www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Jacksen F. Tiago, Sukses sebagai Pemain dan Pelatih di Persebaya (6)

Jacksen (kanan) bersama mantan pelatih timnas Brasil Dunga
Bisa Bertahan Lama di Saat Pelatih Lain hanya Sebentar

Sudah membawa Persebaya juara Liga Indonesia membuat Jacksen F. Tiago mulai mendapat tempat sebagai pelatih. Hanya, lisensi yang dimiliki sempat diragukan
--
SEBUAH klub yang kurang terdengar namanya, Persiter Ternate, disinggahi Jacksen F. Tiago. Dia memoles klub asal Maluku Utara tersebut menjadi klub yang disegani.

Persiter yang menghuni Wilayah Timur di musim 2007/2008, mampu bertengger di posisi keenam. Memang tak lolos ke delapan besar karena yang diambil hanya posisi empat besar. Delapan besar merupakan langkah awal dalam persaingan menjadi juara.

Tapi, posisi tersebut sudah membuat Gantar Khan dkk berhak berlaga di Indonesia Super League, model kompetisi terbaru yang bakal memakai sistem satu wilayah. Tempat tersebut lebih bagus dibandingkan Persebaya yang di musim itu berada di posisi 14.

Kesuksesan tersebut membuat banyak pihak menyorot Jacksen. Lisensi yang dimiliki dianggap tak bisa dipakai melatih di Indonesia.

''Tapi, saya bisa membuktikan bahwa lisensi saya memang asli. Saya bisa menunjukkan bahwa saya memang mengikuti kepelatihan di Brasil,'' terang Jacksen.

Lisensi tersebut diikutinya sejak masih menjadi pemain di Persebaya. Dia sudah menganggap sepak bola menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Ketelatenananya mengumpulkan lisensi yang bertanda tangan resmi dari asosiasi sepak bola Brasil membantu Jacksen. Apalagi, dia mempunyai foto-foto saat mengikuti kursus.

Dengan lisensi yang dimiliki, Jacksen oleh PSSI diizinkan melatih. Sebentar memoles Mitra Kukar, dia berpindah ke Persitara Jakarta Utara.

''Tapi, saya tak lama melatih Persitara. Ada empat pertandingan saya bersama tim tersebut,'' ujar Jacksen.

Namun, bersama Laskar si Pitung, julukan Persitara, punya peran besar baginya. Dia sudah tak digoyang isu lisensi lagi.

Kondisi ini membuat klub-klub melirik dia kembali. Sebuah tawaran yang terduga datang dari klub Persipura Jayapura,l Papua.

''Saya dipercaya menggantikan Raja Isa. Tawaran tersebut tak bisa saya tolak,'' terang Jacksen.

Bersama Mutiara Hitam,julukan Persipura, rentetan sukses menghampirinya. Mereka selalu bertengger minimal di posisi kedua.

Di tangan Jacksen, Persipura menjadi juara Indonesia Super League tiga kali yakni di musim 2009, 2011, 2013. Di sela-sela itu, tim pujaan dari Bumi Cenderawasih tersebut menjadi runner-up musim 2010, 2012, dan 2014.

Menjadi juara dan runner-up bersama Persipura bukan sebuah hal yang ringan. Tak banyak pelatih yang bisa bertahan lama di sana.

Pelatih sekelas Rahmad Darmawan saja semusim di Persipura. Padahal, dia sukses mengantatkan Eduard Ivakdalam dkk menjadi juara 2005.

''Butuh bukan sekadar teknik menangani Persipura. Ada hal lain yang lebih penting,'' kenang Jacksen. (*)

Sukses di Persipura membuat Jacksen dipromosikan menjadi pelatih nasional. Tapi, gara-gara itu, dia pun harus rela berjauhan dengan sahabat lamanya. Mengapa? Baca selanjutnya di seri 7











Read More

Jacksen F. Tiago, Sukses sebagai Pemain dan Pelatih di Persebaya (5)

Jacksen saat membakar daging di rumahnya di Surabaya
Tawaran Tangani PON, eh Latihnya Persebaya

Karir kepelatihan Jacksen F. Tiago dimulai dari bawah. Tapi, dari situlah kesuksesannya dimulai.
---
PENSIUN sebagai pemai pada musim 2001 tak membuat Jacksen Fereira Tiago pulang kampung ke Brasil. Tenaga dan pikirannya masih laku.

Dia dapat kepercayaan menjadi pelatih di Assyabaab, sebuah klub anggota internal Persebaya. Tentu, fasilitas yang didapat tak mewah seperti saat masih menjadi pemain di Liga Indonesia.

Namun, hal tersebut tak menjadi masalah baginya. Jacksen ingin menerapkan ilmu kepelatihan yang dia dapat dari Brasil.

Dengan ilmu ditambah pendekatan kepada pemain, Assyabaab dua kali beruntun menjadi juara, 2001 dan 2002. Hasilnya, kemampuan kepelatihan yang dimiliki lelaki yang kini berusia 48 tahun tersebut mulai dilirik klub-klub.

''Oleh Pengda PSSI Jatim, pada 2003, saya diberi kepercayaan masuk dalam tim pelatih PON Jatim yang mempersiapkan diri ke PON 2004,'' ungkap Jacksen saat ditemui di kawasan Keputih.

Tapi, di tengah jalan terjadi perubahan. Jebloknya prestasi Persebaya ditangan M. Zein Alhadad membuat dia dipercaya menangani Green Force, julukan Persebaya. Pelatih yang sebenarnya dipercaya menukangi tim tersebut ditolak oleh para pemain.

''Saat pemain dikumpulkan oleh manajemen Persebaya, mereka nggak masalah saya latih. Bahkan, mereka siap berjuang dengan saya mengangkat kembali prestasi Persebaya,'' ujar Jacksen.

Para pemain yang ada di Persebaya di musim 2003 itu mayoritas masih rekan-rekannya di lapangan dulu.Salah satunya Mursyid Effendi.

''Bagi saya, materi pemain Perseaya yang saat itu di Divisi I pada 2003 bagus-bagus. Banyak dari mereka dari Timnas U-19,'' kenang Jacksen.

Di tangannya, Persebaya kembali ke habitatnya di Divisi Utama. Tak butuh waktu lama juga bagi Jacksen untuk mengantarkan kembali Persebaya menjadi juara Liga Indonesia di musim 2004.

''Saya rombak pemain. Pemain-pemain papan atas bergabung seperti Kurniawan Dwi Yulianto,'' jelas Jacksen.

Pemain lama yang sempat absen di Divisi I seperti Uston Nawawi dan Bejo Sugiantoro ditarik kembali dari PSPS Pekanbaru. Kolaborasi skuad bintang ini membuat Perseaya bertengger di posisi puncak di akhir klasemen. Uston dkk hanya unggul selisih gol dari rival terdekatnya, PSM Makassar.

Tapi, semangat Jacksen sebagai pelatih di Persebaya kembali luntur. Itu pula yang membuatnya harus mencari klub lain.

''Pada 2005, Persebaya mundur di tengah-tengah jalan. Ini yang membuat saya harus mencari tantangan lain,'' lanjut dia.

Persita Tangerang menjadi klub yang paling serius mendapatkannya. Tim berjuluk Pendekar Cisadane tersebut dibuatnya bertahan di Divisi Utama.

Hanya semusim di Tangerang, Jacksen harus terbang ke Indonesia Timur guna memoles Persiter Ternate, Maluku Utara. Di sini, dia bereuni dengan rekannya saat datang kali pertama, Julio Cesar Da Costa. (*)

Jacksen mulai menangani klub-klub lain. Namun, lisensi yang dimiliki mulai diusik. Baca selanjutnya di seri 6








Read More

Jacksen F. Tiago, Sukses sebagai Pemain dan Pelatih di Persebaya (4)

Jacksen menimnba ilmu kepelatihan di Brasil
Dapat Kepercayaan Jadi Pelatih Fisik

Kerinduan meraih gelar di Indonesia mampu diobati Jacksen F. Tiago bersama Persebaya. Namun, dia pun juga harus berat meninggalkan klub tersebut.
--
JACKSEN F. Tiago dikenal punya semangat tinggi. Bukan hanya saat pertandingan, saat berlatih pun, dia selalu tak mau kalah.

Hasilnya pun terlihat. Dia dua kali mengantarkan klub yang dibelanya, Petrokimia Putra Gresik dan PSM Makassar, mampu menembus final Liga Indonesia.

Sayang, kedua klub tersebut gagal menjadi juara. Kebo Giras, julukan Petrokimia, menyerah 0-1 dari Persib Bandung. Sedangkan Juku Eja, julukan PSM, dihentikan Bandung Raya.

Tapi,semua terobati saat Jacksen memperkuat Persebaya. Bersama tandemnya di Petrokimia Putra, Carlos de Mello, serta ditambah Justinho Pinheiro di belakang, Green Force, julukan Persebaya, mampu keluar sebagai juara Liga Indonesia di musim 1996/1997.

Bahkan, di laga final yang dilaksanakan di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, pada 28 Juli 1997, Jacksen ikut menyumbangkan satu gol dari kemenangan 3-1 Persebaya atas Bandung Raya. Dua gol lain disumbang Aji Santoso dan Ronald ''Koko'' Pieterz. Sementara gol semata wayan Bandung Raya diceploskan Budiman.

Setahun kemudian, Persebaya tak bisa mempertahankan gelar. Bukan karena kalah oleh timlain.

Kekacauan politik membuat Liga Indonesia tak bisa digelar. Namun, di sela-sela persiapan, Jacksen sempat mengemban amanah.

''Saya juga jadi pelatih fisik. SK -nya saya untuk jabatan itu,'' ungkap lelaki asal Rio de Janeiro, Brasil, tersebut.

SK itu, lanjut dia, diterima dari Wali Kota Surabaya saat itu Soenarto dan Manajer Soekarwoto. Alasannya, Jacksen dianggap punya stamina yang kuat saat di lapangan.

Namun, pada musim 1997/1998, semangat yang biasa dimiliki Jacksen mulai luntur. Itu pula yang membuat dia ingin pindah.

Jacksen menerima pinangan dari klub Singapura Geylang United. Pelatihnya adalah Rene Alberts, mantan pelatih Arema yang kini menukangi PSM Makassar.

''Saya dihajar latihan fisik di sana. Badan saya sampai kurus,'' ujar Jacksen.

Namun, dia hanya setahun di Negeri Singa, julukan Sngapura. Permintaaan Manajer Petrokimia Putra, Imam Supardi, tak kuasa ditolak.

''Dia ingin saya bisa membantu Petrokimia Putra yang tengah terpuruk di kompetisi. Petro juga terancam degradasi,'' kenangnya.

Ternyata, kehadiran lelaki yang kini berusia 48 tahun tersebut sangat berpengaruh. Pelahan tapi pasti, tim asal Kota Pudak, julukan  Gresik, mulai terangkat dari dasar klasemen dan menjauh dari zona degradasi.

''Hanya di musim 2002, saya tak bisa  bermain lagi di Petrokimia. Pimpinan Petrokimia menganggap saya sudah tua dan tak bisa bersaing,'' ujar Jacksen. (*)

Musim 20021 ternyata menjadi musim terakhirnya menjadi pemain. Jacksen mulai menggeluti sebagai pelatih. Klub mana yang pertama ditangani? Baca di seri 5. (*)



Read More

Jacksen F. Tiago, Sukses sebagai Pemain dan Pelatih di Persebaya (3)

Jacksen kini berusia 48 tahun

Pilih Carlos de Mello Dibandingkan Luciano

Sukses mengantarkan Petrokimia Putra Gresik ke final Liga Indonesia membuat nama Jacksen . Tiago terangkat. Banyak klub berniat meminang.
--
PENAMPILAN bersama Petrokimia Putra Gresik menjadi awal perjalanan panjang Jacksen . Tiago dengan sepak bola Indonesia. Meski baru kali pertama mengenalnya, dia langsung klop dengan atmosfernya.

Ini yang membuat Kebo Giras, julukan Petrokimia Putra ingin memperpanjang kontraknya. Keinginan ini pun tak bertepuk sebelah tangan.

''Saya dan Petrokimia sudah mencapai kata sepakat. Saya cocok dengan klub itu,'' kenang Jacksen.

Sayang, asa tersebut berbeda dengan agennya. Sang agen lebih memilih tawaran PSM Makassar.

''Persebaya juga sudah nyaris mendapatkannya. Saya sempat berlatih bersama mereka,'' lanjut lelaki asal Rio de Janeiro tersebut.

Kehadiran Jacksen sebagai pemain asing di Pasukan Ramang, julukan PSM, tak sendirian. Dia bersama dua rekan senegara, Marcio Novo dan Luciano Leandro, membuat klub tersebut terangkat prestasinya.

Tim asal ibu kota provinsi Sulawesi Selatan itu menguasai Liga Indonesia Wilayah Timur. Di babak penyisihan wilayah, Jacksen dkk menjadi pimpinan klasemen.

Di babak 12 besar pun, PSM menjadi pimpinan. Setelah usai menggebuk Persipura 4-3 di semifinal, langkah tim dengan kaos identik merah tersebut harus mengakui ketangguhan Mastrans Bandung Raya dengan 2-0 dalam laga final yang dilaksanakan  di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 6 Oktober 1996.

''Barulah pada musim 1996/1997, saya bisa ke Persebaya Surabaya,'' ujar Jacksen.

Saat bergabung Green Force, julukan Persebaya, pengurus klub tersebut sempat menanyakan pemain yang bakal berkolaborasi dengannya, khususnya lini tengah. Dua gelandang yang sama-sama berasal dari Brasil, Luciano Leandro dan Carlos de Mello, menjadi opsi.

Kebetulan, keduanya pernah bermain dengannya. Carlos ke Petrokimia Putra Gresik dan Luciano di PSM. Tapi, Jacksen akhirnya lebih memilih Carlos.

''Saya ada pertimbangan dengan jawaban itu. Kalau mau intertainment ya Luciano sedang kalau membangun tim Carlos lah yang bagus,'' ungkap Jacksen.

Ternyata, jawaban tersebut diseriusi oleh manajemen Persebaya. Carlos pun didatangkan ke Persebaya.

Permainan sehati keduanya di Petrokimia kembali terjadi di Persebaya. Hasilnya, tim pujaan Bonek itu merajai wilayah yang ditempati, yakni barat. Jacksen menjadi pencetak gol terbanyak dengan 19 gol.

Lajunya semakin kencang hingga menembus final.  Lawan yang dihadapi adalah Mastrans Bandung Raya, klub yang setahun sebelumnya mempermalukan Jacksen yang berkostum PSM.

Dalam partai puncak di Stadion Utama Senayan, Jakarta, Persebaya menghentikan perlawanan tim asal Kota Kembang, julukan Bandung, dengan skor 3-1. Hebatnya, Jacksen ikut menyumbang satu gol.

''Tiga musim saya bersama Persebaya. Sebuah masa yang indah,'' terang Jacksen. (*)

Juara dan nama sudah didapat Jacksen dari Persebaya. Lalu, mengapa dia memilih pindah.Baca kelanjutannya di seri 4.



Read More

Jacksen F. Tiago, Sukses sebagai Pemain dan Pelatih di Persebaya (2)

Jacksen di rumahnya di timur Surabaya
Menolak Balik Brasil karena Tak Bisa Kejar Natal


Belum pernah mendengar nama Indonesia membuat Jacksen F. Tiago ragu. Dia sempat kaget juga dengan teknik rekan-rekannya
--
BERANGKAT dari Brasil, Jacksen F. Tiago dkk dijanjikan bakal berlaga di Malaysia. Mereka tak menolak karena sudah sering mendengar nama negeri jiran tersebut di kancah sepak bola.

''Namun,saat di transit di Singapura, kami diberikan tiket ke Indonesia tujuan Jakarta. Kami sempat berontak,'' ujar Jacksen.

Alasannya, mereka belum tahu dengan belantara sepak bola Indonesia. Namun, para pemain Negeri Samba, julukan Brasil, yang berjumlah tujuh pemain tersebut akhirnya memutuskan berangkat ke Jakarta.

''Kami sempat berunding, siapa yang memilih ke Jakarta dan siapa yang balik ke Brasil. Saya yang pilih ke Jakarta,'' ungkap Jacksen.

Alasannya, untuk balik ke Brasil pun bakal sia-sia. Apalagi, tujuannya untuk merayakan Natal.

''Kami datang ke Jakarta pada 23 Desember 1994. Kalau balik, Natal di Brasil bersama keluarga juga tak akan terkejar,'' terang Jacksen.

Saat tiba di Jakarta, mereka, lanjutnya, diinapkan di Hotel Indonesia. Hanya, selama beberapa hari, jelasnya, dia dan rekan-rekanya hanya makan dan tidur.

''Jadi selama beberapa hari, kami nggak berlatih. Sampai-sampai, kami merasa sudah kangen menendang bola,'' lanjut Jacksen.

Hingga akhirnya, PSSI mendistribusikan mereka ke beberapa klub. Jacksen bersama Carlos de Mello harus segera ke Gresik untuk membela Petrokimia Putra. Sedangkan Julio Cesar Da Costa dan Gomes de Olivera ke Mitra Surabaya.

''Fransisco ke PKT Bondang serta Jefferson dan Edmilson harus ke Pelita Jaya,'' papar Jacksen.

Hanya, dari ketujuh pemain tersebut, Jefferson dam Edmilson yang pulang lebih awal. Keduanya, terang Jacksen, memang unggul pengalaman dibandingkan rekan-rekannya yang lain.

''Keduanya memang punya nama di Brasil. Jadi, mereka tak akan kesulitan mendapatkan klub di sana setelah balik dari Indonesia,'' ucap Jacksen.

Saat datang ke Petrokimia Putra, Jacksen dan Carlos dijemput oleh para petinggi Petrokimia Putra. Mereka, tutur Jacksen, segera membawa ke Kota Pudak, julukan Gresik.

''Dalam latihan perdana, saya dan Carlos sampai kaget. Skill dan cara pemain Petrokimia jauh dengan pemain Brasil,'' ungkap lelaki yang kini berusia 48 tahun tersebut.

Dalan latihan, dia dan Carlos selalu tampil menonjol. Ini yang akhirnya membuat keduanya menjadi piliha pelatih Petrokimia di Liga Indonesia I, (alm) Andi Ahmad.

Bahkan, keduanya mampu mengantarkan Kebo Giras, julukan Petrokimia Putra, ke babak final di Jakarta. Pertandingan tersebut tak akan pernah dilupakan Jacksen.

Tandukannya yang menjebol gawang Persib Bandung dianulir oleh wasit Zulkili Caniago. Hingga akhirnya, gol penyerang lawan Sutiono di menit 76 membuat Maung Bandung, julukan Persib, keluar sebagai juara. (*)


Penampilan gemilang di Petrokimia Putra membuat  Jacksen diincar oleh banyak klub. Dia sudah nyaris ke Persebaya tapi batal. Baca kelanjutannya di seri 3.



 



Read More

Jacksen F. Tiago, Sukses sebagai Pemain dan Pelatih di Persebaya (1)

Jacksen saat ditemui di rumahnya di Surabaya
Dibohongi Agen karena Tak Jadi ke Malaysia

Sejak era Liga Indonesia dimulai, pemain asing banyak berseliweran di Persebaya Surabaya. Tapi, belum ada yang bisa melebihi seorang Jacksen F. Tiago.
--
BEBERAPA anak tengah bermain sepak bola di jalan di sebuah perumahan di daerah Keputih. Mereka dibiarkan oleh sang pemilik rumah yang depannya dipakai bermain.

Padahal,tak jarang bola masuk ke dalam rumahnya. Tak lama berselang, sang pemilik keluar dari rumah.

Ternyata, dia adalah Jacksen F. Tiago.  Dia merupakan salah satu pesepak bola asing yang paling sukses di kompetisi sepak bola Indonesia.

''Setiap hari anak-anak ini bermain di depan rumah. Saya biarkan saja karename saya juga bisa menyaksikannya,'' kata Jacksen.

Meski masih berstatus sebagai warga negara Brasil, Jacksen termasuk lancar dalam berbahasa Indonesia. Bahkan, kata-katanya sudah seperti orang Indonesia.

Ini disebabkan lelaki yang kini berusia 48 tahun tersebut sudah datang ke Negeri Jamrud Khatulistiwa, julukan Indonesia, pada 1994. Saat kompetisi sepak bola di negeri dengan ribuan pulau tersebut berganti menjadi Liga Indonesia.

Sebuah konsep kompetisi yang menggabungkan antara perserikatan yang dianggap amatir dengan Galatama yang semiprofesional.

''Saya datang atas ajakan seorang agen pemain di Brasil yang kemudian dihubungkan dengan agen dari Rumania, Angel Ionita. Saya pun menerima ajakan tersebut,'' kata Jacksen saat ditemui pada Sabtu (17/7/2016) di kawasan Keputih, Surabaya.

Dia menerima karena usianya yang sudah 26 tahun merasa sudah susah untuk berkembang di Negeri Samba, julukan Brasil. Hanya, Jacksen mengaku hanya bermain sepak bola yang bisa dilakukan.

''Banyak sekali pemain di Brasil. Usia 26 sudah dianggap tua,'' ungkap Jacksen.

Hanya, ucap dia, negara yang akan ditujunya adalah Malaysia. Malaysia, ujarnya, sudah sering didengarnya, khususnya kompetisi sepak bola.

''Saya berangkat bersama enam rekan yang lain. Dari Rio de Janeiro, kami naik pesawat ke Swiss karena janjian ketemu dengan Angel di sana,'' lanjut Jacksen.

Selain Jacksen, keenam rekannya yang lain adalah Carlos de Mello, Gomes de Olivera, Julio Cesar Da Costa, Fransisco, Jeferson, dan Edmilson. Saat di Swiss, mereka tak bisa bertatap muka.

''Namun, kami tanya ke petugas maskapai, nama agen ada di satu pesawat dengan kami. Tujuan kami adalah Singapura,'' terang Jacksen.

Ternyata, oleh Angel, para pemain Brasil tersebut tak jadi ke Malaysia. Tapi, mereka dipindahkan ke Indonesia dan tiket ke Jakarta sudah disediakan. (*)

Jacksen dan rekan-rekannya akhirnya ke Jakarta. Mereka tak ada yang tahu Indonesia. Bagaimana akhirnya mereka bisa bermain. Baca kelanjutannya di seri 2.
Read More

Yongki Kastanya, Nyong Ambon yang Bersinar bersama Persebaya (5-Habis)

Yongki (dua kiri bawah) bersama Persebaya
Diajak Waskito, Akhiri Karir di Persegres

Usia yang sudah kepala 3 membuat Yongki Kastanya masih bisa memberikan sumbangan prestasi kepada Persebaya. Sayang, dia tak menutup karir di klub tersebut.
--
MASUKNYA para pemain muda tak membuat Yongki Kastanya terlupakan. Dia masih dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik di Persebaya.

Di musim 1993/1994, hanya tinggal dia dan Maura Helly yang bertahan dari tim juara. Bahkan, beberapa klub masih mencarinya.

''Saya masih merasakan kompetisi Liga Indonesia. Tapi, saya tak bersama Persebaya,'' kata Yongki.

Kompetisi Liga Indonesia yang dimulai pada 1994 tersebut merupakan paduan antara perserikatan dan galatama. Dua kutub sepak bola yang sebelumnya terpisahkan.

''Saya diajak Waskito untuk membantu Persegres Gresik yang tengah terpuruk. Posisinya bisa degradasi karena buruk di putaran I,'' kenang Yongki.

Dia tak bisa menolak pinangan tersebut. Meski, usianya sudah 33 tahun.

Waskito sendiri punya ikatan riwayat dalam perjalanan karir Yongki.Dia yang menawari bergabung di Assyabaab dari Ambon, Maluku, saat usianya masih 15 tahun.

''Bersyukur, saya yang baru bergabung di putaran II bisa membuat Persegres bisa bertahan di Divisi Utama,'' ungkap Yongki.

Setelah itu, dia pun tak lagi aktif di kompetisi level tinggi. Hanya, Yongki sudah memantapkan untuk terus hidup dari sepak bola.

Yongki tercatat menangani beberapa klub. Kali terakhir, namanya tercatat sebagai asisten di tim sepak bola Pekan Olahraga Nasional (PON) Jatim 2016.

Yongki mendampingi mantan pemain nasional Hanafing. Hanya, tim tersebut tak lolos dan gagal bertanding di Jawa Barat.

Saat disambangi pada pertengahan September 2016, Yongki pun bersiap hendak melatih sebuah tim yang bakal berlaga dalam kompetisi internal Askot PSSI Surabaya.

''Saya akan coba terus hidup dari sepak bola. Waktu saya banyak tercurah di lapangan,'' pungkas lelaki kelahiran 7 Februari 1961 tersebut. (*)
Read More

Yongki Kastanya, Nyong Ambon yang Bersinar bersama Persebaya (4)

Kaget saat Harus Pindah ke BPD Jateng

Setelah mengantar Persebaya juara, nama Yongki Kastanya semakin terangkat. Namun, dia tak masuk saat mereka mempertahankan gelar.
--

KUARTET gelandang Persebaya cukup disegani. Itu sudah terbukti dengan kesuksesan mengantarkan Green Force, julukan Persebaya, menjadi juara perserikatan musim 1987/1988.

Yongki (dua kanan dari bawah) di Stadion Tambaksari
Ketangguhan ini pun membuat Yongki bersama Maura Helly, Aries Sainyakit, dan Budi Johanis bakal menjadi andalan untuk bisa mempertahankan gelar di musim1989/1990. Musim 1988/1989 tidak ada karena perserikatan dilaksanakan dua tahun sekali.

Tapi, siapa sangka, ternyata harapan tersebut tinggal harapan bagi Yongki. Tidak ada badai dan hujan, tiba-tiba dia harus berpindah klub.

''Pak Barmen (manajer klub Yongki, Assayabaab) memanggil saya. Dia menyuruh saya untuk ke Semarang bergabung dengan BPD Jateng,'' terang dia.

Alasannya, tambah Yongki, guna mengakrabkan hubungan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sebagai pemain, ujarnya, dia tak bisa berbuat apa-apa.

''Saya nggak kerasan di Semarang. Sehingga, saya hanya satu musim di sana, 1990,'' jelas Yongki.

DI BPD, ujarnya, ada juga Aries. Tapi kolaborasi keduanya tak bisa berbuat banyak untuk mengangkat klub milik bank pemerintah Jawa Tengah tersebut.

Kehilangan keduanya juga mereduksi performa Persebaya. Mereka gagal mempertahankan gelar perserikatan.

Di final, tim pujaan Bonek tersebut dihajar Persib Bandung 0-2. Di lini tengah hanya tinggal Maura Helly dan Budi Johanis. Sementara, dua lainnya merupakan pemain muda, Ibnu Grahan dan Yusuf Ekodono.

Usai dari BPD, Yongki ditarik oleh Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS) di musim 1990/1992. Penampilannya tetap masih memikat di lapangan.

''Ini yang membuat saya bisa kembali ke Persebaya pada musim 1993/1994. Itu merupakan musim terakhir perserikatan sebelum digabung dengan galatama,'' jelas dia.

Kehadirannya seakan kembali membangkitkan kembali era kejayaan Persebaya. Tim dengan warna khas hijau-hijau tersebut merajai di wilayah timur dengan memimpin klasemen.

Persebaya sukses menembus delapan besar. Bahkan, mereka menembus babak semifinal.

''Tapi, kami kalah oleh Persib di semifinal,'' kenangnya.

Dengan usia yang tak muda lagi, Yongki masih laku. Ke mana dia mengakhiri karir. Ikut kelanjutannya di seri 5.


Read More

Yongki Kastanya, Nyong Ambon yang Bersinar bersama Persebaya (3)

Klipingan koran saat dia sakit
Paksa Main saat Sakit Liver Terasa 


Penantian Persebaya menjadi juara perserikatan selama 10 tahun berakhir. Peran Yongki tak bisa dianggap remeh.
--
SEBUAH foto memegang trofi diambil Yongki Kastanya dari sebuah kamar di rumahnya di Petemon Timur, Surabaya. Dia mengaku bahwa foto tersebut selalu dibanggakannya.

''Bagaimana nggak bangga, saya menjadi bagian dari Persebaya menjadi juara kompetisi perserikatan,'' ungkap Yongki saat ditemui di rumahnya pada Rabu (15/9/2016).

Di foto tersebut, dia tengah mengangkat trofi juara perserkatan. Ingat, dia berfoto sendiri.
Yongki bersama foto saat juara

Harus diakui, gelar pada musim 1987/1988 tersebut juga menjadi pelipur dahaga. Sebelumnya, kali terakhir, Persebaya menjadi juara pada musim 1977/1978 di era Djoko Malis Mustafa dkk.

Apalagi, pada musim sebelumnya, 1986/1987, tim kebanggaan warga Kota Pahlawan, julukan Persebaya, tersebut secara mengejutkan kalah 0-1 oleh PSIS Semarang dalam final di Stadion Utama,Senayan, Jakarta. Tapi, semua terbalaskan di musim 1987/1988.

Gelar tersebut juga menjawab suara sumbang di musim tersebut. Ya pada 21 Februari 1988, Persebaya kalah telak 0-12 dari Persipura Jayapura di kandangnya sendiri, Gelora 10 Nopember.

''Tapi saya nggak main karena menolak. Itu semua kan urusan para petinggi Persebaya,'' terang Yongki.

Kondisinya di musim tersebut juga tengah fit. Beda dengan musim 1986/1987.

''Pada 1986/1987, saya nggak ikut main di final. Saya hanya sampai mengantarkan lolos ke Jakarta saja,'' kenang Yongki.

Kenapa? ''Saya sakit. Di pertandingan terakhir, saya paksa main agar Persebaya bisa lolos ke Jakarta,'' lanjut dia.

Akibatnya, setelah itu, dia harus menginap di rumah sakit. Ternyata, lelaki kelahiran Ambon, Maluku, 1961 tersebut livernya luka.

''Saya disuruh istirahat sama dokter sebulan. Kecewa sekali saya mendengarnya karena tak bisa bermain di Jakarta,'' ujarnya.

Dia mengakui, kekuatan lini tengah Persebaya saat juara cukup menakutkan. Di posisi bertahan dia dan Maura Helly menjadi penopang buat Budi Johanis dan Aries Sainyakit.

''Bukan hanya kompetisi,turnamen-turnamen yang ada pun mampu kami juarai. Saat itu, memang Persebaya lagi bagus-bagusnya,'' lanjut Yongki. (*)

Tapi, pada musim berikut, nama Yongki tak ada di Persebaya. Ke mana dia? Baca selanjutnya di seri 4.
Read More

Yongki Kastanya, Nyong Ambon yang Bersinar bersama Persebaya (2)

Berani Tolak Panggilan Timnas

Yongki membuka kliping berita tentang dirinya


Pilihannya ke Surabaya tak keliru. Tak butuh waktu lama baginya untuk bisa menembus skuad Persebaya Senior.
-
DI kompetisi internal, penampilan Yongki Kastanya memikat. Tak heran, dia pun mendapat panggilan mengikuti seleksi Persebaya.

Saat itu, bukan hal yang mudah untuk bisa menembus skud Green Force, julukan Persebaya. Tim asal Kota Pahlawan, julukan Persebaya, tersebut diisi oleh para bintang-bintang lapangan hijau.
Hanya, kebetulan ketika itu, mereka   banyak yang hengkang di klub sekota yang berkompetisi di Galatama, Niac Mitra. Kesempatan tersebut mampu dimanfaatkan lelaki kelahiran 1961 tersebut dengan baik.

''Saya masuk Persebaya dan langsung dapat posisi di tengah atau gelandang. Dibandingkan yang lain mungkin saya beda karena tak pernah merasakan ikut Persebaya Junior,'' ungkap Yongki.

Kehadirannya mampu membuat lini tengah tim asal Kota Pahlawan, julukan Surabaya, tersebut lebih hidup. Sebagai gelandang bertahan, Yongki mampu menjadi penyeimbang antara lini belakang dengan tengah.

''Saya mengikuti banyak turnamen. Ini mampu mengasah kemampuan kami yang banyak berusia muda,'' jelas Yongki.

Sayang, di musim tersebut, Persebaya gagal menjadi juara. Pemenang kompetisi perserikatan jatuh ke tangan Persiraja Banda Aceh.

Tapi, kegagalan tersebut tak membuat Persebaya patah semangat. Para pemain muda yang ada semakin siap menghadapi kompetisi.

Karena saat itu tak setiap tahun dilaksanakan, kompetisi baru bergulir pada 1983. Namun, lagi-lagi, gelar juara belum diraih.

''Barulah pada 1985, Persebaya menembus babak enam besar. Hanya, kami harus puas di peringkat kelima,'' ungkap Yongki.

Karena cintanya kepada Persebaya, Yongki mengungkapkan bahwa dirinya menolak membela Timnas U-23. Dia pun mengaku tak menyesal meski tak pernah memakai logo garuda di dada dalam pertandingan internasional.

Setelah menunggu lama, Persebaya akhirnya juara. Yongki punya peran besar. Selanjunya baca seri 3.
Read More

Yongki Kastanya, Nyong Ambon yang Bersinar bersama Persebaya (1)

Yongki saat ditemui di rumahnya
Datang ke Surabaya saat Masih 17 Tahun

Persebaya berasal dari Kota Surabaya. Tapi, para pemainnya dari luar Kota Pahlawan. Ada yang dari Ambon yang membuat nama Persebaya terangkat.
--
AGAK susah mencari alamat Petemon Timur No 57, Surabaya. Di jalan tersebut tak ada rumah yang ada di pinggir jalan dengan nomor 75.

Usai nomor 56 terus nomor 58. Tapi, di sela-sela kedua rumah dengan kedua nomor tersebut ada sebuah gang kecil.

Saat penulis ke wilayah tersebut pada 13 September 2016, jalan di depan rumah di kawasan Petemon Timur tengah ada galian PDAM. Sehingga, perlu sebuah jembatan kecil untuk  bisa masuk gang.

Ternyata, rumah yang di dalamnya semua memakai nomor 57. Hanya, huruf di dalamnnya yang membedakan. Tempat tinggal Yongki Kastanya cukup dalam. Ada sekitar 50 meter dari jalan untuk sampai. Lebar jalan pun hanya sekitar 2 meter.
Sehingga, mereka yang masuk dalam gang tersebut harus turun dari sepeda motor dan mematikan mesin.

Tapi, semua penghuni di gang tersebut tahu rumah Yongki. Wajar nama besarnya saat membela Persebaya di era 1980-an masih membekas di warga sekitar.

''Rumah Yongki paling ujung, terus saja,'' kata salah satu penghuni rumah nomor 57 bagian depan.

Sebuah rumah dalam kondisi pintu tertutup di bagian depan berada di paling ujung. Tapi, sebuah panggilan dengan suara yang tak asing lagi bagi penulis terdengar dari dalam.

''Ini rumah saya. Ayo silahkan masuk,'' ujar Yongki.

Dibandingkan rumah-rumah yang lain, tempat tinggal dia termasuk paling besar. Hanya, di ruang tamu tersebut tidak ada foto ataupun penanda Yongki sebagai mantan bintang di sebuah klub besar, Persebaya.

''Medali dan foto-foto disimpan di kamar. Semuanya masih ada,'' ujar dia.

Yongki mengaku membela dan bisa mengharumkan nama Persebaya merupakan sebuah kenangan yang tak akan terlupa. Meski, dia bukan pemain yang lahir di Surabaya.

''Saya aslinya Ambon, Maluku. Klub saya di sana adalah Pusparagam,'' ungkap Yongki.

Klub tersebut juga melahirkan para bintang-bintang lapangan hijau. Dia menyebut Rocky Putiray dan Ronald Pieterz yang berseragam sama dengan hanya.

Rocky merupakan mantan pemain nasional yang sukses membawa Indonesia meraih emas di SEA Games 1991 dan juara Galatama bersama arseto Solo. Sedangkan Ronald atau yang akrab disapa Koko menjadi pemain depan Green Force, julukan Persebaya, saat menjadi juara pada musim 1997.

Yongki mengakui kedatangannya ke Kota Pahlawan, julukan Persebaya, karena peran Waskito. Ketika itu, dia datang bersama klubnya, Assayabaab Surabaya, ke Ambon untuk mengadakan uji coba pada 1978.

''Saya masih usia 15 tahun tapi sudah membela PSA Ambon. Usai pertandingan, Waskito menawari untuk bergabung dengan Assyabaab di Surabaya,'' ungkap Yongki.

Setelah konsultasi dengan keluarga, dia pun berangkat ke Surabaya. Tujuan utamanya adalah Ampel, yang menjadi markas Assyabaab dan datang ketika usianya masih 17 tahun.

''Saya juga melanjutkan SMA di Surabaya.  Saya tetap latihan,'' kenangnya.(*)

Tak butuh lama baginya masuk Persebaya. Bahkan, dia tak perlu melalui kelompok junior. Baca selanjuynya di seri 2.
Read More

Ferril Raymond Hattu, Kapten Terakhir Indonesia Menjadi Juara SEA Games (6-Habis)

Trofi dan medali Ferril dari kejuaraan golf
Lebih Mudah Temukan Piala Golf

Banyak yang tak tahu bahwa sebenarnya Ferril Hattu pernah berkostum Persebaya. Sehingga, dia pun termasuk di barisan depan dalam memperjuangkan nasib Green Force.
--
ORANG mungkin hanya tahu bahwa klub yang dibela Ferril Raymond Hattu adalah Petrokimia Putra Gresik. Itu wajar karena dia termasuk salah satu pemain yang ada saat klub tersebut berdiri pada 1987.

Ferril juga pensiun di klub berjuluk Kebo Giras tersebut dan menjadi pelatih di sana. Padahal, awal karir dia dimulai dari Persebaya Junior dan bahkan pernah berkostum Persebaya saat senior.

Setelah pensiun sebagai pemain dan pelatih karena konsentrasi sebagai karyawan Petrokimia, sebenarnya Ferril selalu bersinggungan dengan Persebaya. Kok bisa?

''Saya pemilik klub internal HBS sekaligus pengurus Persebaya di bidang pembinaan,'' ungkapnya.

Dia dikenal juga ada di barisan depan saat Persebaya berjuang kembali untuk diakui oleh PSSI. Ya, sebelumnya Green Force dikeluarkan dari induk organisasi sepak bola di tanah air tersebut pada 2013.

''Saya memperjuangkan kebenaran. Dan saya akan selalu mengawal Persebaya,'' terang lelaki 54 tahun tersebut.

Selain itu, kini dia juga sering ke lapangan hijau lagi. Hanya, bukan bermain atau melatih.

''Sejak 1997 saya belajar golf. Sabtu dan Minggu pagi, saya lebih banyak bermain golf sekarang,'' lanjut bapak tiga anak tersebut.

Prestasinya di lapangan golf tak bisa dipandang sebelah mata. Di rumahnya di Nginen Intan, Surabaya, piala, trofi, dan medali dari cabang olahraga tersebut terpajang rapi dalam sebuah rak.

Bahkan, itu mengalahkan piala dan medali di cabang sepak bola  yang telah mengharumkan namanya. Piala dan medalinya tak ada di ruang tamu.

''Kalau itu, saya harus mencarinya lagi. Tapi masih ada hanya butuh waktu kalau mau lihat,'' jelas Ferril.

Darah sepak bola Ferril juga tak ada yang menetes kepada anaknya. Apalagi, kedua anaknya adalah perempuan.

Ya, dari pernikahannya dengan Nurul Hasanah, Ferril dikarunai tiga anak. Dua perempuan tersebut adalah Nadia Ferasantia yang lahir pada 1994 dan Neysa Feralda (1998). Serta satu laki-laki Faykel Nichandro (1996).

''Sebenarnya yang cowok pernah ikut sepak bola. Hanya, lututnya sakit sehingga dia memilih olahraganya basket,'' pungkas Ferril. (*)








Read More

Ferril Raymond Hattu, Kapten Terakhir Indonesia Menjadi Juara SEA Games (5)

Ferril (kiri atas) di Pra Piala Asia 1992
Emas SEA Games Jadi Kado Pernikahan

Usia yang terus merambah tua membuat Ferril sudah ancang-ancang pensiun. Apalagi, cedera membuatnya harus meninggalkan timnas Indonesia
--
KEBERHASILAN menjadi juara SEA Games 1991 membuat nama Ferril Hattu mendapat banyak sanjungan. Salah satunya dari daerahnya sendiri, Jawa Timur.

Lelaki yang kini berusia 54 tahun tersebut dinobatkan sebagai atlet terbaik Jawa Timur 1991. Di tahun tersebut, dia menjadi atlet paling menonjal dari provinsi paling timur Pulau Jawa selama tahun tersebut.

''Ini penghargaannya,'' kata Ferril sambil memegang sebuah kayu seukuran 20 sentimeter tersebut.

Pulang dari SEA Games 1991, dia juga membuka lembaran baru. Ferril mempersunting gadis ketururun Solo, Jawa Tengah, yang tinggal di Gresik, Nurul Hasanah.

''SEA Games dilaksanakan November, saya menikah pada 21 Desember 1991. Jadi emas SEA Games bisa disebut menjadi kado pernikahan,'' kenangnya.

Di klubnya, Petrokimia Putra Gresik, Ferril tetap menjadi andalan. Sayang, cedera menimpa dia pada musim 1993.

''Saya disekolahkan ke Belanda untuk menimba ilmu di sana sebagai pelatih. Saya melakukannya pada Agustus 1993 hingga Desember 1993,'' lanjut lelaki yang memulai karirnya sebagai gelandang serang tersebut.

Di bawah naungan KNVB (Asosisasi Sepak Bola Belanda), Ferril ditempa di klub Feyenoord. Dengan ilmu yang dimiliki, dia dipromosikan menjadi asisten pelatih.

''Saat Liga Indonesia digelar pada musim 1994/1995, saya sudah asisten pelatih. Posisi kepala dipegang Andi Teguh (alm),'' terang dia.

Saat menjalankan tugasnya, Ferril terlibat dalam rekrutmen pemain, termasuk penggawa asing. Dia termasuk jeli dalam mendapatkannya.

Petrokimia akhirnya mendapatkan kiper Darryl Sinerine dari Trininad-Tobago dan dua pemain Brasil yang akhirnya menjadi bintang di sepak bola Indonesia, Carlos de Mello di lini tengah dan Jacksen F. Tiago di depan.

Kolaborasi Ferril dan Andi Teguh tergolong sukses.Hanya, di babak final, Kebo Giras, julukan Petrokimia Putra Gresik, kalah 0-1 dalam final yang dilaksanakan di Stadion Senayan, Jakarta.

''Kesibukan di kantor membuat saya tak bisa lama menjadi pelatih. Saya juga memilih konsentrasi kerja,'' ujar lelaki kelahiran 9 Agustus 1962 tersebut.

Ternyata, pilihan Ferril tak salah. Pelan tapi pasti, karirnya di Petrokimia, yang merupakan pabrik pupuk, terus naik.

Hingga pada 2012 hingga September 2014, dia menjadi petinggi di Jakarta. Usai balik dari ibu kota, Ferril mendapat kepercayaan menjadi direktur dari anak perusahaan Petrokimia, PT Graha Sarana Gresik Property.

''Tugasnya mengurusi jual-beli rumah, pergudangan, dan juga travel. Setahun harus bisa mendapatkan 200 Miliar,'' ungkap Ferril. (*)


Meski sudah sibuk di Gresik, Ferril Hattu tetap tak lupa dengan asalnya, Persebaya. Apa yang dilakukan dan kegiatannya sekarang? Baca di seri 6








Read More

Ferril Raymond Hattu, Kapten Terakhir Indonesia Menjadi Juara SEA Games (4)

Ferril dengan gelar atlet terbaik Jatim 1991

Nyaris Tak Berangkat ke SEA Games 1991

Persiapan matang hingga ke luar negeri membuat sepak bola diharapkan bisa mengulangi kejadian SEA Games 1987. Tapi, ternyata, semua nyaris berantakan.
--
DI ruangan tamu Ferril Hattu tak ada fotonya bersama Tim SEA Games 1991. Yang ada hanya fotonya bersama Petrokimia Putra Gresik.

Padahal, dari ajang dua tahunan tersebut, nama Ferril layak masuk dalam legenda sepak bola Indonesia. Alasannya, dialah kapten dalam ajang pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut.

Kok bisa? Ini karena lelaki kelahiran 9 Agustus 1962 tersebut adalah kaptennya. Tapi, bukan hal yang mudah baginya menjadi nakhoda bagi rekan-rekannya.

''Kami nyaris gak berangkat ke Manila (host SEA Games 1991). Pemain kecewa dengan uang yang diterima,'' ungkap Ferril.

Sebelumnya, Ketua PSSI saat itu Kardono menjanjikan uang Rp 3 juta kalau juara. Tentu, uang tersebut, ungkap Ferril, jauh dengan dua tahun sebelumnya saat SEA Games dilaksanakan di Singapura.

''Di Singapura, setiap menang, kami dapat Rp 1,5 juta. Jadi, jauh sekali kalau bicara uang yang diperoleh,'' lanjut pemilik klub internal Askot PSSI Surabaya, HBS, tersebut

Menurutnya, dari Singapura pula, dia bisa membeli rumah yang kini ditempatinya di kawasan Nginden Intan, Surabaya. Uang tersebut  awalnya dipakai untuk uang muka.

''Peri Sandria melampiaskan kecewa dengan memecah gelas. Sebagai kapten, akhirnya, saya kumpulkan semua pemain,'' jelas Ferril.

Manajer IGK Manila, terang dia, ikut turun tangan. Akhirnya, mereka memutuskan berangkat.

''Kami kan sudah latihan yang berat dengan ditangani Polosin. Yang lolos bukan hal yang mudah,'' jelas dia.

 Polosin dikenal dengan metode latihan fisik yang berat. Semuanya dengan tujuan, emas SEA Games 1991.

Tak segan, dia mencoret pemain meski berstatus bintang.Ricky Yacobi di lini depan serta dua gelandang hebat di era tersebut Ansyari Lubis dan Fachri Husaini pun terpental.

Dipertandingan pertama SEA Games 1991, kenang Ferril,  Indonesia bertemu Malaysia. Ini ulangan SEA Games 1989.

Ketika itu,  negeri serumpun tersebut mengalahkan Indonesia 0-2 di semifinal. Tapi, di tangan Polosin, kekuatan Indonesia berbeda dengan dua tahun sebelumnya.

Stamina yang kuat membuat Malaysia menyerah 0-2. Dua hari berikutnya, Pasukan Garuda mengalahkan Vietnam 1-0.

Di partai terakhir yang sudah tak menentukan melawan Filipina, Polosin sengaja menyimpan sebagian besar pemain inti dengan memainkan pemain lapis kedua. Sempat tertinggal 0-1 di babak pertama, merah putih bangkit dan memukul tuan rumah 2-1 dengan salah satu gol dicetak oleh Widodo C. Putro.

Di semifinal, Indonesia menundukkan  Singapura lewat drama adu penalti 0-0 (4-2). ''Saat lawan Singapura, saya pesan kepada stopper Toyo Haryono untuk mematikan Fandi Ahmad dan berhasil,'' ungkap Ferril. Saat adu tendangan penalti, dia juga sukses menjalankan tugasnya.

Thailand ternyata menjadi lawan di babak final. Negeri Gajah Putih, julukan Thailand, sudah menjadi kekuatan di sepak bola Asia.

Ternyata, pemenangnya harus dilakoni dengan adu tendangan 12 pas. Ferril menjadi salah satu pahlawan dengan tembakannya yang gagal dihadang kiper Thailand.

''Foto dan medalinya saya harus nyari he he he,'' ujar Ferril tentang moment indah tersebut.

Hingga kini, emas SEA Games dari sepak bola belum pernah datang lagi. (*)

Usai SEA Games, karir Ferril sudah menjelang akhir. Tapi, dia masih tetap berhubungan dengan sepak bola. Baca selanjutnya di seri 5



Read More

Ferril Raymond Hattu, Kapten Terakhir Indonesia Menjadi Juara SEA Games (3)

Rumah Ferril di Nginden Intan, Surabaya
Masuk Timnas, Hukuman Langsung Dihapus

Surabaya bukan akhir karir perjalanannya. Dia pindah ke Gresik dan membela dua klub dari kota tersebut.
--
KOLABORASI Ferril Hattu dengan Niac Mitra pun kembali putus. Tawaran Persegres Gresik membuat dia hengkang ke Kota Pudak, julukan Gresik.

Dia diharapkan mampu mengangkat Laskar Joko Samudra, julukan Persegres, bisa menembus Divisi Utama. Selain itu, nama Ferril juga menembus skuad Indonesia.

Ferril lolos seleksi masuk Tim Pra Piala Dunia 1985. Hanya, untuk bersaing menjadi pemain inti, butuh perjuangan berat. Pelatih Sinyo Aliandoe lebih percaya kepada Heri Kiswanto, Zulkarnain Lubis, Rully Nere, dan Elly Idris di lini tengah.  Tim ini nyaris menembus putaran final Piala Dunia yang dilaksanakan di Meksiko pada 1986.

Sayang, ambisi tersebut dijegal oleh Korea Selatan. Kalah 1-2 di Seoul, Korea Selatan, tak menyurutkan semangat Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia.

''Kami optimistis bisa membalas kekalahan itu. Tapi di kandang, Senayan, Jakarta, kami malah kalah telak 1-4,''

Di Persegres, dia mampu mengangkat tim tersebut. Namun, Ferril kembali bisa  merasakan atmosfer Galatama kembali.
Ferril dengan foto Petrokimia Putra Gresik angkatan pertama

"Beberapa pemain Persegres diambil Petrokimia Putra Gresik. Salah satunya saya,'' kenang bapak tiga anak tersebut.

Meski berada di klub yang baru, tapi posisinya di tim nasional tetap tak tergoyahkan. Hingga akhirnya,  Ferril terpental karena sebuah peristiwa di Jogjakarta dalam Piala Hamengku Buwono.

''Kami terlibat dalam keributan dengan pemain Perkesa. Saya dan kiper Erick Ibrahim terkena sanksi larangan bertanding selama enam bulan pada 1989,'' tambah Ferril.

Hingga akhirnya, Timnas Indonesia yang dipersiapkan ke SEA Games 1991 di Manila, Filipina, tengah mencari pemain belakang yang sesuai dengan karakter Anatoly Polosin. Pelatih asal Uni Soviet tersebut tak cocok dengan pemain-pemain yang ada.

''Hingga akhirnya, saya dipanggil ke Sawangan, Bogor. Tak ada pemberitaan karena status saya masih hukuman,'' lanjut putra dari pelatih senior Persebaya J.A. Hattu tersebut.

Ternyata, saat seleksi itu, Polosin cocok dengan cara bermain Ferril. Hingga, dia memasukkan namanya ke dalam tim.

''Dia minta ke PSSI agar saya bisa bergabung. Hanya, kendalanya kan hukuman saya belum habis karena baru masuk bulan ketiga,'' jelas Ferril.

Ternyata, esoknya, remisi bagi dia langsung dibuatkan oleh PSSI.  Hukumanya langsung dihapus dan Ferril terbang bersama rekan-rekannya untuk menjalani latihan di Australia. (*)

Masyarakat tahu hanya tahu bahwa Indonesia sukses menjadi juara di cabang olahraga sepak bola pada SEA Games 1991. Padahal, sebelumnya, mereka nyaris batal berangkat. Lho, kenapa? Baca selanjutnya di seri 4
Read More

Ferril Raymond Hattu, Kapten Terakhir Indonesia Menjadi Juara SEA Games (2)

Ferril Hattu di rumah usai berlatih golf
Dapat Perhatian Spesial dari Bos Niac Mitra

Di usia muda, bakatnya sudah tercium oleh klub-klub besar. Namun, Niac Mitra yang beruntung mendapatkan.
--
Di ajang Galatama, Niac Mitra termasuk klub yang disegani. Di klub asal Surabaya tersebut bertabur pemain bintang.Ada Joko Malis dan Syamsul Arifin serta Rudy Keljes yang sudah bersinar di perserikatan dengan bendera Persebaya Surabaya.

''Tapi, saya nggak canggung sama sekali meski mereka pemain bintang. Saya sudah akrab karena mereka anak asuh ayah (J.A Hattu) di Persebaya,'' ujar Ferril saat ditemui di rumahnya di Nginden Inten, Surabaya, pada Sabtu (10/9/2016).

Bahkan, dia ikut masuk dalam Tim Jawa Timur Proyeksi PON 1981. Sayang, tim yang mayoritas diisi oleh pemain Niac Mitra tersebut gagal lolos.

''Kami kalah dari Bali. Sebuah kejutan juga nggak bisa lolos,'' jelas Ferril.

Karirnya di Niac Mitra tak bertahan lama. Keinginannya kuliah di Universitas Surabaya (Ubaya) ditentang oleh bos klub tersebut, A. Wenas.

''Beliau ingin saya konsentrasi main bola saja. Tapi saya tetap ngotot kuliah buat masa depan,'' lanjut suami dari Nurul Hasanah tersebut.

Imbasnya, Ferril terpental dari Niac Mitra. Padahal, klub tersebut tengah berjuang di Galatama yang akhirnya menjadi juara musim 1980-1982.

''Saya kembali lagi ke Persebaya. Di saat itu,musim 1983, Persebaya mampu menjadi peringkat III dengan juara PSMS Medan yang mengalahkan Persib Bandung,'' ungkap Ferril.

Semakin matangnya Ferril ternyata mendapat perhatian dari Wenas. Dia pun ditarik masuk Niac Mitra kembali.

''Saya menpat perhatian ektras dari beliau. Saya tidur di rumahnya dan selalu dikasih makan steak seminggu dua kali,'' papar dia.

Tujuannya, ungkap Ferril, agar badan dia lebih kuat. Sebagai pesepak bola, skillnya harus ditunjang fisik yang prima.

''Yang masak steak Pak Wenas sendiri. Dia perhatian benar dengan saya,'' tutur Ferril.

Berkat itu pula, tambahnya, namanya masuk dalam Timnas Indonesia yang tengah mempersiapkan diri ke Pra Piala Dunia 1986. Lelaki kelahiran 9 Agustus 1962 itdipercaya pelatih Sinyo Aliandoe menggalang lini tengah.

''Kami nyaris lolos kalau gakl dikalahkan Korea Selatan,'' terang Ferril.

Hanya kalah 1-2 di Seoul, Korea Selatan, membuat Indonesia percaya diri. Mereka optimistis bisa membalas kekalaan.

''Namun di Senayan, Jakarta, kalahnya malah lebih besar. Kami kalah 1-4,'' tambah lelaki yang mengawali karir dari klub HBS, Surabaya, tersebut.

Ketika itu, Ferril sudah bergabung dengan Persegres Gresik. Dia diminta bisa mengangkat prestas klub dari Kota Pudak, julukan Gresik.

''Saya ditawari kerja oleh Petrokimia. Tapi, saya ingin menyelesaikan kuliah,'' ujarnya. (*)

Di Gresik, Ferril bukan hanya membela Persegres. Dia menjadi salah satu pilar berdirinya klub galatama, Petrokimia Putra. Namun, bersama Petrokimia Putra, namanya sempat tercoreng. Kenapa? Baca kelanjutannya di seri 3





Read More

Ferril Raymond Hattu, Kapten Terakhir Indonesia Menjadi Juara SEA Games (1)

Ferril Hattu di rumahnya, Nginden Intan
Lahir dan Besar dari Keluarga Sepak Bola

SEA Games merupakan pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa Asia Tenggara. Indonesia sudah sering menjadi juara umum. Tapi, untuk cabang sepak bola, baru dua kali terealisasi yakni pada 1987 dan 1991. Kali terakhir meraih emas, sosok Ferril memegang peran penting karena menjadi kapten.
--
 ''Tunggu dulu sebentar. Saya lagi perjalanan habis main golf.'' Pesan singkat dari Ferril Raymond Hattu masuk di telepon penulis.

Saat sampai di rumah, dia pun mengabari. Tak susah untuk mencari rumah lelaki yang kini berusia 54 tahun tersebut.

Dengan status mantan pesepak bola dan kapten Timnas Indonesia, petugas di Perumahan Nginden Intan, Surabaya, dengan gamblang menjelaskan secara detail rumah Ferril. Saat ditemui Sabtu sore (10/9/2016), dia menunggu di depan rumah.

''Stop. Jangan kelewatan,'' sapa Ferril.

Dengan memakai celana pendek, Ferril menemui penulis di teras rumahnya. Tak banyak berubah dari sosoknya.

Badannya tak berlemak maupun perut yang membuncit. Postur Ferril hampir saat saat dia masih di lapangan hijau.

''Saya sudah jarang bermain sepak bola. Kini waktunya tercurah untuk pekerjaan dan bermain golf,'' ungkap bapak tiga anak ini.

Ferril hanya turun ke lapangan sepak bola jika ada undangan dari rekan-rekannya. Baik di Persebaya Surabaya maupun Petrokimia Putra Gresik.

Padahal, dulu, sepak bola merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Apalagi, Ferril lahir dari keluarga sepak bola. Ayahnya, J.A. Hattu merupakan salah satu pelatih Persebaya.

''Sejak kecil saya sudah bermain sepak bola. Latihannya di Lapangan Karangpilang, Surabaya,'' ujarnya.

Dia berlatih di lapangan tersebut karena lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. Ferril tinggal di Karangpilang karena ayahnya merupakan direktur di perusahaan daerah di sana.

''Klub saya HBS. Hingga saat ini, saya ketua sekaligus pemilik klub tersebut,'' ungkap Ferril.

Dengan skill yang dimiliki, pada 1978, dia mendapat panggilan untuk masuk Persebaya Junior. Saat itu, jelasnya, dia satu angkatan dengan Nuriono Hariyadi, yang kelak menjadi kapten Persebaya Senior saat menjadi juara peserikatan 1987/1988.

''Jadi masih banyak yang nggak tahu bahwa saya pernah membela Persebaya. Tahunya kan saya pemain Petrokimia Gresik,'' ucap Ferril.

Dia berposisi sebagai gelandang serang. Bahkan, lanjut dia, kadang dia ditempatkan di sisi lapangan karena dinilai mempunyai kecepatan.

''Setelah dari junior, saya dipromosikan ke senior. Saat itu, pemain senior banyak yang pindah ke Galatama yang baru berdiri,'' jelas Ferril.

Pemain senior yang tersisa, kenangnya, hanya Subodro. Joko Malis dan Rudi Keltjes ke Niac Mitra.

Dengan ditinggal senior, Persebaya gagal menjadi juara. Posisi terhormat jatuh ke tangan Persiraja Banda Aceh, Aceh.

''Saya setahun di Persebaya Senior. Setelah itu, saya masuk ke Niac Mitra,'' ujar Ferril. (*)


Meski masih muda, Ferril tak canggung bermain di klub besar Niac Mitra. Bahkan, dia setim lagi dengan para bintang. Baca kelanjutannya di seri 2.
Read More

Budi Johanis, Berawal dan Berakhir hanya di Persebaya (4-Habis)

Budi Johanis (kiri) bersama PSSI Perserikatan
Pensiun dari BRI, Tertarik Masuk Tim Pemandu Bakat

Dengan usia yang terus bertambah, Budi Juhanis memilih pensiun. Dia memilih konsentrasi di karir pekerjaan.
--
POSTURNYA sudah berbeda jauh dengan saat masih akti di lapangan. Dulu, Budi Johanis terlihat kurus.

Namun, kini, dalam usia 49 tahun, mantan playmaker terbaik yang pernah dimiliki Persebaya Surabaya tersebut terlihat gemuk.

''Sekarang, saya sudah jarang sepak bola. Bahkan, bisa dikatakan tidak pernah lagi,'' kata Budi saat ditemui di rumahnya di kawasan Rungkut Bharata pada Rabu (7/9/2016).

Kini, olahraga yang ditekuni adalah bulu tangkis. Hanya, olahraga tepok bulu itu pun tak setiap hari dijalani.

Dia mengakui, darah sepak bola tak ada yang turun ke anaknya. Ini dikarenakan darah dagingnya semuanya putri.
Mereka adalah Dian Restu, Cendy Paramita, dan Nanda.

''Tapi,ketiganya tahu bahwa ayahnya adalah pesepak bola. Dulu mereka sering diajak ibunya ke lapangan menyaksikan saya bermain,'' ungkap Budi.

Bahkan, saat anaknya bekerja dan dia menjemput, dulu sering rekan kerja anaknya meminta tanda tangan. Ternyata, mereka merupakan fans Persebaya.

Di pekerjaannya di BRI, Budi pun sudah pensiun. Dengan memulai karir dari bawah sebagai pembukuan.

''Saya pernah menjadi asisten manajer operasional di BRI Cabang Kusuma Bangsa.

Meski lama tak bersinggungan dengan Persebaya, tapi Budi ternyata masih mempunyai perhatian dengan Persebaya. Buktinya, saat Lulut Kistono, pelatih yang ikut membantu Persebaya mempersiapkan diri saat timnya tak berlaga di kompetisi, menawari menjadi pemandu bakat kompetisi, dia tertarik bergabung.

''Saya sudah longgar waktunya. Semoga kalau bisa masuk, saya bisa menemukan bisa ikut menamukan talenta tinggi yang dibutuhkan untuk mengangkat kembali Persebaya,'' jelas Budi. (*)




Read More

Budi Johanis, Berawal dan Berakhir hanya di Persebaya (3)

Budi Johanis (dua kiri atas) saat juara perserikatan
Punya Tiga Rekan Tangguh di Lini Tengah


Terpilih menjadi pemain terbaik perserikatan 1985 membuat Budi Johanis semakin disegani. Dia pun punya semangat yang ingin dikejar.
--
SEORANG anak perempuan terus menganggu Budi Johanis. Beberapa kali disuruh masuk rumah, dia tetap ingin selalu menggoda salah satu legenda Persebaya Surabaya tersebut.

''Dia cucu saya. Anak dari anak perempuan saya,'' jelas Budi saat ditemui di rumahnya pada Rabu (7/9/2016).

Lelaki 59 tahun itu pun melanjutkan kisah kejayaannya. Bahkan, dia sempat tak percaya saat terpilih menjadi pemain terbaik perserikatan pada 1985/1986.

Saat itu, kenangnya, banyak pemain yang dianggap punya kualitas dibandingkan dirinya. Budi menyebut trio Perseman Manokwari, Adolf Kabo, Elly Rumaropen, dan Yonas Sawor tengah jadi bahan perbincangan.

Terpilih menjadi pemain terbaik membuat semangat Budi untuk mengangkat Green Force, julukan Persebaya, terlecut. Pada musim 1986/1987, Budi dkk mampu menembus final.

''Kami kalah dari PSIS Semarang dalam pertandingan yang dilaksanakan di Senayan, Jakarta. Tapi, kami yakin bakal lebih baik musim depannya,'' lanjut pemain yang didik dari klub internal Indonesia Muda (IM) tersebut.

Benar, di musim 1987/1988, Persebaya mampu mengakhiri dahaga gelar selama 11 tahun, Budi sukses mengantarkan Persebaya menjadi juara perserikatan dengan mempermalukan Persija Jakarta.

Lini tengah yang digalang Budi cukup solid. Dia dibantu tiga rekan-rekannya, Yongki Kastanya, Maura Helly, dan Aries Sainyakit.

''Dengan materi lini tengah ini,  bukan hanya juara perserikatan, berbagai turnamen yang diikuti mampu kami sapu bersih,'' lanjut Budi.

Di musim berikutnya, 1989/1990, Persebaya masuk ke final. Hanya, mereka gagal mempertahankan gelar usai kalah dari Persib Bandung.

Budi Johanis bersama salah satu cucu
''Itu masa-masa terakhir menjelang pensiun. Musim 1991/1992, saya masih masuk tim. Persebaya tak lolos ke final,'' ujar Budi.

Sebenarnya, Budi masih diberi kesempatan bergabung Persebaya di 1993/1994. Hanya, faktor usia dan ingin konsentrasi kepada pekerjaan yang membuat dia memilih pensiun.

''Saya tak pernah pindah klub. Hanya di Persebaya saya berkarir,'' tambah Budi.

Rentang 16 tahun,mulai 1976-1992, bukan waktu yang sebenar. Godaan dan gelimang rupiah tak membuat Budi pindah ke klub lain. Hanya berkostum Timnas Indonesia yang dipakainya selain Persebaya.

Nama besar sebagai pemain Persebaya dan Timnas Indonesia gagal diteruskan oleh keluarganya. Tapi, anak-anaknya tetap tahu bahwa sang ayah merupakan legenda Green Force. Baca kelanjutannya di seri 4. (*)






Read More

Budi Johanis, Berawal dan Berakhir hanya di Persebaya (2)

Banyak Tawaran usai Balik dari Brasil

Budi Johanis (tengah bawah) di PSSI Binatama
Kemampuan Budi Johanis mulai dilirik PSSI. Dia mendapat kepercayaan masuk PSSI Binatama
--
BUDI Johanis masuk ke dalam rumah. Dia mengambil beberapa foto yang sudah dipigura.

Salah satunya memakai kostum merah putih. Usia 59 tak mengurangi daya ingatnya.

Budi masih hapal betul nama rekan-rekannya di PSSI Binatama. Ada Joko Irianto yang lolos dengan asal klub Persebaya.

''Sebenarnya ada Subangkit. Tapi, dia masuk dari klub Jaka Utama, Lampung,'' ujar Budi.

Dia bersama PSSI Binatama digembleng selama enam bulan di Brasil. Selama di Negeri Samba, julukan Brasil, mereka berlatih dan melakukan pertandingan di beberapa kota.

''Ada yang di Rio de Janeiro. Ada pula yang di Brasilia,'' tambah Budi.

Usai balik dari Brasil, tawaran kepada Budi untuk pindah klub banyak yang datang. Mayoritas, ucap dia, adalah klub Galatama.

''Ada UMS 80 Jakarta, Perkesa Sidoarjo, ataupun juga Indonesia Muda,'' terang Budi.

Tapi, itu tak membuat dia goyah pendirian. Budi tetap ingin membela klub kota kelahirannya, Persebaya Surabaya.

Namun, ada satu hal yang membuat dia menolak tawaran klub lain. ''Saya sudah bekerja di BRI (Bank Rakyat Indonesia). Dengan di Persebaya, saya bisa bekerja di sana,'' ucap Budi.

Bapak tiga putri ini mengaku sangat mencintai pekerjaan. Dengan tetap di Persebaya, dua profesi yang dilakoni bisa berjalan beriringan.

''Karena perserikatan, saya bisa bekerja dan sorenya bermain sepak bola di IM. Zaman itu kan Persebaya latihan kalau persiapan menghadapi kompetisi atau turnamen saja,'' ujar Budi.

Hanya saat membela Persebaya, Budi tetap memerlukan surat dispensasi. Dia hanya mau bergabung kalau surat tersebut ditanda tangani oleh wali kota.

''Kalau sudah gitu, kantor tinggal bilang berangkat. Saya bisa tenang dan lepas membela Persebaya,'' jelas lelaki asli Ambengan, sebuah daerah dekat dengan Gelora 10 Nopember, Surabaya, itu.

Bahkan, kantor BRI sempat gempar. Ini, jelasnya, karena datangnya E.E. Mangindaan, yang saat itu menjabat sebagai Danrem Bhaskara Jaya sekaligus manajer Persebaya.

''Di kantor ribut, ada apa Danrem ke Kantor BRI. Ternyata, Mangindaan minta izin memakai saya dan mengucapkan terima kasih atas kelonggaran kantor dalam membantu Persebaya,'' papar Budi.

Dengan konsentrasi tak terganggu pekerjaan, ternyata ikut mengangkat penampilannya. Salah satunya dengan terpilihnya Budi menjadi pemain terbaik di Kompetisi Perserikatan musim 1985/1986.

''Padahal, Persebaya hanya duduk di peringkat kelima. Tapi nggak tahu mengapa, saya yang dipilih menjadi pemain terbaik,'' ungkap Budi. (*)





Read More

Budi Johanis, Berawal dan Berakhir hanya di Persebaya (1)

BINTANG: Budi Johanis di rumahnya di Rungkut
Dua Kali Menembus Skuad Junior

Persebaya melahirkan banyak bintang. Namun hanya satu nama yang tak pernah berpindah klub, Budi Johanis.
--
CUKUP lama penulis mengetuk pintu di sebuah rumah di kawasan Rungkut Bharata VII pada Rabu sore (7/9/2016). Pintu depannya terkunci dan tak ada sahutan dari dalam.

Tapi, tak lama berselang, sebuah sahutan terdengar dari dalam rumah. Sang empu rumah pun mempersilahkan masul.

Untung, penulis datang bersama dengan Lulut Kistono. Pelatih Persebaya di saat tak berkompetisi tersebut ternyata masih ada hubungan dengan Budi Johanis,sang pemilik rumah.

Ibu Lulut dan ibu Budi merupakan kakak beradik. Keduanya pernah sama-sama tinggal di kawasan Ambengan, Surabaya.

''Ayo duduk. Ya beginilah rumah saya,'' jelas Budi.

Rumah yang sudah ditempati sejak1983 tersebut termasuk sederhana.Tak ada barang-barang mewah yang ada di teras.

Padahal, Budi merupakan salah satu bintang lapangan hijau yang pernah dimiliki oleh Persebaya dan juga Indonesia. Sampai sekarang, dia masih disebut-sebut sebagai salah satu playmaker terbaik Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia.

''Sejak kecil, saya sudah berlatih sepak bola di Indonesia Muda. Latihannya di Lapangan PJKA Pacar Keling,'' terang Budi mengawali cerita tentang perjalanan panjang karir sepak bolanya.
MENGORBIT: Budi Johanis (dua kanan atas)

Dengan skill yang dimiliki, Budi, yang merupakan kelahiran 1957, mendapat kepercayaan membela Persebaya Junior pada 1976. Sayang, setahun kemudian, namanya tak masuk dalam skuad yang sama

Ketidaksukaan seorang pengurus membuat dia gagal bergabung. Meski, masih banyak pihak yang menginginkan dia kembali.

''Tapi, pada 1978, saya dipanggil dan masuk lagi. Dari junior ini, saya bisa menembus senior,'' lanjut Budi.

Debut perdananya, ungkap dia,tidak terlalu mengecewakan. Persebaya mampu dibawanya menjadi juara di Piala Surya yang dilaksanakan di Gelora 10 Nopember, Surabaya.

''Dari situ pula,saya mendapat panggilan seleksi PSSI Binatama. Dari Persebaya selain saya ada Joko Irianto (sekarang sudah almarhum),'' kenang Budi.

Masuk PSSI Binatama membuat dia harus meninggalkan keluarga selama enam bulan. Budi digembleng di Brasil.

Pulang dari Negeri Samba, tawaran banyak menghampiri, khususnya klub-klub Galatama. Mengapa? Baca kelanjutannya di seri 2.


Read More

Surono, Pemain PSSI Primavera Yang Karirnya Tamat Cepat (4-Tamat)

Siang Petugas Keamanan, Malam Tukang Parkir


Karir Surono langsung terhenti dengan cedera lutut yang dialami. Dia pun ogah bersentuhan dengan sepak bola.
--
 CEDERA pada 1995 membuat Surono frustasi. Apalagi, dokter yang menangani memvonis dia lebih baik pensiun dini daripada menjadi cacat seumur.

Sebagai pemain muda, Surono belum siap menerima. Keyakinan yang bakal sembuh langsung padam.

''Saya tak mau melihat bola dan berhubungan dengan sepak bola. Saya buang jauh-jauh tentang sepak bola,'' ungkap Surono, mantan pemain PSSI Primavera, saat ditemui penulis di rumahnya di Karangasem, Solo, pada Minggu (4/9/2016).

Hidupnya pun tanpa arah. Tapi, lambat laun, Surono merasa dia tetap butuh pekerjaan.

''Kalipertama bekerja, saya kerja di barang rongsokan. Saya bagian menimbang,'' jelasnya. Pekerjaan tersebut dilakoni pada 2001.

Hanya,pekerjaan tersebut tak berlangsung lama. Menurut Surono, menimbang barang-barang bekas hanya berlangsung selama enam bulan.

''Setelah itu, saya berjualan wedangan pada malam hari. Lokasinya di barat sana,'' ujar Surono sambil menunjuk sebuah lokasi yang dekat dengan rumahnya.

Rumah Surono di Solo
Dengan berjualan di malam hari membuat lelaki yang akrab disapa Jabrik tersebut harus begadang. Kondisi ini, jelas dia, tak disetujui oleh istri.
Surono dengan rekan-rekan saat di Primavera

''Jualan saya ganti pada pagi hari,'' ujar dia.

Namun, pada 2006, sebuah tawaran pekerjaan menghampiri. Surono dijadikan sebagai petugas keamanan di sebua sekolah diploma III (D III).

''Kerjanya gak terlalu berat. Saya masuk pagi dan sore sudah bisa pulang,'' ungkap Surono.

Sekarang, pekerjaan tersebut masih dilakoni di sekolah yang berada di kawasan Pabelan, Sukoharjo,itu. Hanya, semakin besar kedua putrinya, Surono pada malam hari menjadi tukang parkir.

Kebetulan, dia pengatur sepeda motor dan mobil di warung bebek goreng yang pemiliknya juga mantan pesepak bola, Wiratno alias Tolang. ''Lumayan sih. Tapi masih berat untuk membayar sekolah anak,'' jelasnya.

Dia mengakui masih menunggu bayaran anak perempuannya yang sudah sekolah di sekolah kejuaraan negeri yang tak jauh dari rumah. Bahkan, ungkapnya, tunggakan tersebut sudah masuk digit enam atau jutaan.

Hanya, dia tak mau hal tersebut membuat dia meminta-minta kepada rekan-rekannya di PSSI Primavera. (*)

Read More

Surono, Pemain PSSI Primavera yang Karirnya Tamat Cepat (3)

Petaka karena Main Pertandingan Tarkam



Surono yang sudah berusia 40 tahun
Libur kompetisi Liga Indonesia 1995 dimanfaatkan Surono pulang ke Solo. Tak lupa dia jaga kondisi menyongsong musim 1996/1997.
--
BEKAS jahitan ada di dekat lutut kanan. Panjangnya sekitar setelapak tangan.

Jahitan itu pula yang mengakhiri karir Surono lebih cepat. Padahal, saat itu, usianya masih 19 tahun.

Gortesan bekas operasi di lutut kanan Surono
''Cedera ini saya dapat di Pemalang. Saya diajak teman-teman main tarkam (antarkampung) di sana,'' ungkap Surono, mantan pemain PSSI Primavera saat ditemui di rumahnya di kawasan Karangasem, Laweyan, Solo,pada Minggu (4/9/2016).

Saat itu, dia tengah mengontrol bola. Tapi, lanjut dia, tekel dari belakang membuat lututnya terasa patah.

''Terdengar suara krek...Saya langsung jatuh dan tak bisa berdiri,'' ujar lelaki 40 tahun tersebut.

Dengan usia yang masih 19 tahun saat cedera, Surono ingin cepat sembuh. Masuk ke meja operasi menjadi pilihan.

''Saya menjalani operasi di Rumah Sakit Panti Rapih, Jogjakarta. Pikiran saya dengan operasi, saya cepat sembuh dan bisa bermain lagi,'' ujar dia.

Setelah empat bulan dari operasi, kondisinya, terang Surono, mulai membaik. Dia pun kembali turun ke lapangan.

''Untuk latihan saja. Ternyata, sakitnya kambuh lagi,'' terang lelaki yang dikaruniai dua putri tersebut.

Kabar sakitnya Surono sampai ke telinga manajemen Semen Padang. Mereka melarang dia untuk datang ke Bukit Indarung, markas Semen Padang, sebelum kondisinya sembuh.

''Saya menghubungi Suhatman. Saya boleh ke Padang tapi membela PSP yang bermain di Divisi I,'' tutur Surono.

Di PSP, dia tak pernah bermain. Sakit lutut yang dialami masih terasa.

''Saya hanya latihan, makan, dan tidur. Akhirnya PSP juga tak memperpanjang kontrak,'' terang lelaki yang akrab disapa Jabrik tersebut,

Dengan sakit yang tak kunjung sembuh itu, dia mulai frutrasi. Surono enggan berhubungan lagi dengan sepak bola.

Lalu apa aktivitas yang dililakukan Surono. Baca kelanjutannya di seri 4. (*)
Read More

Surono, Pemain PSSI Primavera yang Karirnya Tamat Cepat (2)

Surono (kiri) dan Sven Goran Eriksson
Indisipliner Bikin Tak Balik ke Italia


Setelah satu tahun digembleng di Italia, penggawa PSSI Primavera pulang kampung. Tapi, mereka bukan untuk liburan.
--
 SAMBIL membetulkan kursinya, Surono mengakui gemblengan di Italia bersama PSSI Primavera sangat ketat. Mereka harus bangun pagi dan mempersiapkan diri sebelum berlatih.

Tujuannya agar Surono dkk tak tercecer di kompetisi Primavera. Selain itu, pelatih asal Italia Romane Matte juga dikenal disiplin.

Surono di depan markas latihan Juventus
''Di sela-sela latihan dan kompetisi, kami juga sering melihat pertandingan. Bahkan, kami pernah ke tempat latihan Juventus di Turin,'' kenang Surono.

Nah, saat harus berlaga dalam Pra Piala Asia U-19 pada 1995, para pemain yang sudah setahun di Italia harus balik ke tanah air. Mereka ditargetkan bisa lolos karena juga bermain di kandang.

''Tapi, harapan itu kami tercapai. Kami gagal menembus Piala Asia U-19,'' ujar lelaki yang mengenal sepak bola di klub Tunas Nusa Harapan (TNH) Solo tersebut.

Bahkan, kabar mengejutkan juga harus diterima Surono. Dia tak balik lagi ke Italia.

''Saya dianggap indisipliner karena ketahuan makan malam di luar hotel. Pelatih mengetahui kami baru masuk hotel pukul 01.30 WIB,'' ujarnya.

Padahal, jelasnya, dia bersama pemain PSSI Primavera lainnya, Ferry Taufik, mencari makan di sekitar hotel mereka menginap yakni Hotel Indonesia. Apalagi, setelah ketahuan indisipliner itu, penampilannya dengan Ferry jeblok.

''Tentu sedih tak bisa bersama-sama pemain lain ke Italia lagi. Setelah itu, saya pulang ke Solo dulu,'' ungkap lelaki 41 tahun tersebut.

Meski tak lagi ke Negeri Pisa, julukan Italia, tapi semangatnya bermain sepak bola tetap tak padam. Surono mengikuti latihan di klub yang membawanya ke Primavera, Arseto.

''Tapi, saya juga menghubungi Suhatman (Iman). Dia pernah bersama kami di Primavera dan tengah melatih di Semen Padang,'' lanjut lelaki yang akrab disapa Jabrik tersebut.

Dia memilih Kabau Sirah, julukan Semen Padang, sebagai klubnya. Selain Suhatman, bayaran yang diterima di klub tersebut lebih besar dibandingkan dengan Elang Biru, julukan Arseto.

''Hanya, saya jadi cadangan. Sebagai pemain yang masih muda, saya belum siap menjadi cadangan karena di PSSI Primavera saya inti,'' terang Surono.

Imbasnya, dia tak disiplin menjaga kondisi selama di Semen Padang. Dia hanya main beberapa pertandingan.

''Tapi, usai kompetisi Suhatman menginginkan saya balik ke Semen Padang. Saya pun menyanggupi,'' terang Surono.

Libur kompetisi dimanfaatkan Surono menjaga kondisi. Salah satunya mengikuti pertandingan antarkampung. Tapi, di sana, petaka besar menimpa. Baca kisah selanjutnya di seri 3
Read More

Surono, Pemain PSSI Primavera yang Karirnya Tamat Cepat (1)


Pajang Foto Kenangan di Depan Pintu Masuk

PSSI pernah punya proyeksi ambisius Primavera. Para pemain muda pilihan digembleng di Italia. Banyak yang menjadi pilar Indonesia. Tapi, ada juga yang bernasib malang
--
SEBUAH spanduk produk kosmetik terpasang di depan rumah. Hembusan angin membuat spanduk tersebut berkibar kibar di depan rumah yang berada di kawasan Karangasem, Solo, pada Minggu (4/9/2016).
Surono di depan rumah di Solo

Lalang, salah satu mantan pemain Persis Solo, memanggil sang empunya rumah. Sebuah jawaban dari dalam menunjukan bahwa sang pemilik ada.

Seorang lelaki dengan celana pendek dan kaos tangan singlet muncul. Rambutnya yang sudah mulai banyak uban menunjukkan usianya sudah tak muda.

''Ini dia Surono. Panggilannya Jabrik,'' kata Lalang mengenalkan pemilik rumah.

Surono (duduk kanan bawah) bersama rekan di Primavera
Saat masuk, di depan pintu terpasang sebuah foto sebelas pemain sepak bola. Foto yang sudah usang tersebut ternyata deretan pemain dengan kostum merah putih.

Tapi, deretan 11 pemain tersebut bukan pemain sembarangan. Ada kiper Kurnia Sandy, Bima Sakti dengan ban kapten, Kurniawan Dwi Julianto, serta Indriyanto Nugroho. Kelak para pemain yang masih berusia muda di foto tersebut bakal menjadi andalan Indonesia di lapangan hijau.

''Itu tim PSSI Primavera. Saya ada di kanan bawah,'' jelas  pemilik  rumah bernama Surono tersebut.

Ya, Surono merupakan salah satu pemain yang pernah masuk di tim PSSI Primavera. Tim tersebut merupakan proyek ambisius dari PSSI untuk mengangkat nama Indonesia di ajang internasional.

''Saya masuk yang pertama. Saya terpantau dari seleksi di Jakarta dengan membawa nama klub asal Diklat Arseto pada 1994,'' kenang Surono.

Dalam seleksi yang dilaksanakan di ibu kota tersebut, dia lolos hingga tahap akhir. Posisi sebagai bek kiri menjadi pilihan utamanya.

''Setelah lolos, saya harus berangkat ke Italia. Setahun kami di PSSI Primavera digembleng di Tavarone,''ujar Surono.

Tavarone merupakan sebuah desa kecil yang cuma dihuni lima kepala keluarga, berjarak sekitar 65 km dari Bogliasco, markas Sampdoria di pinggiran kota Genoa, di bagian utara Italia. Surono masih mengenang daerah yang pernah ditempatinya tersebut.

''Sepi banget. Kami di sana hanya berlatih dan berlatih. Kami dilatih Romane Matte dari Italia,'' ujar lelaki yang akrab disapa Jabrik tersebut.

Hanya selain sepak bola, para pemain PSSI Primavera, ujarnya, dilatiha bahas Italia. Tujuannya agar mereka bisa menerima instruksi pelatih dengan baik. 

Setelah digembleng di Italia, pemain PSSI Primavera kembali ke Indonesia. Ternyata, bagi Surono, itu menjadi sebuah petaka. Baca selanjutnya di seri 2
Read More

Syamsul Arifin, Legenda Sepak Bola Indonesia yang Hidup Bersahaja(7-Habis)

Tercapai Ingin Tinggal Dekat Masjid


Hidup Syamsul Arifin tak pernah terdengar miring. Meski, dia sempat berada di puncak karir.
--
SUARA adzan Duhur terdengar keras dari rumah Syamsul Arifin di kawasan Tenggilis Timur, Surabaya. Syamsul Arifin, legenda sepak bola Indonesia yang juga pemilik rumah, langsung mengajak penulis pergi ke masjid pada Rabu (31/8/2016).

Masjid tempat Syamsul mendekatkan diri ke Allah
Dia masuk ke rumah untuk berganti pakaian. Tak lama berselang, Syamsul muncul dengan pakaian batik dengan memakai kopiah.

''Dekat kok jarak masjidnya. Ada di dekat perempatan,'' jelas Syamsul.

Hanya butuh tak ada 10 menit untuk sampai ke masjid bernama Al Ikhlas tersebut. Syamsul langsung masuk dan menjalani sholat sunah.

''Usia sudah tua. Kita tak tahun kapan dipanggil menghadap (Allah),'' ungkap Syamsul.

Dia akan berusaha bisa menjalani sholat lima waktu dengan awal. Apalagi,  rumahnya dekat dengan masjid.

Syamsul sendiri mengakui senang bisa tinggal di dekat masjid. Itu, ungkapnya, sudah menjadi cita-citanya.

''Rumah yang dulu gak sedekat sekarang,'' tambah Syamsul.

Dia tak menolak saat ditawari rumahnya yang sekarang. Sehingga, sejak 2000, Syamsul tinggal di Tenggilis Timur.

''Rumah dulu juga sering banjir. Jadi, itu juga yang menjadi alasan saya pilih di sini,'' terang dia.

Rumahnya yang dulu di Rungkut, ujar dia, merupakan hasil dari membela Niac Mitra. Karena bisa membawa juara dua kali, para pemain mendapat rumah dari A. Wenas.

''Tetap bayar hanya bayarnya gak ada paksaan. Dulu banyak yang tinggal di sana, sekarang tinggal Hendrik (Montolalu, eks kiper Niac Mitra,'' lanjut Syamsul.

Dengan semakin dekat masjid dan mendalami agama,  mengakui hidupnya semakin tenang. (tamat)



Read More

Syamsul Arifin, Legenda Sepak Bola Indonesia yang Hidup Bersahaja (6)

Tak Ada Penerus di Lapangan Hijau


Syamsul Arifin masih sering disebut jika Persebaya Surabaya bermain. Namanya begitu terkenal. Hanya, tak ada satu pun anaknya yang bersinggungan dengan sepak bola.
--
BEBERAPA anak muda berkumpul di sebuah rumah di kawasan Tenggilis Timur, Surabaya. Mereka tengah asyik membicarakan tentang sepeda motor.

Syamsul tak pernah memaksakan kehendak ke anak
''Anak saya yang paling kecil ada. Dia memang ahli menservis sepeda motor khususnya untuk balapan,'' jelas Syamsul Arifin, salah satu bintang sepak bola Indonesia.

Hendra Kurniawan, anak Syamsul, terangnya, sebenarnya tahu bahwa sang bapak merupakan pesepak bola tersohor. Tapi, itu tak membuat dia ingin mengikuti jejak.

''Kecilnya, Hendra pernah ikut berlatih sepak bola di Indonesia Muda. Dia latihan usai pulang sekolah di SD,'' tutur Syamsul.

Hanya, jika latihan terlalu keras, Hendra akan sakit. Hingga akhirnya, Syamsul dan istrinya, Sumartiningsih tak mengizinkan anak keempat tersebut tak bermain sepak bola. Seperti sang kakak Arif Darmawan, si sulung. Dua anak lainnya dari Syamsul dan Sumartiningsih adalah perempuan yakni Tita Aryanti dan Marisa Ramadani.

''Saya dan istri tak memaksa pilihan anak-anak. Kami hanya mendukung selama itu positif,'' ucap Syamsul.

Dengan hobi mekanik sepeda motor, rumah Syamsul jadi bengkel. Saat berkunjung Rabu (31/8/2016) itu, ada sebuah sepeda motor yang kondisinya berantakan. Motor itu, jelas dia, tengan diperbaiki Hendra.

''Di dalam  banyak sepeda motor yang diperbaiki Hendra. Saya tak merasa terganggu dengan hobi dia,'' ujar lelaki yang kini berusia 61 tahun tersebut.

Syamsul sendiri, selain masih bermain sepak bola, dia juga mengurus beberapa burung peliharaan. Ada  enam tempat burung yang di dalamnya ada unggas dengan kicauan merdu.

''Tapi, gak mahal harganya. Buat isi waktu dan bisa mendengarkan  kicauan,'' lanjut Syamsul.

Namun, dari semua aktivitas tersebut, ada satu hal yang paling rutin dilakukan. Apa itu? Syamsul selalu menjemput istrinya yang mengajar di Sekolah Dasar Kendangsari III, Surabaya.

Sumartiningsih akan menelpon rumah agar Syamsul segera menjemput. Untung, jarak rumah dan sekolah tidak terlalu jauh.

Saat penulis mengunjungi, telepon rumah berbunyi. Kebetulan, istri yang menelpon.

''Saya tinggal dulu ya. Saya harus jemput istri,'' pungkas Syamsul. (*)

Dengan usia uzur, Syamsul semakin religi. Meski sebelumnya, dia sudah dikenal sebagai sosok yang agamis. Ada satu hal yang membuat dia rela pindah. Selanjutnya baca seri 7 atau seri terakhir








Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com