www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 06 September 2016

Surono, Pemain PSSI Primavera yang Karirnya Tamat Cepat (2)

Surono (kiri) dan Sven Goran Eriksson
Indisipliner Bikin Tak Balik ke Italia


Setelah satu tahun digembleng di Italia, penggawa PSSI Primavera pulang kampung. Tapi, mereka bukan untuk liburan.
--
 SAMBIL membetulkan kursinya, Surono mengakui gemblengan di Italia bersama PSSI Primavera sangat ketat. Mereka harus bangun pagi dan mempersiapkan diri sebelum berlatih.

Tujuannya agar Surono dkk tak tercecer di kompetisi Primavera. Selain itu, pelatih asal Italia Romane Matte juga dikenal disiplin.

Surono di depan markas latihan Juventus
''Di sela-sela latihan dan kompetisi, kami juga sering melihat pertandingan. Bahkan, kami pernah ke tempat latihan Juventus di Turin,'' kenang Surono.

Nah, saat harus berlaga dalam Pra Piala Asia U-19 pada 1995, para pemain yang sudah setahun di Italia harus balik ke tanah air. Mereka ditargetkan bisa lolos karena juga bermain di kandang.

''Tapi, harapan itu kami tercapai. Kami gagal menembus Piala Asia U-19,'' ujar lelaki yang mengenal sepak bola di klub Tunas Nusa Harapan (TNH) Solo tersebut.

Bahkan, kabar mengejutkan juga harus diterima Surono. Dia tak balik lagi ke Italia.

''Saya dianggap indisipliner karena ketahuan makan malam di luar hotel. Pelatih mengetahui kami baru masuk hotel pukul 01.30 WIB,'' ujarnya.

Padahal, jelasnya, dia bersama pemain PSSI Primavera lainnya, Ferry Taufik, mencari makan di sekitar hotel mereka menginap yakni Hotel Indonesia. Apalagi, setelah ketahuan indisipliner itu, penampilannya dengan Ferry jeblok.

''Tentu sedih tak bisa bersama-sama pemain lain ke Italia lagi. Setelah itu, saya pulang ke Solo dulu,'' ungkap lelaki 41 tahun tersebut.

Meski tak lagi ke Negeri Pisa, julukan Italia, tapi semangatnya bermain sepak bola tetap tak padam. Surono mengikuti latihan di klub yang membawanya ke Primavera, Arseto.

''Tapi, saya juga menghubungi Suhatman (Iman). Dia pernah bersama kami di Primavera dan tengah melatih di Semen Padang,'' lanjut lelaki yang akrab disapa Jabrik tersebut.

Dia memilih Kabau Sirah, julukan Semen Padang, sebagai klubnya. Selain Suhatman, bayaran yang diterima di klub tersebut lebih besar dibandingkan dengan Elang Biru, julukan Arseto.

''Hanya, saya jadi cadangan. Sebagai pemain yang masih muda, saya belum siap menjadi cadangan karena di PSSI Primavera saya inti,'' terang Surono.

Imbasnya, dia tak disiplin menjaga kondisi selama di Semen Padang. Dia hanya main beberapa pertandingan.

''Tapi, usai kompetisi Suhatman menginginkan saya balik ke Semen Padang. Saya pun menyanggupi,'' terang Surono.

Libur kompetisi dimanfaatkan Surono menjaga kondisi. Salah satunya mengikuti pertandingan antarkampung. Tapi, di sana, petaka besar menimpa. Baca kisah selanjutnya di seri 3

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com