www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 07 Maret 2016

Bantu Melatih usai Jaga Malam

BARU:Khodari Amir saat bertugas malam
Khodari Amir pernah melangkang di berbagai klub. Sentuhannya sebagai asisten pelatih pun membuat Borneo FC Pusamania menembus Indonesia Super League (ISL). Tapi, pekerjaannya yang dia tekuni malah jauh dari urusan sepak bola.
--
SEORANG petugas keamanan memakai baju seragam putih dan celana biru. Dia tengah berbincang dengan dua rekannya di depan sebuah kantor bank di kawasan Kutisari, Surabaya, pada Minggu (6/3/2016).

Tak terlihat matanya memerah ataupun suara uapan. Padahal, jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB.

‘’Saya kira tadi nggak jadi ke sini. Waktu kan tambah malam, tapi Mas belum ke sini juga,’’ kata petugas keamanan dengan nama K. Amir di dadanya.

Ya, dia adalah Khodari Amir. Bagi insan sepak bola, khususnya di Surabaya dan Sidoarjo ataupun Jawa Timur, lelaki 40 tahun tersebut bukan nama yang asing.

Namanya mulai mencuat saat bergabung dengan Mitra ABG. Dinamakan ABG karena dihunin oleh para pemain yang masih muda usia dari klub Assyabaab, Surabaya.

‘’Saya baru satu tahun di Assyabaab. Sempat seleksi di Persebaya dicoret, saya malah bisa bermain di Liga Indonesia dengan membela Mitra,’’ terang Amir.

Padahal, hal tersebut tak pernah terbayangkan olehnya. Awalnya, dia hanya ingin menimba ilmu bola di Surabaya.

‘’Saya kan dari Desa Tulangan yang berada di selatan Sidoarjo. Kalau mau maju ya harus ke Surabaya,’’ ungkap Amir, sapaan karibnya.

Dia diajak oleh dua seniornya di Tulangan yakni M. Socheh dan Muzaky. Keduanya merupakan bintang lapangan hijau di kecamatan tersebut dan pernah berkostum Persebaya Surabaya.

‘’Saya disarankan ke Assyabaab. Klub tersebut klub besar yang pas buat saya kata keduanya,’’ ucap Khodari.

Sayang, Mitra ABG hanya berusia semusim yakni 1997-1998. Tapi, label dari klub tersebut membuat dia tak susah mencari sandaran.

‘’Setelah dari Mitra, saya berpindah ke banyak klub. Mulai dari Perseden Denpasar, Persegi Gianyar, Deltras Sidoarjo, Persida Sidoarjo, PSIR Rembang, Mojokerto Putra hingga Mitra Kutai Kartanegara,’’ tambah Amir.

Dari semua klub tersebut, jelas bapak tiga anak tersebut, hanya di Persegi bisa bertahan lebih dari semusim. Selebihnya, dia akan berganti kostum.

Namun, Amir selalu meninggalkan prestasi bagi klub yang diikuti. Mayoritas mereka promosi ke level yang lebih tinggi.

Namun, seiring usia yang terus bertambah, Amir pun mulai dua tahun lalu sudah menempatkan diri menjadi asisten pelatih.

‘’Saya membantu Bang Nus (Nus Yadera). Borneo pun mampu lolos ke ISL,’’ ujar bapak tiga anak tersebut.

Sayang, saat dia merintis karir sebagai pelatih, dunia sepak bola Indonesia dilanda kekacaun. Pembekuan PSSI oleh pemerintah membuat kompetisi pun terhenti.

‘’Saya pun mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lain di sepak bola. Padahal, selama ini, saya belum pernah melakukannya,’’ lanjut Amir.

Untung, sahabatnya di Assayabaab, Hari Saptono, memberikan tawaran kepadanya. Bukan sebagai pegawai kantor memang.

‘’Sama seperti Hari, saya menjadi petugas keamanan di bank. Ini sudah saya jalani lima bulan lalu,’’ ujar Amir yang bisa beroperasi di posisi bek kanan dan kiri tersebut.

Awalnya, dia masih canggung karena harus bertugas malam. Sebuah hal yang selama ini juga hampir tak pernah dilakukan.

‘’Tapi lama-lama sudah biasa. Sekarang malah biasa tak bisa tidur malam,’’ ujar Amir.

Hanya, dia mengku tetap tak bisa meninggalkan sepak bola. Usai bekerja, Amir masih menyempatkan ke lapangan guna membantu Nus melatih.

‘’Persiapan Gresik United ke Piala Gubernur Kaltim, saya ikut membantu. Tapi, saya tak bisa ikut ke Kalimantan karena terbentur pekerjaan,’’ jelasnya. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com