www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Syamsul Arifin, Legenda Sepak Bola Indonesia yang Hidup Bersahaja (2)

Syamsul Arifin masih disebut sebagai striker terbaik
.Keputusan ke Surabaya sudah diambil. Tapi, bukan hal yang mudah bagi Syansul untuk bisa mengembangkan karir--
PEKAN pertama di Surabaya, rindu kampung halaman di Kabupaten Malang masih terasa. Dia masih sering bolak-balik untuk bertemu dengan orang tuanya.

''Itu pada 1975 saat usia saya masih 20 tahun. Dengan usia yang muda rindu rumah selalu ada,'' ucap Syamsul yang saat ditemui memakai kaos sepak bola berwarna biru dan celana pendek hijau.

Apalagi, latihan Mitra hanya dua kali dalam seminggu. Jeda waktu yang lama tersebut digunakan untuk pulang ke desa.

''Namun, lama lama saya gak bisa seperti itu. Mitra pun menawarkan pekerjaan agar waktu yang ada bagi pemain tak terbuang percuma,'' jelas Syamsul.

Oleh Mitra, Syamsul dapat pekerjaan sebagai petugas tiket di bioskop. Ini, ungkapnya, dilakukan karena pekerjaannya ringan.

''Hanya mengecek tiket penonton yang masuk. Pekerjaannya hanya malam,tapi gak sampai begadang,'' lanjut suami dari seorang guru tersebut.
k
Dengan bekerja dan bergabung Mitra, Syamsul sudah bisa mengumpulkan uang. Uang itu dipakai untuk membeli sepeda.

''Dengan sepeda itu, kali pertama saya keliling Surabaya. Selain untuk menghapalkan jalan, saya mau cari lapangan yang dekat dengan kos,'' jelas Syamsul.

Lapangan PJKA di Pacar Keling, ujarnya, menjadi pilihan. Setiap pagi, dia menamah latihan fisik dan teknik sendiri.

''Kalau latihannya Mitra di Bumimoro. Saya merasa latihan seminggu dua kali masih sangat kurang,'' terang Syamsul.

Keseriusan Samsul dan Mitra di sepak bola membuahkan hasil. Tiap musim, klub tersebut mampu keluar sebagai juara di kelas yang diikuti.

Sehingga, hanya butuh tiga tahun bagi Mitra untuk bisa menembus Kelas Utama Persebaya. Syamsul juga kena imbasnya.

''Saya dipanggil masuk tim Persebaya. Hanya, saya masuknya tim B,'' kenang lelaki jangkung ini.

Masuk tim A, terangnya, sangat susah. Di tim tersebut bertabur pemain-pemain bintang.

''Ada Kadir (Abdul Kadir), Joko Malis, Hadi Ismanto di depan. Siapa bisa menggeser mereka,'' lanjut Syamsul.

Dengan materi seperti itu, jelasnya, Persebaya mampu menjadi juara perserikatan pada musim 1977/1978. Ketika itu, dia masih di tim B.

Namun, dari tim B itu pula, Syamsul dipanggil masuk tim nasional Indonesia. Kok bisa?

Baca lanjutannya di seri 3..



Read More

Syamsul Arifin, Legenda Sepak Bola Indonesia yang Hidup Bersahaja (1)

Syamsul Arifin di rumahnya di Tenggilis
Tawaran Wasit Bawa Karir ke Surabaya

Syamsul Arifin selalu identik dengan gol. Nama besarnya pun selalu disebut-sebut dalam perjalanan sepak bola Indonesia, khususnya Surabaya.
--
SEORANG perempuan tengah menjemur baju di sebuah rumah yang ada di kawasan Tenggilis, Surabaya, pada Rabu siang (31/8/2016). Dia langsung menghentikan aktivitasnya saat penulis menanyakan pemilik rumah.

''Bapak ada. Silahkan masuk, saya panggilkan dulu,'' katanya.

Penulis pun memasuki rumah bercat putih tersebut. Sebelum bisa duduk di teras, sebuah mobil sedan tua putih ada yang ada di garasi harus dilewati.

Tak lama berselangl, munculah seorang lelaki sepuh dengan rambut yang memutih. Tapi, dari segi fisik, dia masih sehat. Bahkan, otot kakinya masih seperti dia saat aktif di lapangan hijau.

''Saya masih aktif olahraga, khususnya sepak bola. Main bola bisa tiga kali seminggu dan sekali bulu tangkis,'' kata lelaki yang bernama Syamsul Arifin tersebut.

Sepak bola memang tak bisa lepas dari aktivitasnya sekarang. Apalagi, olahraga tersebut telah mengantarkannya menjadi salah satu legenda di Indonesia.

''Ya mainnya  lebih banyak sore. Sekalian bisa ketemu dengan teman-teman,'' ungkap Syamsul.

Lelaki yang kini berusia 61 tahun tersebut mengakui bahwa sepak bola merupakan olahraga yang ditekuni sejak kecil. Apalagi, orang tuanya mendukung Syamsul untuk terjun sebagai pesepak bola.

''Saya aslinya dari sebuah desa di Kabupaten Malang. Saya main di klub desa di sana,'' kenang bapak empat anak tersebut.

Permainannya yang moncer sebagai pemain depan, terang Syamsul, terdengar hingga ibu kota kabupaten. Dia sering diajak bermain jika Persekam Malang tampil.

Nah, pada suatu ketika, Persekam tampil dalam sebuah pertandingan di Pasuruan. Sayang, Syamsul lupa lawan yang dihadapi.

''Hanya, wasitnya dari Surabaya. Dia menawari saya untuk bermain di Surabaya karena ada klub baru yang butuh pemain,'' lanjutnya.

Awalnya, dia belum bisa mengiyakan. Syamsul perlu minta izin kepada orang tuanya.

''Bapak hanya bilang kalau mau berkembang ya ke Surabaya. Saya pun juga ingin karir bola saya maju,'' jelasnya.

Klub tersebut ternyata bernama Mitra. Klub yang disokong tempat hiburan tersebut tengah membangun kekuatan. Syamsul bukan satu-satunya pesepak bola luar Surabaya yang direkrut

"Dari Madiun hingga Solo pun ada. Saya juga nggak ada yang kenal saat bergabung di Surabaya,'' ujar Syamsul. 

Syamsul sempat mengalami kesulitan. Baca lanjutannya di seri 2...
Read More

Mereka Rindu Persebaya

Sambutan Bonek kepada Persebaya U-16
Lapangan Persebaya di Karanggayam penuh sesak oleh suporter Bonek. Padahal, tim seniornya belum mengelar latihan. Ada apa di sana?
--
JALAN Tambaksari penuh dengan pengendara motor maupun pejalan kaki yang mengenakan kaos hijau. Ada beberapa yang berwarna hitam.

Tapi, semuanya menunjukan mereka adalah suporter Persebaya Surabaya. Mereka tak lupa membawa bendera maupun syal.

Lho bukankah Persebaya tidak ada jadwal pertandingan. Apalagi, tim berjulukan Green Force tersebut tengah memperjuangan statusnya di kompetisi sepak bola Indonesia.

Ya, sejak 2011, Persebaya dikeluarkan keanggotaanya dari PSSI. Tapi, angin segar baru saja berhembus.
Statusnya akan dipulihkan dalam Kongres PSSI yang rencananya dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Oktober mendatang.

Ternyata, para Bonek tersebut akan menyaksikan pertandingan Persebaya. Eits tapi jangan salah.

Persebaya yang turun kali ini adalah sekumpulan pemain muda yang unjuk kekuatan di Liga Pelajar U-16 Piala Menpora 2016. Langkan anak asuh M. Ridwan tersebut sudah sampai babak semifinal. Lawan yang dihadapi adalah Bina Sepak Bola Prestasi Tuban.
Bonek saat memadati Jalan A. Yani Surabaya

Meski hanya laga kelompok umur, tapi atmosfer di luar lapangan termasuk heboh. Untuk masuk dalam radius 100 meter dari Lapangan Persebaya susahnya minta ampun. Kalau pun bisa sampai pintu masuk lapangan, para Bonek harus rela berdesak-desakan.

''Sejak pukul 05.30 WIB, tribun Lapangan Persebaya sudah dipenuhi Bonek. Saya sudah merasa pertandingan bisa batal lagi, '' kata Ch Farid, ketua Liga Pelajar U-16 Piala Menpora 2016 Zona Jatim.

Ya, dua pekan sebelumnya kejadian serupa terjadi. Saat itu, Persebaya berhadapan dengan wakil Jember Espana. Pertandingan itu baru dilaksanakan esok harinya.

''Sebenarnya, kami sudah mengajukan peminjalan lapangan Gelora 10 Nopember di depan. Tapi, oleh Dispora Surabaya tak disetujui,'' ungkap Ram Surahman, ketua panpel pertandingan Liga Pelajar U-16 Piala Menpora U-16 Zona Jatim.

Semakin lama, para Bonek yang masuk ke Lapangan Persebaya  tak terbendung. Padahal, kondisi di tribun sudah tak muat untuk menampung mereka.

Sebenarnya, saat pertandingan, para Bonek sudah tertib. Mereka tetap berada di tribun tertutup dengan menyanyi dan menari.

''Namun setelah itu karena tak muat, para Bonek mulai memanjat pagar dan masuk lapangan. Ini yang membua BSP Tuban memilih tak melanjutkan pertandingan di babak kedua,'' ungkap Ram.

Dia mengerti besarnya animo Bonek yang hadir ke Lapangan Persebaya. Lama vakumnya tonton akan Persebaya membuat mereka langsung datang menyaksikan setelah tahu ada Persebaya bertanding.'

''Meski pun ini kelompok umur,'' ujar lelaki yang masih aktif terjun di media tersebut.

Dia mengakui salut saat pertandingan ditunda. Bonek dengan sportif banyak yang meninggalkan Lapangan Persebaya tanpa meninggalkan keributan. Hanya, beberapa masih tertahan di Karanggayam karena masih ingin menyaksikan laga lanjutan. (*)
Read More

Paling Lantang dari Bench

PELATIH: Miftahul Huda
Usia yang terus merambah tua membuat dia tak selamanya menjadi pemain. Polesan perdana sebagai pelatih terbilang sukses.
--
TERIAKANNYA kepada pemain Putra Sidoarjo sangat keras. Ini membuat suasana bench yang semula diam menjadi ramai.

Itu dilakukan karena para pemain Putra Sidoarjo banyak yang tak memenuhi instruksinya. Padahal, mereka dituntut untuk bisa menang atas lawannya, Senopati, Malang, untuk bisa menjadi juara grup C Liga Pelajar U-16 Piala Menpora 2016 di Lapangan Karanggayam, Surabaya, pada Sabtu (20/8/2016). 

Donasi tiga angka juga akan membuat Putra Sidoarjo bisa menembus semifinal Zona Jatim. Ternyata, intruksinya dengan volume tinggi tersebut cukup manjur.

Putra Sidoarjo mampu menang 2-0 atas Senopati Malang. Sekaligus kemenangan kedua setelah di laga paginya unggul 2-0 atas Juanda, Sidoarjo.

''Alhamdulillah, kami bisa lolos ke semifinal. Anak-anak tadi terbebani di lapangan karena harus menang,'' kata Mitahul Huda, asisten pelatih Putra Sidoarjo.

Meski statusnya hanya asisten tapi Huda, sapaan karibnya, suaranya paling nyaring. Hanya, dia tak mau dia dianggap melangkahi pelatih kepala.

''Biar ada yang ngomong untuk mengingatkan pemain patuh pada strategi pelatih. Kebetulan, dari pelatih yang ada saya yang suaranya bisa lantang,''ungkap Huda.

Sebenarnya, menangani tim dengan membawa nama daerah, khususnya Sidoarjo, merupakan debutnya. Selama ini, dia dikenal hanya menangani tim kampung halamannya di Buncitan, Sedati.

''Awalnya masuk sebagai anggota tim seleksi. Terus, saya dipercaya masuk tim pelatih dengan posisi sebagai asisten pelatih,''ujar lelaki 44 tahun tersebut.

Meski lisensi yang dimiliki belum tinggi, C, tapi pengalamannya sebagai pemain akan sangat membantu. Memulai karir dari Laskar Jenggolo, julukan Persida, Huda kembali direkrut Arema Malang.

Dari Singo Edan, julukan Arema, perjalanan karir panjangnya dimulai.Setelah itu,dia berkostum Deltras, Persiba Balikpapan, Mitra Kutai Kartanegara, PKT Bontang, Perseba Bangkalan, hingga Jombang Putra. (*)
Read More

Pegang Uang kalau Ada Pertandingan

TANGGUNG JAWAB: Lulut Kistono
Banyak yang tak tahu bahwa Persebaya Surabaya tetap menggelar latihan. Bahkan, itu sudah bergulir dua tahun meski mereka tak ikut kompetisi. Siapa sosok di belakang itu?
--
KERINGAT membasahi jaket yang dipakai Lulut Kistono. Tapi,dia enggan melepas jaket.

Dia baru saja berlatih di sebuah lapangan di pinggir tol Surabaya-Sidoarjo. Tampil di pagi hari dengan berlatih bisa menjadi sebuah hal yang langka baginya.

Dalam dua tahun terakhir, waktunya di pagi hari terkuras untuk menangani Persebaya Surabaya. Memang, kesebelasan yang sempat disebut sebagai Persebaya 1927.
Tindakan PSSI yang mengeluarkan mereka membuat tim legenda tersebut tak bisa berlaga di semua ajang kompetisi. 

''Saya melatih kalau ada persiapan. Bisa turnamen bisa juga ekshibisi,'' kata Lulut.

Dia memegang kursi pelatih bersama Ahmad, seorang pelatih yang juga anggota TNI-AL. Lulut tak kuasa menolak saat dia dipercayai oleh Salah Hanifah, bosnya di klub Indonesia Muda yang juga pengurus Persebaya, untuk  memoles Green Force, julukan Persebaya.

Meski, ungkap Lulut, dia tak menerima  gaji bulanan untuk menjadi pelatih. Tapi, baginya, hal tersebut tak pernah dipersoalkan.

''Saya dapatnya uang kalau Persebaya bermain. Seperti di Banyuwangi dan Probolinggo,'' lanjut lelaki 49 tahun tersebut.

Tanggung jawab Lulut pun layak dapat apresiasi. Meski, dalam kehidupannya, dia harus pontang-panting membuat dapurnya mengepul.

Beberapa usaha pun pernah dilakukan untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. Lulut pernah  memasarkan kue onde-onde buatan istrinya. Dia juga pernah berjualan bakso di depan rumahnya di kawasan Kedurus, Surabaya.

Bahkan, untuk membiayai anak-anaknya sekolah, lelaki yang pernah membela Arseto Solo tersebut nyaris menjual rumahnya.

''Sekarang juga tidak ada latihan. Jadi, saya bisa keluar untuk berlatih,'' terang Lulut.

Dia pun tak berharap banyak akan kembali ditunjuk atau menjadi bagian tim Persebaya di musim mendatang. Baginya, menangani tim yang mayoritas diisi pemain dari kompetisi internal Persebaya tersebut sudah menjadi kepuasan batin.

''Apapun keputusannya tetap saya terima. Rezeki sudah ada yang mengatur,'' ujarnya.

Karir Lulut sebagai pesepak bola tak bisa dipandang sebelah mata. Dia pernah menjadi bagian dari Arseto saat menjadi juara Galatama pada 1992.

Lelaki yang berposisi sebagai stopper tersebut juga pernah membela  PSIS Semarang, Mitra Surabaya, Arema Malang, Barito Putera Banjarmasin, dan Putra Samarinda.

Lulut yang dikenal sebagai tukang jagal ini menjadi sorotan ketika memperoleh sanksi dari PSSI karena dia berkelahi dengan Singgih Pitono dari Arema. Padahal, selama ini, keduanya dikenal sebagai kawan.

Setelah pensiun sebagai pemain, Lulut memutuskan menjadi pelatih. Barito Putra, Kutai Barat, Mitra Kutai Kartanegara, dan Deltras serta Persibo Bojonegoro pernah dipolesnya.  (*)
Read More

Kritis Itu Tetap Melekat

Mursyid Effendi dikenal sebagai pemain yang kritis. Bahkan, itu dibawanya hingga menjadi pelatih. Dia menganggap PSSI pilih kasih.

Anda sekarang sudah full konsentrasi menangani tim
-Iya. Amanah yang diberikan akan saya jalankan.

Anda sudah memegang lisensi kepelatihan?
-Sudah. Saya sudah lisensi A Nasional.

Mengapa belum AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia)?
-Waktu itu kan semua masih nasional. Belum ada aturan kalau harus AFC

Jadi masih ingin mendapat yang AFC?
-Masih. Sebenarnya beberapa waktu lalu ada. Tapi saya kecewa.

Kok kecewa kenapa?
-Saat itu, PSSI memprioritaskan para pelatih yang semasa menjadi pemain digembleng di Primavera (proyek prestisius PSSI dengan menempa pemain di Italia di pertengahan 1990-an). PSSI mungkin menganggap pemain Primavera hebat. Apa sepak bola Indonesia milik Primevera

Jadi harusnya bagaimana?
-Harusnya yang sudah punya A Nasional dapat diprioritaskan dulu. Kami kan sudah susah cari A. Apalagi, kami harus biaya sendiri. (*)
Read More

Mampu Jadi Nakhoda yang Baik

Namanya akan selalu diingat dalam perjalanan sepak bola Indonesia. Kini kesibukannya menangani sebuah klub di Surabaya.
--
TATAPANNYA serius ke lapangan. Dia tengah menyaksikan tim yang kini dipimpinnya, Mitra Surabaya, berlaga dalam ajang Liga Remaja Zona Jatim yang tengah bertanding melawan Persema 1953 di Stadion Jenggolo, Sidoarjo, pada Senin sore (22/8/2016).

'Sekarang, waktu saya tercurah di Mitra Surabaya. Kebetulan, saya mendapat amanah memegang klub ini,'' terang Mursyid Effendi, mantan kapten Persebaya.

Lelaki 44 tahun tersebut memegang Mitra Surabaya menggantikan posisi Eko Prayogo, mantan gelandang Perkesa Mataram yang sudah tutup usia. Hanya, Mursyid mengaku tetap menjalankan program yang sudah dilakukan pendahulunya tersebut.

''Tak banyak berubah. Pak Eko meninggalkan warisan yang baik buat Mitra,'' jelasnya.

Baginya, Mitra sudah seperti keluarga. Para pelatih, ungkapnya, merupakan saudara dalam kehidupannya.

''Kami semua hidup di lapangan. Tujuannya juga sama, membesarkan Mitra,'' ungkap Mursyid.

Dengan semangat itu, Mursyid pun mempercayai para pelatih bisa mengangkat nama Mitra. Bahkan, dia selalu melalukan rotasi kepada pelatih untuk menangani tim-tim yang berbeda.

Hasilnya ternyata cukup moncer. Hampir dalam setiap kejuaraan, nama Mitra selalu menjadi juara dan disegani semua lawan.

Dengan ilmu dan pengalaman yang dimiliki, Mursyid mampu menjadi nakhoda yang baik buat Mitra Surabaya. Dia pun tak mau berpolemik dengan hal-hal di luar sepal bola.

''Saya ingin para pemain Mitra Surabaya bisa menjadi pesepak bola bagus. Sehingga, mereka sering saya ikutkan dalam berbagai kompetisi di kelompok umur,'' ujar lelaki yang saat aktif di sepak bola berposisi sebagai stopper tersebut.

Sosok Mursyid sendiri menjadi  fenomena dalam sepak bola Indonesia. Dia merupakan satu-satunya pemain yang terkena lapangan bermain seumur hidup berlaga di ajang internasional.

Gara-garanya dia melakukan gol bunuh diri saat membela Indonesia di ajang Piala AFF 1998. Saat itu, 31 Agustus 1998, Mursyid melakukan gol bunuh diri saat menghadapi Thailand. Tujuannya untuk terhindari dari Vietnam di babak semifinal.

Setelah sanksi itu, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di Persebaya. Sejak 1994, Mursyid sudah tercatat sebagai pesepak bola di klub berjuluk Green Force tersebut.

Segudang prestasinya sudah disumbangkannya buat tim pujaan Bonek itu. Antara lain juara Divisi Utama 1996/1997 dan Liga Indonesia musim 2004.

Karirnya nyaris hanya di Persebaya. Tapi, sebelum gantung sepatu pada 2007, dia menerima pinangan Persiku Kudus.

Usai pensiun sebagai pemain, Mursyid mulai mencurahkan konsentrasi sebagai pelatih. Tangan dinginnya mampu membawa Jawa Timur meraih emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja 2014. (*)
Read More

Hidup dari Iuran 20 Klub Anggota

WARNA SURAM: Mes Persebaya dilihat dari lapangan Persebaya
Tempat tersebut pernah menjadi tempat tidur dan istirahat para pesepak bola papan atas Indonesia. Tapi, kini kondisinya sudah jauh berubah.
--
DARI kejauhan, cat putihnya sudah mulai pudar. Deretan antena parabola yang  berkarat pun membuat siapa yang melihatnya pasti beranggapan bahwa bangunan tersebut kurang terurus.

Saat masuk, kita akan langsung melihat deretan keramik putih yang banyak terkelupas. Sehingga yang kelihatan hanyalah semennya.

Hanya, deretan piala yang masih berjejer rapi masih seperti dulu. Piala itu menjadi simbol kejayaan Persebaya Surabaya di pentas sepak bola Indonesia. Ya, trofi-trofi tersebut disimpan di Mes Persebaya yang berada di Karanggayam, Surabaya.

''Ya beginilah kondisi Mes Persebaya sekarang,'' terang Ram Surahman, salah satu pengurus Persebaya.
BELUM DIPERBAIKI: Keramik di lantai 1 yang mengelupas

Dia mengakui konflik sepak bola nasional dengan membuat Persebaya terpental dari PSSI membuat Mes Karanggayam ikut getahnya. Selain cat dan lantai, musola yang ada pun jauh dengan yang dulu.

Karpet yang melapisi jamaah saat sujud sudah tak terpasang. Saat bersujud, kita langsung mencium  lantai. 

''Hanya musola dan ruang pengurus yang dibuka. Ruangan lain sudah dikunci,'' jelas Ram.

Mantan wartawan sebuah media di Surabaya itu pun kemudian mengajak ke lantai II. Sungguh di luar dugaan, peralatan fitnes sudah tak ada.  Hanya ada dua sepeda stationer dan ada di luar.
NGANGGUR: Meja biliar yang teronggok di lantai II

Ini dikarenakan kondisinya sudah rusak. Sehingga, sepeda itu dijadikan menjemur kain.

''Semoga saja Persebaya bisa ikut kompetisi lagi. Mes ini bisa kembali seperti dulu,'' harap Ram.

Dia mengakui, kehidupan Mes Persebaya disokong oleh klub internal. Mereka, ungkap Ram, melakukan iuran.

''Uangnya dipakai salah satunya membayar listrik Mes Persebaya,'' tambah Jack, sapaan salah satu pelatih anggota internal Persebaya.

Jumlahnya, terang dia, tak terlalu banyak. Hanya, klub anggota yang memberikan donasi tersebut berjumlah 20 klub. (*)
Read More

Rumput Itu pun Kena Imbas

Lapangan Persebaya saat dipakai Piala Menpota U-16 2016
Lapangan Persebaya pernah masuk dalam kategori lapangan yang dapat pujian. Rumput yang hijau dan tanah yang datar membuat para pemain bakal betah berlama-lama bermain. Tapi, bagaimana kondisinya kini?
--
RUMPUTNYA banyak yang berwarna coklat. Begitu juga dengan tanahnya yang sudah tak rata.

Padahal, dulu, saat Persebaya Surabaya memakainya untuk berlatih, hal tersebut tak bakalan terjadi. Para pemain bintang yang membela Green Force tentu akan langsung berteriak mengeluh.

Jika tidak, cedera menjadi resiko yang harus dibayar mahal. Imbasnya, pemain tak akan bisa membela Persebaya di ajang kompetisi.

Dengan kondisi lapangan bagus, para pemain selalu bersemangat menjalani latihan. Belum lagi dukungan penonton yang hampir selalu memenuhi tribun tertutup yang berada di sisi barat Lapangan Persebaya.
BOCOR: Atap bench pemain yang sudah sobek di sana-sini

Hanya sekarang, kondisinya setali tiga uang dengan lapangan. Atapnya beberapa sudah mengelupas. Kalau hujan bisa dipastikan penonton bakal kebasahan.

Begiu pula dengan bench pemain. Bahan fiber yang dipakai sudah sobek.

Saat dipakai pertandingan Liga Pelajar U-16 Piala Menpora, tim yang bertanding harus menutupnya dengan gardus minuman air mineral.
Tujuannya agar mereka tak kepanasan. Sebuah pemandangan yang cukup ironis.

''Setelah dualisme, lapangan ikut tak terawat. Biaya yang dibutuhkan untuk perawatan tak sedikit,'' kata Ram Surahman, media officer Persebaya.

Apalagi, lapangan selalu dipakai. Mulai dari latihan hingga untuk pertandingan.

Dia tetap optimistis lapangan dan segala fasilitas yang ada di Lapangan Persebaya bakal kembali seperti sedia kala. Semua, ujarnya, tentu berkaitan dengan kembalinya Persebaya dalam Kompetisi PSSI.
BUTUH SENTUHAN: Tribun penonton di Lapangan Persebaya

''Lapangan sudah tak seperti dulu. Sekarang banyak yang tak rata,'' ujar salah satu mantan bintang Persebaya Seger Sutrisno sambil menunjuk kondisi lapangan yang beberapa mulai tak rata. (*) 
Read More

Pulang ke Malang karena Arema

PELATIH: Effendi Aziz
Arema sekarang menjadi tim yang disegani. Tapi, sudah banyak yang tak tahu siapa pemain yang kali pertama membela klub dengan logo kepala singa tersebut.
--
RAMBUTNYA memulai memutih. Kepulan rokok pun meluncur deras dari mulutnya.

Perubahan fisiknya berbeda dengan saat masih aktif di lapangan hijau. Perutnya mulai terlihat membesar.

Beda saat bertemu tiga tahun lalu. Atau malah saat masih berstatus sebagai pesepak bola.

''Saya sudah tak muda lagi. Kini, usia saya sudah 59 tahun,'' kata lelaki yang bernama Effendi Aziz tersebut.

Di era Galatama dulu, namanya cukup disegani. Posisinya sebagai gelandang membuat dia sempat masuk dalam Liga Selection, kumpulan pemain-pemain terbaik Galatama yang membela Indonesia di ajang internasional.

''Itu saat saya masih bermain di Arseto. Liga Selection kan banyak pemainnya dari sana,'' kenang Effendi.

Baginya, Arseto merupakan bagian dari perjalanan karirnya di sepak bola profesional. Dia membela klub keluarga Cendana, sebutan bagi keluarga Presiden RI Soeharto, tersebut saat masih bermarkas di Jakarta.

''Saat masuk di awal 1980-an, ada dua klub yang lebih dulu serius menawari. Klub tersebut adalah Warna Agung dan UMS. Keduanya sama-sama dari Jakarta,'' kenang Effendi.

Tapi ternyata semua berubah. Tawaran dari pelatih yang diseganinya, Solekan, membuat dia berbaju Arseto.

Effendi juga mengikuti klub milik Sigit Harjojudanto tersebut ketika pindah ke Solo pada 1983. Di Arseto, dia menjadi bagian saat meraih juara Piala Liga pada 1985.

''Tapi, kemudian saya pindah ke Malang saat ada Arema pada 1987. Ada beberapa pemain Arseto yang ikut pindah. Salah satunya Mahdi Haris,'' lanjut Effendi.

Sehingga, bisa dikatakan, dia merupakan deretan pertama pemain yang berkostum Arema. Pilihannya membela Singo Edan, julukan Arema, tak lepas dari tanah kelahirannya di kota kedua terbesar di Jawa Timur tersebut.

Hanya, setelah pensiun dari Arema, dunia kepelatihannya tak pernah di Arema. Perseta Tulungagung paling lama memakai jasanya.

Effendi juga tak malu untuk menangani pemain muda. Di Liga Pelajar U-16 Piala Menpora 2016, dia tercatat menangani Senopati Malang yang dibawanya lolos ke Zona Jatim. (*)
Read More

Bintang yang Lebih Suka Bikin Ketawa

HIBURAN: Seger Sutrisno
Banyak orang lebih mengenal kekocakannya. Padahal, dia pernah menjadi andalan Persebaya Surabaya.
--
TERIAKANNYA begitu lantang di lapangan Persebaya, Karanggayam, Surabaya, pada Minggu siang (21/8/2016). Tapi, itu malah membuat para penonton yang tengah menyaksikan pertandingan Kompetisi Liga Pelajar U-16 Piala Menpora Zona Jatim tertawa.

Bahkan, ada yang terpingkal-pingkal. Candaan memang sudah menjadi trade mark dari seorang Seger Sutrisno.

Lelaki 51 tahun tersebut mampu membuat suasana tribune Lapangan Persebaya menjadi hidup. Hal itu bukan hanya Minggu saja.

Hampir setiap ada Seger, penonton akan tersenyum, tertawa, bahkan terpingkal-pingkal. Kalau tak mengenalnya, orang mengira Seger hanyalah penonton iseng.

Padahal, lelaki tambun tersebut merupakan salah satu bintang lapangan tengah yang pernah dimiliki Persebaya, sebuah tim legenda dalam kancah sepak bola Indonesia.

''Saya membela Persebaya 1985 sampai 1996. Mungkin termasuk yang terlama di antara pemain yang lain,'' ungkap Seger.

Bapak lima anak ini mengakui, dia memulai karirnya sejak kecil di klub anggota internal Persebaya, sekarang Askot PSSI Surabaya, Indonesia Muda (IM). Kecintaannya kepada sepak bola tak lepas dari lingkungan tempat tinggalnya yang tak jauh dari Gelora 10 Nopember, sebuah stadion yang menjadi kandang Persebaya.

''Kali pertama latihan di Lapangan PJKA (Lapangan Pacar Keling). Setelah besar, saya dipindah untuk mengikuti latihan bersama senior-senior di Lapangan Gelora Pantjasila,'' terang Seger.

Penampilannya yang moncer membuat Seger dipanggil membela Persebaya Junior pada 1984 membuat dia pun dipromosikan ke senior. Hanya, di musim pertamanya, dia hanya menjadi pemanis bangku cadangan.

''Menariknya saat seleksi banyak penonton menggoda saya. Mereka berteriak mau membeli kare dan es kelapa muda,'' kenangnya.

Ya, saat masih sekolah, Seger membantu kehidupan keluarganya dengan berdagang kare dan es kelapa muda. Tapi, tambahnya, kalimat tersebut tak membuat kecil hati.

Sebaliknya, Seger malah terlecut semangatnya. Hasilnya, dia pun bisa masuk tim impiannya sejak kecil.

Selama membela Green Force, julukan Persebaya, dia mampu membawa tim pujaan masyarakat Kota Pahlawan, julukan Surabaya, menjadi juara Perserikatan di musim 1987/1988. Setelah sebelumnya, Seger dkk dipermalukan PSIS Semarang.

Dia juga menjadi bagian dari Persebaya ketika merajai Piala Utama, sebuah kejuaraan yang diikuti oleh tim-tim perserikatan dan galatama. sebuah model yang akhirnya direalisakan pada 1994 dengan nama Liga Indonesia. 

''Saat berganti nama menjadi Liga Indonesia pun saya masih di Persebaya. Hanya, lebih sering jadi cadangan,'' ungkap Seger.

Dengan usia yang terus bertambah dan persaingan semakin ketat, akhirnya dia meninggakkan Persebaya pada 1996. Setahun kemudian, Seger membela klub sekota Persebaya, Assayabaab Salim Group Surabaya (ASGS).

''Itu pun hanya semusim. Setelah itu, saya tak lagi berkompetisi di ajang nasional,'' kenangnya.

Usai gantung sepatu, kesibukannya banyak tercurah di kepelatihan. Tercatat beberapa tim pernah memakai tenaganya.

Bahkan, Seger pernah menjadi asisten di Persebaya saat ditangani M Zein ''Mamak'' Alhadad. Dia pun sempat berkelana di Persewangi Banyuwangi, Persekam Kab Madiun, hingga ke Trenggalek.

Kini, hari-harinya diisi melatih di sebuah klub di Sidoarjo. Tangan dinginnya mampu membawa klub tersebut juara kompetisi Persida. (*)
Read More

Selalu Kesan Baik dari Sumber Berita


HAMPIR 15 tahun saya kenal dengan Kholili. Hampir semua sumber berita yang pernah diwawancari selalu punya kesan yang bagus tentang Ko, sapaan karib Kholili.

Padahal, mungkin sudah puluhan tahun sumber berita tersebut tak pernah bertemu dengannya. Tapi, mereka selalu menanyakan kabar Ko.

Sebuah hal yang ingin saya tiru dari dia. Banyak kenalan dan selalu meninggalkan  kesan baik.

Saat sakit pun hampir semua pesepak bola yang pernah dekat dengannya selalu mendoakan agar Ko bisa kembali pulih seperti sedia kala. Bukan hanya pesepak bola yang sudah berlabel nasional, mereka yang pemain klub internal Persebaya pun melakukan hal yang sama.

Selain itu, para mantan petinju pun merasa kehilangan. Selain menggeluti sepak bola, tinju merupakan cabang olahraga yang ditekuni oleh lelaki yang meninggal di usia 52 tahun tersebut.

Para lelaki yang dulunya berotot dan kekal ikut sedih dengan meninggalnya bapak dua anak asal Gresik, Jawa Timur, tersebut. (*)
Read More

Sang Guru yang Tinggalkan Banyak Ilmu

KHOLILI Indro sudah meninggal Sabtu 23 Juli 2016. Tapi, sampai sekarang, saya masih merasa ada.

Lamanya saya berkenalan dan dekat dengan Ko, sapaan karibnya, membuat jalinan hubungan sudah seperti saudara. Ko pula yang mengenalkan saya tentang jurnalisme dan kehidupan di Surabaya.

Saya masih selalu ingat kali pertama datang ke Surabaya pada 2001. Ketika itu, saya ditawari makanan khas yang banyak ditemukan di Surabaya, yakni tahu tek.

Bagi saya yang merupakan orang Solo, tentu asing dengan tahu tek. Di kampung halaman saya, tahu ya digoreng atau dikasih kecap manis menjadi tahu kupat karena adanya makanan tambahan nasi yang dibungkus daun tersebut.

Agar saya bisa makan tahu tek, Ko rela mengajak saya keliling hingga Pasar Pagesangan, Surabaya. Jaraknya memang tak jauh dari rumah Ko yang tinggal di kawasan Kebonsari.

Setelah itu, banyak ilmu yang saya peroleh dari bapak dua anak, Dio dan Vika, tersebut. Kadang, saya diajak keluar kota untuk menyaksikan sepak bola.

Dalam perjalanan dengan mobilnya, Ko, yang saat itu sudah menjadi Redaktur Olahraga Jawa Pos, banyak bercerita tentang pengalamannya. Dia pun selalu mengingatkan agar mencari berita langsung ke lapangan dan bertemu dengan nara sumber.

Telepon, yang di awal 2000 sudah menjadi alat komunikasi utama, pesannya hanya sebagai alat bantu untuk kita bisa bertemu dengan sumber berita. Ketika saya kembali dari tugas ke Jakarta dan balik Surabaya, KO pula yang membantu mencarikan rumah kontrakan karena saya sudah berkeluarga.

Kebaikannya pula ketika pada 2006, Ko membantu saya pindah rumah ke Sidoarjo. Saya bersama dengannya dan duduk berdampingan hingga 2012.

Meski saya sudah pindah desk, tapi hubungan kami tetap terjalin akrab. Hanya, mulai 2011, Ko harus menjalani kemoterapi untuk penyembuhan kanker kelenjar getah bening yang dialami.

Ada sebuah kenangan dengan kemoterapi yang dialami Ko. Pada kemoterapi ketiga, lelaki yang juga mahir memotret tersebut selalu memanggil nama saya.

Istrinya terus menelpon saya. Hanya, ketika itu, pada 2011, saya tengan bermain bola.

Istrinya hanya pesan bahwa Ko mencari saya. Setiba di rumah, istri saya mengingatkan agar segera menjenguk senior sekaligus guru saya tersebut.

Air mata seakan ingin tumpah semua melihat kondisi KO yang ketika itu terbaring lemah di Rumah Sakit International, Surabaya. Tubuhnya yang dulu gagah hanya tinggal daging dibalut tulang.

Ketika itu, saya tak ingin kehilangan dia. Alhamdulillah, KO bisa melewati tahap tersebut.

Bahkan, Ko menjalani kemoterapi hingga 41. Ketika mendengar dia menjalani kemoterapi, saya merasa itu sudah menjadi hal yang biasa karena besoknya atau dua hari setelah itu dia kembali masuk kantor.

Tapi, sebuah telepon dari seorang rekan pada Minggu (24/7/2016) seperti petir yang sangat mengagetkan saya. Saya yang libur di Sabtu langsung beranjak dari ranjang.

Sebuah kabar meninggalnya Ko membuat saya tak percaya. Kabar tersebut ternyata benar.

Air mata seakan tak mampu dibendung keluar dari mata. Seorang yang sangat berpengaruh dan berjasa dalam perjalanan hidup saya telah meninggalkan lebih dulu menghadap Allah SWT. Selamat jalan senior. Ilmu dan apa yang diajarkan sangat bermanfaat. (*)

Surabaya, 5 Agustus 2016
Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com