www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Bangga Pernah Tampil di Piala Dunia

ORTAS: Ipong (kiri) bercanda usia latihan di Stadion Jenggolo
Tim junior Indonesia pernah merasakan menembus Piala Dunia. Itu terjadi pada 1979. Sebuah kenangan yang susah untuk dilupakan
--
SAAT berjalan kakinya agak ditekuk. Tingginya pun tak sampai 160 sentimeter.

Namun, kondisi tersebut tak mengurangi kemampuan Ipong Sunyoto. Padahal, usianya pada 2016 ini sudah menginjak 64 tahun.

Dia tetap bergerak lincah di tengah lapangan maupun di sisi kanan. Sebenarnya, itu wajar.

Ipong merupakan pesepak bola yang pernah membela Indonesia di ajang internasional. Tapi, bukan di level senior.

''Saya pernah membela Indonesia dalam Piala Dunia Junior 1979. Saat itu, kejuaraan dilaksanakan di Tokyo, Jepang,'' kenang Ipong.

Saat itu, dia ditangani oleh pelatih legendaris Djamiat Dalhar dengan asisten Ipong Silalahi. Salah satu rekan satu timnya adalah Bambang Nurdiansyah, yang kelak setelah senior menjadi salah satu penyerang andalan Indonesia.

Tapi, bukan bersama Bambang yang membuatnya selalu mengingat bermain di Negeri Sakura, julukan Jepang. Dia menjadi saksi aksi dari salah satu legenda lapangan hijau dunia, Diego Armando Maradona.

Sihirnya membuat para pemain Indonesia seperti masih diajari main bola. Merah putih diluluh lantakan dengan enam gol tanpa balas.

''Dia sudah kelihatan sebagai pemain dunia meski masih junior,'' kenang Ipong.

Kekalahan tersebut membuat Indonesia kali kedua digelontor gol. Setelah sebelumnya, ucapnya, Pasukan Garuda Muda dihajar Uni Soviet, kini jadi Rusia, dengan 0-5.

Meski babak belur, tapi Ipong tetap merasa bangga. Bisa berlaga dalam Piala Dunia dengan membela negara tak bisa dinilai dengan materi.

''Apalagi, setelah itu,sampai sekarang, Indonesia tak pernah bisa lolos. Termasuk terakhir Evan Dimas dan kawan-kawan,'' terang Ipong.

Ipong sendiri bisa membela Timnas Indonesia usai mengantarkan Persebaya Surabaya berjaya di ajang Piala Suratin. Di level junior, Ipong hampir tiga kali berlaga di ajang bagi pesepak bola di bawah usia 19 tahun tersebut. Salah satunya dengan menjadi juara pada 1976.

Sayang, karir yang cemerlang di level junior gagal berlanjut di senior. Bapak dua putri tersebut memilih bekerja di perusahana negara Pertamina.

''Ada beberapa tawaran dari klub-klub. Tapi, izin bekerja yang harus dari Jakarta membuat saya lebih baik bermain di Pertamina saja,'' jelas Ipong.

Hingga pensiun 2013, dia tetap berkarir di perusahaan yang mengurusi bahan bakar di Indonesia tersebut. Meski sibuk dengan pekerjaan, Ipong tetap menyempatkan berlatih sepak bola sampai sekarang.

''Ya sesekali ke Madiun mengenguk cucu di sana. Anak saya yang satu belum menikah xdan tinggal bersama di Wiyung, '' pungkas Ipong. (*)
Read More

Gayanya seperti Pelatih Legendaris Persebaya

PANTAU: Uston (kiri) mengawasi seleksi Laga FC
Laga FC sudah mempersiapkan diri menghapi Indonesian Socccer Competition (ISC) B atau Divisi Utama. Mereka menunjuk pelatih yang masih minim pengalaman.
--
USIANYA sudah tak muda lagi. Tahun ini, dia sudah 39 tahun. Tapi, dia masih tercatat sebagai penggawa Delta Putra Sidoarjo (Detras) y ang tengah mempersiapkan diri menghadapi Liga Nusantara, kompetisi sepak bola level III di Indonesia.

Bahkan, di tim yang pernah disegani di tanah air tersebut, lelaki itu dipercaya menjadi kapten. Ini wajar karena lelaki bernama Uston Nawawi tersebut merupakan salah satu gelandang atau pemain tengah terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Itu terjadi di era 1990-an hingga 2000-an saat Uston membela Persebaya Surabaya. Hanya, kini, statusnya berubah lagi.

Putra Klagen, Sukodono, Sidoarjo, tersebut dipercaya menjadi pelatih. Tapi, bukan pelatih anak-anak seperti aktivitasnya sekarang di Akademi Real Madrid.

''Saya dipercaya menangani Laga FC. Tugas awalnya menyeleksi pemain dulu,'' kata Uston saat ditemui di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Senin (11/4/2016).

Dia ditunjuk langsung oleh penanggung jawab Laga FC Wardi Siagian. Uston pun tak menolak dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Dalam menjalankan tugasnya, dia dibantu dua asisten yakni David dan Iwan Suprijanto. Khusus Iwan, mantan kiper Garuda II tersebut khusus menyeleksi penjawa gawang.

Meski ditunjuk sebagai pelatih tim divisi utama tapi Uston tak langsung melepas statusnya di Deltras. Dia tetap akan bersama tim pujaan Deltamania tersebut.

'Kalau tak bersamaan, saya tetap latihan di Deltras. Kan gak apa-apa untuk cari keringat,'' ujar Uston usai menyeleksi pemain Laga FC.

Namun, saat kompetisi berputar, dia tak akan mau setengah-setengah. Konsentrasinya bakal tercurah penuh buat tim yang ditanganinya.

Gaya melatih Uston pun seperti pelatih yang sukses mengangkat namanya, almarhum Rusdy Bahalwan. Memakai celana training panjang, dia serius menatap setiap pergerakan pemain.

Tangannya sedekap di dada. Ya, sosok pelatih legendaris dari Surabaya tersebut punya jasa mengangkat nama Uston.

''Seperti titisannya ya he he he,'' ujar Uston. (*)
Read More

Seleksi Perdana hanya Diikuti 14 Pemain

MINIM: Seleksi hanya diikuti pemain dari Sidoarjo
Pemerintah sudah bersiap menggelar Indonesian Soccer Competion (ISC). Ajang tersebut dibagi A untul level atas dan B untuk di bawahnya. Laga FC pun mulai menata kekuatan.
--

SINAR matahari di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, begitu menyengat pada Senin pagi (11/4/2016). Tapi, itu tak menyurutkan beberapa pemain yang berlatih di stadion milik Pemkab Kota Udang, julukan Sidoarjo, tersebut.

Mereka merupakan kumpulan pemain yang tengah menjalani seleksi pembentukan tim Laga FC. Tim tersebut dipersiapkan untuk mengarungi kompetisi Divisi Utama ISC atau yang dikenal dengan ISC B.

Sayang, jumlah pemain yang mengikuti seleksi tersebut sangat minim, hanya 14 pemain. Ini membuat pelatih tak bisa menggelar game internal.

''Masih sedikit yang datang. Padahal, kami sudah memberitahukan kepada rekan-rekannya daerah untuk bisa mengirim pemain buat seleksi aga FC,'' kata salah satu ofisial Laga FC di pinggir lapangan Stadion Jenggolo.

Padahal, pihaknya sudah memberikan kemudahan bagi para pemain seleksi. Manajemen laga FC menyediakan mes dan makan di sebuah rumah di kawasan Pondok Jati yang letaknya hanya sekitar 200 meter dari Stadion Gelora Delta, stadion terbesar di Sidoarjo.

Sebagai pelatih, manajemen laga FC pun berani meakukan gebrakan. Mereka memilih mantan gelandang Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia di era 1990-an Uston Nawawi.

Sebenarnya, laga FC merupakan jelmaan dari pemain Pra Pekan Olahraga Nasional (Pra PON) 2016. Mereka terdiri dari para pesepak bola terbaik dar segala penjuru Jatim.

Sayang, di Pra PON yang dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat, Jatim gagal menembus dua besar. Imbasnya, provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut gagal berlaga di ajang empat tahunan yang juga dilaksanakan di Kota Kembang, julukan Bandung.

Imbasnya, pelatih Hanafing tak lagi dipakai tenaga dan pikirannya di Laga FC. Tapi, beberapa pemain PON pun tak bisa membela Laga FC.

Ini dikarenakan mereka harus kembali ke klub asal yang sudah mengontraknya. Sebut saja Dendi Sulistiawan.

Penyerang andalan PON Jatim ini akan membela Persela Lamongan. Ikut bersama dia geladang Imam.

Rencananya, Laga FC akan berhome base di Kota Batu. Salah satu pertimbangannya, Kota Apel itu tak memiliki tim di ISC B. (*)
Read More

Berat Badan Penghambat Karir

Dia pernah menjadi harapan menjadi palang pintu masa depan Indonesia. Namun, kini dia akhirnya bekerja di bidang yang sama sekali tak berhubungan dengan sepak bola.
--
SEORANG tengah mencarikan jalan sebuah mobil yang hendak keluar dari sebuah galeri. Dengan badannya yang tinggi besar membuat pengendara di dekat perempatan Jajar, Solo, pada Minggu sore (4/4/2016) tersebut harus berpikir dua kali jika ingin melanggar.

''Sekarang, saya bekerja sebagai petugas keamanan di galeri ini. Sudah mulai 2011,'' kata lelaki yang bernama Mulat Nursytanto tersebut.

Tentu, bekerja menjadi petugas keamanan dulunya tak pernah terbayangkan dalam benak lelaki yang kini berusia 37 tahun tersebut. Mimpi menjadi pesepak bola kesohor selalu tertanam di dalam benaknya.

Apalagi, Mulat pernah merasakan masuk tim nasional. Meski, itu hanya dalam kelompok umur.

''Saya membela Timnas U-16 dalam Kejuaraan Asia pada 1995. Ketika itu, Indonesia mampu menembus babak semifinal dan menempati peringkat III, terang Mulat.

Ya, karir Mulat semasa junior memang moncer. Dia pernah digembleng di Sekolah Atlet Ragunan, Jakarta. Sekolah tersebut menjadi tempat tujuan para pesepak bola muda sebelum melangkah ke jenjang profesional.

''Saya angkatan Bambang Pamungkas dan juga Gundul (sapaan karib Agus Supriyanto, rekan akrabnya dari Solo yang pernah membela beberapa klub profesional di Indonesia), '' ungkapnya.

Dengan karir junior yang terang, tak susah baginya untuk menembus level senior. Persijatim Jakarta Timur merekrutnya usai lulus dari Ragunan.

''Saya main di Divisi I dan membawa Persijatim lolos ke Divisi Utama. Persijatim menjadi klub profesional pertama saya,'' ucap Mulat.

Usai dari Persijatim, lelaki yang menempati posisi stopper tersebut hijrah ke Persema Malang. Sayang, usai dari Bledeg Biru, julukan Persema, di tak pernah singgah lagi ke klub besar.

''Setelah itu, saya bermain di Persikad Depok (Jawa Barat), Persipro Probolinggo (Jawa Timur), Persebi Boyolali dan PSISra Sragen (keduanya di Jawa Tengah). Saya malah belum pernah membela Persis Solo (klub besar di sekitar tinggal Mulat),'' jelas Mulat yang kini tinggal di Bekonang, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sebenarnya, dia sempat melamar ke Laskar Samber Nyawa, julukan Persis Solo. Itu dilakukannya di musim 2005.

''Saat Persis masih di Divisi I dan dilatih Hanafi. Tapi, saya gak masuk dan diterimanya di Probolinggo,'' jelas Mulat.

Tapi, di daerah yang berada di kaki Gunung Bromo itu, dia mendapat jodoh. Mulat menikahi dengan gadis Probolinggo.

Mulat mengaku berat badannya yang cepat molor menjadi penghambat karirnya. Hal tersebut pun tak bisa dicegahnya.

''Dulu sempat idel 70-75 kilogram. Tapi lama kelamaan tambah terus hingga mencapai 80 an kilogram,'' lanjutnya.

Hingga akhirnya, dia mulai menyadari bahwa semakin bertambah usia dan berat badan yang membengkak, karirnya di sepak bola tinggal menunggu waktu untuk berhenti. Hingga akhirnya sebuah tawaran bekerja mampir kepadanya.

''Sepak bola sudah tak bisa diharapkan lagi, jadi langsung saya terima tawaran tersebut. Alhamdulillah, saya merasa cukup,'' papar Mulat. (*)

Sekilas tentang Mulat
Nama: Mulat Nursetyanto
Lahir: 1979
Posisi: Stopper
Karir:
SMA Ragunan Jakarta
Persijatim Jakarta Timur
Persema Malang
Persikad Depok
Persipro Probolinggo
Persebi Boyolali
PSISra Sragen

Timnas
1995: Timnas U-16 ke Kejuaraan Asia
1996: Timnas Pelajar Indonesia ke Kejuaraan Asia
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com