemani, Sukoharjo.

Tapi, di Solo, dia hanya bertahan selama lima musim. Keinginan kembali ke kampung halaman membuat Heri berlabuh ke Mitra Surabaya.

''Saya sempat mengantarkan Mitra ke babak semifinal musim 1997. Prestasi yang cukup membanggakan,'' ujar Heri.

Kekacauan politik membuat sepak bola Indonesia vakum. Hal serupa juga menimpa Heri.

''Saya lama valum juga. Dari 1998 hingga 2000 saya tak bergabung ke klub mana-mana. Saya sekalian menyembuhkan sakit lutut,'' ungkap Heri

Tapi, sebuah tawaran dari Persela Lamongan tak kuasa ditolak. Padahal, klub tersebut masih berkutat di Divisi II.

Dia tak merasa turun gengsi meski baru saja berlaga di level Divisi Utama Liga Indonesia. Pada 2000, Divisi Utama merupakan kompetisi tertinggi di Indonesia sebelum adanya Indonesia Super League (ISL).

''Usia juga jadi pertimbangan. Saya sudah kepala tiga dan lutut pun masih sakit,'' tambah Heri.

Bersama Laskar Joko Tingkir, julukan Persela, dia memberikan konstribusi besar. Persela didongkraknya ke Divisi I.

''Saat di Divisi Utama, manajemen melalui Bupati Masfuk sempat melarang saya keluar. Namun, saya sudah merasa tua untuk jadi pemain,'' tambah Heri.

Kesibukan pekerjaan sebagai penjaga malam di Gedangan, Sidoarjo, menambah aktivitas. Dia harus sering begadang untuk menambah tambahan agar asap dapur mengepul.

''Saya juga mulai melatih. Tapi, saya lebih senang melatih anak-anak,'' lanjut Heri.

Di tangannya beberapa klub mampu melahirkan pesepak bola handa. Prestasi pun mulai datang.

''Ternyata bukan hal yang mudah melatih anak-anak. Tapi, itu menjadi sebuah tantangan,'' ujar lelaki yang dikenal mempunyai skill tinggi tersebut.

Sayang, Heri hanya tertawa saat ditanya sertifikat yang dimiliki. Dia mendapat ilmu kepelatihan dari para jajaran pelatihnya terdahulu saat di PSSI Garuda, Arseto,maupun Persela.

Kali terakhir, Heri dipercaya menjadi pelatih Sidoarjo di ajang Danone Cup 2016. Tapi, ketidakharmonisan tim membuat dia memilih mengundurkan diri.

''Saya tak mau diintervensi. Mereka kan memilih saya dan harusnya kepercayaan penuh ada di tangan saya,'' ujarnya.

Hanya, kejadian tersebut tak membuatnya patah semangat menangani pemain muda. Bahkan, dia tertantang melahirkan pesepak bola yang bisa melebihi kemampuan dan capaian yang pernah diukirnya.. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com