www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com

Selasa, 11 Oktober 2016

Djoko Malis Mustafa, Pemain yang Selalu Beri Gelar di Klub yang Dibela (7-Tamat)

Djoko Malis membantu usaha istri di rumah
Buka Kafe dan Jual Kue Bikinan Istri

Dunia sepak bola sudah ditinggalkan. Semua untuk menghargai keinginan keluarga.
--

SEBUAH tulisan tentang produk kue terdapat di depan rumah Djoko Malis Mustafa. Bukan sebuah lembaga sepak bola ataupun kepelatihan tentang olahraga paling populer di muka bumi tersebut.

''Rumah ini akan saya rombak. Rencananya akan saya jadikan kafe,'' ungkap Djoko, legenda sepak bola Indonesia di era 1980-an tersebut.

Dulunya, kamar yang ada di lantai 1 dari 3 lantai rumahnya dipakai untuk kos-kosan. Usaha tersebut berjalan lancar karena banyak penghuni.

''Kost-kostannya khusus buat putri. Ini untuk menemani anak kami yang kecil (Intan Triyasmina),'' ungkap Djoko.

Tapi, kini si bungsu telah lulus dan sudah jarang di rumah. Akibatnya, kost-kostan itu pun ditutur.

''Bukan karena tidak ada penghunini. Tempat sini kan strategis, dekat pusat perbelanjaan dan Unair,'' lanjut lelaki yang memulai karir sepak bolanya di Persebaya Surabaya tersebut.

Usaha kafe tersebut diharapkan bisa menjadi penyaluran hobi anak dan istrinya. Mereka, jelas Djoko, pintar membuat kue.

''Sebenarnya, kami sudah punya toko kue di kawasan Sidoarjo. Hanya, jaraknya jauh dari rumah sehingga kami tutup,'' jelas Djoko yang selalu memberikan gelar kepada klub yang dibela seperti Persebaya Junior, Persebaya Senior,Niac Mitra, dan Yanita Utama tersebut.

Dia melihat bisnis tersebut bisa dikembangkan di rumah. Apalagi, Djoko sudah tak lalu berkecimpung di sepak bola.

''Ya sekalin membantu usaha anak dan istri. Kue bikinan anak dan istri saya enak lho..,'' jelasnya.

Dia menerangkan pada Lebaran 2016, istrinya membuat kue dalam jumlah banyak. Padahal, harganya tak murah.

''Pesanannya jauh-jauh. Mereka merupakan rekan-rekan kuliah istri saya,''lanjut Djoko.

Istrinya, Sufie Ethika, sebenarnya adalah seorang advokat terkenal di Jombang. Kesibukannya membuat Djoko pun harus sering bolak-balik ke Kota Santri tersebut.

''Saya sempat lama tinggal di sana. Tapi, kini saya di Surabaya untuk nungguin rumah anak saya ini,'' pungkas lelaki kelahiran 30 September 1957 tersebut. (*)














0 comments:

Posting Komentar

www.pinggirlapangan.com

www.pinggirlapangan.com