www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 23 Mei 2016

Pelatih Kepala Berganti, Hartono Tetap Asisten

AWET: Hartono Ruslan
Posisinya hanya asisten pelatih. Tapi, dia tak tergoyahkan meski jabatan pelatih kepala Sriwijaya FC telah berganti tiga kali.
--
PEMBAWAANNYA sangat diam. Jarang dia mengelaurkan kata-kata keras.

Seperti yang telihat di Gelora Delta Sidoarjo pada Sabtu (21/5/2016). Dia hanya mendampingi pelatih kepala Sriwijaya FC Widodo C. Putro.

Sesekali, Hartono Ruslan, nama asisten pelatih Sriwijaya FC, tersebut membenahi beberapa kelamahan anak asuhnya yang tengah bersiap menghadapi Bhayangkara Surabaya United esoknya tersebut. Meski hanya asisten tapi suaranya selalu didengarkan para pemain.

''Biar Widodo yang memberi intruksi latihan, dia kan pelatih kepala. Tugas saya memang membantu dia,'' ujar Hartono.

Padahal, dibandingkan Widodo, Hartono jauh lebih senior. Kini, usianya sudah 56 tahun sedangkan Widodo baru 45 tahun.

Hanya, di level nasional, nama Widodo lebih terkenal. Saat masih aktif sebagai pemain, dia pernah mencetak gol di Piala Asia 1996. Gol itu dianggap sebagai salah satu gol terbaik di dunia.

Sebenarnya, Hartono juga pernah membela Indonesia. Hanya, itu dilakukan di Liga Selection, yang merupakan kumpulan pesepak bola terbaik dari Galatama untuk berlaga di Piala Raja di Thailand. Klub yang dibela Hartono di era senior pun hanya satu Arseto Solo. Widodo membela klub besar Warna Agung, Petrokimia Gresik, dan Persija Jakarta.

Tapi, bicara tentang Sriwijaya, Hartono juga lebih unggul. Sudah lima tahun dia berada di klub yang bermarkas di  Palembang, Sumatera Selatan, tersebut.

Posisinya tak pernah berubah, yakni sebagai asisten. Dia datang ke Laskar Wong Kito, julukan Sriwijaya FC, karena ajakan juniornya di Arseto, Kashartadi.

Kolaborasinya keduanya mengantarkan Sriwijaya FC menjadi juara Indonesia Super 2011/2012. Sayang, keduanya harus berpisah.

Kashartadi harus meninggalkan Sriwijaya FC dan Hartono  menerima pinangan tim lain . Tongkat kepelatihan Sriwijaya FC berganti ke Beny Dollo atau yang akrab disapa Bendol.

Hartono tetap masuk sebagai asisten. Bendol tak kuasa dengan kebijakan tersebut.

''Saya kenal Bendol sejak sama-sama jadi pemain. Meski saat itu kami membela klub yang berbeda,'' ujarnya.

Bersama Bendol, Hartono melaluinya dari turnamen ke berbagai turnamen. Ini dikarenakan kompetisi tengah vakum dengan adanya pembekuan PSSI oleh pemerintah.

Ditangan keduanya, tim asal Kota Empek-Empek, julukan Palembang, tersebut mampu menjadi runner-up Piala Presiden 2015. Sayang, setelah itu, dalam ajang yang lain Bendol gagal mengantarkan timnya ke posisi terhormat.

Nah, ini membuat posisi Bendol goyah dan akhirnya terdepak. Sebagai gantinya, masuk Widodo.

''Saya mengikuti apa saja perintah. Saya suka dengan suasana tim ini,'' jelas Hartono yang sudah dikaruniai dua putri tersebut.

Ya, para pemain sangat dekat dengannya. Para pemain sering menggodanya baik di lapangan maupun hendak masuk bus.

Termasuk para senior seperti Firman Utina maupun M. Ridwan. Seperti biasa,kera Ngalam ini menanggapi dengan senyum.

Tentang masa depannya, Hartono masih enggan memikirkan. Baginya, kini dia tengah konsentrasi membantu Widodo mengantarkan Sriwijaya FC menjadi juara Indonesia Soccer Championship A. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com