www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

M. Didik Budiawan, Tandem yang Antarkan Indriyanto Jadi Penyerang Nasional (2)

Berpisah karena Gagal Menembus Seleksi Primavera

Seragam dengan garuda di dada sudah dikenakannya sejak usia muda. Tapi, untuk menembus PSSI Primavera gagal dilakukan.
--
DUET M. Didik Budiawan dan Indriyanto Nugroho dapat sorotan. Keduanya sama-sama masuk Timnas U-15 dan membela Indonesia di ajang internasional.

Setelah itu, di jenjang kelompok umur yang lain, Budiawan dan Nunung, sapaan karib Indriyanto Nugroho, terus bersama. Sayang, duet ini harus berpisah.

Ini setelah Nunung mampu menembus seleksi PSSI yang bakal ditempa di Italia. Tim ini lebih dikenal sebagai PSSI Primavera karena mengikuti kompetisi Primavera di Negeri Pisa, julukan Italia.

''Dalam seleksi, saya nggak masuk. Jadi, saya tak bersama Nunung lagi,'' kenang Budiawan.

Di PSSI Primavera, posisi dan tugasnya digantikan pemain asal Magelang, Jawa Tengah, yang digembleng di Diklat Salatiga, Kurniawan Dwi Julianto. Kelak, Kurniawanlah yang dikenal sebagai pasangan sehati bagi pemain asal Sukoharjo, Jawa Tengah, tersebut,

Usai gagal masuk PSSI Primavera, Budiawan kembali ke Solo. Persis Junior membutuhkan tenaga dan kemampuannya.

Hingga akhirnya pada musim 1995 atau selepas di Persis Junior, panggilan masuk Arseto Senior datang. Kesempatan tersebut tak disia-siakan.

Tapi, siapa sangka, nasibnya kurang mujur. Cedera yang menimpa membuat Budiawan tak bisa tampil optimal.

''Saya nggak lama di Arseto. Musim 1997, saya dicoret karena cedera,'' ujar Budiawan.

Tak dipakai di Arseto, dia kembali ke habitat. Dengan tangan terbuka, Laskar Samber Nyawa, julukan Persis, mau menerima.

Pada 2001-2002, Budiawan sempat gagal membela klub tersebut. Bukan karena cedera atau kalah bersaing.

''Saya menunggu istri yang melahirkan. Saya baru bisa gabung di putaran nasional,'' ujar lelaki yang menuntut ilmu di SMA 6 Surakarta tersebut.

Di sela-sela bermain sepak bola, Budiawan tak melupakan menuntut ilmu. Dia bisa menyelesaikan kuliahnya di UNSA-ASMI. (*)

Bekerja membuat Budiawan memilih tak terlalu aktif di lapangan hijau. Hanya, dia akhirnya meninggalkan pekerjaan yang belasan tahun ditekuni. Baca selanjutnya di seri 3.



Read More

M. Didik Budiawan, Tandem yang Antarkan Indriyanto Jadi Penyerang Nasional (1)

M. Didik Budiawan dengan nomor 11 di Timnas U-15
Bertandem sejak dari Diklat Arseto

Orang lebih mengenal Indriyanto Nugroho dibandingkan dirinya. Tapi, moncernyanya lelaki yang akrab disapa Nunung tersebut tak lepas darinya.
--
SEBUAH  lampu menyala di depan sebuah warung angkringan khas Solo pada  22Oktober  lalu. Ini menandakan tempat yang berada di  kawasan Kandang Sapi, Solo, Jawa Tengah, tersebut buka.

Seorang perempuan tengah menunggu warung angkringan tersebut. Dia menggantikan posisi suaminya yang tengah keluar bersama anaknya.

''Tungga saja. Sebentar lagi Mas pulang kok. Dia hanya ngajak anak jalan-jalan,'' katanya.

Tak lama berselang, suaminya datang. Posturnya kelihatan lebih gemuk dibandingkan saat masih aktif di lapangan hijau.

Dia adalah M. Didik Budiawan. Bagi insan sepak bola nasional, namanya kurang terkenal.

Tapi, bagi penggemar sepak bola di Solo, nama tersebut tak asing lagi. Apalagi, dia menghabiskan karirnya di dua klub di Kota Bengawan, julukan Solo, tersebut, Arseto dan Persis.

''Saya nggak pernah membela klub di luar Solo. Saya cinta kota ini,'' terang Budiawan, yang kini berusia 40 tahun.

Padahal, dengan kualitas yang dimiliki, tak susah baginya untuk bergabung dengan klub di luar Solo. Persijap Jepara misalnya.

Klub asal Kota Ukir, julukan Jepara, itu pernah meminangnya secara langsung. Hanya, itu tak membuat dia goyah pendirian.

Karir Budiawan sendiri diawali dari sebuah klub internal Persis, Mars.Dengan tempat latihan yang tak jauh dari rumahnya di Gading, kemampuannya terasah.

Dari ajang antarklub di Kadipolo, Budiawan mendapat kesempatan masuk ke Diklat Arseto pada 1991. Di tempat ini, kualitasnya sebagai penyerang semakin moncer.

Apalagi, dia mendapatkan tandem yang sehati dengannya, Indriyanto Nugroho. Banyak gol Nunung, sapaan karib Indriyanto Nugroho, yang lahir berkat aksi dan umpannya. Duet tersebut bukan hanya moncer di Diklat Arseto.

''Kami juga bareng masuk Timnas U-15 dengan tampil di Malaysia,'' kenang Budiawan.

Dia masih menyimpan foto tersebut. Lelaki yang  pernah menimba ilmu di SMP Negeri 6 Surakarta tersebut mengungkapkan bahwa materi Timnas U-15 ketika itu banyak didominasi rekan-rekannya di Diklat Arseto. (*)

Tandemnya dengan Indriyanto gagal berlanjut. Dia tetap tinggal di Solo, sedangkan Nunung, sapaan karib Indriyanto, harus ke Italia. Baca selanjutnya di seri 2.
Read More

Uston Nawawi, Dari Lapangan Hijau ke Bisnis Kuliner (7-Habis)

Uston Nawawi saat di rumahnya di Sidoarjo
Ingin Latih Klub Tak Jauh dari Sidoarjo

Sejak aktif menjadi pemain, sebenarnya Uston Nawawi sudah bersentuhan dengan makanan. Ini dikarenakan keluarga sang istri punya sebuah rumah makan di Sidoarjo
--
HIDUP Uston Nawawi tetap tak bisa lepas dari sepak bola. Kini, hari-harinya masih sering dipakai berlatih dan juga menjadi pelatih di sebuah akademi sepak bola di Sidoarjo, Jawa Timur.

Dengan menjadi pelatih, ilmu yang dimiliki mampu dibagikan kepada anak asuhnya yang berusia belasan. Di akademi tersebut, dia dibantu rekannya semasa kecil yang juga seniornya, Nurul Huda.

Hanya, itu tak setiap hari. Uston dan Huda menangani akademi tersebut pada sore hari dengan intensitas tertentu.

Bisa dikatakan hari-harinya bergelut dengan makanan. Kok bisa? Bersama sang istri, Deny Rahmawati, Uston mengela Rumah Makan Sri Raras yang lokasinya di Cemengkalang, Sidoarjo.

Memang, rumah makan dengan luas 2.200 meter persegi tersebut bukan  didirikan oleh Uston dan istri. Tempat tersebut didirikan oleh mertuanya, Sri Budianto, pada 2000.

Di tangan Uston, Rumah Makan Sri Raras mengalami perubahan. Oleh mantan pemain Persebaya Surabaya tersebut,  tempatnya menjadi lebih asri.

Konsep hutan kota dipakai oleh Uston. Begitu juga dengan adanya joglo di dalamnya.

''Saya renovasi dengan biaya yang tak sedikit. Tabungan ikut terkuras,'' jelas dia.

Selain uang dari hasil bermain bola, sebuah rumah miliknya yang ada di kawasan  Sono, Buduran, Sidoarjo, ikut terjual. Rumah tersebut hasil jerih payahnya saat membela Persebaya Surabaya.

''Dulu miliknya Hartono (mantan bek kanan Persebaya). Dia menjualnya saat ada keperluan,'' terang Uston.

Hanya, itu tak merembet kepada lahan ataupun investasi lain miliknya. Selain rumah di Sono, mantan gelandang Timnas Indonesia tersebut memiliki sawah dan kos-kosan di rumahnya di Klagen, Wilayut, Sukodono.

''Kost-kostan bisa jadi tempat pemasukan juga saat sudah nggak jadi pemain. Lapangan futsalnya tetap ada, hanya sudah nggak seramai dulu,'' ucap Uston.

Dengan renovasi yang dilakukan, kini Sri Raras, lanjutnya, bisa menerima tamu lebih banyak. Bahkan, tempat tersebut bisa untuk pertemuan.

''Beberapa kesebelasan pernah makan di sini. Ini akan membuat Sri Raras bisa hidup,'' ujar Uston.

Apalagi, terangnya, pada Ramadan. Bisa dipastikan Sri Raras bakal penuh sesak.

Uston menegaskan bahwa Sri Raras akan dikelola secara serius. Sehingga, dia harus paham tentang masakan serta manajemen.

''Hanya, kalau ada tawaran melatih tetap saya terima. Tapi, klub itu nggak jauh dari Sidoarjo,'' pungkas Uston. (*)
Read More

Uston Nawawi, Dari Lapangan Hijau ke Bisnis Kuliner (6)

Uston tengah bermain HP
Kaget dan Tak Percaya saat Ditunjuk Jadi Pelatih

Menjelang akhir karir sebagai pemain, Uston Nawawi tetap laku diburu. Dia tetap menjunjung tinggi profesional
--
Nama Uston Nawawi kembali terangkat. Ini tak lepas dari keberhasilannya membawa Persisam Putra Samarinda menembus Indonesia Super League , kasta tertinggi dalam kancah sepak bola Indonesia.

Tawaran pun datang dari Persidafon Dafonsoro. Harapannya pun sama, Uston bisa mengangangkat tim asal Papua tersebut menembus orbit tertinggi.

Selain Uston, nama lain yang direkrut Persidafon adalah Bejo Sugiantoro. Rasa Persebaya semakin kental dengan posisi pelatih diduduki Freddy Mulli dengan asisten Mursyid Effendi. Semuanya pernah berkolaborasi di Green Force, julukan Persebaya, pada musim 2006. Hasilnya, tim asal Kota Pahlawan, julukan Persebaya, sukses menjadi juara Divisi I. 

Sayang, asa tersebut gagal terealisasi. Meski, langkah Persidafon sudah sangat dekat karena bisa menembus babak semifinal.

''Di babak semifinal, ada adu tendangan penalti. Tembakan saya kembali tak masuk,'' ujar Uston saat ditemui di Rumah Makan Sri Raras miliknya pada pertengahan Oktober 2016.

Uston dan Freddy serta Mursyid kembali bekerja sama. Hanya, itu bukan di Persidafon lagi. Ketiga bersatu di Persegres Gresik.

Di Laskar Joko Samudro, julukan Persegres, dia bertahan dua musim. Dengan usia yang terus bertambah, Uston pun akhirnya bisa pulang kandang.

Dia menerima pinangan tim kota kelahirannya, Persida Sidoarjo. Bak reuni dan berjodoh, mantan pemain PSSI Baretti ini bertemu lagi dengan Bejo, Freddy, dan Mursyid.

Bahkan,  dua seniornya yang mengajaknya bermain bola secara serius, Nurul Huda dan Sutaji, ikut diajak Uston ke Persida. Hasilnya, Laskar Jenggolo, julukan Persida, bisa bertahan di Divisi Utama.

''Pada 2015, saya diajak ke Deltras. Saya menerima karena ingin mengabdi kepada kota kelahiran,'' ungkap Uston.

Hanya, kekacauan kompetisi membuat The Lobster, julukan Deltras, belum juga turun di Liga Nusantara, kompetisi level terbawah di Indonesia. Hingga akhirnya, sebuah tawaran mengejutkan menghampirinya.

''Pengurus Pengprov PSSI Jatim Dokter Wardi menghubungi saya. Dia menawari saya menjadi pelatih Laga FC yang berlaga di Divisi Utama,'' jelas Uston.

Lisensi yang dimilikinya pun sudah mendukung. Lelaki yang kini berusia 39 tahun tersebut memegang Lisensi B AFC (Federasi Sepak Bola Asia).

''Menangani Laga FC membuat saya banyak belajar. Bukan hal yang mudah memegang sebuah tim,'' ungkap Uston.

Dengan waktu yang semakin longgar tak hanya fokus di sepak bola, Uston banyak menghabiskan waktunya di rumah makan. Selanjutnya baca seri 7.
Read More

Uston Nawawi, Dari Lapangan Hijau ke Bisnis Kuliner (5)

Uston (tiga belakang kiri) bersama Persebaya usai juara Divisi I
Balik dan Bawa Persebaya Juara Lagi

Iklim sepak bola Indonesia memasuki era gila-gilaan. Harga pemain melambung tinggi. Ini memikat Uston.
--
PSPSPekanbaru masuk jajaran klub kaya di musim 2002/2003. Wajar jika mereka bisa mengumpulkan para pemain bintang yang direkrut dari klub lain.

Trio pemain nasional yang pernah sama-sama mengantarkan Persebaya Surabaya juara, HendroKartiko, Bejo Sugiantoro, dan Uston Nawawi, berkumpul lagi. Tujuannya tentu mengantarkan Astar Bertuah, julukan PSPS, bisa menjadi klub Sumatera yang menjadi juara Liga Indonesia.

Memang, saat itu, musim 2002/2003, PSPS langsung masuk kandidat juara. Materi yang jempolan tentu sebagai acuan.

Namun, prediksi tersebut berbalik. Baru pekan keenam, PSPS sudah mendapat cobaan. Keributan saat melawan tuan rumah Solo FC membuat pemain pilarnya, Bejo dan Hendro, menerima sanksi larangan bertanding.  Ini membuat semua mimpi PSPS menjadi tim kuat pun kandas.

Sementara, di musim yang sama, Persebaya kembali bersinar. Sempat terpuruk di awal musim, Green Force, julukan Persebaya, kembali menanjak.

Pergantian pelatih dari Muhammad ''Mamak'' Zein Al Hadad ke Jacksen . Tiago langsung menjadikan mereka menjadi tim yang moncer. Hingga akhirnya, Persebaya kembali ke Divisi Utama dengan status juara.

''Tawaran kembali ke Persebaya datang. Tentu saya menerima karena bisa balik dan dekat dengan rumah,'' terang Uston Nawawi, salah satu legenda yang dimiliki Persebaya.

Kembalinya bintang lini tengah Indonesia ini memberikan perubahan yang cukup signifikan. Uston mampu mengantarkan timnya menduduki posisi teratas di klasemen akhir Liga Indonesia.

Jadi, gelar ini merupakan kali kedua baginya. Setelah sebelumnya, Uston melakukan hal yang sama pada 1996/1997.

Dia bertahan di Persebaya hingga 2008. Setelah itu, mantan pemain PSSI Baretti tersebut berpetualang ke berbagai klub.

''Kepindahan saya ke Persisam pada 2008 termasuk kebetulan. Saat saya jalan-jalan di pusat perbelanjaan eh ketemu Riono Asnan,' ungkap Uston.

Oleh Riono ditawari bergabung dengan Persisam Samarinda. Kontrak yang ditawarkan, ujarnya, cocok.

''Ya saya ambil. Apalalagi, Persisam punya target menembus ISL,'' kenang Uston. (*)

Persisam bukan klub terakhir bagi Uston. Namun, dia masih berkelana lagi. Selanjutnya baca seri 6.







Read More

Uston Nawawi, Dari Lapangan Hijau ke Bisnis Kuliner (4)

Uston pintar mengelola keuangan
Uang dari Klub Lain buat Beli Rumah

Karir Uston Nawawi semakin melambungkan. Dia menjadi sorotan di pentas sepak bola nasional.
--

USIA Uston Nawawi di 1997 masih 20 tahun. Tapi, dia sudah merasakan berada di puncak karir.

Pemain yang memulai karirnya dari SSB Warna Agung, Sidoarjo, tersebut sudah bisa mengantarkan Persebaya Surabaya menjadi juara Liga Indonesia. Di tingkat tim nasional, Indonesia nyaris dibawa meraih emas dalam ajang SEA Games di tahun yang sama.

Sayang, tembakan Uston sebagai eksekutor kelima Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, gagal menjebol gawang Thailand.Sehingga, Indonesia pun harus puas dengan medali perak.

Performa ini ikut mendongkrak Persebaya. Sayang, usaha untuk mempertahankan gelar kembali Liga Indonesia kandas.

Bukan karena Green Force, julukan Persebaya, kalah dari tim lain. Kondisi politik yang tengah kacau dengan berujung tumbangnya rezim Orde Baru membuat kompetisi dihentikan di tengah jalan. Padahal, saat itu, Uston dkk tengah memimpin klasemen wilayah barat.

Setelah situasi aman dan terkendali, kompetisi kembali digulirkan. Persebaya pun mampu menembus babak final di musim 1998/1999.

Tapi gol Maradona dari Purwodadi, Tugiyo, satu menit menjelang pertandingan usai membuat Uston dkk gagal mengangkat trofi Liga Indonesia lagi. Dalam laga ini, Uston bermain penuh.

''Namun di ajang SEA Games, kami hanya mendapatkan perunggu. Kalah di semifinal oleh Vietnam dan menang adu penalti dari Singapura dalam perebutan perunggu,'' kenangnya.

Dengan kematangan yang terus bertambah, Uston pun memikat klub lain. Salah satu yang serius meminangnya adalah PSM Makassar.

Apalagi, Pasukan Ramang, julukan PSM, menatap Liga Champions Asia. Mereka baru saja menjadi juara Liga Indonesia di musim 1999/2000. Sementara, prestasi Persebaya lagi jatuh dengan gagal menembus babak delapan besar.

''PSM mendekati saya di Jakarta saat TC Timnas Indonesia. Harga yang ditawarkan PSM jauh di atas Persebaya,'' terangnya.

Dia menerimanya karena butuh uang untuk membeli rumah. Selama karirnya di lapangan hijau dari Persebaya hingga Timnas Indonesia, dia masih tinggal di rumah orang tuanya di Klagen, Wilayut, Sukodono, Sukoharjo.

''Uang dari kontrak di PSM saya belikan rumah di Taman Pinang. Memang nggak baru, tapi sudah senang bisa beli,'' ujar Uston.

Di tim dari ibu kota Sulawesi Selatan tersebut dia berjumpa dengan rekannya di Persebaya, Carlos de Mello. Juga tandemnya di timnas, Bima Sakti.

Tapi, kepindahan ini membuat gempar. Pengurus dan suporter tak ingin pemain pujaannya tersebut berkostum tim lain.

''Nasib saya digantung. Di PSM, saya juga nggak pernah dimainkan. Itu hingga delapan pertandingan,'' terang Uston.

Setelah kubu PSM dan Persebaya bertemu, lelaki yang sempat menimba ilmu S1 di sebuah universitas swasta di Surabaya itu pun balik ke Green Force. Hanya, dia tetap belum dapat kepercayaan untuk bisa turun ke lapangan.

Hingga dalam pertandingan melawan PKT Bontang di Gelora 10 Nopember pada 18 Februai 2001, menjadi moment bagi Uston. Susahnya pemain Persebaya menjebol gawang lawan membuat penonton berteriak kompak meminta Uston diturunkan.

''Ketika itu, Cak Narto (wali kota sekaligus ketua Persebaya Soenarto) langsung menyuruh orang untuk memainkan saya,'' ujarnya.

Nah, saat diturunkan, keberuntunan memayungi lelaki yang kini berusia 39 tahun tersebut. Sontekannya saat di depan gawang PKT berbuah gol.

''Sejak itu, saya selalu dimainkan dari pertama. Persebaya sampai lolos hingga babak semifinal. Kami gagal lolos setelah dikalahkan Persija dengan 2-1 dan saya yang cetak gol,'' ucap Uston.

Tapi petaka terjadi setahun kemudian. Tim sebesar Persebaya harus rela turun kasta karena degradasi di musim 2001/2002.(*)

Ogah bermain di Divisi I, Uston kembali meninggalkan Persebaya. Tapi, hanya semusim, dia pun balik. Selanjutnya baca seri 5.

Read More

Uston Nawawi, Dari Lapangan Hijau ke Bisnis Kuliner (3)

Uston gagal jadi eksekutor di SEA Games

Tak Siap, Gagal Bawa Indonesia Raih Emas

Pulang dari Italia, hasil kurang mengenakkan menimpa Uston Nawawi. Tapi, itu membuat dia malah semakin terpacu
--
 INDONESIA gagal menembus putaran final Piala Asia U-19 pada 1996. Merah putih hanya berada di posisi II grup di bawah tuan rumah Tiongkok.

Padahal, target awalnya adalah mampu menembus putaran final. Apalagi, persiapan yang dilakukan termasuk matang.

Uston Nawawi selama setahun digemleng di Italia dalam proyek bergengsi PSSI Baretti. Mereka mengikuti kelompor umur di negara beribukota Roma tersebut.

Pelatih yang menangani pun tak sembarang. Uston dkk dipoles orang kepercayaan pelatih top dunia saat itu,Sven Goran Erikssen, Torp Grip.

Sayang, persiapan tersebut gagal membuahkan hasil. Imbasnya, usai dari Negeri Panda, julukan Tiongkok, proyek ambisius tersebut dibubarkan.

Para pemain, termasuk Uston, dikembalikan ke klubnya masing-masing. Saat kembali itu,lelaki asal Klagen, Wilayut, Sukodono, Sidoarjo, tersebut dipanggil mengikuti seleksi pembentukan tim Pekan Olahraga Nasional (PON) 1996.

‘’Tapi,saya gagal masuk. Kalah bersaing dengan para pemain yang lebih tua seperti alm Eri Irianto,’’ ujar Uston.

Tapi, pencoretan tersebut membawa hikmah. Dia dipanggil mengikuti seleksi Persebaya yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Liga Indonesia musim 1996/1997.

‘’Sebuah kesempatan yang tak terduga. Akhirnya, saya bisa masuk kesebelasan yang selalu saya ingin bela,’’ ungkap Uston.

Awalnya, dia hanya sebagai penghangat bangku cadangan. Tapi, dia selalu diberi kesempatan.

‘’Pelatih (alm Rusdy Bahalwan) kan suka mengorbitkan pemain muda. Saya kalau masuk di babak kedua untuk menggantikan para senior,’’ tambah lelaki yang kini berusia 39 tahun tersebut.

Pada musim itu, di barisan lini tengah Green Force, julukan Persebaya, ada Carlos de Mello dari Brasil, Khairil ‘’Pace’’ Anwar, Jatmiko, maupun Yusuf Ekodono. Tapi, seiring matangnya mental dan penampilan, Uston mulai mendapat tempat sebagai starter.

Bahkan, saat pertandingan final melawan Mastrans Bandung Raya di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, pada 28 Juli 1997, Uston menjadi pilihan pertama. Konstribusinya membawa Persebaya mengalahkan lawannya dengan skor 3-1.

Hasil tersebut semakin membuat posisinya sebagai starter tak tergoyahkan. Panggilan menembus Timnas Indonesia pun datang.

Uston masuk dalam tim SEA Games 1997. Kebetulan, ajang pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa Asia Tenggara tersebut dilaksanakan di Jakarta.

Setelah 1991, Pasukan Garuda, julukan  Timnas Indonesia, mampu menembus final. Di babak pemungkas, Indonesia berhadapan dengan Thailand.

Hanya, pertandingan ini menjadi memori buruk di benak Uston. Setelah imbang 1-1 di waktu normal dan perpanjangan waktu, laga harus dilanjutkan dengan adu tendangan penalti.

‘’Saya gagal mencetak gol di adu tendangan penalti. Tembakan saya melambung,’’ kenang Uston.

Sebenarnya, dia tak siap menjalankan tugas tersebut. Namun, kapten yang juga rekan satu timnya di Persebaya, Aji Santoso, menunjuknya. (*)

Bersama Persebaya, Uston Nawawi terus berkibar. Namun, klub-klub juga mulai menggodanya untuk pindah. Baca kelanjutannya di seri 4.
Read More

Uston Nawawi, Dari Lapangan Hijau ke Bisnis Kuliner (2)

Uston di Rumah Makan Sri Raras
Bawa Indonesia Juara dengan Gol di Detik Ke-15

Masa remaja Uston Nawawi mulai dihabiskan di lapangan hijau. Dia mulai mendapat perhatian publik Surabaya
--
DI Lion Cup di Singapura, penampilan Uston Nawawi menyedot perhatian.Dia menjadi penentu kemenangan Indonesia atas Malaysia dengan skor 1-0.

''Golnya saat pertandingan baru 15 detik. Saya yang mencetak gol dan menjadi gol tercepat,'' ucap Uston saat ditemui di Rumah Makan Sri Raras miliknya pada awal Oktober 2016.

Pulang  dari Singapura mengikuti Lion Cup, Uston Nawawi semakin semangat berlatih. Meski untuk itu, dia harus rela bolak balik Sidoarjo-Surabaya.

Penyakit yang sering muntah mulai hilang. Dia sudah tak takut lagi naik angkot.

''Pulang sekolah, saya langsung latihan. Balik ke rumah sudah malam,'' ungkap lelaki kelahiran 9 September 1977 tersebut.

Usaha tersebut mulai membuahkan hasil. Namanya masuk dalam skuad Persebaya Junior

''Saya tiga kali membela Persebaya Junior di ajang Liga Remaja. Itu mulai1992/1993,1993/1994, dan 1994/1995,'' kenang Uston.

Selama itu, jelas dia, dua kali Green Force Muda dibawanya menembus final. Yakni pada 1992 dan 1994.

''Kalahnya oleh lawan yang sama, PSB Bogor. Di sana Imran Nahumaruri (yang akhirnya jadi rekan Uston di Timnas Indonesia Senior,red),'' ujar pemain yang mengawali karir dari SSB Warna Agung, Sidoarjo, tersebut.

Di 1993/1994, Persebaya Junior,  tambah Uston, hanya sampai babak semifinal. Kiprah arek Sukodono tersebut tercium oleh pemandu bakat PSSI.

Dia bersama dua rekannya, Agung Prasetyo (kiper) dan pemain belakang Kharis Yulianto, mendapat panggilan seleksi. Ketiga dipantau dalam latihan di Sawangan, Depok.

''Agung yang nggak lolos. Dalam sebuah latihan, tanggapannya saat bola silang lepas,'' terang putra dari Suwadi, yang juga wasit di Sidoarjo tersebut.

Uston dan Kharis akhirnya berangkat ke Italia untuk masuk proyeksi ambisius PSSI, Barreti. Mereka bersama para talenta-talenta muda terbaik di Indonesia digembleng selama setahun.

Uston dkk melanjutkan proyeksi ambisius. Sebelumnya, sudah ada PSSI Primavera yang ditempa di wilayah Genoa tersebut.

''Kami dilatih asisten Sven Goran Eriksson,Tord Grip. Dari Indonesia, asistennya Danurwindo,'' jelas Uston.

Sayang, latihan di Italia tersebut gagal menenuhi ekspeksati. Harapan menembus putaran final Piala Asia U-19 kandas.

''Kami hanya mampu menjadi runner-up di bawah tuan rumah Tiongkok. Jadi gagal lolos ke babak berikut,'' kenangnya.

Kegagalan ini membuat program Baretti ikut bubar. Para pemain, termasuk Uston, dikembalikan ke klubnya masing-masing. (*)

Dipulangkan dari PSSI Baretti tak membuat karir Uston Nawawi redup. Sebaliknya, dia semakin bersinar. Baca selanjutnya di seri 3.


Read More

Uston Nawawi, Dari Lapangan Hijau ke Bisnis Kuliner (1)

Uston saat ditemui awal Oktober 2016
Kali Pertama Latihan Tak Kuat Naik Angkot

Lini tengah Tim Nasional Indonesia dan Persebaya Surabaya di era 1990-an dan 2000-an pernah dikuasai. Kini, aktivitasnya masih berhubungan dengan sepak bola. Hanya, bisnis makanan sudah dirambah.
--
SEBUAH rumah makan bernama Sri Raras berdiri di kawasan Cemengkalang, Sidoarjo. Halamannya cukup luas.

''Pak Uston ada di dalam. Sudah lama dia masuknya,'' kata seorang tukang parkir di Sri Raras.

Saat masuk, seorang lelaki muncul. Dia adalah Uston Nawawi.

Penampilannya berbeda jauh saat dia di lapangan hijau. Apalagi, cambang yang biasanya dia biarkan tumbuh lebat dicukur rapi.

''Ayo makan dulu. Di Sri Raras ini semua makanannya enak,'' kata Uston saat ditemui pada awal Oktober 2016.

Dia menyebut mie goreng dan ayam goreng menjadi andalan di Sri Raras. Dia paham betul karena hampir setiap hari ke rumah makan yang menggunakan konsep hutan kota tersebut.

''Baru saja diperbaiki. Uangnya juga dari main bola dulu,'' ungkap lelaki 40 tahun tersebut.

Tak bisa dipungkiri, dari olahraga bola sepak tersebut, nama Uston menjulang tinggi. Rezeki pun mengalir deras kepada pesepak bola asli Sidoarjo, Jawa Timur, tersebut.

Tapi, untuk bisa meraih ke sana, Uston melaluinya dengan kerja keras. Tak jarang keringat dan air mata mengiringi karirnya di lapangan hijau.

''Sejak kecil saya sudah bermain bola. Klubnya adalah Warna Agung yang berlatih di Stadion Jenggolo,'' kenang dia.

Namun, kondisi Stadion Jenggolo, lanjut Uston, belum seperti sekarang. Stadion Jenggolo, tambah Uston, masih buruk.

''Barulah SMP, saya berlatih ke Dolog, Surabaya. Saya tak lagi naik sepeda ke latihan karena jauh jaraknya,'' ujar Uston.

Hanya, ada masalah yang dialami. Uston harus naik angkutan umum untuk bisa mencapai tempat latihan yang jaraknya lebih dari 10 kilometer tersebut.

''Awal-awal naik angkutan umum, saya muntah. Saya harus minum obat pencegahnya,'' ungkapnya.

Tapi, ujarnya, lama kelamaan, dia sudah kebal. Apalagi, dua seniornya, Sutaji dan Nurul Huda, selalu memberinya semangat. Kelak di kemudian hari, keduanya menjadi pesepak bola profesional dan sempat berkostum Persebaya Surabaya.

Dari SSB Dolog, kemampuan Uston terpantau. Dia mendapat kesempatan membela Indonesia dalam ajang Lion Cup di Singapura.

''Kebetulan, pelatihnya dari Dolog juga, Maura Helly. Ini menjadi pengalaman pertama saya di luar negeri,'' jelas Uston. (*)

Kemampuan Uston semakin terasah. Pintu masuk ke Persebaya Junior bisa ditembuk. Baca selanjutnya di seri 2.
Read More

Djoko Malis Mustafa, Pemain yang Selalu Beri Gelar di Klub yang Dibela (7-Tamat)

Djoko Malis membantu usaha istri di rumah
Buka Kafe dan Jual Kue Bikinan Istri

Dunia sepak bola sudah ditinggalkan. Semua untuk menghargai keinginan keluarga.
--

SEBUAH tulisan tentang produk kue terdapat di depan rumah Djoko Malis Mustafa. Bukan sebuah lembaga sepak bola ataupun kepelatihan tentang olahraga paling populer di muka bumi tersebut.

''Rumah ini akan saya rombak. Rencananya akan saya jadikan kafe,'' ungkap Djoko, legenda sepak bola Indonesia di era 1980-an tersebut.

Dulunya, kamar yang ada di lantai 1 dari 3 lantai rumahnya dipakai untuk kos-kosan. Usaha tersebut berjalan lancar karena banyak penghuni.

''Kost-kostannya khusus buat putri. Ini untuk menemani anak kami yang kecil (Intan Triyasmina),'' ungkap Djoko.

Tapi, kini si bungsu telah lulus dan sudah jarang di rumah. Akibatnya, kost-kostan itu pun ditutur.

''Bukan karena tidak ada penghunini. Tempat sini kan strategis, dekat pusat perbelanjaan dan Unair,'' lanjut lelaki yang memulai karir sepak bolanya di Persebaya Surabaya tersebut.

Usaha kafe tersebut diharapkan bisa menjadi penyaluran hobi anak dan istrinya. Mereka, jelas Djoko, pintar membuat kue.

''Sebenarnya, kami sudah punya toko kue di kawasan Sidoarjo. Hanya, jaraknya jauh dari rumah sehingga kami tutup,'' jelas Djoko yang selalu memberikan gelar kepada klub yang dibela seperti Persebaya Junior, Persebaya Senior,Niac Mitra, dan Yanita Utama tersebut.

Dia melihat bisnis tersebut bisa dikembangkan di rumah. Apalagi, Djoko sudah tak lalu berkecimpung di sepak bola.

''Ya sekalin membantu usaha anak dan istri. Kue bikinan anak dan istri saya enak lho..,'' jelasnya.

Dia menerangkan pada Lebaran 2016, istrinya membuat kue dalam jumlah banyak. Padahal, harganya tak murah.

''Pesanannya jauh-jauh. Mereka merupakan rekan-rekan kuliah istri saya,''lanjut Djoko.

Istrinya, Sufie Ethika, sebenarnya adalah seorang advokat terkenal di Jombang. Kesibukannya membuat Djoko pun harus sering bolak-balik ke Kota Santri tersebut.

''Saya sempat lama tinggal di sana. Tapi, kini saya di Surabaya untuk nungguin rumah anak saya ini,'' pungkas lelaki kelahiran 30 September 1957 tersebut. (*)














Read More

Djoko Malis Mustafa, Pemain yang Selalu Beri Gelar di Klub yang Dibela (6)

Laporan Djoko Malis sebagai pelatih di berbagai klub
Tak Gajian, Dilarang Keluarga Melatih

Kesempatan masuk ke Timnas Indonesia terbuka bagi Djoko Malis. Hanya, dia bukan lagi sebagai pemain.
--
PUBLIK nasional sempat terkejut di awal 2000-an. Dari daftar asisten pelatih Timnas Indonesia U-19 ada nama yang beberapa tahun vakum.

Ya, Djoko Malis Mustafa ada dalam daftar asisten pelatih Peter Withe. Selain Djoko, lelaki asal Inggris tersebut dibantu Edy Harto sebagai asisten pelatih khusus kiper.

''Saya bekerja selama sepuluh bulan.Sasarannya ke Piala Asia di Malaysia,'' ungkapnya.

Kembali munculnya Djoko sebagai pelatih ini langsung terdengar ke segala penjuru tanah air. Beberapa klub serius meminang.

''Tapi, saya akhirnya mencapai kesepakatan dengan Pesmin Minahasa. Saya tertantang untuk mengangkat klub tersebut,'' kenang lelaki yang kini berusia 59 tahun tersebut.

Di musim pertamanya, 2005/2006, klub asal Sulawesi Utara tersebut dilambungkannya ke posisi kelima di putaran II. Namun, di putaran berikut, klub tersebut melorot empat peringkat.

Hasil tersebut membuat manajemen Persmin kepincut. Lelaki asli Surabaya tersebut diperpanjang.

Belajar dari musim sebelumnya, Djoko menambal sulam pasukan. Hasilnya pun tak sia-sia.

''Kami menjuarai wilayah timur dan berhak lolos delapan besar. Semua partai kandang mampu kami menangi,'' ungkap lelaki bergelar sarjana ekonomi tersebut.

Sempat menembus semifinal, Persmin dihentikan Persik Kediri di babak semifinal. Macan Putih, julukan Persik, akhirnya keluar sebagai juara musim 2006/2007.

''Namun, karena masalah nonteknis, musim berikutnya saya hanya menangani Persmin hingga empat pertandingan di putaran II,'' ungkap Djoko.

Usai dari Persmin belum berarti karir kepelatihannya tamat. Tawaran dari Gresik United tak bisa ditampik.

Djoko mempersiapkan tim tersebut dengan matang dari awal. Dia menguji semua calon pemainnya dengan keilmuan.

''Namun, di tengah jalan, masalah finansial menerpa. Saya tak digaji selama lima bulan,'' ujar Djoko. Ini membuat dia memilih mengundurkan diri.

Ternyata, hal selama di Kota Pudak, julukan Gresik, juga menimpa di dua klub setelah itu, Persewangi Banyuwangi dan Persik Kediri. Kejadian itu membuat istri Djoko, Sufie Ethika, dan ketiga anaknya, Suko Wisesa Pratyeka, Jacqueline Marsha Melisaka, dan Intan Triyasmina Atiqa, melarang dia menjadi melatih. Mereka tak ingin melihat suami dan ayahnya stress.

''Sejak 2011, saya sudah tak melatih. Saya lebih banyak di rumah,'' terang Djoko yang selalu mempunyai laporan pertandingan serta analisis di setiap klub yang dilatihnya. (*)

Apa kesibukan Djoko setelah dilarang menjadi pelatih. Ternyata, itu tak ada hubungannya dengan sepak bola.














Read More

Djoko Malis Mustafa, Pemain yang Selalu Beri Gelar di Klub yang Dibela (5)

Djoko Malis mengakhiri karir di Suryanaga


Bukan Lagi sebagai Pelatih, tapi Direktur Teknik

Dengan usia yang bertambah, Djoko Malis mulai mempersiapkan diri pensiun. Dunia yang masih berhubungan dengan sepak bola menjadi pilihan.
--
USIA Djoko Malis sudah di atas kepala tiga. Dia menyadari bahwa karir sepak bolanya sebagai pemain bakal habis.

Lelaki yang suka memanjangkan cambangnya ini pun memilih pulang ke Surabaya. Itu terjadi saat rekan-rekannya di Yanita Utama memilih hengkang ke Kramayudha Tiga Berlian ke Palembang, Sumatera Selatan.

Djoko berlabuh ke klun amatir di Kota Pahlawan, julukan Surabaya, Suryanaga. Dengan klub yang sempat bernama Naga Kuning tersebut, dia tetap bisa memberikan prestasi.

Dia mengantarkan Suryanaga menjadi juara nasional pada 1985. Lawan yang dikalahkan adalah klub tangguh asal Jakarta Timur, Bina Taruna.

''Saya juga kuliah lagi di Universitas Putra Bangsa atau UPB. Saya mengamil jurusan manajemen,'' ungkap Djoko.

Dia  ingin agar ilmu sepak bola yang dimiliki bisa dipadukan dengan ilmu umum. Sebab, baginya, keduanya bisa berjalan linier.

Keinginan menjadi pelatih pun tak bertepuk sebelah tangan. Sebuah klub di Jawa Tengah, Bank Pembangunan Daerah (BPD), meminangnya.

Ini menjadi awal karirnya sebagai pelatih. Hanya, kiprah perdana Djoko tak berjalan mulus. Klub asal Semarang tersebut finish di posisi ke-14 dari 18 klub.

Setahun kemudian,1989,  tugas yang sama diberikan H. Mislan. Penguasa asal Surabaya tersebut memberikan amanah bagi Djoko untuk mendirikan Gelora Putra Delta (GPD) di Denpasar, Bali. Karena baru berdiri, tim yang dibangunnya tersebut berlaga lebih dulu di Divisi I.

''Setelah itu, saya menangani Mitra Surabaya,'' ujar Djoko.

Dengan ilmu sepak bola yang dimiliki, dia bukan lagi sekadar pelatih. Suami dari Sufie Ethika tersebut diberi porsi sebagai Direktur Teknik. Itu dilakoni di klub yang pernah membesarkan namanya, Persebaya Surabaya.

''Pada saat itu musim 1993/1994 atau musim terakhir di era perserikatan. Persebaya mampu menembus posisi III,'' ujar Djoko.

Meski tak juara, tangan dinginnya mulai diperhitungkan. Dua musim berikut, dia dikontrak tim sekota Persebaya, Mitra.

Di tangannya, klub tersebut menjadi disegani di era Liga Indonesia. Pada musim 1995-1996 dan 1996-1997, Mitra menempati posisi III.

Di 1995-1996, mereka dihentikan Bandung Raya di babak semifinal dengan adu tendangan penalti. Setahun kemudian, lagi-lagi, klub asal Kota Kembang, julukan Bandung, mengentikan Mitra dengan 1-0 untuk gagal melaju ke final.

''Pada 1996, saya ke Italia. Itu untuk melakukan tinjuakan ke Timnas U-19 yang mempersiapkan diri menghadapi Pra Piala Asia,'' kenang Djoko.(*)

Sempat lama vakum, Djoko Malis mendapat mandat menangani Timnas U-19. Hanya, posisinya sebagai asisten. Selanjutnya baca seri 6.











Read More

Djoko Malis Mustafa, Pemain yang Selalu Beri Gelar di Klub yang Dibela (4)

Usaha kue terpampang di depan rumah Djoko Malis
Bisa Pindah karena Pemilik Klub Saling Kenal

Posisi ideal Djoko Malis adalah sebagai striker. Tapi, saat digeser, dia tetap tampil gemilang.
--

DENGAN materi bertabur bintang, Niac Mitra kembali menguasai Galatama. Setelah juara musim 1980-1982, klub milik A. Wenas tersebut naik kembali ke podium terhormat pada 1982-1983.

Dua musim beruntun mengantarkan Niac Mitra juara membuat Djoko Malis ingin mencari tantangan. Kebetulan, sebuah klub bergelimang meniru langkah yang pernah dilakoni Niac Mitra.

Mereka mengumpulkan para pemain-pemain bintang. Djoko Malis menjadi bidikan.

Ternyata, rekan-rekannya yang pernah di Persebaya yang kemudian di Niac Mitra melakukan hal yang sama. Di antaranya Rudy Keltjes.

''Tawaran yang diberikan oleh Yanita Utama Bogor cukup besar. Sebagai pemain yang hidupnya dari bola, tentu tawaran tersebut sangat menarik,'' lanjut Djoko.

Hanya, awalnya, dia sempat mengalami kesulitan ketika hendak ke Kota Hujan, julukan Bogor. Bos Niac Mitra A. Wenas enggan melepaskan lelaki kelahiran 30 September 1957 tersebut.

''Untung pemilik Yanita Utama dan Wenas kenal baik. Sehingga, saya pun bisa pindah ke Yanita Utama,'' lanjut Djoko.

Seperti halnya dengan di Niac Mitra, lelaki bercambang ini mampu dua kali membawa klub yang dulunya bernama Jaka Utama dua kali menjadi juara Galatama.

Di musim 1983/1984, mereka mengalahkan Mercua Buana Medan. Di musim berikut, dengan kembali ke sistem kompetisi penuh, Yanita Utama memimpin klasemen di pekan terakhir.

Sayang, pada musim 1985, Yanita Utama berganti pemilik dan nama. Klub itu pindah ke Palembang, Sumatera Selatan, dengan nama Krama Yudha Tiga Berlian.

''Beberapa pemain tetap ikut ke sana tapi saya tidak. Saya memilih balikke Surabaya,'' ungkap Djoko.

Hanya, dia tak kembali ke klub lamanya, PSAD. Djoko memilih bergabung dengan Suryanaga. Apalagi, di sana banyak rekan-rekan lamanya bergabung seperti Syamsul dan Wayan Diana.

''Suryanaga saya bawa menjadi juara antarklub nasional. Lengkap sudah gelar saya, junior, perserikatan, Galatama, dan sekarang klub,'' pungkas Djoko. (*)

Dengan usia yang terus bertambah, Djoko Malis mulai memikirkan menjadi pelatih. Hanya, kepercayaan yang diterimanya bukan dari klub Jawa Timur. Baca selanjutnya di seri 5. 






Read More

Djoko Malis Mustafa, Pemain yang Selalu Beri Gelar di Klub yang Dibela (3)


Rumah Djoko Malis di Surabaya
Bawa Indonesia Menembus Final SEA Games

Kehadirannya di Niac Mitra membuat klub tersebut tak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi, klub itu banyak dihuni bintang-bintang Perserikatan
--
NAMA Djoko Malis melesat di pentas sepak bola nasional. Itu tak lepas dari konstribusinya yang besar saat membawa Persebaya menjadi juara perserikatan musim 1978.

Apalagi, dia menjadi pencetak kemenangan gol terakhir Green Force, julukan Persebaya, ke gawang Persija yang dikawal Sudarno dalam final yang dilaksanakan di Stadion Utama, Senayan, Jakarta. Pujian dan sanjungan pun diarahkan kepada lelaki kelahiran 30 September 1957 tersebut.

Tentu, Persebaya tak ingin kehilangan lelaki yang saat itu masih berusia 20 tahun. Namun, sebagai pesepak bola yang ingin merasakan tantangan, hadirnya Galatama cukup menarik perhatian.

Djoko juga sudah menetapkan sepak bola sebagai sandaran hidup. Sehingga, saat rekan-rekannya yang ada bekerja di Pemkot Surabaya, dia tak tertarik.

Di Surabaya sendiri, ada klub Galatama, yakni Niac Mitra. Kebetulan, bosnya, A. Wenas, kepincut dengan permainan Djoko.

''Wenas mengutus Basri (pelatih Niac Mitra) untuk melobi saya. Karena harga cocok, saya memutuskan bergabung Niac Mitra,''tambah lelaki yang kini dikaruniai3 anak tersebut.

Meski pindah klub, tapi Djoko merasa tak mengalami banyak perubahan dengan suasana tim. Alasannya, seniornya di Persebaya ternyata juga ikut menyeberang.

Deretan nama pemain top bahkan. Seperti Wayan Diana, Rudy Keltjes, maupun Yudi Suryata.

Oleh Wenas, Djoko tetap ditempatkan sebagai penyerang. Setelah gagak juara di musim I Galatama, 1978/1979, Niac Mitra mengamuk di tahun kedua.

''Niac Mitra jadi juara musim 1980/1982. Saya menjadi runner-up top scorer,'' kenang Djoko.

Keberhasilan tersebut membuat Niac Mitra ditunjuk mewakili Indonesia di ajang Aga Khan Cup atau Piala Aga Khan di Bangladesh. Kembali tuah Djoko berbuah.

''Niac Mitra menjadi juara di sana,'' lanjut dia.

Pada 1979, Djoko memulai debut di Tim Nasional Indonesia. Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, dipersiapkan menghadapi SEA Games yang dilaksanakan di Jakarta.

''Indonesia lolos ke final untuk kali pertama. Tapi, kami dihentikan oleh Malaysia dengan 0-1,'' ujar Djoko.(*)

Djoko Malis kembali membawa Niac Mitra menjadi juara. Tapi, mengapa dia memilih pindah? Baca selanjutnya di seri 4.






Read More

Djoko Malis Mustafa, Pemain yang Selalu Beri Gelar di Klub yang Dibela (2)


Pindah bukan karena Faktor Uang Semata

Sukses beruntun dilakoni di Persebaya. Tapi, dia hanya bertahan semusim.
--
DI era 1977/1978, nama Hadi Ismanto cukup disegani. Dia dianggap sebagai salah satu penyerang terbaik Indonesia. Belum ada lagi nama Abdul Kadir yang terkenal punya akselerasi tinggi dari sisi lapangan.

Awalnya, Djoko Malis Mustafa dipandang sebelah mata. Apalagi, dia baru saja promosi dari kelompok junior.

Namun, saat diberi kepercayaan, lelaki yang suka memanjangkan jambangnya tersebut menjawabnya dengan tuntas. Dia selalu tampil gemilang.

Bahkan, saat final perserikatan melawan Persija Jakarta di Stadion Utama, Senayan, Jakarta, pada 28 Januari 1978, Djoko menjadi penentu kemenangan Green Force, julukan Persija, dengan skor 4-3. Gol terakhir atau keempat kesebelasan asal Kota Pahlawan, julukan Persija, lahir dari kecerdikannya.
Djoko Malis mengawali karir di Persebaya

''Saya merebut bola dari pemain belakang Persija dan melepaskan tembakan dari jarak jauh. Kiper Persija Sudarno kaget dan tak menyangka saya melepaskan tembakan itu,'' kenang Djoko saat ditemui di rumahnya di pertengahan September.

Pemain Persebaya yang menjebol gawang Macan Kemayoran, julukan Persija, selain dia adalah Johy Fahamsyah (2 gol) dan Rudy Ketljes. Ini merupakan akhir penantian gelar Persebaya setelah 25 tahun.

Kali terakhir,  mereka menjadi juara pada 1952. Ketika itu, tim pujaan Bonek tersebut memakai nama Persibaya.

Penampilan gemilangnya ini membuat Djoko mulai dilirik banyak klub. Tapi, yang paling serius adalah Niac Mitra.

Klub tersebut baru saja berdiri di Surabaya setelah sebelumnya bernama Mitra dan mengikuti kompetisi internal Persebaya (sekarang Askot PSSI Surabaya). Mereka juga memproklamirkan diri mengikuti kompetisi semiprofesional, Galatama (Liga Sepak Bola Utama).

''Ada utusan Wenas (bos Niac Mitra) yang disuruh untuk mendekati saya. Dia pun melakukan pembicaraan,''.lanjut Djoko.

Hingga akhirnya, dia setuju dengan nilai yang ditawarkan kubu Niac. Hanya, Djoko menganggap  kepindahannya tersebut bukan karena faktor uang sebagai hal utama.

''Saya ingin merasakan kompetisi semi profesional. Banyaknya pemain perserikatan yang pindah Galatama juga menjad tantangan,'' jelas lelaki yang kini dikaruniai 3 anak tersebut. (*)

Kesuksesan Djoko Malis tak berhenti. Niac Mitra dibawa menjadi juara Galatama. Bukan hanya sekali. Baca selanjutnya di seri 3.(*) 






Read More

Djoko Malis Mustafa, Pemain yang Selalu Beri Gelar di Klub yang Dibela (1)

Joko Malis saat ditemui di rumahnya di Surabaya
Bawa Junior Juara, Tiket Masuk Senior

Bagi pesepak bola sekarang, namanya terasa asing. Tapi, di era 1980-an, Joko Malis adalah bintang lapangan hijau Indonesia.
--
SEBUAH rumah di kawasan Mulyorejo, Surabaya, tengah direnovasi. Beberapa orang habis bekerja memperbaiki rumah berlantai tiga tersebut.

Namun, di antara mereka ada sesosok lelaki yang didengar perkataannya. Ternyata lelaki bercambang tersebut adalah empunya rumah di Perumahan Wisma Permai tersebut.

''Rumah ini lagi saya renovasi di lantai bawah. Dulunya, bagian itu merupakan kost-kostan,'' ungkap lelaki bernama Djoko Malis Mustafa tersebut.

Para pekerja tersebut mungkin tak tahu bahwa pemilik rumah tersebut merupakan salah satu bintang sepak bola yang pernah lahir di Indonesia. Ini wajar karena Joko sudah lama tak muncul di publik.

Padahal, lelaki yang kini berusia 59 tahun tersebut punya seabrek gelar. Tercatat Djoko sudah memberikan 11 gelar juara di berbagai klub yang berbeda.

''Sejak kecil saya memang suka sepak bola. Saya mulai bergabung klub pada usia 14 tahun,'' kata Joko menceritakan awal karirnya.

Klub yang menjadi sandaran karir pertamanya adalah PSAD. Alasannya, latihan klub tersebut di Lapangan Bungkul dengan rumahnya di Marmoyo, Surabaya, tidak terlalu jauh.

Ternyata, bersama PSAD, Djoko meraih gelar pertama dengan menjuarai Kompetisi U-15. Capaian tersebut membuat dia dipromosikan membela tim senior setahun kemudian.

Hingga akhirnya, panggilan membela Persebaya Junior diterima pada 1976. Penampilannya di kompetisi internal dinilai cukup memikat.

''Saat itu, kami mampu menjadi juara dalam ajang Piala Suratin. Di final, Persebaya mengalahkan PSMS Medan,'' kenang Djoko.

Ternyata, usai menjadi juara Piala Suratin, tak diduga Djoko naik pangkat. Persebaya Senior yang saat itu ditangani Misbach memanggilnya.

''Saya tidak sendirian. Ada lima pemain dari Piala Suratin yang masuk senior,'' jelas lelaki yang lahir 30 September 1957 tersebut.

Kelima rekannya tersebut antara lain Jony Fahamsyah, Ketip Suripto, dan Riono Asnan. Tapi, bukan hal yang mudah bagi Djoko untuk menembus line up.

''Ada Hadi Esmanto yang tengah bersinar dan juga ada Syamsul Arifin,'' ungkap Djoko. (*)

Menembus posisi inti membuat Djoko semakin bersemangat. Di lapangan, dia mulai dapat perhatian. Selanjutnya baca seri 2
Read More

Jacksen F. Tiago, Sukses sebagai Pemain dan Pelatih di Persebaya (8-Habis)

Jacksen (kanan belakang) berkostum PSM Makassar
Isi Waktu dengan Latih Bocah

Tahun-tahun manis Jacksen di Persipura tak bisa selamanya. Dia pun harus meninggalkan Mutiara Hitam, klub mana yang dituju?
--
DELAPAN tahun bersama Persipura. Sebuah hal yang rasanya bakal susah dilakoni oleh pelatih lain.

Kalau pun ada yang bisa, belum tentu bisa selalu memberikan prestasi bagi Mutiara Hitam, julukan Persipura.Bagaimana tidak, di setiap musim, minimal Jacksen mengantarkan tim polesannya di posisi kedua.

Boaz Solossa mampu menjadi juara di musim 2009,2011, dan 2013. Sementara pada 2010, 2012, dan 2014, mereka menjadi pemenang II. Belum lagi capaian juara di ajang turnamen Community Shield 2009, Inter Island (2011), maupun PIala Indonesia (2009). Sayang, hubungan mesra Jacksen dan Persipura berakhir di musim 2014.

Ironisnya, pengganti Jacksen adalah pelatih yang dibawanya ke Indonesia, Osvaldo Lesa. Di masa Jacksen, dia adalah pelatih fisik.

Dengan segudang prestasi bersama Persipura, tak susah baginya mencari klub. Namun, Jacksen memilih pinangan klub mancanegara.

Di musim 2014/2015, lelaki asli Brasil tersebut memilih menjadi pelatih Penang. Saat itu, klub tersebut masih berada di level II alias Premier League.  Di tangan Jacksen, klub negeri jiran tersebut diangkatnya ke level tertinggi alias Super League.  

''Sebenarnya, satu musim bagi saya di Penang sudah cukup. Saya ingin mencari tantangan lain,'' ungkap Jacksen saat ditemui di rumahnya di pojok Surabaya Barat.

Hanya, tambah dia, desakan suporter yang membuatnya bertahan. Ternyata, perjalanannya di Penang gagal tuntas.

''Saya diberhentikan di tengah jalan. Namun, ada yang belum beres dan saya berencana mengadukannya ke FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional),'' ujar Jacksen.

Masalah dengan Penang yang belum tuntas tersebut membuat beberapa klub Indonesia gagal menjadikannya pelatih. Padahal, tercatat dua klub, Persija Jakarta dan Persegres Gresik, serius mengharapkan lelaki yang kini berusia 48 tahun tersebut sebagai nakhoda. Bahkan, Laskar Joko Samudro, julukan Persegres, sudah mengenalkan kepada publik Jacksen sebagai pengganti pelatih lama, Liestiadi.

''Semoga masalah saya segera selesai dan bisa kembali menjadi pelatih di sini,'' ujar Jacken.

Namun, di sela-sela menunggu kasusnya selesai, Jacksen masih berkesempatan menularkan ilmu. Dia menangani Tim Danone Indonesia yang pemainnya masih bocah karena di bawah usia 12 tahun diwakili Salfas Soccer, Tangerang, yang mempersiapkan diri di Kota Batu pada 29 September-9 Oktober 2016. Mereka bakal tampil di Prancis. Dua tahun lalu, Jacksen mengantarkan Indonesia meraih posisi ketujuh.  (*)





Read More

Jacksen F. Tiago, Sukses sebagai Pemain dan Pelatih di Persebaya (7)

Jacksen (kanan) saat melatih tim Penang,Malaysia
Tolak Tandem, Hubungan dengan Carlos Renggang

Terus berjayanya Persipura membuat Jacksen . Tiago dipercaya menjadi pelatih nasional. Namun, ada itu pula yang membuat dia berjauhan dengan orang yang sudah lama dikenal dekat dengannya.
--
MEMBERIKAN seabrek gelar bagi Persipura Jayapura bukan hal yang mudah. Memang, sebelumnya, ada Rahmad Darmawan.

Pelatih yang juga anggota TNI-AL tersebut membawa tim asal Indonesia Timur tersebut juara pada 2005. Tapi, setelah itu, Rahmad meninggalkan Persipura.

''Saya selama delapan tahun di sana. Siapa orang di luar Papua yang bisa bertahan lama di Persipura?,'' ujar lelaki yang pernah membela Petrokimia Putra Gresik, PSM Makassar, dan Persebaya Surabaya semasa aktif menjadi pesepak bola tersebut.

Kesidipilinan dan pendekatan yang dilakukan dia menjadi kunci berjayanya Persipura. Di tangannya, Mutiara Hitam menjadi tim yang bermain ala tim Brasil yang mengandalkan bola-bola pendek.

Polesannya di Bumi Cenderawasih, julukan Papua, membuat Jacksen dipercaya menangani tim nasional Indonesia. Sebuah keinginan yang sempat dilontarkannya keteka lisensi kepelatihannya diperoleh.

Ketika itu, pada 2008, Jacksen berkomentar bahwa lisensi yang didapat dari asosiasi sepak bola Brasil (CBF) bukan hanya bisa untuk menjadi arsitek klub, tim nasional pun bisa. Ternyata, candaan tersebut menjadi kenyataan.

Awalnya, Jacksen diduetkan dengan Rahmad. Tapi, di tengah jalan, dia menjadi nakhoda sendiri.

Saat menangani Pasukan Garuda, julukan Timnas Indonesia, anak asuhnya berhadapan dengan dua tim kuat dari Premier League Inggris, Arsenal dan Liverpool. Berhadapan dengan The Gunners, julukan Arsenal, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada 14 Juli 2013, Indonesia menyetah 0-7.

Sepekan kemudian, Pasukan Garuda berhadapan dengan Liverpool. Kali ini, pada laga yang dilaksanakan 20 Juli di tempat yang sama, Indonesia kalah dengan skor yang tak menyolok yakni 0-2.

Hasil ini membuat Jacksen mendapat banyak pelajaran. Dia berani melakukan gebrakan.

Para pemain senior, ungkapnya, yang tak sesuai dengan karakter yang diinginkan Jacksen ditendang. Meski, hal tersebut, terang dia, mendapat tantangan dari para pengurus PSSI.

''Yang saya coret tersebut pemain senior yang sudah menjadi langganan Timnas Indonesia. Tapi, saya nggak butuh mereka karena bisa membuat tim nggak kondusif,'' ucap Jacksen.

Hasilnya cukup sukses. Saat menghadapi Filipina di Stadion Manahan, Solo, pada 14 Agustus 2013, Jacksen dengan pemain pilihannya mampu mempermalukan Filipina dengan dua gol tanpa balas. Meski mulai mendapat pujian, tapi nasibnya di Pasukan Garuda tak bertahan lama.

''Saya hanya menjalani sesuai dengan yang disepakati PSSI dengan Persipura. Jadi, saya Persipura bermain di kompetisi, saya balik ke Persipura,'' ungkap Jacksen.

Dia menyebut timnas kala itu merupakan proyek Persipura. Sehingga, asisten yang dibawanya juga merupakan tandemnya di tim yang pernah disegani di awal 1980-an tersebut.

Kondisi itu pula yang membuat Jacksen dengan berat hati menolak keinginan mantan tandemnya di saat masih sebagai pemain datang bersamanya ke Indonesia, Carlos de Mello. Ini, ujarnya, yang membuat hubungan keduanya sampai sekarang renggang.

''Carlos ingin mengulang kenangan manis saat menjadi pemain diulangi dengan menjadi pelatih. Tapi, timnas saat itu kan menjadi proyek Persipura yang harus pelatihnya juga dari sana,'' tambah Jacksen. (*)

Delapan tahun sukses di Persipura ternyata membuat Jacksen F. Tiago harus rela meninggalkannya. Sempat dikabarkan menangani klub Tiongkok, tapi dia memilih berlabuh di Malaysia. Baca selanjutnya di seri ke-8.  







Read More

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com