www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Sabtu, 12 Maret 2016

Bintang Persebaya Itu Sudah Longgar

SKILL: Johny Fahamsyah
Dia menjadi salah satu bintang lapangan hijau yang dilahirkan dari Persebaya Surabaya. Johny Fahamsyah pun selalu disebut sebagai pesepak bola dengan nama besar.
--
KERINGAT masih mengucur dari tubuh Johny Fahamsyah. Dia pun mengambil tas dan naik ke tempat duduk teratas di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Jumat (11/3/2015).

Dia baru saja berlatih bersama para pesepak bola Ortas. Aktivitas tersebut sudah dua bulan terakhir dilakukan oleh lelaki yang kini berusia 58 tahun tersebut.

‘’Saya ingin cari keringat di lapangan sepak bola. Badan jadi enak kalau keluar keringat banyak seperti ini,’’ kata Johny.

Meski sudah tergolong uzur, skill yang dimilikinya tak luntur. Umpan-umpannya masih terukur dan gerakan tanpa bolanya mampu mengecoh para lawan.

Ini wajar karena di masa mudanya, Johny merupakan bintang lapangan hijau. Prestasi juara sudah disumbangkannya kepada Persebaya.

‘’Saya menjadi juara junior pada 1976. Di final, kami mengalahkan Padang,’’ kenangnya.

Prestasi itu membuat Johny dipromosikan ke level senior. Bersama beberapa rekan seperti Joko Malis dan Riono Asnan, mereka bergabung di senior yang bertabur pemain bintang.

‘’Saya bermain gelandang. Di posisi tersebut persaingan ketat. Ada Rudy Keltjes dan Abdul Kadir yang sudah terkenal,’’ tambah Johny.

 Tapi, itu tak membuatnya minder. Dia malah mengaku tertantang untuk menampilkan kemampuan terbaik.

Para senior pun mampu digesernya. Bahkan, sumbangsihnya mampu mengantarkan Green Force, julukan Persebaya, mampu menjadi juara nasional musim 1977/1978.

‘’Saya pun dipanggil timnas junior juga. Tak terbayangkan betapa bangganya bisa membela bangsa dan negara,’’ ujarnya.

Semakin bersinarnya Johny membuat dia pun harus meninggalkan Surabaya. Tawaran dari klub Galatama, Indonesia Muda, tak bisa ditolak.

Apalagi, dia merupakan pesepak bola binaan Indonesia Muda juga. Di ibu kota, nama Johny semakin melambung.

‘’Di Jakarta, saya juga kuliah. Ada manfaatknya juga ke sana,’’ tambah Johny.

Meski bermain sepak bola, tapi dia juga menerima tawaran bekerja di Pertamina. Hanya, pekerjaan tersebut ikut ditinggalkan ketika ke Jakarta.

Setelah di Indonesia Muda, lelaki jangkung ini sempat berkostum Tunas Inti. Kemampuannya pun semakun terasah.

‘’Saya ikut membela Indonesia di berbagai turnamen. Salah satunya SEA Games 1981’’ kenang Johny.

Pada 1985, dia kembali ke Surabaya. Panggilan kerja di Bank Jatim tak kuasa ditolak.

‘’Tak rugi saya kuliah S1 di Jakarta. Ijazah tersebut ada gunanya,’’ tambah bapak empat anak tersebut.

Di bank milik pemerintah provinsi Jawa Timur tersebut dia tetap tak bisa lepas dari sepak bola. Hanya, kesibukan dan rutinasnya di kantor sudah tak membuatnya punya waktu.

Apalagi, ketika itu, Persebaya sudah mempunyai bintang-bintang muda. Johny pun mulai memikirkan serius kepada karirnya di Bank Jatim.

Setelah pensiun sebagai pesepak bola, Johny berkarir sebagai pelatih. Posisi itu masih memungkinannya untuk bisa berbagi dengan pekerjaan.


‘’Saya sempat mengantarkan Persebaya Junior menembus final  Liga Remaja musim 1995. Materinya memang sangat di semua lini,’’ terang Johny. 

Dia menyebut ada nama Agung Prasetyo di posisi kiper, Bejo Sugiantoro dan Anang Ma’ruf di belakang. Kelak para  anak muda tersebut menjadi bintang kala menginjak senior.

Kesuksesan tersebut membuat Johny pun dapat amanah menjadi pelatih di senior. Dia bertugas bersama Rusdy Bahalwan dan Soebodro.

‘’Saat itu Liga Indonesia III. Ada Jacksen (Tiago) dan Carlos de Mello dari Brasil. Sayang , saya tak bisa melanjutkan tugas sebagai pelatih hingga akhir musim,’’ terang Johny sambil menceritakan alasan memilih mundur sebagai pelatih Green Force.

Keputusannya lebih fokus ke pekerjaan pun membuahkan hasil. Menjelang akhir karirnya, dia sempat dipercaya menjadi kepala cabang Bank Jatim Mojokerto.

‘’Baru setahun sebelum pensiun, saya ingin di cabang Sidoarjo. Biar bisa dekat rumah’’ ujar Johny yang tinggal di Perumahan Pondok Jati tersebut.

Namun, meski mempunyai empat anak, tak ada satu pun yang meneruskan karirnya sebagai pesepak bola. Satu-satunya anak lelaki yang dimiliki memilih menekuni musik dan arsitektur.

‘’Saya lebih banyak sendiri di rumah setelah pensiun. Jadi masih bisa main sepak bola lagi’’ (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com