www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Sabtu, 23 April 2016

Bangga Pernah Tampil di Piala Dunia

ORTAS: Ipong (kiri) bercanda usia latihan di Stadion Jenggolo
Tim junior Indonesia pernah merasakan menembus Piala Dunia. Itu terjadi pada 1979. Sebuah kenangan yang susah untuk dilupakan
--
SAAT berjalan kakinya agak ditekuk. Tingginya pun tak sampai 160 sentimeter.

Namun, kondisi tersebut tak mengurangi kemampuan Ipong Sunyoto. Padahal, usianya pada 2016 ini sudah menginjak 64 tahun.

Dia tetap bergerak lincah di tengah lapangan maupun di sisi kanan. Sebenarnya, itu wajar.

Ipong merupakan pesepak bola yang pernah membela Indonesia di ajang internasional. Tapi, bukan di level senior.

''Saya pernah membela Indonesia dalam Piala Dunia Junior 1979. Saat itu, kejuaraan dilaksanakan di Tokyo, Jepang,'' kenang Ipong.

Saat itu, dia ditangani oleh pelatih legendaris Djamiat Dalhar dengan asisten Ipong Silalahi. Salah satu rekan satu timnya adalah Bambang Nurdiansyah, yang kelak setelah senior menjadi salah satu penyerang andalan Indonesia.

Tapi, bukan bersama Bambang yang membuatnya selalu mengingat bermain di Negeri Sakura, julukan Jepang. Dia menjadi saksi aksi dari salah satu legenda lapangan hijau dunia, Diego Armando Maradona.

Sihirnya membuat para pemain Indonesia seperti masih diajari main bola. Merah putih diluluh lantakan dengan enam gol tanpa balas.

''Dia sudah kelihatan sebagai pemain dunia meski masih junior,'' kenang Ipong.

Kekalahan tersebut membuat Indonesia kali kedua digelontor gol. Setelah sebelumnya, ucapnya, Pasukan Garuda Muda dihajar Uni Soviet, kini jadi Rusia, dengan 0-5.

Meski babak belur, tapi Ipong tetap merasa bangga. Bisa berlaga dalam Piala Dunia dengan membela negara tak bisa dinilai dengan materi.

''Apalagi, setelah itu,sampai sekarang, Indonesia tak pernah bisa lolos. Termasuk terakhir Evan Dimas dan kawan-kawan,'' terang Ipong.

Ipong sendiri bisa membela Timnas Indonesia usai mengantarkan Persebaya Surabaya berjaya di ajang Piala Suratin. Di level junior, Ipong hampir tiga kali berlaga di ajang bagi pesepak bola di bawah usia 19 tahun tersebut. Salah satunya dengan menjadi juara pada 1976.

Sayang, karir yang cemerlang di level junior gagal berlanjut di senior. Bapak dua putri tersebut memilih bekerja di perusahana negara Pertamina.

''Ada beberapa tawaran dari klub-klub. Tapi, izin bekerja yang harus dari Jakarta membuat saya lebih baik bermain di Pertamina saja,'' jelas Ipong.

Hingga pensiun 2013, dia tetap berkarir di perusahaan yang mengurusi bahan bakar di Indonesia tersebut. Meski sibuk dengan pekerjaan, Ipong tetap menyempatkan berlatih sepak bola sampai sekarang.

''Ya sesekali ke Madiun mengenguk cucu di sana. Anak saya yang satu belum menikah xdan tinggal bersama di Wiyung, '' pungkas Ipong. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com