www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Senin, 05 September 2016

Surono, Pemain PSSI Primavera yang Karirnya Tamat Cepat (1)


Pajang Foto Kenangan di Depan Pintu Masuk

PSSI pernah punya proyeksi ambisius Primavera. Para pemain muda pilihan digembleng di Italia. Banyak yang menjadi pilar Indonesia. Tapi, ada juga yang bernasib malang
--
SEBUAH spanduk produk kosmetik terpasang di depan rumah. Hembusan angin membuat spanduk tersebut berkibar kibar di depan rumah yang berada di kawasan Karangasem, Solo, pada Minggu (4/9/2016).
Surono di depan rumah di Solo

Lalang, salah satu mantan pemain Persis Solo, memanggil sang empunya rumah. Sebuah jawaban dari dalam menunjukan bahwa sang pemilik ada.

Seorang lelaki dengan celana pendek dan kaos tangan singlet muncul. Rambutnya yang sudah mulai banyak uban menunjukkan usianya sudah tak muda.

''Ini dia Surono. Panggilannya Jabrik,'' kata Lalang mengenalkan pemilik rumah.

Surono (duduk kanan bawah) bersama rekan di Primavera
Saat masuk, di depan pintu terpasang sebuah foto sebelas pemain sepak bola. Foto yang sudah usang tersebut ternyata deretan pemain dengan kostum merah putih.

Tapi, deretan 11 pemain tersebut bukan pemain sembarangan. Ada kiper Kurnia Sandy, Bima Sakti dengan ban kapten, Kurniawan Dwi Julianto, serta Indriyanto Nugroho. Kelak para pemain yang masih berusia muda di foto tersebut bakal menjadi andalan Indonesia di lapangan hijau.

''Itu tim PSSI Primavera. Saya ada di kanan bawah,'' jelas  pemilik  rumah bernama Surono tersebut.

Ya, Surono merupakan salah satu pemain yang pernah masuk di tim PSSI Primavera. Tim tersebut merupakan proyek ambisius dari PSSI untuk mengangkat nama Indonesia di ajang internasional.

''Saya masuk yang pertama. Saya terpantau dari seleksi di Jakarta dengan membawa nama klub asal Diklat Arseto pada 1994,'' kenang Surono.

Dalam seleksi yang dilaksanakan di ibu kota tersebut, dia lolos hingga tahap akhir. Posisi sebagai bek kiri menjadi pilihan utamanya.

''Setelah lolos, saya harus berangkat ke Italia. Setahun kami di PSSI Primavera digembleng di Tavarone,''ujar Surono.

Tavarone merupakan sebuah desa kecil yang cuma dihuni lima kepala keluarga, berjarak sekitar 65 km dari Bogliasco, markas Sampdoria di pinggiran kota Genoa, di bagian utara Italia. Surono masih mengenang daerah yang pernah ditempatinya tersebut.

''Sepi banget. Kami di sana hanya berlatih dan berlatih. Kami dilatih Romane Matte dari Italia,'' ujar lelaki yang akrab disapa Jabrik tersebut.

Hanya selain sepak bola, para pemain PSSI Primavera, ujarnya, dilatiha bahas Italia. Tujuannya agar mereka bisa menerima instruksi pelatih dengan baik. 

Setelah digembleng di Italia, pemain PSSI Primavera kembali ke Indonesia. Ternyata, bagi Surono, itu menjadi sebuah petaka. Baca selanjutnya di seri 2

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com