www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Rabu, 07 September 2016

Surono, Pemain PSSI Primavera Yang Karirnya Tamat Cepat (4-Tamat)

Siang Petugas Keamanan, Malam Tukang Parkir


Karir Surono langsung terhenti dengan cedera lutut yang dialami. Dia pun ogah bersentuhan dengan sepak bola.
--
 CEDERA pada 1995 membuat Surono frustasi. Apalagi, dokter yang menangani memvonis dia lebih baik pensiun dini daripada menjadi cacat seumur.

Sebagai pemain muda, Surono belum siap menerima. Keyakinan yang bakal sembuh langsung padam.

''Saya tak mau melihat bola dan berhubungan dengan sepak bola. Saya buang jauh-jauh tentang sepak bola,'' ungkap Surono, mantan pemain PSSI Primavera, saat ditemui penulis di rumahnya di Karangasem, Solo, pada Minggu (4/9/2016).

Hidupnya pun tanpa arah. Tapi, lambat laun, Surono merasa dia tetap butuh pekerjaan.

''Kalipertama bekerja, saya kerja di barang rongsokan. Saya bagian menimbang,'' jelasnya. Pekerjaan tersebut dilakoni pada 2001.

Hanya,pekerjaan tersebut tak berlangsung lama. Menurut Surono, menimbang barang-barang bekas hanya berlangsung selama enam bulan.

''Setelah itu, saya berjualan wedangan pada malam hari. Lokasinya di barat sana,'' ujar Surono sambil menunjuk sebuah lokasi yang dekat dengan rumahnya.

Rumah Surono di Solo
Dengan berjualan di malam hari membuat lelaki yang akrab disapa Jabrik tersebut harus begadang. Kondisi ini, jelas dia, tak disetujui oleh istri.
Surono dengan rekan-rekan saat di Primavera

''Jualan saya ganti pada pagi hari,'' ujar dia.

Namun, pada 2006, sebuah tawaran pekerjaan menghampiri. Surono dijadikan sebagai petugas keamanan di sebua sekolah diploma III (D III).

''Kerjanya gak terlalu berat. Saya masuk pagi dan sore sudah bisa pulang,'' ungkap Surono.

Sekarang, pekerjaan tersebut masih dilakoni di sekolah yang berada di kawasan Pabelan, Sukoharjo,itu. Hanya, semakin besar kedua putrinya, Surono pada malam hari menjadi tukang parkir.

Kebetulan, dia pengatur sepeda motor dan mobil di warung bebek goreng yang pemiliknya juga mantan pesepak bola, Wiratno alias Tolang. ''Lumayan sih. Tapi masih berat untuk membayar sekolah anak,'' jelasnya.

Dia mengakui masih menunggu bayaran anak perempuannya yang sudah sekolah di sekolah kejuaraan negeri yang tak jauh dari rumah. Bahkan, ungkapnya, tunggakan tersebut sudah masuk digit enam atau jutaan.

Hanya, dia tak mau hal tersebut membuat dia meminta-minta kepada rekan-rekannya di PSSI Primavera. (*)

0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com