www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Jumat, 05 Agustus 2016

Sang Guru yang Tinggalkan Banyak Ilmu

KHOLILI Indro sudah meninggal Sabtu 23 Juli 2016. Tapi, sampai sekarang, saya masih merasa ada.

Lamanya saya berkenalan dan dekat dengan Ko, sapaan karibnya, membuat jalinan hubungan sudah seperti saudara. Ko pula yang mengenalkan saya tentang jurnalisme dan kehidupan di Surabaya.

Saya masih selalu ingat kali pertama datang ke Surabaya pada 2001. Ketika itu, saya ditawari makanan khas yang banyak ditemukan di Surabaya, yakni tahu tek.

Bagi saya yang merupakan orang Solo, tentu asing dengan tahu tek. Di kampung halaman saya, tahu ya digoreng atau dikasih kecap manis menjadi tahu kupat karena adanya makanan tambahan nasi yang dibungkus daun tersebut.

Agar saya bisa makan tahu tek, Ko rela mengajak saya keliling hingga Pasar Pagesangan, Surabaya. Jaraknya memang tak jauh dari rumah Ko yang tinggal di kawasan Kebonsari.

Setelah itu, banyak ilmu yang saya peroleh dari bapak dua anak, Dio dan Vika, tersebut. Kadang, saya diajak keluar kota untuk menyaksikan sepak bola.

Dalam perjalanan dengan mobilnya, Ko, yang saat itu sudah menjadi Redaktur Olahraga Jawa Pos, banyak bercerita tentang pengalamannya. Dia pun selalu mengingatkan agar mencari berita langsung ke lapangan dan bertemu dengan nara sumber.

Telepon, yang di awal 2000 sudah menjadi alat komunikasi utama, pesannya hanya sebagai alat bantu untuk kita bisa bertemu dengan sumber berita. Ketika saya kembali dari tugas ke Jakarta dan balik Surabaya, KO pula yang membantu mencarikan rumah kontrakan karena saya sudah berkeluarga.

Kebaikannya pula ketika pada 2006, Ko membantu saya pindah rumah ke Sidoarjo. Saya bersama dengannya dan duduk berdampingan hingga 2012.

Meski saya sudah pindah desk, tapi hubungan kami tetap terjalin akrab. Hanya, mulai 2011, Ko harus menjalani kemoterapi untuk penyembuhan kanker kelenjar getah bening yang dialami.

Ada sebuah kenangan dengan kemoterapi yang dialami Ko. Pada kemoterapi ketiga, lelaki yang juga mahir memotret tersebut selalu memanggil nama saya.

Istrinya terus menelpon saya. Hanya, ketika itu, pada 2011, saya tengan bermain bola.

Istrinya hanya pesan bahwa Ko mencari saya. Setiba di rumah, istri saya mengingatkan agar segera menjenguk senior sekaligus guru saya tersebut.

Air mata seakan ingin tumpah semua melihat kondisi KO yang ketika itu terbaring lemah di Rumah Sakit International, Surabaya. Tubuhnya yang dulu gagah hanya tinggal daging dibalut tulang.

Ketika itu, saya tak ingin kehilangan dia. Alhamdulillah, KO bisa melewati tahap tersebut.

Bahkan, Ko menjalani kemoterapi hingga 41. Ketika mendengar dia menjalani kemoterapi, saya merasa itu sudah menjadi hal yang biasa karena besoknya atau dua hari setelah itu dia kembali masuk kantor.

Tapi, sebuah telepon dari seorang rekan pada Minggu (24/7/2016) seperti petir yang sangat mengagetkan saya. Saya yang libur di Sabtu langsung beranjak dari ranjang.

Sebuah kabar meninggalnya Ko membuat saya tak percaya. Kabar tersebut ternyata benar.

Air mata seakan tak mampu dibendung keluar dari mata. Seorang yang sangat berpengaruh dan berjasa dalam perjalanan hidup saya telah meninggalkan lebih dulu menghadap Allah SWT. Selamat jalan senior. Ilmu dan apa yang diajarkan sangat bermanfaat. (*)

Surabaya, 5 Agustus 2016

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com