www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selalu Terkenang Deltras dan Deltamania

KOTA UDANG: Hilton Moriera
Hilton Moreira tak bisa melupakan Deltras Sidoarjo. Meski, saat ini, namanya menjadi salah satu penyerang terbaik di sepak bola Indonesia.
--
SEGELAS air mineral sudah habis diminum Hilton Moreira. Tapi, rasa haus lelaki asal Brasil itu belum hilang.

Segelas lagi diambilnya. Kemudian, penyerang yang kini membela Sriwijaya FC dalam Indonesia Soccer Championship (ISC) A tersebut meminum separo dan sebagian diguyurkan ke muka.

Tapi panasnya Gelora Delta tak membuat Hilton mengeluh. Sebaliknya, dia rindu akan panasnya terik sinar matahari Kota Udang, julukan Sidoarjo.

Kok bisa? Ini dikarenakan dia pernah tinggal di Sidoarjo. Bahkan, baginya, kota di selatan Surabaya, yang merupakan ibu kota Jawa Timur, tersebut, tak bisa dilupakan.

''Kali pertama ke Indonesia, Deltras Sidoarjo merupakan klub pertama saya. Dua  musim saya di sini dan banyak meninggalkan kenangan,'' terang lelaki yang kini berusia 35 tahun tersebut.

Hilton datang saat The Lobster, julukan Deltras, ditangani Yusack Sutanto. Menariknya, dia datang tanpa harus melalui tes.

Dari rekaman yang dilihat, Yusack langsung tertarik merekrut. Gambling itu ternyata memuasakan.

Hilton tampil bersinar dan menjadi pujaan pendukung Deltras, Deltamania. Sempat balik ke Brasil, dia kembali ke Deltras.

Hanya, pelatihnya sudah berpindah tangan. Musim 2007-2008, dia dipoles Jaya Hartono.

''Saya selalu terkesan dengan pendukung Deltras, Deltamania. Mereka selalu mendukung kami penuh semangat,'' kenang Hilton.

Usai dari Deltras, dia menjelajah ke Persib dan Sriwijaya FC. Tahun lalu, Hilton sukses mengantarkan Penang naik level ke Super League Malaysia.

Sayang, tenaganya tak lagi dipakai. Bersama rekannya sesama Brasil yang juga membela Penang musim lalu, Beto Goncalves, keduanya direkrut Laskar Wong Kito, julukan Sriwijaya FC.

''Namun, Sidoarjo dan Deltamania tetap akan selalu saya kenang.'' (*)
Read More

Belum Tertarik Kembali Tangani Timnas

PERDANA: Widodo Cahyono Putro
Masuk jajaran pelatih tim nasional Indonesia menjadi incaran banyak orang. Namun,itu tak berlaku bagi Widodo Cahyono Putro.
--
PARA wartawan langsung mendatangi Widodo Cahyono Putro di Gelora Delta, Sidoajo, pada Sabtu pagi (21/5/2016). Mereka ingin wawancara dengan lelaki yang kini menjadi pelatih kepala Sriwijaya FC Palembang, Sumatera Selatan, tersebut.

Tujuannya memperoleh komentar guna mengorek informasi sebelum Sriwijaya FC sebelum menantang Bhayangkara Surabaya United di tempat yang sama pada Minggu malam (22/5/2016). Dengan telaten, pelatih berusia 45 tahun tersebut meladeni semua pertanyaan wartawan.

Setelah selesai, Widodo menemani anak asuhnya kembali ke bus. Tapi, di sela-sela itu, ternyata lelaki asal Cilacap, Jawa Tengah, tersebut mendatangi penulis.

''Bagaimana kabarnya? Lama gak bertemu kita,'' kata Widodo.

Ya, hampir dua tahun penulis tak berjumpa dengan mantan penyerang nasional tersebut. Padahal, dua tahun lalu, hampir setiap hari bisa berjumpa dengan Widodo.

Itu terjadi karena dia mendampingi Alfred Riedl yang tengah mempersiapkan Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, mempersiapkan diri menghadapi Piala AFF (Federasi Sepak Bola Asia Tenggara).

Ya, setelah tak lagi menangani klub, Widodo dibutuhkan untuk mendampingi opa asal Austria tersebut. Sayang, di ajang Piala AFF, Indonesia gagal menjadi juara. Langkah Zulkifli Syukur dkk sudah terhenti di babak penyisihan.

Setelah sempat menghilang, Widodo sempat terekam menangani Perssu Sumenep, tim Divisi Utama dari Pulau Madura dan juga Persegres Gresik. Namun, kesukesan belum menghampiri.

Predikat pelatih gagal sempat ditempelkan kepada Widodo. Dari jejak  yang ada, mantan pemain Warna Agung, Petrokimia Gresik, dan Persija Jakarta ini kurang bersinar sat menangani Petrokimia Putra, Persela Lamongan, dan Persijap Jepara. Tapi, siapa sangka, namanya tiba-tiba ditunjuk menjadi arsitek  Sriwijaya FC. Padahal, sebelumnya, namanya tak pernah masuk dalam nominator.

Melatih di Sriwijaya FC juga menjadi pengalaman pertamanya menangani tim dari luar Jawa. ''Sekarang jarak bukan masalah. Dua atau tiga jam dari Palembang sudah bisa sampai di rumah,'' ujarnya.

Pilihan tim jelmaan Persijatim Jakarta Timur tersebut kepada Widodo tak salah. Hingga empat kali pertandingan, Sriwijaya FC belum terkalahkan dalam Indonesia Soccer Championship (ISC) A. Terakhir, Bhayangkara Surabaya United dipermalukan di Gelora Delta dengan 1-0.

Capaian ini membuat Widodo semakin tertantang.Dia ingin membawa tim barunya keluar sebagai pemenang.

Ini membuat dia tak lagi tertarik kembali menjadi bagian tim pelatih timnas Indonesia. Meski, saat ini, PSSI tengah mencari  pelatih yang akan menangani Pasukan Garuda.

''Saya di Sriwijaya FC saja dulu. Kondisi tim lagi bagus,'' ujarnya.

Dia ingin posisi pelatih atau asisten diberikan kepada sosok yang tengah menganggur. Ini, ujar Widodo, akan lebih bermanfaat karena konsentrasinya tak terbagi. (*)


Read More

Pelatih Kepala Berganti, Hartono Tetap Asisten

AWET: Hartono Ruslan
Posisinya hanya asisten pelatih. Tapi, dia tak tergoyahkan meski jabatan pelatih kepala Sriwijaya FC telah berganti tiga kali.
--
PEMBAWAANNYA sangat diam. Jarang dia mengelaurkan kata-kata keras.

Seperti yang telihat di Gelora Delta Sidoarjo pada Sabtu (21/5/2016). Dia hanya mendampingi pelatih kepala Sriwijaya FC Widodo C. Putro.

Sesekali, Hartono Ruslan, nama asisten pelatih Sriwijaya FC, tersebut membenahi beberapa kelamahan anak asuhnya yang tengah bersiap menghadapi Bhayangkara Surabaya United esoknya tersebut. Meski hanya asisten tapi suaranya selalu didengarkan para pemain.

''Biar Widodo yang memberi intruksi latihan, dia kan pelatih kepala. Tugas saya memang membantu dia,'' ujar Hartono.

Padahal, dibandingkan Widodo, Hartono jauh lebih senior. Kini, usianya sudah 56 tahun sedangkan Widodo baru 45 tahun.

Hanya, di level nasional, nama Widodo lebih terkenal. Saat masih aktif sebagai pemain, dia pernah mencetak gol di Piala Asia 1996. Gol itu dianggap sebagai salah satu gol terbaik di dunia.

Sebenarnya, Hartono juga pernah membela Indonesia. Hanya, itu dilakukan di Liga Selection, yang merupakan kumpulan pesepak bola terbaik dari Galatama untuk berlaga di Piala Raja di Thailand. Klub yang dibela Hartono di era senior pun hanya satu Arseto Solo. Widodo membela klub besar Warna Agung, Petrokimia Gresik, dan Persija Jakarta.

Tapi, bicara tentang Sriwijaya, Hartono juga lebih unggul. Sudah lima tahun dia berada di klub yang bermarkas di  Palembang, Sumatera Selatan, tersebut.

Posisinya tak pernah berubah, yakni sebagai asisten. Dia datang ke Laskar Wong Kito, julukan Sriwijaya FC, karena ajakan juniornya di Arseto, Kashartadi.

Kolaborasinya keduanya mengantarkan Sriwijaya FC menjadi juara Indonesia Super 2011/2012. Sayang, keduanya harus berpisah.

Kashartadi harus meninggalkan Sriwijaya FC dan Hartono  menerima pinangan tim lain . Tongkat kepelatihan Sriwijaya FC berganti ke Beny Dollo atau yang akrab disapa Bendol.

Hartono tetap masuk sebagai asisten. Bendol tak kuasa dengan kebijakan tersebut.

''Saya kenal Bendol sejak sama-sama jadi pemain. Meski saat itu kami membela klub yang berbeda,'' ujarnya.

Bersama Bendol, Hartono melaluinya dari turnamen ke berbagai turnamen. Ini dikarenakan kompetisi tengah vakum dengan adanya pembekuan PSSI oleh pemerintah.

Ditangan keduanya, tim asal Kota Empek-Empek, julukan Palembang, tersebut mampu menjadi runner-up Piala Presiden 2015. Sayang, setelah itu, dalam ajang yang lain Bendol gagal mengantarkan timnya ke posisi terhormat.

Nah, ini membuat posisi Bendol goyah dan akhirnya terdepak. Sebagai gantinya, masuk Widodo.

''Saya mengikuti apa saja perintah. Saya suka dengan suasana tim ini,'' jelas Hartono yang sudah dikaruniai dua putri tersebut.

Ya, para pemain sangat dekat dengannya. Para pemain sering menggodanya baik di lapangan maupun hendak masuk bus.

Termasuk para senior seperti Firman Utina maupun M. Ridwan. Seperti biasa,kera Ngalam ini menanggapi dengan senyum.

Tentang masa depannya, Hartono masih enggan memikirkan. Baginya, kini dia tengah konsentrasi membantu Widodo mengantarkan Sriwijaya FC menjadi juara Indonesia Soccer Championship A. (*)
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com